Harapan Dan Cita-Cita Dalam Berumah Tangga

Setiap orang memiliki harapan dan cita-cita, termasuk dalam membina rumah tangga.

Ada yang ingin mencari pasangan yang gantengnya selangit…

Karena dia suka itu, dan akan membanggakannya… Namun ingat keelokan wajah tidak akan bertahan lama

Ada yang ingin mencari pasangan anak keturunan orang terpandang…

Karena dengan itu dia bisa menaikkan derajatnya di hadapan manusia… Namun ingat kemuliaan sesorang tergantung dengan ketakwaannya

Allah Ta’ala berfirman:

إن أكرمكم عند الله أتقاكم

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa dia antara kalian”. (QS. Al-Hujurat:13).

Ada yang ingin mencari pasangan yang kaya raya…

Karena dia mengira dengan banyaknya harta hidupnya akan bahagia

Padahal kebahagiaan hakiki hanya dapat diraih dengan keimanan kepada Allah Ta’ala

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan tiga tanda kebahagian:

1. Bersyukur
2. Sabar
3. Beristighfar

Dan keadaan seseorang akan selalu berputar, antara mendapat karunia yang melimpah, di timpa musibah atau terjerumus dalam lubang dosa.

Seorang yang beriman tatkala memperoleh sebuah kenikmatan, ia mengetahui bahwa itu semua datangnya dari Allah ‘Azza wa jalla, kemudian dia memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.

Jika ditimpa musibah, dia yakin
bahwa itu semua atas kehendak Allah ‘Azza wa jalla, lalu dirinya ridha dan sabar.

Dan bila pada suatu waktu ia terkalahkan oleh nafsunya dan terjatuh ke dalam jurang dosa, ia menyadari bahwa dirinya telah melanggar batasan-batasan Allah ‘Azza wa jalla dan kemudian segera bertaubat dan beristighfar.

Ketiga hal tersebut menunjukan, bahwa kebahagian hanya dapat diraih dengan beriman kepada Allah ‘Azza wa jalla.
Keimanan merupakan tempat bersandar seorang Muslim pada setiap keadaan.

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَجَبًا لأمرِ المؤمنِ إِنَّ أمْرَه كُلَّهُ لهُ خَيرٌ وليسَ ذلكَ لأحَدٍ إلا للمُؤْمنِ إِنْ أصَابتهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فكانتْ خَيرًا لهُ وإنْ أصَابتهُ ضَرَّاءُ صَبرَ فكانتْ خَيرًا

“Sungguh sangat menakjubkan perkara (kondisi) seorang Mukmin. Seluruh perkara (kondisinya) baik, dan itu tidak ada pada seseorang kecuali pada seorang Mukmin. Jika mendapat nikmat, ia pun bersyukur dan itu adalah terbaik baginya. Jika ditimpa musibah, ia bersabar dan itulah yang terbaik bagi dirinya. (HR. Muslim)

Dan ada pula yang ingin mencari pasangan yang pandai agamanya…

Karena dia ingin belajar dan memperdalam agamanya, dan paling tidak dia akan dibimbing untuk memahami agamanya dan mengamalkannya

Dan itu merupakan hal yang ada pada naluri setiap kita, namun…

Ingatlah pesan Nabi kita صلى الله عليه و سلم dalam hal ini, yang mengigatkan kita untuk mencari orang yang baik agama dan akhlaknya,

وقد قال صلى الله عليه وسلم: ” إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير” رواه الترمذي وغيره.

Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: “Apabila datang kepada kalian seorang pemuda yang kalian sukai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia dengan putri kalian. Kalau tidak, akan terjadi fitnah (bencana) dan kerusakan yang besar di muka bumi”. (HR. at-Tirmidzi).

Maka dari itu mintalah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala agar menetapkan hati kita untuk selalu ta’at kepada-Nya dan mintalah agar pasangan kita selalu mengingatkan dan membimbing kita ke jalan-Nya dan untuk selalu ta’at Kepada-Nya.

Mudah-mudahan Allah selalu membimbing kita semua.

****************************************************************

“Kau kuhalalkan atau ku ikhlaskan”
Begitulah kaidah cinta seorang mukmin yang menghormati kesucian cinta.
Tegas dan tak kenal basa-basi.
Dia menyadari bahwa tak ada cinta yang halal sebelum ia menyatu dalam ikatan suci pernikahan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada penawar yg lebih manjur bagi dua insan yg saling mencintai kecuali pernikahan“ (HR. Muslim)

Sahabat…
Takdir cinta akan selalu Indah pada masanya. Engkau hanya perlu bersabar dalam penantian dan pencarian, hingga Allah membawamu pada orang yang tepat diwaktu yang tepat.
Tetaplah diatas jalan petunjuk-Nya, sekalipun ia terasa panjang.
Jangan tergesa-gesa lalu berbelok menempuh jalan pintas.
Tunggulah sampai cinta itu mekar..
Sebab memetiknya sebelum mekar sama dengan melawan kodrat syar’i-Nya.
Katakan tidak untuk pacaran.

