Motivasi Religius

Merenungi Hakikat Kehidupan Dunia
6 Cara Memotivasi Diri Sendiri PDF Cetak E-mail
Apakah Anda merasa kesulitan untuk mencapai tujuan hidup Anda, bahkan saat Anda tahu tujuan itu sangat berharga? Mungkin  Anda sudah mencoba mendorong diri sendiri untuk maju dengan segala daya upaya, tetapi belum tercapai pula.Alih-alih menggunakan kekuatan keinginan, Anda butuh motivasi dari diri sendiri. Dengan begitu, Anda tidak akan kehabisan energi dan Anda mungkin akan merasa menikmati kehidupan dengan lebih baik lagi.Berikut adalah cara yang bisa Anda lakukan untuk memotivasi diri sendiri:

Sisihkan waktu untuk hal yang Anda sukai

Jika Anda bisa memilih hal-hal yang Anda akan lakukan, entah itu pekerjaan yang akan Anda lakukan atau jurusan yang akan Anda ambil di perguruan tinggi, pilihlah sesuatu yang akan Anda sukai dan nikmati. Dengan memilih pekerjaan yang memberi gaji lebih tinggi atau sebuah jurusan yang terdengar lebih bergengsi tidak akan membuat Anda termotivasi.

Bahkan saat Anda mengerjakan pekerjaan yang Anda benci, mungkin Anda masih bisa mengendalikan pekerjaan tersebut. Bisakah Anda meminta untuk dilibatkan dalam proyek baru yang lebih menarik? Bisakah Anda bekerja sukarela untuk membantu manajer Anda dengan sebuah proyek?

Berbangga dengan pekerjaan yang dijalani

Sebagian kegiatan mungkin terlihat sia-sia. Mungkin Anda hanya satu bagian kecil dalam pekerjaan yang besar dan sulit bagi orang untuk mengetahui apakah hasil kerja kita signifikan atau tidak. Namun kenyataannya hal itu membuat perbedaan, perusahaan Anda mungkin tidak akan merekrut Anda dahulu jika keberadaan Anda tidka diperlukan.

Lebih mudah untuk memotivasi diri sendiri saat kita bangga dengan apa yang kita kerjakan dan Anda melakukannya dengan kemampuan terbaik Anda. Apakah Anda membersihkan rumah atau berhadapan dengan pelanggan, Anda bisa secara sadar memutuskan untuk melakukan yang terbaik.

Pikirkan hasilnya

Dalam dunia yang ideal, setiap pekerjaan adalah imbalan itu sendiri. Tentu saja, hal itu tidak selalu terjadi. Anda mungkin memiliki banyak sekali pekerjaan di daftar Anda yang kurang menarik atau mengasyikkan tetapi Anda menginginkan untuk tetap melakukannya karena pekerjaan-pekerjaan itulah yang akan membawa Anda lebih dekat dengan tujuan Anda.

Mencoba berfokus pada hasilnya akan membuat kita lebih bersemangat. Misalnya saat Anda kesulitan mengerjakan skripsi, Anda bisa membayangkan kebahagiaan yang terbersit di wajah orang tua saat kita bisa lulus dan Mandiri setelahnya. Atau bayangkan uang yang Anda sudah tabung selama sekian lama bekerja bisa Anda gunakan untuk membeli sesuatu yang diidam-idamkan, seperti rumah, kendaraan atau tidak hanya berbentuk benda tetapi bisa berupa kepuasan abstrak seperti bertamasya, melancong ke tempat baru bersama keluarga dan orang yang dicintai.

Berhati-hati dengan penggunaan imbalan Anda

Sebagian orang memotivasi diri dengan imbalan: “Setelah aku menyelesaikan laporan  ini, aku akan menghadiahi diri dengan sebatang coklat”. Hal ini bisa membantu jika Anda harus mendorong diri untuk menyelesaikan tugas tetapi jika Anda melakukannya terlalu sering, Anda akan bergantung pada imbalan daripada motivasi alami Anda.

Berpikirlah tentang imbalan yang ada dalam pekerjaan itu sendiri: “Setelah aku menyelesaikan laporan ini, aku merasa lebih lega” atau “Menyesaikan laporan ini akan membahagiakan orang yang membacanya.” Daripada memandang pekerjaan sebagai kumpulan beban di agenda harian kita, mengapa tidak memikirkan tentang dampak nyatanya pada Anda dan orang lain?

Pelajari sesuatu yang baru

Kita semua adalah pelajar alami. Itulah bagaimana manusia bertahan hidup. “Belajar” tidak hanya bagi anak kecil dan siswa di sekolah. Belajar adalah sesuatu yang kita selalu lakukan sepanjang hayat. Jika Anda pernah berjuang untuk merancang sebuah software baru dan menemui momen inspiratif, Anda akan tahu betapa mengasyikkannya bisa terus belajar sesuatu yang baru.

Jika ada area spesifik dalam kehidupan yang membuat kita kurang termotivasi, itu lebih karena kita tidak percaya diri dalam melakukannya. Mungkin Anda membenci memasak, menulis, berolahraga atau pekerjaan lain karena Anda tahu Anda berjuang keras melakukannya dengan baik.Bersabarlah dalam belajar dan itu bisa membuat mtovasi lebih tinggi.

Tetap termotivasi saat bekerja

Anda mungkin termotivasi memulai pekerjaan baru tetapi jika perhatian Anda buyar setelah 5 menit, Anda akan berjuang untuk menjaga keberadaan motivasi itu. Setiap waktu Anda beralih ke hal lain (seperti Facebook atau ponsel Anda), Anda sedang mengganggu konsentrasi diri sendiri.

Tetap fokus pada satu hal di satu waktu bahkan jika itu berarti Anda harus memutuskan koneksi Internet dan memblokir situs yang mengganggu konsentrasi. Jika Anda terus menunda untuk memulai, itu akan memberi kesan bahwa pekerjaan itu akan menghantui Anda selamanya.

Memahami Hakikat Kehidupan…

Bagi seorang Muslim dia amat jelas daripada perkhabaran al Quran dan juga al Sunnah bahawa hakikat hidup dunia adalah satu perhentian untuk mencari bekal untuk satu kehidupan yang kekal abadi. Nak atau tak nak semua manusia akan menuju kepadanya.Dan semua manusia adalah sama, yang bezanya adalah sama ada dia tahu atau tidak hakikat ini dan apabila dia tahu yang bezanya pula adakah dia bersedia atau tidak untuk menghadapinya.

Kehidupan di dunia ini pada hakikatnya bukan tempat pembalasan sebenar walaupun kadangkala ia nampak macam dibalas baik mereka yang melakukan kebaikan dan dibalas buruk bagi mereka yang melakukan kejahatan. Hakikat sebenar hidup dunia ini adalah tempat ujian dan Allah menjadikan segala bentuk kenikmatan sebagai perhiasan untuk menguji manusia siapakah yang paling baik amalannya.

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan segala apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka siapakah yang paling baik amalannya” (al Kahfi 7)

Perhiasan dan Ujian adalah dua perkara yang sinonim, untuk membezakan dan mengkategorikan siapa yang melaluinya. Ada manusia yang tenggelam di dalam perhiasan itu sehingga menyangka bahawa itulah hakikat kehidupan dan tidak ada kehidupan yang lain selainnya(hakikat mereka yang tidak beragama). Ada manusia yang mengetahui adanya kehidupan yang lain selepas ini tetapi tidak mengetahui jalan yang betul untuk menghadapi Ujian tersebut menyebabkan dia juga sesat di dalam Perhiasan itu(inilah hakikat hidup penganut agama selain Islam) . Ada pula manusia yang meyakini adanya kehidupan selepas mati dan mengetahui bahawa dunia ini adalah ujian Allah secara umum, tetapi tidak tahu bagaimana cara ditil yang selamat untuk berjaya menghadapi ujian tersebut( kebanyakan mukmin yang jahil tentang agama), mereka juga akan tenggelam dalam perhiasan yang amat menguji seseorang. Ada pula manusia yang mengetahui semuanya tentang hakikat tersebut tetapi dek kerana Perhiasan itu amat mengujanya dan dek kerana hakikat dirinya yang kalah dengan runtunan nafsu menyebabkan dia menyerah kepadanya( mukmin yg derhaka- ‘Asi -kepada Allah),  dan ada pula di kalangan mereka yang tenggelam timbul sekali kalah, sekali menang dan itulah kebiasaan seorang mukmin… dalam berhadapan dengan nafsu dan syaitan…

Kehidupan Adalah Ujian…

Pada hakikatnya semua manusia seolah-olah berada di dalam dewan peperiksaan yang besar yang meliputi alam semesta. Tak kira dia itu seorang pemerintah atau rakyat jelata, seorang alim atau jahil, seorang kaya atau miskin, kesemuanya berada didalam dewan itu dan kesemuanya akan mendapat keputusan sama ada lulus atau gagal.Di sana ada pemerhati yang senentiasa mencatat setiap tingkah lakunya sama ada kecil atau besar :

” Tidak menutur satu kata-kata pun melainkan di sisinya Raqib dan Atid (yg mencatat segala-galanya)” Qaf:18

Begitu juga segala anggota badannya menjadi saksi di atas perbuatannya. Termasuk bumi tempat dia berpijak dan sesama manusia akan menjadi saksi antara satu sama lain dan akhirnya Allah Maha menyaksi atas segala sesuatu…

Tempuh…

Bermula daripada seseorang itu diTaklifkan (berakal dan cukup umur) sehinggalah ke saat kematiannya hakikatnya seorang itu berada di dalam peperiksaan. Bezanya kita dengan seorang pelajar, seorang pelajar mengetahui bila tempuh akhir ujian tersebut sedangkan manusia pada bila-bila masa sahaja loceng Izrail akan dibunyikan menandakan tamatnya tempuh ujian tersebut…

Andaikata seorang pelajar tidak diberitahu bila tempuh tamat ujian dan pada bila-bila masa saja kertas ujiannya akan dipungut nescaya dia akan menggunakan setiap saat  serta akan memerahkan segala usahanya yang ada untuk menjawab soalan dengan betul dan tepat tanpa melengahkan dengan apa-apa yang tidak berkaitan dengannya. Begitulah halnya keadaan  seorang  Muslim apabila dia faham dan sedar tentang Hakikat kehidupan ini. Yang penting baginya adalah kejayaan… yang penting baginya lulus… tak kira apa bentuk soalannya dan berapa banyak yang  akan ditanya serta senang atau susah soalannya… yang penting lulus dan jauh daripada kegagalan…

Peralatan ujian

Seorang pelajar peralatan ujiannya adalah pen, pemadam,serta diagihkan kepadanya kertas-kertas soalan dan disediakan kertas jawapannya. Adapun manusia peralatan ujiannya di alam buana ini adalah segala yang dimilikinya, tubuh badannya, masa dan umurnya, hartanya,ilmunya bahkan segala tenaga dan keupayaan yang dikurniakan kepadanya…Itulah peralatan yang digunakan untuk menjawab soalan dengan betul dan tepat…

Skop soalan

Ruang lingkup soalan yang manusia akan menghadapi dalam ujian hidupnya amat luas yang boleh kita simpulkan seperti berikut:

1- Segala perintah dan kefardhuan yang mesti dilakukan…

2- Segala larangan dan perkara yang haram yang mesti dijauhi..

3- Segala nikmat dan kurniaan yang wajib disyukuri… dan

4- Segala kesusahan dan kepayahan yang wajib bersabar dalam menghadapinya…

Kejayaan…

Orang yang akan berjaya hanyalah orang yang dirahmati oleh Allah yang mengikuti Petunjuk Nabi s.a.w. dalam menghadapi kesemuanya itu tanpa lemah atau melampau tanpa mengira daripada golongan mana dia datang. Jika dia daripada pemimpin atau pemerintah maka jawapan yang betul bagi kedudukannya ialah berlaku adil serta menghindarkan segala bentuk kezaliman terhadap mereka yang di bawah pinpinannya . Jika dia ditakdirkan kaya oleh Allah maka dia bersyukur dengan menafkahkan hartanya di jalan yang di tunjuki oleh Muhammad s.a.w. tanpa dipengaruhi sifat bakhil yang bersemi di jiwa. Jika dia Alim dan diberi ilmu oleh Allah dia amanah dengan ilmunya tanpa merasa takut dengan celaan orang yang mencela.Begitulah seterusnya jika dia ditakdirkan miskin atau susah maka jalan kejayaan bagi situasi ini adalah bersabar dengan apa yang dihadapinya serta berusaha mencari sebab dan musabbab untuk melepasi kepayahan itu.Jika berjaya keluar dari kesusahan itu kita bersyukur dan jika tidak kita terus bersabar dan redha dengan ketentuan Ilahi yang mungkin menginginkan KEJAYAAN bagi kita dalam bentuk sedemikian… ” Dan KEBAIKAN AKHIRAT ITU LEBIH BAIK DAN LEBIH KEKAL ABADI…” al A’la:17

