Pakaian Sesuai Sunnah

Seseorang berkata kepada rekannya yang memakai songkok nasional warna hitam, kemeja, dan
sarung saat menghadiri ta’lim : ‘Sudah lama ngaji kok pakaiannya
seperti orang awam
’. Dengan kemasan sedikit berbeda, ada orang berkata : ‘Kayak
sururiy saja ente ini
’. Jadi terbayang di benak saya, seragam resmi apakah
yang mesti dipakai bagi orang yang ingin ngaji Salafiy ?. Peci (haji)
putih ?. Gamis Saudi/Pakistan ?. Tapi sebelumnya, mari kita dengarkan rekaman
penjelasan Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah berikut :
.

http://www.youtube.com/watch?v=V6Nb0vf8C6o

Kurang
lebih terjemahannya adalah :
Pertanyaan
:
ما حكم من صلى بالناس
إمامًا وليس على رأسه غطاء ؟
“Apa hukum seorang yang shalat mengimami manusia tanpa memakai penutup di kepalanya
(peci atau imamah) ?.
Beliau
rahimahullah menjawab :
لا حرج في ذلك ؛
لأن الرأس ليس من العورة ، إنما السنة أن يُصلى بالإزار والرداء ؛ لقول النبي صلى
الله عليه وسلم : لا يصلي أحدكم في الثوب الواحد ليس على عاتقه منه شيء
فإذا صلى مكشوف
الرأس فلا حرج في ذلك ، لكن إذا أخذ زينته واستكمل زينته يكون أفضل ؛ لقول الله
سبحانه : يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
فإذا استكمل
الزينة التي اعتادها في بلاده مع جماعته ، وكان من عادتهم أنهم يسترون الرؤوس فهذا
أفضل ، أما إذا كان في بلاده ليس من عادتهم هذا ، بل من عادتهم كشف الرؤوس فلا بأس
أن يصلي بهم مكشوف الرأس
“Tidak mengapa akan hal itu, karena kepala bukan termasuk aurat. Yang termasuk
sunnah hanyalah shalat dengan memakai sarung dan baju, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam
: ‘Janganlah salah seorang di antara kalian shalat
dengan memakai satu pakaian saja, dimana tidak ada sesuatu pun yang menutupi
pundaknya
’.
Apabila ia shalat tanpa memakai penutup kepala, maka tidak mengapa. Akan tetapi apabila
ia mengenakan perhiasannya dan menyempurnakannya (dengan mengenakan tutup
kepala), maka hal itu afdlal (lebih utama), berdasarkan firman Allah subhaanahu
wa ta’ala
: ‘Wahai Bani Aadam, gunakanlah perhiasan kalian setiap kali
menuju masjid
’ (QS. Al-A’raaf : 31). Oleh karena itu, apabila ia
menyempurnakan perhiasan yang biasa berlaku pada negerinya bersama jama’ahnya,
dimana termasuk di antara kebiasaan mereka (penduduk negeri) adalah menutup
kepala; maka hal ini afdlal (lebih utama dilakukan). Sebaliknya, jika
kebiasaan yang berlaku dalam negerinya tidak seperti itu, bahkan termasuk
kebiasaan mereka adalah tidak memakai penutup kepala; maka tidak mengapa shalat
bersama mereka dengan keadaan kepala terbuka (tanpa memakai penutup)” [selesai
– lihat juga transkripnya di :
http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=5&View=Page&PageNo=1&PageID=2907].
Asy-Syaikh
Muhammad Khaliil Harraas rahimahullah pernah ditanya :
ما حكم الشرع
فيمن يصلي عاري الرأس ؟
“Apa hukum syar’iy orang yang shalat dengan kepalanya terbuka (tanpa penutup)?”.
Beliau
rahimahullah menjawab :
لا بأس أن يصلي الرجل
عاري الرأس ؛ فإن الرأس ليست من العورة التي أمرنا الله بسترها ، ولم يكن الرسول صلى
الله عليه وسلم يلتزم تغطية الرأس في الصلاة ، بل كان كثيرا ما يصلي عاري الرأس ، وكان
بعض الأئمة يستحب الصلاة عاري الرأس ، ويرى أنه أبلغ في التعبد
“Tidak
mengapa seorang laki-laki shalat kepalanya terbuka, karena kepala bukan
termasuk aurat yang Allah perintahkan kepada kita untuk menutupnya. Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam
juga tidak melazimkan menutup kepala dalam shalat. Bahkan
beliau sering shalat dalam keadaan kepala terbuka. Dan sebagian imam menyukai
shalat dengan kepala terbuka, dan mereka berpendapat hal tersebut lebih sampai
pada ta’abbud” [An-Nibraas min Fataawaa Muhammad Khaliil Harraas;
Daarul-Aatsaar].
Apabila
kepala bukan merupakan aurat yang mesti ditutup saat shalat, maka memakai
penutup kepala (peci, ‘imaamah/surban, ghutrah, dan yang
