Amalan Ketika Anda Kesal

Wirid Andal Saat Hati Kesal

Oleh: Ustadz Sufiyan Bazweidan, MA

Anda lagi kesal, dan ingin marah? Tak ada yang harus Anda lakukan. Yang perlu dilakukan adalah diam. Ya, diam. Anda cukup menahan diri ketika kekesalan dan kemarahan Anda mencapai titik klimaks. Tahanlah lisan dan anggota badan Anda dari melampiaskan kekesalan tadi dengan cara yang salah. Berikut wiridnya.

Marah dan kesal itu sifat alami manusia. Siapa pun bisa marah dan kesal, dan itu hal biasa. Namun yang luar biasa ialah menahan kekesalan dan angkara murka saat kesal dan murka datang Tapi tidak mudah. Siapa yang mampu melakukannya akan mendapat pahala besar. Tahanlah kesal dan amarah, dan Anda akan mendapatkan keutamaan.

Yang menahan kesal dan amarah tergolong muhsinin yang dicintai Allah. Salah satu kriteria muhsinin disebutkan Allah dalam firman-Nya:

والكاظمين العيظ والعافين عن الناس، والله يحب المحسنين (آل عمران: 134).

“… dan mereka yang menahan rasa kesal (marah)-nya serta bersifat pemaaf kepada manusia. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik (muhsinin).” (QS. Ali Imron: 134)

Yang menahan kesal dan amarah tergolong “jagoan”. Ya, justru yang jagoan di mata agama adalah mereka yang pandai menahan murka. Bukan yang pandai melampiaskannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat,

مَاتَعُدُّونَالصُّرَعَةَفِيكُمْ؟ ;قَالُوا:الَّذِىلاَيَصْرَعُهُالرِّجَالُ. قَالَ ; ليس بذلك،وَلَكِنَّهُالَّذِىيَمْلِكُنَفْسَهُعِنْدَالْغَضَبِ .

Siapakah jagoan di mata kalian?” Kata mereka: “Dialah orang yang tidak dikalahkan oleh para lelaki. “Bukan itu,, kata Rasulullah. “Tapi jagoan adalah orang yang menguasai dirinya saat murka,” lanjut beliau. (HR. Muslim No. 2608)

Yang menaham kesal dan amarah akan mendapat penghargaan besar di Hari Kiamat. Penghargaannya sangat menggiurkan. Mau tahu? Simak hadis yang dihasankan oleh Imam Tirmidzi dan Syaikh Al Albani berikut,

مَنْكَظَمَغَيْظًاوَهُوَقَادِرٌعَلَىأَنْيُنْفِذَهُدَعَاهُاللَّهُعَزَّوَجَلَّعَلَىرُءُوسِالْخَلاَئِقِيَوْمَالْقِيَامَةِحَتَّىيُخَيِّرَهُاللَّهُمِنَالْحُورِمَاشَاءَ

Siapa yang menahan rasa kesal/marahnya, padahal dia mampu melampiaskannya, kelak Allah akan memanggilnya di hadapan sekalian manusia pada Hari Kiamat, agar ia bebas memilih bidadari mana yang ia suka!” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Hebat kan? Pahala yang besar dan indah tidak mengharuskan Anda melakukan ini dan itu. Tidak! Bahkan tidak ada perbuatan tertentu yang perlu Anda lakukan sebenarnya. Sebab yang perlu dilakukan adalah diam. Ya. Anda cukup menahan diri ketika kekesalan dan kemarahan Anda mencapai titik klimaks. Tahanlah lisan dan anggota badan Anda dari melampiaskan kekesalan tadi dengan cara yang salah.

Marahlah dengan Cara yang Benar

Silakan lampiaskan kemarahan. Namun pakailah cara yang benar. Bagaimana? Berikut ini beberapa bacaan (wirid dan  doa) yang insya Allah bermanfaat untuk meredamnya.

Pertama, bacalah ta’awudz dengan segera. Salah seorang sahabat peserta Perang Badar yang bernama Sulaiman bin Shurad meriwayatkan, “Aku pernah duduk bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya demikian marah hingga matanya merah dan urat-urat lehernya menggelembung. Rasulullah pun berkata, “Aku tahu suatu bacaan yang bila ia baca, niscaya lenyaplah apa yang ia rasakan. Andai ia mengatakan (أعوذ بالله من الشيطان الرجيم), maka hilanglah apa yang ia rasakan.” (HR. Bukhari No. 3282, dan Muslim No 2610)

Hadis tersebut juga mengisyaratkan, marah berasal dari setah, sehingga ketika kita merasa kesal dan marah, kita disuruh berlindung dari godaannya. Ada pun anjuran agar berwudhu karena air dapat memadamkan api yang menjadi asal-usul setan. Maka hadis tersebut sanadnya dha’if, walaupun boleh jadi maknanya benar. Artinya, kalau pun cara tersebut manjur untuk meredakan marah, tetap saja kita tidak boleh menisbatkan ucapan tersebut kepada Rasulullah karena seluruh sanadnya berkisar pada dua orang perawi yang majhul (misterius) (lihat: Silsilah Hadits Dha’if No 582)

Kedua, dalam Sirah Rasulullah, beliau pernah mengalami peristiwa yang sangat mengesalkan dan mengecewakan dirinya. Bahkan peristiwa tersebut, menurut beliau, lebih menyakitkan daripada yang beliau alami ketika Perang Uhud. Padahal, dalam Perang Uhud, beliau luka-luka cukup parah; gigi seri beliau patah, wajah terluka akibat sabetan pedang, satu rantai besi tertancap di pipi beliau, hingga pundak beliau yang rasa sakitnya bertahan hingga sebulan. Belum lagi kesedihan yang beliau alami akibat meninggalnya Hamzah, paman beliau, dalam keadaan mengenaskan.

Pun begitu, beliau pernah mengalami kondisi yang lebih “mengesalkan” lagi. Yaitu saat beliau pergi ke Thaif untuk mengajak tokoh-tokoh di kota itu masuk Islam. Dakwah beliau tidak diterima dan tidak pula ditolak secara halus. Namun justru beliau dijadikan bahan ledekan dan diusir setelah dilempari batu oleh anak-anak Thaif hingga tumit beliau berlumuran darah. (Lihat: Sirah Ibnu Hisyam, 1/419-420; dan Ar-Rahiequl Makhtum, hlm. 100)

Bayangkan, betapa kesal dan kecewa beliau saat itu. Kalaulah dialami kita yang lemah iman, mungkin kita langsung naik pitam dan mengumpat, atau stress berat, depresi.

Doanya

Apakah gerangan doa hebat yang dibaca Rasulullah hingga beliau mampu mengatasi itu semua? Beliau mengatakan,

اللَّهُمَّإِلَيْكَأشكواضعْفيوهوانيعلىالنَّاس،أَرْحَمَالرَّاحِمِينَإِلَىمَنْتَكِلُنِي؟إِلَىبَعِيدٍيَتَجَهَّمُنِيأَمْإِلَىقَرِيبٍمَلَّكْتَهُأَمْرِي؟فَإِنْلَمْتَكُنْسَاخِطًاعَلَيَّفَلاأُبَالِي،لَكَالْعُتْبَىحَتَّىتَرْضَىوَلاحَوْلَوَلاقُوَّةَإِلابِكَ،أَعُوذُبِنُورِوَجْهِكَالْكَرِيمِالَّذِيأَضَاءَتْلَهُالسَّمَوَاتُوَأَشْرَقَتْلَهُالظُّلُمَاتُوَصَلَحَعَلَيْهِأَمْرُالدُّنْيَاوَالآخِرَةِ:أَنْيَنْزِلَعَلَيَّغَضَبُكَأَوْيَحِلَّعَلَيَّسَخَطُكَ.

“Ya Allah, kepadaMu kukeluhkan kelemahan dan kerendahanku di mata manusia, wahai Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kepada siapa Engkau menyerahkanku? Kepada orang jauh yang bersikap kasar dan bermuka masam kepadaku? Ataukah kepada orang dekat yang Kau kuasakan diriku kepadanya? Selama Engkau tidak murka terhadapku, maka aku tak peduli. Aku bertaubat dari segala kesalahku kepada-Mu supaya Engkau ridho. Tidak ada daya dan upaya kecuali dariMu. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang mulia, yang menjadikan langit-langit bercahaya dan menghapus seluruh kegelapan serta memperbaiki semua urusan dunia dan akhirat: agar kemurkaan dan kemarahan-Mu tidak menimpa diriku.” (HR. Dhiya’uddien Al-Maqdisi dalam Al-Ahadietsul Mukhtaarah, 9/180-181)

Kisah tersebut sangat terkenal dalam sirah Nabawiyah, walaupun pada sanadnya terdapat sedikit kelemahan. Akan tetapi, cukuplah kepopulerannya menjadi penguat baginya. Apalagi sebagian lafaz doa ini menjadi doa favorit sahabat Ibnu Mas’ud, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (No. 29528), dari Ma’an bin Abdirrahman bin Abdillah bin Mas’ud, bahwa Abdullah bin Mas’ud (kakeknya), konon sering berdoa,

اللَّهُمَّأَعِنِّيعَلَىأَهَاوِيلِالدُّنْيَا،وَبَوَائِقِالدَّهْرِ،وَمَصَائِبِاللَّيَالِيوَالْأَيَّامِ،وَاكْفِنِيشَرَّمَايَعْمَلُالظَّالِمُونَفِيالْأَرْضِ،اللَّهُمَّاصْحَبْنِيفِيسَفَرِي،وَاخْلُفْنِيفِيحَضَرِي،وَإِلَيْكَفَحَبِّبْنِي،وَفِيأَعْيُنِالنَّاسِفَعَظِّمْنِي،وَفِينَفْسِكَفَاذْكُرْنِي،وَفِينَفْسِيلَكَفَذَلِّلْنِي،وَمِنْشَرِّالْأَخْلَاقِفَجَنِّبْنِييَارَحْمَنُ،إِلَىمَنْتَكِلُنِي،أَنْتَرَبِّي،إِلَىبَعِيدٍيَتَجَهَّمُنِي،أَمْإِلَىقَرِيبٍمَلَّكْتُهُأَمْرِي

“Ya Allah, tolonglah aku dalam menghadapi kedahsyatan dunia, kejahatan zaman, dan musibah yang datang siang-malam. Cukupilah diriku dari perbuatan orang-orang zalim di bumi. Ya Allah, temanilah aku dalam perjalanan, dan jadilah penggantiku saat aku menetap. Jadikanlah aku cinta kepada-Mu dan disegani manusia. Sebutlah diriku di sisi-Mu, dan tundukkan diriku kepada-Mu. Jauhkanlah diriku dari perangai tercela. Wahai Dzat yang Maha Penyayang, kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Engkaulah Rabb-ku, kepada orang jauh yang bersikap kasar dan bermuka masam terhadapku; ataukah kepada orang dekat yang Kau kuasakan urusanku padanya? (Atsar ini sanadnya munqathi’, karena Ma’an tidak pernah mendengar langsung dari kakeknya, Ibnu Mas’ud.  Akan tetapi, seseorang tentu lebih tahu terhadap apa yang terjadi dengan keluarganya, sehingga kedho’ifan atsar ini masih bisa ditoleransi. Wallaahu a’lam). (PM)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s