Mengenali Metode Pengobatan Nabi yang Benar-Benar Syar’i

 

 

Seiring perkembangan zaman, dunia kedokteran pun semakin maju dan alatalat yang digunakan semakin canggih. Secara otomatis, biaya berobat pun semakin mahal karena pengadaan peranti canggih memang cukup mahal. Padahal, semua itu tidak menjamin mengobati penyakit secara efektif.

 

Menurut Didi Rudita alHolistik, Ketua Umum DPP Asosiasi Thibbun Nabawi Indonesia, ilmu kedokteran Barat itu hanya efektif untuk penyakit infeksi dan kasus gawat darurat. Namun gagal mengobati penyakit degeneratif, seperti asma, jantung, hipertensi, asam urat, diabetes, maag, ginjal, dan stroke, karena tidak bisa mengobati secara sempurna.

 

Ia menambahkan, karena masyarakat terlanjur percaya dan dibohongi dengan teknologi canggih, akhirnya mereka tetap berobat karena tidak ada pilihan. Kalau ada pilihan hasilnya lebih efektif dan biaya murah, dengan sendirinya pengobatan yang serba canggih akan ditinggalkan. Sesuai hukum ekonomi, yang efektif dan murah akan mampu bersaing.

 

Namun, perkembangan pengobatan alternatif dewasa ini cukup mengkhawatirkan karena tidak semuanya sesuai dengan syariat Islam. Misalnya, pengobatan jarak jauh seperti yang akhirakhir ini marak di televisi, menggunakan jimat, mentransfer penyakit ke hewan, atau minta pertolongan kepada bangsa jin.

 

Mereka ini lebih tepat disebut dukun atau paranormal daripada ustad. Untuk itu, ustad Muhammad Arifin Ilham menyebutkan beberapa ciri yang membedakan antara ustad dan dukun. Pertama, ciri khas dukun dan paranormal sangat suka menggelari diri mereka dengan sebutan aneh yang menyiratkan kesaktian, seperti julukan Ki, habib, atau ustad.

 

Kedua, suka memamerkan atau mendemonstrasikan kesaktiannya, seperti tidak mempan dibacok dengan pedang atau alat tajam lainnya. Dukun yang berkedok ustad selalu membawa ciri khas dukun, yaitu kurang mengetahui dalil baik dari alQur’an maupun Sunah. Dakwahnya mengajak pada kesyirikan dan kesesatan.

 

Ketiga, memanfaatkan para tokoh untuk melegalisir prakteknya, yang sebenarnya tokoh tersebut belum tahu persis praktek tersembunyinya karena sang dukun menampilkan kesan seakan sesuai “syariat.”

 

Keempat, prakteknya bercampur baur antara lakilaki dan perempuan yang bukan mahram. Padahal, peruqyah syar’i sangat anti menyentuh secara langsung pasiennya. Jika harus memakai sarung tangan, itu pun untuk menjaga diri.

 

Kelima, berani bayar media untuk promosi. Sebagian orang menyangka stasiun televisi yang mengundang ustadustad dukun itu. Jangan dikira kemunculan itu gratis dan dibayar! Justru dukun berbaju ustad inilah yang membayar televisi agar bisa tampil promosi pengobatan perdukunannya.

 

Keenam, menggunakan istilah mahar, infak, atau tarif yang tinggi. Kemudian, disertai ancaman kalau tidak segera diobati akan mati, kalau tidak segera ditransfer doanya tidak sampai, penyakit tidak sembuh, dan lain sebagainya.

 

Ketujuh, disertai aksi tipu daya menakuti, seperti bekam darahnya ada cacingnya, rumah ada hantunya, kena santet, dan sebagainya. Kedelapan, memberi jimat atau amalan yang tidak berdasar atau menggunakan media jimat ketika mengobati.

 

 

 

Pengobatan Ala Nabi

 

Ibnul Qayyim alJauziyah dalam Thibbun Nabawi menulis, kalangan dokter sepakat bila memungkinkan berobat dengan makanan, maka jangan dulu berpaling pada obat kimiawi. Sebab apabila tidak menemukan suatu penyakit yang akan disembuhkannya, maka obat itu justru mengganggu kesehatan.