semisalnya) tidaklah diwajibkan. Jika dalam shalat tidak diwajibkan, maka di
luar shalat hukumnya (tentu) lebih ringan.
Jika
demikian, benarkah kemudian jika memakai dan tidak memakai peci dianggap
sebagai barometer kesalafian seseorang ? – sementara kita mengetahui tidak
wajib memakai peci. Jika jawabannya adalah ‘tidak’, bukankah lebih layak untuk tidak
membicarakan masalah warna peci dalam hal identitas kesalafian seseorang ?.
Kemudian,…..
pernah ditanyakan kepada Asy-Syaikh Ibnul-Utsaimiin rahimahullah :
لبس العمامة هل
هي سنة ثبتت عن الرسول صلى الله عليه وسلم ؟
“Memakai
‘imaamah, apakah ia termasuk sunnah yang tetap dari Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam
?”.
Beliau
rahimahullah menjawab :
لا ، لباس
العمامة ليس بسنة ، لكنه عادة ، والسنة لكل إنسان أن يلبس ما يلبسه الناس ما لم
يكن محرماً بذاته ، وإنما قلنا هذا ؛ لأنه لو لبس خلاف ما يعتاده الناس لكان ذلك
شهرة ، والنبي صلى الله عليه وسلم نهى عن لباس الشهرة ، فإذا كنا في بلد يلبسون
العمائم لبسنا العمائم ، وإذا كنا في بلد لا يلبسونها لم نلبسها ، وأظن أن بلاد
المسلمين اليوم تختلف ، ففي بعض البلاد الأكثر فيها لبس العمائم ، وفي بعض البلاد
بالعكس ، والنبي صلى الله عليه وسلم كان يلبس العمامة ؛ لأنها معتادة في عهده ،
ولهذا لم يأمر بها ، بل نهى عن لباس الشهرة ، مفيداً إلى أن السنة في اللباس أن
يتبع الإنسان ما كان الناس يعتادونه ، إلا أن يكون محرماً……
“Tidak. Pakaian ‘imaamah
itu bukan termasuk sunnah, akan tetapi termasuk kebiasaan (‘aadah).
Yang sunnah bagi setiap orang adalah ia memakai pakaian yang dipakai oleh
orang-orang selama tidak diharamkan secara dzatnya. Kami hanyalah mengatakan
hal ini karena jika ia memakai pakaian yang menyelisihi kebiasaan orang-orang,
maka itu termasuk syuhrah. Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam
melarang pakaian syuhrah. Apabila kita berada di negeri yang penduduknya
mempunyai kebiasaan memakai ‘imaamah, maka kita memakai ‘imaamah.
Dan apabila kita berada di negeri yang penduduknya tidak biasa memakai ‘imaamah,
kita pun tidak memakainya. Dan aku menduga negeri kaum muslimin saat ini
berbeda-beda keadaannya. Sebagian negeri banyak yang memakai ‘imaamah,
dan sebagian negeri lainnya sebaliknya. Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa
sallam
biasa memakai ‘imaamah, karena ia biasa dipakai di jaman
beliau. Oleh karena itu, beliau tidak memerintahkan manusia untuk memakainya.
Namun di sisi lain, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang
memakai pakaian syuhrah. Hal ini memberikan faedah bahwa sunnah dalam
pakaian adalah seseorang mengikuti apa yang biasa orang-orang memakainya,
kecuali jika pakaian tersebut diharamkan….. “ [Pertemuan Terbuka, 23/60].
Asy-Syaikh
‘Abdurrahmaan As-Suhaim pernah ditanya tentang hukum memakai pakaian ala Punjabiy bagi wanita yang menyerupai pakaian model Pakistan. Beliau menjawab :
إذا لم يكن من
لباس أهل البلد فيُمنع منه ؛ لأنه يدخل في حُكم لِباس الشُّهْرَة ، وهو اللباس
الذي تشتهر به المرأة أو تتميّز به عن غيرها.
وقد قال عليه الصلاة
والسلام : من لبس ثوب شهرة في الدنيا ألبسه الله ثوب مذلة يوم القيامة . رواه
الإمام أحمد وأبو داود
“Apabila
pakaian tersebut bukan termasuk pakaian penduduk negeri, maka terlarang
memakainya, karena ia masuk dalam hukum pakaian syuhrah. Yaitu pakaian dimana
seorang wanita menjadi masyhur dengannya atau berbeda sendiri dari wanita
lainnya.
Nabi
shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : ‘Barangsiapa yang
memakai pakaian ketenaran (syuhrah) di dunia, niscaya Allah akan kenakan padanya
pakaian kehinaan pada hari kiamat’
. Diriwayatkan oleh Al-Imaam Ahmad dan
Abu Daawud” [sumber : http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=59333].
Lihatlah
atribut pakaian beberapa orang ulama berikut :
1.
Asy-Syaikh
Al-Albaaniy rahimahullah (Yordania) :

