Hakekat Dzikir Dan Syukur

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah menjelaskan dengan sangat bagus tentang hakekat dzikir dan syukur.

Dua Kaedah Penting : Dzikir dan SyukurBeliau menjelaskan bahwa agama ini dibangun di atas dua kaedah penting : dzikir dan syukur. Allah dan rasul-Nya menggabungkan antara dzikir dan syukur.

Allah Ta’ala berfirman :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu , dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. “ (Al Baqarah :152)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada sahabat Mu’adz radhiyallahu ‘anhu : ”Demi Allah, Aku mencintaimu. Jangnlah engkau melupakan untuk berdoa di setiap akhir shalatmu dengan doa :

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

(Allahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika)

Ya Allah Aku meminta bantuan kepada-Mu agar senantiasa bisa berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibdah kepada-Mu” (H.R Abu Dawud, shahih)

Hakekat DzikirYang dimaksud dzikir bukanlah hanya di lisan, akan tetapi dzikir meliputi hati dan lisan. Dzikir kepada Allah mencakup dzikir dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengingat perintah dan larangan-Nya, mengingat dengan membaca Kalam-Nya (Al Qur’an). Hal ini akan menyebabkan seseorang mengenal dan mengimanai nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta memujinya dengan berbagai pujian. Semua itu tidak akan sempurna tanpa mentauhidkan-Nya. Dzikir yang sebenarnya harus meliputi seluruh hal tersebut. Perkara ini akan menyebabkan seorang hamba senantiasa mengingat nikmat dari Allah dan mengingat kebaikan Allah terhadap makhluk-Nya.

Hakekat SyukurAdapun hakekat syukur adalah melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah dengan segala sesuatu yang Allah cintai baik dalam perkara lahir maupun batin.

Inti Ajaran AgamaDzikir dan syukur inilah inti ajaran agama. Berdzikir akan membuahkan pengenalan hamba kepada-Nya, sementara dalam syukur terkandung ketaatan kepada-Nya. Dua perkara inilah tujuan diciptakannya jin dan manusia, langit dan bumi serta segala sesuatu di antara keduanya. Dengan sebab itu pula Allah menentukan adanya pahala dan siksa, Allah turunkan kitab-kitab, dan mengutus para rasul-Nya. Inilah kebenaran yang dengannya diciptakan langit dan bumi beserta isinya. Adapun kebalikannya adalah kebatilan dan kesia-siaan yang Allah Ta’ala tersucikan dari perbuatan tersebut. Itulah anggapan buruk yang ada pada musuh-musuh Allah. Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلاً ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir “ (Shad :27)

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِين مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan hak, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. “ (Ad Dukhan : 38-39)

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلاَّ بِالْحَقِّ وَإِنَّ السَّاعَةَ

Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, “ (Al Hijr : 85)

مَا خَلَقَ اللّهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ

Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak “ (Yunus :5)

أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban) “ (Al Qiyamah :36)

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?“ (Al Mukminun :115)

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku “ (Adz Dzariyat :56)

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْماً

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. “ (Ath Thalaq:12)

جَعَلَ اللّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَاماً لِّلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلاَئِدَ ذَلِكَ لِتَعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَأَنَّ اللّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia , dan (demikian pula) bulan Haram , had-ya , qalaid . (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. “ (Al Maidah :97)

Telah jelas berdasarkan beberapa ayat yang disebutkan di atas bahwa tujuan penciptaan dan adanya perintah adalah agar Allah senantiasa diingat dan disyukuri. Dia diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak diingkari. Allah akan senatiasa mengingat siapa saja yang berdzikir mengingat-Nya, dan akan bersyukur kepada siapa saja yang bersyukur kepada-Nya. Mengingat Allah adalah sebab Allah akan mengingat hamba-Nya. Bersyukur kepada-Nya adalah sebab bertambahnya nikmat karena keutamaan dari-Nya. Berdzikir adalah dengan hati dan lisan. Adapun syukur adalah dengan hati dalam bentuk cinta dan taubat, dengan lisan melalui sanjungan dan pujian, serta dengan anggota badan dalam bentuk ketaatan dan pengabdian.

Sumber : Fawaaidul Fawaaid karya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah, hal 366-367. Penerbit Daar Ibnul Jauzi.

Penyusun : dr. Adika Mianoki

Artikel Muslimah.Or.Id

Leave a Reply

Permalink | Sumber tulisan: Muslimah

*************************************

Mengingat Nikmat Dengan Syukur

 Mampukah kita menghitung nikmat-nikmat Allah Ta’ala yang telah kita dapat hingga saat ini? Tentulah, TIDAK! Menghitung jumlah nikmat dalam sedetik saja kita tidak mampu, terlebih sehari bahkan selama hidup kita di dunia ini. Tidur, bernafas, makan, minum, bisa berjalan, melihat, mendengar, dan berbicara, semua itu adalah nikmat dari Allah Ta’ala, bahkan bersin pun adalah sebuah nikmat. Jika dirupiahkan sudah berapa rupiah nikmat Allah itu? Mampukah kalkulator menghitungnya? Tentulah, TIDAK! Sudah berapa oksigen yang kita hirup? Berapa kali mata kita bisa melihat atau sekedar berkedip? Sampai kapan pun kita tidak akan bisa menghitungnya. Sebagaiman Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An Nahl: 18)

Lalu, apakah yang harus kita lakukan setelah kita mendapatkan semua nikmat itu? Bersyukur atau kufur? Jika memang bersyukur, apakah diri ini sudah tergolong hamba yang mensyukuri nikmat-nikmat itu?

Karena itu, kita Perlu mengetahui bagaimana cara bersyukur kepada Allah Ta’ala dan bagaimana tata cara merealisasikan syukur itu sendiri. Ketahuilah bahwasannnya Allah mencintai orang-orang yang bersyukur. Hamba yang bersyukur merupakan hamba yang dicintai oleh Allah Ta’ala. Seorang hamba dapat dikatakan bersyukur apabila memenuhi tiga hal:

Pertama,

Hatinya mengakui dan meyakini bahwa segala nikmat yang diperoleh itu berasal dari Allah Ta’ala semata, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (Qs. An Nahl: 53)

Orang yang menisbatkan bahwa nikmat yang ia peroleh berasal dari Allah Ta’ala, ia adalah hamba yang bersyukur. Selain mengakui dan meyakini bahwa nikmat-nikmat itu berasal dari Allah Ta’ala hendaklah ia mencintai nikmat-nikmat yang ia peroleh.

Kedua,

Lisannya senantiasa mengucapkan kalimat Thayyibbah sebagai bentuk pujian terhadap Allah Ta’ala

Hamba yang bersyukur kepada Allah Ta’ala ialah hamba yang bersyukur dengan lisannya. Allah sangat senang apabila dipuji oleh hamba-Nya. Allah cinta kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa memuji Allah Ta’ala.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (Qs. Adh Dhuha: 11)

Seorang hamba yang setelah makan mengucapkan rasa syukurnya dengan berdoa, maka ia telah bersyukur. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ . غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi no. 3458. Tirmidzi berkata, hadits ini adalah hadits hasan gharib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Terdapat pula dalam hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734).

Bahkan ketika tertimpa musibah atau melihat sesuatu yang tidak menyenangkan, maka sebaiknya tetaplah kita memuji Allah.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم – إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ

قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ ». وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ ».

Dari Aisyah, kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat”. Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal.” (HR Ibnu Majah no 3803 dinilai hasan oleh al Albani)

Ketiga,

Menggunakan nikmat-nikmat Allah Ta’ala untuk beramal shalih

Sesungguhnya orang yang bersyukur kepada Allah Ta’ala akan menggunakan nikmat Allah untuk beramal shalih, tidak digunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Ia gunakan matanya untuk melihat hal yang baik, lisannya tidak untuk berkata kecuali yang baik, dan anggota badannya ia gunakan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.

Ketiga hal tersebut adalah kategori seorang hamba yang bersyukur yakni bersyukur dengan hati, lisan dan anggota badannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah, “Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan dan anggota badan. (Minhajul Qosidin, hal. 305). Syukur dari hati dalam bentuk rasa cinta dan taubat yang disertai ketaatan. Adapun di lisan, syukur itu akan tampak dalam bentuk pujian dan sanjungan. Dan syukur juga akan muncul dalam bentuk ketaatan dan pengabdian oleh segenap anggota badan.” (Al Fawa’id, hal. 124-125)

Dua Nikmat Yang Sering Terlupakan; Nikmat Sehat Dan Waktu Luang

Hendaklah kita selalu mengingat-ingat kenikmatan Allah yang berupa kesehatan, kemudian bersyukur kepada-Nya, dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepada-Nya. Jangan sampai menjadi orang yang rugi, sebagaimana hadits berikut,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. (HR Bukhari, no. 5933)

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan: “Kenikmatan adalah keadaan yang baik. Ada yang mengatakan, kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain”. (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, penjelasan hadits no. 5933)

Ibnu Baththaal rahimahullah mengatakan: “Makna hadits ini, bahwa seseorang tidaklah menjadi orang yang longgar (punya waktu luang) sehingga dia tercukupi (kebutuhannya) dan sehat badannya. Barangsiapa dua perkara itu ada padanya, maka hendaklah dia berusaha agar tidak tertipu, yaitu meninggalkan syukur kepada Allah terhadap nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Dan termasuk syukur kepada Allah adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa melalaikan hal itu, maka dia adalah orang yang tertipu”. (Fathul Bari)

Kemudian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” ini mengisyaratkan, bahwa orang yang mendapatkan taufiq (bimbingan) untuk itu, hanyalah sedikit.

Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan: “Kadang-kadang manusia itu sehat, tetapi dia tidak longgar, karena kesibukannya dengan mencari penghidupan. Dan kadang-kadang manusia itu cukup (kebutuhannya), tetapi dia tidak sehat. Maka jika keduanya terkumpul, lalu dia dikalahkan oleh kemalasan melakukan kataatan, maka dia adalah orang yang tertipu. Kesempurnaan itu adalah bahwa dunia merupakan ladang akhirat, di dunia ini terdapat perdagangan yang keuntungannya akan nampak di akhirat. Barangsiapa menggunakan waktu luangnya dan kesehatannya untuk ketaatan kepada Allah, maka dia adalah orang yang pantas diirikan. Dan barangsiapa menggunakan keduanya di dalam maksiat kepada Allah, maka dia adalah orang yang tertipu. Karena waktu luang akan diikuti oleh kesibukan, dan kesehatan akan diikuti oleh sakit, jika tidak terjadi, maka itu (berarti) masa tua (pikun).

Maka sepantasnya hamba yang berakal bersegera beramal shalih sebelum kedatangan perkara-perkara yang menghalanginya. Imam Al Hakim meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menasihati seorang laki-laki:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ , شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ , وَصِحَّتِكَ قَبْلَ سَقْمِكَ , وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ , وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ , وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

”Ambillah kesempatan lima (keadaan) sebelum lima (keadaan). (Yaitu) mudamu sebelum pikunmu, kesehatanmu sebelum sakitmu, cukupmu sebelum fakirmu, longgarmu sebelum sibukmu, kehidupanmu sebelum matimu.” (HR. Al Hakim)

Mengapa Kita Harus Bersyukur?

Karena semua nikmat itu berasal dari Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (Qs. An Nahl: 53)

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”  (Qs. An Nahl: 114).

Bersyukur merupakan perintah Allah Ta’ala

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (Qs. Al Baqarah: 152)

Pada ayat tersebut Allah memerintahkannya secara khusus, kemudian sesudahnya Allah memerintahkan untuk bersyukur secara umum. Allah berfirman yang artinya, “Maka bersyukurlah kepada-Ku.”

Yaitu bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat ini yang telah Aku karuniakan kepada kalian dan atas berbagai macam bencana yang telah Aku singkirkan sehingga tidak menimpa kalian.

Disebutkannya perintah untuk bersyukur setelah penyebutan berbagai macam nikmat diniyah yang berupa ilmu, penyucian akhlak, dan taufik untuk beramal, maka itu menjelaskan bahwa sesungguhnya nikmat diniyah adalah nikmat yang paling agung. Bahkan, itulah nikmat yang sesungguhnya. Apabila nikmat yang lain lenyap, nikmat tersebut masih tetap ada.

Hendaknya setiap orang yang telah mendapatkan taufik (dari Allah) untuk berilmu atau beramal senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut. Hal itu supaya Allah menambahkan karunia-Nya kepada mereka. Dan juga, supaya lenyap perasaan ujub (kagum diri) dari diri mereka. Dengan demikian, mereka akan terus disibukkan dengan bersyukur.

Jika tidak bersyukur, berarti ia telah kufur

“Karena lawan dari syukur adalah ingkar/kufur, Allah pun melarang melakukannya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian kufur”. Yang dimaksud dengan kata ‘kufur’ di sini adalah yang menjadi lawan dari kata syukur. Maka, itu berarti kufur di sini bermakna tindakan mengingkari nikmat dan menentangnya, tidak menggunakannya dengan baik. Dan bisa jadi maknanya lebih luas daripada itu, sehingga ia mencakup banyak bentuk pengingkaran. Pengingkaran yang paling besar adalah kekafiran kepada Allah, kemudian diikuti oleh berbagai macam perbuatan kemaksiatan yang beraneka ragam jenisnya dari yang berupa kemusyrikan sampai yang ada di bawah-bawahnya.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 74)

Penopang Tegaknya Agama

Al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan di dalam sebuah kitabnya yaitu Al Fawa’id,  “Bangunan agama ini ditopang oleh dua kaidah: Dzikir dan syukur. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (Qs. Al Baqarah: 152).”

Ketika bersyukur kepada Allah, maka Allah akan tambahkan nikmat itu menjadi semakin banyak

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Qs. Ibrahim: 7).

Semua nikmat yang diperoleh, kelak akan dimintai pertanggungjawaban

AllahTa’alaberfirman,

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (Qs. At Takatsur: 8).

Syaikh As Sa’dirahimahullahmenerangkan, nikmat yang telah kalian peroleh di dunia, apakah benar telah kalian syukuri, disalurkan untuk melakukan hak Allah dan tidak disalurkan untuk perbuatan maksiat? Jika kalian benar-benar bersyukur, maka kalian kelak akan mendapatkan nikmat yang lebih mulia dan lebih utama.

Allah Ta’ala berfirman,

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ

Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan” (Qs. Al Ahqaf: 20).

Allah akan memberikan balasan kepada orang yang bersyukur

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (Qs. Ali Imran:145)

Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang mengingat nikmat Allah Ta’ala dengan bersyukur.

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ .

“Ya Allah! Berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut namaMu, syukur kepadaMu dan ibadah yang baik untukMu.”

Wallahu waliyyut taufiq

***
Muslimah.Or.Id
Penulis: Ummu Abdillah Dewi Gimarjanti
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber:

  • Fat-hul Bāri Syarh Shahih Bukhari, Ibnu Hajar Aṡqolani
  • Al- Fawāid, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Penerbit Dār at-Taqwā liturāṡ
  • Shahih At Targhib wat Targhib 3/311, no. 3355, Penerbit Maktabul Ma’arif
  • Taisir Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di
  • Al-Qurān al-Karīm

Website:

  • Yufid.tv, video ceramah singkat “Cara Bersyukur yang Benar Agar Rizki Melimpah” oleh Ustaż Badrusalam, Lc. Diunduh pada tanggal 23 Mei 2013 pukul 11.48 pm.

******************************************************

Dzikir, Obat Penyakit Kemunafikan

Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang munafik:ولا يذكرون الله إلا قليل

mereka tidak mengingat Allah melainkan hanya sedikit saja

Ka’ab berkata: “maka barangsiapa yang banyak mengingat Allah, ia terlepas dari penyakit kemunafikan”

— dalam kitab Waabilus Shayyib (161)

**************************************

Faedah Dzikir (Bagian 1)

 Saya mensarikan faedah ini dari faedah-faedah yang telah disebutkan oleh  Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya, Al-Wabib Ash-Shayyib.1
  • Bahwasanya dzikir itu mengusir syetan, menghantamnya dengan telak dan membinasakannya.
  • Bahwasanya dzikir itu mengundang keridhaan Ar-Rahman Azza wa jalla.
  • Bahwasanya dzikir itu mengusir rasa sedih dan gundah dari dalam hati dan mengisi hati dengan sukaria, bahagia , dan semangat.
  • Bahwasanya dzikir itu menguatkan hati dan badan.
  • Bahwasanya dzikir itu memberikan cahaya pada wajah dan hati.
  • Bahwasanya dzikir itu mengundang rezeki.
  • Bahasanya dzikir itu menyelimuti orang yang melakukannya dengan wibawa, rasa manisnya dzikir, dan kecerahan.
  • Bahwasanya dzkir itu mewariskan rasa cinta yang merupakan ruh islam, puncak perputaran agama, dan poros kebahagian dan keselamatan.
  • Bahwasanya dzikir itu mewariskan rasa muraqabah (merasa diawasi oleh Allah) sehingga dengannya seseorang memasuki pintu ihsan. Seseorang menyembah Allah seakan-akan ia melihat-Nya. Dan bagi orang yang lalai tiada jalan menuju dzikir  hinggan sampai ke kedudukan ihsan.
  • Bahwasanya dzikir mewariskan taubat dan kembali kepada Allah Ta’ala.
  • Bahwasanya dzikir  mewariskan kedekatan kepada Allah Ta’ala.
  • Bahwasanya dzikir membukakan baginya pintu agung di antara pintu-pintu pengetahuan. Setiap kali seseorang memperbanyak kadar dzikirnya, bertambah pula pengetahuannya.
  • Bahwasanya dzikir itu mewariskan rasa takut kepada Rabbnya dan semangat mengagungkan–Nya. Hal itu karena kekuasaan dahsyat atas hatinya dan kebersamaannya selalu dengan Allah Ta’ala, yang berbeda dengan orang lalai. Bahwa penutup rasa takut itu sangat tidak kentara dalam hati.
  • Bahwasanya dzikir itu mewariskan kepadanya ingat kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’alaberfirman,

    فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

    Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu ….” (Al-Baqarah: 152)

    Seandainya tiada keutamaan lain dalam dzikir selain satu keutamaan ini saja, tentu telah cukup utama dan mulia.

  • Bahwasanya dzikir itu mewariskan kehidupan hati. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dzikir bagi hati, bagaikan air bagi ikan. Maka, bagaimana kondisi ikan jika meninggalkan air?”
  • Bahwasanya dzikir adalah makanan hati dan ruh.
  • Bahwasanya dzikir itu memberikan kebersihan hati dari karatnya. Tidak diragukan bahwa hati berkarat seperti berkaratnya kuningan, perak, dan selainnya. Bersihnya hati adalah dengan dzikir. Sesungguhnya dzikir itu akan menjadikan hati cemerlang hingga seperti cermin yang bersih. Jika dzikir ditinggalkan, hati menjadi berkarat, dan jika berdzkir, maka hati menjadi cemerlang. Hati menjadi berkarat karena dua hal: lalai dan dosa. Dan cemerlangnya karena dua hal: istiqfar dan dzikir. Barang siapa yang kelalaiannya  mendominasi waktu, maka akan menjadi karat yang berlapis-lapis pada hatinya. Karatnya sesuai dengan kelalaiannya. Jika hati berkarat, maka semua pengetahuan tidak akan tergambar sesuai dengan kenyataannya, sehingga melihat kebathilan dalam bentuk kebenaran. Bila karat hati berlapis-lapis, suasan menjadi lebih gelap sehingga tidak akan terlihat baginya bentuk kebenaran sebagai mana aslinya. Jika karat hati berlapis-lapis dan menghitam, lalu dilapisi pembusukan, rusaklah daya analisis dan daya pemahamannya sehinga tidak menerima lagi kebenaran dan tidak mengingkari kebathilan. Ini adalah siksaan hati yang paling dahsyat.
  • Bahwasanya dzikir itu menggugurkan, lalu melenyapkan berbagai kesalahan. Dzikir adalah kebaikan yang paling agung; dan perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.
  • Bahwasanya dzikir itu menghilangkan rasa hampa antara hamba dan Rabbnya. Sesungguhnya bagi seseorang yang lalai antara dirinya dan Rabbnya Ta’ala adanya kehampaan, dan rasa hampa itu tidak akan hilang melainkan dengan dzikir.
  • Bahwasanya apa yang dapat digunakan seorang hamba untuk berdzikir kepada Rabbnya dengan mengagungkan-Nya, atau bertahmid kepada-Nya akan mengingatkan pelakunya pada saat dalam kondisi sulit.
  • Bahwasanya seorang hamba jika mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan dzikir kepada-Nya ketika dalm kondisi bahagia, maka akan mengetahui ketika dalam kesulitan.
  • Bahwasanya dzikir itu akan menyelamatkan diri dari azab Allah Ta’ala.
  • Bahwasanya dzikir adalah sebab turunnya ketenangan, meluapnya rahmat, dan liputan para malaikat. Hal itu sebagaimana disampaikan nabi shallallahu alaihi wa sallam.2
  • Bahwasanya dizkir adalah sebab yang menyibukkan lisan sehingga tidak terjerumus perbuatan ghibah, mengadu domba, bekata keji, dan berkata bathil.
  • Majelis-majelis dzikir adalah majelis-majelis para malaikat,  sedangkan majelis-majelis untuk main-main dan lalai adalah majelis-majelis syetan.
  • Bahwasanya ahli dzikir akan merasa bahagia dengan dzikirnya dan para teman duduknya. Dia adalah orang yang penuh berkah dimanapun berada. Sedangkan orang yang lalai akan merasa sengsara dengan main-main dan kelalaiannya. Orang-orang yang bergaul dengannya akan sengsara karenanya.
  • Bahwasanya dzikir akan mengamankan setiap hamba dari kerugian pada hari kiamat. Dan sesungguhnya setiap hamba dalam majelis yang tidak menyebutkan nama Rabbnya Ta’la, maka akan mengalami kerugian di hari kiamat.
  • Bahwasanya menangis dalam kesepian menyebabkan naungan Allah Ta’ala bagi seorang hamba pada hari ketika semua manusia dihimpunkan di mahsyar yang agung di bawah arsy-Nya,sedangkan semua orang berada dibawah panas terik matahari yang melelehkan mereka ditempatnya. Sedangkan seorang ahli dzikir akan mendapatkan naungan dibawah arsy Ar-Rahman Azza wa Jalla.
  • Bahwasanya menyibukkan diri dengan dzikir adalah penyebab bagi turunnya karunia Allah Ta’ala bagi ahli dzikir yang merupakan pemberian terbaik yang diberikan kepada para peminta.
  • Bahwasanya dzikir adalah ibadah yang paling mudah. Dan diantara ibadah yang paling manis dan utama. Sesungguhnya gerakan lisan adalah gerakan anggota badan yang paling ringan dan paling mudah.jika salah satu anggota badan seorang manusia bergerak selama sehari semalam sama dengan gerakan lisan, pasti akan sangat berat terasa olehnya, bahkan hal itu tidak mungkin.

***
muslimah.or.id
disalin dari buku Syarah Do’a dan Dzikir HISNUL MUSLIM, Pensyarah : Majdi bin Abdul Wahhab Ahmad. Penerbit Darul Falah.

*************************************************

Faedah Dzikir (Bagian 2)

  • Dzikir adalah tanaman surga. Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda

    مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ

    “Barang siapa mengucapkan: سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ‘Maha Suci Allah yang Maha Agung dan segala puji hanya bagi-Nya’, maka ditanam baginya sebatang kurma dalam surga,” (At-Tirmidzi, no. 3464;  dan shahihkan Al-Albani. Lihat Shahih At-Tirmidzi.)

