Manhaj ( منهاج )

Pengertian Manhaj

 

Membuka wacana berfikir secara ilmiah tentang pengertian manhaj Ahli Sunnah wal Jama’ah merupakan tuntunan yang lazim, sehingga umat memiliki wawasan komprehensif ( menyeluruh) terhadap hakikat dan kedudukan Ali Sunnah wal Jama’ah.

 

Apabila gerakan pencerahan dan penyadaran umat tentang pengetahuan agama Islam secara universal dan komprehensif menjadi prioritas utama, maka umat diberi bekal yang cukup mengenai prinsip-prinsip Ahli Sunnah di dalam beragama. Apabila ketika seorang muslim dihadapkan dengan perang peradaban dan budaya dari berbagai bentuk aliran pemikiran dan gerakan penyesatan serta usaha pemurtadan, seperti : Khawarij, Syi’ah, Rafidhah, Jahmiyah, Qadianiah, Murji’ah, Jabriyah, Kebatinan, Tasawwuf, Sekulerisme, Islam Liberal, dll, yang terkadang lahir dengan kemasan dan format baru untuk mengecoh dan menipu orang awan. Sehingga pembekalan terhadap ummat tentang Manhaj yang haq ini menjadi hal yang amat penting.

 

Pandunan atau pmbekalan ini berisi materi dasar tentang pengertian manhaj Ahli Sunnah wal Jama’ah yang perlu diketahui oleh setiap umat islam umumnya, dan para da’i yang bergerak di dalam bidang dakwah khususnya.

 

Maka disini saya turunkan beberapa point yang perlu diketahui, di antaranya:

 

1. Pengenalan terhadap pengertian manhaj baik menurut bahasa maupun istilah.

 

2.Cara memahami Sunnah Rasulullah SAW secara benar dimulai dengan pengenalan terhadap pengertian Sunnah baik dari sisi bahasa dan istilah serta kedudukan Sunnah dalam Islam.

 

3. Penngenalan terhadap hakikat dan kedudukan sahabat Nabi serta rekomendasi Allah dan Rasulullah SAW terhadap para sahabat, kemudiian dilanjutkan denggan penjelasan tentang larangan menghujat dan mencaci mereka Ra hum.

 

4. Mengenal peranan dan kedudukan generasi salaf ( terdahulu) serta pujian Allah dan Rasulullah SAW terhadap generasi Salaf Shalih, mereka adalah generasi mulia penerus Sunnah dan jalan hidup Nabi SAW.

 

5. Memahami keberadaan dan hakikat perpecahan di dalam tubuh Umat Islam dan cara menyikapinya.

 

6. Memahami keberadaan Ahli Sunnah wal Jama’ah di dalam tubuh Umat Islam.

 

Pengertian Manhaj

 

Makna Bahasa

 

Manhaj meurut arti bahasa ialah jalan yang terang.

 

Allah SWT berfirman:

 

لِڪُلٍّ جَعَلْنَا مِنکُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

 

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang……”( Al Ma’idah; 48).

 

Makna Istilah

 

Ada beberapa definisi manhaj menurut pengertian istilah, antara lain:

 

Manhaj ialah aturan yang diikuti kaum muslimin di dalam memahami, mengamalkan, dan menyebarkan agama.

 

Adapun di dalam pembahasan ini, yang dimaksud manhaj adalah cara ( metodologi) di dalam beragama / di dalam memahami, mengamalkan dan mendakwakan agama.

 

Ruang Lingkup Manhaj

 

Yang telah terbukti menemph metodologi yang benar di dalam beragama adalah Rasulullah yang diikuti para sahabat, terutama para Khulafaur Rasyidin. Sebab, jalan hidup dan pemahaman mereka terhadap Islam sesuai dengan jalan hidup dan pemahaman Rasulullah SAW. Bahkan, mereka beragama di atas ittiba’ ( mengikuti jalan hidup) secara total terhadap Rasulullah SAW, sehingga Sunnah mereka menjadi pedoman sebagaimana Sabda Nabi SAW:

 

أُوْصِيکُمْ بِتَقْوَي اللّٰهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًاحَبَشِيَّا فَإَنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْکُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلَا فَاً کَثِيْرًا فَعَلَيْکُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِالْمَهْدِيِّيِنَ الرَّاشِدِيْنَ تَمَسَّڪُوُا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَا جِذِ وَإَيَّا ڪُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُْمُورِ فَإَنَّ کُلِّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَکُلِ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

 

” Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, patuh dan taat walaupun dipimpin budak Habasyi, karena siapa yang masih hidup dari kalian, maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah para Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Waspadalah terhadap perkara-perkara baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat.” ( HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Majmu’ Fatawa ( 1/182) berkata:

 

“Sunnah para Khulafaur Rasyidun yang mereka laksanakan atas perintah Nabi berarti termasuk Sunnahnya karena tidak ada di dalam agama suatu kewajiban, kecuali yang telah beliau wajibkan, tidak ada keharaman kecuali perkara yang diharamkannya, tiada perkara Sunnah melainkan sesuatu yang telah diSunnahkannya, dan tiada perkara makruh kecuali yang dimakruhkannya serta tiada sesuatu yang mubah melainkan yang telah beliau anggap mubah.”

 

Pada hakikatnya jala hidup para sahabat adalah jalan hidup Rasulullah SAW karena orang yang paling semangat di dalam mengamalkan Sunnah Nabi SAW dan paling menjauhkan diri dari perkara-perkara bid’ah sekecil apapun.

 

Abdullah bin Mas’ud RA berkata:

 

“Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para sahabat Rasulullah SAW karena sesungguhnya mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. ( Mereka ) adalah suatu kaum yang dipilih Allah untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah mereka di dalam jejaknya, karena mereka berada di jalan yang benar dan lurus.” ( Ibnu Abdul Bar di dalam Jami Bayanil Ilmi wa Fadhluhu).

 

Sunnah Rasulullah SAW

 

Pengertian Sunnah Rasulullah SAW

 

Makna Bahasa

 

As-Sunnah menurut Bahasa Arab, adalah ath-thariqah dan As-Sirah yang bberarti metode, kebiasaan, perjalanan hidup atau perilaku, baik terpuji maupun tercela, sebagaimana sabda Nabi SAW:

 

مَن سَنَّ سُنَّةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُمَنْ عَمِلَ بِهَا وَمَن سَنَّ سُنّةً سَيِّئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا مَنْ عَمِلَ بِهَا

 

“Barangsiapa yang memberi contoh yang baik maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya dan barangsiapa yang memberi contoh yang buruk maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya.” ( HR. Muslim).

 

Makna Istilah

 

Menurut Ibnu Katsier, “Kata Sunnah dengan variasinya disebutkan berulang-ulang di dalam Hadits, yang arti asalnya adalah perjalanan hidup dan perilaku.” ( An-Nihayah 2: 409).