Semoga kita semua berjaya di dalam menghadapi ujian ini yang tidak diketahui bilakah penghujungnya…

*********************************************************************************************

Merenungi Hakikat Kehidupan Dunia

Saudaraku seiman, sesungguhnya kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang abadi, namun ia akan hancur dan amat hina di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih hina dari bangkai, Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu berkata,

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke pasar dari arah ‘Aliyah dan para shahabatnya berada di sekitarnya, beliau melewati bangkai anak kambing yang telinganya kecil lalu beliau mengambilnya dengan memegang telinganya kemudian bersabda, “Siapakah diantara kamu yang mau membelinya dengan harga satu dirham?” Mereka berkata, “Kamu tidak suka bangkai itu menjadi milik kami, apa yang bisa kami gunakan darinya.” Beliau bersabda, “Atau kamu suka bangkai ini menjadi milikmu?” Mereka berkata, “Demi Allah, kalaupun ia masih hidup maka ia binatang yang mempunyai aib karena telinganya kecil, bagaimana jadinya kalau ia bangkai?” Beliau bersabda, “Demi Allah, dunia lebih hina bagi Allah dari bangkai ini untuk kalian.” (HR Muslim).

Lebih hina dari bangkai ?! Ya, karena bangkai menjijikkan dan dibenci oleh manusia sehingga mereka tidak akan dilalaikan untuk berlomba mencari bangkai, sedangkan dunia menjadikan manusia lalai dan tertipu karena perhiasannya menyilaukan hati yang dipenuhi cinta dunia. Maka jadikanlah dunia ini sebagai tempat perlombaan kita mencari pahala akhirat dan keridlaan Allah Azza wa Jalla, sambil mencari harta yang halal dan menggunakan harta itu untuk mendulang pahala sebesar-besarnya dan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dahulu, kaum mukminin sibuk berlomba mencari pahala akhirat. Abu Dzar radhiallahu’anhu berkata,” Sesungguhnya beberapa orang dari shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ”Wahai Rosulullah, orang-orang kaya telah pergi membawa pahala banyak ; mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka…” (HR. Muslim).[1]

Subhanallah! mereka iri kepada orang kaya bukan karena mempunyai materi kekayaan yang tidak mereka miliki, namun iri karena orang kaya dapat berinfak dan shadaqah sementara mereka tidak bisa, sehingga mereka tidak meraih pahala besar seperti yang diraih oleh orang kaya.

Memang itulah tempat perlombaan kaum mukminin, maka selayaknya bagi seorang muslim untuk memikirkan masa depannya di hari akhirat. Karena harta dan anak-anak pada hari itu tidak bermanfaat kecuali orang yang membawa hati yang selamat, membawa pahala besar agar dapat menyelamatkan dirinya dari api neraka.

Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.
Artikel http://www.CintaSunnah.com

*********************************************************************

Akibat Niatyang Rusak

            Niat yang rusak berakibat fatal bagi seorang hamba, karena tempat niat adalah di hati dan hati adalah raja untuk anggota badan, bila ia baik maka seluruh anggota akan baik dan bila ia buruk maka seluruh anggota badan akan buruk sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antara akibat buruk niat yang rusak adalah :

1.      Tidak Sah Ibadahnya.

Telah kita bahas di bab pertama bahwa niat adalah syarat sahnya amal, keabsahan sebuah amal amat tergantung kepada niat. Bila kita perhatikan ada tiga sebab batalnya amal ditinjau dari sisi niat, yaitu :

Pertama: Kehilangan salah satu dari syarat sah niat menjadikan amal tersebut tidak sah. Seperti orang yang berazam (berniat kuat) untuk memutuskan sebuah ibadah, maka ibadahnya batal dan tidak sah, atau orang yang tidak men-ta’yin (menentukan) niat dalam ibadah yang wajib ditentukan, atau orang yang mempersekutukan niat dalam ibadah yang tidak boleh dipersekutukan sebagaimana telah kita bahas di bab pertama, silahkan pembaca rujuk kembali.

Kedua: Adanya tujuan-tujuan yang dilarang oleh syariat seperti seseorang yang menikahi wanita yang telah ditalaq tiga dengan tujuan agar wanita tersebut menjadi halal kembali untuk suaminya yang pertama, maka pernikahannya tidak sah karena tujuan tersebut dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan wanita tersebut tetap tidak halal untuk suaminya yang pertama sebagaimana telah kita bahas.

Ketiga: Adanya tuduhan atau tanda yang menunjukkan bahwa tujuannya tidak dibenarkan. Seperti orang yang mentalaq istrinya ketika ia sakit menuju kematian, maka talaqnya tidak sah karena disitu ada tanda yang menunjukkan bahwa ia menceraikannya agar istrinya tidak mendapat bagian warisan darinya dan ini adalah perbuatan zalim yang tercela.

2.      Menghapus Amal

Allah Ta’ala mengancam orang yang beribadah dengan niat bukan karena-Nya dengan ancaman yang berat yaitu dihapus amalnya dan mendapatkan api neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ {15} أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ {16}

 “Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan balasan atas pekerjaan mereka di dunia, dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16).

3.      Rusaknya Hati

Niat yang rusak menimbulkan dosa yang memberikan noda-noda hitam di hati sehingga apabila noda hitam tersebut telah memenuhi ruangan hati maka hati pun akan menjadi hitam dan kelam sulit untuk menerima cahaya hidayah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ { كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ }

Seorang hamba apabila melakukan sebuah dosa, akan diberikan di hatinya noda hitam dan jika ia memohon ampun dan bertaubat, maka akan kembali bening hatinya. Jika ia kembali kepada dosa tersebut, maka akan ditambah noda hitamnya sampai memenuhi hatinya. Itulah ron yang disebutkan oleh Allah “Sekali-kali tidak, justru ron telah memenuhi hatinya disebabkan apa yang mereka lakukan.” (HR. At Tirmidzi).[1]

4.      Rusak Pemahamannya

Niat yang rusak akan menimbulkan pemahaman yang rusak, karena apabila seorang hamba mempunyai keinginan untuk memperturutkan hawa nafsunya akan berpengaruh kepada pemahamannya. Ia akan memahami dalil sesuai dengan hawa nafsunya dan ro’yu-nya (logika) sehingga dalil itu tampaknya mendukung perbuatannya namun pada hakikatnya tidak demikian dan ini diketahui oleh orang yang diberikan oleh Allah pemahaman yang dalam dan ilmu yang kuat.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Orang yang buruk pemahamannya dan buruk maksudnya akan jatuh ke dalam macam-macam ta’wil sesuai dengan keburukan pemahaman dan maksudnya, terkadang keduanya berkumpul dan terkadang menyendiri dan apabila keduanya berkumpul akan menimbulkan kebodohan terhadap kebenaran, memusuhi ahlul haq dan menganggap halal apa yang Allah haramkan.”[2]

Ditulis oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.
Artikel http://www.cintasunnah.com

***********************************************************************************************

Perusak-perusak Niat dan Obatnya (02)

3. Penyakit Hati

            Hati adalah segumpal darah yang menentukan anggota badan manusia, jika ia baik maka seluruh tubuhnya akan baik dan jika buruk maka anggota tubuh lainnya pun akan menjadi buruk. Buruknya hati akan menimbulkan keinginan-keinginan yang buruk dan keinginan yang buruk tersebut akan menimbulkan perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, di antara perkara yang dapat merusak niat adalah:

  • Cinta Dunia

Manusia diciptakan oleh Allah dengan tabiat mencintai dunia, Allah Ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ 3

Dihiaskan kepada manusia cinta terhadap apa yang diinginkan berupa wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk berupa emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang.” (QS. Ali Imran: 14).

Cinta dunia yang berlebihan menjadikan manusia lupa akan tujuan hidupnya dengan timbulnya niat meraih kesenangan dunia dari amalan shalihnya, sehingga menjadikan amalannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala dan di akhirat tidak mendapatkan apa-apa kecuali neraka.

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ {15} أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ {16}

Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan balasan atas pekerjaan mereka di dunia, dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16).

Imam Qatadah rahimahullah berkata, “Barang siapa yang niat dan tujuannya hanya mencari dunia, Allah akan memberikan balasan kebaikannya di dunia saja, kemudian ia kembali ke akhirat dengan tanpa membawa pahala sedikit pun, adapun seorang mukmin (yang ikhlas) maka kebaikannya dibalas di dunia dan di akhirat.”[1]

Amalan manusia karena mengharap kehidupan dunia bervariasi di antaranya:

Pertama: amalan shalih yang dilakukan oleh banyak orang dengan mengharapkan keridhaan Allah berupa shadaqah, shalat, berbuat baik kepada manusia dan lain-lain, atau meninggalkan kezaliman dan kemaksiatan yang ia tinggalkan dengan ikhlas karena Allah, namun ia tidak menginginkan pahalanya di akhirat akan tetapi ia menginginkan agar Allah membalasnya dengan dijaga dan ditambah hartanya, dijaga keluarganya, dilanggengkan kenikmatannya, dan ia tidak mempunyai keinginan mencari balasan di surga atau lari dari api neraka, maka orang ini hanya diberikan balasan amalannya di dunia saja sedangkan di akhirat ia tidak mendapat apa-apa. Ini adalah seperti yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Kedua: yang disebutkan oleh Imam Mujahid bin Jabr yaitu amalan shalih yang dicampuri dengan riya’ bukan mencari pahala akhirat, amalan seperti ini lebih berat dan menakutkan dari yang pertama.

Ketiga: amalan shalih yang tujuannya adalah meraih harta, seperti orang yang haji dengan tujuan berbisnis dan bukan karena Allah atau berhijrah karena ada dunia yang ingin ia capai, atau karena wanita yang ingin ia nikahi atau berjihad karena ingin mendapat ghanimah.

Keempat: amal shalih yang diniatkan padanya dua hal; karena Allah dan karena ingin meraih keinginan dunia, maka hukumnya untuk yang lebih kuat. [2]

Kewajiban seorang hamba adalah menyelamatkan dirinya dari tipu daya setan ini dengan memahami hakikat kehidupan dunia yang fana dan tidak kekal, kesenangannya adalah menipu dan kemewahannya tidak berharga di sisi Allah sedikit pun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا أَعْطَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةً مِنْ مَاءٍ.

Kalaulah dunia itu berharga di sisi Allah seharga sayap nyamuk, Allah tidak akan memberi minum orang kafir setegukpun.” (HR. Ibnu Abi Syaibah).[3]

Oleh karena itu, Allah mengingatkan kita tentang hakikat kehidupan dunia dalam ayat yang banyak agar manusia ingat bahwa dunia bukanlah tujuan kehidupan seorang hamba dan bukan sesuatu yang kekal, Allah Ta’ala berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِب وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي اْلأَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَاالْحَيَاةُ الدُّنْيَآ إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

 “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid: 20).

  • Cinta Pujian dan Ketenaran

Yang paling ditakutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umatnya adalah penyakit riya’ beliau bersabda,

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ يَوْمَ تُجَازَى الْعِبَادُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ بِأَعْمَالِكُمْ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan kepada kalian adalah syirik kecil.” Mereka berkata, “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Riya, Allah akan berfirman kepada mereka pada hari manusia dibalas amalan mereka “Pergilah kepada orang yang kalian harapkan pujian di dunia dan lihatlah apakah kalian mendapatkan pahala dari mereka!!” (HR. Ahmad).[4]

Penyakit ini sangat merusak niat seorang hamba dan menjadikannya terombang-ambing di lautan yang tak bertepi, ia telah memposisikan dirinya sebagai orang yang pertama kali dilemparkan ke dalam api neraka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya orang yang pertama kali diadzab pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid, lalu ia didatangkan menghadap Allah. Allah menyebutkan nikmat-Nya kepadanya dan ia pun mengakuinya. Allah berfirman, “Apa yang engkau amalkan dengannya?” Ia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang agar disebut pemberani dan telah dikatakan padamu.” Lalu orang itu diperintahkan agar diseret dengan wajahnya sampai dilemparkan ke dalam api neraka. Dan orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Alquran, ia didatangkan menghadap Allah. Allah menyebutkan nikmat-Nya kepadanya dan ia pun mengakuinya. Allah berfirman, “Apa yang engkau amalkan dengannya?” Ia menjawab, “Aku mempelajari ilmu dan membaca Alquran karena Engkau.” Allah berfirman, “Kamu dusta, akan tetapi kamu mempelajari ilmu agar disebut ulama dan membaca Alquran agar disebut qori dan telah dikatakan demikian kepadamu.” Lalu orang itu diperintahkan agar diseret dengan wajahnya sampai dilemparkan ke dalam api neraka. Dan orang yang Allah luaskan rezekinyanya dan diberi segala macam harta. Lalu ia didatangkan menghadap Allah. Allah menyebutkan nikmat-Nya kepadanya dan ia pun mengakuiya. Allah berfirman, “Apa yang engkau amalkan dengannya?” Ia menjawab, “Tidak ada satu pun jalan yang Engkau sukai untuk diinfakkan padanya, kecuali aku telah menginfakkannya karena Engkau.” Allah berfirman, “Kamu dusta, akan tetapi kamu berbuat itu agar disebut dermawan dan telah dikatakan demikian kepadamu.” Lalu orang itu diperintahkan agar diseret dengan wajahnya sampai dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim).[5]

Niat menjadi rusak dengan adanya riya, karena ia mengharapkan selain keridhaan Allah Ta’ala sehingga ia berhak mendapatkan sanksi dari Allah Ta’ala. Seorang hamba wajib bersungguh-sungguh untuk berjuang melawannya dengan memohon perlindungan kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya dan menjihadi dirinya agar senantiasa ikhlas dalam beribadah.

  • Tamak kepada Harta dan Kedudukan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa tamak kepada harta dan kedudukan lebih berbahaya dari pada dua ekor serigala lapar, beliau bersabda,

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

Tidaklah dua serigala lapar dilepaskan kepada seekor kambing lebih berbahaya dari rakusnya seseorang kepada harta dan kedudukan melalui agamanya.” (HR. Tirmidzi).[6]

Karena orang yang rakus kepada harta dan kedudukan seringkali menjadikan pelakunya melecehkan batasan-batasan Allah Ta’ala, tidak peduli apakah jalan yang ditempuhnya halal atau haram, bahkan ia pun berani memusuhi hamba-hamba Allah yang shalih bila ternyata menjadi aral untuknya dalam meraih dunia yang ia inginkan. Lebih-lebih rakus terhadap kedudukan, ia lebih berbahaya daripada rakus terhadap harta, karena pelakunya mendapatkan kelezatan lebih dari sekedar harta namun juga kehormatan dan ketundukan manusia kepadanya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk meminta jabatan, beliau bersabda,

لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

Janganlah engkau meminta jabatan, karena sesungguhnya jika engkau diberikan jabatan karena memintanya, maka engkau tidak akan dibantu namun diserahkan pada dirimu, dan jika engkau diberi jabatan karena engkau tidak memintanya maka engkau akan dibantu (oleh Allah).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan yang lebih berat lagi adalah orang yang mencari kedudukan dunia melalui agamanya, dimana ia membela kepentingan dirinya di balik kedok agama, celakanya lagi ia berdalih dengan kaidah-kaidah syariat untuk membenarkan dirinya, sehingga agama menjadi permainan hawa nafsunya. Cobalah engkau lihat berapa banyak bid’ah dihalalkan untuk mencari suara lalu berdalih bahwa ini adalah keadaan darurat atau mashlahatnya besar atau seribu alasan lainnya, sunnah pun dilecehkan bahkan dianggapnya sebagai batu sandungan yang dapat menghalangi jalannya. Allahul musta’an

Al Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Telah menjadi jelas bahwa cinta harta dan kedudukan dan rakus kepada keduanya dapat merusak agama seseorang sehingga tidak tersisa darinya kecuali apa yang Allah kehendaki sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan asal cinta harta dan kedudukan adalah cinta dunia, dan asal cinta dunia adalah mengikuti hawa nafsu. Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Dari mengikuti hawa nafsu timbullah cinta dunia, dan dari cinta dunia timbullah cinta harta dan kedudukan, dan dari cinta harta dan kedudukan timbullah menghalalkan apa-apa yang haram.”[7]

4. Fitnah Syubhat dan Syahwat

Syubhat dan syahwat adalah dua penyakit yang sangat merusak niat, adanya bid’ah dalam niat adalah akibat syubhat dan niat yang tidak ikhlas adalah akibat syahwat, dua macam fitnah ini dikumpulkan dalam sebuah ayat,

 كَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالاً وَأَوْلاَدًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلاَقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُم بِخَلاَقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِن قَبْلِكُم بِخَلاَقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أَوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“(Keadaan orang munafik dan musyrikin) seperti orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat dari pada kamu dan lebih banyak harta dan anak-anaknya. Maka mereka telah menikmati bagiannya dan kamu telah menikmati bagianmu sebagaimana orang-orang sebelum kamu menikmati bagiannya dan kamu tenggelam mempercakapkan (kepada hal-hal yang bathil) sebagaimana mereka tenggelam mempercakapkannya.” (QS. At Taubah: 69).

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Dan kamu telah menikmati bagianmu, maksudnya kamu menikmati bagianmu dari dunia dan syahwatnya. Dan kamu tenggelam mempercakapkan, maksudnya tenggelam mempercakapkan kebatilan yaitu syubhat. Allah Ta’ala mengisyaratkan dalam ayat ini kepada apa yang dapat merusak hati dan agama berupa bersenang-senang dengan syahwat dan tenggelam dalam kebatilan, karena rusaknya agama dapat terjadi dengan adanya keyakinan yang batil atau beramal tidak sesuai dengan ilmu yang shahih.”[8]

Adapun obat syubhat adalah dengan mencari ilmu yang shahih dan memurnikan mutaba’ah terhadap Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berhukum dengannya dalam perkara besar maupun kecil dari urusan agama ini. Dan obat syahwat adalah dengan menumbuhkan rasa takut kepada Allah Ta’ala dan siksaan-Nya yang pedih serta memahami tentang hakikat kehidupan dunia ini sebagaimana telah kita sebutkan.

-bersambung insya Allah-
Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.
Artikel http://www.cintasunnah.com

[1] Tafsir ibnu Katsir 4/217.

[2] Taisirul ‘Azizil Hamid Syarah Kitab Tauhid, Hal. 404.

[3] Musnad ibnu Abi Syaibah, 2:424 no.963 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam Silsilah Shahihah, no.686.

[4] Musnad Ahmad, 5:428 no. 23680 lihat Silsilah Shahihah Syaikh Al Bani no 951.

[5] Muslim 3:1513 no 1905.

[6] At Tirmidzi no.2376 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam Shahih Targhib no 1710.

[7] Ibnu Rajab, Syarah Ma Dzibaani Jaa’iaani, Hal. 71

[8] Ibnu Qayyim, Ighotsatulahafan, Hal. 535.

**********************************************************************************

Perusak-perusak Niat dan Obatnya

1. Kebodohan.

Kebodohan adalah musibah yang besar menimpa kehidupan manusia, dan menjadikannya terjerumus kedalam berbagai macam penyimpangan dan kesesatan, seorang penya’ir berkata[1],

 Kebodohan sebelum maut adalah kematian untuk pemiliknya.

Dan badan mereka menjadi kuburan sebelum dikuburkan.

Roh mereka tidak tenang di dalam jasad mereka.

Tidak ada tempat kembali walaupun hari nusyur.

            Berilmu tentang hukum suatu ibadah adalah syarat sah niat sehingga ketika seorang hamba beribadah ia dapat menentukan (ta’yin) niatnya dengan benar, maka bila ia tidak mengetahui hukum sebuah ibadah; wajibkah atau sunahkah, tentu ia tidak dapat menta’yinnya dengan benar terlebih jika ibadah tersebut disyaratkan padanya menta’yin niat sebagaimana telah kita jelaskan di bab yang pertama.

Oleh karena itu kewajiban setiap hamba adalah mempelajari hukum-hukum ibadah yang hendak ia laksanakan, agar ia dapat beribadah kepada Allah dengan benar dan sesuai dengan apa yang disyari’atkan oleh Allah melalui lisan Rosul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Ilmu adalah obat penawar penyakit bodoh, maka menuntut ilmu adalah kewajiban bagi orang yang terkena penyakit seperti itu.

2. Waswas setan.

Setan berusaha mengggoda anak Adam dan menjerumuskannya kepada jurang Hawiyah, dengan berbagai macam cara ia menggoda manusia diantaranya adalah dengan waswas. Ibnu Qayim rahimahullah berkata: “Tempat niat adalah hati dan tidak hubungan dengan lisan sama sekali, oleh karena itu tidak pernah dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pula dari para shahabat melafadzkan niat tidak pula kita mendengar mereka menyebutkanya. Bacaan-bacaan yang diada-adakan sebelum bersuci dan shalat ini menjadi makanan empuk setan untuk menggoda ahli waswas, setan menahan mereka dan menyiksanya sehingga engkau lihat salah seorang dari mereka mengulang-ulang niat dan menyusahkan dirinya untuk melafadzkannya, padahal ia bukan bagian dari shalat sama sekali”.[2]

Syaikhul islam rahimahullah berkata: “Diantara mereka ada yang melakukan sepuluh bid’ah yang tidak pernah dilakukan oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak juga seorangpun dari shahabat, yaitu mengucapkan: “Audzubillahi minasyaithanirrajim nawaitu ushalli shalatadzuhri faridlotalwaqti adaan lillahi Ta’ala imaman au ma’muman arba’a raka’at mustaqbilal qiblah”. Yang artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, aku berniat melakukan shalat dzuhur kewajiban waktu itu karena Allah Ta’ala sebagai imam atau makmum 4 raka’at dengan menghadap kiblat”. Lalu ia menguatkan anggota tubuhnya, mengkerutkan dahinya, dan menegangkan urat lehernya, kemudian berteriak bertakbir seakan-akan meneriaki musuh. Padahal bila ia memeriksa sepanjang umur Nabi Nuh ‘Alaihissalam apakah perbuatan tersebut pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau seorang saja dari shahabat tentu ia tidak akan mendapatkannya kecuali jika ia mau berani berdusta. Kalaulah hal itu baik tentu mereka telah mendahului dan menunjukkan kita kepadanya”.[3]

Untuk menyingkap talbis iblis ini kita katakan kepada orang yang terkena waswas tersebut: “Jika engkau ingin menghadirkan niat maka niat itu sebenarnya telah hadir karena engkau telah berdiri untuk melaksanakan kewajiban dan itu adalah niat sedangkan niat tempatnya di hati bukan lafadz[4], maka orang yang duduk untuk berwudlu berarti ia telah berniat wudlu, orang yang berdiri untuk shalat berarti ia telah berniat shalat, dan orang yang berakal akan berfikir bahwa semua perbuatan ibadah tidak mungkin dilakukan dengan tanpa niat, karena niat itu selalu menyertai perbuatan manusia yang bersifat ikhtiyari (dibawah kehendak manusia) tidak perlu bersusah payah untuk menghasilkannya, bahkan bila ia ingin mengosongkan perbuatannya yang bersifat ikhtiyari tentu ia tidak akan mampu, kalaulah Allah memberi beban untuk berwudlu tanpa niat tentu ia adalah beban yang tak akan ada orang yang mampu melakukannya, maka jika keadaannya demikian lalu mengapa harus bersusah payah untuk menghasilkan niat ?! dan jika ia merasa ragu apakah terhasilkan niatnya atau tidak maka ini adalah macam penyakit gila, karena pengetahuan manusia tentang dirinya adalah perkara yang bersifat yakin.[5]

Dihikayatkan dari ibnu ‘Aqil bahwa ada seseorang bertemu dengannya dan bertanya: “Aku mencuci anggota tubuhku namun aku merasa belum mencucinya, dan aku bertakbir namun aku merasa belum bertakbir ? ibnu ‘Aqil rahimahullah menjawab: “Kalau begitu tinggalkan shalat karena tidak wajib bagimu”. Ada orang berkata: “Mengapa engkau mengatakan demikian ? beliau menjawab: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Diangkat pena dari orang gila sampai ia waras”. Dan orang yang bertakbir namun ia merasa belum bertakbir bukanlah orang yang berakal, sedangkan orang gila tidak wajib sholat”.[6]

-bersambung insya Allah-
Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.
Artikel http://www.cintasunnah.com

********************************************************************************************

Nasihat Rasulullah kepada Abdullah bin Amru

Nasihat Rasulullah kepada Abdullah bin Amru

Posted on May 25, 2012 in Nasihat | 7 comments

Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma berkata,

بَيْنَمَا نَحْنُ حَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ ذَكَرَ الْفِتْنَةَ فَقَالَ إِذَا رَأَيْتُمْ النَّاسَ قَدْ مَرِجَتْ عُهُودُهُمْ وَخَفَّتْ أَمَانَاتُهُمْ وَكَانُوا هَكَذَا وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ قَالَ فَقُمْتُ إِلَيْهِ فَقُلْتُ كَيْفَ أَفْعَلُ عِنْدَ ذَلِكَ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاكَ قَالَ الْزَمْ بَيْتَكَ وَامْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَخُذْ بِمَا تَعْرِفُ وَدَعْ مَا تُنْكِرُ وَعَلَيْكَ بِأَمْرِ خَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ عَنْكَ أَمْرَ الْعَامَّةِ

“Ketika kami berada disekitar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau menyebutkan fitnah, beliau bersabda, ‘Apabila kamu melihat manusia telah merusak janji mereka dan telah berkurang amanahnya, mereka seperti dan beliau menyilangkan jari jemarinya’. Abdullah berkata, Aku berdiri kepadanya dan berkata, “Bagaimana sikapku pada waktu itu? Allah jadikan aku sebagai tebusanmu.” Beliau menjawab, ‘Tinggallah di rumahmu, tahan lisanmu, ambil yang engkau ketahui dan tinggalkan yang engkau ingkari, dan hendaklah engkau jaga urusan dirimu secara khusus dan tinggalkanlah urusan orang-orang umum”. (HR Abu Dawud dan lainnnya).[1]

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad berkata menjelaskan, “(Tinggallah di rumahmu) artinya jauhilah fitnah.

(Tahan lisanmu) artinya jangan berbicara dengan sesuatu yang tidak layak, dan jangan menjadi sebab terjadinya fitnah tidak dengan perkataan dan tidak pula dengan perbuatan.

(Ambil yang engkau ketahui dan tinggalkan yang engkau ingkari) artinya yang engkau ketahui kebenarannya ambillah dan yang engkau ketahui kemungkarannya tinggalkan dan jauhilah.

(Dan hendaklah engkau jaga urusan dirimu secara khusus) artinya bersungguh-sungguhlah menyelamatkan dirimu dan janganlah ikut binasa bersama orang-orang yang binasa sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama: “Janganlah seseorang tertipu dengan banyaknya orang-orang yang berbuat keburukan dan jangan pula merasa sedih dengan sedikitnya orang-orang yang meniti jalan kebenaran.”

(Dan tinggalkanlah urusan orang-orang umum) artinya apabila amal kita tidak bermanfaat untuk mereka sedikit pun, namun jika bermanfaat dan manusia dapat mengambil manfaat dari nasihatmu, perintahmu kepada yang ma’ruf dan laranganmu dari yang munkar, maka janganlah engkau tinggalkan mereka”.[2]

Ini adalah nasihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma dan nasihat ini amat kita rasakan manfaatnya terutama untuk kita yang hidup di akhir zaman ini ketika janji telah tidak ditepati dan telah hilang amanah dan amat sedikit orang-orang yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala.


[1] Syaikh Al Bani berkata, “Hadis hasan shahih”. Lihat shahih Targhib no.2744.

[2] Syarah Sunan Abu Dawud, 25:181-182.

******************************************************************

Menikmati Pekerjaan = Menikmati Hidup

Sudah hampir empat bulan di sini, sudah terasa bosan dan suntuk karena selama empat bulan hanya disini-sini saja tanpa pernah pergi kemana-mana. Kalau tidak di lapangan ya di kantor ataupun di kamar, perasaan dunia ini begitu sempit. Sebenarnya ini bukanlah yang pertama jauh dari rumah dan keluarga, dan kalau dihitung juga baru hampir empat bulan tidak pulang kerumah, malah biasanya bisa enam bulan atau setahun sekali baru pulang kerumah, tetapi ada hal yang membuat saya merasa berbeda dengan proyek-proyek sebelumnya. Saya adalah seorang karyawan diperusahaan kontraktor yang berpindah-pindah dari satu proyek ke proyek yang lain dan kebetulan saat ini sedang mengerjakan proyek di Papua Nugini. Tidak seperti di proyek-proyek sebelumnya, setelah pulang kerja bisa jalan keluar sekedar cari tempat ngopi ataupun bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, di proyek yang sekarang saya tidak bisa kemana-mana, setelah bekerja baik di lapangan atau di kantor ya langsung istirahat di kamar. Mungkin karena kami tinggal di sebuah kapal (accomodation barge) ataupun karena memang regulasinya yang mengharuskan kami untuk selalu stay di kapal dan hanya bisa pergi keluar kalau waktunya pulang cuti.Tetapi bukan maksudnya untuk mengeluh, malahan saya merasa bersyukur dengan apa yang saya kerjakan dan dapat sekarang. Mungkin teman-teman blogger yang lain juga menyadari bahwa sebagian besar waktu kita dihabiskan untuk bekerja, dari bangun tidur sampai ke tidur lagi yang ada hanya bekerja. So kapan kita bisa menikmati hidup ini?

Bekerja adalah bagian dari hidup kita, menikmati pekerjaan kita dengan ikhlas juga bagian dari menikmati hidup ini

Di tempat kami tinggal saya ada seorang roomboy yang berasal dari Philipina. Saya nilai dia adalah orang yang sangat rajin bekerja, jam 5 pagi sudah harus bangun untuk membantu menyiapkan sarapan penghuni kapal dan jam 10 malam baru bisa beristirahat dari semua aktivitasnya seperti membersihkan seluruh kamar-kamar yang ada di kapal dan juga mengurus laundry, dan setiap hari dia laukan seperti itu.Suatu ketika ada temannya yang pulang cuti ke negaranya, saya menanyakan kepadanya kapan dia pulang untuk cuti, tetapi dia menjawab bahwa dia tidak akan mengambil cutinya dan akan tetap di sini sampai selesainya proyek ini walaupun sebenarnya dia juga sangat ingin cepat pulang untuk bertemu dengan keluarganya . Saya sempat bingung mendengar jawabanya,tetapi setelah tahu alasan dia bertahan di sini saya baru paham bahwa dia mempunyai motif yang sangat kuat yaitu tanggung jawab yang besar untuk keluarganya. Tanggung jawab seorang suami untuk isterinya dan juga seorang ayah untuk anaknya yang harus memberikan nafkah untuk membiayai kehidupan mereka.

Saat saya, ataupun teman-teman blogger berada pada situasi seperti ini, perlu pemahan dan pengertian lebih mendalam lagi tentang situasi ini. Kita perlu menanamkan dalam diri kita bahwa bekerja adalah ibadah. Dengan memiliki motif bekerja adalah ibadah maka sesuatu yang berat akan terasa ringan.Dengan motif tersebut akan timbul keikhlasan dalam diri kita untuk bekerja sehingga segala sesuatu yang kita kerjakan dapat kita nikmati. Berkumpul dan meluangkan waktu demi keluarga adalah hal yang penting, tetapi kalau tidak dapat kita lakukannya karena sesuatu yang juga demi kepentingan keluarga tercinta maka itu juga lebih penting.

Merasakan kebahagian bersama orang-orang yang kita cintai adalah salah satu impian dari kehidupan kita, tetapi membahagiakan orang-orang yang kita cintai adalah hal yang perlu kita wujudkan dalam kehidupan ini.

Trinity Elbe, 2nd floor, 213 room

Lat :07 36 11S Long : 144 08 10E

Menjadi Seperti Kopi

Kamu kerja apa sekarang? Kerja dimana? Wuih enak ya kerja kayak kamu, bisa pergi kemana-mana, gratis lagi.Sekarang saya tanya, emang ada kerjaan yang enak?

Gak ada kan?? Semua pekerjaan itu gak ada enaknya, yang enak itu duduk ongkang-ongkang tapi duit ngalir terus (maksudnya jadi bos J).

Sebenarnya tergantung dari diri kita masing-masing bagaimana kita menikmati pekerjaan kita. Kalau kita merasa enjoy saja dengan apapun pekerjaan kita dan selalu bersyukur atas semua hasilnya insya Allah pekerjaan kitapun akan terasa nikmat walau sebenarnya gak mudah dan banyak kesulitan-kesulitannya.

Tetapi bagaimana kita menyikapi pekerjaan, yang suasananya saja tidak mendukung? Banyak masalah yang ditemui.

Memang kadang kita menjumpai saat-saat dimana kita merasa pekerjaan yang kita tekuni tidak seperti yang kita harapkan. Mungkin kita ahli dalam sebuah bidang, tetapi tidak selamanya pekerjaan itu mudah untuk kita. Bahkan pekerjaan juga tidak selamanya nyaman untuk kita walaupun kita sendiri memiliki basic ilmu yang kompeten dalam bidang pekerjaan tersebut. Mungkin juga orang-orang disekitar kita tidak memperlakukan kita seperti yang diharapkan dan hasil dari pekerjaan tersebut juga kurang memuaskan.

So, apa yang harus kita perbuat?

Kita ambil sebuah contoh kecil yang ada dikehidupan kita sehari-hari. Untuk membuat secangkir kopi yang nikmat, apa saja yang kita butuhkan? Secangkir air panas, bubuk kopi dan gula secukupnya. Semakin panas airnya, semakin terasa nikmat kopinya bukan? Bagaimana jika dari ketiga bahan tersebut ada yang kurang? Yang jelas minuman yang dihasilkan tidaklah sempurna. Apakah nikmat meminum kopi yang dibuat dengan air dingin? Tentu tidak kan? Begitu juga apakah nikmatnya meminum kopi yang hanya terbuat dari secangkir air panas dan satu sendok bubuk kopi? Sebagian orang bisa menikmati kopi pahit, tetapi kebanyakan orang kurang menyukai kopi pahit.

Kita analogkan contoh diatas sebagai berikut:

Air panas adalah tantangan atau masalah yang di hadapi dalam pekerjaan kita.

Gula sebagai bekal pengetahuan kita tentang bidang pekerjaan kita atau juga bakat yang kita miliki.

Bubuk kopi adalah diri kita atau sikap kita terhadap tantangan atau masalah pekerjaan kita.

Masalah dan tantangan pekerjaan yang kita hadapi bagaikan air panas yang mendidih. Jika kita masuk kedalamnya maka akan terpengaruhlah kita karena masalah tersebut dan bisa terseret berlarut-larut tanpa ada penyelesaian ataupun juga kita akan berlari untuk menghindari kesulitan-kesulitan tersebut karena kita merasa tidak sanggup menghadapinya. Tetapi jika kita masuk sebagai bubuk kopi maka airlah yang terpengaruh olah bubuk kopi tersebut, semakin panas airnya semakin nikmat rasanya. Untuk menghadapi masalah dan tantangan pekerjaan kita harus bisa membuat sesuatu yang baik dari tantangan tersebut. Kita jadikan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi sebagai media pembelajaran untuk lebih baik lagi. Kita pelajari hal-hal baru dari tantangan dan masalah yang dihadapi yang mungkin tidak pernah kita dapatkan dibangku sekolah atau kuliah sebelumnya. Dengan mempelajari hal-hal baru maka kita akan mendapatkan ilmu baru dan pengalaman-pengalaman baru yang bisa kita gunakan dalam lingkungan pekerjaan kita, sehingga kitapun akan tumbuh dan berkembang dengan pengalaman-pengalaman kita. Semakin banyak tantangan yang dihadapi semakin banyak juga ilmu dan pengalaman yang didapat.

Seperti kopi yang semakin panas airnya semakin harum dan nikmat rasanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s