Bersikap Bijak Dalam Mengambil Sebab

 

Renungan Akhir Tahun

Kurang dari sepekan lagi 2010 akan meninggalakan kita semua.
Ada banyak hal yang harus kita evaluasi mengenai pencapaian target2 kita di tahun ini.

Bagi yang targetnya tercapai; Alhamdulillah saatnya menyusun target baru di tahun depan.

Bagi yang targetnya belum tercapai; saatnya evaluasi diri, supaya target berikutnya tidak meleset.

Mudah2an sedikit renungan ini bisa menambah semangat baru, untuk menyongsong target baru di Tahun Baru. :-)

Semoga berkenan.

Jangan menunggu bahagia, baru tersenyum.
Tapi tersenyumlah, maka kamu kian bahagia

Jangan menunggu kaya, baru mau beramal.
Tapi beramal lah, maka kamu semakin kaya

Jangan menunggu termotivasi, baru bergerak.
Tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi

Jangan menunggu dipedulikan orang baru anda peduli,
Tapi pedulilah dengan orang lain! maka anda pasti akan dipedulikan…

Jangan menunggu orang memahami kamu, baru kita memahami dia.
Tapi pahamilah orang itu, maka orang itu paham dengan kamu

Jangan menunggu terinspirasi, baru menulis.
Tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu

Jangan menunggu proyek, baru bekerja.
Tapi berkerjalah, maka proyek akan menunggumu

Jangan menunggu dicintai, baru mencintai.
Tapi belajarlah mencintai, maka anda akan dicintai

Jangan menunggu banyak uang, baru hidup tenang.
Tapi hiduplah dengan tenang, maka bukan hanya sekadar uang yang datang, tapi damai sejahtera.

Jangan menunggu contoh, baru bergerak mengikuti.
Tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti

Jangan menunggu sukses, baru bersyukur.
Tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu

Jangan menunggu bisa, baru melakukan.
Tapi lakukanlah! Kamu pasti bisa!

Para Pecundang selalu menunggu Bukti dan Para Pemenang Selalu Menjadi Bukti

Seribu kata akan dikalahkan Satu Aksi Nyata!

Semoga 2011 menjadi awal yang baik bagi pencapaian target2 kita.

Tetap Semangat !

– See more at: http://salamsuper.co/renungan-akhir-tahun/#sthash.kNPwTMpU.dpuf

Renungan Akhir Tahun

Kurang dari sepekan lagi 2010 akan meninggalakan kita semua.
Ada banyak hal yang harus kita evaluasi mengenai pencapaian target2 kita di tahun ini.

Bagi yang targetnya tercapai; Alhamdulillah saatnya menyusun target baru di tahun depan.

Bagi yang targetnya belum tercapai; saatnya evaluasi diri, supaya target berikutnya tidak meleset.

Mudah2an sedikit renungan ini bisa menambah semangat baru, untuk menyongsong target baru di Tahun Baru. :-)

Semoga berkenan.

Jangan menunggu bahagia, baru tersenyum.
Tapi tersenyumlah, maka kamu kian bahagia

Jangan menunggu kaya, baru mau beramal.
Tapi beramal lah, maka kamu semakin kaya

Jangan menunggu termotivasi, baru bergerak.
Tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi

Jangan menunggu dipedulikan orang baru anda peduli,
Tapi pedulilah dengan orang lain! maka anda pasti akan dipedulikan…

Jangan menunggu orang memahami kamu, baru kita memahami dia.
Tapi pahamilah orang itu, maka orang itu paham dengan kamu

Jangan menunggu terinspirasi, baru menulis.
Tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu

Jangan menunggu proyek, baru bekerja.
Tapi berkerjalah, maka proyek akan menunggumu

Jangan menunggu dicintai, baru mencintai.
Tapi belajarlah mencintai, maka anda akan dicintai

Jangan menunggu banyak uang, baru hidup tenang.
Tapi hiduplah dengan tenang, maka bukan hanya sekadar uang yang datang, tapi damai sejahtera.

Jangan menunggu contoh, baru bergerak mengikuti.
Tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti

Jangan menunggu sukses, baru bersyukur.
Tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu

Jangan menunggu bisa, baru melakukan.
Tapi lakukanlah! Kamu pasti bisa!

Para Pecundang selalu menunggu Bukti dan Para Pemenang Selalu Menjadi Bukti

Seribu kata akan dikalahkan Satu Aksi Nyata!

Semoga 2011 menjadi awal yang baik bagi pencapaian target2 kita.

Tetap Semangat !

– See more at: http://salamsuper.co/renungan-akhir-tahun/#sthash.kNPwTMpU.dpuf

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap kejadian ada sebabnya. Seorang anak terlahir sebagai akibat dari hubungan antara ayah dan ibunya. Orang kenyang karena ia mengonsumsi makanan. Jika ingin pandai kita harus belajar dengan sungguh-sungguh. Apabila tertimpa sebuah penyakit, datanglah berobat ke dokter. Seorang petani hendaklah menanam jika ia ingin memanen hasilnya. Mau masuk surga, harus beriman dan beramal saleh. Demikianlah ketentuan Allah yang berlaku di alam ini. Hukum sebab akibat sudah menjadi ketetapan Allah dalam kehidupan kita di atas muka bumi ini.