 

Adapun pengertian Sunnah di dalam istilah syara’ menurut pada ahli Hadits, adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi SAW yang berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, karakter, akhlak ataupun perilaku, baik sebelum atau sesudah diangkat menjadi Nabi. Di dalam hal ini pengertian Sunnah, menurut sebagian ulama sama dengan Hadits.

 

Menurut ulama usul fiqih, “Sunnah ialah sesuatu yang dinukil dari Nabi SAW secara khusus. Ia tidak ada nashnya di dalam Al-Qur’an tetapi dinyatakan oleh Nabi SAW dan sekaligus sebagai penjelas bagi Al-Qur’an.

http://assalafy2.wordpress.com/manhaj/

————————————————–

Manhaj

 

 Manhaj adalah cara pandang dalam memahami data dan fakta. Bisa jadi data dan faktanya sama, namun karena ‘cara pandang’ yang berbeda dalam memahami data dan fakta tersebut, maka hasilnya akan bisa sangat jauh berbeda. Jelas ada perbedaan yang dalam antara cara pandang Islam dan cara pandang asing. Seorang muslim bisa menggunakan al-thariqah dan al-maddah asing, tapi tidak untuk manhaj-nya. Ia tetap harus menggunakan manhaj Islam.Seperti kata Roshental, suatu peradaban cenderung berjalan di atas konsep-konsep penting (mabda’ asasi) yang telah ada sejak kelahirannya. Jika konsep-konsep itu tidak lagi digunakan secara benar , maka itu merupakan pertanda yang jelas, bahwa peradaban itu telah mati.

 

Al-Qur’an mengajarkan : Katakanlah,” Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (‘alaa bashiratin *). Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qs.12 : 108 )

 

*‘Alaa bashiratin : ‘alaa ‘ilmin wa yaqin ( berdasarkan ilmu dan keyakinan, tafsir Thabari ).

 

Manhaj/ framework berisi nilai-nilai. Manhaj ini akan menjadi sebuah suatu dokumen yang akan memberi ilham kepada orang. Ini membuat mereka bangga menjadi bagian dari Islam. Manhaj ini berlaku sebagai benchmark pribadi, memandu, dan membentuk prilakunya. Sehingga manhaj ini yang akan memberi bentuk dan warna yang khas dan sekaligus bagaimana seseorang memahami dirinya sendiri. Framework ini tidak hanya berurusan dengan fakta dan data. Ia berkaitan dengan pendekatan metodologis. Artinya, bagaimana data dan fakta itu dipahami. Data dan fakta yang ada itu harus diselaraskan dengan framework ini. Begitulah konsekuensi sebuah manhaj/framework.

 

Pesantren Hidayatullah di dalam upayanya untuk melahirkan generasi tauhid yang sesuai visi dan misinya telah berijtihad dan menerapkan pola pendidikan yang dikenal dengan Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW). Diyakini bahwa SNW ini selaras dan merujuk pada manhaj/framework Islam, karena semangat dan muasal ditemukannya manhaj ini berawal dari keinginan untuk ittiba’ kepada Rasulullah saw dalam mendidik para sahabatnya.

 

Pendidikan yang ada di Hidayatullah – baik proses maupun hasilnya – seluruhnya merujuk dan dijiwai oleh manhaj ini. Ia diterjemahkan baik dalam proses belajar mengajar, budaya kerja, manajemen, pengambilan keputusan, pembinaan SDM dan seluruh aspek lainnya yang hendak diraih oleh lembaga ini. Konsekuensinya, guru, pengasuh, murid, karyawan dan seluruh civitas lembaga ini harus memahami manhaj ini dengan baik karena mereka adalah bagian yang berperan penting dalam memperagakan manhaj ini dalam kehidupan nyata.

 

Manhaj ini membahas berbagai hal yang merupakan penanaman nilai, konsep, visi, standar, dan model kepribadian serta keyakinan. Akan kita lihat bahwa manhaj ini mengandung paradigma dan nilai-nilai yang amat penting dan fundamental dalam dunia pendidikan yang tidak jarang berlawanan dengan paradigma dan nilai-nilai pendidikan Barat yang saat ini menghegemoni dunia pendidikan kita.

 

Manhaj Sistematika Nuzulnya Wahyu ini merujuk pada 5 surah yang turun di masa-masa paling awal, yaitu: Surah AL-ALAQ : 1- 5. Surah ini membicarakan metafisika Islam. Jika filsafat diperlukan untuk menyiapkan kerangka dasar (framework) bagi pemantapan cita-cita dan tujuan pendidikan, kriteria dalam menyeleksi muatan pendidikan, dan dasar-dasar dalam mengevaluasi tingkat pencapaian tujuan pendidikan umum, maka metafisika Islam memilki relevansi langsung dengan konsep dan praktik pendidikan Islam. Metafisika adalah bagian dari filsafat yang khusus membicarakan hakikat Realitas Mutlak ( Tuhan ). Perlu ditegaskan bahwa tugas dan kemampuan tertinggi yang dapat kita lakukan dalam masalah ini adalah mengetahui dan mengakui Tuhan sebagai Rabb dan ilah.

 

Surah ini memberikan gambaran yang jelas tentang arah dan tujuan pendidikan dalam Islam. Sumber ilmu adalah Allah. Maka tujuan pendidikan Islam dengan sendirinya harus diarahkan pada upaya pengajaran metode pengenalan dan pengakuan yang benar mengenai Tuhan. Metode pengenalan dan pengakuan yang benar mengenai Tuhan inilah yang disebut dengan adab. Pengertian adab adalah :

 

Pengenalan dan Pengakuan terhadap realitas bahwasannya ilmu dan segala sesuatu yang ada terdiri dari hierarki yang sesuai dengan kategori-kategori dan tingkatan-tingkatannya, dan bahwa seseorang itu memiliki tempatnya masing-masing dalam kaitannya dengan realitas, kapasitas, potensi fisik, intelektual dan spiritualnya.

 

Adab ini mencakup:

 

*pengenalan dan pengakuan mengenai tempat sesuatu secara benar dan tepat

 

*pencapaian kualitas-kualitas, sifat-sifat dan perilaku yang baik untuk mendisiplinkan pikiran dan jiwa

 

*penonjolan tingkah laku yang benar dan tepat sebagai kebalikan dari tingkah laku yang salah dan tidak sesuai

 

 

Pendidikan sebagai ta’dib ( adalah penyemaian dan penanaman adab ) adalah :

 

Pengenalan dan pengakuan – yang ditanam secara progressif dalam diri manusia – mengenai tempat yang sebenarnya dari segala sesuatu dalam susunan penciptaan, yang membimbing seseorang pada pengenalan dan pengakuan terhadap keberadaan Tuhan dalam tatatan wujud dan eksistensi.

 

Pendidikan sebagai ta’dib adalah proses pendidikan yang bukan hanya mengajarkan ilmu yang ada di buku namun juga sikap, tatacara, kesopanan, kebaikan dan pengabdian sehingga seseorang menjadi siap lahir batin untuk menerima pemberian Allah swt.)

