Nasihat dari Bumi Perantauan Kepada Sanak Saudaraku di Kampung Halaman (1-3)

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, shalawat dan salam buat Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga shalawat dan salam juga terlimpahkan buat keluargadan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk Mereka sampai hari kiamat.

Bermacam cobaan dan bencana telah menimpa negeri tercinta ini namun kesadaran masih juga belum kunjung datang pada diri kita masing-masing. Kita masih saling menyalahkan, bahkan kita mengira bahwa semua bencana tersebut disebabkan oleh dosa orang lain. Adapun diri kita sendiri tidak pernah bersalah dan tidak pernah berdosa. Diawali dari kesemberawutan ekonomi dan politik, datang banjir yang menenggelamkan berbagai kota besar di nusantara, lalu musim kemarau panjang dan kebakaran hutan serta kabut yang menyelimuti berbagai daerah, disertai kekurangan pangan dan kelaparan di mana-mana, gempa dan tsunami yang telah memporak-porandakan Aceh dan beberapa negara lainnya disusul oleh gempa Nias yang memakan korban cukup banyak pula. Masihkah belum cukup untuk kita berpikir dan mengambil ‘ibroh dari segala kejadian tersebut? Kita mengeluh kemiskinan melanda negeri kita tapi parabola menjamur di atas gubuk-gubuk yang hampir reok! Kita mengeluh atas tersebarnya berbagai maksiat di tengah-tengah masyarakat, tapi berbagai media informasi dua puluh empat jam menampilkan acara yang berbau porno dan sex (yang diperhalus dengan istilah pornoaksi dan pornografi), yang kesemuanya disantap oleh anak-anak yang baru bisa merangkak sampai kakek-kakek yang sudah pikun. Berbagai berita maksiat tersebar; ada kakek yang memerkosa anak di bawah umur, ada guru SD yang melacur, banyak siswi SMK yang hamil, ada… ada… ada… dan seterusnya.

Kerusakan tidak hanya sampai di situ bahkan sampai kepada titik memperolok-olokkan agama, menghujat Allah, memutarbalikkan pengertian ayat-ayat al-Qur’an, membikin model ibadah-ibadah baru dan seterusnya. Yang seharusnya pelakunya mendapat hukuman justru sebaliknya mendapat sanjungan sebagai intelektual dan segudang sanjungan lainnya.

Sangat nyata apa yang dikatakan Allah dalam firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah muncul kerusakan di darat dan di laut dengan sebab ulah perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagaian (dari) akibat perbuatan mereka, agar Mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum: 41)

Itu hanya sekelumit persoalan yang sedang menimpa negara kita. Tapi pernahkah kita bertanya dan memikirkan kenapa semua ini terjadi? Bagaimana caranya kita selamat dari bencana ini? Yaitu bencana kehidupan dan keimanan.

Bila dua pertanyaan ini bisa terjawab dengan benar dan baik, maka penyelesaian dan kesembuhan akan bisa diharapkan. Karena dengan mengetahui sebab-sebab penyakit dari situ akan bisa merencanakan terapi yang jitu. Mengetahui sebab-sebab kehancuran supaya dihindari. Kemudian berusaha mencari jalan keluar dari kehancuran ini agar bisa membangun kembali puing-puing yang sudah roboh tanpa mengesampingkan pengalaman pahit yang berlalu untuk dijadikan sebagai pelajaran dan bahan pertimbangan dalam membangun kehidupan yang baru.

Oleh sebab itu Allah berulang kali menceritakan tentang kaum-kaum yang dihancurkan dalam kitab-Nya yang mulia, supaya umat manusia mengambil ‘ibroh dan pelajaran dari kisah mereka, mengapa mereka ditimpa azab dan bencana? Apakah karena mereka miskin? Atau karena tidak punya angkatan perang yang cukup? Atau karena sistem politik dan ekonomi Mereka yang lemah? Atau karena hal lain yaitu karena kufur kepada Allah, tidak mau bersyukur kepada Allah, serta menolak kebenaran yang diturunkan Allah??

Dalam tulisan singkat ini kita mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas sesuai dengan apa yang dituangkan dalam Al Quran dan Sunnah. Karena keselamatan dan kebahagiaan hanya bisa digapai dengan mengamalkan keduanya, selama penyelesaian tidak berpedoman kepada wahyu Ilahi selama itu pula penyelesaian yang menjadi impian tidak akan datang.

Tulisan ini sebagaiimbauan nasihat dari perantauan ilmu yaitu kota Nabi (kota Madinah) kepada sanak saudaraku di kampung halaman (Ranah Minang khususnya dan Tanah air pada umumnya -ed).

Imbauan Nasihat ini di latar belakangi oleh beberapa hal:

  1. Musibah yang tidak putus-putusnya menimpa negara kita tercinta, mulai dari sengketa politik, krisis ekonomi sampai pada musibah tsunami dan gempa Nias.
  2. Maraknya berbagai maksiat di tengah-tengah masyarakat khususnya di Ranah Minang, mulai maraknya pembunuhan yang lebih menyayat hati seorang anak tega menyembelih ibu kandungnya sendiri, maraknya perzinaan dan perjudian bukan hanya di kalangan masyarakat umum tapi justru sudah merambah ke lembaga pendidikan.
  3. Mendangkalnya rasa keagamaan, mulai dari gerakan permurtadan, maraknya perbuatan syirik, kebiasaan meninggalkan shalat dan melakukan praktek-praktek ibadah yang tidak ada dalam Islam.
  4. Dan banyak lagi hal-hal lain yang tidak bisa diungkapkan satu persatu dalam pesan ringkas ini.