2.
Asy-Syaikh
Dr. Ihsaan Ilahi Dhaahir rahimahullah (Pakistan) :
3.
Asy-Syaikh
Muhammad bin Ismaa’iil Al-Muqaddam hafidhahullah (Mesir) :
Apakah
mereka akan keluar dari lingkup salafiy hanya karena tidak ‘berpakaian salafiy’
sesuai standar yang ditentukan oleh sebagian orang ?.
Sama
halnya,…. seandainya ada seseorang yang berpakaian muslim nasional seperti di
bawah dan ingin ngaji salafiy, akankah ia diharuskan menanggalkan pakaiannya tersebut lalu menggantinya
dengan pakaian ala Saudi atau Pakistan ?.

Wallaahul-musta’aan.
sumber : http://abul-jauzaa.blogspot.com/

SUDAHKAH PAKAIAN KITA SESUAI SUNNAH..?

Bagian 1

Bismillahirrahmanirrahim,, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita sekalian..

Seorang dokter, akan dikenali lewat pakaiannya. Pun demikian dengan seorang polisi, akan dikenali lewat pakaiannya pula, tanpa diberitahu sekalipun.. bahkan secara otomatis kita akan segan ketika melihat penampilan polisi yang terlihat gagah dan berwibawa dibalik pakaiannya.. demikianlah, karena pakaian menunjukkan identitas siapa diri kita, dan pakaian pun memunculkan wibawa bagi pemakainya.

Maka tentunya, sebagai seorang muslim, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memakai pakaian yang menunjukkan identitas dan memunculkan wibawa seorang muslim yakni pakaian yang syar’i, pakaian yang sesuai sunnah. Selain itu terkandung banyak faedah jika kita berusaha memakai pakaian yang sesuai sunnah tersebut, diantaranya menjadi penyebab turunnya rahmat Allah, menjadi penyebab terkabulnya doa (disebutkan bahwa salah satu penyebab tidak terkabulnya doa adalah memakai pakaian yang haram, tidak sesuai sunnah, Lihat hadits Arbain AnNawawi no 10,) bagi akhwat, maka akan melindungi dirinya dari fitnah, karena fitnah timbul dari terbukanya aurat sehingga menarik hawa nafsu lawan jenis.

Ini juga sekaligus merupakan bantahan, bagi orang atau khususnya wanita yang ketika disuruh untuk memakai jilbab kemudian berkata: “saya mau menjilbabi hati saya dulu, baru nanti kalau dirasa sudah siap lahir bathin, maka saya akan mengenakan jlbab yang sesungguhnya” atau perkataan2 lain yang disusun selembut mungkin. Maka sungguh itu hanya alasan saja yang timbul dari hawa nafsu yang intinya adalah menolak perintah Allah. Ya, karena menutup aurat adalah kewajiban bagi yang merasa dirinya muslim. Banyak ayat al qur’an mengenai perintah ini..

Maka, mari kita mengenal seperti apa pakaian yang disyariatkan islam dan sesuai sunnah serta kesalahan-kesalahannya. Tentunya, kemudian sebisa mungkin kita mengamalkannya.. berikut diantara kesalahan dalam pakaian laki-laki:

  1. Isbal adalah memanjangkan kain/celana/sarung hingga melebihi mata kaki.

Larangan ini bersifat umum, baik celana, sarung, gamis, jubah atau pakaian lainnya. Ironisnya masalah ini adalah permasalahan yang sering dianggap sepele oleh umat islam. Padahal sungguh ini adalah perkara yang amat berat di hadapan Allah.

“Kain yang memanjang hingga dibawah matakaki, tempatnya dineraka” (HR. Bukhori)

Hadits ini bersifat mutlak dan umum, kain yang memanjang hingga dibawah mata kaki, baik itu karena unsur sombong atau tanpa unsur sombong maka yang memakainya, kakinya dibakar dineraka.. Adapun yang disertai unsur sombong maka ancamannya lebih berat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Pada hari kiamat nanti, Allah tidak melihat dengan pandangan kasih sayang kepada orang yang menyeret kainnya ketika didunia karena sombong”( Mutafaq ‘alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Allah tidak melihat kepada dia, tidak berbicara kepada dia, tidak membersihkan dia dan untuknya adzab yang pedih, yaitu orang yang memanjangkan kainnya sampai melebihi matakaki dengan niat sombong”

Seandainya kita mau jujur, orang yang memanjangkan kainnya melebihi mata kaki pastilah sombong, seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, riwayat Abu Daud dan At Tirmidzi ini,

“Tinggikanlah kainmu hingga separuh betis, jika engkau enggan maka hingga diatas mata kaki, dan jauhilah olemu memanjangkan kain dibawah mata kaki, karena ia termasuk kesombongan, dan sungguh Allah tidak menyukai kesombongan”.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan bahwa kain yang dibawah matakaki adalah termasuk kesombongan. Walaupun berkata bahwa tidak ada niat untuk sombong, namun perbuatannya tersebut otomatis merupakan kesombongan. Dan hadits ini adalah hadits pemungkas bagi orang yang berpendapat bahwa memanjangkan kain hingga matakaki boleh jika tanpa niat sombong. Fakta menunjukkan, realita berbicara, lelaki yang memakai kain hingga dibawah matakaki pada umumnya adalah untuk bergaya, yang didalamnya ada unsur bangga diri, ada unsur sombong, buktinya jika ada orang yang memendekkan kainnya hingga diatas mata kaki dianggap kampungan, dibilang kolot atau ketinggalan zaman, ketinggalan mode.. padahal itu diperintahkan syariat. tentunya ini berlaku untuk laki-laki, karena wanita diperintahkan menutup ayat hingga seluruh tubuhnya. Namun, subhanallah.. hari ini kita melihat bahwa yang terjadi di umat islam adalah sebaliknya.. laki-laki memakai pakaian panjang hingga menutupi mata kakinya sementara wanita pakaiannya jauh diatas mata kaki.. subhanallah bukankah ini adalah ciriciri datangnya kiamat? Semoga Allah menyelamatkan kita semuanya

2. Memakai pakaian yang tipis dan ketat..

Dalam kaca mata syariat jika bahan pakaian tipis sehingga menampakkan aurat, ketat sehingga menampakkan lekuk-lekuk tubuh maka tidak boleh dikenakan oleh lelaki (apalagi wanita). Bahkan jika laki-laki shalat mengenakan celana ketat, maka shalatnya tidak syah karena tidak menutup aurat secara syar’i.

3. Mengenakan pakaian yang menyerupai wanita,,

Allah menyuruh agar lelaki menjaga sifat kelelakiannya, dan wanita menjaga fitrah kewanitaannya. Maka jika hal itu dilanggar, yang terjadi adalah kerusakan dalam tatanan hidup dimasyarakat.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat laki2 yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki2.. Baik dalam hal pakaian, cara berdandan, sikap, gerak-geriknya dan sejenisnya.

