Merajut Mimpi Mengukir Asa

Di bawah bayangan ka’bah, berkumpullah empat orang pemuda. Mereka adalah Mush’ab bin Zubair, Urwah bin Zubair, Abdullah bin Zubair, dan Abdullah bin Umar. Mereka saling bertanya satu sama lain, dengan berkata: “Coba sebutkan angan-anganmu kalian”.

Maka satu persatu dari mereka menyebutkan yang paling diinginkannya.

Abdullah bin Zubair berkata: “Aku ingin menjadi khalifah.”

Urwah bin Zubair berkata: “Sedang aku ingin menjadi seorang ulama.”

Mush’ab bin Zubair tak mau kalah, ia pun berkata: “Kalau aku, aku ingin menjadi gubernur Irak, lalu mempersunting A’isyah binti Thalhah dan juga Sukainah binti Husaen.”

Sedangkan Abdullah bin Umar mengatakan: “Yang aku inginkan adalah ampunan Allah Ta’ala.”

Walhasil, sejarah telah mencatat record perjalanan hidup mereka. Ternyata semuanya berhasil mencapai impian mereka.

Abdullah bin Zubair pernah menjadi khalifah; Urwah bin Zubair terkenal sebagai satu dari tujuh orang ulama Madinah (fuqaha Madinah As Sab’ah); Mus’ab bin Zubair juga bisa menduduki jabatan tertinggi di profinsi Irak serta mempersunting dua gadis idamannya; Sedangkan untuk Abdullah bin Umar, keinginan beliau baru dapat dipastikan di alam sana, semoga Allah Ta’ala melimpahkah ampunanNya kepada beliau sesai seperti harapannya. (kisah ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyah)

Kisah di atas, menceritakan empat sekawan yang merupakan generasi awal umat ini, mereka masih berada di masa terbaik dari perjalanan sejarah Islam.

Dua orang sahabat Nabi dan dua tabi’in ini saling mengungkapkan angan-angan ke sesama mereka. Ternyata, tidak ada salahnya kita berangan-angan dan bermimpi.

Mimpi

Mimpi yang dihasilkan dalam pejaman mata disebut sebagai bunga tidur. Ia datang tidak diundang, perginya pun tanpa pamitan. Seringnya mimpi itu tidak sesuai dengan yang kita angankan. Yah, namanya juga mimpi. Setelah terbangun, semua pergi, entah esok ia akan kembali?

Namun, mimpi yang ingin kita bicarakan disini bukanlah mimpi berrupa bunga tidur, karena kita bukan sedang berdiskusi menguak tabir mimpi.

Tapi, mimpi yang kita maksudkan adalah mimpi di siang bolong, yang muncul dengan mata melotot dan jiwa terbangun. Terserah anda menamakannya apa? Angan-angan, cita-cita, visi, harapan atau apa saja sebutannya. Yang jelas ia masih mimpi, belum terwujud di saat ini.

Tidak ada larangan untuk bermimpi

Selama mimpi itu masih dalam kontek “cita-cita”, tidak keluar dari batas kodrat manusia. Maka silahkan berkreasi. Walaupun menurut pandangan orang lain ini adalah suatu kemustahilan.

Mimpi itu gratis, semua orang bebas untuk bercita-cita dan merajut harapan. Kalau memang demikian, mengapa masih ada yang takut untuk bermimpi? Mengapa ada yang takut untuk menggantung cita-cita setinggi-tingginya?

Silahkan mulai sekarang,pasang visi dalam mainset kita masing-masing, yang menjadi visi arah usaha kita

Agama islam tidak melarang umatnya untuk merajut mimpi. Kita dibolehkan beramal untuk dunia selama hukumnya halal. Kita dibolehkan berencana menyusun masa depan. Bahkan diperintahkan, hendaknya yang kita susun di dunia ini bisa menjadi amalan jariah sebagai investasi kita di akhirat.

Fokuskan cita-cita

Pernahkah ketika anda dulu ditanya apa cita-cita anda, anda menjawab “hidup bahagia” atau “berguna bagi agama dan negara”.