Imbauan ini sudah lama terbetik dalam hati kami, tapi selalu ragu untuk menulisnya dengan pertimbangan dan alasan ini dan itu; seperti masalah keikhlasan dalam menyampaikan nasihat, masalah masih banyaknya orang yang jauh lebih berilmu di Ranah Minang ini yang lebih berhak untuk berbicara, keberadaan penulis yang jauh dari kampung yang bila bicara akan dianggap tidak mengetahui persoalan kampung. Dan banyak lagi yang selalu menjanggal untuk dimulainya penulisan nasihat ini.

Tapi pada tanggal 7 April 2005 perasaan sedih bercampur haru semakin mengganggu sehingga membuat tidurpun tidak enak apalagi setelah membuka padang ekspres lewat internet, sebuah berita mengejutkan sekaligus mengherankan tentang pelaksanaan shalat Dhuha berjamaah di lapangan Taman Budaya Padang dengan bacaan dikeraskan, disertai iqamah segala. Dengan seketika kami terkesima; “Wah ini memang sudah kebablasan dan tidak tau lagi siapa yang harus diikut dalam beragama, ke mana ulama Ranah Minang yang dulu katanya sebagai gudang ulama?”

Karena takut akan diancam azab Allah, kami mencoba mengikhlaskan niat dan memberanikan diri untuk menulis nasihat ini, sekalipun tidak ada yang mau menerima tapi kewajiban sebagai seorang muslim kami harus menunaikan amanah yang berat ini. Serta mensyukuri rahmat Allah kepada kami yang telah memberi nikmat untuk menimba ilmu dari ulama di kota Nabi tepatnya di Universitas Islam Madinah yang sekarang dalam menyelesaikan S3 di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin -Jurusan Aqidah.

Semoga Allah menjadikannya sebagai nasihat yang ikhlas, dan menjadikannya bermanfaat bagi penulis dan pembacanya. Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

Kewajiban untuk Saling Menasihati

Banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang mewajibkan kita untuk saling menasihati sesama muslim, saat kewajiban ini telah diabaikan maka saat itulah bencana dan kehancuran akan datang, karena sudah tidak ditegakkannya kewajiban ini kebinasaan telah melanda dalam segala aspek kehidupan kita. Saya masih ingat waktu saya kecil bagaimana adanya saling nasihat antara sesama muslim, bila saya ditemui seseorang di tengah jalan atau masih main-main pada jam enam sore, ia dengan spontan menegur: “Oii wa ang ndak ka surau”, saya tidak kenal siapa dia, tapi begitulah kehidupan pada masa itu, semua orang merasakan bahwa anak saudaranya adalah anaknya sendiri yang harus dibimbing dan dinasihati. Begitu pula bila melihat seorang berjalan bergandengan dengan lawan jenis akan disapa dan di tegur bahkan merupakan aib yang amat besar bila dilihat orang kampung berjalan dengan lawan jenis (bukan suami istri). Bahkan orang tua atau mamaknya akan memberikan ganjaran tertentu, seperti ancaman; bila diulangi kalau dia perempuan akan di gundul kepalanya. Begitulah penerapan nasihat dulu di Ranah Minang, tetapi sekarang bila anaknya tidak bisa membawa pacar pulang ke rumah, orang tuanya akan merasa gengsi dengan tetangga. Bila anaknya ditegur dari tindakan yang merusak moral dengan spontan ia akan membanggakan diri dan merasa dihina. Sehingga bila kita menasihati berarti kita telah menghina dan melanggar hak kebebasannya. Sedangkan agama hanya memberi kebebasan dalam melakukan perbuatan yang baik, adapun dalam berbuat kerusakan Islam tidak memberikan kebebasan kepada siapapun, itulah arti kebebasan dalam Islam, bukan sebagaimana yang diinginkan oleh orang-orang kafir yaitu kebebasan hutan belantara.

Berikut kita sebutkan beberapa ayat dan hadits yang mewajibkan untuk saling menasihati dalam menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran;

Firman Allah:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)

Keberuntungan yang disebutkan pada akhir ayat di atas adalah bersifat umum mencakup keberuntungan di dunia dan keberuntungan di akhirat.

Sebagaimana perintah Lukman kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (Mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)

Dalam ayat di atas ada satu hal yang amat penting untuk di ketahui yaitu rahasia mengapa perintah untuk bersikap sabar setelah perintah untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar? Karena perintah menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar itu tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh orang yang memiliki kesabaran, baik dalam menyampaikan kebenaran itu sendiri maupun dalam menerima cobaan dan tantangan dari pelaku kemungkaran. maka oleh sebab itu tidak ada seorang rasulpun yang diutus kecuali mendapat perlawanan dari kaumnya, baik berbentuk perlawanan fisik maupun mental.

Kemudian menyampaikan nasihat sesama muslim adalah ciri-ciri manusia yang beruntung dalam kehidupannya. Sebagaimana yang terdapat dalam surat Al ‘Ashr:

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasihat- menasihati dengan kebenaran dan saling nasihat-menasihati dengan kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)

Dalam ayat yang mulia di atas ditegaskan bahwa manusia itu merugi dalam sepanjang masa kecuali orang yang mengisi masanya dengan empat hal; yaitu beriman, beramal saleh, memberi nasihat dengan kebenaran dan memberi nasihat dengan kesabaran.