 

Pemahaman akan adab selanjutnya akan mengantarkan seseorang untuk bertauhid dengan kalimat La ilaha illallaha Muhammad Rasulullah. Seluruh aspek ajaran Islam berdiri di atas konsep kalimat tauhid ini. Karenanya pemahaman tentang konsep tauhid ini memiliki peran sentral dalam Islam. Konsep tauhid ini mengandung nilai-nilai dasar akidah, yang tidak saja mencakup rukun iman dalam pengertian formal, namun bagaimana nilai-nilai dari iman itu membentuk pemikiran, sehingga menjadi rujukan dalam berpikir, merasa, berbicara, bertindak. Syarat-syarat syahadat, misalnya, pada dasarnya merupakan “pagar” pikiran, perasaan, perkataan dan perilaku (ilmu, yaqin, qabul, inqiyad, ikhlash, shidq, mahabbah) kebalikan dari jahl, syakk, radd, tark, syirk, kadzib, baghdha’.

 

Dengan memperkenalkan dan mengajarkan tentang adab seseorang dapat kembali pada fitrahnya. Fitrah adalah status/kondisi ideal manusia sebagaimana janji primordial yang pernah ia ucapkan (Qs. Al-A’raf : 172). ( Ini berarti bahwa manusia lahir dengan ilmu dan pengetahuan tentang kondisi ideal, berbeda dengan pandangan Aristoteles dan John Locke). Tapi kemudian dalam kehidupan di dunia manusia lupa dengan janji primordialnya dan merusak fitrahnya. Manusia menjadi thughyan atau keluar dari posisi idealnya dalam kesatuan alam semesta ini, sehingga disadari atau tidak ia telah merusak tatanan alam semesta itu. Jika alam semesta rusak, maka manusia juga akan hancur.

 

Mengarahkan kembali seseorang pada kondisi ideal yang awal atau fitrah inilah di dalam Islam yang disebut dengan Tajdid (pembaharuan). Jadi konsep pembaharuan di dalam Islam jelas berbeda dengan konsep pembaharuan di Barat yang bersifat dekonstruktif.

 

Pada saat seseorang telah kembali kepada posisi fitrahnya, maka ia akan dapat merasakan kebahagiaan (sa’adah) yang hakiki. Ia telah kembali mengenal Tuhannya dan mengetahui posisinya yang asli, menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang hamba Allah, sehingga tujuan hidupnya serta kebahagiaannya adalah bekerja dan mengabdi sebagai seorang hamba (abdullah) dan menjadi wakil Allah di muka bumi (khalifatullah).

 

Orang yang beradab adalah orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Tuhan Yang Haq ; yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya ; yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang bertaqwa. Seseorang yang bertaqwa adalah seseorang yang adil, dalam pengertian dapat memposisikan dirinya dengan benar dalam hirarki ciptaan. Pada gilirannya keadilan itu akan mendekatkan pada ketaqwaan ( Qs 5 : 8 ). Taqwa adalah dasar dari segala amalan-amalan prima. Taqwa inilah yang akan menghasilkan kebahagiaan sejati…

 

Konsep bahwa ilmu datangnya dari Allah inilah yang menyebabkan peradaban Islam bersifat teosentris, bukan anthroposentris seperti yang menjadi ciri utama peradaban Barat. Karena berangkat dari konsep awal yang sangat berbeda inilah, sehingga terdapat jurang yang sangat dalam antara peradaban Islam dan Barat yang sulit untuk dipersatukan.

 

Surah AL-QALAM 1-7. Surah ini mengajarkan satu konsep yang penting dalam dunia pendidikan, yaitu konsep tentang kebenaran sebagai jalan untuk meraih kebahagiaan.

 

Menurut Islam, kebahagian itu adalah kualitas spiritual yang permanen, yang secara sadar bisa dialami dalam kehidupan sekarang dan akan datang. Kebahagiaan seseorang itu terletak pada keyakinannya terhadap hal-hal mutlak mengenai realitas alam, identitas diri, dan tujuan hidupnya hingga hari akhirat nanti. Lebih dari itu, kebahagiaan juga menyangkut keselarasan antara penyerahan diri dan ketaatan pada ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Keyakinan dan keselarasan ini merupakan landasan bagi amal-amal yang utama (fadha’il) dalam Islam, baik yang eksternal maupun internal.Adanya amal-amal yang utama ini mengindikasikan bahwa seseorang itu harus memilki ilmu pengetahuan terlebih dahulu mengenai amal-amal tersebut dan pada kenyataannya hal ini semakin memperkuat posisi ilmu pengetahuan sebagai faktor yang sangat mendasar dalam aqidah Islam. Ilmu pengetahuan adalah dasar bagi semua keutamaan amal.

 

Dari dulu sampai pada kehidupan kontemporer ini, keyakinan dan keteguhan kita terhadap kebenaran menurut konsep al-Qur’an dan perjuangan kita untuk hidup ber-Qur’an akan menghadapi tiga kelompok sofis berikut :

 

1.Kelompok al-la adriyyah atau gnostik, karena selalu mengatakan tidak tahu ( La adri : ”saya tidak tahu” ) atau selalu ragu-ragu mengenai keberadaan segala sesuatu sehingga menolak posibilitas ilmu pengetahuan. Orang yang seperti ini, pada gilirannya akan meragukan sikapnya yang serba meragukan keberadaan segala sesuatu.

 

2. Kelompok al-indiyyah, yaitu mereka yang selalu bersikap subyektif. Berbeda dengan kelompok pertama, kelompok ini menerima posibilitas ilmupengetahuan dan kebenaran, tetapi menolak obyektifistas ilmu pengetahuan. Bagi mereka, obyektifitas ilmu pengetahuan dan kebenaran adalah subyektif ( indi, yaitu ”menurut saya” ), bergantung kepada pendapat masing-masing.

 

Dalam dunia pendidikan, sikap ini jelas terlihat dalam organisasi mata pelajaran yang di dalamnya semua disiplin ilmu pengetahuan dan mata pelajaran dianggap sama. Ditinjau dari kacamata metafisika Islam, semua mata pelajaran yang diajarkan tidak bisa diberi penekanan yang sama. Hal ini adalah suatu ketidakadilan karena penekanan terhadap mata pelajaran seharusnya diberikan sesuai dengan kedudukannya dalam persepktif Islam mengenai hirarki kepentingan dan prioritas ilmu pengetahuan.

 

Contoh lain dari sofisme indiyyah dalam pendidikan adalah mereka yang mengklaim bahwa mereka tidak mengikuti aliran pemikiran ideologi tertentu dan, karenanya, terbuka untuk pemikiran-pemikiran dari perspektif yang berbeda-beda. Sikap ini tampak, prima facie, sangat toleran, luhur dan lebih bermanfaat, tetapi jika diteliti lebih mendalam akan tampak bahwa sikap ini tidak berhasrat untuk memahami perbedaan-perbedaan pemikiran yang ada, yang disebabkan ketidakyakinan mereka (pihak pengelola) terhadap posisi mereka sendiri.

 

3. Kelompok al-inadiyyah, yaitu mereka yang keras kepala, yang menafikan realitas segala sesuatu (haqaiq al-asyya) dan menganggapnya hanya sebagai fantasi (auham) dan khayalan semata. Kelompok terakhir ini lebih mirip kelompok kedua.

 

Para sofis ini ini tidak bisa dan tidak akan pernah menjelaskan kedudukan mereka. Kalaupun bisa, satu-satunya kedudukan yang sesuai untuk mereka adalah mendekonstruksi setiap wacana keilmuan. Sikap ini jelas tidak islamis, sebab para filosof muslim sekalipun, seperti Al-Farabi, menempatkan keberhasilan dalam mencapai suatu keyakinan sebagai tahap terakhir dari proses belajar..

 

Sofisme telah merasuk jauh ke pelbagai sektor kehidupan modern, terutama di Barat, dan menggiring manusia pada konsep relativitas moral serta sikap hidup yang pesimis dan melemahkan sendi-sendi moral, baik pada dataran pengalaman individu, masyarakat, maupun politik.

 

Keadilan, menurut konsepsi Islam, tidak sama dengan ketidakberpihakan atau sikap netral, sebab keadilan adalah keberpihakan kepada kebenaran. Masalahnya adalah bagaimana seseorang bisa berpihak kepada kebenaran jika eksistensi kebenaran itu sendiri masih diragukan ?

 

Surah al-Qalam mendorong orang Islam untuk meneladani Muhammad saw, sang Insan kamil, sebagi cara yang paling tepat dan selamat untuk meraih kebenaran dan kebahagiaan dengan melaksanakan prinsip-prinsip umum dienul Islam, seperti 1) khiththah hidup berqur’an, 2) konsep benar salah, 3) konsep masa depan, 4) ahklak Islam

 

Harus diingat, figur seperti Nabi Muhammad saw adalah contoh riil insan kamil dan universal.Ini tidak sama seperti ide Barat mengenai manusia universal yang hanyalah sebatas konsep, karena idenya tidak mengakar pada figur yang pernah hidup dalam sejarah. Apalagi ukuran-ukuran Barat mengenai sesuatu yang ideal selalu berubah dan berevolusi. Tanpa contoh riil, penekanan mengenai konsep insan kamil dan universal tersebut hanya akan mendorong kita terjerumus ke dalam suatu humanisme sofistik.

 

Surah al-Qalam mengajarkan kepada kita bagaimana hidup ber-Qur’an (selaras dengan al-Qur’an) dengan meneladani Muhammad saw. Ketika Ali ra. bertanya kepada Nabi tentang cara jalan yang paling mudah dan tepat dalam meraih kebahagiaan, beliau menjawab bahwa jalan itu adalah jalan kalimat tauhid la ilaha illallaha.” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah untuk Allah Rabb alam semesta. Dan tidak mensekutukan-Nya. Demikianlah aku diperintahkan dan aku termasuk orang yang pertama kali berserah diri (kepada Allah).”

 

Surah AL-MUZZAMMIL : 1-10 Surah ini mengajarkan kepada kita satu hal penting dalam dunia pendidikan, yaitu tentang fungsi pendidikan.

 

Fungsi lembaga pendidikan menurut Islam bukanlah untuk menghasilkan warga negara dan pekerja yang baik sebagaimana pendidikan Barat yang bersifat utiliter,tetapi untuk menciptakan manusia yang baik (manusia yang beradab). Manusia yang baik sudah pasti seorang pekerja dan warga negara yang baik, tapi tidak sebaliknya. Sikap meremehkan pendidikan yang berusaha membina dan mengembangkan manusia secara fundamental dan komprehensif akan menimbulkan serentetan permasalahan keruhanian, kejiwaan dan kesehatan dan aneka krisis kemanusiaan lainnya yang sangat menyedihkan.

 

Surah al-Muzzammil mengupas masalah tazkiyah dan ibadah, yaitu bekal mental dan spiritual untuk menjadi seorang muslim yang baik ,yaitu : (1) qiyamul-lail, (2) tartil al-Qur’an, (3) dzikrullah, (4) tabattul (total di jalan Allah), (5) tawakkal, (6) sabar, (7) hijrah.

 

Fokus utamanya adalah pencerahan spiritual dan internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam diri seseorang ; menjadikan ibadah dan taqarrub kepada Allah sebagai tradisi, baik melalui ibadah wajib maupun nafilah. Al-Ghazali mengatakan, tidak ada cara yang paling jitu untuk menguatkan aqidah dan membentuk karakter-karakter terpuji sebagaimana yang dicontohkan Rasullah kecuali dengan melazimkan diri dengan tazkiyah an-nafs dan ibadah.

 

Surah AL-MUDDATSTSIR : 1-10. Surah al-Muddatstsir membahas tentang kesadaran kenabian , yaitu tanggung jawab orang berilmu sebagai pewaris misi kenabian .

 

Seorang individu tidak memilki arti apa-apa dalam keadaan terisolasi, sebab dalam keadaan itu ia tidak lagi menjadi individu, ia adalah segala sesuatu. Oleh karena itu manusia yang beradab ( insan adabi ) adalah individu yang sadar sepenuhnya akan individualitasnya dan hubungan yang tepat dengan diri, Tuhan, masyarakat, dan alam yang tampak maupun yang gaib. Ia harus mengetahui kedudukan dirinya di tengah-tengah pelbagai tingkatan manusia, yang harus dipahami sebagai sesuatu yang telah disusun secara hierarkis dan logis ke dalam tingkatan-tingkatan (derajat) kebaikan yang berdasarkan kriteria al-Qur’an mengenai kecerdasan, keilmuan, dan kebaikan (ihsan), dan harus berbuat selaras dengan ilmu pengetahuan itu secara posistif, terpercaya dan terpuji.

 

Dengan pernyataan ini, dapat dikatakan bahwa tidak ada seorang muslim yang memahami pandangan hidup al-Qur’an akan menegasikan atau mengabaikan kewajiban sosialnya. Ia mengetahui bahwa meskipun di akhirat nanti bersifat individual, hukuman Tuhan dalam sejarahnya juga bersifat sosial. Hukuman Tuhan juga dikenakan pada dirinya jika ia tidak melaksanakan tugas dan kewajiban yang diperintahkan.

 

Tugas orang berilmu adalah menjaga syi’ar-syi’ar Islam , dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, serta sabar menanggung akibatnya. Allah berfirman, “ …dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal yang diwajibkan ( oleh Allah ). ( Qs. Luqman : 17 )

 

Imam Asy-Syafi’I berkata,” ( yang disebut ) ilmu itu bukanlah apa-apa yang dihafalkan, akan tetapi ilmu adalah apa-apa yang bermanfaat.”

 

Surah ini menjelaskan tentang konsep perubahan atau prinsip-prinsip dasar tarbiyah dan dakwah, yaitu: (1) berfokus kepada akhirat, (2) hanya membesarkan nama Allah, (3) menyucikan “pakaian” (kepribadian, keluarga, dsb), (4) menghindari dosa, berhala, dan najis, (5) ketulusan dalam memberi, berdakwah tanpa pamrih, (6) bersabar.

 

Fokus utamanya adalah transformasi nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam kehidupan. Mulailah mencari teman, dengan mengajak orang untuk berubah menjadi lebih baik, yakni: dengan menjadi bagian dari para penggerak perubahan (agent of change).

 

Surah AL-FATIHAH : 1-7. Surah ini merangkum visi dan misi peradaban Islam menurut al-Qur’an, yaitu mewujudkan tata kehidupan yang berdasarkan moral sebagai wujud pengabdian semata-mata kepada Allah ta’ala. Al-Fatihah artinya Pembuka, semacam kunci yang akan menjadi pemandu untuk memahami bangunan peradaban yang akan ingin ditegakkan, yakni seluruh nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an.

 

Dengan menganalisis kata Din ( dal-ya’-nun ) dengan pelbagai derivasinya, seperti dana ( berhutang ), dai’n ( pemberi hutang ), dain ( kewajiban ), dainunah ( hukuman/pengadilan ), dan idanah ( keyakinan ) dan merangkumnya menjadi satu, maka akan terbentuklaah satu gambaran organisasi masyarakat kosmopolitan dan beradab yang ditunjukkan dengan istilah madinah ( kota ), maddana ( berbudaya ) dan tamaddun ( peradaban dan kebudayaan sosial).

 

Dengan menekankan pada hubungan yang sangat erat antara konsep din dan madinah, umat islam pertama dengan sadar telah mengubah nama kota Yastrib dengan nama Madinah al-Nabi setelah peristiwa hijrah. Peradaban yang ingin kita raih adalah peradaban yang dulu pernah diperagakan di kota Madinah. Al-Madinah telah dinamakan dan disebut demikian, sebab di sana telah terdapat agama yang benar bagi kemanusiaan. Di sana, orang beriman telah menyerahkan dirinya pada kekuasaan Nabi Muhammaad saw sebagai dayyan-nya ; di sana, realisasi rasa berutang kepada Tuhan mengejawantah dalam bentuk yang jelas, cara-cara dan metode pembayaran yang dibenarkan mulai di jelaskan. Kota ini, bagi masyarakat muslim menjadi lambang struktur sosial-politik Islam ; dan bagi individu-individu yang beriman, secara analogis menjadi simbul tubuh dan wujud fisik orang-orang beriman, ketika jiwa rasionalnya, dalam mencontoh suri teladan Nabi, melaksanakan kekuasaan dan pemerintahan yang adil.

 

Tiga prinsip dasar peradaban Islam yang diulang kembali dalam surah al-Fatihah, yang merupakan rangkuman dan penegasan dari 4 surah sebelumnya, adalah :

 

  • Berpijak pada tauhid dan berfokus pada akhirat. Prinsip aqidah dan berfokus pada akhirat ini pada dasarnya mengulang isi surah al-Alaq dan juga sebagian surah al-Muddatstsir
  • Menekankan pada tradisi ibadah. Ini adalah penegasan dari surah al-Muzammil.

 

Jalan lurus, yang tidak ekstrim materialis ( Yahudi ) dan ekstrim spiritualis (Nashara). Jalan lurus adalah jalan al-Qur’an seperti yang dijelaskan dalam surah al-Qalam. Secara mendasar, sebenarnya Islam, Yahudi dan Nasrani tidak mungkin disatukan. Ketiganya memiliki arah yang sangat berlainan dalam menanggapi realitas dunia.Yahudi memandang kejayaan dunia adalah segalanya, dan tidak peduli pada akhirat. Materialisme dan kapitalisme hanya mungkin subur di dalam masyarakat Yahudi, atau masyarakat yang sudah tertransformasi untuk menerima dan menjalankan tradisi maupun pemikiran Yahudi. Nashara memandang dunia ini kecil dan tidak penting, sebab Kerajaan Tuhan adalah kerajaan surga. Sementara Islam mengarahkan pemeluknya agar memakmurkan bumi demi mencapai kebahagiaan akhirat.

http://arrohmah-putri.com

———————————————

Mengenal Manhaj Salaf

Mengenal Manhaj Salaf

 

Apakah pengertian manhaj salaf? Siapakah mereka para salaf yang dimaksud? Kemudian adakah kewajiban untuk mengikuti manhaj salaf? Marilah kita simak penjelasan berikut yang disarikan dari sebuah buku yang sangat bermanfaat karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafidzahullah, semoga semakin memperjelas bagi kita tentang manhaj salaf sesuai pemahaman yang sebenarnya.

 

1. Apakah definisi dari manhaj?

 

Manhaj dalam bahasa artinya jalan yang jelas dan terang. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,

 

”Untuk tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang…” (Al Maidah: 48)

 

Sedang menurut istilah, Manhaj ialah kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi setiap pelajaran-pelajaran ilmiyyah, seperi kaidah-kaidah bahasa arab, ushul ‘aqidah, ushul fiqih, dan ushul tafsir dimana dengan ilmu-ilmu ini pembelajaran dalam islam beserta pokok-pokoknya menjadi teratur dan benar. Dan manhaj yang benar adalah jalan hidup yang lurus dan terang dalam beragama menurut pemahaman para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

2. Apakah definisi salaf ?

 

Salaf berasal dari kata salafa-yaslufu-salafun, artinya telah lalu. Kata salaf juga bermakna: seseorang yang telah mendahului (terdahulu) dalam ilmu, iman, keutamaan, dan kebaikan. Karena itu generasi pertama dari umat ini dari kalangan para tabi’in disebut sebagai as-salafush-shalih.

 

Sedangkan definisi salaf menurut istilah, salaf adalah sifat yang khusus dimutlakkan untuk para sahabat. Ketika yang disebutkan salaf maka yang dimaksud pertama kali adalah para sahabat. Adapun selain mereka itu ikut serta dalam makna salaf ini, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka. Artinya, bila mereka mengikuti para sahabat maka disebut salafiyyin, yaitu orang-orang yang mengikuti salafush shalih.

 

3. Siapakah salaf yang dimaksud?

 

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, yang artinya :

 

”Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At- Taubah: 100)

 

Sedangkan dalam sebuah hadis juga dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan salaf pertama kali adalah sahabat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sebaik-baik manusia adalah pada masa ku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in). Demikian juga yang dikatakan oleh para ulama bahwasannya yang dimaksud dengan salaf adalah para sahabat.

 

Akan tetapi pembatasan secara waktu tidaklah mutlak tepat karena kita mengetahui bahwa beberapa sekte bid’ah dan sesat sudah muncul pada masa-masa tersebut. Karena itulah keberadaan mereka pada masa-masa itu (tiga kurun yang dimuliakan) tidaklah cukup untuk menghukumi bahwa dirinya berada diatas Manhaj Salaf, selama dirinya tidak mengikuti sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam memahami Al Quran dan Assunnah. Karena itulah ulama memberi batasan As-Salaf Ash-Shalih (pendahulu yang shalih).

 

Imam al Auza’i rahimahullah (wafat th.157 H) seorang Imam Ahlu Sunnah dari Syam berkata, “Bersabarlah dirimu diatas sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para sahabat tegak diatasnya. Katakanlah sebagai mana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan salafush shalih karena akan mencukupimu apa saja yang mencukupi mereka.”

 

Berdasarkan keterangan diatas, menjadi jelaslah bahwa kata salaf muthlak ditujukan untuk para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, semoga Allah Ta’ala meridhai mereka semua. Maka barang siapa yang mengikuti mereka semua dalam agama yang haq ini, maka ia adalah generasi penerus dari sebaik-baik pendahulu yang mulia.

 

4. Adakah dalil yang menunjukkan kewajiban untuk mengikuti mereka?

 

Terdapat banyak dalil yang dikemukakan oleh al Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas dalam bukunya Mulia dengan Manhaj Salaf, namun dalam tulisan yang singkat ini kami hanya mengambil beberapa dalil yang mewakili dan dapat digunakan sebagai hujjah.

 

Dalil-dalil dari Al Quranul Karim dan As Sunnah yang menunjukkan bahwa Manhaj Salaf adalah hujjah yang wajib diikuti oleh kaum muslimin:

 

  • Firman Allah Ta’ala, yang artinya,”Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu menyuruh) berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah…” (Ali ‘Imran : 10 )Syaikhul Islam IbnuTaimiyah rahimahullah dalam kitabnya Naqdul Mantiq menjelaskan: kaum muslimin telah sepakat bahwa umat ini adalah sebaik-baik umat dan paling sempurna, dan umat yang paling sempurna dan utama adalah generasi yang terdahulu yaitu generasi para Sahabat.
  • Firman Allah Jalla Jalaaluhu, yang artinya, ”Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan-jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang Telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia kedalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisaa: 115 )Imam Ibnu Abi Jamrah rahimahullah mengatakan, ”Para ulama telah berkata mengenai makna dalam firman Allah, ”Dan mengikuti jalan yang bukan jalan-jalan orang yang beriman” yang dimaksud adalah (jalan) para Sahabat generasi pertama.
  • Diriwayatkan dari Sahabat al- ‘Irbadh bin sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,”Suatu hari Rasulullah shalallah ‘alaihi wasallam pernah shalat bersama kami kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami?’ Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,‘Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh orang yang hidup diantara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.” HR Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no.4607), at-Tirmidzi (no.2676), ad-Darimi (I/44), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/205), al Hakim (I/95)Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diatas terdapat perintah untuk berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah dan Sunnah Khulafa-ur Rasyidin sepeninggal beliau.

 

Disarikan dari buku Mulia Dengan Manhaj Salaf karya Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawaz oleh Ummu Maryam Ismiyanti
Murojaah: Ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi

 

***

 

Artikel muslimah.or.id

———————————–

Manfaat dan Keutamaan Mengikuti Manhaj (Metode Pemahaman) Salaf


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه أجمعين، أما بعد

Prolog

Manhaj salaf adalah satu-satunya manhaj yang diakui kebenarannya oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena manhaj ini mengajarkan pemahaman dan pengamalan islam secara lengkap dan menyeluruh, dengan tetap menitikberatkan kepada masalah tauhid dan pokok-pokok keimanan sesuai dengan perintah Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman:

{وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari (kalangan) orang-orang muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Qs. At Taubah: 100)

 

Dalam ayat lain, Allah ta’ala memuji keimanan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya:

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا

“Dan jika mereka beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar).” (Qs. Al Baqarah: 137)

Dalam hadits yang shahih tentang perpecahan umat ini menjadi 73 golongan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua golongan tersebut akan masuk neraka, kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah. Dalam riwayat lain: “Mereka (yang selamat) adalah orang-orang yang mengikuti petunjukku dan petunjuk para sahabatku.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad Darimy dan imam-imam lainnya, dishahihkan oleh Ibnu Taimiyyah, Asy Syathiby dan Syaikh Al Albany. Lihat “Silsilatul Ahaaditsish Shahihah” no. 204)

Maka mengikuti manhaj salaf adalah satu-satunya cara untuk bisa meraih keselamatan di dunia dan akhirat, sebagaimana hanya dengan mengikuti manhaj inilah kita akan bisa meraih semua keutamaan dan kebaikan yang Allah ta’ala janjikan dalam agama-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di masa mereka (para sahabat radhiyallahu ‘anhum), kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Berkata Imam Ibnul Qayyim dalam menjelaskan hadits di atas: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan (dalam hadits ini) bahwa generasi yang terbaik secara mutlak adalah generasi di masa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (para sahabat radhiyallahu ‘anhum), dan ini mengandung pengertian keterdepanan mereka dalam seluruh aspek kebaikan (dalam agama ini), karena kalau kebaikan mereka (hanya) dalam beberapa aspek (tidak sempurna dan menyeluruh) maka mereka tidak akan dinamakan (oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai) generasi yang terbaik secara mutlak”. Maksud terbaik secara mutlak yaitu kebaikan yang ada pada mereka adalah kebaikan yang sempurna dan menyeluruh pada semua aspek kebaikan dalam agama. (Lihat Kitab I’laamul muwaqqi’iin, 4/136- cet. Daarul Jiil, Beirut, 1973)

Untuk lebih jelasnya pembahasan masalah ini, berikut ini kami akan menyebutkan dan menjelaskan beberapa contoh/poin penting yang menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan yang bisa kita capai dengan berusaha memahami dan mengamalkan manhaj salaf dengan baik dan benar, serta mustahilnya mencapai semua itu dengan mengikuti selain manhaj yang benar ini:

1- Keteguhan iman dan keistiqamahan dalam agama di dunia dan akhirat

Allah ta’ala berfirman:

{يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ}

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim: 27)

Makna ‘ucapan yang teguh’ dalam ayat di atas ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh seorang sahabat yang mulia Al Bara’ bin ‘Aazib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang muslim ketika ditanya di dalam kubur (oleh Malaikat Munkar dan Nakir) maka dia akan bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah (Laa Ilaaha Illallah) dan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah (Muhammadur Rasulullah), itulah (makna) firman-Nya: {Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat}.”. (HR. Al Bukhari dalam Shahih Al Bukhari, no. 4422- cet. Daar Ibni Katsir, Beirut, 1407 H. Hadits yang semakna juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 2871- cet. Daar Ihya-it turats al ‘araby, Beirut)

Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa keteguhan iman dan keistiqamahan dalam agama hanyalah Allah ta’ala anugerahkan kepada orang beriman yang memiliki ‘ucapan yang teguh’, yaitu dua kalimat syahadat yang dipahami dan diamalkan dengan baik dan benar.

Maka berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bagi kita salah satu keutamaan dan manfaat besar mengikuti manhaj salaf, karena tidak diragukan lagi hanya manhaj salaf-lah satu-satunya manhaj yang benar-benar memberikan perhatian besar kepada pemahaman dan pengamalan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar, dengan selalu mengutamakan pembahasan tentang kalimat Tauhid (Laa Ilaaha Illallah), keutamaannya, kandungannya, syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, hal-hal yang membatalkan dan mengurangi kesempurnaannya, disertai peringatan keras untuk menjauhi perbuatan syirik dan semua perbuatan yang bertentangan dengan tauhid.

Demikian pula perhatian besar manhaj salaf terhadap kalimat syahadat (Muhammadur Rasulullah), dengan selalu mengutamakan pembahasan tentang keindahan dan kesempurnaan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, disertai peringatan keras untuk menjauhi perbuatan bid’ah dan semua perbuatan yang bertentangan dengan Sunnah.

Berkata Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu: “Al Firqatun Naajiyah (golongan yang selamat dari ancaman azab Allah ta’ala / orang-orang yang mengikuti manhaj salaf) adalah orang-orang yang (sangat) mengutamakan Tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam beribadah, seperti berdoa, meminta pertolongan, memohon keselamatan dalam keadaan susah maupun senang, berkurban, bernazar, dan ibadah-ibadah lainnya, serta keharusan menjauhi syirik dan fenomena-fenomenanya yang terlihat nyata di kebanyakan negara Islam… Dan mereka adalah orang-orang yang selalu menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadah, tingkah laku dan (semua sisi) kehidupan mereka, sehingga jadilah mereka sebagai orang-orang yang asing di tengah masyarakat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggambarkan keadaan mereka: “Sesungguhnya islam awalnya datang dalam keadaan asing, dan nantinya pun (di akhir jaman) akan kembali asing, maka beruntunglah (akan mendapatkan surga) orang-orang yang asing (karena berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)” (HR. Muslim). Dalam riwayat lain: “… Mereka adalah orang-orang yang berbuat kebaikan ketika manusia dalam keadaan rusak”. Berkata Syaikh Al Albani: Hadits ini diriwayatkan oleh Abu ‘Amr Ad Daani dengan sanad yang shahih.” (Minhaajul Firqatin Naajiyah, hal. 7-8 – cet. Daarush Shami’i, Riyadh)

2- Meraih Kenikmatan tertinggi di Surga, yaitu Melihat Wajah Allah ta’ala yang Maha Mulia dan Maha Tinggi

Dalam hadits shahih dari seorang sahabat yang mulia Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah ta’ala Berfirman: “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai dari pada melihat (wajah) Allah ta’ala”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat berikut:

للذين أحسنوا الحسنى وزيادة

“Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah ta’ala)” (QS Yunus: 26). (HR. Muslim dalam Shahih Muslim, no. 181)

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab beliau “Ighaatsatul lahafaan” (Hal. 70-71, Mawaaridul amaan, cet. Daar Ibnil Jauzi, Ad Dammaam, 1415 H) menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat ini (melihat wajah Allah ta’ala) adalah balasan yang Allah ta’ala berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya. Untuk lebih jelas pembahasan masalah ini, silakan baca tulisan kami yang berjudul “Indahnya Islam Manisnya Iman”. Dalam sebuah ucapannya yang tersohor Ibnu Taimiyyah berkata: “Sesungguhnya di dunia ini ada jannnah (surga), barangsiapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia ini maka dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti.” (Al Waabilush Shayyib, 1/69)

Beliau menjelaskan hal ini berdasarkan lafazh doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih: “Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)…” (HR. An Nasa-i dalam “As Sunan” (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam “Al Musnad” (4/264), Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” (no. 1971) dan Al Hakim dalam “Al Mustadrak” (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan Sykh Al Albani dalam “Zhilaalul Jannah Fii Takhriijis Sunnah” (no. 424))

Dari keterangan di atas juga terlihat jelas besarnya keutamaan dan manfaat mengikuti manhaj salaf. Karena kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan Allah ta’ala merupakan buah yang paling utama dari ma’rifatullah (pengenalan/pengetahuan yang benar dan sempurna tentang Allah ta’ala dan sifat-sifat-Nya), yang mana ma’rifatullah yang benar dan sempurna tidak akan mungkin dicapai kecuali dengan mempelajari dan memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala dalam Al Qur-an dan Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan metode pemahaman yang benar, yang ini semua hanya didapatkan dalam manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah/manhaj Salaf.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ini adalah ideologi golongan yang selamat dan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah ta’ala sampai hari kiamat, (yang mereka adalah) Ahlus Sunnah wal jama’ah (orang-orang yang mengikuti manhaj salaf), yaitu beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, (hari) kebangkitan setelah kematian, dan beriman kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk.

Termasuk iman kepada Allah (yang diyakini Ahlus Sunnah wal jama’ah) adalah mengimani sifat-sifat Allah ta’ala yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur-an dan yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam hadits-hadits yang shahih), tanpa tahriif (menyelewengkan maknanya), tanpa ta’thiil (menolaknya), tanpa takyiif (membagaimanakan/menanyakan bentuknya), dan tanpa tamtsiil (menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk). Ahlus Sunnah wal jama’ah mengimani bahwa Allah ta’ala:

{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Qs. Asy Syuura:11)

Maka Ahlus Sunnah wal jama’ah tidak menolak sifat-sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tidak menyelewengkan makna firman Allah dari arti yang sebenarnya, tidak menyimpang (dari kebenaran) dalam (menetapkan) nama-nama Allah (yang maha indah) dan dalam (memahami) ayat-ayat-Nya. Mereka tidak membagaimanakan /menanyakan bentuk sifat Allah dan tidak menyerupakan sifat-Nya dengan sifat makhluk. Karena Allah ta’ala tiada yang serupa, setara dan sebanding dengan-Nya, Dia ta’ala tidak boleh dianalogikan dengan makhluk-Nya, dan Dia-lah yang paling mengetahui tentang diri-Nya dan tentang makhluk-Nya, serta Dia-lah yang paling benar dan baik perkataan-Nya dibanding (semua) makhluk-Nya. Kemudian (setelah itu) para Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam orang-orang yang benar (ucapannya) dan dibenarkan, berbeda dengan orang-orang yang berkata tentang Allah ta’ala tanpa pengetahuan. Oleh karena itulah Allah ta’ala Berfirman:

{سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين}

“Maha Suci Rabbmu Yang mempunyai kemuliaan dari apa yang mereka katakan, Dan keselamatan dilimpahkan kepada para Rasul, Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.” (Qs. Ash Shaaffaat: 180-182)

Maka (dalam ayat ini) Allah menyucikan diri-Nya dari apa yang disifatkan orang-orang yang menyelisihi (petunjuk) para Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Allah menyampaikan salam (keselamatan) kepada para Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam karena selamat (suci)nya ucapan yang mereka sampaikan dari kekurangan dan celaan. Allah ta’ala telah menghimpun antara an nafyu (meniadakan sifat-sifat buruk) dan al itsbat (menetapkan sifat-sifat yang maha baik dan sempurna) dalam semua nama dan sifat yang Dia tetapkan bagi diri-Nya, maka Ahlus Sunnah wal jama’ah sama sekali tidak menyimpang dari petunjuk yang dibawa oleh para Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena itulah jalan yang lurus; jalannya orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah ta’ala, yaitu para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh.” (Kitab “Al ‘Aqiidatul Waasithiyyah” (hal. 6-8))

3- Menggapai taufik dari Allah ta’ala yang merupakan kunci pokok segala kebaikan

Berkata Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah: “Kunci pokok segala kebaikan adalah dengan kita mengetahui (meyakini) bahwa apa yang Allah kehendaki (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi. Karena pada saat itulah kita yakin bahwa semua kebaikan (amal shaleh yang kita lakukan) adalah termasuk nikmat Allah (karena Dia-lah yang memberi kemudahan kepada kita untuk bisa melakukannya), sehingga kita akan selalu mensyukuri nikmat tersebut dan bersungguh-sungguh merendahkan diri serta memohon kepada Allah agar Dia tidak memutuskan nikmat tersebut dari diri kita. Sebagaimana (kita yakin) bahwa semua keburukan (amal jelek yang kita lakukan) adalah karena hukuman dan berpalingnya Allah dari kita, sehingga kita akan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar menghindarkan diri kita dari semua perbuatan buruk tersebut, dan agar Dia tidak menyandarkan (urusan) kita dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan kepada diri kita sendiri.

Telah bersepakat al ‘Aarifun (orang-orang yang memiliki pengetahuan yang dalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya) bahwa asal semua kebaikan adalah taufik dari Allah ta’ala kepada hamba-Nya, sebagaimana asal semua keburukan adalah khidzlaan (berpalingnya) Allah ta’ala dari hamba-Nya. Mereka juga bersepakat bahwa (arti) taufik itu adalah dengan Allah tidak menyandarkan (urusan) kita kepada diri kita sendiri, dan (sebaliknya arti) al khidzlaan (berpalingnya Allah ta’ala dari hamba) adalah dengan Allah membiarkan diri kita (bersandar) kepada diri kita sendiri (tidak bersandar kepada Allah ta’ala)…”

Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari hal ini dalam doa beliau yang terkenal dan termasuk doa yang dianjurkan untuk dibaca pada waktu pagi dan petang: “… (Ya Allah!) jadikanlah baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan diriku bersandar kepada diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata.” (HR. An Nasa-i dalam “As Sunan” (6/147) dan Al Hakim dalam “Al Mustadrak” (no. 2000), dishahihkan oleh Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilatul Ahaaditsish Shahihah (1/449, no. 227)) (Kitab Al Fawa-id (hal. 133- cet. Muassasah ummil Qura, Mesir 1424 H))

Dari keterangan Imam Ibnul Qayyim di atas jelaslah bagi kita bahwa kunci pokok segala kebaikan adalah memahami dan mengimani bahwa apa yang Allah kehendaki (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi, yang ini merupakan kesimpulan makna iman kepada takdir Allah ta’ala yang baik maupun yang buruk. Dan sekali lagi ini menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan mengikuti manhaj salaf, karena pemahaman yang benar terhadap masalah takdir Allah ta’ala hanya ada pada manhaj salaf. Untuk lebih jelasnya, baca keterangan Ibnu Taimiyyah dalam Al ‘Aqiidatul waasithiyyah (hal. 22) tentang lurusnya pemahaman Ahlus Sunnah wal jama’ah dalam masalah iman kepada takdir Allah dan sesatnya pemahaman-pemahaman lain yang menyimpang dari pemahaman Ahlus Sunnah wal jama’ah.

4- Mendapatkan semua kemuliaan yang Allah Ta’ala sediakan di akhirat

Imam Ibnu Katsir ketika menjelaskan kewajiban mengimani keberadaan Al Haudh (telaga milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat nanti) yang merupakan bagian dari iman kepada hari akhir, beliau berkata: “Penjelasan tentang telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –semoga Allah Memudahkan kita meminum dari telaga tersebut pada hari kiamat– (yang disebutkan) dalam hadits-hadits yang telah dikenal dan (diriwayatkan) dari banyak jalur yang kuat, meskipun ini tidak disukai oleh orang-orang ahlul bid’ah yang bersikeras kepala menolak dan mengingkari keberadaan telaga ini. Mereka inilah yang paling terancam untuk dihalangi (diusir) dari telaga tersebut (pada hari kiamat) (Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam Al Bukhari (no. 6211) dan Muslim (no. 2304) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.), sebagaimana ucapan salah seorang ulama salaf: “Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut…” (Kitab An Nihayah Fiil Fitani Wal Malaahim (hal. 127))

Ucapan yang dinukil oleh Imam Ibnu Katsir ini menunjukkan bahwa semua kemuliaan yang Allah ta’ala sediakan di akhirat, seperti kenikmatan di alam kubur, meminum dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mendapatkan Syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang diizinkan Allah ta’ala untuk memberikan syafaat bahkan termasuk kenikmatan di dalam surga, hanyalah Allah ta’ala anugerahkan kepada orang-orang yang tidak mengingkari dan mengimaninya dengan benar. Ini juga menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan mengikuti manhaj salaf, karena hanya dengan mengikuti manhaj salaflah kita bisa memahami dan mengimani hal-hal tersebut dengan baik dan benar, sehingga orang-orang yang memahami dan mengimani hal-hal tersebut berdasarkan manhaj salaf merekalah yang paling diutamakan untuk meraih semua kemuliaan tersebut dengan sempurna. Adapun orang-orang yang tidak memahami dan mengimani hal-hal tersebut dengan benar karena tidak mengikuti manhaj salaf, maka mereka sangat terancam untuk terhalangi dari mendapatkan kemuliaan-kemuliaan tersebut, minimal akan berkurang kesempurnaannya, tergantung dari jauh dekat pemahaman tersebut dari pemahaman salaf.

Penutup

Contoh-contoh di atas jelas sekali menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan yang bisa kita raih di dunia dan akhirat dengan mengikuti manhaj salaf, masih banyak contoh lain yang tidak mungkin kami sebutkan semua. Semoga dengan contoh-contoh ini kita semakin termotivasi untuk lebih giat mengkaji dan mengamalkan petunjuk para ulama salaf dalam beragama, agar kita semakin sempurna mendapatkan manfaat dan kebaikan yang Allah ta’ala sediakan bagi hamba-hambanya yang menjalankan agamanya dengan baik dan benar.

Sebagai penutup, alangkah indahnya ucapan seorang penyair yang berkata:

Semua kebaikan (hanya dapat dicapai) dengan mengikuti (manhaj) salaf
Dan semua keburukan ada pada perbuatan bid’ah orang-orang khalaf

Khalaf adalah orang-orang yang menyelisihi manhaj salaf.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 5 Dzulqa’dah 1429 H

***

Penulis: Abdullah bin Taslim Al Buthoni
Artikel http://www.muslim.or.id

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: