Berjabat tangan setelah sholat berjama’ah

Bersalaman (Berjabat Tangan) Setelah Shalat Wajib


Assalamu’alaikum, Ustadz Farid Nu’man yang di rakhmati Alloh.Ana mau menanyakan perihal hukum berjabat tangan seusai shalat berjamaah bagaimana hukumnya ustadz? Mengingat dikalangan masyarakat muslim Indonesia, aktivitas bersalaman setelah Sholat sangat banyak ditemui. Jazakallah sebelumnya (@ ami)
Jawaban:
Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmtullah wa Barakatuh.
Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘ala Aalihi wa Ashhabihi wa man waalah, wa ba’du.
Pada dasarnya bersalaman setelah shalat wajib tidak disyariatkan (ghairu masyru’); tidak akan kita temukan tentang hal itu dalam Al Quran, As Sunnah, dan Ijma’, baik dalam bentuk kata perintah wajib atau mustahab (sunah). Sedangkan, wajib dan sunah adalah perkara yang mesti berasal dari pembuat syariat bukan hawa nafsu manusia yang menyangka baik sebuah perbuatan.
Di sisi lain, bersalaman adalah perbuatan yang secara mutlak (umum) memang dianjurkan dilakukan sesama muslim, dengan tanpa terikat oleh waktu, tempat, dan peristiwa tertentu. Kita dapat melakukannya ketika pagi, siang, sore, dan malam, ketika berdiri, duduk, dan berbaring, ketika diam atau berjalan, mukim atau musafir, bertemu dan berpisah, di majelis  dan di luar majelis, atau kapan pun, termasuk juga setelah shalat, sebab hal itu termasuk lingkup kemutlakannya.
Namun, masalah mulai timbul ketika bersalaman setelah shalat   telah menjelma menjadi adat dan tradisi  baru secara khusus, yang jika ditinggalkan oleh pelakunya, mereka merasa ada sesuatu yang hilang, atau tidak nyaman, dan mereka baru tentram dihati ketika bersalaman itu mereka lakukan kembali. Seakan bersalaman  adalah ibadah yang terkait dengan shalat itu sendiri.
Ini benar-benar telah terjadi di sebagian fenomena masyarakat Islam. Manakala ada manusia yang tidak mengikuti tradisi ini serta merta orang tersebut dituduh dengan berbagai tuduhan yang jelek. Pada titik ini, bersalaman setelah shalat telah menjadi wujud baru dalam ritual Islam yang tidak ada dasarnya. Oleh karena itu, masalah ini sangat bersifat kasuistis dan kondisional, tidak dibenarkan secara mutlak dan tidak disalahkan secara mutlak pula. Sebab, memang ada orang yang bersalaman setelah shalat telah menjadi tradisi baginya, setelah dia mengucapkan salam langsung sibuk memutar badan kanan kiri dan belakang untuk bersalaman, dan itu dilakukan lagi pada kesempatan shalat  lainnya,  sehingga ada  jamaah merasa terganggu. Ada pula yang bersalaman karena memang dia baru berjumpa dengan sahabat di kanan kirinya, yang baru ada kesempatan bersalaman setelah shalat. Ada juga yang bersalaman setelah shalat karena dia diajak untuk bersalaman, dia bukan inisiatornya, dan itu pun bukan kebiasaannya, yang jika dia tolak akan melukai hati saudaranya. Nah, semua ini tentu tidak bisa dinilai secara sama.
Dalil-Dalil Umum Bersalaman
Dari Bara  bin ‘Azib Radhialllahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مامن مسلمين يلتقيان، فيتصافحان، إلا غفر لهما، قبل أن يتفرقا
“Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu mereka bersalaman melainkan Allah ampuni mereka berdua   sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Daud No. 5212, At Tirmidzi No. 2727, Ibnu Majah No. 3703, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam berbagai kitabnya, Al Misykah Al Mashabih No. 4679, Shahihul Jami’ No. 5777, dan lainnya)
Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
قلنا: يا رسول الله! أينحني بعضنا لبعض؟ قال ((لا)). قلنا: أيعانق بعضنا بعضا؟ قال ((لا. ولكن تصافحوا)).
Kami bertanya: “Ya Rasulullah! Apakah kami mesti membungkuk satu sama lain?” Beliau menjawab; “Tidak.” Kami bertanya: “Apakah saling berpelukan?” Beliau menjawab: “Tidak, tetapi hendaknya saling bersalaman.” (HR. Ibnu Majah No. 3702, Abu Ya’ala No.  4287. Hadits ini dihasankan Syakh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3702)
 
Dari Anas pula:
كان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم إذا تلاقوا تصافحوا ، وإذا قدموا من سفر تعانقوا
“Adalah sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika mereka berjumpa mereka saling bersalaman, jika mereka datang dari bepergian, mereka saling berpelukan.” (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath, No. 97. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib No. 2719. Imam Al Haitsami mengatakan: rijalnya (para perawinya) rijal hadits shahih. Lihat  Majma’ Az Zawaid, 8/36)
 
Dari Ka’ab bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
 دخلت المسجد، فإذا برسول الله صلى الله عليه وسلم، فقام إلي طلحة بن عبيد الله يهرول حتى صافحني وهنأني.
Saya masuk ke masjid,  ketika  bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datanglah menghampiri saya Thalhah bin ‘Ubaidillah tergesa-gesa sampai dia menjabat tangan saya dan mengucapkan selamat kepada saya. (HR. Bukhari No. 4156, Abu Daud No. 2773, Ahmad No. 15789).
Berkata Qatadah Radhiallahu ‘Anhu:
قلت لأنس: أكانت المصافحة في أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم؟ قال: نعم.
Aku berkata kepada Anas: apakah bersalaman di lakukan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Dia menjawab: “Ya.” (HR. Bukhari No. 5908)
Dan masih banyak lainnya.
Berbagai riwayat dan atsar di atas menunjukkan masyru’-nya bersalaman bagi sesama muslim yakni  pria dengan pria, atau wanita dengan wanita. Dan, hal ini mutlak kapan saja. Para ulama yang menyunnahkan dan membolehkan berjabat tangan setelah shalat berdalil dengan riwayat-riwayat ini, bagi mereka berbagai riwayat ini tidak membatasi hanya saat pertemuan. Sedangkan, dalil ‘aam (umum) dan muthlaq (tidak terikat) adalah menjadi dalil kuat yang mesti dipakai selama belum ada dalil khash (spesifik) dan muqayyad (mengikat) yang mengalihkan kemutlakannya. Nah, dalam bersalaman ini dalil-dalil bersifat ‘aam di atas tetaplah dapat dijadikan dalil untuk bersalaman kapan saja, karena memang tidak ada dalil khusus yang mengalihkannya.
Sedangkan bagi pihak yang memakruhkan bahkan membid’ahkannya, mereka menilai  bahwa yang terjadi adalah bersalaman setelah shalat menjadi kebiasaan tersendiri di masyarakat yang mereka sandarkan kepada agama dan ibadah, dan fakta inilah yang sesungguhnya terjadi,  oleh karena itu dibutuhkan dalil secara khusus untuk mengukuhkannya, jika tidak ada, maka itu tertolak (baca: bid’ah).
Seperti yang telah kami sampaikan sebelumnya, masalah ini tidak bisa digebyah uyah begitu saja karena sifatnya yang sangat personal dan kasuistis. Oleh karena itu, mesti dilihat menurut rincian sebagai berikut:
–          Jika melakukannya karena si pelaku  menganggap bersalaman adalah  bagian dari shalat, maka tidak syak lagi, ini adalah bid’ah dhalalah, karena dia telah memasukkan dalam ritual peribadatan yang bukan bagian darinya, walau pun ini hanya dilakukan sekali.
–          Jika melakukannya tidak dianggap bagian dari shalat, tapi dilakukan berulang-ulang dan menjadi adat tersendiri sehingga dipandang memiliki keutamaan tersendiri pula, yang jika ditinggalkan mereka merasa bersalah, maka ini pun bisa berpotensi menjadi bid’ah dalam ibadah. Sebaiknya ditinggalkan, sebab jika amaliah yang benar-benar sunah saja nabi tidak terus menerus melakukan karena khawatir dianggap wajib, apalagi perbuatan yang masih debatable para ulama. Sungguh, keluar dari khilafiah adalah lebih baik.
–           Jika melakukannya dalam kondisi   dia baru berjumpa dengan saudaranya, maka itu tidak mengapa, bahkan bagus walau pun berasal dari inisiatifnya sendiri, dan termasuk aplikasi hadits Bara bin ‘Azib:  Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu mereka bersalaman melainkan Allah ampuni mereka berdua selama sebelum berpisah
–          Jika melakukannya bukan inisiatifnya, tetapi dia dalam keadaan berjamaah shalat bersama kaum yang biasa melakukannya dan mereka mengajaknya bersalaman, lalu dia sulit menghindar dan dapat melukai perasaan saudaranya itu jika dia menghindar, maka tidak mengapa dia bersalaman. Hal ini, demi menjaga perasaan sesama muslim, menyatukan hati, dan menghindari kebencian satu sama lain. Dengan demikian dia menjalankan mudharat demi menghindari mudharat yang lebih besar dan berkepanjangan.  Sikap ini merupakan ‘ibrah dari sikap elegan Imam Ahmad bin Hambal Radhiallahu ‘Anhu yang membid’ahkan qunut subuh tetapi beliau tetap ikut berqunut jika imam melakukannya, demi menjaga kesatuan hati, kesamaan kata,  dan menghilangkan permusuhan.    Fa’tabiruu ..!
Dan, rincian inilah yang menjadi pegangan kami dalam memandang permasalah ini. Wallahu A’lam
Pandangan Para Ulama
Berikut ini adalah pandangan para imam ahlus sunnah yang patut kita jadikan bahan pemikiran. Semua kami paparkan sebagai amanah dan kejujuran ilmiah, bahwa memang perselisihan para ulama dalam hal ini memang wujud (ada). Terlepas dari setuju atau tidaknya kita terhadap pandangan salah satu dari mereka, yang jelas, pandangan mereka tidak lepas dari menyunnahkan, membolehkan dan memakruhkan bahkan membid’ahkan, dengan alasan  masing-masing yang telah kami sebutkan di atas.
Kami akan membagi dua kelompok, yakni ulama yang menyetujui (baik mengataan sunah atau mubah) dan ulama yang  menolak (baik yang memakruhkan atau membid’ahkan).
Para Ulama Yang Menyetujui
Mereka adalah sederatan imam kaum muslimin yang nama besar mereka menjadi jaminan kualitas pandangan dan keilmuannya.
1. Imam Abul Hasan Al Mawardi Asy Syafi’i Rahimahullah
Beliau mengatakan dalam kitabnya Al Hawi Al Kabir:
إِذَا فَرَغَ الْإِمَامُ مِنْ صَلَاتِهِ فَإِنْ كَانَ مَنْ صَلَّى خَلْفَهُ رِجَالًا لَا امْرَأَةَ المصافحة بعد الصلاة فِيهِمْ وَثَبَ سَاعَةَ يُسَلِّمُ لِيَعْلَمَ النَّاسُ فَرَاغَهُ مِنَ الصَّلَاةِ
“Jika seorang imam sudah selesai dari shalatnya, dan  jika yang shalat di belakangnya adalah seorang laki-laki, bukan wanita, maka dia bersalaman setelah shalat bersama mereka, dan  setelah sempurna waktunya, hendaknya dia mengucapkan salam    agar manusia tahu bahwa dia telah selesai dari shalat.” (Al Hawi Al Kabir, 2/343. Darul Fikr. Beirut – Libanon)
2. Imam ‘Izzuddin (Al ‘Izz) bin Abdussalam Asy Syafi’i Rahimahullah (w. 660H)
               