Mengambil Sebab Bagian Dari Tawakal

Berusaha mengambil sebab untuk mendapatkan keinginan dan memperoleh manfaat atau untuk menolak bahaya tidaklah tercela di dalam Islam. Usaha untuk memperoleh sesuatu yang diperbolehkan agama tidak bertentangan dengan prinsip tawakal kepada Allah. Bahkan ia termasuk bagian dari tawakal itu sendiri. Hakikat tawakal adalah melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan agama dengan tetap menggantungkan harapan hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu, hendaklah setiap muslim bersemangat mencari sebab yang bisa mendatangkan kebaikan bagi dirinya, baik untuk kehidupannya di dunia maupun untuk kehidupan akhiratnya.

Makna inilah yang dipahami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Beliau menerjemahkan makna ini di dalam kehidupannya secara nyata. Perjalanan hijrah beliau dari Mekah ke Madinah menjadi contoh aplikatif pelaksanaan tawakal yang benar dalam kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memerintahkan Ali bin Abu Thalib untuk menggantikan beliau tidur di atas ranjangnya, beliau bersembunyi di gua Tsur, beliau mengambil jalur yang tidak biasa dilalui dan beliau juga menyewa Abdullah bin ‘Uraiqith sebagai penunjuk jalan. Semua itu beliau lakukan dengan perhitungan yang sangat matang dan strategi yang cermat demi kelancaran perjalanan hijrahnya. Contoh yang lainnya adalah ketika dalam perang Uhud beliau memakai dua baju besi sebagai tameng untuk melindungi dirinya dari senjata musuh. Ini semua membuktikan kepada kita bahwa melakukan sebab-sebab yang dibenarkan oleh Allah tidak menafikan tawakal. Andaikan mengambil sebab bertentangan dengan prinsip tawakal kepada Allah, tentulah Rasulullah menjadi orang yang pertama kali menjauhinya karena beliau adalah manusia yang paling mengenal Allah dan paling bertakwa kepada-Nya.

Dahulu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersama para sahabatnya mengerahkan segala daya dan upaya untuk mendakwahi manusia agar mereka mau beriman kepada Allah. Mereka berperang di jalan Allah demi meninggikan kalimat tauhid. Mereka meyakini bahwa kejayaan umat tidak akan digapai hanya dengan berdoa memohon kepada Allah sementara mereka hanya berpangku tangan mengharap pertolongan dari langit. Karena itulah mereka mengencangkan ikat pinggang, menyingsingkan lengan baju, dan memaksimalkan segala potensi yang mereka miliki. Mereka tuangkan dalam usaha nyata agar mereka bisa meraih tujuan yang diinginkan. Sejarah telah mencatat bahwa kejayaan Islam di masa lalu terukir dengan tetesan darah para syuhada, limpahan air mata perjuangan, dan pengorbanan harta benda yang tak terhitung jumlahnya. Demikianlah orang-orang terbaik panutan kaum muslimin di masa lalu memaknai tawakal.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَز

Bersemangatlah mencari apa yang bermanfaat untukmu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.” (HR. Muslim no: 2664 dan Ibnu Majah no:79)

Suatu hari, ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasululllah, apakah aku ikatkan untaku ini terlebih dahulu baru aku tawakal atau aku lepaskan saja dan bertawakal kepada Allah?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab,

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّل

Ikatlah untamu dan bertawakallah!” (HR. At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani di dalam Al-Misykah, no : 22)

Tiga Tipe Manusia Dalam Menyikapi Sebab 

Ada tiga tipe manusia dalam memandang sebab ini:

Kelompok pertama: manusia yang berlebih-lebihan dalam menetapkan sebab

Kelompok ini menjadikan sesuatu yang bukan sebab sebagai sebab. Misalnya orang yang menganggap jimat sebagai penolak bala, menganggap sebuah cincin sebagai pelaris, menganggap jampi-jampi sebagai perekat cinta, meyakini sebuah keris memiliki kesaktian luar biasa, mencari penyembuhan kepada para dukun, menganggap sial angka tiga belas, hari, dan tanggal tertentu, atau tempat-tempat tertentu yang dianggap keramat, serta menjadikan tempat tertentu untuk mencari berkah. Padahal agama Islam tidak pernah menerangkan hal tersebut, semisal memberikan sesajen kepada jin penunggu gunung atau laut tertentu. Ini tentunya tidak selaras dengan tuntunan Islam. Seseorang yang berkeyakinan seperti ini secara tidak sadar telah terjebak dalam perbuatan mempersekutukan Allah karena ia seakan-akan menyejajarkan dirinya dengan Allah dalam menetapkan sebab itu.

Maka dalam hal ini, perlu diketahui bagaimana cara mengetahui bahwasesuatu itu merupakan sebuah sebab untuk suatu akibat atau hasil tertentu. Ada dua cara mengetahui sebab:

  1. Pertama: sebab syar’i. Sebab ini diketahui dengan adanya nas atau ketetapandari Alquran dan As-Sunnah. Selama nas-nas syar’i menetapkan sesuatu itu sebagai sebab, maka ia adalah sebab syar’i. Contohnya: ruqyah, yaitu membacakan Alquran bagi orang yang terkena gangguan jin atau bagi orang yang kesurupan. Ini telah ada dalilnya dari syariat sehingga dapat kita kategorikan sebagai sebab syar’i.

  1. Kedua: sebab kodrati, yaitu sebab yang diketahui melalui percobaan ilmiah dan penelitian. Dalam hal ini, sugesti tidak dianggap keberadaannya karena ia hanyalah pembenaran jiwa yang bersifat ilusioner. Contoh dari sebab kodrati ini adalah ilmu medis. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa ilmu kedokteran didapatkan melalui berbagai penelitian dan percobaan sehingga menghasilkan sebuah penemuan bahwa suatu resep atau suatu bahan bisa menyembuhkan penyakit tertentu. Ini tidak dipungkiri dalam Islam, bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menegaskan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya.

Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلّ

Setiap penyakit memiliki obat. Jika obat yang tepat diberikan kepada sebuah penyakit niscaya ia akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.”(HR. Muslim no: 2204)

Dalam riwayat lain, dari Usamah bin Syarik radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Aku mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedangkan para sahabat beliau sangat tenang di hadapan beliau seakan-akan ada burung yang bertengger di atas kepala mereka. Aku pun memberi salam kemudian duduk. Lalu datanglah orang-orang Arab Badui dari sana sini. Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kami diperbolehkan berobat?’Maka beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab,

تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ

Berobatlah kalian karena sesungguhnya tidaklah Allah meletakkan sebuah penyakit kecuali Dia meletakkan pula obatnya, terkecuali satu penyakit, yaitu tua.”(HR. Abu Dawud no: 3855)

Dua hadis ini dan yang lainnya menjadi argumentasi penetapan dan pembolehan ilmu kedokteran.

Kelompok kedua: yang mengingkari eksistensi sebab

Kelompok ini menyandarkan segala sebab itu hanya kepada Allah dengan menafikan keikutsertaan manusia sebagai subjek pelaku sebab tersebut. Mereka berargumentasi bahwa Allah-lah pencipta sebab itu.Maka Allah-lah sebenarnya yang melakukan sebab itu secara hakiki, bukan manusia. Manusia dalam hal ini diibaratkan bagaikan daun yang tertiup angin, tidak memiliki pengaruh sama sekali. Apa yang diperbuat manusia sejatinya adalah jelmaan dari perbuatan Allah melalui diri manusia tersebut.

Jika dikaji lebih dalam, maka kita akan dapati kontradiksi yang sangat jelas di dalam pemahaman kelompok ini. Seandainya kita terapkan kaidah kelompok ini dalam kenyataan, maka kita akan terjebak dalam pelecehan kepada Allah. Contohnya adalah etika seorang suami menggauli istrinya agar mendapatkan keturunan berarti Allah-lah yang melakukan perbuatan itu secara hakiki. Ketika seseorang mengonsumsi makanan lalu dalam beberapa jam kemudian ia membuangnya di kamar mandi, berarti Allah-lah yang melakukan perbuatan hina itu. Ini tentunya tidak selaras dengan pengagungan kita kepada Allah Pencipta alam semesta. Di samping itu, keyakinan seperti ini memiliki konsekuensi yang fatal, yaitu menyatakan kesia-siaan penciptaan Allah terhadap alam semesta, baik jin, manusia, malaikat, maupun makhluk-makhluk-Nya yang lain. Secara tidak sadar, penganut pemahaman ini telah menghilangkan hikmah dari penciptaan Allah, kebijaksanaan Allah serta hikmah perintah dan larangan-Nya.

Kelompok ketiga adalah kelompok yang pertengahan dalam memandang sebab

Mereka memandang bahwa sebab itu memiliki pengaruh dan tetap harus dilaksanakan sebagai prasyarat untuk mendapatkan suatu tujuan. Akan tetapi pengaruh sebab itu sendiri tetap berada di bawah kehendak dan kekuasaan Allah Jalla Jalaluh. Mereka tetap meyakini dampak dari suatu sebab secara nyata dalam kenyataan, dan pada waktu yang sama, mereka meyakini bahwa sebab itu berada di bawah kehendak dan pengaturan mutlak Allah yang apabila dikehendaki-Nya pengaruh sebab itu bisa hilang sama sekali. Sebagai contoh adalah api. Penganut paham ini meyakini pengaruh api dan sifatnya, yaitu panas dan bersifat membakar. Akan tetapi mereka juga meyakini kebenaran kekuasaan mutlak Allah yang telah menghilangkan pengaruh api pada diri Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika beliau dilemparkan ke dalam kobaran api.

Inilah pemahaman yang benar seputar mengambil sebab. Inilah pemahaman yang didasarkan pada Alquran dan hadis. Oleh karena itu, penganut paham ini senantiasa bersemangat melaksanakan sebab yang dibenarkan agama dengan senantiasa menggantungkan hati dan harapan kepada Allah.

Bijak Dalam Mengambil Sebab

Jika kita telah mengetahui hal ini, maka sudah selayaknya bagi kita sebagai seorang muslim untuk bersikap bijak dalam memandang dan menghadapi sebab ini. Dalam mengambil sebab, kita perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini:

  1. Hendaklah kita berusaha dan berupaya dengan penuh semangat untuk mencari sebab-sebab keberuntungan dan menghindarkan diri dari sebab-sebab kesengsaraan sesuai dengan tuntunan yang telah digariskan Allah kepada kita. Janganlah kita menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan. Hendaklah kita tetap berada dalam garis koridor syariat ketika berusaha dan jangan sampai kita melakukan cara-cara yang haram untuk mendapatkan keinginan.

  1. Dalam mengusahakan sebab, hendaklah kita meyakini sebab itu sebagai sebab semata, sementara penentu keberhasilan dari sebab itu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka kita harus selalu menggantungkan harapan kepada Allah dan senantiasa menyandarkan diri kepada-Nya.

  1. Janganlah kita berargumentasi terhadap takdir atas kekeliruan yang kita perbuat. Karena kita melakukan suatu perbuatan atas dasar kesadaran, kemampuan, dan kehendak kita. Sementara kita tidak mengetahui takdir Allah untuk diri kita sebelum ia terjadi, bahkan kita seharusnya bertobat memohon ampunan kepada Allah atas kekhilafan yang kita perbuat. Sebaliknya, ketika kita mendapatkan taufik untuk melakukan sebuah ketaatan, hendaklah kita bersyukur kepada Allah dan tetap tawaduk dan tidak merasa kagum terhadap amal ketaatan kita karena kita bisa taat atas taufik dari Allah Azza wa Jalla semata.

Inilah kandungan pesan yang disampaikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya,

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَة

Beramallah karena semua orang akan dimudahkan kepada apa yang ia diciptakan untuknya. Adapun orang yang telah ditetapkan Allah termasuk dari para penduduk kebahagiaan maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan perbuatan penduduk kebahagiaan. Sementara orang yang telah ditetapkan termasuk golongan penduduk sengsara maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan perbuatan para penduduk kesengsaraan” (Muttafaq alaih, dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu)

Maka marilah, wahai saudaraku, kita berusaha dan berikhtiar mencari kebaikan dan kebahagiaan baik duniawi maupun ukhrawi sesuai dengan ketentuan yang telah Allah gariskan untuk kita dengan mengikatkan hati senantiasa kepada-Nya. Semoga Allah Azza wa Jalla berkenan memudahkan segala urusan kita dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Wallahu a’lam bishshawab. Washallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Daftar Pustaka:

  • Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Qaul As-Sadid fi Maqashid at-Tauhid.
  • Muhammad bin Abdullah bin Al-Khatib At-Tibrizi. Misykah al-Mashabih, tahqiq Al-Albani.
  • Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Al-Qaul Al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid.

Penulis: Muh. Halid (Kholid Abu Zakia)

Muraja’ah: Ust. Suhuf Subhan, M.Pd.I

****************************************************

Ketika Pekerjaan Adalah Segalanya Untuk Anda

pekerjaanSalah satu alasan Anda tidak merasa puas dengan hasil pekerjaan adalah besarnya harapan yang Anda miliki tidak sesuai dengan hasil yang didapatkan. Anda menginvestasikan seluruh diri Anda pada pekerjaan dan berharap Anda akan mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang telah Anda lakukan.

Ketika Anda tidak merasa puas dengan diri Anda, yang biasanya dilakukan adalah menyembunyikan perasaan tersebut dan berusaha untuk menebusnya. Salah satu cara untuk menyingkirkan perasaan tidak puas tersebut adalah dengan meningkatkan achievement. Semakin besar sukses yang didapat maka Anda akan semakin berharga – setidaknya Anda akan merasa seperti itu. Permasalahannya adalah semakin besar sukses yang Anda dapat maka semakin besar juga lubang yang telah Anda gali. Anda sudah terobsesi dan merasa kecanduan dengan pekerjaan Anda, Anda merasa hidup Anda berhasil dan mengalami peningkatan dengan sukses yang telah Anda raih, akan tetapi perasaan tersebut biasanya tidak berlangsung lama. Anda akan terus berusaha untuk mencapai hasil yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.

Pekerja dengan target tinggi memiliki kesulitan untuk meminta bantuan karena tidak ada yang tahu bahwa mereka membutuhkannya, terkadang merka tidak menjadi dirinya sendiri. Mereka akan mendapatkan reward atas prestasi yang telah dilakukan akan tetapi secara tidak langsung mempengaruhi perilaku mereka menjadi tidak sehat hingga membuat mereka terasa terpenjara.

Jika Anda berharap semua orang dapat mendukung seluruh rasa percaya diri Anda maka Anda tidak akan merasa puas dengan apapun apa yang telah Anda lakukan, Anda selamanya akan dikasihani oleh semua orang.

Berikut adalah beberapa tanda yang mengindikasikan Anda telah menginvestasikan diri Anda terlalu besar pada pekerjaan:

  • Anda merasa bangga mengenai diri Anda ketika Anda sedang membicarakan tentang pekerjaan
  • Waktu yang Anda habiskan lebih banyak untuk pekerjaan atau bekerja dari rumah
  • Anda tidak memiliki hobi atau minat selain karier yang Anda miliki
  • Anda hanya menghabiskan waktu sedikit dengan orang-orang yang dekat dengan Anda
  • Ketika Anda telah bekerja keras pada suatu proyek dan berhasil, Anda akan merasakan euphoria yang tinggi yang kemudian diikuti dengan sedikit rasa dramatis
  • Anda lebih banyak bicara mengenai pekerjaan di pergaulan
  • Ketika bertemu dengan orang baru, Anda akan berusaha untuk menunjukkan betapa suksesnya Anda
  • Anda biasanya menempatkan pekerjaan diatas kepentingan lainnya
  • Anda memiliki kesulitan untuk bersantai pada saat liburan
  • Anda merasa marah dan tersinggung jika ada orang lain yang mencampuri rencana kerja Anda

Mungkin sebagian orang memang memiliki tujuan sukses sehingga fokus 100 persen pada pekerjaan yang dilakukan, seluruh waktu yang dijalani dan yang dipikirkan adalah mengenai pekerjaan sehingga tidak memiliki waktu untuk diri sendiri ataupun orang lain. Hidup akan menjadi seperti treadmill yang tidak pernah berhenti bergerak.

Jabatan tinggi, kekuasaan, dan uang tidak akan memiliki arti besar pada saat Anda tidak memiliki kehidupan lain diluar pekerjaan. Kebanggan yang didapat dari kesuksesan yang dimiliki mungkin akan bertahan untuk beberapa saat, akan tetapi jika Anda menelantarkan kebutuhan Anda sehari-hari maka pekerjaan akan mengambil alih kehidupan Anda. Anda butuh keseimbangan antara hidup dan pekerjaan. “Jika Anda bukan untuk diri Anda, maka siapa?”

********************************************************************

Mengingat Nikmat Dengan Syukur

Mampukah kita menghitung nikmat-nikmat Allah Ta’ala yang telah kita dapat hingga saat ini? Tentulah, TIDAK! Menghitung jumlah nikmat dalam sedetik saja kita tidak mampu, terlebih sehari bahkan selama hidup kita di dunia ini. Tidur, bernafas, makan, minum, bisa berjalan, melihat, mendengar, dan berbicara, semua itu adalah nikmat dari Allah Ta’ala, bahkan bersin pun adalah sebuah nikmat. Jika dirupiahkan sudah berapa rupiah nikmat Allah itu? Mampukah kalkulator menghitungnya? Tentulah, TIDAK! Sudah berapa oksigen yang kita hirup? Berapa kali mata kita bisa melihat atau sekedar berkedip? Sampai kapan pun kita tidak akan bisa menghitungnya. Sebagaiman Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An Nahl: 18)

Lalu, apakah yang harus kita lakukan setelah kita mendapatkan semua nikmat itu? Bersyukur atau kufur? Jika memang bersyukur, apakah diri ini sudah tergolong hamba yang mensyukuri nikmat-nikmat itu?

Karena itu, kita Perlu mengetahui bagaimana cara bersyukur kepada Allah Ta’ala dan bagaimana tata cara merealisasikan syukur itu sendiri. Ketahuilah bahwasannnya Allah mencintai orang-orang yang bersyukur. Hamba yang bersyukur merupakan hamba yang dicintai oleh Allah Ta’ala. Seorang hamba dapat dikatakan bersyukur apabila memenuhi tiga hal:

Pertama,

Hatinya mengakui dan meyakini bahwa segala nikmat yang diperoleh itu berasal dari Allah Ta’ala semata, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (Qs. An Nahl: 53)

Orang yang menisbatkan bahwa nikmat yang ia peroleh berasal dari Allah Ta’ala, ia adalah hamba yang bersyukur. Selain mengakui dan meyakini bahwa nikmat-nikmat itu berasal dari Allah Ta’ala hendaklah ia mencintai nikmat-nikmat yang ia peroleh.

Kedua,

Lisannya senantiasa mengucapkan kalimat Thayyibbah sebagai bentuk pujian terhadap Allah Ta’ala

Hamba yang bersyukur kepada Allah Ta’ala ialah hamba yang bersyukur dengan lisannya. Allah sangat senang apabila dipuji oleh hamba-Nya. Allah cinta kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa memuji Allah Ta’ala.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (Qs. Adh Dhuha: 11)

Seorang hamba yang setelah makan mengucapkan rasa syukurnya dengan berdoa, maka ia telah bersyukur. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ . غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi no. 3458. Tirmidzi berkata, hadits ini adalah hadits hasan gharib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Terdapat pula dalam hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734).

Bahkan ketika tertimpa musibah atau melihat sesuatu yang tidak menyenangkan, maka sebaiknya tetaplah kita memuji Allah.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم – إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ

قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ ». وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ ».

Dari Aisyah, kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat”. Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal.” (HR Ibnu Majah no 3803 dinilai hasan oleh al Albani)

Ketiga,

Menggunakan nikmat-nikmat Allah Ta’ala untuk beramal shalih

Sesungguhnya orang yang bersyukur kepada Allah Ta’ala akan menggunakan nikmat Allah untuk beramal shalih, tidak digunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Ia gunakan matanya untuk melihat hal yang baik, lisannya tidak untuk berkata kecuali yang baik, dan anggota badannya ia gunakan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.

Ketiga hal tersebut adalah kategori seorang hamba yang bersyukur yakni bersyukur dengan hati, lisan dan anggota badannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah, “Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan dan anggota badan. (Minhajul Qosidin, hal. 305). Syukur dari hati dalam bentuk rasa cinta dan taubat yang disertai ketaatan. Adapun di lisan, syukur itu akan tampak dalam bentuk pujian dan sanjungan. Dan syukur juga akan muncul dalam bentuk ketaatan dan pengabdian oleh segenap anggota badan.” (Al Fawa’id, hal. 124-125)

Dua Nikmat Yang Sering Terlupakan; Nikmat Sehat Dan Waktu Luang

Hendaklah kita selalu mengingat-ingat kenikmatan Allah yang berupa kesehatan, kemudian bersyukur kepada-Nya, dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepada-Nya. Jangan sampai menjadi orang yang rugi, sebagaimana hadits berikut,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. (HR Bukhari, no. 5933)

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan: “Kenikmatan adalah keadaan yang baik. Ada yang mengatakan, kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain”. (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, penjelasan hadits no. 5933)

Ibnu Baththaal rahimahullah mengatakan: “Makna hadits ini, bahwa seseorang tidaklah menjadi orang yang longgar (punya waktu luang) sehingga dia tercukupi (kebutuhannya) dan sehat badannya. Barangsiapa dua perkara itu ada padanya, maka hendaklah dia berusaha agar tidak tertipu, yaitu meninggalkan syukur kepada Allah terhadap nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Dan termasuk syukur kepada Allah adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa melalaikan hal itu, maka dia adalah orang yang tertipu”. (Fathul Bari)

Kemudian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” ini mengisyaratkan, bahwa orang yang mendapatkan taufiq (bimbingan) untuk itu, hanyalah sedikit.

Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan: “Kadang-kadang manusia itu sehat, tetapi dia tidak longgar, karena kesibukannya dengan mencari penghidupan. Dan kadang-kadang manusia itu cukup (kebutuhannya), tetapi dia tidak sehat. Maka jika keduanya terkumpul, lalu dia dikalahkan oleh kemalasan melakukan kataatan, maka dia adalah orang yang tertipu. Kesempurnaan itu adalah bahwa dunia merupakan ladang akhirat, di dunia ini terdapat perdagangan yang keuntungannya akan nampak di akhirat. Barangsiapa menggunakan waktu luangnya dan kesehatannya untuk ketaatan kepada Allah, maka dia adalah orang yang pantas diirikan. Dan barangsiapa menggunakan keduanya di dalam maksiat kepada Allah, maka dia adalah orang yang tertipu. Karena waktu luang akan diikuti oleh kesibukan, dan kesehatan akan diikuti oleh sakit, jika tidak terjadi, maka itu (berarti) masa tua (pikun).

Maka sepantasnya hamba yang berakal bersegera beramal shalih sebelum kedatangan perkara-perkara yang menghalanginya. Imam Al Hakim meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menasihati seorang laki-laki:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ , شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ , وَصِحَّتِكَ قَبْلَ سَقْمِكَ , وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ , وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ , وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

”Ambillah kesempatan lima (keadaan) sebelum lima (keadaan). (Yaitu) mudamu sebelum pikunmu, kesehatanmu sebelum sakitmu, cukupmu sebelum fakirmu, longgarmu sebelum sibukmu, kehidupanmu sebelum matimu.” (HR. Al Hakim)

Mengapa Kita Harus Bersyukur?

Karena semua nikmat itu berasal dari Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (Qs. An Nahl: 53)

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”  (Qs. An Nahl: 114).

Bersyukur merupakan perintah Allah Ta’ala

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (Qs. Al Baqarah: 152)

Pada ayat tersebut Allah memerintahkannya secara khusus, kemudian sesudahnya Allah memerintahkan untuk bersyukur secara umum. Allah berfirman yang artinya, “Maka bersyukurlah kepada-Ku.”

Yaitu bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat ini yang telah Aku karuniakan kepada kalian dan atas berbagai macam bencana yang telah Aku singkirkan sehingga tidak menimpa kalian.

Disebutkannya perintah untuk bersyukur setelah penyebutan berbagai macam nikmat diniyah yang berupa ilmu, penyucian akhlak, dan taufik untuk beramal, maka itu menjelaskan bahwa sesungguhnya nikmat diniyah adalah nikmat yang paling agung. Bahkan, itulah nikmat yang sesungguhnya. Apabila nikmat yang lain lenyap, nikmat tersebut masih tetap ada.

Hendaknya setiap orang yang telah mendapatkan taufik (dari Allah) untuk berilmu atau beramal senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut. Hal itu supaya Allah menambahkan karunia-Nya kepada mereka. Dan juga, supaya lenyap perasaan ujub (kagum diri) dari diri mereka. Dengan demikian, mereka akan terus disibukkan dengan bersyukur.

Jika tidak bersyukur, berarti ia telah kufur

“Karena lawan dari syukur adalah ingkar/kufur, Allah pun melarang melakukannya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian kufur”. Yang dimaksud dengan kata ‘kufur’ di sini adalah yang menjadi lawan dari kata syukur. Maka, itu berarti kufur di sini bermakna tindakan mengingkari nikmat dan menentangnya, tidak menggunakannya dengan baik. Dan bisa jadi maknanya lebih luas daripada itu, sehingga ia mencakup banyak bentuk pengingkaran. Pengingkaran yang paling besar adalah kekafiran kepada Allah, kemudian diikuti oleh berbagai macam perbuatan kemaksiatan yang beraneka ragam jenisnya dari yang berupa kemusyrikan sampai yang ada di bawah-bawahnya.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 74)

Penopang Tegaknya Agama

Al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan di dalam sebuah kitabnya yaitu Al Fawa’id,  “Bangunan agama ini ditopang oleh dua kaidah: Dzikir dan syukur. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (Qs. Al Baqarah: 152).”

Ketika bersyukur kepada Allah, maka Allah akan tambahkan nikmat itu menjadi semakin banyak

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Qs. Ibrahim: 7).

Semua nikmat yang diperoleh, kelak akan dimintai pertanggungjawaban

AllahTa’alaberfirman,

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (Qs. At Takatsur: 8).

Syaikh As Sa’dirahimahullahmenerangkan, nikmat yang telah kalian peroleh di dunia, apakah benar telah kalian syukuri, disalurkan untuk melakukan hak Allah dan tidak disalurkan untuk perbuatan maksiat? Jika kalian benar-benar bersyukur, maka kalian kelak akan mendapatkan nikmat yang lebih mulia dan lebih utama.

Allah Ta’ala berfirman,

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ

Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan” (Qs. Al Ahqaf: 20).

Allah akan memberikan balasan kepada orang yang bersyukur

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (Qs. Ali Imran:145)

Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang mengingat nikmat Allah Ta’ala dengan bersyukur.

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ .

“Ya Allah! Berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut namaMu, syukur kepadaMu dan ibadah yang baik untukMu.”

Wallahu waliyyut taufiq

Sumber:

  • Fat-hul Bāri Syarh Shahih Bukhari, Ibnu Hajar Aṡqolani
  • Al- Fawāid, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Penerbit Dār at-Taqwā liturāṡ
  • Shahih At Targhib wat Targhib 3/311, no. 3355, Penerbit Maktabul Ma’arif
  • Taisir Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di
  • Al-Qurān al-Karīm

***
Muslimah.Or.Id
Penulis: Ummu Abdillah Dewi Gimarjanti
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

*******************************************************************

Berdzikir Sekali Mendapat pahala Berdzikir Sepanjang Malam dan Siang Hari

Inilah salah satu dari rahmat dan kasih sayang Allah kepada kita yang sekali lagi kita tidak akan sanggup menghitungnya. Karena rasa cintaNya kepada kita agar kelak di hari kiamat kita mendapati kitab kita terisi dengan amalan shaleh yang banyak salah satunya dengan amalan yang singkat dan mudah ini tapi pahalanya sungguh tidak bisa kita gambarkan. Karena itu merugilah orag-orang yang mendapati kitabnya sangat sedikit amal shalehnya melainkan mereka akan menyesali dan menyesali dengan penyesalan yang sia-sia. Marilah wahai sahabatku kita istiqamah mengamalkannya semoga Allah memudahkannya untuk kita,…

Dari abu umamah radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatku menggerakkan bibirku [ lidahku ] , maka beliau bertanya, “apa yg kamu ùcapkan wahai Abu Umamah?” aku menjawab “aku sedang berdzikir kepada Allah” Nabi berkata “maukah kutunjukkan pada (dzikir) yg lebih baik dari dzikirmu kepada Allah sepanjang malam dan siang hari? yaitu engkau mengucap: segala puji bagi Allah sebanyak ciptaan-Nya, segala puji bagi Àllah meliputi seluruh ciptaan-Nya, segala puji bàgi Allah sebanyak segala yang ada di langit dan di bumi, segala puji bagi Allah sebanyak segala yang terhitung dalam kitab-Nya, segala puji bagi Allah meliputi semua yang dapat dihitung dalam kitab-Nya, segala puji bagi Allah sebanyak segala sesuatu, dan segala puji bagi Allah meliputi segala sesuatu… kemudian hendaknya kau bertasbih kepada Allah dengan jumlah yang serupa dengan ini.” kemudian dia berkata, “engkau ajarkanlah pada orang-orang sesudahmu, maka engkau akan diberi pahala dari amal orang-orang itu” (Dikeluarkan oleh Imam Nasa’i 6/50 hadits no 9994, dan Ibnu Khuzaimah 1/371 hadits nomor 754 dan Imam Thabrani 8/238 hadits no. 7930 dan di Shahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam kitab Shahihul Jami’ no 2615)

Berkata Syaikh Shalih Al Mughamisiy mengenai hadits ini:

Hendaklah kita menggiatkan diri kita dengan memperbanyak dzikir diatas karena sekali saja kita mengucapkan dzikir ini dalam satu hari kita akan mendapatkan pahala yang tak terhingga yaitu seakan-akan kita adalah orang banyak yang berdzikir kepada Allah sepanjang malam dan siang harinya, apalagi jika dilakukan dibulan suci ramadhan !!!!

Dan nasehat dariku hendaklah anda menulisnya dalam sebuah kertas kecil dan anda sisipkan pada mushaf anda maka setiap anda membuka mushaf untuk membaca al-Quran maka Anda akan ingat untuk membaca dzikir ini. Dan boleh jadi dalam sehari Anda membaca Al-Quran lebih dari sekali maka setiap anda membuka mushaf maka otomatis anda akan teringat dengan dzikir ini dan andapun membaca dzikir ini lagi.

Hadits yang indah ini merupakan salah satu harta karun dari harta-harta karun yang terdapat dalam sunnah Nabi kita yang telah banyak di lupakan manusia pada hari ini. Dzikir yang sedikit ini akan menambah timbangan kebaikan-kebaikan anda yang tidak terhingga dan hanya Allah sajalah yang bisa menghitungnya.

Dan dari hadits ini juga dianjurkan bagi setiap muslim atau muslimah untuk mengajarkan dzikir ini pada anak-anaknya atau orang-orang disekitarnya sehingga kitapun akan mendapatkan pahala dari amalan orang-orang yang mengerjakan dzikir ini tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun juga.

Wallahu a’lam bish-shawwab.

Muraja’ah oleh : Ustadz Eko Hariyanto Lc.

****************************************************************

Menjaga Kesehatan Emosi Anda

Berikut adalah beberapa tips yang dapat digunakan untuk menjaga kesehatan emosi pada saat sedang tidak bekerja dalam waktu lama:

  • Jangan simpan sendiri masalah dan frustasi yang dialami, bagi dengan keluarga Anda. Keluarga adalah tempat terdekat tempat untuk berbagi masa terbaik dan terburuk dalam hidup Anda. Dukungan dan keteguhan mereka akan membantu Anda utnuk melewati masa – masa sulit yang sedang Anda hadapi.
  • Carilah bantuan jika keadaan sudah mulai tidak terkendali, hubungi sahabat dan teman baik Anda untuk mendukung masalah yang sedang Anda hadapi. Merupakan suatu hal yang sangat berat menghadapi masalah ini sendiri, dukungan dari sahabat Anda akan membuat Anda merasa sedikit lebih baik.
  • Bangun Network seluas mungkin, banyak pencari kerja yang hanya diam di rumah karena merasa depresi kesulitan mendapatkan pekerjaan. Kirimkan lowongan kepada perusahaan yang berprospek dan hadirilah interview sebanyak mungkin, ambillah pekerjaan paruh waktu jika perlu, walaupun bayarannya tidak besar akan tetapi memiliki pemasukan jauh lebih baik daripada berdiam diri.
  • Berpikirlah positif, mungkin hal ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Bacalah buku – buku motivasi untuk membangun pikiran positif di kepala Anda karena pada masa – masa ini pikiran Anda penuh dengan hal negative dan perasaan depresi.
  • Lakukan kegiatan fisik favorit Anda, selain membuat badan Anda lebih sehat olahraga juga dapat membantu Anda berpikir positif dan membuat otak serta tubuh Anda lebih rileks.
  • Habiskan waktu dengan orang tersayang, dengan waktu luang yang jauh lebih besar Anda dapat melakukan banyak kegiatan dengan keluarga ataupun orang yang Anda sayangi. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya sebelum Anda akan kembali bekerja.
  • Hadapi keadaan dengan berani, merupakan hal yang sulit menghadapi keadaan tidak bekerja dalam waktu yang lama. Akan muncul banyak pertanyaan mengenai hal ini dari keluarga dan teman, siapkan jawaban untuk pertanyaan yang akan muncul dan tunjukkan bahwa Anda tetap berpikir positif.

Mudah – mudahan beberapa tips diatas dapat membantu Anda untuk menghadapi permasalahan belum mendapatkan pekerjaan dalam waktu yang cukup lama.

“What doesn’t kill you, makes you stronger.”

——————————————————————————————————————-

Kejujuran adalah Solusi, Jalan Keluar dan Keselamatan

Kejujuran adalah solusi, jalan keluar, dan keselamatan…meskipun syaitan selalu berkata : “Jika kamu jujur maka kamu akan celaka dan direndahkan”. Lihatlah bagaimana Ka’ab bin Malik yang jujur akhirnya dihajr oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, akan tetapi kesudahannya adalah kemuliaan, bahkan kisah beliau diabadikan di Al-Qur’an yang dibaca hingga hari kiamat.

Kedustaan adalah jalan kebinasaan meskipun syaitan akan senantiasa berkata, “Berdustalah agar engkau selamat, agar engkau tetap dimuliakan oleh mereka”.

Kedustaan biasanya harus ditutupi dengan kedustaan-kedustaan yang lain, sehingga jadilah kedustaan yang bertumpuk-tumpuk

Jika berdusta agar dirinya dimuliakan dan dihormati adalah tercela dan merupakan sifat orang munafik, maka bagaimana lagi jika berdusta dalam rangka menjatuhkan harkat dan martabat saudaranya??, bagaimana lagi jika yang dijatuhkan dengan dustanya adalah banyak orang??. bagaimana lagi jika kedustaan tersebut dalam rangka menghalangi sekian banyak orang untuk mendapatkan hidayah…???

Berdusta adalah perkara yang ringan dan mudah, akan tetapi kesudahannya di akhirat adalah masuk dalam persidangan Allah, berhadapan dengan orang-orang yang telah ia dustakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: