PAKAIAN ORANG LAKI – LAKI SESUAI SUNNAH

Hukum Celana Di Bawah Mata Kaki
Mungkin sebagian orang sering menemukan di sekitarnya orang-orang yang celananya di atas mata kaki (cingkrang). Bahkan ada yang mencemoohnya dengan menggelarinya sebagai ‘celana kebanjiran’. Pembahasan kali ini –insya Allah- akan sedikit membahas mengenai cara berpakaian seperti ini apakah memang pakaian ini merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau bukan.

Penampilan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Celana Setengah Betis

Perlu diketahui bahwasanya celana di atas mata kaki adalah sunnah dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dikhususkan bagi laki-laki, sedangkan wanita diperintahkan untuk menutup telapak kakinya. Kita dapat melihat bahwa pakaian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berada di atas mata kaki sebagaimana dalam keseharian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Al Asy’ats bin Sulaim, ia berkata :

سَمِعْتُ عَمَّتِي ، تُحَدِّثُ عَنْ عَمِّهَا قَالَ : بَيْنَا أَنَا أَمْشِي بِالمَدِيْنَةِ ، إِذَا إِنْسَانٌ خَلْفِي يَقُوْلُ : « اِرْفَعْ إِزَارَكَ ، فَإِنَّهُ أَنْقَى» فَإِذَا هُوَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّمَا هِيَ بُرْدَةٌ مَلْحَاءُ) قَالَ : « أَمَّا لَكَ فِيَّ أُسْوَةٌ ؟ » فَنَظَرْتُ فَإِذَا إِزَارَهُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ

Saya pernah mendengar bibi saya menceritakan dari pamannya yang berkata, “Ketika saya sedang berjalan di kota Al Madinah, tiba-tiba seorang laki-laki di belakangku berkata, ’Angkat kainmu, karena itu akan lebih bersih.’ Ternyata orang yang berbicara itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata,”Sesungguhnya yang kukenakan ini tak lebih hanyalah burdah yang bergaris-garis hitam dan putih”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah engkau tidak menjadikan aku sebagai teladan?” Aku melihat kain sarung beliau, ternyata ujung bawahnya di pertengahan kedua betisnya.” (Lihat Mukhtashor Syama’il Muhammadiyyah, hal. 69, Al Maktabah Al Islamiyyah Aman-Yordan. Beliau katakan hadits ini shohih)

Dari Hudzaifah bin Al Yaman, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang salah satu atau kedua betisnya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَذَا مَوْضِعُ الإِزَارِ فَإِنْ أَبِيْتَ فَأَسْفَلَ فَإِنْ أَبِيْتَ فَلاَ حَقَّ لِلإِْزَارِ فِي الْكَعْبَيْنِ

“Di sinilah letak ujung kain. Kalau engkau tidak suka, bisa lebih rendah lagi. Kalau tidak suka juga, boleh lebih rendah lagi, akan tetapi tidak dibenarkan kain tersebut menutupi mata kaki.” (Lihat Mukhtashor Syama’il Al Muhammadiyyah, hal.70, Syaikh Al Albani berkata bahwa hadits ini shohih)

Dari dua hadits ini terlihat bahwa celana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berada di atas mata kaki sampai pertengahan betis. Boleh bagi seseorang menurunkan celananya, namun dengan syarat tidak sampai menutupi mata kaki. Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai teladan terbaik bagi kita dan bukanlah professor atau doctor atau seorang master yang dijadikan teladan. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab [60] : 21)

Menjulurkan Celana Hingga Di Bawah Mata Kaki

Perhatikanlah hadits-hadits yang kami bawakan berikut ini yang sengaja kami bagi menjadi dua bagian. Hal ini sebagaimana kami ikuti dari pembagian Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam kitab beliau Syarhul Mumthi’ pada Bab Satrul ‘Awrot.