Beliau memasukkan bersalaman setelah shalat subuh dan ‘ashar sebagai bid’ah yang boleh (bid’ah mubahah).  Berikut perkataannya:
والبدع المباحة أمثلة. منها: المصافحة عقيب الصبح والعصر، ومنها التوسع في اللذيذ من المآكل والمشارب والملابس والمساكن، ولبس الطيالسة، وتوسيع الأكمام.
Bid’ah-bid’ah mubahah (bid’ah yang boleh) contoh di antaranya adalah: bersalaman setelah subuh dan ‘ashar, di antaranya juga berlapang-lapang dalam hal-hal yang nikmat  berupa  makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal,   melebarkan pakaian  kebesaran ulama,  dan melebarkan lengan baju.” (Qawaid Al Ahkam fi Mashalihil Anam, 2/173)
3. Imam An Nawawi Asy Syafi’i Rahimahullah (w. 676H)
Beliau juga berpendapat mirip dengan Imam Ibnu Abdissalam di atas. Namun, beliau menambahkan dengan beberapa rincian. Berikut perkataannya:
وَأَمَّا هَذِهِ الْمُصَافَحَةُ الْمُعْتَادَةُ بَعْدَ صَلَاتَيْ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ فَقَدْ ذَكَرَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ  رحمه الله أَنَّهَا مِنْ الْبِدَعِ الْمُبَاحَةِ وَلَا تُوصَفُ بِكَرَاهَةٍ وَلَا اسْتِحْبَابٍ، وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ حَسَنٌ، وَالْمُخْتَارُ أَنْ يُقَالَ: إنْ صَافَحَ مَنْ كَانَ مَعَهُ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَمُبَاحَةٌ كَمَا ذَكَرْنَا، وَإِنْ صَافَحَ مَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ قَبْلَهَا فَمُسْتَحَبَّةٌ؛ لِأَنَّ الْمُصَافَحَةَ عِنْدَ اللِّقَاءِ سُنَّةٌ بِالْإِجْمَاعِ لِلْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ فِي ذَلِكَ
“Ada pun bersalaman ini, yang dibiasakan setelah dua shalat; subuh dan ‘ashar, maka Asy Syaikh Al Imam Abu Muhammad bin Abdussalam Rahimahullah telah menyebutkan bahwa itu termasuk bid’ah yang boleh yang tidak disifatkan sebagai perbuatan yang dibenci dan tidak pula dianjurkan, dan ini merupakan perkataannya yang bagus. Dan, pandangan yang dipilih bahwa dikatakan; seseorang yang bersalaman (setelah shalat) dengan orang yang bersamanya sejak sebelum shalat maka itu boleh sebagaimana yang telah kami sebutkan, dan jika dia bersalaman dengan orang yang sebelumnya belum bersamanya maka itu sunah, karena bersalaman ketika berjumpa adalah sunah menurut ijma’,  sesuai hadits-hadits shahih tentang itu.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/325. 1423H-2003M. Dar ‘Aalim Al Kitab)
Dalam kitabnya yang lain beliau mengatakan;
واعلم أن هذه المصافحة مستحبة عند كل لقاء، وأما ما اعتاده الناس من المصافحة بعد صلاتي الصبح والعصر، فلا أصل له في الشرع على هذا الوجه، ولكن لا بأس به، فإن أصل المصافحة سنة، وكونهم حافظوا عليها في بعض الأحوال، وفرطوا فيها في كثير من الأحوال أو أكثرها، لا يخرج ذلك البعض عن كونه من المصافحة التي ورد الشرع بأصلها.
“Ketahuilah, bersalaman merupakan perbuatan yang disunahkan dalam keadaan apa pun. Ada pun kebiasaan manusia saat ini bersalaman setelah shalat subuh dan ‘ashar, maka yang seperti itu tidak ada dasarnya dalam syariat, tetapi itu tidak mengapa. Karena  pada dasarnya  bersalaman adalah sunah, dan keadaan mereka menjaga hal itu pada sebagian keadaan dan mereka berlebihan di dalamnya pada banyak keadaan lain atau lebih dari itu, pada dasarnya tidaklah keluar dari bersalaman yang ada dalam syara’.” (Al Adzkar, Hal. 184. Mawqi’ Ruh Al Islam)  Lihat juga dalam kitabnya yang lain. (Raudhatuth Thalibin, 7/438. Dar Al Maktabah Al ‘ilmiyah)
4. Imam Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki Asy Syafi’i (w. 974H)
Beliau memfatwakan tentang sunahnya bersalaman setelah shalat walau pun shalat id. (Al Fatawa Al Kubra Al Fiqhiyah ‘Ala Madzhab Al Imam Asy Syafi’i 4/224-225. Cet. 1. 1417H-1997M. Darul Kutub Al ‘Ilmiah, Beirut – Libanon)
Dalam kitabnya yang lain beliau berkata:
وَلَا أَصْلَ لِلْمُصَافَحَةِ بَعْدَ صَلَاتَيْ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ وَلَكِنْ لَا بَأْسَ بِهَا فَإِنَّهَا مِنْ جُمْلَةِ الْمُصَافَحَةِ ، وَقَدْ حَثَّ الشَّارِعُ عَلَيْهَا
“Tidak ada dasarnya bersalaman setelah shalat subuh dan ‘ashar, tetapi itu tidak mengapa, karena itu termasuk makna global dari bersalaman, dan Asy Syaari’ (pembuat syariat) telah menganjurkan atas hal itu.” (Tuhfatul  Muhtaj, 39/448-449. Syamilah)
5. Imam Al Muhib Ath Thabari Asy Syafi’i Rahimahullah
Beliau termasuk ulama yang menyunnahkan bersalaman setelah shalat, dalilnya adalah hadits shahih riwayat Imam Bukhari berikut:
Dari Abu Juhaifah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ قَالَ شُعْبَةُ وَزَادَ فِيهِ عَوْنٌ عَنْ أَبِيهِ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ
كَانَ يَمُرُّ مِنْ وَرَائِهَا الْمَرْأَةُ وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ قَالَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَوَضَعْتُهَا عَلَى وَجْهِي فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنْ الثَّلْجِ وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنْ الْمِسْكِ
`
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar pada saat siang yang panas menuju Al Bath-ha’, beliau berwudhu kemudian shalat zhuhur dua rakaat, dan ‘ashar dua rakaat, dan ditangannya terdapat sebuah tombak.” Syu’bah mengatakan, dan ‘Aun menambahkan di dalamnya, dari ayahnya, dari Abu Juhaifah, dia berkata: “Dibelakangnya lewat seorang wanita, lalu manusia bangun, mereka merebut tangan nabi, lalu mereka mengusap wajah mereka dengan tangan beliau. Abu Juhaifah berkata: aku pegang tangannya lalu aku letakan tangannya pada wajahku, aku rasakah tangannya lebih sejuk dari salju, lebih wangi dari wangi kesturi.” (HR. Bukhari No. 3360,  Ad Darimi No. 1367, Ahmad No.  17476)
               
Al Muhib Ath Thabari Rahimahullah mengomentari hadits ini;
 ويستأنس بذلك لما تطابق عليه الناس من المصافحة بعد الصلوات في الجماعات لا سيما في العصر والمغرب إذا اقترن به قصد صالح من تبرك أو تودد أو نحوه
“Demikian itu disukai, hal ini lantaran manusia telah berkerumun untuk bersalaman dengannya setelah  melakukan shalat berjamaah, apalagi ‘ashar dan maghrib, hal ini jika  persentuhannya itu memiliki tujuan baik,  berupa mengharapkan berkah dan kasih sayang atau semisalnya.”   (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 37/362. Maktabah Al Misykah)
6.  Imam Syihabuddin Ar Ramli Asy Syafi’i Rahimahullah
Dalam kitab Fatawa-nya tertulis:
( سُئِلَ ) عَمَّا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنْ الْمُصَافَحَةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ هَلْ هُوَ سُنَّةٌ أَوْ لَا ؟ ( فَأَجَابَ ) بِأَنَّ مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنْ الْمُصَافَحَةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ لَا أَصْلَ لَهَا ، وَلَكِنْ لَا بَأْسَ بِهَا
(Ditanya) tentang apa yang dilakukan manusia berupa bersalaman setelah shalat, apakah itu sunah atau tidak?
(Beliau menjawab): “Sesungguhnya apa yang dilakukan manusia berupa bersalaman setelah shalat tidaklah ada dasarnya, tetapi itu tidak  mengapa.” (Fatawa Ar Ramli, 1/385. Syamilah)
               
7. Imam Abdurrahman Syaikhi Zaadah Al Hanafi Rahimahullah
Beliau berkata ketika membahas tentang shalat Id:
وَالْمُسْتَحَبُّ الْخُرُوجُ مَاشِيًا إلَّا بِعُذْرٍ وَالرُّجُوعُ مِنْ طَرِيقٍ آخَرَ عَلَى الْوَقَارِ مَعَ غَضِّ الْبَصَرِ عَمَّا لَا يَنْبَغِي وَالتَّهْنِئَةِ بِتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ ؛ لَا تُنْكَرُ كَمَا فِي الْبَحْرِ وَكَذَا الْمُصَافَحَةُ بَلْ هِيَ سُنَّةٌ عَقِيبَ الصَّلَاةِ كُلِّهَا وَعِنْدَ الْمُلَاقَاةِ كَمَا قَالَ بَعْضُ الْفُضَلَاءِ
“Disunahkan keluar menuju lapangan dengan berjalan kecuali bagi yang uzur dan pulang melalui jalan yang lain dengan berwibawa dan menundukkan pandangan dari yang dilarang, dan menampakan kegembiraan dengan ucapan: taqabballallahu minna wa minkum, hal ini tidaklah diingkari sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al Bahr, demikian juga bersalaman bahkan itu adalah sunah dilakukan seusai shalat seluruhnya, dan ketika berjumpa sebagaimana perkataan sebagian orang-orang utama.” (Majma’Al Anhar fi Syarh Multaqa Al Ab-har,  A2/59. Mawqi’ Al Islam)
8. Imam Al Hashfaki Al Hanafi Rahimahullah
Beliau mengatakan;
أي كما تجوز المصافحة لانها سنة قديمة متواترة لقوله عليه الصلاة والسلام: من صافح أخاه المسلم وحرك يده تناثرت ذنوبه وإطلاق المصنف تبعا للدرر والكنز والوقاية والنقاية والمجمع والملتقى وغيرها يفيد جوازها مطلقا ولو بعد العصر، وقولهم إنه بدعة: أي مباحة حسنة كما أفاده النووي في أذكاره
“Yaitu sebagaimana dibolehkannya bersalaman, karena itu adalah sunah sejak dahulu dan mutawatir, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Barangsiapa yang bersalaman dengan saudaranya muslim dan menggerakan tangannya maka dosanya akan berguguran. Penulis telah memutlakan kebolehannya sebagaimana pengarang Al Kanzu, Al Wiqayah, An Niqayah, Al Majma’, Al Multaqa dan selainnya,  yang membolehkan bersalaman secara mutlak walau setelah ‘ashar, dan perkataan mereka: bid’ah, artinya adalah boleh lagi baik sebagaimana yang dijelaskan An Nawawi dalam Al Adzkarnya.” (Imam Al Hashfaki, Ad Durul Mukhtar,   5/699. Mawqi’ Ya’sub)
9. Syaikh ‘Athiyah Shaqr (mantan Mufti Mesir)
Beliau menjelaskan bahwa pada dasarnya bersalaman adalah sunah ketika seorang muslim bertemu muslim lainnya, berdasarkan hadits-hadits nabi yang bisa dijadikan hujjah. Namun  bersalaman setelah shalat tidaklah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat. Lalu beliau memaparkan perbedaan ulama tentang masalah ini, antara yang membid’ahkan, menyunnahkan, dan membolehkan; seperti pendapat Imam Ibnu Taimiah, Imam Al ‘Izz bin Abdissalam, Imam An Nawawi, dan Imam Ibnu Hajar. Lalu beliau menyimpulkan:
والوجه المختار أنها غير محرمة ، وقد تدخل تحت ندب المصافحة عند اللقاء الذى يكفر الله به السيئات ، وأرجو ألا يحتد النزاع فى مثل هذه الأمور .
“Pendapat yang dipilih adalah bahwa hal itu tidaklah haram, dan hal itu telah termasuk dalam anjuran bersalaman ketika bertemu yang dengannya Allah Ta’ala akan menghapuskan kesalahannya, dan saya berharap perkara seperti ini jangan terus menerus diributkan. … (Fatawa Dar Al Ifta’ Al Mishriyah, 8/477. Syamilah).
Dan masih banyak ulama lainnya.
Para Ulama Yang Menolak
               
