Rincian Hukum: Minta Izin Pasien Untuk Mengobati

 

 

Haruskah kita meminta izin kepada pasien sebelum mengobati? Bagaimana jika pasiennya tidak sadarkan diri? Bagaimana jika keadaannya darurat dan mendesak?

 

Berikut adalah Fatwa dari Ma’maj AL-Fiqh Al-Islami (kumpulan ulama ahli fikih) mengenai izin pasien:

 

إذن المريض :

 

أ – يشترط إذن المريض للعلاج إذا كان تام الأهلية ، فإذا كان عديم الأهلية أو ناقصها اعتبر إذن وليه حسب ترتيب الولاية الشرعية ووفقا لأحكامها التي تحصر تصرف الولي فيما فيه منفعة المولي عليه ومصلحته ورفع الأذى عنه . على أن لا يعتد بتصرف الولي في عدم الإذن إذا كان واضح الضرر بالمولى عليه ، وينتقل الحق إلى غيره من الأولياء ثم إلى ولي الأمر .

 

ب – لولي الأمر الإلزام بالتداوي في بعض الأحوال ، كالأمراض المعدية والتحصينات والوقائية .

 

جـ- في حالات الإسعاف التي تتعرض فيها حياة المصاب للخطر لا يتوقف العلاج على الإذن .

 

د- لابد في إجراء الأبحاث الطبية من موافقة الشخص التام الأهلية بصورة خالية من شائبة الإكراه – كالمساجين – أو الإغراء المادي – كالمساكين – ويجب أن لا يترتب على إجراء تلك الأبحاث ضرر . ولا يجوز إجراء الأبحاث الطبية على عديمي الأهلية أو ناقصيها ولو بموافقة الأولياء ) ( مجمع الفقه الإسلامي ص

 

Izin pasien:

 

1.dipersyaratkan ada izin dari pasien untuk mengobati jika pasien tersebut sadar (mampu), jika tidak sadar atau berkurang kesedarannya maka minta izin dengan walinya sesuai dengan urutan perwalian dalam syariat, di mana perwalian terbatas pada apa yang bisa mendatangkan manfaat dan menghilangkan bahaya darinya. Tidak teranggap (terhitung) jika wali menolak memberikan  izin padahal sudah jelas ada bahaya pada pasien. (jika wali tidak memberikan izin) maka perwalian berpindah kepada yang lain atau berpindah kepada pemerintah (atau yang mewakili)

 

2.pemerintah bisa mengharuskan (memaksa) agar wajib berobat (tanpa izin pasien) pada beberapa keadaan misalnya pada penyakit infeksi menular, untuk pencegahan dan tindakan preventif

 

3.pada keadaan darurat di mana pasien dalam keadaan bahaya, maka pengobatan tidak bergantung pada izin pasien (boleh tanpa izin pasien dalam keadaan darurat)

 

4.dalam pelaksanaan meminta persetujuan pasien yang sadar maka harus tidak ada unsur pemaksaan. Tidak boleh ada bahaya yang muncul dalam hal ini.

 

(Fatawa Asy-Syariyyah fii masa’ilit thibbiyah hal. 237)

 

 

 

 

 

@Pogung Lor, Yogyakarta Tercinta

 

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

 

Artikel www.muslimafiyah.com

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s