Pertama: Menjulurkan celana di bawah mata kaki dengan sombong

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ

“Allah tidak akan melihat kepada orang yang menyeret pakaianya dalam keadaan sombong.” (HR. Muslim no. 5574).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الَّذِى يَجُرُّ ثِيَابَهُ مِنَ الْخُيَلاَءِ لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya orang yang menyeret pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 5576)

Masih banyak lafazh yang serupa dengan dua hadits di atas dalam Shohih Muslim.

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat nanti, tidak dipandang, dan tidak disucikan serta bagi mereka siksaan yang pedih.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tiga kali perkataan ini. Lalu Abu Dzar berkata,

خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Mereka sangat celaka dan merugi. Siapa mereka, Ya Rasulullah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

“Mereka adalah orang yang isbal, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim no. 306). Orang yang isbal (musbil) adalah orang yang menjulurkan pakaian atau celananya di bawah mata kaki.

Kedua: Menjulurkan celana di bawah mata kaki tanpa sombong

Dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ

“Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka.” (HR. Bukhari no. 5787)

Dari hadits-hadits di atas terdapat dua bentuk menjulurkan celana dan masing-masing memiliki konsekuensi yang berbeda. Kasus yang pertama -sebagaimana terdapat dalam hadits Ibnu Umar di atas- yaitu menjulurkan celana di bawah mata kaki (isbal) dengan sombong. Hukuman untuk kasus pertama ini sangat berat yaitu Allah tidak akan berbicara dengannya, juga tidak akan melihatnya dan tidak akan disucikan serta baginya azab (siksaan) yang pedih. Bentuk pertama ini termasuk dosa besar.

Kasus yang kedua adalah apabila seseorang menjulurkan celananya tanpa sombong. Maka ini juga dikhawatirkan termasuk dosa besar karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam perbuatan semacam ini dengan neraka.

Perhatikan bahwasanya hukum di antara dua kasus ini berbeda. Tidak bisa kita membawa hadits muthlaq dari Abu Huroiroh pada kasus kedua ke hadits muqoyyad dari Ibnu Umar pada kasus pertama karena hukum masing-masing berbeda. Bahkan ada sebuah hadits dari Abu Sa’id Al Khudri yang menjelaskan dua kasus ini sekaligus dan membedakan hukum masing-masing. Lihatlah hadits yang dimaksud sebagai berikut.

إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلاَ حَرَجَ – أَوْ لاَ جُنَاحَ – فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِى النَّارِ مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ

“Pakaian seorang muslim adalah hingga setengah betis. Tidaklah mengapa jika diturunkan antara setengah betis dan dua mata kaki. Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka. Dan apabila pakaian itu diseret dalam keadaan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti).” (HR. Abu Daud no. 4095. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Al Jami’ Ash Shogir, 921)

Jika kita perhatikan dalam hadits ini, terlihat bahwa hukum untuk kasus pertama dan kedua berbeda.

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa jika menjulurkan celana tanpa sombong maka hukumnya makruh karena menganggap bahwa hadits Abu Huroiroh pada kasus kedua dapat dibawa ke hadits Ibnu Umar pada kasus pertama. Maka berarti yang dimaksudkan dengan menjulurkan celana di bawah mata kaki sehingga mendapat ancaman (siksaan) adalah yang menjulurkan celananya dengan sombong. Jika tidak dilakukan dengan sombong, hukumnya makruh. Hal inilah yang dipilih oleh An Nawawi dalam Syarh Muslim dan Riyadhus Shalihin, juga merupakan pendapat Imam Syafi’i serta pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh Abdullah Ali Bassam di Tawdhihul Ahkam min Bulughil Marom -semoga Allah merahmati mereka-.

Namun, pendapat ini kurang tepat. Jika kita melihat dari hadits-hadits yang ada menunjukkan bahwa hukum masing-masing kasus berbeda. Jika hal ini dilakukan dengan sombong, hukumannya sendiri. Jika dilakukan tidak dengan sombong, maka kembali ke hadits mutlak yang menunjukkan adanya ancaman neraka. Bahkan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri dibedakan hukum di antara dua kasus ini. Perhatikan baik-baik hadits Abu Sa’id di atas: Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka. Dan apabila pakaian itu diseret dalam keadaan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti). Jadi, yang menjulurkan celana dengan sombong ataupun tidak, tetap mendapatkan hukuman. Wallahu a’lam bish showab.