اتَّقِ اللَّهَ ولا تَفُضَّ الْخَاتَمَ إلا بِحَقِّهِ

“Bertakwalah kepada Allah, dan jangan pecahkan cincin kecuali dengan haknya”.(HR. Bukhori)

___________________
Madinah 09-01-1437 H

*********************************************************************

“Dizaman penuh fitnah seperti saat ini, kecantikan calon istri sangat ditekankan agar menjadi bagian dari prioritas sebelum memutuskan untuk melamar. Hal ini demi menjaga pria agar tidak melirik wanita lain.
Oleh karena itu apabila seseorang pria hendak melamar seorang wanita, maka tanyakan terlebih dahulu apakah wanita tersebut berparas cantik atau tidak.? Setelah itu tanyakan tentang komitmen agamanya. Karena apabila anda menanyakan komitmen agamanya terlebih dahulu, lalu setelah mengetahui parasnya kurang cantik kemudian anda menolaknya, maka dikwatirkan anda menolak berdasarkan”kecantikan” bukan atas dasar “agama”. Tentunya hal ini menyalahi sabda nabi shalaihi sholatu wasalam yang menganjurkan memilih atas dasar “komitmen agama”.

Faidah dari Syarh Al-Kifayah bersama Syaikh Prof. DR. Muhammad Abdullah Az-Zahim -hafidzahullah-

Catatan:

Apa yang disampaikan Syaikh senada dengan apa yang disebutkan imam Ahmad yang kemudian menjadi pegangan dalam mazhab hambali. Di dalam Syarah muntaha al-Iraadaat (2/621 ) disebutkan bahwa:

“Disunnahkan juga untuk memilih wanita yang berparas cantik, karena hal tersebut dapat menumbuhkan ketenangan yang lebih beser serta lebih membantu seseorang untuk menundukkan pandangan dan lebih menyempurnakan rasa cintanya. Olehkarenanya disyariatkan Nadzor sebelum menikah (2/621)

Pendapat diatas di dasari oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu anhu yang berbunyi:

قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! أَيُّ النِّسَاءِ خَيرٌ ؟ قال : التِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ إِليهَا ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَر ، وَلا تُخَالِفُهُ فِي نَفسِهَا وَلا فِي مَالِهِ بِمَا يَكرَهُ

Ya Rasulullah,wanita mana yang terbaik? Beliau menjawab: ”Yang tatkala engkau melihatnya engkau merasa senang, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. Ahmad dan An-Nasai)

Kesimpulannya adalah, perintah untuk mencari wanita yang baik komitmen agamanya sama sekali tidak menafikan fitrah seorang laki-laki yang menginginkan wanita yang berparas cantik. Apalagi dizaman fitnah seperti saat ini.

Untuk wanita muslimah, tak perlu kwatir. Karena kecantikan itu relatif.
Akan selalu ada yang memandangmu cantik dengan segala kebersahajaanmu.

Seorang pujangga berkata:

جمال الوجه مع قبح النفوس كقيديل على قبر المجوس

Kecantikan wajah yang disertai buruknya jiwa, bagai lentera diatas kubur seorang majusi.

Wallahu a’lam.

______
Madinah 1 Muharram 1437 H

*******************

Islam adalah agama yang universal. Agama yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Tidak ada satu persoalan pun dalam kehidupan ini melainkan telah dijelaskan dan tidak ada satu masalah pun melainkan telah disentuh oleh nilai Islam, kendati masalah tersebut nampak ringan dan sepele. Itulah Islam, agama yang menebar rahmat bagi semesta alam.

Dalam hal pernikahan, Islam telah berbicara banyak. Dari sejak mencari kriteria calon pendamping hidup, hingga bagaimana cara berinteraksi dengannya tatkala resmi menjadi penyejuk hati. Islam memberikan tuntunan, begitu pula Islam mengarahkan bagaimana panduan menyelenggarakan sebuah pesta pernikahan yang suka ria, namun tetap memperoleh berkah dan tidak menyelisihi sunnah Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wasallam, demikian pula dengan pernikahan yang sederhana namun tetap ada daya tarik tersendiri. Maka Islam mengajarkannya.

Adapun sebagian kebiasaan yang wajib dijauhi dalam pesta pernikahan:

Pertama : Menyandingkan Pengantin Pria Bersama Pengantin Wanita

Syaikh Ibnu Jibrin –rahimahullāh– ditanya : “Apakah boleh menyandingkan pengantin pria bersama pengantin wanita di tengah-tengah para tamu wanita dalam pesta pernikahan?”

Jawaban: Perbuatan ini tidak dibolehkan. Sebab ini adalah bukti atas tercabutnya rasa malu dan taqlid (mengekor) kepada kaum yang suka berbuat keburukan. Bahkan perkaranya jelas. Sebab, pengantin wanita merasa malu menampakkan diri di hadapan manusia, lalu bagaimana halnya bersanding di hadapan orang-orang yang sengaja menyaksikan?[1]

 Syaikh Ibnu Baaz berkata: “Di antara perkara munkar yang diadakan manusia pada zaman ini ialah meletakkan pelaminan untuk pengantin wanita di tengah kaum wanita dan menyandingkan suaminya di dekatnya, dengan dihadiri kaum wanita yang berdandan dan bersolek. Mungkin juga ikut hadir, bersama pengantin pria, kaum pria dan kalangan kerabatnya atau kerabat pengantin wanita. Orang yang memiliki fitrah yang lurus dan memiliki ghirah (kecemburuan) beragama, akan mengetahui apa yang terkandung dalam perbuatan ini yaitu berupa keburukan yang besar dan memungkinkan kaum pria asing menyaksikan kaum wanita yang menggoda lagi bersolek, serta akibat buruk yang akan dihasilkannya. Oleh karena itu, wajib mencegah hal itu dan menghapuskannya, untuk mencegah sebab-sebab fitnah dan melindungi komunitas wanita dari perkara yang menyelisihi syari’at yang suci.[2]

Kedua : Saweran

Al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Yazid al-Anshari –kakeknya adalah Abu Umamah–, ia mengatakan: “Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam melarang nahbah[3] dan mutslah[4] .”[5]

Ibnu Qudamah –rahimahullāh– berkata: “Karena dalam kebiasaan ini (yakni saweran) berisi perebutan, berdesak-desakkan dan perkelahian. Barangkali mungkin diambil oleh orang yang tidak disukai oleh pemilik barang yang ditaburkan tersebut, karena kerakusan dan ketamakannya serta kekerdilan jiwanya. Sementara orang yang disukai pemilik harta yang ditaburkan tersebut terhalang, karena beradab baik serta menjaga diri dan kehormatannya. Demikianlah pada umumnya. Sebab, orang-orang yang beradab baik akan memelihara dirinya dari berdesak-desakan dengan manusia rendahan untuk suatu makanan atau selainnya. Juga karena ini adalah kehinaan, sedang Allah menyukai perkara-perkara yang luhur daripada berdesak-desakan untuk perkara yang murahan. Yang diperselisihkan hanyalah mengenai kemakruhan hal itu. Adapun kebolehannya, maka tidak diperselisihkan di dalamnya, dan tidak pula mengambilnya. Karena ini semacam membolehkan (orang lain) terhadap hartanya, sehingga ini serupa dengan semua hal yang dibolehkan.”[6]

Al-Hafizh berkata dalam al-Fath: “Malik dan segolongan ulama memakruhkan perbuatan dalam saweran pengantinan.” [7]

 

Ketiga : Mengatakan “Bir Rafaa’ wal Baniin” (Semoga Rukun dan Banyak Anak)

Tidak boleh mengatakan: “Bir rafaa’ wal baniin, sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang tidak mengetahui. Sebab, itu termasuk perbuatan Jahiliyyah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullāh– berkata: “Kalimat ini biasa diucapkan oleh kaum Jahiliyyah sehingga ucapan ini dilarang, sebagaimana diriwayatkan oleh Baqi bin Makhlad dari jalan Ghalib dari al-Hasan, dari seseorang dari Bani Tamim. Ia menuturkan: ‘Semasa Jahiliyyah, kami biasa mengucapkan: ‘Bir rafaa’ wal baniin.’ Ketika Islam datang, Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kami. Beliau bersabda: ‘Ucapkanlah:

بَارَكَ اللّهُ لَكُمْ، وَ بَارَكَ فِيْكُمْ، وَ بَارَكَ عَلَيْكُمْ

‘Semoga Allah memberkahi kalian, memberkahi pada kalian dan memberkahi atas kalian.’”

An-Nasai dan ath-Thabrani meriwayatkan dari jalan lain, dari ‘Aqil bin Abi Thalib bahwa ia tiba di Bashrah lalu menikahi seorang wanita, maka mereka mengucapkan kepadanya: “Bir rafaa’ wal baniin.” Maka ia mengatakan: “Jangan mengatakan demikian, tapi ucapkanlah sebagaimana ucapan Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wasallam:

اللّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ وَ بَارِكْ عَلَيْهِمْ

Ya Allah, berkahilah mereka, dan berkahilah atas mereka.’” (Para perawinya tsiqat). [8]

 

 ——————————————–

[1] Fataawaa Islamiyyah (III/188)

[2] Ibid.

[3] Nahbah ialah apa yang ditebarkan pada saat pesta berupa harta, permen (coklat), makanan atau selainnya.

[4] Mutslah yakni tamtsil (melukai atau merusak anggota tubuh). Di antara mutslah ialah seorang bernadzar untuk melukai hidungnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Imran bin Hushain dalam riwayat Ahmad (no. 19437).

[5] HR. Al-Bukhari (no. 2474), kitab al-Mazhaalim wal Ghadhab, Ahmad (no. 18265)

[6] Al-Mughni bisy Syarhil Kabiir (VIII/118)

[7] Fat-hul Baari (V/120)

[8] Fat-hul Baari (IX/222)

Referensi :

Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq. Panduan Lengkap Nikah dari “A” sampai “Z”. Pustaka Ibnu Katsir

**************************************

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s