Mereka juga merupakan imam agama yang menjadi kecintaan dan rujukan umat ini. Di antaranya:
1.  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Al Hambali Rahimahullah (w. 728H)
Berikut ini dari kitab Majmu’ Fatawa-nya:
وسئل : عن المصافحة عقيب الصلاة : هل هي سنة أم لا ؟
فأجاب :
الحمد للَّه، المصافحة عقيب الصلاة ليست مسنونة، بل هي بدعة . والله أعلم .
Beliau ditanya tentang bersalaman sesudah shalat, apakah dia sunah atau bukan?
Beliau menjawab: “Alhamdulillah, bersalaman sesudah shalat tidak disunahkan, bahkan itu adalah bid’ah.” Wallahu A’lam (Majmu’ Fatawa, 23/339).
Imam Ibnu Taimiyah termasuk ulama yang menolak pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, apalagi pembagian bid’ah menjadi lima; bid’ah  yang wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Baginya semua bid’ah adalah dhalalah (sesat). Maka, maksud bid’ahnya salaman berjamaah   dalam fatwanya di atas adalah bid’ah yang sesat.
2.Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Al Hambali Rahimahullah (w. 1420H)
Beliau ditanya tentang sebagian manusia yang setelah shalat menjulurkan tangan untuk bersalaman ke kanan dan ke kirinya, beliau menjawab:
المصافحة بعد سلام الإمام ليس لها أصل بل إذا سلم يقول
“Bersalaman setelah salamnya imam tidaklah memiliki dasar, justru jika usai salam hendaknya mengucapkan ..(lalu beliau memaparkan cukup panjang  berbagai dzikir setelah shalat yang dianjurkan syara’ ).
Lalu beliau melanjutkan:
وأما رفع اليدين بعد السلام فليس له أصل لا الإمام ولا المأموم ، لا يرفع يده بالدعاء ولا يصافح إذا سلم ، لكن يأتي بالذكر الشرعي.
“  Ada pun mengangkat kedua tangan setelah  salam tidaklah memiliki dasar, baik bagi imam dan makmum, tidak mengangkat tangan ketika doa, dan tidak bersalaman (berjabat tangan) setelah salam, tetapi hendaknya dia berdzikir dengan dzikir sesuai syara’…..” (Majmu’ Fatawa wal Maqalat, 29/309-310. Ar Riasah Al ‘Aamah Lil Buhuts Al ‘ilmiyah wal ifta’)
3. Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim Al ‘Ashimi An Najdi Al Hambali Rahimahullah (w. 1392H)
Beliau berkata:
والمصافحة بعد السلام من الصلاة لا أصل لها، لا بنص ولا عمل من الشارع وأصحابه، ولو كانت مشروعة لتوفرت الهمم على نقلها، ولكان السابقون أحق بذلك، وقال الشيخ: بدعة باتفاق المسلمين أما إذا كانت أحيانا لكونه لقيه عقب الصلاة، لا لأجل الصلاة فحسن، لكن عند اللقاء فيها آثار حسنة.
“Berjabat tangan  setelah salam shalat tidaklah memiliki dasar, tidak dalam nash, tidak pada perbuatan syaari’ (Rasulullah) dan sahabatnya, dan seandainya itu disyariatkan niscaya hal itu akan dijaga dan  begitu berhasrat untuk mengambilnya, tetapi orang-orang terdahulu lebih layak untuk melakukannya. Syaikh berkata: bid’ah menurut kesepakatan kaum muslimin, ada pun jika dilakukan kadang-kadang saja.  Karena memang berjumpa  setelah shalat, bukan karena shalatnya itu sendiri maka itu bagus,  bersalaman ketika berjumpa maka itu memilki dampak yang baik.”  (Hasyiah Ar Raudh Al Maraba’, Juz. 2.  Mawqi’ Ruh Al Islam)
4.Para Ulama di Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia
Berikut kami kutip dari Fatawa Islamiyah:
ما حكم الشرع في المصافحة عقب الصلاة ، هل هي بدعة أم سنة ، وبيان أدلة الحكم ؟
ج المصافحة عقب الصلاة بصفة دائمة لا نعلم لها أصلاً ، بل هي بدعة وقد ثبت عن رسول صلى الله عليه وسلم أنه قال ” من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد ” . وفي رواية ” من أحدث في أمرنا هذا ما ليس فيه فهو رد ” .
اللجنة الدائمة
“Apakah hukum syara’ tentang bersalaman seusai shalat, apakah itu bid’ah atau sunah, dan jelaskan dalil hukumnya?”
Jawab:
“Bersalaman setelah shalat dengan keadaan yang dilakukan terus menerus kami tidak ketahui dasar dari perbuatan itu, bahkan itu adalah bid’ah. Telah shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa dia bersabda: Barang siapa yang beramal yang tidak kami perintahkan maka itu tertolak.” Dalam riwayat lain: Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan agama kami ini yang bukan berasal darinya maka itu tertolak.” Lajnah Daimah (Fatawa Islamiyah, 1/ 268. Dikumpulkan dan disusun oleh; Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnid )
 
5 Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah (w. 1421H)
Dalam fatwanya beliau berkata:
المصافحة بين الرجل وأخيه سنة عند الملاقاة فقط وأما بعد السلام من الصلاة المفروضة فإنها ليست بسنة إذ لم ينقل عن الصحابة رضي الله عنهم أنهم كانوا إذا سلموا من الفريضة صافح بعضهم بعض وأما بعد السلام من النافلة فهي سنة إذا كان ذلك من الملاقاة مثل أن يأتي رجل فيقف في الصف فيصلى تحية المسجد فإذا سلم من الصلاة صافح من على يمنه ويساره فإن هذا يدخل في المصافحة عند الملاقاة ولا يعد هذا بدعة
“Bersalaman antara seorang laki-laki   dengan saudaranya adalah sunah ketika bertemu saja, ada pun setelah salam dari shalat wajib, maka itu bukan sunah. Karena tidak ada riwayat dari sahabat –radhiallahu ‘anhum– bahwa mereka jika setelah salam dari shalat shalat wajib bersalaman satu sama lain. Ada pun setelah shalat sunah maka itu sunah jika hal itu terjadi karena pertemuan. Misal seseorang datang dan dia berdisi di shaf lalu shalat tahiyatul masjid, setelah salam dari shalat dia bersalaman dengan orang di samping kanan dan kirinya, maka ini termasuk dalam kategori bersalaman ketika bertemu dan  janganlah mengira ini bid’ah.”  (Fatawa Nur ‘Alad Darb Lil Utsaimin, pertanyaan No. 780. Syamilah)
6. Imam Ibnu ‘Abidin Al Hanafi Rahimahullah
Beliau salah seorang tokoh Hanafiyah muta’akhirin. Pada bagian ini kita melihat bahwa yang menolak bersalaman setelah shalat biasanya adalah dari kalangan Hambaliyah. Tetapi, beliau mengisyaratkan –paling tidak dirinya sendiri- bahwa dari kalangan Hanafiyah ada yang tidak menyukainya.
Beliau mengatakan:
لَكِنْ قَدْ يُقَالُ إنَّ الْمُوَاظَبَةَ عَلَيْهَا بَعْدَ الصَّلَوَاتِ خَاصَّةً قَدْ يُؤَدِّي الْجَهَلَةِ إلَى اعْتِقَادِ سُنِّيَّتِهَا فِي خُصُوصِ هَذِهِ الْمَوَاضِعِ وَأَنَّ لَهَا خُصُوصِيَّةً زَائِدَةً عَلَى غَيْرِهَا مَعَ أَنَّ ظَاهِرَ كَلَامِهِمْ أَنَّهُ لَمْ يَفْعَلْهَا أَحَدٌ مِنْ السَّلَفِ فِي هَذِهِ الْمَوَاضِعِ
“Tetapi telah dikatakan, bahwa menekuni hal itu (bersalaman) setelah shalat secara khusus telah membawa orang  bodoh meyakininya sebagai perbuatan yang disunahkan secara khusus pada waktu-waktu tersebut. Dan, sesungguhnya pengkhususan  itu merupakan penambahan atas selainnya  yang saat bersamaan zahir ucapan mereka sendiri menunjukkan bahwa perbuatan ini tidak dilakukan seorang pun dari kalangan salaf yang mengkhususkan dilakukan pada waktu-waktu tersebut.” (Raddul Muhtar, 26/437. Mawqi’ Al Islam)
 
7. Imam Ibnu Al Hajj Al Maliki Rahimahullah
Beliau mengatakan:
هذه المصافحة من البدع التي ينبغي أن تمنع في المساجد ، لأن موضع المصافحة في الشرع إنما هو عند لقاء المسلم لأخيه لا في أدبار الصلوات الخمس ، فحيث وضعها الشرع توضع ، فينهى عن ذلك ويزجر فاعله ، لما أتى من خلاف السنة
“Bersalaman ini termasuk bid’ah-bid’ah yang mesti dilarang terjadi di masjid, karena tempat bersalaman menurut syariat adalah hanyalah pada saat bertemunya seorang muslim  dengan saudaranya, bukan pada saat selesai shalat lima waktu, maka manakala syariat telah meletakkannya maka hendaknya diletakkan semestinya, dan yang demikian itu mesti dicegah dan pelakunya mesti ditegur secara keras, karena dia telah mendatangkan sesuatu yang bertentangan dengan sunah.”  (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 37/363. Maktabah Al Misykah)
Dan masih banyak  ulama lainnya.
Semoga bermanfaat, dan dapat mengambil sikap yang terbaik di tengah masyarakat.
Wallahu A’lam
**************************************************************************

Berjabat Tangan Usai Sholat Sunnah Atau Bid’ah?

24 Januari 2012 Tinggalkan Komentar

Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali A.M.

MUQODDIMAH

Menjadi suatu kelaziman bagi kebanyakan kaum muslimin di tanah air kita, setiap usai sholat berjama’ah satu per satu jama’ah mengulurkan tangannya ke samping kanan, kiri, bahkan ke belakang. Serasa kurang afdhol jika usai sholat tidak dilengkapi saling bersalam-salaman.

Dalil yang sangat mendasar dalam perkara ini tidak lain adalah hadits-hadits umum yang menganjurkan kaum muslimin untuk saling berjabat tangan yang bermanfaat menggugurkan dosa.[1] Di sisi lain, sebagian saudara kita mengatakan bahwa bersalam-salaman usai sholat adalah amalan yang tiada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia (baca : bid’ah), bahkan ada yang terang-terangan menolak dengan tegas ketika seorang awam mengulurkan tangan hendak menjabat tangannya usai sholat, lalu timbullah keracunan dan fitnah.

Bagaimanakah tinjauan Islam dalam hal ini? Jika memang tiada tuntunannya, apakah dibenarkan sikap menolak uluran tangan orang lain seusai sholat dengan dalih mengingkari kemungkaran? Marilah kita simak kajian kita ini, mudah-mudahan Allah melapangkan dada dan hati kita untuk setiap kebenaran. Amin.

MAKNA SALING BERJABAT TANGAN[2]

Bersalam-salaman – dalam bahasa kita – diambil dari bahasa Arab               yang bermakna                   (berjabat tangan). Disebut saling berjabat tangan apabila seseorang meletakkan telapak tangannya pada telapak tangan orang lain.[3]

Saling berjabat tangan disyari’atkan bagi sesama muslim, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya seorang mukmin jika bertemu dengan mukmin lainnya, lalu (yang satu) mengucap salam (kepada yang lainnya), dan saling berjabat tangan, niscaya akan berguguran dosa-dosa keduanya, sebagaimana bergugurannya daun pepohonan.” (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath : 250 dan dishahihkan oleh al-Albani[4]).

KAPAN DIANJUR SALING BERJABAT TANGAN?

Hadits di atas menunjukkan bahwa secara umum disyaria’atkan bagi seorang muslim berjabat tangan dan mengucapkan salam saat berjumpa dengan sesama muslim sebagaimana hadits yang telah jelas diatas, demikian kebiasaan para sahabat seperti yang dikatakan oleh asy-Sya’bi :

“Biasanya para sahabat Nabi jika saling berjumpa, mereka saling berjabat tangan, dan jika datang dari bepergian jauh mereka berpelukan.”[5]

Demikian juga disyari’atkan untuk saling berjabat tangan dan mengucapkan salam ketika hendak saling berpisah, sebagaimana keumuman hadits al-Baro’ bin Azib, beliau berkata :

“Termasuk di antara kesempurnaan penghormatan adalah jika engkau menjabat tangan saudaramu.”[6]

 

Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Siapa yang meneliti hadits-hadits tentang (anjuran) berjabat tangan ketika saling berjumpa akan menjumpai hadits-hadits tersebut lebih kuat dibandingkan hadits-hadits anjuran berjabat tangan ketika saling berpisah, maka siapa yang mengerti dirinya, akan menarik kesimpulan bahwa saling berjabat tangan yang kedua (saat berpisah) anjurannya tidak sama tingkatannya dengan anjuran berjabat tangan yang pertama (saling berjumpa), yang pertama adalah sunnah, sedangkan yang kedua hanya dianjurkan, adapun perkataan bahwa (berjabat tangan saat berpisah) itu adalah bid’ah, maka perkataan ini tidak benar sebagaimana dalil yang kami sampaikan.”[7]

HUKUM MENGKHUSUSKAN JABAT TANGAN USAI SHOLAT

Telah kita ketahui bersama bahwa mengucap salam dan berjabat tangan  dianjurkan kapan saja ketika sesama muslim saling berjumpa dan hendak berpisah. Sementara itu, tidak diketahui pada seorang pun dari kalangan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta generasi berikutnya, bahwa mereka usai sholat langsung menyalami orang yang dikanan dan kirinya. Seandainya hal itu dilakukan oleh salah satu dari mereka, niscaya akan dijelaskan oleh para ulama dan akan sampai keterangannya kepada kita – walaupun hanya dengan hadits yang lemah, padahal kenyataannya tidak ada satu pun hadits yang menerangkan hal itu, bahkan banyak para ulama yang menegaskan bahwa hal itu merupakan perbuatan bid’ah.[8]

–        Berkata al-‘Izz bin Abdissalam rahimahullah, “Bersalam-salaman setelah (sholat) Subuh dan Asar termasuk bid’ah, kecuali orang yang baru datang bertemu dengan orang yang dia menyalaminya sebelum sholat, sebab berjabat tangan itu dianjurkan ketika baru datang (berjumpa). Adapun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau setelah salam langsung berdzikir dengan dzikir-dzikir yang disyari’atkan. Beliau beristighfar tiga kali, lalu beliau berpaling, beliau mengucapkan do’a :‘Wahai Tuhanku peliharalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hambaMu.’ (HR. Muslim 62).

Demikianlah yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta sahabatnya yang mulia, usai sholat langsung berdzikir. Adapun berjabat tangan usai sholat, maka akan memutuskan dzikir orang lain, dan hal itu jelas dilarang, sedang sebaik-baik perkataan agama adalah mengikuti jejak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[9]

Jika bid’ah saling berjabat tangan usai sholat pada zaman al’Izz bin Abdissalam terjadi pada sholat Subuh dan Asar saja, maka pada hari ini bid’ah tersebut menjalar pada semua sholat fardhu, bahkan masuk kepada sholat lainnya.

–        Berkata al-Luknawi rahimahullah, “Sudah menyebar dua perkara (bid’ah) pada zaman kita ini di kebanyakan negara, khususnya negeri ad-Dakn yang mana dari sanalah sumber bid’ah dan fitnah-fitnah. Pertama, mereka tidak mengucapkan salam saat memasuki masjid pada waktu (hendak) sholat Subuh, tetapi mereka langsung masuk dan sholat sunnah, lalu sholat wajib (subuh), kemudian setelah sholat Subuh baru saling mengucap salam satu sama lainnya, maka ini adalah perkara yang buruk karena mengucap salam disyari’atkan saat saling berjumpa sebagaimana telah sah keterangannya dalam hadits-hadits, dan bukanlah (mengucapkan salam itu) ketika sudah duduk di tengah di majelis. Kedua, mereka saling berjabat tangan usai sholat Subuh, Asar, sholat Id, dan sholat Jum’at, padahal disyari’atkannya berjabat tangan adalah ketika awal berjumpa (bukan ketika duduk di tengah majelis).”

–        Termasuk (para ulama) yang melarang (saling berjabat tangan usai sholat) adalah Ibnu Hajar al-Haitami dari kalangan ulama madzhab asy-syafi’i,[10] beliau mengatakan, “Apa yang dilakukan manusia berupa saling berjabat tangan usai sholat lima waktu hukumnya dibenci, dan tidak ada asal-usulnya dalam syar’at.”[11]

–        Demikian juga Quthbuddin bin Alauddin al-Makki al-Hanafi, bahkan beliau menjadikannya termasuk bid’ah yang buruk dalam kitabnya Majalisul Abror, beliau berkata, “Saling berjabat tangan adalah perkara yang baik ketika saling berjumpa. Adapun dalam keadaan bukan saling berjumpa seperti berjabat tangan usai sholat Jum’at dan sholat Id seperti kebiasaan manusia saat ini, maka hadits-haditsnya tidak menyebutkan hal itu, sehingga tetap tidak ada landasannya, padahal sudah menjadi baku dalam tempatnya (kaidah) : ‘Apa saja yang tiada dalilnya maka tertolak, dan tidak boleh taklid (membebek) dalalm hal itu.’”[12]

–        Para ulama ahli fiqih dari kalangan madzhab Hanafi, Syafi’i dan Maliki terang-terangan mengatakan hal itu termasuk perkara yang dibenci dan bid’ah, seperti disebutkan dalam al-Multaqot, “Saling berjabat tangan usai sholat hukumnya dibenci secara total, sebab para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah saling berjabat tangan usai sholat, dan itu termasuk (mengikuti) sunnah / petunjuknya kaum Rofidhoh.”[13]

–        Syaikhul Islam ketika ditanya tentang hukum berjabat tangan usai sholat, beliau menjawab, “Saling berjabat tangann usai sholat bukan termasuk sunnah, melainkan termasuk bid’ah.”[14]

–        Berkata Syaikh al-Albani rahimahullah“Adapun saling berjabat tangan usai sholat, maka tidak diragukan itu bid’ah, kecuali jika dua orang belum saling berjumpa saat itu, maka disunnahkan saling berjabat tangan (usai sholat).”[15]

–        Lajnah Daimah ditanya hukum berjabat tangan usai sholat apakah termasuk bid’ah atau sunnah?

Jawabnya : Saling berjabat tangan  usai sholat dengna menjadikannya rutinitas, tidak kami ketahui dalilnya. Hal itu termasuk bid’ah sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Barang siapa mengamalkan suatu amalan (agama) yang tidak ada dalil padanya, maka bertolak.” Dalam suatu riwayat, “Barang siapa mengada-adakan dalm urusan (agama) kami yang tidak termasuk didalamnya, maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhari : 2499 dan Muslim : 3242) (Fatawa Lajnah Daimah no. 268).

Walhasil, apa yang dilakukan sebagian kaum muslimin ketika masuk masjid tanpa mengucapkan salam dan langsung diam di masjid sampai selesai sholat baru kemudian saling berjabat tangan dan menjadikan hal itu sebagai kebiasaan, maka termasuk bid’ah. Adapun saling berjabat tangan secara umum ketika pertama kali berjumpa disertai dengan ucapan salam sebelumnya, maka hukumnya sunnah.[16]

MENYIKAPI JABATAN TANGAN USAI SHOLAT

Sebagai saudara kita barangkali karena menganggap jabat tangan usai sholat adalah bid’ah lalu dia menolak ajaran jabat tangan orang yang tidak tahu (orang awam) terhadap bid’ah dengan dalih mengingkari kemungkaran, lalu yang timbul adalah fitnah, kecurigaan, kebencian, dan tidak tersampaikannya sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik.

Karena itu, jika kondisinya demikian maka bukanlah termasuk sikap yang bijaksana menolak ajakan jabat tangan orang awam, seharusnya ajakan jabat tangan diterima dengan lembut, lalu jika mampu, dia jelaskan hukum jabat tangan yang sebenarnya, karena permasalahannya memang perlu penjelasan dan hukum asalnya sunnah, betapa banyak manusia mendapat petunjuk kebenaran sebab digunakan cara lemah lembut dan bijaksana, dan betapa sering manusia menjauhi kebenaran sebab disampaikan secara kasar dan kurang sopan.[17]

SYUBHAT-SYUBAT

Syubhat pertama

Saling berjabat tangan usai sholat termasuk masalah khilafiyah sehingga tidak boleh diingkari.

Jawabnya : Tidak semua perbedaan / khilaf itu bisa diterima dan tidak boleh diingkari. Kewajiban setiap orang yang beriman ketika menjumpai perbedaan pendapat, dia harus menggali masalah semampunya dengan cara merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat QS. An-Nisa’ [4] : 59). Setelah itu, dia harus memahami dengan benar sehingga mengetahui masalah tersebut termasuk sunnah atau bid’ah menurut al-Qur’an dan sunnah Rosul, kemudian menerapkan kaidah-kaidah ushuliyyah terhadap masalah. Apabila hasilnya bid’ah yang mungkar maka dia wakjib menerangkan masalah tersebut kepada umat dan menasihati umat dengan bijaksana agar tidak melakukannya.[18]

Syubhat kedua

Al-‘Izz bin Abdissalam memasukkan masalah ini ke dalam bid’ah yang mubah bukan haram.

Jawabnya : Adapun pembagian bid’ah menjadi beberapa hukum telah dibantah oleh para ulama[19]. Pada sahabat sepakat bid’ah dalam masalah agama itu semuanya sesat, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim 2/595)[20]

Syubhat ketiga

Imam Nawawi rahimahullah berkata : “Hukum asal berjabat sunnah, dan mereka menjadikannya sebagai rutinitas dalam sebagian keadaan (usai sholat misalnya), tidaklah keluar dari koridor hukum asal sunnah.” (Fathul Bari : 11/55)

Jawabnya : Adapun perkataan Imam Nawawi di atas, maka setiap perkataan manusia diterima jika benar dan  ditolak jika salah, sedang perkataan tersebut jelas bertentangan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tertolak.[21]

Imam Nawawi menjelaskan maksud perkataan diatas yang masih global dalam kitabnya al-Adzkar, beliau berkata : “Ketahuilah bahwa berjabat tangan ketika saling berjumpa hukumnya sunnah, adapun kebiasaan manusia berupa saling berjabat tangan usai sholat Subuh dan Asar, maka tidak ada asal-usulnya dalam syari’at jika dengan cara seperti ini, tetapi hal itu boleh sebab hukum asal berjabat tangan adalah sunnah, sedangkan mereka melakukannya pada sebagian waktu dan meninggalkannya pada banyak waktu atau mereka tinggalkan pada kebanyakan waktu, maka hal itu tidak keluar dari koridor hukum asal (sunnahnya) berjabat tangan yang telah dianjurkan oleh syari’at.” (Al-Adzkar Pasal “fi al-Mushofahah” : 1/586-587).

Dari penjelasan di atas kita ketahui bahwa jika sesekali melakukan hal tersebut – tetapi kebanyakan (sering) nya ditinggalkan – maka hal itu boleh karena keumuman dalil, tetapi jika melazimi / menjadikannya sebagai rutinitas, maka inilah yang termasuk bid’ah. Wallahu A’lam.

 

Syubhat keempat

Ada hadits yang berbunyi : “Berjaba tanganlah setelah sholat Subuh, maka Allah akan menuliskan bagi kalian 10 pahala.” Dan dalam lafazh lain, “Berjabat tanganlah setelah sholat Asar, maka kamu akan dibalas dengan rahmat dan ampunan.”

 

Jawabnya : Kedua hadits itu palsu, dibuat-buat oleh para pelaku jabat tangan usai sholat. Demikianlah, hadits-hadits yang semisal itu juga palsu, tidak ada yang sah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[22] Wallahu a’lam

Sumber: Majalah Al Furqon no. 116 edisi:1 th ke.-11 Sya’ban-Ramadhan 1432H

Artikel: http://www.ibnuabbaskendari.wordpress.com


[1]   HR. Thobroni dalam al-Mu’jam al-Ausath : 250, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shohihah : 1/52.

[2]   Lihat Lisanul Arab : 7/356 karya Ibnu Manzhur dan al-Mu’jamul Wasith hlm. 516

[3]   Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Hadits-hadits (dalam masalah berjabat tangan) semuanya menunjukkan bahwa yang disunnahkan dalam berjabat tangan adalah dengan satu tangan saja, adapun yang dilakukan sebagian masyayikh yang berjabat tangan dengan kedua tangan semuanya, maka hal ini tidak sesuai sunnah.” (Silsilah al-Ahadits ash-Shohihah : 1/52).

[4]   Al-Mudziri menghukumi keabsahan hadits ini karena tidak dijumpai perawi yang cacat di dalamnya, Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “bahkan ada hadits yang mengguatkan hadits ini sehingga menjadi kuat, di antaranya hadits Anas dari Dhiya’ al-Maqdisi dalam al-Mukhtaroh, dan al-Mundziri menyandarkan (riwayat ini) kepada Imam Ahmad dan selainnya.” (Silsilah al-Ahadits ash-Shohihah : 1/52).

[5]   HR. Thobroni dalam al-Ausath : 3/270, Baihaqi : 7/100, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah : 2647.

[6]   Hadits-hadits yang semakna dengan ini sangat banyak yang disandarkan kepada perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya, semua hadits yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini tidak sah. Akan tetapi, ada sebuah hadits yang hanya sampai pada perkataan sahabat Nabi yaitu al-Baro’ bin Azib, maka riwayat ini sah sampai kepada beliau, semua perawinya tsiqoh tepercaya (lihat Silsilah al-Ahadits adh-Dho’ifah 1288).

[7]   Silsilah al-Ahadits ash-Shohihah : 1/52

[8]   Lihat al-Qoulul Mubin fi Akhtho’il Mushollin karya Masyhur Hasan Salman hlm. 293-294.

[9]   Lihat Fatawa al’Izz bin Abdissalam hlm. 46-47, dan al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab : 3/488 (dinukil dari al-Qoulul Mubin fi Akhto’il Mushollin karya Masyhur Hasan Salman hlm. 294).

[10]  Lihat as-Si’ayah fil Kasyfi ‘Amma fi Syarhil Wiqoyah hlm. 264, ad-Din al-Kholish : 4/314, al-Madkhol : 2/84, dan as-Sunan wal Mubtada’at hlm. 72-87.

[11]  Ibid

[12]  Lihat al-Qoulul Mubin fi Akhtho’il Mushollin Karya Masyhur Hasan Salman hlm. 295.

[13]  Ibid

[14]  Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah : 5/335

[15]  Silsilah al-Ahadits ash-Shohihah : 1/23

[16]  Dinukil secara bebas dari al-Masjid fil Islam Ahkamuhu wa Adabuhu wa Bida’uhu karya Khoiruddin al-Wanili, cet. Ad-Darul Atsariyah, cetakan 1428 H.

[17]  Lihat Tamamul Kalam fi Bid’iyyatil Mushofahah Ba’das Salam hlm. 23, dinukil secara bebas dari al-Qoulul Mubin fi Akhtho’il Mushollin hlm. 296-297.

[18]  Lihat Penjelasan Gamblang Seputar Hukum Yasinan, Tahlilan, dan Selamatan karya penulis hlm. 70-76, cetakan pertama, Pustaka al-Ummat, 1427 H.

[19]  Lihat keterangan “semua bid’ah adalah sesat” yang sangat memuaskan dalam al-Bid’ah wa Atsaruha as-Sayyi fil Ummah karya Abu Usamah Salim bin Id al-Hilali hlm. 100-106, lihat pula Ilmu Ushul al-Bida’ karya Ali bin Hasan al-Halabi hlm. 91-105, al-I’tishom karya Ali bin Hasan al-Halabi hafidhahullah hlm. 91-105, al-I’tishom karya Imam asy-Shathibi : 1/319, dan al-Ibda’ fi Kamil asy-Syar’i karya Syaikh Ibnu Utsaimin hlm. 13.

[20]  Lihat penjelasan masalah “semua bid’ah sesat” dalam al-I’tishomi karya Imam asy-Syathibi : 2/49, lihat juga Penjelasan Gamblang Seputar Hukum Yasinan, Tahlilan, dan Selamatan hlm. 34-38.

[21]  Muhammad Syamsuddin al-Azhim al-Abadi telah membantah perkataan Imam Nawawi di atas dan menegaskan bahwa perkataannya jelas salah (lihat Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud : 11/247).

[22]  Lihat as-Si’ayah fil Kasyfi ‘Amma fi Syarhil Wiqoyah hlm. 265 (dinukil secara bebas dari al-Qoulul Mubin fi Akhtho’il Mushollin hlm. 296).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s