Catatan: Perlu kami tambahkan bahwa para ulama yang menyatakan makruh seperti An Nawawi dan lainnya, mereka tidak pernah menyatakan bahwa hukum isbal adalah boleh kalau tidak dengan sombong. Mohon, jangan disalahpahami maksud ulama yang mengatakan demikian. Ingatlah bahwa para ulama tersebut hanya menyatakan makruh dan bukan menyatakan boleh berisbal. Ini yang banyak salah dipahami oleh sebagian orang yang mengikuti pendapat mereka. Maka hendaklah perkara makruh itu dijauhi, jika memang kita masih memilih pendapat yang lemah tersebut. Janganlah terus-menerus dalam melakukan yang makruh. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua.

Sedikit Kerancuan, Abu Bakar Pernah Menjulurkan Celana Hingga di Bawah Mata Kaki

Bagaimana jika ada yang berdalil dengan perbuatan Abu Bakr di mana Abu Bakr dahulu pernah menjulurkan celana hingga di bawah mata kaki?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah mendapat pertanyaan semacam ini, lalu beliau memberikan jawaban sebagai berikut.

Adapun yang berdalil dengan hadits Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, maka kami katakan tidak ada baginya hujjah (pembela atau dalil) ditinjau dari dua sisi.

Pertama, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu mengatakan, ”Sesungguhnya salah satu ujung sarungku biasa melorot kecuali jika aku menjaga dengan seksama.” Maka ini bukan berarti dia melorotkan (menjulurkan) sarungnya karena kemauan dia. Namun sarungnya tersebut melorot dan selalu dijaga. Orang-orang yang isbal (menjulurkan celana hingga di bawah mata kaki, pen) biasa menganggap bahwa mereka tidaklah menjulurkan pakaian mereka karena maksud sombong. Kami katakan kepada orang semacam ini : Jika kalian maksudkan menjulurkan celana hingga berada di bawah mata kaki tanpa bermaksud sombong, maka bagian yang melorot tersebut akan disiksa di neraka. Namun jika kalian menjulurkan celana tersebut dengan sombong, maka kalian akan disiksa dengan azab (siksaan) yang lebih pedih daripada itu yaitu Allah tidak akan berbicara dengan kalian pada hari kiamat, tidak akan melihat kalian, tidak akan mensucikan kalian dan bagi kalian siksaan yang pedih.

Kedua, Sesungguhnya Abu Bakr sudah diberi tazkiyah (rekomendasi atau penilaian baik) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sudah diakui bahwa Abu Bakr tidaklah melakukannya karena sombong. Lalu apakah di antara mereka yang berperilaku seperti di atas (dengan menjulurkan celana dan tidak bermaksud sombong, pen) sudah mendapatkan tazkiyah dan syahadah (rekomendasi)?! Akan tetapi syaithon membuka jalan untuk sebagian orang agar mengikuti ayat atau hadits yang samar (dalam pandangan mereka, pen) lalu ayat atau hadits tersebut digunakan untuk membenarkan apa yang mereka lakukan. Allah-llah yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus kepada siapa yang Allah kehendaki. Kita memohon kepada Allah agar mendapatkan petunjuk dan ampunan. (Lihat Fatawal Aqidah wa Arkanil Islam, Darul Aqidah, hal. 547-548).

Marilah Mengagungkan dan Melaksanakan Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barangsiapa yang menta’ati Rasul, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah.” (QS. An Nisa’ [4] : 80)

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An Nur [24] : 63)

وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. An Nur [24] : 54)

Hal ini juga dapat dilihat dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu seolah-olah inilah nasehat terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati para sahabat radhiyallahu ‘anhum,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Berpegangteguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban. At Tirmidizi mengatakan hadits ini hasan shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targhib wa At Tarhib no. 37)

Salah seorang khulafa’ur rosyidin dan manusia terbaik setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ إِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ

”Aku tidaklah biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang.” (Lihat Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa atsar ini shohih)

Sahabat Sangat Perhatian dengan Masalah Celana

Sebagai penutup dari pembahasan ini, kami akan membawakan sebuah kisah yang menceritakan sangat perhatiannya salaf (shahabat) dengan masalah celana di atas mata kaki, sampai-sampai di ujung kematian masih memperingatkan hal ini.

Dalam shohih Bukhari dan shohih Ibnu Hibban, dikisahkan mengenai kematian Umar bin Al Khaththab setelah dibunuh seseorang ketika shalat. Lalu orang-orang mendatanginya di saat menjelang kematiannya. Lalu datanglah pula seorang pemuda. Setelah Umar ngobrol sebentar dengannya, ketika dia beranjak pergi, terlihat pakaiannya menyeret tanah (dalam keadaan isbal). Lalu Umar berkata,

رُدُّوا عَلَىَّ الْغُلاَمَ

“Panggil pemuda tadi!” Lalu Umar berkata,

ابْنَ أَخِى ارْفَعْ ثَوْبَكَ ، فَإِنَّهُ أَبْقَى لِثَوْبِكَ وَأَتْقَى لِرَبِّكَ ،

“Wahai anak saudaraku. Tinggikanlah pakaianmu! Sesungguhnya itu akan lebih mengawetkan pakaianmu dan akan lebih bertakwa kepada Rabbmu.”

Jadi, masalah isbal (celana menyeret tanah) adalah perkara yang amat penting. Jika ada yang mengatakan ‘kok masalah celana saja dipermasalahkan?’ Maka cukup kisah ini sebagai jawabannya. Kita menekankan masalah ini karena salaf (shahabat) juga menekankannya. -Semoga kita dimudahkan dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah-

http://arfenjokam.blogspot.com/2011/01/pakaian-orangg-laki-laki-sesuai-sunnah.html

***********************************

Apakah Memakai Pakaian Sampai Setengah Betis Merupakan Ghuluw Dan Ekstrim Dalam Menerapkan Sunnah?

Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلاَ حَرَجَ  أَوْ لاَ جُنَاحَ  فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِى النَّارِ مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ

Pakaian seorang muslim adalah hingga setengah betis. Tidaklah mengapa jika diturunkan antara setengah betis dan kedua mata kaki. Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka dan barang siapa menjulurkan pakaiannya dengan sombong, Alloh tidak akan melihat kepadanya.” [HR. Abu Dawud nomor 4093 dan Ibnu Majah nomor 3573. Dishohihkan Syaikh al-Albani dalam Shohih Sunan Abi Dawud 2/518]

Imam Abu Bakar Muhammad bin al-Walid al-Fahri ath-Thurthusyi rohimahulloh dalam kitabnya Sirojul Muluk wal Khulafa’ meriwayatkan:

ولما دخل محمد بن واسع سيد العباد في زمانه رحمه الله على بلال بن أبي بردة أمير البصرة وكان ثوبه إلى نصف ساقيه قال له بلال ما هذه الشهرة يا ابن واسع فقال له ابن واسع أنتم شهرتمونا هكذا كان لباس من مضى وإنما أنتم طولتم ذيولكم فصارت السنة بينكم بدعة وشهرة انتهى

Ketika Muhammad bin Wasi’[*] rohimahulloh -ketika itu ia adalah tokoh di masanya- datang kepada Bilal bin Abi Bardah -pemimpin Bashroh- dengan pakaiannya yang sampai setengah betis, Bilal berkata: “Ini adalah syuhroh wahai Ibnu Wasi’!“, maka Ibnu Wasi’ pun berkata: “Kalian yang berbuat syuhroh terhadap kami, beginilah pakaian orang-orang terdahulu, kalian saja yang memanjangkan bagian bawah pakaian kalian sehingga yang sunnah menjadi bid’ah dan syuhroh diantara kalian.” [al-Madkhol 1/131]

[*] Muhammad bin Wasi’ (W. 123 H) rohimahulloh adalah seorang shighor tabi’in yang tsiqoh dari thobaqot ke-5, al-Imam adz-Dzahabi dalam as-Siyar mensifatinya: “al-Imam ar-Robbani al-Qudwah“. Biografi selengkapnya lihat Siyar A’lamin Nubala 6/119.

Berikut ini fatwa syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi hafidzohulloh berkenaan dengan masalah memakai pakaian sampai setengah betis:

***

Pertanyaan: Apa hukum isbal pada pakaian? Dan apakah memakai pakaian sampai setengah betis merupakan ghuluw dan ekstrim dalam menerapkan sunnah?

Jawaban: Ghuluw itu pada perkara yang menyelisihi sunnah, yakni jika seseorang berpakaian sesuai sunnah yang diajarkan Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dengan petunjuk yang mutlak dan mengajari orang tertentu, beliau alaihish sholatu was salam bersabda:

إزرة المسلم إلى نصف الساقين

“Pakaian seorang muslim adalah sampai pertengahan betis”

Dan Abdulloh bin Umar lewat sedangkan pakaiannya panjang, maka Rosululloh berkata kepadanya:

”يا عبد الله ، ارفع ثوبك ” فرفعه ، فقال : ” زد ” ، فرفعه ، فقال : إلى أين ؟ قال : ” إلى أنصاف الساقين ” .

Wahai Abdulloh! Angkatlah pakaianmu!”, lalu ia pun mengangkatnya. Beliau berkata lagi: “lagi!” maka ia mengangkatnya lagi dan berkata: “sampai mana?” Rosululloh menjawab: “sampai pertengahan betis.

Dan ada pula hadits Abu Sa’id dan hadits Ibnu Abbas serta hadits dari banyak shohabat, semuanya berisi pengajaran ini yang menunjukkan perhatian Rosululloh pada masalah ini…

إزرة المؤمن إلى نصف ساقيه

“pakaian seorang mukmin adalah sampai pertengahan betis”,

ما أسفل الكعبين فهو في النار

“apa yang di bawah mata kaki tempatnya di neraka”.

بينما رجل يجر إزاره من الخيلاء خُسف به فهو يتجلجل في الأرض إلى يوم القيامة

“Ada seorang laki-laki menjulurkan pakaiannya karena sombong lalu ia pun ditenggelamkan ke bumi sampai hari kiamat”,

لا ينظر الله إلى من جر ثوبه خيلاء

“Alloh tidak melihat lelaki yang menjulurkan pakaiannya karena sombong”.

Jika seorang laki-laki menjulurkan pakaiannya karena sombong, maka ini tidak ada khilaf di antara ulama bahwa perbuatan ini termasuk dosa besar. Jika ia memakai pakaiannya, menjulurkannya dengan sombong dan menjulurkannya ke bawah mata kaki, maka tidak ada khilaf di antara ulama bahwa ia adalah pelaku dosa besar.

Dan jika ia menurunkan pakaiannya ke bawah mata kaki dan –yang menurutnya- tanpa sombong, maka sesungguhnya sebagian ulama berpendapat bahwa ini bukanlah kesombongan atau nash-nash ancaman tidak bisa diterapkan kepadanya, dan ia (walaupun pakaiannya lebar, tapi melebihi mata kaki) tidak terkena ancaman ini kecuali kalau ia melakukannya dengan sombong.

Akan tetapi, orang yang memperhatikan hadits-hadits yang ada dalam masalah ini akan melihat bahwa pakaian yang melebihi mata kaki tempatnya di neraka, walaupun tanpa sombong. Karena Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Pakaian yang di bawah mata kaki”, maka sesungguhnya perbuatan semata-mata menurunkan pakaian ke bawah mata kaki ini termasuk kesombongan.

Dan penguat dalam masalah ini adalah bahwa siapa yang mengenakan pakaian sampai setengah betis, berarti ia mengikuti sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, maka ia tidak boleh diingkari atau dicela. Dan jika ia menurunkannya dari pertengahan betis sampai di atas mata kaki atau sampai mendekati mata kaki, maka ini tidak mengapa. Dan orang yang menyalahkannya dan keras terhadapnya adalah keliru.

Aku melihat bahwa dalam masalah ini sering diremehkan (tafrith) -dan aku tidak mengatakan berlebihan (ifroth)-, aku melihat perkara ini diremehkan oleh orang-orang yang menentang orang yang melaksanakan sunnah Rosululloh alaihish sholatu was salam, ini adalah bentuk peremehan darinya. Maka hendaknya ia dan yang selainnya untuk mengamalkan sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa salam.

Orang yang mengenakan pakaian sampai pertengahan betis janganlah diingkari.

Ia melihat orang-orang yang memakai pakaian di atas lutut, sedangkan ia tidak mengingkarinya. Padahal inilah yang seharusnya diingkari. Tapi ia malah mengingkari mereka yang berpegang teguh mengamalkan sunnah Rosululloh alaihish sholatu was salam dalam masalah pakaian mereka.

Maka wahai akhi, kesimpulannya: bahwa memakai kain dan pakaian itu ada tiga keadaan:

– Sampai pertengahan betis, ini merupakan sunnah yang berpahala.

– Dan sampai di atas kedua mata kaki, ini hukumnya mubah, tidak berpahala dan tidak diazab.

– Sampai di bawah mata kaki, ini tempatnya di neraka jika dengan kesombongan, dan merupakan dosa besar jika dilakukan tanpa kesombongan. Yakni, aku mengecualikan orang yang dengan sengaja menjulurkan pakaiannya di bawah mata kaki, menurutku ia tidaklah selamat dari sifat sombong, khususnya jika ia telah mengetahui petunjuk Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam.

Dan pada kesempatan ini pula, banyak orang yang jika memakai celana panjang atau sirwal ia menjulurkannya di bawah mata kaki. Mengapa wahai akhi? Bukankah engkau adalah seorang muslim? Dan engkau mendengar banyak petunjuk Rosululloh alaihish sholatu wa sallam yang memerintahkan agar pakaianmu minimal di atas mata kaki?

Jika engkau tidak menginginkan pahala dan ganjaran dalam mengamalkan petunjuk Rosul alaihish sholatu was salam, maka setidaknya engkau mengamalkan yang selamat dari ancaman dan selamat dari sifat orang-orang sombong –wal iyadzubillah– yang mana mereka itu layak dimasukkan ke neraka, kita berlindung kepada Alloh dari yang seperti itu.

Maka kami menasihati saudara-saudara kami kaum muslimin: hendaknya mereka berpegang teguh dengan sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dalam tata cara makan, minum, berpakaian dan janganlah bertasyabbuh dengan orang-orang musyrik dan orang-orang sombong.

Dan jika ia memakai celana panjang, janganlah ia bertasyabbuh dengan musuh-musuh Islam, karena ini akan menambah pelanggaran selain pelanggaran karena menjulurkannya dengan sombong. Dan umumnya celana panjang ini yang dibuat dengan model orang-orang eropa yang panjangnya sampai di bawah mata kaki. Jika engkau taqlid kepada musuh-musuh Islam, maka setidaknya engkau peringan dengan menjadikan pakaianmu setidaknya di atas mata kaki, barokallohu fiikum.

Yang penting: orang yang mengenakan pakaian sampai pertengahan betis, yang mana mereka mengamalkannya karena mengharapkan wajah Alloh dan menerapkan perintah Rosululloh alaihish sholatu was salam serta menjauhi ancaman yang disebutkan oleh Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam tentang isbal, orang seperti ini tidak boleh diingkari dan tidak boleh pula mengatakan bahwa ia memakai libas syuhroh, tidak boleh mengatakan orang ini ekstrim, dan tidak boleh pula mengatakan orang ini ghuluw.

Ghuluw itu dalam perkara yang menyelisihi sunnah, wahai akhi. Dan jika seseorang mendapat hidayah mengenal sunnah dan menerapkan sunnah Rosululloh alaihish sholatu was salam, maka termasuk nasihat dan petunjuk yang bathil jika engkau mengatakan padanya “engkau telah berbuat ghuluw”, engkaulah yang bathil dalam memberi nasihat, dan engkau tidaklah mengetahui nasihat (yang benar), kita memohon taufiq kepada Alloh.

***

Sumber: Fatawa Fadhilatusy Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi hafidzohulloh (jilid 2 / hal. 458)

Diterjemahkan dari: http://sahab.net/forums/showthread.php?t=374832

Tambahan: Dengarkan pula rekaman penjelasan syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab al-Aqil hafidzohulloh di [link ini]

***

السؤال :
ما حكم إسبال الثياب ؟ وهل اللباس إلى نصف الساق غلو وتنطع في السنة ؟الجواب :
الغلو في مخالفة السنة ، يعني إذا لبس الإنسان على السنة وكما أرشد إلى ذلك الرسول ـ عليه الصلاة والسلام ـ أرشد إرشادا مطلقا ، وأرشد أشخاصا معينين إلى هذا ـ عليه الصلاة والسلام ـ وقال :” إزرة المسلم إلى نصف الساقين ” ـ عليه الصلاة والسلام ـ
ومر عبد الله بن عمر رضي الله عنهما وثوبه طويل ، فقال له :” يا عبد الله ، ارفع ثوبك ” فرفعه ، فقال : ” زد ” ، فرفعه ، فقال : إلى أين ؟ قال : ” إلى أنصاف الساقين ” .
وجاءنا من حديث أبي سعيد وحديث ابن عباس ، وحديث عدد كثير من الصحابة كلها في هذه الإرشادات التي تبين اهتمام الرسول بهذا الأمر … ” إزرة المؤمن إلى نصف ساقيه ” ، ” ما أسفل الكعبين فهو في النار ” . ” بينما رجل يجر إزاره من الخيلاء خُسف به فهو يتجلجل في الأرض إلى يوم القيامة ” ، ” لا ينظر الله إلى من جر ثوبه خيلاء ” .
فإذا جر ثوبه خيلاء فهذا لا خلاف فيه بين العلماء أنه من الكبائر ، إذا لبس إزاره وجره خيلاء ونزل تحت الكعبين فلا خلاف بين العلماء أنه مرتكب الكبيرة .
وإذا نزل ثوبه تحت الكعبين وليس ذلك بخيلاء في زعمه ، فإن بعض العلماء يرى أن هذا ليس من الخيلاء أو لا تنطبق عليه نصوص الوعيد ، وأنه ـ وإن كان ثوبه يعني سابغا ونزل تحت الكعبين ـ لا يصدق عليه هذا الوعيد إلا إذا جر ثوبه خيلاء .
ولكن المتأمل لهذه الأحاديث الواردة في هذا الباب يرى أن ما نزل عن الكعبين فهو في النار ولو لم يكن خيلاء ، لأن الرسول قال :” ما نزل عن الكعبين ” فمجرد نزول الثوب أو إنزال الشخص ثوبه تحت الكعبين فإن فعله هذا من المخيلة .
والشاهد في هذا الباب : أن من يلبس إلى أنصاف ساقيه فهذا ممتثل لسنة رسول الله ـ عليه الصلاة والسلام ـ فلا ينكر على هذا ولا يلام ، وإذا نزل عن نصف الساق إلى ما فوق الكعبين إلى قرابة الكعبين فإن هذا لا بأس به ، ولا حرج عليه ، والذي يطالبه ويشدد عليه يكون مخطئا .
فأرى أن المسألة فيها يعني تفريط ، لا أقول إفراط ، أرى فيها تفريطا ممن يعترض على هذا الذي يطبق سنة رسول الله ـ عليه الصلاة والسلام ـ هذا تفريط منه ، فيلزمه هو وغيره أن يطبق سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم .
فالذي يلبس إلى أنصاف الساقين لا يُعترض عليه .
ترى بعض الناس يلبسون ثيابا إلى فوق الركبتين ولا يعترض هذا المعترض عليهم ، بل يعترض على هؤلاء المتمسكين الذين طبقوا سنة رسول الله ـ عليه الصلاة والسلام ـ في لباسهم .
فيا أخي الخلاصة : أن لبس الإزار والثوب له ثلاث حالات :
إلى نصف الساق سنة يثاب عليها .
وإلى ما فوق الكعبين مباح ، لا يثاب ولا يعاقب .
وإلى ما تحت الكعبين فهو في النار ، فإن كان خيلاء فهو كبيرة من الكبائر ، وإن كان بغير خيلاء .
يعني أنا أستبعد الذي يتعمد تفصيل ثوبه تحت الكعبين ما أظنه يسلم من الخيلاء ، خصوصا إذا كان يعلم توجيهات الرسول الكريم ـ عليه الصلاة والسلام ـ .
وبهذه المناسبة كثير من الناس تراه إذا فصّل بنطلونا أو سروالا يفصّله تحت الكعبين ، لماذا يا أخي ، ألست مسلما ، وتسمع توجيهات الرسول ـ عليه الصلاة والسلام ـ الكثيرة الملحة على أن يكون ثوبك على الأقل فوق الكعبين ؟
فأنت إذا كنت لا تريد ثوابا ولا أجرا في توجيهات الرسول ـ عليه الصلاة والسلام ـ فقم على الأقل بالعمل الذي تسلم به من الوعيد وتسلم فيه ـ والعياذ بالله ـ من صفات المستكبرين الذين يستحقون النار والعياذ بالله .
فننصح إخواننا المسلمين : أن يلتزموا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم في أكلهم وشربهم ولباسهم ، فلا يتشبهون بالمشركين ولا بالمستكبرين المختالين .
فإذا لبس بنطلونا فلا يتشبه بأعداء الإسلام فهذا يزيده جرما آخر أنه يجره خيلاء ، وغالبا هذه البناطيل التي تفصّل على طريقة الأوربيين من صفاتها أن تكون تحت الكعبين ، إذا كنت تقلد أعداء الإسلام فعلى الأقل خفف عن نفسك وخل هذا الثوب على الأقل فوق الكعبين ، بارك الله فيكم .
المهم : أن الذي يلبس إلى نصف الساقين مريدا بذلك وجه الله ، ممتثلا لأمر رسول الله ـ عليه الصلاة والسلام ـ متجنبا للوعيد الذي توعده رسول الله صلى الله عليه وسلم على الإسبال أن هذا لا يجوز الإعتراض عليه ، ولا يجوز أن يقال إنه يلبس لباس شهرة ، ولا يجوز أن يقال إن هذا متنطع ، ولا يجوز أن يقال إن هذا غال .
الغلو في مخالفة سنة رسول الله يا أخي ، وهذا إذا اهتدى للسنة وطبق سنة رسول الله ـ عليه الصلاة والسلام ـ فمن الباطل في النصح والتوجيه أن تقول له إنك غال ، أنت المبطل في النصيحة ، وما عرفت النصيحة ، نسأل الله التوفيق .المصدر :
فتاوى فضيلة الشيخ ربيع بن هادي المدخلي حفظه الله [ ج 2 / ص : 458 ] .

http://tholib.wordpress.com/2010/06/25/apakah-memakai-pakaian-sampai-setengah-betis-merupakan-ghuluw-dan-ekstrim-dalam-menerapkan-sunnah/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s