Gunakan Nama Asli, Jangan Sekedar Nama Kuniyah

Nama kuniyah (كنية) adalah nama yang diawali “Abu” dan “Ibnu” untuk laki-laki atau “Ummu” atau “Bintu” untuk perempuan. Misalnya Abu Ahmad, Abu Muhammad, Ibnu Abbas atau Ummu Salamah, Ummu Shalih, Bintu Muhammad, dll. Tidak diragukan lagi kuniyah adalah sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau memiliki nama kuniyah, beliau memberi nama-nama kuniyah pada para sahabat. Demikian juga para salaf dan para ulama hingga saat ini mengamalkan amalan ini.

Namun sebagian orang terlalu berlebihan dalam penggunaan kuniyah, sehingga nama kuniyah diposisikan sebagai nama itu sendiri. Misalnya ketika ia memperkenalkan diri atau menyampaikan identitas diri atau menulis tulisan ilmiah, malah digunakan nama kuniyah yang justru tidak memberi kejelasan identitasnya. Para ulama menyebut ini dengan istilah ta’rif mubham. Ini sebuah salah kaprah. Karena ketika memperkenalkan diri, lawan bicara anda butuh kejelasan siapa anda. Juga dalam tulisan yang anda tulis, pembaca perlu kejelasan siapa anda, bagaimana keilmuan anda, bagaimana latar belakang anda, tulisan anda bisa dipertanggung-jawabkan atau tidak, dll.

Ketika Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad mengkritisi firqah sesat ISIS, beliau menyebutkan:

يقال للواحد منهم: أبو فلان الفلاني أو أبو فلان ابن فلان، كنية معها نسبة إلى بلد أو قبيلة كما هو شأن المجاهيل المتسترين بالكنى والأنساب

“di antara mereka (ISIS) ada yang menyebut diri dengan Abu Fulan Al Fulani atau Abu Fulan bin Fulan, yaitu berupa nama kuniyah dan penisbatan kepada suatu negeri atau kabilah. Ini kelakuan orang-orang majhul (yang tidak jelas) yang bersembunyi di balik kuniyah dan nasab” (Sumber: http://al-abbaad.com/index.php/articles/125-1435-09-28).

Sangat beralasan sekali beliau mengatakan demikian. Karena memang faktanya banyak pelaku terorisme (berkedok jihad), termasuk di tanah air kita juga, memakai nama kuniyah dengan tujuan demikian. Agar identitasnya tetap mubham (samar). Sampai-sampai dalam pandangan masyarakat awam, orang yang memakai nama kuniyah itu semisal dengan para teroris.

Simak juga penjelasan Syaikh Bakr Abu Zaid berikut:

“diantara bentuk ta’rif mubham adalah kebiasaan yang terselipkan di tengah Jazirah Arab yang berasal dari orang-orang luar Arab. Yaitu jika ditanya: ini siapa ya? Dijawab: saya Abu Fulan.

Kami tidak mengetahui bahwa ini termasuk metodenya para salaf. Maksudnya bahwa mereka ketika mengenalkan diri kepada orang-orang tentang identitas mereka, mereka hanya mengenalkan nama kuniyah. Adapun yang para salaf lakukan adalah mengenalkan diri dengan memaparkan nasab, misalnya: saya Fulan Al Fulani. Mereka menggunakan kuniyah sekedar agar orang-orang memanggilnya dengan nama kuniyah tersebut.

Ini selama orang tadi namanya belum masyhur dengan nama kuniyah-nya. Yaitu ketika nama kuniyah-nya sudah menggantikan posisi nama aslinya (maka tidak masalah). Diantaranya (yang keadaannya sudah demikian) adalah para sahabat radhiallahu’anhum: Abu Bakar, Abu Dzar, Ummu Hani’ radhiallahu’anhum” (Adabul Haatif, hal 14-15, download di sini).

Jadi 3 ketentuan yang mesti di perhatikan dalam penggunaan nama kuniyah:

  1. Jangan menggunakan nama kuniyah saja dalam memperkenalkan diri atau menyampaikan identitas. Setidaknya 2 ulama di atas telah memberikan celaan terhadap orang yang melakukan ini. Bahkan dari penjelasan Syaikh Al Abbad terkadang adanya indikasi itikad buruk dengan hanya menyampaikan nama kuniyah saja. Gunakan nama asli, jika ingin, bisa disertakan nama kuniyah bersamanya. Misalnya: Yulian Purnama Abu Muhammad.
  2. Nama kuniyah digunakan agar orang memanggil anda dengan nama tersebut, bukan dalam konteks perkenalan atau menyampaikan identitas. Atau dalam kondisi seperti poin 3 berikut ini.
  3. Jika anda sudah tenar dengan nama kuniyah anda, maka tidak masalah memperkenalkan diri dengan nama kuniyah. Karena tanpa menyebut nama asli pun, orang-orang sudah mengenal anda tanpa ada kesamaran. Misalnya di zaman sekarang, Syaikh Abul Hasan Al Ma’ribi hafizhahullah, Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini hafizhahullah, Ustadz Abu Qotadah hafizhahullah, Ustadz Abu Haidar hafizhahullah, Ustadz Abu Ubaidah As Sidawi hafizhahullah, dll.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s