Dunia untuk Anda, Bukan Anda untuk Dunia

Dunia untuk Anda, Bukan Anda untuk Dunia

Dunia untuk Anda, Bukan Anda untuk Dunia

Dunia yang untuk Anda… Bukan Anda yang untuk dunia!

Sungguh mengherankan; jika manusia mengejar dunia yang diciptakan untuknya, hingga seakan-akan dia yang diciptkan untuknya –wal iyaadzu billah-, dia melayani dunia dengan pelayanan yang luar biasa, dia memforsir badannya dan pikirannya, (mengorbankan) kesantaiannya dan waktu bersama keluarganya (untuk dunia)… Lalu apa (hasilnya)? Bisa jadi dia kehilangan dunia itu dalam sekejab!.. Bisa jadi dia keluar dari rumahnya lalu tidak kembali lagi.. tidur di atas ranjangnya, lalu tidak bangun lagi.. dan ini nyata adanya.

Dan mengherankannya lagi, fenomena-fenomena ini kita saksikan, tapi hati-hati ini keras… Kita menyaksikan seorang yang akad nikah dengan seorang perempuan, lalu meninggal sebelum dia menggaulinya, padahal dia sangat berhasrat dan telah lama menginginkannya, namun kematian menghalanginya… Kita melihat banyak orang yang surat-surat undangan pernikahannya sudah bersama mereka, lalu mereka meninggal padahal si pengantin wanita masih di mobil mereka.

Jadi, apa gunanya dunia jika sampai seperti ini dalam menipu? Oleh karena itu, Nabi shollallohu alaihi wasallam -yang sangat penyayang, sangat penyantun, dan sangat simpati terhadap kaum mukminin- telah mengabarkan; bahwa beliau khawatir terhadap kita, bila dunia ini dibuka untuk kita, sehingga kita saling berlomba untuk mendapatkannya, dan inilah yang terjadi.

Maka waspadalah saudaraku, jangan sampai kehidupan dunia ini menipumu, dan jangan sampai pula (setan) penipu mengelabuimu.

Anda, bila Allah meluaskan rizkimu dan kamu bersyukur, maka itulah yang baik bagimu, sebaliknya bila Dia menyempitkan rizkimu dan kamu bersabar, maka itulah yang baik bagimu. Adapun menjadikan dunia sebagai target utamamu dan tujuan akhir ilmumu, maka ini adalah kerugian di dunia dan di akherat.

Semoga Allah melindungi kami dan kalian dari berbagai cobaan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

[Sumber: Syeikh Utsaimin, Kitab: Syarah Riyadhus Sholihin 6/687, diterjemahkan oleh ustadz Musyaffa’Addariny,Lc,MA]

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Membangun Kecerdasan Kolektif di Sebuah Komunitas 

Suatu hari ada orang membutuhkan modal usaha 100 juta dengan meminjam uang di sebuah bank dengan jaminan sertifikat tanah. Bank memberikan jatuh tempo selama 2 tahun dengan bunga cicilan perbulan 2 %.

Ternyata usahanya tidak mengalami kemajuan, sehingga cicilan bulanan ke Bank macet. Dan tentu saja resikonya adalah pihak bank menyita rumahnya. Akhirnya usaha hancur dan rumahpun ludes.

Itu hanya contoh kebetulan yang mungkin bisa kita jumpai di masyarakat. Nyatanya contoh -contoh ini tidak banyak membangun kecerdasan kolektif di tengah-tengah kaum muslimin. Bahkan banyak kasus serupa yang terus menghantaui disetiap lapisan masyarakat.

Disinilah ketika ada orang yang bisa terbuka dan secara insaf mengambil ibrah yang telah ada , berusaha membangun komunitas untuk mewujudkan ekonomi islam yang lebih manusiawi. Karena memiliki karakteristik yang mirip, hal tersebut dapat digunakan untuk memahami dan memodelkan sebuah komunitas yang berbasis Islam.

Kita akan melihat group-group semisal RCC (Riba Crisis Center), La Riba atau komunitas-komunitas besar semacam KPMI. Mereka berangkat dari sebuah kecerdasan kolektif yang menghubungkan kesamaan visi dan misi dalam memerangi riba dan membangkitkan ekonomi Islam. Munculnya kecerdasan kolektif ini akhirnya melahirkan sebuah organisasi yang lebih terstruktural guna memudahkan komunikasi diantara anggotanya.

Mungkin banyak sebenarnya orang-orang yang ingin menyumbangkan pemikiran di sebuah komunitas, tetapi masih ingin mengail ikan didalamnya, maksud saya ikan itu bisa berupa keuntungan materi atau popularitas. Karakter ini ini harus kita kikis, oleh sebab karakter inilah yang menghambat proses mencerdaskan kaum muslimin saat ini.

Komunitas-komunitas yang berorientasi Ilahiyah akan selalu mewujudkan ketaatan dan kemanfaatan manusia.

كان شداد بن أوس رضي الله عنه يقول: “إذا رأيت الرجل يعمل بطاعة الله فاعلم أن لها عنده أخوات, وإذا رأيت الرجل يعمل بمعصية الله, فاعلم أن لها عنده أخوات, فإن الطاعة تدل على أختها وإن المعصية تدل على أختها

Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata: “Jika kamu melihat seorang yang mengerjakan ketaatan kepada Allah, maka ketahuilah bahwa ketaatan tersebut mendatangkan saudara-saudara lain (ketaatan-ketaatan lain) baginya. Dan jika kamu melihat seorang yang mengerjakan maksiat kepada Allah, maka ketahuilah bahwa maksiat tersebut mendatangkan saudara-saudara (maksiat-maksiat lain) baginya, karena sesungguhnya sebuah ketaatan menunjukkan kepada saudaranya (ketaatan lainnya) dan sebuah maksiat menunjukkan kepada saudaranya (maksiat lainnya). (Al Mafshal fi fiqh Ad Da’wat Ila Allah, 3/79).

Oleh Abu Najmah

PengusahaMuslim.com

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Idealisme Pengusaha Muslim

Idealisme Pengusaha Muslim

Oleh ustadz Sufyan Baswedan

Dalam dunia bisnis, pemasaran memiliki peranan vital demi keberlangsungannya. Tanpa pemasaran yang baik, bisnis apa pun akan bangkrut; baik berupa barang maupun jasa. Dan bagi kita tinggal di Negara seperti Indonesia, pangsa pasar sering kali tidak terbatas pada kaum muslimin saja; akan tetapi juga banyak merambah kalangan non muslim. Oleh karenanya, setiap pengusaha muslim harus memiliki idealisme dalam memasarkan

Imam Ahmad pernah ditanya tentang kaum Nasrani yang mewakafkan sepetak tanah untuk kepentingan gereja, bolehkan ia disewa oleh seorang muslim? “Tidak. Jangan disewa meski semurah apapun, dan jangan menolong kebatilan mereka”, jawab Imam Ahmad.

Beliau juga pernah ditanya tentang seorang pekerja bangunan, bolehkah ia membangun kuil untuk kaum Majusi? “Jangan”, jawab beliau. “Jangan sampai kamu membantu mereka melestarikan kebatilan mereka”, lanjut beliau. Lantas bagaimana dengan seorang muslim yang menyewakan jasa gali kubur bagi kafir dzimmi[1]? “Tidak mengapa”, jawab beliau.

Mungkin kita bertanya: Apa perbedaan dari kedua masalah di atas? Ibnu Taimiyyah menjelaskan, “Perbedaan kedua masalah tadi ialah karena kuil merupakan ciri khas agama batil mereka, seperti gereja bagi kaum Nasrani. Lain halnya dengan kuburan mutlak[2], yang pada dasarnya tidak mengandung maksiat dan bukan merupakan ciri khas agama mereka.[3]

Demikian pula dengan orang yang membeli sesuatu dari yayasan atau badan usaha yang mendanai gereja dan semisalnya. Ini lebih terlarang lagi, karena uang yang dibayarkan tadi otomatis dipergunakan untuk maksiat. Mirip halnya dengan seseorang yang menjual perasan anggur kepada pembuat khamer. Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Menurutku, seorang muslim tidak boleh menjadi arsitek, tukang kayu, atau yang semisalnya bagi tempat-tempat ibadah orang kafir[4].

Kesimpulannya, seorang muslim tidak boleh membeli produk atau menyewa jasa dari orang kafir, bila hal tersebut secara langsung memperkuat kebatilan mereka.

Lantas bagaimana dengan menjual sesuatu kepada mereka? Imam Ahmad pernah ditanya tentang seseorang yang menjual rumahnya kepada kafir dzimmi, dan rumah tersebut memiliki mihrab (ruang khusus untuk ibadah). Maka beliau kembali bertanya, “Mihrab Nasrani !!??” tanya beliau dengan nada heran… “Tidak boleh menjual rumah yang nantinya memperdengarkan suara lonceng, atau dipasangi salib… jangan kamu jual rumah tersebut kepada orang-orang kafir” jawab beliau tegas.

Beliau juga pernah ditanya tentang seseorang yang hendak menjual rumahnya, dan ia sempat didatangi oleh seorang Nasrani dengan iming-iming harga yang lebih tinggi. Apakah menurutmu ia boleh menjual rumah tersebut kepada pembeli yang Nasrani, Yahudi, atau Majusi tadi? “Aku tidak menyukainya. Apakah dia hendak menjual rumah tadi kepada orang kafir untuk melakukan kekafiran di dalamnya? Lebih baik ia menjualnya kepada seorang muslim”, jawab Imam Ahmad.

Lain halnya dengan menyewakan rumah kepada kafir dzimmi untuk ditinggali, walaupun si muslim tahu bahwa orang kafir tadi akan minum khamer dan berbuat syirik di dalamnya. Hal ini pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad, dan beliau menjawab dengan mengatakan bahwa Ibnu ‘Aun konon hanya mau menyewakan rumahnya kepada kafir dzimmi. Alasannya karena dengan begitu ia bisa menagih mereka. Artinya, ia bisa memberi tekanan dan sedikit kehinaan kepada kafir dzimmi dengan menagih uang sewa; seperti ketika mereka ditagih untuk membayar jizyah. Berhubung Ibnu ‘Aun tidak ingin menekan seorang muslim dengan menagih uang sewa, maka ia tidak mau menyewakan rumahnya kepada seorang muslim” tutur Imam Ahmad.

Menurut salah seorang murid beliau yang bernama Ibrahim ibnul Harits, Imam Ahmad menunjukkan kekagumannya terhadap sikap Ibnu ‘Aun tadi. Sedangkan Ibnu ‘Aun sendiri adalah seorang ulama panutan dan ahli hadits yang tsiqah dan rajin beribadah.

Pernah diceritakan kepada Imam Ahmad, bahwa Al Auza’iy pernah ditanya tentang seorang muslim yang bekerja sebagai pengawas kebun anggur Nasrani, dan Al Auza’iy memakruhkannya. Maka Imam Ahmad berkata, “Pendapat yang sangat bagus. Sebab pada dasarnya, anggur tersebut akan dibuat khamer. Kecuali bila si muslim tahu bahwa anggur tersebut dijual bukan untuk dijadikan khamer, maka tidak mengapa”, lanjut beliau.

Sikap Imam Ahmad ini sepintas nampak aneh, sebab di satu sisi beliau melarang seorang muslim yang menjual rumahnya kepada orang kafir sebagai tempat berbuat kufur dan maksiat, namun beliau takjub dengan sikap Ibnu ‘Aun yang hanya mau menyewakan rumahnya kepada kafir dzimmi; yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa beliau menyetujui pendapat tersebut.

Akan tetapi, ada sebuah perbedaan antara jual beli dengan sewa menyewa menurut Ibnu Muflih. Kata beliau, bedanya ialah, bahwa dampak negatif dari sewa menyewa yang berupa dukungan kepada orang kafir untuk bermaksiat tadi, diimbangi dengan kemaslahatan lain yang berupa terhindarnya kaum muslimin dari tuntutan membayar sewa yang membuat mereka tertekan. Dengan beralihnya tuntutan tadi kepada orang kafir, jadilah ia seperti kewajiban membayar jizyah (upeti) yang menghinakan mereka.[5]

Allah berfirman, “Perangilah kaum Ahli kitab yang tidak mau beriman kepada Allah dan hari kiamat, serta tidak mengharamkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya, dan tidak mau menganut agama yang benar; sampai mereka mau membayar jizyah dalam keadaan terhinakan” (At Taubah: 29).

Jadi, walaupun ada unsur membiarkan terjadinya kemungkaran dalam rumah yang disewa orang kafir tadi, tetap saja hal ini diimbangi oleh kemaslahatan ‘izzah kaum muslimin ketika menagih mereka. Dan karena alasan ini pula, kaum muslimin dibolehkan menerima tawaran damai dari orang kafir dengan imbalan upeti yang mereka bayarkan.

Sedangkan dalam jual beli, kesan ‘menghinakan’ tersebut tidak ada lagi, sehingga Imam Ahmad memandang tidak bolehnya hal tersebut, walaupun jual beli itu sendiri tetap sah dilakukan[6]. Wallahu a’lam.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. Al-Hadid: 16)

Ayat di atas adalah ayat yang menyadarkan seorang perampok besar. Ayat yang menyadarkannya saat ia hendak melakukan kemaksiatan, yaitu mengintip seorang wanita. Seorang perampok besar hendak mengintip seorang wanita? Ya, karena begitulah adanya… kemaksiatan yang satu.. memudahkan seseorang (atau membuat orang menjadi bermudah-mudah) melakukan maksiat-maksiat lainnya.

Padahal sebuah kemaksiatan akan membuat titik hitam di hati seseorang. Semakin banyak maksiat..titik hitam itu akan semakin banyak bahkan membuat hati itu menghitam. Na’udzubillah min dzalik.

Tak heran kemudian jika dalam ayat di atas disebutkan “hati mereka menjadi keras” setelah berlalunya waktu.

Maka beruntunglah orang-orang yang dirahmati Allah. Yang membuat langkah titik balik kehidupan. Menuju kehidupan yang sesungguhnya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al Hadid: 28)

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Qs. Al-Hadid: 20)

Dan semoga kita termasuk menjadi orang yang dirahmati Allah. Sudahkah Anda membuat langkah menempuh titik balik kehidupan?

*Perampok yang kami sebut di atas, akhirnya menjadi ulama besar. Ia bertaubat dari segala dosanya dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu Islam di usia 40 tahun. Ulama tersebut bernama Fudhail bin Iyadh.

Penyusun: Ummu Ziyad Cizkah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits
Artikel WanitaSalihah.Com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s