Jawaban ini ada benarnya dan ada kurangnya. Benar, bahwa semua orang ingin hidup bahagia. Tapi cita-cita yang kita maksudkan adalah jalan yang lebih spesifik uantuk menuju ke kebahagiaan itu.

Empat sekawan di kisah di atas, tiga orang di antaranya telah memutuskan cita-cita yang lebih spesifik. Hanya seorang di antara mereka memilih cita-cita yang bersifat global.

Tujuan menfokuskan cita-cita adalah agar kita tahu jalan yang akan kita tempuh; kursi yang akan kita duduki; dan kereta apa yang akan kita naiki.

Kalau kita bercita-cita jadi dokter, sudah tentu fakultas kedokteran yang harus dipilih.

Kalau mau jadi arsitek, kuliahnya pasti di jurusan arsitektur.

Mau jadi bidan, pastinya di akademi kebidanan pendidikannya.

Dan begitulah seterusnya.

Jangan hanya diam setelah bermimpi

Mimpi akan tetap jadi mimpi kosong belaka, bila tidak ada gerakan nyata dari tubuh kita. Ia akan selalu jadi bunga tidur kalau kita tidak beranjak dari kasur.

Kerja…..kerja…..kerja….. itulah yang harus diwujudkan setelah mimpi kita rangkai.

Rasulullah pernah menumbuhkan harapan besar dalam dada para sahabatnya. Beliau pernah menjajikan harta benda negara Romawi dan Persia akan dikuasai oleh kaum muslimin. Harapan ini pun disambut ejekan oleh orang munafik. Seperti itulah sikap munafik, pada dasarnya mereka memang tidak beriman pada Rasulullah apalagi percaya pada janji beliau itu.

Akan tetapi, kaum mukmin yang teguh keimanannya. Mereka yakin bahwa janji Allah Ta’ala dan RasulNya akan menjadi nyata. Tapi janji dan harapan itu harus dikejar, diraih bukan ditunggu turun dari langit dengan berleha-leha.

Usaha untuk itu pun dipompa dari raga kaum muslimin. Dengan Jihad fi Sabilillah; berani mengorbankan harta dan nyawa, akhirnya sejarah telah menoreh bahwa Islam pernah menguasa dua negara adidaya kala itu, yaitu Romawi dan Persia di masa khilafah Umar bin Khattab.

Intinya, bercita-citalah setinggi-tingginya, lalu berusahalah semaksimal mungkin untuk meraihnya:

Rasulullah bersabda:

أَحَبُّ الأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَصْدَقُهَا حَارِثٌ وَهَمَّامٌ

Nama yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah, Abdullah dan Abdurrahman. Dan Nama yang paling jujur adalah, Harits dan Hammam” (HR. Abu Daud)

Makna Harits adalah, orang yang bekerja atau berusaha.

Sedangkan makna Hammam adalah, Orang yang punya cita-cita.

Oleh karena itu, dua nama itu disebut-sebut nama paling tepat diberikan nama untuk manusia. Karena, setiap manusia pasti punya angan-angan, harapan dan cita-cita, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Dan juga, mereka punya usaha untuk mencapai harapan itu

Saudaraku:

Sudah banyak orang yang memulai kesuksesannya dengan mimpi….

Tapi, tidak di situ mereka berhenti….

Mereka terus mencari jalan untuk memulai……

Membabat alas dan menembus duri….

Bahkan tak jarang berhadapan dengan cemoohan dan caci maki…..

Namun, untuk mencapai cita-cita, semua itu tidak mereka peduli…..

Karena visi mereka bukanlah “aku yang sekarang” tapi “saksikanlah aku di hari nanti”

Penulis: Ustadz Muhammad Yassir, Lc (Dosen STDI Jember)
PengusahaMuslim.com

Pasti Digantikan dengan yang Lebih Baik

Penulis: ustadz Muhammad Yassir, Lc

Bekerja di tempat maksiat adalah haram hukumnya. Punya duit dari penghasilan haram adalah perbuatan tercela. Langkah berani yang harus kita lakukan bila masih berada di ruang lingkup pekerjaan haram adalah “walk out”, keluar. Tidak ada kata lain.

