Fatwa Puasa Arafah

Tanya Kepada Ahli Ilmu

Fatwa Puasa Arafah

Fatwa Syaikhuna Prof DR Khalid Al-Mushlih hafidhahullah ketika saya tanyakan kepada beliau pada hari Jum’at 1 Dzulhijjah 1435 / 26 September 2014 via WA tentang puasa Arafah dan Idul Adh-ha yang terjadi perbedaan antara Indonesia dengan Saudi Arabia atau jama’ah haji. Sikap kita yang di Indonesia ini harus bagaimana dan ikut yang mana?

Beliau menjawab:

تتابعون ما أعلن في بلدكم وصيام عرفة يصام في التاسع عندكم.
بوركتم

“Kalian ikuti apa yang diumumkan di negeri kalian dan puasa Arafah dikerjakan pada tanggal sembilan (9 Dzulhijjah) di negeri kalian. Semoga kalian diberi barokah”.

Demikian fatwa beliau hafidhahullah.

Syaikhuna Prof DR Khalid Al-Mushlih hafidhahullah adalah murid senior Syaikhuna Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah sekaligus menantunya dan saat ini menjadi salah satu penggantinya. Beliau juga guru besar di Univ Imam Muhammad bin Saud Al-Qasim KSA.

Permasalahan seperti ini bukanlah hal yang baru karena sudah sering terjadi dan apakah kita harus berpecahbelah setiap tahun..?!

Dalam hal ini para ulama ada dua pendapat;

1. Ikut negara masing-masing.
2. Ikut jamaah haji.

Kedua pendapat tersebut sama-sama mempunyai hujjah dan argumentasi.

Saya cenderung kepada pendapat yang mengikuti negeri masing-masing, dan ini yang juga difatwakan Syaikhuna Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah.

Disamping ini adalah pendapat banyak ulama yang mu’tabar, juga dikarenakan kita berada di sebuah negara berdaulat yang mempunyai keputusan dalam menentukan masalah ini sehingga selayaknya kita menjaga kebersamaan, persatuan dan kesatuan sebagaimana negara tetangga, Malaysia dan negara-negara Asia yang lainnya.

Dulu saya sempat mengambil jalan tengah diantara dua pendapat tersebut, yaitu puasa ikut KSA atau jama’ah haji yang sedang wukuf di Arafah dan shalat ied ikut negara masing-masing, namun pendapat ini cenderung setengah-setengah dan membingungkan.

Berubah pendapat dalam masalah ijtihad itu adalah hal biasa dan wajar, bukan berarti plin plan, justru ini adalah bukti sikap ksatria, jujur dan sportif.

Bahkan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah ketika di Iraq dan kemudian pindah ke Mesir merubah dan meralat hampir semua fatwanya sehingga dalam madzhab Syafi’i di kenal ada “Qoul Qodim” yaitu pendapat lama ketika di Iraq dan “Qoul Jadid” yaitu pendapat baru ketika di Mesir.

Kita harus lapang dada dalam menyikapi perbedaan pendapat seperti ini dengan mengedepankan persatuan dan kesatuan.

Malang, Senin 4 Dzulhijjah 1435 / 29 September 2014

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s