Begitu pula disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Agama itu adalah nasihat, (Beliau mengulanginya ucapan tersebut sampai tiga kali), Para sahabat bertanya: untuk siapa (ya Rasulullah)? Beliau menjawab: Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin serta kaum muslimin secara umum.” (HR. Imam Muslim no. 55)

Kandungan hadits ini menerangkan tentang wajibnya menyampaikan nasihat dalam agama untuk pemimpin dan masyarakat umum, yaitu dalam hal wajibnya membina kehidupan bermasyarakat untuk taat kepada Allah serta menjunjung tinggi perintah dan hukum-hukum yang diterangkan dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nasihat untuk Allah yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah nasihat untuk menaati perintah Allah dalam segala aspek kehidupan bernegara, baik politik, ekonomi maupun pendidikan, maka pendidikan hendaknya harus mengacu dan memacu untuk mendidik para peserta didik untuk tunduk dan taat kepada Allah, bukan sebaliknya.

Nasihat untuk kitab Allah adalah nasihat untuk menjadikan kitab tersebut sebagai landasan dan pola dalam segala aspek kehidupan bernegara dan bermasyarakat, baik yang berhubungan dengan hukum ataupun peraturan dan undang-undang.

Nasihat untuk Rasul-Nya adalah menjadikan ajarannya sebagai acuan dalam menunaikan hak dan kewajiban bermasyarakat dan bernegara, baik yang berbentuk hubungan Vertikal antara rakyat dengan penguasa, maupun hubungan Horizontal antar sesama rakyat termasuk hubungan antar umat beragama dalam satu negara, serta menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut sebagai Uswah dalam kepemimpinan.

Adapun nasihat untuk pemimpin adalah supaya Mereka berbuat adil dan menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber hukum, melakukan tugas yang diamanahkan Allah kepada Mereka dengan penuh tanggung jawab dan pengorbanan demi kesejahteraan rakyat banyak, bukan sebaliknya untuk kesejahteraan pribadi. Bila Mereka melakukan tugas tersebut sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah Mereka akan dibalasi dengan balasan yang sangat istimewa pada hari kiamat. Seperti yang disebutkan Rasulullah dalam sabda beliau: Bahwasanya Mereka termasuk salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, di hari yang tiada naungan kecuali naungan Allah. (HR. Imam Bukhari no. 628 dan Imam Muslim no. 1031)

Dan Mereka akan ditinggikan di atas podium yang terbuat dari cahaya yang terletak di sebelah kanan Allah. (HR. Imam Muslim no. 1827)

Adapun nasihat untuk kaum muslimin secara umum adalah hendaklah Mereka selalu berbuat ketaatan kepada Allah dan meninggalkan perbuatan maksiat. Terutama sekali meninggalkan perbuatan syirik, seperti meminta kepada kuburan, bebatuan, pepohonan dan sebagainya. Serta menciptakan hubungan yang harmonis dengan penguasa. Menaati Mereka dalam segala hal yang ma’ruf untuk mencapai kehidupan yang diridhai oleh Allah ta’ala.

-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Dr. Ali Musri Semjan Putra
Artikel www.muslim.or.id

Dari artikel Nasihat dari Bumi Perantauan Kepada Sanak Saudaraku di Kampung Halaman (1) — Muslim.Or.Id

———————————————————————————————————————————

Nasihat dari Bumi Perantauan Kepada Sanak Saudaraku di Kampung Halaman (2)

Menyuruh Kepada yang Mungkar Mencegah dari yang Ma’ruf Adalah Sikap Orang-Orang Munafik

Sikap menentang dan menolak kebenaran atau kebiasaan menyuruh kepada yang mungkar dan mencegah dari berbuat ma’ruf adalah tingkah laku orang-orang munafik. Sebagaimana yang Allah terangkan dalam firman-Nya:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan sebagian mereka dari bagian yang lainnya, Mereka menyuruh kepada yang mungkar dan mencegah dari yang ma’ruf.” (QS. At Taubah: 67)

Hendaklah orang yang suka mempermainkan ayat-ayat tentang wajibnya berhijab merenungkan ayat di atas apakah anda termasuk yang menyuruh kepada yang makruf atau menyuruh kepada yang mungkar?

Sebagian manusia ada yang pintar dalam bersilat lidah ketika mereka diajak untuk mengikuti kebenaran dan berhenti dari melakukan kerusakan. Sehingga akibat dari tindakannya tersebut telah terjadi kerusakan dalam segala jaring kehidupan. Bahkan kerusakan yang ditimbulkannya tidak hanya terbatas pada manusia semata tapi menimpa tumbuh-tumbuhan dan hewan yang melata. Sebagaimana yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ{204} وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيِهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الفَسَادَ . وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالإِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, pada hal ia adalah penentang yang keras. Dan apabila dia berpaling (dari kamu) ia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan di atasnya, ia merusak tanam-tanaman dan binatang ternak. Dan Allah tidak menyukai kerusakan. Dan bila dikatakan (kepadanya): Takutlah kamu kepada Allah”, bangkit kesombongannya yang menyebabkannya (semakin) berbuat dosa, maka cukuplah neraka jahanam baginya, dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Al Baqarah: 204-206)

Orang yang suka menyebarkan pemikiran keji serta menginginkan tersebarnya kekejian tersebut di kalangan orang-orang yang beriman Allah telah menyediakan balasan yang setimpal untuk Mereka di dunia maupun di akhirat kelak.

Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang suka untuk tersiarnya kekejian di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nuur: 19)

Masihkah belum cukup ancaman di atas bagi orang yang suka membikin cerita-cerita porno, memperjualbelikan CD porno, menayangkan film-film porno?

Betapa banyak orang yang telah menikmati kemaksiatan yang anda sebar, sebanyak itu pula dosa yang harus anda pikul.

Allah berfirman:

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالاً مَّعَ أَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُون

“Dan Sesungguh Mereka akan memikul dosa-dosa Mereka dan dosa-dosa orang (yang Mereka sesatkan dan Mereka akan ditanya terhadap apa yang Mereka dustakan.” (QS. Al Ankabuut: 13)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan dalam sabdanya: “Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan dia akan mendapat dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dari dosa-dosa Mereka sedikitpun.” (HR. Imam Muslim no: 2674)

Bencana Adalah Buah Dosa Perbuatan Manusia

Allah telah berulang kali memberikan teguran kepada bangsa kita, tapi sedikit di antara kita yang mampu menimba kesadaran dari itu semua. Yang masih segar dalam pandangan dan ingatan kita gempa dan tsunami yang memorak-porandakan beberapa negara, tentu yang sangat terkesan sekali di hati kita apa yang berada di samping kita yaitu Aceh dan gempa Nias, tapi apakah hal itu membuat kita semakin tunduk kepada kebesaran Allah? Atau sebaliknya?!

Bumi yang kita pijak, udara yang kita hirup, air yang kita minum setiap detik kita pergunakan dalam rangka melakukan maksiat kepada Allah. Lupakah kita dengan firman Allah:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memberitahukan: Jika kamu bersyukur, sungguh Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan tetapi jika kamu mengkufuri (nikmat tersebut) sesungguhnya azabKu amat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Dan firman-Nya lagi:

مَّا يَفْعَلُ اللّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ

“Allah tidak akan mengazabmu jika kamu bersyukur dan beriman.” (QS. An Nisaa’: 147)

Segala fasilitas yang diberikan Allah, kita manfaatkan untuk durhaka pada-Nya mulai dari mata, telinga dan lidah kita pergunakan untuk hal yang haram, untuk film-film, nyanyi-nyanyian dan berkata bohong. Makan dan minum serta pakaian kita bersumber dari usaha yang haram, mungkin dari hasil rampokan, pembunuhan, korupsi, kolusi, sogok, atau hasil tipuan, lacuran, judi, penjualan CD porno dan seterusnya. Itulah diri kita, apakah kita tidak pantas untuk diazab? Di mana Allah akan mengabulkan do’a kita sementara keadaan kita selalu bergelimang dengan segala hal yang haram? Perhatikanlah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan seorang yang menemui kelelahan dalam perjalanan yang panjang, dalam kondisi seluruh tubuhnya di penuhi debu, lalu dia mengangkat kedua telapak tangannya ke langit sambil berdoa: Ya Tuhanku, Ya Tuhanku. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Bagaimana Allah akan mengabulkan doanya, sedangkan makanannya dari yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dia dibesarkan dari yang haram?” (HR. Imam Muslim no. 1015)

Dari hadits di atas jelas sekali bagaimana akibat dari menikmati sesuatu yang haram, sekalipun dia dalam kondisi yang sangat membantu supaya dikabulkan doanya. Karena dalam sebuah hadits lain disebutkan bahwa do’a musafir itu terkabul sekali, tapi ada hal yang menghalanginya yaitu memakan harta yang haram. Kisah di atas bisa untuk memperbandingkan dan menilai kondisi kita.

Tapi Allah masih memberikan waktu kepada kita untuk bertaubat, untuk kembali kepadanya, apakah kita akan menunda-nunda taubat itu, sampai azab Allah yang lebih besar lagi datang kepada kita? Mari kita simak firman Allah berikut:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِم مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَكِن يُؤَخِّرُهُمْ إلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ

“Jikalau Allah menyiksa manusia (sesuai) dengan kezaliman Mereka, niscaya tidak akan tertinggal di atas permukaan bumi ini satupun dari binatang yang melata, tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) Mereka sampai pada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba (waktu yang ditentukan), Mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.” (QS. An Nahl: 61)

Dalam ayat yang lain berbunyi:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِن دَابَّةٍ وَلَكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيراً

“Dan jikalau Allah menyiksa manusia dengan segala apa yang Mereka usahakan, niscaya tidak akan tertinggal di atas permukaan bumi ini satupun dari binatang yang melata, tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) Mereka sampai pada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba (waktu yang ditentukan), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (QS. Faathir: 45)

Simak lagi kalam Ilahi:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ . أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَآئِمُونَ . أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ . أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Dan jika sekiranya penduduk berbagai negeri mau beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada Mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi Mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) maka Kami menyiksa Mereka dengan apa yang Mereka usahakan. Maka apakah penduduk berbagai negeri merasa aman dari kedatangan siksaan Kami di malam hari di waktu Mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk berbagai negeri merasa aman dari kedatangan siksaan Kami pada waktu dhuha ketika Mereka sedang bermain-main? Atau apakah penduduk berbagai negeri merasa aman dari ancaman azab Allah (yang tanpa diduga-duga)? Tidaklah yang merasa aman dari ancaman azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raaf: 96-99)

Itulah janji dan ancaman Allah bagi umat manusia yang tidak mau beriman dan bertakwa, Allah nyatakan pula dalam ayat di atas bahwa kesejahteraan dan kemakmuran hanya dengan beriman dan bertakwa kepada-Nya. Allah tidak akan mengazab penduduk suatu negeri kecuali Mereka itu telah melampaui batas dalam kezaliman Mereka, baik terhadap diri Mereka sendiri maupun terhadap orang lain. Allah katakan dalam ayat yang lain:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan berbagai negeri secara zalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Huud: 117)

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولاً يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ

“Dan Kami tidak pernah menghancurkan berbagai negeri kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS. Al Qashash: 59)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan dalam sabdanya: “Tidaklah seorang hamba ditimpa sebuah bencana baik besar maupun kecil kecuali dengan sebab dosa, dan apa yang dimaafkan Allah jauh lebih banyak.” (HR. At Tirmizi no: 3252) kemudian beliau membaca firman Allah:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apa saja yang menimpa kamu, maka adalah dengan sebab usaha tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu.” (Q.S. Asy Syura: 30)

Yang lebih konyol adalah bila seseorang berpikir bahwa dia mampu lari dari azab Allah, seperti yang beberapa kali terjadi di Kota Padang ketika adanya isu tsunami atau datang gempa Mereka berhamburan keluar rumah dan berusaha untuk mencari tempat yang tinggi seperti lari ke arah Indarung atau ke arah Limau Manis. Sekalipun menyelamatkan diri tidak dilarang dalam Islam. Tapi kalau Allah sudah menentukan sesuatu, kemanapun kita akan lari sebagai makhluk yang lemah lagi hina, cukup dengan tersandung kerikil saja kita bisa mati di tempat. Bukankah seluruh apa yang ada di muka bumi di bawah kekuasaan Allah semata. Kalau Allah berkehendak segala sesuatu bisa membinasakan manusia, seperti angin taufan, air bah, banjir, gempa, ledakan gunung api dan segala macamnya. Sebagaimana kaum Fir’aun diazab dengan taufan, belalang, kutu dan katak. Yang amat perlu untuk dipersiapkan bukanlah kendaraan untuk lari tapi keimanan dan amal saleh serta bertaubat kepada Allah. Jangan kita berprasangka bila umur kita panjang, harta kita banyak, berarti Allah menyayangi kita, sementara kita bergelimang dosa setiap saat. Allah sebutkan dalam firman-Nya:

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُواْ بِمَا أُوتُواْ أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

“Maka tatkala Mereka melupakan peringatan yang diberikan kepada Mereka, Kami bukakan untuk Mereka semua pintu kesenangan, sehingga saat Mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada Mereka, Kami siksa Mereka dengan secara tiba-tiba, maka ketika itu Mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’aam: 44)

Betapa banyaknya orang kafir yang berumur panjang dan memiliki harta yang berlimpah ruah tapi itu adalah tipuan untuk Mereka. Sebenarnya Allah sangat benci kepada Mereka oleh sebab itu Allah memanjangkan umur Mereka dalam kekafiran, sehingga semakin panjang pula azab yang harus Mereka terima. Dan semakin banyak pula nikmat yang harus Mereka pertanggung jawabkan, maka berlipat gandalah azab yang harus Mereka terima. Allah sebutkan dalam firman-Nya:

وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُواْ إِثْماً وَلَهْمُ عَذَابٌ مُّهِينٌ

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir itu menyangka bahwa Kami menangguhkan (azab) atas Mereka adalah kebaikan untuk mereka, sesungguhnya kami menangguhkan (azab) atas mereka hanyalah supaya dosa Mereka semakin bertambah; dan bagi Mereka azab yang menghinakan.” (QS. Ali ‘Imran: 178)

Bila Allah menurunkan sebuah azab atas sekelompok umat, Allah tidak akan pilih yang berbuat dosa saja tapi azab tersebut akan menimpa seluruhnya sekalipun orang-orang saleh. Sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila maksiat telah tersebar di tengah-tengah umatku, Allah akan menurunkan azab dari sisi-Nya.” lalu Ummu Salamah bertanya: Ya Rasulullah bukankah di tengah-tengah mereka terdapat orang-orang yang saleh? Jawab Rasulullah: “Ya”. Lalu Ummu Salamah bertanya lagi: “Bagaimana dengan mereka?” Rasulullah menjawab, “Mereka juga ditimpa apa yang menimpa manusia, di akhirat baru mereka mendapat keampunan dan keridhaan dari Allah.” (lihat Majma’ Zawaid: 7/268)

Manusia saat ditimpa suatu musibah atau cobaan terbagi kepada tiga bentuk dalam menghadapi dan menyikapi musibah atau cobaan tersebut:

Bentuk pertama: ada orang dengan datangnya sebuah musibah atau bencana membuatnya kembali kepada Allah, ia sabar dalam menerimanya dan ia bangun dari kealpaannya selama ini, maka hal itu baik baginya sehingga membuatnya bertaubat dan menyesali segala perbuatan dosa-dosanya yang berlalu. Inilah orang yang beruntung saat ditimpa musibah. Orang ini digambarkan Allah dalam firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ . الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ . أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan Sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan sedikit dari rasa takut, kelaparan, kekurangan harta dan (kehilangan) jiwa serta (kurangnya) buah-buahan, dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (dalam menerimanya). Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, Mereka mengucapkan: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Mereka itulah yang mendapat keberkahan dan rahmat dari Tuhan Mereka, dan mereka itulah orang-orang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155-157)

Bentuk kedua: ada orang dengan datangnya bencana atau musibah, seketika itu dia tertunduk dan bertaubat kepada Allah, dia berdoa kepada Allah pada setiap saat. Tapi setelah musibah dan bencana itu berlalu ia kembali kepada kedurhakaan kepada Allah, ia kembali melakukan segala bentuk kemaksiatan dan kemungkaran yang biasa dilakukannya sebelum datangnya bencana tersebut. Orang seperti ini digambarkan Allah dalam firman-Nya:

وَإِذَا مَسَّ الإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِداً أَوْ قَآئِماً فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَّسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu dari padanya, dia (kembali) melalui (jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas memandang baik apa yang Mereka lakukan.” (QS. Yunus: 12)

Bentuk ketiga: ada orang yang ketika ditimpa bencana atau musibah justru semakin bertambah durhaka dan bertambah kufur kepada Allah, dia semakin berjadi-jadi melakukan maksiat dan kemungkaran tersebut. Bahkan dia memanfaatkan situasi tersebut untuk melakukan segala bentuk perbuatan keji dan hina. Apakah itu mencuri, merampok, berzina dan segala macam bentuk maksiat serta manipulasi bantuan yang disalurkan untuk membantu orang-orang yang sedang menderita akibat bencana tersebut. Orang seperti ini digambarkan Allah dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُم بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menimpakan azab kepada Mereka, maka Mereka tetap tidak mau tunduk kepada Tuhan mereka dan juga mereka tidak mau merendahkan diri.” (QS. Al Mu’minuun: 76). Dalam Ayat lain Allah ungkapkan:

أَوَلاَ يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لاَ يَتُوبُونَ وَلاَ هُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Apakah Mereka tidak memperhatikan, bahwa Mereka itu diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian Mereka tidak (juga) mau bertaubat dan tidak (pula) mereka mengambil pelajaran?.” (QS. At Taubah: 126)

Maka melalui apa yang kita paparkan di atas bahwa jalan keluar dari bencana dan musibah ini adalah dengan bertaubat kepada Allah dari mengerjakan segala bentuk dosa dan memohon ampunan dari Allah dari dosa-dosa tersebut. kemudian diiringi dengan mengerjakan segala perbuatan yang ma’ruf dan beramal saleh.

Allah sebutkan dalam firman-Nya:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan membuka baginya pintu keluar (dari berbagai persoalan). Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada dikira-kira.” (QS. Ath Thalaaq: 2-3)

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan Mereka orang berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum Mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang di ridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan Mereka, dari perasaan (diselimuti) ketakutan menjadi aman sentosa. (selama) Mereka tetap menyembah-Ku tanpa melakukan kesyirikan kepada-Ku sedikitpun. Dan barang siapa yang masih (tetap) kafir setelah perjanjian itu, maka Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur: 55)

Ketika kaum muslimin ditimpa musim paceklik di masa khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia membaca dalam doa yang dipanjatkannya kepada Allah:”Ya Allah sesungguhnya suatu musibah tidak akan turun kecuali dengan sebab dosa, dan tidak akan diangkat kecuali dengan bertaubat.”

Marilah setiap kita melihat pada diri masing-masing di mana letak diri kita dalam melaksanakan perintah dan larangan agama, bila hasilnya selalu terbalik, setiap perintah kita lalaikan dan setiap larangan kita lakukan maka hendaklah kita berputar haluan dari hal yang berlawanan tersebut kepada jalan yang lurus.

Bertaubat Butuh Kepada Beberapa Aspek Penghayatan

Pertama: Meninggalkan perbuatan dosa tersebut dengan spontan.

Kedua: Menyesali perbuatan tersebut dengan sepenuh hati.

Ketiga: Berjanji dengan sepenuh hati untuk tidak akan kembali mengulangi perbuatan tersebut.

Keempat: Mengembalikan hak orang lain kepada si pemiliknya.

-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Dr. Ali Musri Semjan Putra
Artikel www.muslim.or.id

Dari artikel Nasihat dari Bumi Perantauan Kepada Sanak Saudaraku di Kampung Halaman (2) — Muslim.Or.Id

——————————————————————————————————-

Nasihat dari Bumi Perantauan Kepada Sanak Saudaraku di Kampung Halaman (3)

Ketentuan yang Perlu Diketahui Tentang Ibadah

Seseorang yang berada dalam kesulitan ia akan menempuh segala jalan yang mungkin menjanjikan keselamatan, bagaikan seorang yang dibawa air bah, ia akan berpegang kepada apa saja sekalipun akan berpegang kepada ekor ular. Itu perumpamaan yang diberikan oleh nenek moyang kita di masa dulu. Sehingga sampai pada titik melakukan sesuatu ibadah yang tidak ada aturannya dalam syariat, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian sanak saudara kita pada tgl 7 April 2005 dengan melakukan shalat Dhuha secara berjamaah di lapangan Taman Budaya Padang dengan bacaan di jahrkan (dikeraskan -red), perbuatan ini timbul mungkin karena kurangnya ilmu. Sebaiknya kalau tidak tahu kenapa tidak mau bertanya kepada orang yang lebih tahu?

Allah perintahkan:

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nahl: 43)

Bahkan Allah melarang kita untuk melakukan sesuatu urusan yang kita tidak memiliki ilmu tentang hal itu:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati kesemuanya itu akan ditanya.” (QS. Al Israa’: 36)

Mempercayakan suatu urusan kepada seorang yang bukan ahlinya maka kehancuranlah yang akan tiba. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang bukan ahlinya maka kehancuranlah yang akan datang.” (HR. Imam Muslim no. 59)

Dalam urusan dunia saja kita tidak bisa mempercayakan sebuah urusan kepada yang bukan pakarnya, Apabila kita sakit gigi umpamanya kita akan berobat kepada dokter spesialis gigi, bukan kepada dokter umum, begitu pula bila butuh kepada seorang tenaga ahli tentang kelistrikan umpamanya, maka orang yang akan kita cari adalah orang yang berpendidikan dalam bidang tersebut, serta mendapat pengakuan dari orang-orang yang berkompeten dalam bidang tersebut. Tapi suatu hal sangat aneh dan mengherankan kenapa seseorang dalam urusan agama begitu percaya kepada siapa saja yang penting pintar bercerita dan berceloteh memakai jubah dan sorban, sudah dianggap kiai atau wali. Dan yang lebih menyedihkan sekali kalau ada pula orang yang lebih bangga mendalami Islam ke negara kafir, lalu pulang mempretel hukum-hukum Islam yang sudah baku dengan seketika langsung disanjung dan mendapat predikat intelek. Sedangkan untuk merubah sebuah UUD saja butuh kepada berbagai pertimbangan dan penelitian serta memakan waktu yang cukup lama. Tapi satu hal yang sangat menakjubkan dan mengherankan kenapa dalam merubah hukum-hukum Allah setiap orang berani melakukannya tanpa ada rasa ragu dan malu. Apakah Mereka lebih menghormati UUD bikinan manusia dari hukum-hukum yang diturunkan Allah?

Atau karena ada niat dari belakang itu untuk mencapai sebuah ketenaran, pangkat dan jabatan. Sungguh merugi sekali orang yang menjual agamanya dengan secuil kesenangan duniawi.

Perhatikanlah firman Allah berikut ini,

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ . أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dalamnya tidak dirugikan sedikitpun. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat segala apa yang mereka usahakan di dunia serta sia-sialah segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)

Dalam ayat lain disebutkan:

أُولَـئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُاْ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالآَخِرَةِ فَلاَ يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلاَ هُمْ يُنصَرُونَ

“Mereka itu orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat, maka tidak akan diringankan siksaan mereka dan mereka juga tidak akan ditolong.” (QS. Al Baqarah: 86)

Atau mungkin karena merasa sudah sampai kepada tingkat wali, sehingga sudah berhak untuk membikin cara-cara tersendiri dalam agama?! kalau merasa sebagai wali tentu tidak ada yang bisa melebihi kewalian para Khalifah Rasyidin tapi tidak seorangpun di antara Mereka yang melakukan hal seperti itu.

Maka tidak ragu lagi bahwa perbuatan tersebut adalah kesesatan yang dibikin-bikin dalam agama. Kekeliruan yang terdapat dalam perlaksanaan shalat tersebut sangat banyak diantaranya;

  1. Tidak adanya tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Dhuha dalam bentuk berjamaah. Para ulama menerangkan bahwa asal dari shalat-shalat sunat itu dikerjakan sendiri-sendiri, terkecuali shalat ‘Ied, shalat Istisqa (minta hujan), shalat gerhana dan shalat tarawih, adapun shalat Dhuha tidak ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula dari para sahabat melakukannya secara berjamaah.
  2. Tidak adanya tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Dhuha di lapangan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bahwa seafdhal-afdhal shalat manusia adalah di rumah kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari no. 698. dan Muslim no. 781). Terkecuali shalat ‘Ied dan Istisqa.
  3. Tidak adanya tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjahrkan (mengeraskan) bacaan dalam shalat Dhuha. Yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mengsirkan bacaan (tidak dikeraskan). Adapun ayat yang dibaca adalah surat Al Kafiruun pada rakaat pertama dan surat Al Ikhlas pada rakaat yang kedua.
  4. Tidak adanya anjuran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya melakukan shalat Duha sa’at ditimpa bencana atau musibah gempa atau yang serupa.
  5. Tidak ada seorangpun ulama dari sepanjang masa dari seluruh mazhab yang berpendapat seperti itu.

Oleh sebab itu para ulama menegaskan; “Bahwa asal melakukan suatu ibadah adalah haram kecuali ada dalil yang memerintahkan, dan asal dalam suatu muamalah adalah boleh kecuali ada dalil yang mengharamkan”. Dalam ungkapan lain Mereka tegaskan: “bahwa dalam urusan ibadah tidak ada perkara ijtihad, berbeda dengan urusan muamalah maka dalamnya ada perkara ijtihad selama tidak ditemukannya dalil yang telah memutuskan hukumnya.” Atau di sebut juga dalam ungkapan lain bahwa urusan ibadah adalah Tauqifiyah (tergantung kepada adanya dalil dari al-Qur’an atau Sunnah memerintahkannya)

Pernyataan ulama di atas didukung oleh banyak dalil dari al-Qur’an dan Sunnah, berikut kita sebutkan sebagian kecil saja di antara dalil-dalil tersebut.

1. Firman Allah yang berbunyi:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan untukmu nikmat-Ku, dan Aku ridha Islam sebagai agamamu.” (QS. Al Maidah: 3)

Dalam ayat di atas Allah tegaskan bahwa agama ini telah sempurna, maka tidak butuh lagi untuk di tambah-tambah oleh siapapun. Sesuatu yang telah sempurna bila ditambah akan menjadi rusak. Contoh; sebuah adonan kue yang sudah pas ukuran bahan-bahannya, lalu ada orang yang iseng menambah salah satu bahan kue tersebut, maka rasa kue akan rusak. Oleh sebab itu para ulama men-cap orang yang melakukan bid’ah sebagi orang perusak.

2. Firman Allah yang berbunyi:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً . الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً

“Katakanlah: Maukah kamu, kami beri tahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatanya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedang Mereka mengira; bahwa Mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 103-104)

Para ulama tafsir mengomentari ayat ini bahwa isinya menggambarkan perbuatan orang-orang yang melakukan bid’ah dalam agama. yang mana Mereka mengira apa yang Mereka lakukan itu amat baik sekali, tetapi yang sebenarnya adalah kerugian, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kerugian di dunia buang-buang tenaga dan waktu, adapun kerugian di akhirat mendapat azab dari Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Mereka telah berbohong atas nama Allah serta telah menyesatkan orang banyak.

3. Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi: “Barang siapa yang menambah-nambah dalam urusan(agama) kami ini apa yang tidak termasuk ke dalamnya, maka amalannya ditolak.” Dalam lafatz yang lain berbunyi: “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak termasuk dalam urusan (agama) kami, maka amalannya ditolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi: “Hati-hatilah kalian terhadap berbagai hal yang baru dalam agama, sesungguhnya setiap yang baru dalam agama itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (lihat: Khutbatulhaajah Al Albany)

5. Perkataan Imam Malik: “Barang siapa yang melakukan bid’ah berarti dia telah menuduh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhianat dalam menyampaikan risalah.”

Oleh sebab itu para ulama selalu menegaskan dalam kitab-kitab Mereka bahwa sebuah amalan tidak akan diterima kecuali telah terpenuhinya dua syarat;

Pertama: Ikhlas kepada Allah ta’ala.

Kedua: Mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bila salah satu dari kedua syarat tersebut tidak terpenuhi maka ibadah seseorang tersebut tidak akan diterima Allah. (lihat: Tafsir Ibnu Katsir: 1/155)

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Fudhail bin ‘Iyadh dalam menafsirkan firman Allah:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

Yang menciptakan kematian dan kehidupan, Supaya Dia menguji kamu siapa diantara kamu yang terbaik amalannya.” (QS. Al Mulk: 2)

Kata Imam Fudhail: “Amalan yang terbaik itu adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Lalu ia ditanya: apa bentuknya yang paling ikhlas dan paling benar? Imam Fudhail menjawab: sesungguhnya sebuah amalan bila ikhlas tetapi tidak benar tidak akan diterima, begitu pula bila sebuah amalan benar tetapi tidak ikhlas juga tidak diterima, sampai menjadi ikhlas dan benar. Yang ikhlas adalah bila semata ditujukan bagi Allah, dan yang benar adalah bila dilakukan menurut Sunnah.” (lihat: Daqaiq Tafsir 2/170)

Mungkin seseorang akan berkata: inikan bid’ah hasanah, jawabnya adalah: tidak ada bid’ah hasanah dalam agama, sebagaimana yang terdapat dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah kita sebutkan di atas bahwa seluruh bi’ah adalah sesat. Kalau ada bid’ah yang hasanah dalam agama tidak ada lagi bid’ah dalam agama, karena setiap pelaku bid’ah menganggap bid’ah yang dilakukannya adalah hasanah.

Atau seseorang akan berdalil pula dengan perbuatan khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika ia mengumpulkan kaum muslimin shalat tarawih secara berjamaah. jawabannya: shalat tarawih berjamaah bukan pertama kali dilakukan pada waktu kekhalifahan Umar radhiyallahu ‘anhu, tetapi sudah ada pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah beliau melakukannya beberapa malam lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya karena takut akan turun wahyu yang mewajibkannya. Seandainya kita anggap hal itu baru pertama kali dilakukan pada masa Umar radhiyallahu ‘anhu. Tetapi kita disuruh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikut Sunnahnya para khalifah Rasyidin dengan sabda beliau: “Sesungguhnya barang siapa yang hidup di antara kalian akan melihat perpecah-belahan yang banyak, maka ikutilah oleh kalian Sunnahku dan Sunnah para Khalifah Rasyidin“. Begitu pula halnya dengan azan kedua pada hari Jum’at yang diadakan pada masa Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan.

Apakah orang-orang selain Mereka mendapat mandat dari Rasulullah untuk diikuti bila Mereka melakukan bid’ah dalam agama? Jawabnya: pasti tidak.

Sebagai penutup dengarlah nasihat Imam Fudhail bin ‘Iyadh: “Tetaplah kamu di atas jalan kebenaran, janganlah kamu merasa asing karena sedikit orang yang melaluinya. Jauhilah olehmu jalan kebatilan, Jangan kamu tertipu karena banyaknya orang yang binasa.”

Kami cukupkan sampai di sini mudah-mudahan ada manfaatnya bagi penulis sendiri begitu juga bagi para pembacanya, bila anda merasakan tulisan ini bermanfaat bagikanlah kepada siapa yang ingin memilikinya.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurang dari pahala Mereka sedikitpun.” (HR. Imam Muslim no. 2674)

Shalawat dan salam buat Nabi kita, keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang berpegang teguh dengan ajarannya sampai hari kiamat.

Madinah Al Munawwarah, Jum’at, 8 April 2005 M, Bertepatan dengan 29 Safar 1426 H

***

Penulis: Dr. Ali Musri Semjan Putra
Artikel www.muslim.or.id

Dari artikel Nasihat dari Bumi Perantauan Kepada Sanak Saudaraku di Kampung Halaman (3) — Muslim.Or.Id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s