Saudara-muslimku, semoga Allah menjauhkan saya dan Anda dari kemunafikan dan akhlak yang buruk. Ketahuilah bahwa kemunafikan itu ada dua macam,

1. Nifaq i’tiqadi (munafik akidahnya/keyakinannya)

Orang yang munafik akidahnya/keyakinannya adalah orang yang menampakkan diri sebagai muslim, namun sebenarnya dia menyembunyikan kekafiran dalam hatinya. Orang semacam ini lahiriahnya muslim, namun sesungguhnya di dalam batinnya dia itu orang kafir. Setelah dia mati, tempat kembalinya adalah neraka yang paling dalam.

Allah berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً (*) إِلاَّ الَّذِينَ تَابُواْ وَأَصْلَحُواْ وَاعْتَصَمُواْ بِاللّهِ وَأَخْلَصُواْ دِينَهُمْ لِلّهِ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْراً عَظِيماً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah di neraka. Kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang bertaubat, mengadakan perbaikan, berpegang teguh pada (agama) Allah, dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Mereka itu bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (QS. An-Nisa: 145-146)

2. Nifaq ‘amali (munafik perbuatannya)

Perbuatan yang menjadi ciri khas oranng munafik, seperti dusta, tidak amanah, dan lain-lain.

Jika kita kumpulkan, ada tiga hadis yang menyebutkan tujuh sifat yang tercela, yang menjadi tradisi orang munafik.

Hadits pertama

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; beliau bersabda,

آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان

“Ciri orang munafik ada tiga: jika dia berbicara, dia berdusta; jika dia berjanji, dia melanggar; dan jika dia diberi amanah, dia berkhianat.” (HR. Bukhari, no.33; Muslim, no. 59. Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan, “Meskipun dia shalat, berpuasa, dan mengaku sebagai muslim.”)

Hadits kedua

عن عبد الله بن عمرو أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : ( أربع من كن فيه كان منافقا خالصا ومن كانت فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها إذا اؤتمن خان وإذا حدث كذب وإذا عاهد غدر وإذا خاصم فجر

Dari Abdullah bin Amr bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ada empat hal – jika dalam diri seseorang ada empat hal ini maka dia adalah munafik tulen; jika dalam dirinya hanya ada sebagian dari empat hal tersebut maka sebagian sifat kemunafikan telah tumbuh dalam dirinya, sampai dia menghilangkan sifat kemunafikan tersebut – jika dia diamanahi, dia berkhianat; jika berkata, dia berdusta; jika telah menyepakati perjanjian, dia melanggar perjanjian itu; dan jika dia mengalahkan musuh, dia melampaui batas.’” (HR. Bukhari, no. 34 dan Muslim, no. 58)

Hadits ketiga

Dari Abu Hurairah; beliau (Abu Hurairah berkata),

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( من مات ولم يغز ولم يحدث به نفسه مات على شعبة من نفاق )

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barang siapa yang meninggal sedangkan (semasa hidup) dalam hatinya belum pernah terbetik niat untuk berperang/berjihad (di jalan Allah), dia telah meninggal dengan menyimpan salah satu jenis kemunafikan dalam hatinya.’”

Ibnul Mubarak, yang merupakan salah satu periwayat hadits ini, berkata, “Sepemahaman kami, hadits tersebut berlaku hanya pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Saya (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushabi) mengatakan, “Jenis kemunafikan yang kedua ini (yaitu nifaq ‘amali, pen.) tidak membuat pelakunya keluar dari Islam. Kendati demikian, dia tetap wajib bertaubat.”

Sumber: Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushabi, 1427 H (2006 M), Dar Ibnu Hazm.


Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

(*) Catatan:

Keterangan Ibnul Mubarak tentang hadits-ketiga di atas menunjukkan bahwa kita perlu memahami hadits sesuai dengan pemahaman periwayat hadits tersebut. Merekalah yang memperoleh langsung hadits tersebut dari mata rantai sumbernya. Seperti juga bila kita tidak hadir dalam suatu pengajian. Meski kita mendapat makalah pengajian tersebut, pemahaman kita akan lebih utuh bila kita mendapatkan informasi tambahan dari kawan kita yang turut menghadiri pengajian tersebut, karena terkadang ada informasi tambahan yang disampaikan oleh Ustadz secara insidental, namun belum tertera dalam makalah yang sudah disiapkan sebelumnya. Wallahu a’lam.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<

Jika Kami Taat kepada Allah maka Cintailah Kami, tapi Jika Kami Durhaka kepada-Nya, Bencilah Kami!

Suatu hari seorang laki-laki mendatangi Al-Hasan Al Mutsanna. Entah mengapa, laki-laki itu memuji ahlul bait secara berlebihan. Mendengar sanjungan seperti itu, Al-Hasan Al-Mutsanna langsung marah, “Apa-apaan kalian ini! Cintailah kami karena Allah. Jika kami taat kepada Allah maka cintailah kami, tapi jika kami durhaka kepada-Nya maka bencilah kami!”

Lantas ada seseorang yang menyela ucapannya, “Bukankah kalian kerabat Rasulullah dan ahlul bait beliau?”

Al-Hasan Al-Mutsanna membalas, “Engkau salah paham! Seandainya Allah menyelamatkan seseorang dari azab-Nya sebatas karena kekerabatan orang itu dengan Rasulullah, bukan karena ketaatan kepada-Nya, tentu orang yang nasab ayah-ibunya lebih dekat dengan beliau akan dijamin selamat. Namun ternyata tidak demikian.”

Al-Hasan melanjutkan, “Demi Allah, kami sungguh khawatir jika orang yang durhaka di antara kami akan disiksa dua kali lipat. Meski begitu, aku juga berharap semoga orang yang berbuat baik di antara kami akan diberi pahala dua kali lipat. Apa-apaan kalian ini! Takutlah kepada Allah! Katakanlah yang benar tentang kami, ahlul bait, karena itulah yang akan mewujudkan keinginan kalian, dan kami pun dapat menerimanya dari kalian dengan senang hati.” (Dikutip dari Thabaqat Ibnu Sa’ad, 5:319)

Disalin dari buku Hasan & Husain: The Untold Stories (Judul Asli: Mausu’ah Al-Hasan wal Husain), 2013, karya Sayyid Hasan Al-Husaini, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta.

Sahabat..
Saat sedang online, sadarilah bahwa kematian tak menunggu kapan gerak jemari kita berhenti menari diatas keyboard.

Kita juga tak akan pernah tau apa isi status terakhir yang akan kita tinggalkan.

Seorang penyair pernah mengatakan:

وما من كاتب إلا سيفنى *** ويبقى الدهرَ ما كتبت يداه
فلا تكتب بخطك غير شيء *** يسرك في القيامة أن تراه.

Setiap penulis pasti akan meninggal..
Hanya tulisannya yang akan kekal sepanjang masa..
Maka jangan kau tulis sesuatu dengan gores penamu..
Kecuali apa yang kelak membuatmu bahagia saat melihatnya di hari kiamat nanti.

Kawan…
Tulislah yang baik-baik saja..
Bagikan yang baik-baik saja..
Pikirkan hal yang terbaik, mantapkan niat, lalu tuangkan di kolom statusmu.
Jangan menunda kawan..
Karena kita tidak tau dengan status yang mana sahabat kita menemukan jalan hidayah-Nya.

Ingat..!!!!
Semua yang kita tuliskan tersimpan rapi disisi-Nya.

Status kita bisa menjadi sumber pahala yang tak berujung atau petaka yang tak berkesudahan.

Waffaqakumullah

************************************************************************************************************

Dua Orang yang Saling Mencintai di Jalan Allah

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى.

Renungan bagi pengguna internet :

Bilal bin Sa’ad (seorang tabi’in) berkata

لاَ تَكُنْ وَلِيًّا لِله فِي الْعَلاَنِيَةِ وَعَدُوَّهُ فِي السَّرِيْرَةِ

“Janganlah engkau menjadi wali Allah di hadapan umum, namun tatkala sendirian menjadi musuhNya”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam kitab Al-Ikhlash wa An-Niyyah hal 23)

Hal ini sebagai mana perkataan Suhnun rahimahullah:

إِيَّاكَ أَنْ تَكُوْنَ عَدُوًّا لِإبْلِيْسَ فِي الْعَلاَنِيَةِ صَدِيْقًا لَهُ فِي السِّرِّ

“Jangan sampai engkau menjadi musuh iblis di hadapan umum sementara engkau menjadi temannya tatkala bersendirian”

**************************************************************

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Ketika kita dikritik orang..
Terkadang kita marah dan benci kepada orang yang mengkritik..
Bahkan menganggapnya sebagai musuh..

Sebetulnya kritikan itu..
Mengajarkan kedewasaan kita..
Dan melatih kesabaran dalam mentarbiyah emosi.
Toh kita bukan malaikat atau nabi yang ma’shum.

Mungkin..
Orang yang mengkritik itu karena mencintai kita..
Sehingga ia memberi perhatiannya untuk kita..
Asal kita positif thinking aja..

Bila kritikan itu benar..
Tentu merujuk kebenaran lebih baik dari pada ngeyel di atas kesalahan..
Bila kritik itu tidak benar..
Cukup kita tepis dengan adab dan sopan santun..
Nggak perlu marah marah atau tersinggung..

Moga bermanfaat..

**********************************************************

Syukurilah Kelebihan kita

Allah memberikan kelebihan kepada kita adalah untuk disyukuri karena Allah akan memintai pertanggungjawabannya, bukan untuk mengejek orang lain yg tidak memiliki kelebihan tersebut, karena itu adalah kufur nikmat.
Kelebihan yg kita miliki seharusnya menjadikan kita semakin tawadu’ krn kita sadar itu semua semata-mata karunia dari Allah, dan Allah bisa mencabutnya sewaktu waktu, serta menjadikan kita semakin rahmat (kasih sayang) kepada orang lain yg tidak diberi kelebihan tersebut. Bukan malah menjadikan kita angkuh dan merendahkan orang lain.

Renungkanlah baik-baik

Diantara sesuatu yang paling menyedihkan dan menyayat hatimu di hari perhitungan nanti adalah ketika kamu tidak mampu memberikan SATU kebaikan pun untuk orang-orang yang sangat kau CINTAI; ayah dan ibumu, begitu pula kepada anak-anak dan isteri tercintamu.

Namun, engkau terpaksa harus memberikan BANYAK kebaikanmu untuk orang lain yang kau BENCI yang pernah kau ghibahi atau zalimi selama di dunia.

Mari lindungi tabungan amalmu dari ghibah, jangan terkecoh dengan alasan-alasan indah yang menghiasnya …********************************

Tetap semangat berdakwah, mungkin tidak disangka, satu share ilmu dan faidah ternyata bisa memberikan hidayah kepada seseorang, walau hanya sekedar menekan “share”. Tentunya dengan niat yang ikhlas

Tidak mesti jadi ustadz, hanya menunjukkan dan mengajak ke jalan Allah, insyaAllah mendapatkan pahala sebagaimana pelakunya.
Demikian juga share ilmu baik di dunia nyata maupun dunia maya. Semoga mendapat pahala MLM sampai hari kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

المراد أن له ثوابا كما أن لفاعله ثوابا

دل بالقول، واللسان، والإشارة، والكتابة

“Maksudnya adalah baginya pahala sebagaimana pahala yang menerjakan…ia menunjukkan dengan perkataan, lisan, ISYARAT dan tulisan.” (Syarah Shahih Muslim)

Bukannya merasa “sok alim dan sok ustadz”, tetapi ini yang diharapkan

Terkadang terbetik bisikan “kamu juga banyak maksiat, jangan sok alim dan sok suci”

tetapi teringat perkataan ulama “Kalau menunggu suci sekali, tidak akan ada yang berdakwah”

Ibnu Hazm rahimahullah berkata,

ولو لم ينه عن الشر إلا من ليس فيه منه شيء ولا أمر بالخير إلا من استوعبه؛ لما نهى أحد عن شر ولا أمر بخير بعد النبي صلى الله عليه وسلم

“Seandainya yang melarang dari dosa harus orang yang tidak terlepas dosa dan yang memerintahkan kebaikan harus orang yang sudah melakukan kebaikan semua, maka tidak ada lagi yang melarang dari keburukan dan mengajak kebaikan kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Akhlaq was Siyar hal. 252-253)

Jika harus menunggu jadi orang suci berdakwah, dakwah tak akan pernah ada

kita banyak-banyak berdoa  dan memperhatikan:
1. Semoga Ikhlas ketika share ilmu

2. Berniat yang paling pertama mengamalkannya (terkadang kita PeDe share sesuatu setelah kita amalkan) dan memohon kepada Allah agar kita bisa mengamalkannya

3. Jauhkan riya dan tendensi dunia serta ketenaran
seandainya bukan karena amanah ilmiah, ingin rasanya menulis sesuatu tanpa mencantumkan nama penulisnya. Sebagai bentuk amanah ilmiah, cantumkan sumber tulisannya jika ada.

4. Tidak melupakan dakwah di dunia nyata, karena itulah dakwah yang lebih baik dan lebih prioritas, di keluarga dan sahabat di sekitar kita. Walaupun dakwah dunia maya juga boleh dan terkadang efektif

5. Tidak lupa berdoa agar dakwah kita berkah dan bisa diterima oleh manusia dengan mudah

Tetap semangat share ilmu di dunia nyata ataupun dunia maya dan tetap berdakwah, tentunya dengan memohon pertolongan Allah dan berhias dengan keikhlasan