Sikap Yang Harus Dimiliki Jika Kita Sakit

Diasuh oleh Oleh: Yudhistira Adi Maulana, Penggagas rumah sehat Bekam Ruqyah Centre Purwakarta yang berasaskan pengobatan Thibbunnabawi. Alamat: Jl. Veteran No. 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat, Telf. 0264-205794. Untuk pertanyaan bisa melalui SMS 0817 920 7630 atau PIN BB  26A D4A 15.

 

SEORANG mukimin, apabila ditimpa suatu penyakit, baik penyakit itu menimpa diri sendiri, keluarga, maupun orang lain, termasuk apabila hendak mengobati atau meruqyah orang lain, maka hendaklah melakukan hal-hal sebagai berikut:

 

1. Berdoa kepada Allah agar memberikan kesembuhan, kesembuhan yang tidak menyisakan sedikit pun penyakit, serta menyempurnakan kesehatan kita selamanya.

 

2. Hendaklah berprasangka baik kepada Allah. Luruskan akidah dengan menyadari bahwa ujian yang menimpa ini datang dari Allah yang Maha Pengasih, yang mengasihi melebihi kasih sayang ibu, bahkan melebihi kasih sayang manusia kepada diri sendiri. Allah Maha Suci, Dialah yang menguji manusia, dan ujian itu merupakan kasih sayang-Nya kepada hambanya. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda: “Allah tidak menguji hamba-Nya yang beriman, menyangkut dirinya, hartanya, atau anaknya, kecuali untuk salah satu dari dua tujuan, yakni mungkin mempunyai dosa yang tidak bisa diampunkan kecuali dengan ujian ini atau ia akan memperoleh derajat di sisi Allah yang tidak bisa dicapainya kecuali dengan ujian ini.

 

Prasangka baik kepada Allah berarti menyadari bahwa musibah yang menimpa itu merupakan kebaikan bagi manusia itu sendiri, dan itu pasti, akan tetapi banyak orang yang tidak mengetahuinya. Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 216).

 

3. Tidak disibukkan dengan ujian dan cobaan itu, sehingga melupakan “yang memberi ujian dan cobaan”, yaitu Allah Swt. Banyak orang sakit yang sibuk dengan ujian yang dihadapinya, semua pemikiran mereka terfokus pada mencari dokter, pergi ke laboratorium, melakukan terapi radiologi, dan berbagai terapi modern lainnya, dan seterusnya, tetapi lupa kepada Tuhannya. Padahal sepatutnya, manusia justru lebih dekat kepada Rabbnya pada saat sakit. Akan lebih bermanfaat dan lebih memberikan harapan jika pada saat sakit ia mengadu sepenuh hati kepada Rabbnya sambil berusaha mencari obat. Dalam sebuah hadist Qudsi disebutkan bahwa Allah Swt berfirman kepada seorang hamba pada hari kiamat: “Hamba-Ku, Aku sakit tetapi engkau tidak menjenguk-Ku!” Si hamba berkata, ‘Ya Rabb, bagaimana aku menjenguk-Mu, sedangkan Engkau Rabb semesta alam?’ Allah berfirman, ‘Tidak tahukah engkau, bahwa hamba-Ku si fulan sakit, tetapi engkau tidak menjenguknya. Tidakkah engkau tahu, jika engkau menjenguknya, niscaya engkau mendapati-Ku di sisinya?”

 

4. Para ulama mengatakan bahwa dalam hadist ini terdapat petunjuk mengenai kedekatan Allah kepada orang-orang yang hatinya sudah patah harapan kepada selain Allah. Kedekatan yang tentu saja selaras dengan keagungan dan kemahasempurnaan-Nya, “Tiada sesuatu yang seperti-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

 

5. Seyogiyanya berpikir tentang hikmah Ilahi dari musibah yang menimpa itu. Allah Maha Bijaksana, ketetapan dan takdir-Nya tidak lepas dari hikmah itu. Allah Swt berfirman, “Apapun musibah yang menimpamu, maka disebabkan oleh perbuatanmu sendiri dan Dia memaafkan banyak (kesalahanmu).” (QS Al-Syuura: 30).

 

Diriwayatkan dari Abdurrahman ibn Sa’id, dari ayahnya, ia berkata: Suatu ketika saya bersama Salman menjenguk seorang yang sakit di Kindah. Ketika datang kepadanya, ia berkata, “Bergembiralah, karena sesungguhnya sakit orang mukmin itu oleh Allah dijadikan sebagai kafarat (penebus) dan penghapus dosa. Sedangkan sakit orang pendosa itu seperti unta yang diikat oleh pemiliknya, kemudian dilepaskan oleh mereka, ia tidak tahu mengapa diikat dan mengapa kemudian dilepaskan? Ketika Ibnu Sirin dilanda kesedihan, ia berkata, “ Aku tahu penyebab kesedihan ini, yakni sebuah dosa yang kulakukan empat puluh tahun yang lalu.” Ahmad bin Abi Hawari berkata, “Dosa-dosa orang-orang di masa itu sedikit, sehingga mereka tahu dosa manakah yang menjadi penyebab, akan tetapi dosa-dosa kita banyak sekali, sehingga kita tidak tahu, dosa manakah yang menyebabkan musibah kita.”
Kita harus mencari tahu, dosa manakah yang menyebabkan musibah datang kepada kita. Semoga dengan taubat dan kesungguhan kita kembali kepada Allah, Allah menghapuskan bencana itu.

 

6. Meyakini bahwa berobat merupakan satu sebab. Pengobatan adalah satu sebab, operasi adalah satu sebab, obat adalah satu sebab, semua itu semata-mata sebab. Sedangkan suatu sebab tidak bisa memberikan efek apapun kecuali dengan izin Allah. Rasulullah Saw bersabda: “Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat mengenai penyakit, maka ia akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.” (HR Muslim). “Allah tidak menurunkan penyakit kecuali ada penangkalnya, penangkal itu ada yang diketahui dan ada pula yang tidak mengetahuinya.” (HR Al-Hakim).

 

Nabi menyebutkan sebab-sebab datangnya kesembuhan, yakni pertama, mempunyai pengetahuan tentang sebab penyakit dan pengobatannya; dan kedua, yang benar mengenai permasalahan ini adalah hendaklah ia mengetahui benar penyakitnya (dengan benar dan dengan diagnosa yang akurat), dan resep yang diberikan hendaklah tepat. Dan syarat terakhir dan terpenting adalah adanya izin dari Allah untuk diperolehnya kesembuhan. Karena itu, salah satu doa Nabi Saw adalah: “Ya Allah, Engkau adalah Asy-Syafi (Maha Menyembuhkan), tidak ada kesembuhan selain kesembuhan dari-Mu.”

 

7. Kita harus yakin bahwa yang memberikan kesembuhan adalah Allah, bukan dokter atau obat. Penyembuh itu Allah, karena itu hendaklah hati kita tergantung kepada Allah saja, bukan kepada sebab-sebab kesembuhan. Ketergantungan hati kepada sebab-sebab merupakan kesyirikan. []

7 sikap

________________________________

Menjaga Aqidah Ketika Sakit

 

Setiap orang yang beriman pasti akan diberikan ujian oleh Allah subhanahu wata’ala. Ujian tersebut beragam bentuknya, sesuai kondisi dan kadar keimanan seseorang. Ujian bisa berupa kesenangan dan bisa pula berupa kesusahan. Dan salah satu dari bentuk ujian tersebut adalah tertimpanya seseorang dengan suatu penyakit yang menggerogoti dirinya.

 

Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala sebutkan dalam surat Al-‘Ankabut ayat 1sampai 3, bahwa hikmah diberikannya ujian kepada kaum mukminin adalah untuk mengetahui[1] siapa yang jujur dan siapa yang dusta dalam pengakuan iman mereka tersebut.

 

Demikian juga ketika sakit, seseorang akan teruji tingkat kejujuran iman dan aqidah dia. Sangat disayangkan, ternyata di sana masih banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran syari’at yang dilakukan oleh orang yang sedang tertimpa penyakit. Di antara mereka ada yang tidak menerima bahkan menolak takdir Allah yang sedang dia rasakan tersebut. Bahkan ada yang mengatakan dan mengklaim bahwa Allah tidak adil kepada dirinya, Allah telah berbuat zhalim kepadanya, dan sebagainya, na’udzubillah min dzalik. Ada pula yang tidak sabar dan putus asa dengan keadaannya tersebut sehingga dia sangat berharap ajal segera menjemputnya. Dan bahkan ada pula yang nekad melakukan upaya bunuh diri dengan harapan penderitaannya segera berakhir. Ini semua menunjukkan lemahnya iman dan kurang jujurnya dia dalam ikrar keimanannya tersebut.