Begitu pula anjuran kita pada orang lain, untuk keluar dari pekerjaan haram, mencari penghasilan yang halal.

Pernah kita mendengar, bahkan sering, ketika orang dinasehati untuk meninggalkan perbuatan haram atau pekerjaan yang haram, ia akan dijanjikan dengan Hadits Rasulullah, yang berbunyi:

إنك لن تدع شيئا لله عز وجل إلا بدلك الله به ما هو خير لك منه “.

Sungguh jika kamu meninggalkan suatu hal karena Allah semata, maka Allah akan menggantikan untukmu yang lebih baik dari pada itu (HR. Al Ashbahani dalam kitabnya At Targhib, Hadits dishahihkan oleh Al Bani)

Bahkan terkadang nasehat itu tidak berhenti hanya di situ saja, namun ikut menceritakan kisah-kisah orang lain. Seperti kisah temannya yang dulunya bekarja di bank, setelah dapat hidayah kemudian sadar hukumnya haram, iapun keluar. Ternyata, kemudian ia bisa mendapatkan pekerjaan yang halal dengan penghasilan yang lebih besar.

Dan ditambah lagi kisah-kisah lainnya semisal dengan itu yang mungkin anda sendiri pernah mendengarkannya.

Tapi, pernahkah terbayangkan jika orang yang anda nasehati tersebut ternyata setelah keluar dari pekerjaan haramnya, tetap tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih profit dari sebelumnya.

Kira-kira, apa komentar anda?

Perlu diketahui, bahwa di balik kisah-kisah yang kita ceritakan untuk menyemangati orang agar meninggalkan pekerjaan haram, ada satu poin yang harus terpatri di setiap dada orang muslim.

Yaitu, harta halal walaupun secuil, jauh lebih baik dari pada segudang harta haram.

Berjalan di atas syariat Allah yang lurus, jauh lebih baik daripada bergelimangan dalam maksiat.

Maksudnya, memperoleh kembali pekerjaan halal dengan penghasilan lebih besar bukanlah suatu jaminan/kepastian yang akan di dapatkan oleh orang yang meninggalkan pekerjaan haram.

Contoh riil nya adalah, kisah seorang sahabat, Mush’ab bin Umair.

Kehidupan beliau di masa Jahiliyah penuh dengan kemewahan; pakaian yang indah; bertaburkan minyak wangi harum semerbak; digemari oleh remaja putri Mekkah; ayah dan ibunya yang kaya raya siap memenuhi segala keinginannya.

Namun, kita semua tahu bagaimana perubahan drastis terjadi dalam kehidupan beliau. Setelah beliau memeluk agama Islam serta siap menerima syariat Allah dan RasulNya.

Terjadilah titik balik dari kehidupan dunianya. Bajunya berubah jadi compang-camping; penampilannya menjadi kumal bak seorang gelandangan.

Bahkan di akhir hayat beliau, saat mati syahid di perang Badar, Rasulullah menguburkan beliau sseraya berkata: “Dulu di Mekkah, tidak ada pemuda yang punya pakaian seindah dirimu dan tidak ada yang berambut necis sepertimu, namun sekarang engkau hanya dikuburkan dengan kain yang tidak cukup untuk menutupi sekujur tubuhmu”

Semua kegemerlapan dunia telah ditinggalkan Mush’ab bin Umair karena kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah. Tidak ada yang indah menurut beliau kecuali hanya kelezatan Iman dalam dadanya.

Dari kisah ini, marilah kita bertanya,

Apakah Mush’ab bin Umair tidak memperoleh janji Rasulullah, bahwa Allah akan mengganti yang lebih baik jika meninggalkan sesuatu karena Allah semata??

Bukankah Mush’ab waktu ia masih kafir dalam kehidupan mewah dan kaya raya?? kenapa ketika ia masuk Islam tidak bertambah kaya dan mewah??

kira-kira apa jawaban anda terhadap pertanyaan tadi?

Saya akan membantu anda untuk menjawabnya dengan tegas,

“Mush’ab telah mendapatkan janji Rasulullah”

“Mush’ab telah memperoleh ganti yang lebih baik, yaitu surga Allah”

“Mush’ab telah meraih kemegahan yang lebih mewah, yaitu kemewahan lezatnya iman dalam dada”

“Mush’ab telah memakai pakaian yang lebih baik, yaitu pakaian surga”

“Mush’ab telah disambut kerinduan yang lebih baik dari pada remaja Mekkah, yaitu kerinduan bidadari surga”

Kesimpulannya, “Mush’ab telah mendapatkan ganti yang lebih baik dari kehidupan dunianya, yaitu indahnya kehidupan abadi di akhirat”

Apakah ada kehidupan yang lebih baik daripada akhirat?? tentu tidak ada sama sekali.

Maka, sudah semestinya, tujuan akhirat lah yang menjadi sasaran utama setiap muslim dan mukmin. Balasan pertama yang diharapkan dari setiap amalannya adalah balasan di akhirat bukan balasan dunia semata. Walaupun tidak kita pungkiri, terkadang ada juga orang yang langsung mendapat balasan di dunia dengan segera.

Kalau keyakinan ini tertanam di setiap jiwa kaum muslimin, maka tidak akan sulit mengubah pola hidup dari satu sudut ke sudut kehidupan lain, karena tujuan hidupnya bukan dunia tapi hidup akhirat. Tidak akan banyak tuntutan balasan dan ganjaran dunia, karena pahala akhirat harapan utamanya.

Bila ia disarankan untuk keluar dari pekerjaan haram, tidak akan ada selentingan pertanyaan,

“Terus saya mau kerja apa?”

“Emang kalau saya keluar, saya bisa dapat penghasilan sebanyak ini lagi?”

Karena, tujuan utama dia ketika meninggalkan pekerjaan haram adalah tidak mau bergelimangan dosa di dunia, agar tidak hidup sengsara di akhirat kelak.

Katahuilah wahai saudaraku kaum muslimin. Allah dan RasulNyatelah memanggil kita ke negeri akhirat. Sekarang tinggal sikap kita dalam menjawab panggilan ini. Kalau kita penuhi panggilan ini, kita gerakkan hati dan anggota tubuh kita untuk berangkat menuju negeri akhirat, maka Allah akan menggantikan dunia kita dengan balasan kenikmatan seluas langit dan bumi di surga kelak.

Pengusahamuslim
**********************

Wahai Pemuda Sunnah Bangkitlah

Kalian adalah al-jama’ah…
Sekalipun engkau seorang diri…Wahai para pemuda…
sesungguhnya tanggung jawab besar ada dipundak kalian…
Agama ini tidak akan pernah jaya…
Sampai kalian kembali kepada hakikatnya…Amal yang paling mulia…
Saat kalian mati dalam keadaan berbakti pada agama…
Terutama dizaman keterasingan ini…
Dimana mana terjadi disekitar kita…
Keterasingan…
Keanehaan…
Dan kehinaan…Namun, jika kita kembali kepada GENERASI AWAL ISLAM…
Dan berpegang teguh dengan apa yang meraka bawa…
Aku bersumpah DEMI ALLAH!
Kita akan mendapatkan kemenangan…Kalian harus pahami…
Siapapun yang berpegang teguh pada tali ALLAH…
Maka ia akan dimenangkan walaupun ia sendirian…

Aku beharap kematianku dalam kemuliaan…
Dalam keadaan memegang agama ini…
Sampai akhir hayatku kelak…
Aku ingin memberikan keyakinan pada kalian…
Bahwa kita akan dimenangkan…
Kita tidak akan kalah sekalipun kemampuan kita lemah…
Selama kita memiliki Iman yang kokoh…

Betul,kita lemah…
Kita tidak punya sebagaimana yang dimilki musuh-musuh kita…
Namun,selama kalian MENGIKUTI RASULULLAH DAN PARA SAHABAT DENGAN BAIK…

Maka Kalian adalah al-jama’ah,
Sekalipun kalian bersendirian!

(Syaikh Abu Ishaq alHuwainy)

*************************************************************************************

Apakah Anda Menuju ke Jalan yang BENAR?

Oleh Desmond Chua

Apakah Anda ingat pernah naik bus yang salah? Setelah sadar bahwa Anda salah kemudian tanpa menunggu waktu lama Anda segera turun untuk segera naik bus dengan tujuan yang benar.

Kini bagaimana dengan karier Anda? Apakah sudah menuju ke jalan yang benar? Jika belum maka apakah Anda masih berada di dalam bus yang sama atau sudah merencanakan untuk segera turun di pemberhentian berikutnya.

Berikut adalah beberapa tanda yang menandakan Anda harus mengevaluasi pilihan karier Anda:

Anda mengeluh dan mengerang setiap akan berangkat kerja
Hal yang Anda tunggu setiap hari adalah waktu makan siang dan jam pulang kantor
Anda mencari alasan untuk tidak menghadiri acara kantor
Anda jarang bicara dan sering kali hanya setuju dengan pendapat orang lain pada saat rapat
Anda merasa cemburu dengan rekan kerja yang melakukan pekerjaan lebih baik daripada Anda
Pada hari Minggu Anda sudah gusar memikirkan besok harus kembali bekerja
Anda selalu mengeluh dan merengek dengan rekan kerja Anda pada saat istirahat makan siang
Anda selalu merasa bekerja terlalu keras dan tidak dihargai

Jika hal diatas menimpa Anda maka sangat bagus, karena Anda sudah sadar mengenai permasalahan yang Anda hadapi dengan karier Anda. Menurut buku yang ditulis Seth Godin berjudul The Dip, disebutkan mengenai cara mengenali cul-de-sac (jalan buntu) dalam hidup Anda dan meninggalkannya. Keputusan untuk tidak turun dari bus akan menimbulkan sebuah ilusi Anda sedang bergerak mengikuti perjalanan padahal seharusnya Anda segera turun sebelum Anda semakin tersesat.

Manusia adalah makhluk yang membentuk kebiasaannya sendiri, pada saat kebiasaan buruk sudah terbentuk maka akan sangat sulit untuk menghilangkannya namun bukan merupakan hal yang mustahil. Penundaan meninggalkan kesan yang salah bahwa suatu saat nanti segala yang diimpikan akan berhasil. Hari berlalu, minggu berlalu, bulan dan tahun terus berlalu akan tetapi Anda masih berada di perusahaan yang sama, merasa bodoh, tersangkut dan tidak tertolong. Anda menjadi semakin takut untuk bergerak dan menekankan pada diri Anda bahwa lebih baik Anda diam daripada berusaha untuk keluar. Keadaan di luar terlalu beresiko!

Apakah Anda tahu apa yang menunggu Anda di sisi lain?

Anda bernafas lebih lega setiap hari, melakukan apa yang Anda cintai
Anda selalu menunggu esok hari untuk datang. Anda merasa bersemangat dan penuh antusias
Anda menjadi kreatif dan cerdas dalam mewujudkan sesuatu
Anda menjadi inspirasi dan dapat memotivasi orang lain dengan berbagai ide yang Anda miliki
Anda memiliki kedamaian dan kebahagiaan dalam hati, melakukan apa yang Anda sukai setiap saat
Anda memiliki energi labih untuk bekerja pada malam hari atau bahkan pada akhir minggu
Keluarga dan kerabat Anda melihat perubahan dalam diri Anda dan melihat Anda lebih tenang dan bahagia dari sebelumnya
Hidup menjadi lebih berarti dan Anda dapat menularkan semangat hidup Anda

Merasa tergoda? Sudah membayangkan bagaimana rasanya? Tidak ada kata terlambat untuk bergerak berapapun umur Anda, 30 ataupun 60 tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s