 

Secara global, alJauziyah membagi pengobatan Islami ke dalam tiga jenis, yakni pengobatan melalui media obatobatan alami, pengobatan melalui petunjuk Ilahi, dan pengobatan dengan penggabungan kedua unsur tersebut. Metode pengobatan yang Nabi SAW lakukan itu bersifat qath’iilahi atau berasal dari wahyu kenabian.

 

Berbeda dengan pengobatan dokter yang umumnya yang berlandaskan pada perkiraan, dugaan, dan percobaan, terdapat sejumlah obat yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh dokter dan tidak pernah dicapai oleh ilmu, eksperimen, dan analogi ilmu kedokteran barat.

 

Misalnya, obat hati dan spiritual, kekuatan hati dan ketergantungannya kepada Allah, kepasrahan kepadaNya, mencari perlindungan serta tunduk pasrah di hadapanNya, merendahkan diri, sedekah, doa, tobat, istigfar, berlaku baik kepada makhluk, membantu orang yang memerlukan pertolongan dan meringankan penderitaan.

 

Metode ini telah dibuktikan berbagai umat yang berbeda agama, dan mereka mendapatkan kesembuhan. Sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh ilmu para dokter, tidak pula eksperimen, dan analogi. “Semua ini berlaku sesuai dengan prinsip hikmah ilahiah yang tidak keluar darinya. Tetapi, sebabsebabnya tentu bermacammacam,” tulisnya.

 

Jika ruh, jiwa, dan tabiat kuat, seseorang menjadi gembira dengan kedekatannya kepadaNya, dan kesenangan dalam mengingatNya mengalihkan seluruh energi dan berserah diri kepadaNya. Semangat inilah yang mendekatkan dengan kesembuhan. Karena itu, ada pepatah mengatakan, “Dokter yang paling manjur adalah diri sendiri.”

 

 

 

Mengintegrasikan Metode

 

Menurut Mahizan Mat Lazin, Kepala Rumah Sakit Islam Penang, pengobatan Islam seharusnya lebih dipromosikan untuk mendorong era baru pengobatan modern. Sebab, pengobatan Islam memadukan berbagai bidang ilmu, seperti sains, fisika, matematika, dan agama. “Jadi, mereka yang sakit akan diobati secara fisik dan spiritual,” katanya.

 

Bisa dibilang, ilmu pengobatan Nabi itu sejalan ilmu kedokteran modern, bahkan keduanya bisa diintegrasikan. Misalnya, alQur’an yang menjelaskan bahwa dalam madu terdapat kesembuhan bagi manusia. Kemudian, dunia kedokteran modern menemukan bahwa madu mengandung berbagai bahan yang dapat menyembuhkan penyakit, seperti penyakit kulit, gangguan organ pencernaan, mata, organ pernapasan, dan lainlain.

 

Hal senada disampaikan Dr. Oneng Nurul Bariyah, Ketua Program Studi Islam Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta, pola hidup dan etika Rasulullah itu pasti berujung pada pengaruh positif. Misalnya, kenapa Rasulullah melarang makan atau minum sambil berdiri. “Setelah diteliti ahli kedokteran, makan atau minum sambil berdiri itu bisa berpengaruh terhadap organ tubuh,” ujarnya kepada Majalah Gontor.

 

Sementara itu, Abu Nafi’ Abdul Ghaffar alAtsary dalam buku Mengenal Pengobatan Cara Nabi menjelaskan, beberapa pengobatan yang dipraktekkan Nabi merupakan peninggalan masyarakat tradisional masa lalu, namun tetap dengan petunjuk wahyu. Bekam misalnya. Pengobatan ini telah lama dipraktekkan bangsa Sumeria di Babilonia (Irak) untuk mengobati para raja 4000 SM. Bangsa Persia pun mengenalnya 3000 SM.

 

Kemudian pada 2500 SM, bangsa Cina telah mempraktekkan bekam dengan mengandalkan titik akupuntur. Sekitar 1200 SM, Mesir era Fir’aun juga mengenal bekam sebagai pengobatan. Bahkan, pada era Nabi Yusuf, umatnya terkenal sangat mahir melakukan bekam.

 

Pada masa Rasulullah, bekam pun menjadi pengobatan bahkan kebiasaan Rasul dan para sahabat. Pengobatan ini terus dikembangkan seiring perkembangan dunia Islam. ”Bahkan, pada masa Umayyah, bekam menjadi pengobatan yang paling maju,” tulisnya.

 

Berkaitan dengan ruqyah, Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari menjelaskan, ulama bersepakat tentang kebolehan ruqyah jika memenuhi beberapa syarat. Pertama, dengan menggunakan ayatayat alQur’an, namanama dan sifatsifat Allah SWT. Kedua, menggunakan bahasa Arab. Ketiga, meyakini bahwa Allah SWT Maha Penyembuh. Jika tidak memenuhi syaratsyarat tersebut, maka ruqyah tersebut tidak diperbolehkan.

 

Jika ruqyah menggunakan bahasa yang tidak dipahami, seperti mantra dan jampijampi, maka ruqyah tersebut mengantarkan pada kemusyrikan. Jika ruqyah tersebut mengandung unsur meminta bantuan kepada jin, maka termasuk syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

 

Ustad Waluyo Aminudin, SHI., Pimpinan Majelis Dzikir AlFajri, Bojongsari Depok, mengatakan sebenarnya pengobatan apapun caranya, yang dicari adalah mencari sehat yang berasal dari Allah SWT. Jika tidak, maka akan terjadi sebaliknya. Karena pada dasarnya segala sesuatu adalah La Haula Wala Quwwata Illa Billah.

 

Meski begitu, kebanyakan orang ketika dalam keadaan kepepet, orang bisa lalai dan tidak berpikir jernih dalam ikhtiar mencari kesembuhan. “Akhirnya seseorang salah mengambil jalan, sehingga mereka ikhtiar mencari kesembuhannya tidak sesuai dengan ajaran Islam,” ujar Alumni Fakultas Syariah UIN Jakarta ini kepada Majalah Gontor.

 

Pengobatan cara Islam lebih cenderung menyentuh pada ruh ilahiah dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, seperti zikir. Karena zikir dapat memberikan ketenangan pada hati seseorang. Allah SWT berfirman, “Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah maka dapat memberikan ketenangan hati.” (QS. arRa’d: 28)

 

Secara medis, yang dimaksud hati (qulub) adalah jantung yang memompa darah. Dengan ketenangan hati, jantung menjadi stabil. Saat detak jantung stabil, sirkulasi darah pada tubuh manusia akan berfungsi dengan baik. Ketika denyut jantung tidak stabil, darah yang mengalir ke tubuh juga menjadi tidak stabil dan dapat mengganggu kesehatan.

 

Menurut Aminudin, tidak semua penyakit itu dapat disembuhkan dengan cara medis, tetapi bisa juga disembuhkan melalui zikir dan doa. Ini bukan berarti pengobatan Islami bertolak belakang dengan pengobatan modern, tetapi keduanya bisa digabungkan. Artinya, ketika orang berobat lewat medis, jangan lupa pula dengan doa.

 

Dalam mengidentifikasi suatu penyakit, mungkin secara medis deteksi penyakitnya jelas, tetapi hakikatnya belum tentu benar adanya. Bisa jadi penyebabnya karena sumber penghasilannya tidak halal, kurang sedekah atau zakat, atau bisa juga karena berperilaku di luar tuntunan Allah SWT.

 

Meski secara medis jelas penyakitnya, tetapi sulit untuk sembuhnya. Jadi, konsep yang dibangun hendaknya selalu berbagi— melalui sedekah atau zakat—sebagai proteksi diri. Kenapa orang itu harus sedekah atau zakat? Ia menyebutkan hadis bahwa sedekah itu menolak bala.

Selain itu, banyak yang secara medis sulit dideteksi penyakitnya, tetapi mereka merasakan sakitnya. Karena itu, mereka merasa kurang yakin dengan pendekatan medis. “Alhamdulillah, zikir dan doa serta sedekah menjadi wasilah kesembuhan mereka. Pada akhirnya mereka menyadari bahwa kesembuhan hanyalah milik Allah,” pungkasnya. (Muttaqien/MG

http://www.majalahgontor.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s