 

Lalu bagaimana bimbingan syari’at yang mulia dan sempurna ini dalam menyikapi permasalahan-permasalahan seperti itu? Solusi apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap hamba yang mengaku beriman kepada Allah ‘azza wajalla, Rasul-Nya dan hari akhir jika tertimpa suatu penyakit agar iman dan aqidah ini senantiasa terjaga? Maka kali ini insya Allah akan kami tengahkan kepada anda, bagaimana syari’at membimbing anda tentang sikap yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang sedang mengalami sakit agar dia dikatakan sebagai seorang yang jujur dalam keimanan dan aqidahnya. Di antara sikap tersebut adalah[2]:

 

1. Hendaknya dia merasa ridha dengan takdir dan ketentuan Allah subhanahu wata’ala tersebut, bersabar dengannya dan berbaik sangka kepada Allah subhanahu wata’ala dengan apa yang sedang dia rasakan. Karena segala yang dia terima adalah merupakan sesuatu terbaik yang Allah subhanahu wata’ala berikan padanya. Ini merupakan sikap seorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan keimanan yang benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

“Sungguh sangat menakjubkan urusan seorang mukmin, karena segala urusannya adalah berupa kebaikan. Dan tidaklah didapatkan keadaan yang seperti ini kecuali pada diri seorang mukmin saja. Ketika dia mendapatkan kebahagiaan, dia segera bersyukur. Maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan ketika dia mendapatkan kesusahan dia bersabar. Maka itu menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim dari shahabat Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu)

 

Beliau juga bersabda:

 

“Janganlah salah seorang diantara kalian meninggal kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah.” (HR. Muslim dari shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma)

 

2. Hendaknya dia memiliki sikap raja’ (berharap atas rahmat Allah subhanahu wata’ala) dan rasa khauf (takut dan cemas dari adzab Allah subhanahu wata’ala)

 

“Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendatangi seorang pemuda yang sedang sakit. kemudian beliau bertanya kepadanya: “Bagaimana keadaanmu?” Pemuda itu menjawab: “Demi Allah ya Rasulullah, sungguh saya sangat mengharapkan rahmat Allah dan saya takut akan siksa Allah dikarenakan dosa-dosa saya.” Maka kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dua sifat tersebut ada pada seorang hamba yang dalam keadaan seperti ini, kecuali Allah akan memberikan apa yang dia harapkan dan akan memberi rasa aman dengan apa yang dia takutkan.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).

 

3. Tidak diperbolehkan baginya untuk mengharapkan kematian segera menjemputnya ketika penyakitnya ternyata semakin menjadi parah dan memburuk.

 

“Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi pamannya ‘Abbas yang sedang sakit. Dia mengeluh dan berharap kematian segera datang menjemputnya. Maka beliau bersabda kepadanya: “Wahai pamanku, janganlah engkau berharap kematian itu datang. Jika engkau adalah orang baik, maka engkau bisa menambah kebaikanmu, dan itu baik untukmu. Namun jika engkau adalah orang yang banyak melakukan kesalahan, maka engkau dapat mengingkari dan membenahi kesalahanmu itu, dan itu baik bagimu. maka janganlah berharap akan kematian.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim dari shahabiyyah Ummul Fadhl radhiyallahu ‘anha)

 

Namun ketika ternyata dia tidak bisa bersabar dan harus melakukannya, maka hendaknya dia mengucapkan:

 

“Ya Allah hidupkanlah aku apabila kehidupan itu lebih baik bagiku. Dan matikanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

 

4. Hendaknya dia berwasiat ketika merasa ajalnya telah dekat untuk dipersiapkan dan dilakukan pengurusan jenazahnya nanti sesuai dengan bimbingan syari’at dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah. Hal ini sebagai bentuk pengamalan firman Allah subhanahu wata’ala :

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

 

“Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (At-Tahrim: 6)

 

Dan di sana banyak kisah- kisah para sahabat yang mereka berwasiat dengan hal ini ketika merasa ajal segera menjemputnya. Salah satunya adalah kisah shahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu yang pernah berwasiat ketika dia merasa ajal telah dekat. Dia berkata:

 

“Jika aku mati, janganlah kalian mengumumkannya. aku takut kalau perbuatan tersebut termasuk na’i (mengumumkan kematian yang dilarang sebagaimana dilakukan orang-orang jahiliyyah), karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah melarang perbuatan na’i tersebut.” (HR. At-Tirmidzi)

 

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Adzkar: “Sangat dianjurkan bagi seorang muslim untuk berwasiat kepada keluarganya agar meninggalkan kebiasaan atau adat yang ada dari berbagai bentuk kebid’ahan dalam penyelenggaraan jenazah. Dan hendaknya dia menekankan permasalahan itu.”

 

Wallahu A’lam.

 

Diringkas dari Kitab Ahkamul Jana-iz karya Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah oleh Al-Ustadz Abdullah Imam.
[1] Dan Allah subhanahu wata’ala Maha Mengetahui kadar dan tingkat kejujuran iman seseorang walaupun tidak memberikan ujian kepada hamba-Nya itu.

 

[2] Diringkas dari kitab Ahkamul Jana-iz karya Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu ta’ala.

 

(Dikutip dari http://www.assalafy.org/mahad/?p=419#more-419)http://salafy.or.id/blog/2010/01/29/menjag/

————————————————————

Sikap Keliru Ketika Sakit (bagian 1)

(ditulis oleh:  Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Allah l dengan keadilan dan kasih sayang-Nya menguji para hamba-Nya dengan kesenangan dan kesusahan, kelapangan dan kesempitan, agar menjadi jelas siapa yang bersabar dan bersyukur sehingga pantas memetik balasan kebaikan, dan siapa yang berkeluh kesah lagi kufur hingga berbuah keburukan.
Allah l berfirman:
“Dan Kami menimpakan kepada kalian kejelekan dan kebaikan sebagai fitnah/ujian.” (al-Anbiya: 35)
Di antara kesusahan yang ditetapkan-Nya bisa menimpa para hamba yang dikehendaki-Nya adalah hilangnya kesehatan. Dengan kata lain, menderita sakit. Ya, sakit yang mendera seorang hamba merupakan ujian Allah l, sebagai penambah pahala apabila disertai iman dan sabar, penghapus dosa dan dapat mengangkat derajat si hamba.
Anas ibnu Malik z berkata bahwa Rasulullah n bersabda:
إِنَ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَـم الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ kإِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَى وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
“Sesungguhnya, besarnya balasan (pahala) disertai dengan besarnya ujian. Sungguh, apabila Allah k mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridha, ia akan meraih keridhaan-Nya pula. Sebaliknya, siapa yang marah (tidak menerima ketetapan Allah) maka ia pun beroleh kemurkaan.” (HR. at-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Majah no. 4031, dinyatakan hasan dalam Shahih at-Tirmidzi dan Shahih Ibnu Majah)
Abu Said al-Khudri z dan Abu Hurairah z menyampaikan dari Nabi n:
مَا يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ، وَلاَ نَصَبٍ، وَلاَ سَقَمٍ، وَ لاَ حَزَنٍ، حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ، إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
“Tidaklah seorang muslim terus-menerus ditimpa oleh penyakit, tidak pula kepayahan, sakit, kesedihan, sampaipun dukacita yang dirasakannya, melainkan dengan itu akan dihapuskan kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari no. 5641, 5642 dan Muslim no. 6513)
Aisyah x memberitakan ucapan Rasulullah n:
مَا يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا، إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةً
“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau tertimpa rasa sakit yang lebih dari itu melainkan Allah l akan mengangkat si sakit satu derajat sebagai balasan sakit yang dideritanya dan Allah l hapus darinya satu kesalahan.” (HR. Muslim no. 6507)
Tentu keutamaan yang telah kita sebutkan di atas hanya bisa diraih apabila si sakit ‘menanggung sakitnya’ sesuai dengan bimbingan syariat.

Kesalahan yang Biasa Terjadi
Di saat sakit, si penderita merasakan ketidaknyamanan layaknya orang sehat, hatinya pun terasa tak lapang. Mungkin karena keadaan ini, jatuhlah si sakit ke dalam beberapa kesalahan. Di antaranya:

1. Meninggalkan shalat
Ini adalah kesalahan terberat yang dilakukan oleh orang yang sakit. Dengan kondisi yang dialaminya, si sakit mungkin menyangka ia diberi uzur untuk tidak mengerjakan shalat, seperti keadaannya yang sedang diinfus atau dipasang alat-alat medis pada tubuhnya. Ia merasa tidak mungkin mengerjakan shalat dalam kondisi tersebut. Padahal, selama masih berakal, ia tidak boleh meninggalkan shalat selain ketika bertepatan dengan waktu haid atau nifasnya (apabila ia seorang wanita).
Oleh karena itu, si sakit tetap wajib mengerjakan shalat semampunya. Apabila ia bisa mengerjakannya dengan berdiri maka ia berdiri. Jika tidak, ada keringanan syariat untuknya: ia boleh mengerjakannya sambil duduk. Apabila tidak bisa juga maka sambil berbaring. Hal ini berdasar hadits ‘Imran ibnu Hushain z, Rasulullah n bersabda kepadanya saat ia menanyakan tentang shalat sehubungan dengan sakit bawasir/ambeien yang dideritanya:
صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
“Shalatlah engkau dalam keadaan berdiri. Jika tidak bisa, duduklah. Jika tidak mampu juga, shalatlah dalam keadaan berbaring.” (HR. al-Bukhari no. 1117)
Dalam ar-Raudhah an-Nadiyah (I/312) disebutkan bahwa jika si sakit beruzur (tidak mampu) mengerjakan tata cara shalat untuk orang sakit sebagaimana yang dinyatakan oleh syariat, ia mengerjakan shalat dengan cara lain sebagaimana keterangan yang ada dalam as-Sunnah. Apabila tidak mampu juga, ia melakukan apa yang ia sanggupi dan mampu (istitha’ah) melaksanakannya karena Allah l berfirman:
ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ
“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (at-Taghabun: 16)
Rasulullah n bersabda:
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ، فَأتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Apabila aku perintahkan kalian dengan satu perkara, kerjakanlah perkara tersebut semampu kalian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim no. 6066)
Seandainya orang sakit dengan uzur yang ada padanya boleh meninggalkan shalat, niscaya Rasulullah n tidak akan menyuruhnya shalat dalam keadaan duduk1 atau berbaring sesuai dengan kemampuannya.
Kalau si sakit beralasan ia tidak bisa berwudhu sendiri karena tubuhnya yang lemah maka bisa dibantu dan diwudhukan oleh orang lain.
Apabila sakitnya menyebabkan ia tidak bisa terkena air, bisa bersuci dengan debu yang diistilahkan sebagai tayammum.
Apabila ia tidak bisa menghadap kiblat karena posisi tempat tidurnya tidak bisa dipindahkan, dan ia sendiri tidak bisa bergerak karena sakitnya, atau tidak diperbolehkan mengangkat tubuhnya untuk berpindah posisi menghadap kiblat apalagi turun dari tempat tidur, ia shalat menghadap ke mana saja yang ia mampu.
Demikianlah, hendaknya orang-orang yang sakit tetap memprioritaskan urusan shalatnya dan tidak menganggapnya remeh karena urusannya besar.
Abdullah ibnu Syaqiq t, seorang tabi’in yang mulia, berkata, “Para sahabat Muhammad n tidaklah memandang ada suatu amalan yang jika ditinggalkan seseorang akan menyebabkannya kafir selain shalat.” (HR. at-Tirmidzi)2
Al-Imam Ibnul Qayyim t menyatakan, kaum muslimin tidak berbeda pendapat bahwa meninggalkan shalat fardhu secara sengaja termasuk dosa yang paling besar, kabair/dosa besar yang terbesar. Dosanya di sisi Allah l lebih besar daripada dosa membunuh jiwa dan mengambil harta orang lain. Lebih besar pula daripada dosa zina, mencuri, dan minum khamr. Pelakunya dihadapkan kepada hukuman Allah l, kemurkaan-Nya, dan kehinaan yang akan ditimpakan di dunia dan akhirat. (ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha, hlm. 7)
Al-Imam Ibnu Baz t berkata, “Sakit yang sedang diderita tidak boleh menghalangi seseorang untuk menunaikan shalat dengan alasan tidak mampu bersuci, selama akalnya masih ada. Orang yang sedang sakit tetap wajib mengerjakan shalat sesuai dengan kemampuannya. Ia bersuci dengan air (berwudhu) apabila memang ia mampu. Namun, apabila tidak mampu menggunakan air, ia bisa tayammum dan mengerjakan shalat.
Saat datang waktu shalat, ia harus mencuci najis yang ada pada tubuh dan pakaiannya. Atau ia mengganti pakaian yang kena najis tersebut dengan pakaian yang bersih/suci. Jika ia tidak mampu membersihkan najis yang ada dan tidak dapat pula mengganti pakaian yang najis dengan pakaian yang suci, gugurlah kewajiban tersebut darinya. Ia shalat sesuai dengan keadaannya, berdasar firman Allah l:
“Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.” (at-Taghabun: 16)
Juga berdalil sabda Nabi n:
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ، فَأتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Apabila aku perintahkan kalian dengan satu perkara maka kerjakanlah perkara tersebut semampu kalian.” (Muttafaqun ‘alaih)
Demikian juga sabda Nabi n kepada ‘Imran ibnu Hushain z tatkala mengadukan sakitnya kepada beliau n,
صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
“Shalatlah engkau dalam keadaan berdiri, apabila tidak mampu maka duduklah. Apabila tidak mampu pula maka berbaringlah di atas rusuk.” (HR. al-Bukhari dalam Shahihnya)
Hadits di atas diriwayatkan pula oleh an-Nasa’i dengan sanad yang sahih, dengan tambahan,
فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَمُسْتَلْقِيًا
“Jika tidak mampu juga, telentanglah.” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat al-Mutanawwi’ah, 10/307)

2. Menunda shalat hingga keluar waktunya
Sebagaimana orang yang sehat, orang yang sedang sakit pun harus mengerjakan shalat pada waktunya sesuai dengan kemampuannya. Tidak boleh ia mengulur-ulur pelaksanaan shalat hingga habis waktunya, karena Allah l berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.” (an-Nisa: 103)
Ulama menggolongkan perbuatan menunda shalat hingga keluar dari waktunya sebagai salah satu dari dosa besar. Dalilnya adalah firman Allah l:
“Datanglah setelah mereka satu generasi yang mereka suka menyia-nyiakan shalat dan mengikuti syahwat. Kelak mereka ini akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)
Al-Imam Ibnul Qayyim t menyebutkan bahwa para sahabat dan tabi’in menafsirkan penyia-nyiaan shalat dengan mengerjakannya saat waktu shalat sudah habis.
Al-Imam Ibnu Baz t berkata, “Tidak boleh meninggalkan shalat bagaimanapun keadaannya. Bahkan, seorang mukallaf wajib untuk lebih bersemangat mengerjakan shalat di hari-hari sakitnya daripada semangatnya di hari-hari sehatnya. Ia tidak boleh meninggalkan shalat wajib sampai keluar/habis waktunya sekalipun ia sedang sakit, selama akalnya masih ada. Ia tetap menunaikan shalat pada waktunya sesuai dengan kemampuannya.”
Apabila memang sangat berat bagi si sakit mengerjakan shalat pada waktunya masing-masing, ia boleh menjamak shalat Zhuhur dan Ashar, atau shalat Maghrib dan Isya, baik dengan jamak taqdim3 maupun ta’khir (di waktu shalat yang kedua), sesuai dengan kelapangannya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Menurut al-Imam Ahmad, al-Imam Malik, dan sekelompok pengikut asy-Syafi’i, seseorang boleh menjamak shalat karena sakit.” (Majmu’ Fatawa, 24/28)
Ketika al-Imam Albani t ditanya tentang shalat jamak bagi orang yang sakit, beliau menjawab, “Sesuai dengan kebutuhan. Jika memang butuh, ia boleh menjamaknya. Namun, jika tidak, ia tidak boleh menjamaknya.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah, 2/351)

3. Tidak mau bersuci padahal masih bisa melakukannya
Orang yang sedang sakit tetap wajib bersuci atau berwudhu setiap kali hendak shalat, berdalil dengan sabda Rasulullah n:
لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُوْرٍ
“Tidak diterima shalat tanpa bersuci.” (HR Muslim no. 534)
Apabila ternyata si sakit tidak bisa menggunakan air, ia boleh bertayammum. Andai tayammum pun tidak bisa, ia tetap shalat sesuai dengan keadaannya dan ia tidak berdosa. Yang penting, ia tidak meninggalkan shalat dengan berbagai alasan yang ada.

4. Berkeluh kesah dan berputus asa dari rahmat Allah l
Sebagian orang yang menderita sakit yang lama merasakan kejenuhan sehingga ia berkeluh kesah dan berputus asa dari rahmat Allah l. Tentu hal ini menyelisihi ucapan Rasulullah n:
لاَ يَمُوْتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَ هُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ
“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian meninggal dunia melainkan dalam keadaan ia husnuzhan/berbaik sangka kepada Allah l.” (HR. Muslim no. 7158)
Ulama mengatakan, di sini ada peringatan untuk tidak berputus asa dan di sisi lain ada anjuran untuk raja’ (berharap akan beroleh rahmat Allah l) saat tutup usia. Makna husnuzhan kepada Allah l adalah menyangka Allah l akan merahmatinya dan memaafkannya. (al-Minhaj, 17/206)
Dengan demikian, orang yang sakit wajib sangat berhati-hati dari sikap berputus asa dari rahmat Allah l.
Fadhalah ibnu Ubaid z menyampaikan dari Rasulullah n, sabda beliau:
ثَلاَثَةٌ لاَ تَسْأَلُ عَنْهُمْ: رَجُلٌ نَازَعَ اللهُ k بِرِدَائِهِ فَإِنَّ رِدَاءَهُ الْكِبْرِيَاءُ، وَإِزَارَهُ الْعِزُّ، وَرَجُلٌ شَكَّ فِي أَمْرِ اللهِ، وَالْقُنُوْطُ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ
“Ada tiga golongan yang kamu tidak usah menanyakan mereka (isyarat bahwa mereka akan mendapat siksa/hukuman di akhirat), yaitu: seseorang yang ingin menyaingi Allah k dengan mengenakan rida’/selendang-Nya, karena rida’-Nya adalah kesombongan dan izar-Nya adalah kemuliaan; (Yang kedua) seorang yang ragu tentang perkara Allah; dan (ketiga) putus asa dari rahmat Allah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban, dinyatakan sahih oleh al-Imam Albani t dalam ash-Shahihah no. 542)

5. Murka dan tidak sabar terhadap takdir Allah l yang menyakitkan
Semua yang ada di alam ini terjadi dengan takdir Allah l, yang baik atau yang buruk. Mengimani hal ini termasuk kandungan rukun iman yang keenam, yaitu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Satu contoh takdir yang buruk adalah sakit yang diderita seseorang. Sebagai hamba yang beriman kepada Allah l, si penderita atau si sakit harus menghadapinya dengan kesabaran. Dalam sebuah hadits disebutkan:
مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Tidaklah seseorang diberi dengan suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas/lapang daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menyatakan, “Bersabar atas musibah yang menimpa itu wajib menurut kesepakatan para imam agama ini.”
Murid beliau, Ibnul Qayyim t berkata, “Sabar itu wajib menurut kesepakatan umat. Sabar adalah setengah iman karena iman itu terbagi dua: setengahnya adalah sabar dan setengahnya adalah syukur.”
Seorang muslimah pernah bertanya kepada Samahatusy Syaikh Ibnu Baz t, “Saya menderita sakit. Terkadang saya menangis memikirkan keadaan saya ketika sakit ini. Apakah tangisan ini bermakna berpaling dari Allah l dan tidak ridha dengan ketetapan-Nya? Hal ini terjadi tanpa kesengajaan saya. Apakah menceritakan tentang sakit yang dirasakan kepada orang-orang dekat termasuk perkara yang dilarang?”
Samahatusy Syaikh t menjawab, “Tidak ada dosa bagi Anda untuk menangis (karena sakit yang diderita) apabila tangisan itu sekadar meneteskan air mata tanpa disertai ratapan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi n tatkala putra beliau dari Mariyah al-Qibthiyyah x, yakni Ibrahim, meninggal dunia:
الْعَيْنُ تَدْمَعُ وَالْقَلْبُ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُوْلُ إِلاَّ مَا يَرْضَى الرَّبُّ، وَإِنَّا لِفِرَاقِكَ، يَا إبْرَاهِيْمُ، لَمَحْزُوْنُوْنَ
“Mata menangis, hati pun bersedih. Namun, kami tidak mengucapkan ucapan selain apa yang diridhai oleh Rabb kami. Sungguh, dengan perpisahan denganmu, wahai Ibrahim, kami merasakan kesedihan.”
Hadits yang semakna dengan ini banyak.
Tidak masalah pula bagi Anda untuk memberitakan kepada karib kerabat dan teman-teman tentang sakit Anda, disertai dengan pujian kepada Allah l, mensyukuri, menyanjung, dan meminta kesembuhan kepada-Nya, serta menempuh sebab-sebab yang dibolehkan untuk beroleh kesembuhan. Kami wasiatkan kepada Anda agar bersabar dan mengharapkan pahala. Bergembiralah dengan kebaikan, berdasarkan firman Allah l:
“Hanyalah orang-orang yang bersabar ditunaikan pahala mereka tanpa batas/perhitungan.” (az-Zumar: 10)
Dan firman-Nya:
“Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang bila mereka ditimpa musibah, mereka mengatakan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali).’ Mereka itulah yang beroleh shalawat dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk.” (al-Baqarah: 155—157)
Juga berdasarkan sabda Nabi n:
مَا يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ، وَلاَ نَصَبٍ، وَلاَ سَقَمٍ، وَ لاَ حَزَنٍ، حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ، إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
“Tidaklah seorang muslim terus-menerus ditimpa oleh penyakit, tidak pula kepayahan, sakit, kesedihan, sampaipun dukacita yang dirasakannya, melainkan dengan itu akan dihapuskan kesalahan-kesalahannya.”
Rasulullah n bersabda:
مَن يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
“Siapa yang Allah l kehendaki kebaikan baginya maka Allah l akan menimpakan musibah kepadanya.”
Kita memohon kepada Allah l agar menganugerahkan kesembuhan kepada kita dan ‘afiat serta hati dan amal yang baik/saleh. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mengabulkan doa.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail al-Mutanawwi’ah, 4/144)

6. Bergantung kepada selain Allah l, baik kepada dokter maupun lainnya.
Seorang muslim memang diperintah untuk menempuh sebab dan hal ini tidak bertentangan dengan keharusan bersabar serta bertawakal. Ibnul Qayyim t berkata, “Adapun memberitakan kepada seseorang tentang keadaan yang sedang dialami, apabila maksudnya adalah meminta tolong agar ia diberi bimbingan/arahan, atau diberi bantuan, atau sebagai perantara agar kesusahannya hilang, si hamba tidaklah dicela dengan penyampaiannya tersebut. Misalnya, seorang yang sakit memberitahu dokter tentang keluhan yang dirasakannya.”
Sama sekali tidak ada dosa bagi si sakit untuk berobat dan menempuh sebab yang bisa mengantarkannya kepada kesembuhan dengan izin Allah l, seperti mencari dan berobat kepada seorang dokter yang ahli.
Akan tetapi, ia wajib menggantungkan hati dan harapannya hanya kepada Allah l. Ia harus menyadari bahwa dokter dan obat hanyalah sebab kesembuhan semata, bukan yang menyembuhkan. Yang menyembuhkan segala penyakit secara hakiki hanyalah Allah l. Allah l berfirman menyebutkan ucapan Nabi Ibrahim q:
“Dan apabila aku sakit maka Dia-lah yang menyembuhkanku.” (asy-Syu’ara: 80)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata tentang makna ayat di atas, “Maksudnya, apabila aku jatuh sakit, tidak ada seorang pun yang sanggup menyembuhkanku selain Dia dengan apa yang Dia takdirkan berupa sebab-sebab yang mengantarkan kepada kesembuhan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/46).
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(insya Allah bersambung)

Catatan Kaki:

1 Cara duduknya sebagaimana duduk dalam shalat, iftirasy atau tawarruk. Kalau si sakit tidak mampu, ia boleh duduk tarabbu’ atau bersila. Rasulullah n pernah shalat dengan duduk bersila saat sakitnya, sebagaimana berita Aisyah x yang dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan an-Nasa’i. Apabila tidak mampu juga, hendaklah ia duduk dengan posisi yang nyaman baginya. Demikian faedah yang disampaikan oleh al-Imam al-Albani t ketika ditanya tentang masalah ini. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah, 2/317)

2 Masalah orang meninggalkan shalat dengan sengaja karena malas, bukan karena menentang kewajiban shalat, diperselisihkan oleh ulama. Di antara mereka ada yang mengafirkan. Ada pula yang berpendapat tidak mengafirkannya, namun diberi sanksi yang berat dengan dipenjara, diberi waktu tiga hari untuk bertaubat dan kembali mengerjakan shalat. Jika tidak bertaubat, ia dibunuh (dan yang melakukannya adalah pemerintah muslim, bukan individu, red.). Wallahu a’lam.

3 Dikerjakan di waktu shalat yang pertama. Misalnya, shalat zhuhur dan ashar dikerjakan di waktu zhuhur.

Disadur : http://asysyariah.com/sakit/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s