  • Pemberian dan karunia yang diberikan karena dzikir tidak pernah diberikan karena amal yang lain apa pun.
  • Dzikir kepada Allah Ta’la secara kontinyu akan memberikan rasa aman yang terpancar dari lisan yang mana lisan sering menjadi penyebab kesengsaraan hamba dalam kehidupan duniawi dan akhirat. Maka sesungguhnya melupakan Rabb menjadikan dirinya lupa kepada dirinya dan segala kemaslahatannya. Sebagaimana firman Allah Ta’la,

    وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُون

    “ Dan jangan lah kamu seperti orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah oranng-orang yanng fasik.”(Qs Al-Hasyr: 19)

  • Dzikir bisa tetap bersama hamba sekalipun dia berada diatas kasurnya, di pasar, sehat atau sakit, senang dan bahagia, ditempat kerjanya, keadaan  berdiri, duduk, berbaring, bepergian, atau ketika mukim. Dengan demikian, dzikir berlaku umum, dapat dilaksanakan dalam semua waktu dan kondisi, kapan pun dan bagaimana pun.
  • Dzikir adalah cahaya bagi pengamalnya ketika di dunia, dalam kuburnya, dan di akhirat akan memancar dihadapannya, membimbingnya berjalan di atas shirath. Oleh sebab itu, beliau sangat serius memohon cahaya kepada Allah, sehingga beliau meminta-Nya agar meletakkan cahaya dalam daging, tubuh dan tulang, urat dan rambut, pendengaran dan penglihatan, atas dan bawah, kanan dan kiri, belakang dan depan beliau.sehingga beliau berucap: ”… dan jadikanlah aku sebagai cahaya.”
    Beliau shlallallahu  alaihi wa sallam memohon kepada Rabbnya agar menjadikan cahaya pada dzat beliau yang lahir ataupun bathin, dan sudi kirannya meliputi beliau dari segala penjuru. Maka, agama Allah adalah cahaya. Kitab-Nya adalah cahaya. Rasul-Nya adalah cahaya.rumah-nya yang disediakan untuk para wali-nya adalah cahaya yang gemerlap. Allah Ta’ala adalah cahaya semua lapisan langit dan bumi. Diantara nama-nama-Nya adalah An Nur (cahaya).
  • Bahwasanya dzikir adalah pokok segala asas. Jalan umum bagi semua orang dan sangat diharapkan semua wilayah. Barangsiapa yang dibukakan pintu masuk ke dalam dzikir, maka telah dibukakan pintu masuk bertemu kepada Allah Azza wa Jalla. Hendaknya dia bersuci dan masuk sehingga bisa mendapatkan sisi-Nya segala apa yang dia inginkan . Siapa yang mendapatkan (ridha) Allah, maka dia akan meraih segalanya. Dan barang siapa terluput dari (ridha) Allah maka dia terluputkan segalanya.
  • Dzikir mampu mengumpulkan apa yang terserak dan memecah apa yang menyatu, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Yakni, dzikir mampu mengonsentrasikan hati dan keinginan hamba yang berserakan, memupus keresahan, kegalauan, kesedihan, tekanan jiwa, dan kesatuan tentara iblis, sebab iblis terlaknat terus mengirim kepada setiap hamba pasukan demi pasukan.Dzikir juga mendekatkan akhirat dan membuatnya terpandang agung dalam hati, sebaliknya mengerdilkan dunia di mata hamba dan menjauhkannya dari hati maupun lisan.
  • Dzikir  membangunkan hati dari tidur pulasnya dan membangkitkan dari ngantuknya. Jika hati tidur, maka akan ketinggalan segala macam keuntungan, kesempatan, dan mengalami kerugian.
  • Dzikir adalah sebatanng pohon yang membuahkan berbagai pengetahuan.
  • Seorang ahli dzikir akan sangat dekat dengan Dzat yang dia berdzikir kepada-Nya. Dzat yang dia berdzikir kepada-Nya akan bersama-Nya. Kebersamaan ini berupa perlindungan, cinta, pertolongan dan taufik. Hal ini karna firman Allah Ta’ala

    إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

     “Sesungguhnya Allah beserta ornag-orang yang bertaqwa dan orang-orang  yang berbuat kebaikan.”(Qs An-Nahl: 128)

    وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

    “Dan sesunggunya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”(Qs Al-Ankabut: 69)

    لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

    “Janganlah kamu berdukacita, sesungguhnya Allah beserta kita.”(Qs At-Taubah: 40).
    Seorang ahli dzikir adalah orang yang besar bagiaannya ketika mendapatkan kebersamaan tersebut, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi.
    ”Aku bersama hamba-Ku jika dia berdzikir kepadaku. Dengan-Ku kedua bibirnya bergerak”   (HR Ahmad, (2/540) dan selainnya. Dishahihkan Al-Albani. Lihat Shahih Al Jami’, (no.1906))

***
muslimah.or.id
dari buku Syarah Hisnul Muslim, Pensyarah : Majdi bin Abdul Wahhab Ahmad. Referensi dari terbitan Darul Falah dan Pustaka Ar Rayyan

*************************************************

Faedah Dzikir (Bagian 3)