4. mengenakan pakaian modis yang sedang ngetren,,

Rumah mode itu kiblatnya di paris, dan itu kiblatnya orang kafir. Kiblat umat muslim adalah mekahh, bukan di paris. Namun, saat ini sebagian kaum muslim terutama kaum mudanya sering tergila2 dengan pakaian2 yang sedang ngetren dari negeri kafir tersebut.. Yaitu pakaian yang dipakai idolanya seperti pakaian bergambar penyanyi kafir, kelompok musik, atau pakaian bergambar pohon ganja, atau gambar makhluk bernyawa atau yang bergambar slogan2 kotor yang tidak lagi memperhitungkan kehormatan dan kebersihan diri yang biasanya ditulis di punggung.

Dan pada umumnya pemakai pakaian tersebut merasa bangga dengan pakaiannya, atau bermaksud memperoleh popularitas dan pujian..

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam ahmad:

“Orang yang mengenakan pakaian untuk mendapat pujian didunia, maka di hari kiamat Allah akan memberikan pakaian kehinaan..”

Maka hal ini harus benar2 kita perhatikan. Jika Anda cinta orang kafir, kemudian meniru pakaiannya maka silahkan berkumpul dngan orang kafir di neraka nanti.. namun jika anda cinta dan meniru Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka insya Allah akan berkumpul dengannya di surga nanti.

5. mengenakan pakaian yang tidak menutup aurat,

Seperti laki2 yang mengenakan celana pendek yang menampakkan pahanya, yang kebanyakan dilakukan ketika sedang berolahraga sehingga melupakan menutup auratnya. Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat sahabat bernama Ma’mar pahanya tersingkap, kemudian beliau berkata:

“Hai Ma’mar tutupi pahamu, karena paha termasuk aurat”

6. Tidak memperhatikan pakaian ketika masuk masjid,

Sebagian orang yang akan salat berjamaah tidak peduli dengan pakaian yang dikenakannya, bahkan terkadang diluar kepantasan, seperti masuk masjid dengan mengenakan pakaian bergambar, atau pakaian yang tipis dan ketat. Hal ini tidak menunjukkan etika yang baik ketika shalat berjamaah. Karena akan berakibat menyibukkan orang yang sedang shalat. Maka mari kita perhatikan pakaian kita, kita sedang menghadap Allah, karena itu pakailah pakaian yang baik, pakaian yang bagus, pakaian yang indah, dan semprotkanlah minyak wangi. Jangan terbalik, ketika hendak bertemu dengan manusia, kita berusaha tampil sebaik mungkin, namun tatkala hendak bertemu dengan Allah, pencipta kita, kita tidak memperhatikan kelayakan pakaian kita.

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid” (Al a’raf 31..)

7. mengenakan pakaian bergambar makhluk bernyawa,

Pakaian yang bergambar makhluk bernyawa adalah hukumnya haram, baik manusia atau hewan sama saja (tumbuh2an boleh).. Apalagi gambar orang2 kafir.. seperti penyanyi, orang terkenal. Yang harusnya kita berlepas diri dari mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Setiap tukang gambar itu dibakar di neraka”

Dalam satu riwayat, diceritakan bahwa Allah nanti memberi nyawa kepada gambar2 yang dibuat, lalu disuruh menyiksa orang yang membuatnya.

Dan sesungguhnya malaikat tidak akan masuk rumah yang didalamnya ada gambar2 makhluk hidup..

8. Memakai perhiasan dari emas (cincin, kancing jam, rantai), atau pakaian dari kain sutra..

Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat seorang laki2 memakai cincin emas, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian memegang tangan dan membuang cincinnya dan berkata: “Seseorang dari kamu sengaja meletakkan bara api neraka di tangannnya”

Allahu a’lam bishowab, semoga bermanfaat, agar pakaian kita adalah pakaian yang syar’i, pakaian yang benar2 diridhai Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, sehingga menjadi penyebab turunnya rahmatNya sehingga kita hidup bahagia didunia dan akhirat. .

Murojaah ustadz Shaleh

Next: KESALAHAN2 DALAM PAKAIAN WANITA

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari berkata, “Orang muslim yang paling utama adalah orang yang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah ditinggalkan (manusia), maka bersabarlah wahai para pencinta sunnah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), karena sesungguhnya kalian adalah orang yang paling sedikit jumlahnya (di kalangan manusia)” (Dinukil oleh imam al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab “al-Jaami’ li akhlaaqir raawi” (1/168).

http://akucintasunnah.blogspot.com/2011/02/sudahkah-pakaian-kita-sesuai-sunnah.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s