  • Dzikir itu mengimbangi (pahala) menebaskan pedang dalam perang di jalan Allah ditambah harta yang dikeluarkan serta bekal yang dibawa di atas kuda perang fisabilillah.
  • Dzikir adalah pokok kesyukuran. Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah Ta’ala selama belum dzikir kepada-Nya.
  • Makhluk yang paling mulia di sisi Allah Ta’ala adalah dari kalangan orang-orang yang beriman yang lisannya selalu basah karena dzikir kepada-Nya. Maka dia menjadi orang yang diteguhkan dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.. Dzikirnya dijadikan cirri khasnya, dan ketaqwaan menjadi sebab dirinya masuk surga dan selamat dari api neraka.
  • Tiada yang bisa menghilangkan sifat kekerasan hati kecuali dzikir kepada Allah Ta’ala. Seseorang berkata kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah,  “Wahai Abu Sa’id, aku mengadukan kepada engkau tentang kerasnya hatiku?” Dia menjawab, “Lebutkan dengan dzikir.”
  • Dzikir adalah kesembuhan dan obat bagi hati. Lalai adalah penyakitnya. Hati yang sakit, maka kesembuhan serta obatnya ada dalam dzikir kepada Allah Ta’ala.
  • Dzikir adalah asas sikap loyal terhadap Allah Ta’ala sebagai satu-satunya penolong, sedangkan lalai adalah dasar sikap permusuhan dengan-Nya. Seorang hamba senantiasa dzikir kepada Rabbnya sampai mencintai-Nya dan menjadikan-Nya satu-satunya penolongnya, atau dia terus melupakan-Nya sampai membenci dan memusuhi-Nya.
  • Tidak ada yang sebanding dengan dzikir dalam perkara mendatangkan yang mengundang kenikmatan Allah dan menghindarkan dari siksa-Nya. Maka dzikir benar-benar pendatang kenikmatan dan penolak siksaan. Sebagian salaf berkata: “Alangkah buruknya melupakan Dia yan tidak pernah lupa memberimu kebajikan.”
  • Dzikir menjadi sebab mendapatkan shalawat dari Allah Azza wa Jalladan dari para malaikat-Nya. Siapa saja yang Allah dan para malaikat-Nya bershalawt atasnya, maka dia telah beruntung dan menang yang sesungguhnya.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (٤١)وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا (٤٢)هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ

    “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepadaAllah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan sore. Dialah yang memberi shalawat kepadamu dan malaikat-Nya.” (Qs Al-Ahzab: 41-43)

  • Barang siapa yang ingin tinggal dalam taman surga, hendaknya dia banyak tinggal dalam majelis dzikir. Majelis dzikir adalah taman surga.
  • Majelis dzikir adalah majelis para malaikat. Tiada majelis didunia ini  yang menjadi majelis mereka, kecuali majelis yang didalamnya dzikir kepada Allah. Sebagaimana telah ada dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ

    “Sesungguhnya Allah itu memiki para malaikat yang selalu berkeliling dijalan-jalan untuk mencari ahli dzikir.”(Muttafaq alaih)

  • Allah Ta’ala membanggakan para ahli dzikir kepada para malaikat-Nya. Sebagaimana telah dikabarkan Sa’id Al-Khudri radhiallahu anhu, berkata,  “Mu’awiyah keluar pergi menuju sebuah halaqah di masjid, lalu berkata, “Apa yang menjadikan kalian duduk disini?”  mereka menjawab,  “Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala.”  Dia berkata,  “Apakah Allah tidak menjadikan kalian duduk, kecuali hanya untuk itu?”  Mereka mejawab,  “Allah tidak menjadikan kami duduk melainkan hanya untuk itu.” Dia berkata,   “Sesungguhnya saya tidaklah meminta kalian bersumpah sebab menuduh kalian (berbohong).” Lalu Mu’awiyah melanjutkan “Tidak ada orang yang lebih sedikit mengambil hadits dari Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam keluar menuju kesebuah halaqah para sahabatnya, lalu bersabda, ‘Apa yang menjadikan kalian duduk disini?’  Para sahabat menjawab,  ‘Kami duduk untuk dzikir kepada Allah Ta’ala, memuji-Nya atas petunjuk-Nya untuk kami kepada islam dan dengan islam Dia menganugrahi kami dengan kehadiran engkau.’  Beliau bertanya,  ‘Apakah Allah tidak menjadikan kalian duduk melainkan hanya untuk itu?’   Mereka menjawab,  ‘Demi Allah Dia tidak menjadikan kami duduk melainkan hanya untuk itu.’ Beliau bersabda, ‘Ketahilah sesunggunya aku tidak bersumpah untuk menuduh kalian. Akan tetapi, Jibril alaihissalam telah datang kepadaku dan menyampaikan kepadaku bahwa Allah membanggakan kalian semua kepada para malaikat.’”(HR. Muslim)Ini adalah sebuah pembanggaan dari Ar Rabb, menunjukkan kemuliaan dzikir di sisi-Nya, kecintaan-Nya akan dzikir dan bahwasanya dzikir mempunyai kedudukan istimewa dibandingkan seluruh amalan lainnya.
  • Semua amal disyariatkan untuk menegakkan dzikir kepada Allah Azza wa Jalla. Sehingga maksud seluruh amal adalah mewujudkan dzikir kepada Allah Ta’ala.Allah Azza wa Jallaberfirman,

    وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

     “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”(Qs Thaha: 14)

    Disebutkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa dia ditanya, “Amal apakah yang paling utama?” Dia menjawab, “Mengingat Allah itulah yang terbesar”

  • Ahli suatu amal yang paling afdhal adalah mereka yang dalam amalnya itu paling banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala. Maka, sebaik-baik puasa adalah yang paling banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala dalam puasanya. Sebaik-baik para jama’ah haji adalah yang paling banyak berdzikir kepada Allah. Sebanyak-banyak orang yang bersedekah adalah yang paling banyak berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, demikian dalam semua amal.
  • Senantiasa dzikir mampu menggantikan berbagai ibadah tathawwu’ (ibadah sunnah), baik yang bersifat badaniah maupun harta seperti haji tathawwu’. Hal itu ditegaskan dalam satu hadits dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa orang-orang fakir yang turut dalam hijrah datang kepada nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah , orang-orang kaya bisa melakukan berbagai amalan yang tinggi derajatnya dan menikmati kesenangan yang terus-menerus. Mereka menunaikan shalat sebagaimana kami menunaikan shalat. Mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Sedangkan mereka memiliki kelebihan harta yang bisa mereka gunakan untuk menunaikan ibadah haji, umrah, dan berjihad?” Beliau bersabda, “Maukah kuajarkan kepada kalian sesuatu yang dengannya kalian bisa mengejar orang yang mendahului kalian dan orang-orang di belakang kalian akan mendahului dengannya sehingga tiada seorang pun lebih utama dari pada kalian, kecuali orang yang melakukan apa-apa yang kalian lakukan?”  Mereka menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Bertasbihlah, bertahmidlah, dan bertakbirlah setiap usai shalat’.” (Muttafaq alaih)Beliau menjadikan dzikir sebagai ganti dari berbagai ibadah yang luput dari mereka , seperti: haji, umrah, dan jihad. Beliau juga menyampaikan bahwa mereka ini akan bisa mengalahkan mereka itu dengan dzikir ini.
  • Dzikir kepada Allah Ta’ala adalah sesuatu yang paling besar yang mampu membantu seseorang untuk taat kepada-Nya. Dzikir membuat ketaatan menjadi sesuatu yang sangat dicintai seorang hamba, menjadikanya sangat mudah, sangat lezat, dan penyejuk mata baginya.
  • Dzikir kepada Allah Ta’ala merubah yang sulit menjadi mudah, merubah yang rumit menjadi sederhana, dan meringankan berbagai hal yang berat.
  • Dzikir kepada Allah Azza wa Jalla menghilangkan semua hal yang menakutkan dalam hati dan memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam pencapaian rasa nyaman. Tiada sesuatu yang paling bermanfaat bagi orang yang mengalami rasa takut yang teramat sangat selain dzikir kepada Allah Ta’ala.
  • Dzikir memberi kekuatan, sehingga dia mampu melakukan apa-apa yang tidak mampu dia lakukan. Tidakkah anda melihat bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada putrinya (Fathimah) dan menantunya (Ali radhiallahu anhuma) agar bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tigapuluh tiga kali, dan bertakbir tiga puluh empat kali setiap malam bila keduanya hendak tidur. Pernah Fathimah meminta kepada beliau seorang pembantu dan mengeluhkan pekerjaanya menumbuk tepung,mengambil air, dan melakukan berbagai macam tanda bakti. Belaiu mengajarkan hal itu kepadanya lalu bersabda, “Sesungguhnya itu lebih baik bagi kalian dari pada seorang pembantu”(HR Bukhari)Maka dikatakan bahwa orang yang senantiasa dzikir itu akan mendapatkan kekuatan sepanjang hari nya sehingga tidak perlu lagi pembantu.
  • Semua amal untuk kepentingan akhirat selalu dalam bentuk diperlombakan. Orang-orang ahli dzikir adalah mereka yang menang dalam lomba itu.
  • Banyak dzikir kepada Allah Azza wa Jalla adalah pengaman dari kemunafikan. Maka sesunggunya orang yang munafik adalah orang yang sangat sedikir dzikir kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Ta’alaberfirman tentang orang munafik,

    وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا

     “Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah, kecuali sedikit sekali.” (An-Nisa: 142)   Ka’ab berkata, “Barang siapa banyak berdzikir kepada Allah , maka dia akan bebas dari kemunafikan.”

***
muslimah.or.id
dari buku Syarah Hisnul Muslim, Pensyarah : Majdi bin Abdul Wahhab Ahmad. Referensi dari terbitan Darul Falah dan Pustaka Ar Rayyan

***************************************************

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: