Proses Syar’i Sebuah Pernikahan

Proses mencari jodoh dalam Islam bukanlah “membeli kucing dalam karung” sebagaimana sering dituduhkan. Namun justru diliputi oleh perkara yang penuh adab. Bukan “coba dulu baru beli” kemudian “habis manis sepah dibuang”, sebagaimana jamaknya pacaran kawula muda di masa sekarang.

Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tatacara ataupun proses sebuah pernikahan yang berlandaskan Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih. Berikut ini kami bawakan perinciannya:

1. Mengenal calon pasangan hidup
Sebelum seorang lelaki memutuskan untuk menikahi seorang wanita, tentunya ia harus mengenal terlebih dahulu siapa wanita yang hendak dinikahinya, begitu pula sebaliknya si wanita tahu siapa lelaki yang berhasrat menikahinya. Tentunya proses kenal-mengenal ini tidak seperti yang dijalani orang-orang yang tidak paham agama, sehingga mereka menghalalkan pacaran atau pertunangan dalam rangka penjajakan calon pasangan hidup, kata mereka. Pacaran dan pertunangan haram hukumnya tanpa kita sangsikan.
Adapun mengenali calon pasangan hidup di sini maksudnya adalah mengetahui siapa namanya, asalnya, keturunannya, keluarganya, akhlaknya, agamanya dan informasi lain yang memang dibutuhkan. Ini bisa ditempuh dengan mencari informasi dari pihak ketiga, baik dari kerabat si lelaki atau si wanita ataupun dari orang lain yang mengenali si lelaki/si wanita.
Yang perlu menjadi perhatian, hendaknya hal-hal yang bisa menjatuhkan kepada fitnah (godaan setan) dihindari kedua belah pihak seperti bermudah-mudahan melakukan hubungan telepon, sms, surat-menyurat, dengan alasan ingin ta’aruf (kenal-mengenal) dengan calon suami/istri. Jangankan baru ta’aruf, yang sudah resmi meminang pun harus menjaga dirinya dari fitnah. Karenanya, ketika Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah ditanya tentang pembicaraan melalui telepon antara seorang pria dengan seorang wanita yang telah dipinangnya, beliau menjawab, “Tidak apa-apa seorang laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya, bila memang pinangannya telah diterima dan pembicaraan yang dilakukan dalam rangka mencari pemahaman sebatas kebutuhan yang ada, tanpa adanya fitnah. Namun bila hal itu dilakukan lewat perantara wali si wanita maka lebih baik lagi dan lebih jauh dari keraguan/fitnah. Adapun pembicaraan yang biasa dilakukan laki-laki dengan wanita, antara pemuda dan pemudi, padahal belum berlangsung pelamaran di antara mereka, namun tujuannya untuk saling mengenal, sebagaimana yang mereka istilahkan, maka ini mungkar, haram, bisa mengarah kepada fitnah serta menjerumuskan kepada perbuatan keji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوفًا
“Maka janganlah kalian tunduk (lembut mendayu-dayu) dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang di hatinya ada penyakit dan ucapkanlah ucapan yang ma’ruf.” (Al-Ahzab: 32)
Seorang wanita tidak sepantasnya berbicara dengan laki-laki ajnabi kecuali bila ada kebutuhan dengan mengucapkan perkataan yang ma’ruf, tidak ada fitnah di dalamnya dan tidak ada keraguan (yang membuatnya dituduh macam-macam).” (Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan 3/163-164)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan
Ada beberapa hal yang disenangi bagi laki-laki untuk memerhatikannya:
q Wanita itu shalihah, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تُنْكَحُ النِّسَاءُ لِأَرْبَعَةٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَلِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita itu (menurut kebiasaan yang ada, pent.) dinikahi karena empat perkara, bisa jadi karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang memiliki agama. Bila tidak, engkau celaka.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 3620 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
q Wanita itu subur rahimnya. Tentunya bisa diketahui dengan melihat ibu atau saudara perempuannya yang telah menikah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ
“Nikahilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur, karena aku berbangga-bangga di hadapan umat yang lain pada kiamat dengan banyaknya jumlah kalian.” (HR. An-Nasa`i no. 3227, Abu Dawud no. 1789, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa`ul Ghalil no. 1784)
q Wanita tersebut masih gadis1, yang dengannya akan dicapai kedekatan yang sempurna.
Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma ketika memberitakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia telah menikah dengan seorang janda, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَهَلاَّ جَارِيَةً تُلاَعِبُهَا وَتُلاَعِبُكَ؟
“Mengapa engkau tidak menikah dengan gadis hingga engkau bisa mengajaknya bermain dan dia bisa mengajakmu bermain?!”
Namun ketika Jabir mengemukakan alasannya, bahwa ia memiliki banyak saudara perempuan yang masih belia, sehingga ia enggan mendatangkan di tengah mereka perempuan yang sama mudanya dengan mereka sehingga tak bisa mengurusi mereka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memujinya, “Benar apa yang engkau lakukan.” (HR. Al-Bukhari no. 5080, 4052 dan Muslim no. 3622, 3624)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالْأَبْكَارِ، فَإِنَّهُنَّ أَعْذَبُ أَفْوَاهًا وَأَنْتَقُ أَرْحَامًا وَأَرْضَى بِالْيَسِيْرِ
“Hendaklah kalian menikah dengan para gadis karena mereka lebih segar mulutnya, lebih banyak anaknya, dan lebih ridha dengan yang sedikit.” (HR. Ibnu Majah no. 1861, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 623)

2. Nazhar (melihat calon pasangan hidup)
Seorang wanita pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghibahkan dirinya. Si wanita berkata:
ياَ رَسُوْلَ اللهِ، جِئْتُ أَهَبُ لَكَ نَفْسِي. فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَصَعَّدَ النَّظَرَ فِيْهَا وَصَوَّبَهُ، ثُمَّ طَأْطَأَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم رًأْسَهُ
“Wahai Rasulullah! Aku datang untuk menghibahkan diriku kepadamu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melihat ke arah wanita tersebut. Beliau mengangkat dan menurunkan pandangannya kepada si wanita. Kemudian beliau menundukkan kepalanya. (HR. Al-Bukhari no. 5087 dan Muslim no. 3472)
Hadits ini menunjukkan bila seorang lelaki ingin menikahi seorang wanita maka dituntunkan baginya untuk terlebih dahulu melihat calonnya tersebut dan mengamatinya. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 9/215-216)
Oleh karena itu, ketika seorang sahabat ingin menikahi wanita Anshar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatinya:
انْظُرْ إِلَيْهَا، فَإِنَّ فِي أَعْيُنِ الْأَنْصَارِ شَيْئًا، يَعْنِي الصِّغَرَ
“Lihatlah wanita tersebut, karena pada mata orang-orang Anshar ada sesuatu.” Yang beliau maksudkan adalah mata mereka kecil. (HR. Muslim no. 3470 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Demikian pula ketika Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu meminang seorang wanita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah melihat wanita yang kau pinang tersebut?” “Belum,” jawab Al-Mughirah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
انْظُرْ إِلَيْهَا، فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا
“Lihatlah wanita tersebut, karena dengan seperti itu akan lebih pantas untuk melanggengkan hubungan di antara kalian berdua (kelak).” (HR. An-Nasa`i no. 3235, At-Tirmidzi no.1087. Dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 96)
Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu berkata, “Dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu: “Apakah engkau telah melihat wanita yang kau pinang tersebut?” ada dalil bahwa sunnah hukumnya ia melihat si wanita sebelum khitbah (pelamaran), sehingga tidak memberatkan si wanita bila ternyata ia membatalkan khitbahnya karena setelah nazhar ternyata ia tidak menyenangi si wanita.” (Syarhus Sunnah 9/18)
Bila nazhar dilakukan setelah khitbah, bisa jadi dengan khitbah tersebut si wanita merasa si lelaki pasti akan menikahinya. Padahal mungkin ketika si lelaki melihatnya ternyata tidak menarik hatinya lalu membatalkan lamarannya, hingga akhirnya si wanita kecewa dan sakit hati. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 9/214)
Sahabat Muhammad bin Maslamah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku meminang seorang wanita, maka aku bersembunyi untuk mengintainya hingga aku dapat melihatnya di sebuah pohon kurmanya.” Maka ada yang bertanya kepada Muhammad, “Apakah engkau melakukan hal seperti ini padahal engkau adalah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Kata Muhammad, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا أَلْقَى اللهُ فيِ قَلْبِ امْرِئٍ خِطْبَةَ امْرَأَةٍ، فَلاَ بَأْسَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا
“Apabila Allah melemparkan di hati seorang lelaki (niat) untuk meminang seorang wanita maka tidak apa-apa baginya melihat wanita tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 1864, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Ibni Majah dan Ash-Shahihah no. 98)
Al-Imam Al-Albani rahimahullahu berkata, “Boleh melihat wanita yang ingin dinikahi walaupun si wanita tidak mengetahuinya ataupun tidak menyadarinya.” Dalil dari hal ini sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً، فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا إِذَا كَانَ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَيْهَا لِخِطْبَتِهِ، وَإِنْ كَانَتْ لاَ تَعْلَمُ
‘Apabila seorang dari kalian ingin meminang seorang wanita, maka tidak ada dosa baginya melihat si wanita apabila memang tujuan melihatnya untuk meminangnya, walaupun si wanita tidak mengetahui (bahwa dirinya sedang dilihat).” (HR. Ath-Thahawi, Ahmad 5/424 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Ausath 1/52/1/898, dengan sanad yang shahih, lihat Ash-Shahihah 1/200)
Pembolehan melihat wanita yang hendak dilamar walaupun tanpa sepengetahuan dan tanpa seizinnya ini merupakan pendapat yang dipegangi jumhur ulama.
Adapun Al-Imam Malik rahimahullahu dalam satu riwayat darinya menyatakan, “Aku tidak menyukai bila si wanita dilihat dalam keadaan ia tidak tahu karena khawatir pandangan kepada si wanita terarah kepada aurat.” Dan dinukilkan dari sekelompok ahlul ilmi bahwasanya tidak boleh melihat wanita yang dipinang sebelum dilangsungkannya akad karena si wanita masih belum jadi istrinya. (Al-Hawil Kabir 9/35, Syarhul Ma’anil Atsar 2/372, Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim 9/214, Fathul Bari 9/158)

Haramnya berduaan dan bersepi-sepi tanpa mahram ketika nazhar
Sebagai catatan yang harus menjadi perhatian bahwa ketika nazhar tidak boleh lelaki tersebut berduaan saja dan bersepi-sepi tanpa mahram (berkhalwat) dengan si wanita. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ
“Sekali-kali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1862 dan Muslim no. 3259)
Karenanya si wanita harus ditemani oleh salah seorang mahramnya, baik saudara laki-laki atau ayahnya. (Fiqhun Nisa` fil Khithbah waz Zawaj, hal. 28)
Bila sekiranya tidak memungkinkan baginya melihat wanita yang ingin dipinang, boleh ia mengutus seorang wanita yang tepercaya guna melihat/mengamati wanita yang ingin dipinang untuk kemudian disampaikan kepadanya. (An-Nazhar fi Ahkamin Nazhar bi Hassatil Bashar, Ibnul Qaththan Al-Fasi hal. 394, Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 9/214, Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/280)

Batasan yang boleh dilihat dari seorang wanita
Ketika nazhar, boleh melihat si wanita pada bagian tubuh yang biasa tampak di depan mahramnya. Bagian ini biasa tampak dari si wanita ketika ia sedang bekerja di rumahnya, seperti wajah, dua telapak tangan, leher, kepala, dua betis, dua telapak kaki dan semisalnya. Karena adanya hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَي مَا يَدْعُوهُ إِلىَ نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ
“Bila seorang dari kalian meminang seorang wanita, lalu ia mampu melihat dari si wanita apa yang mendorongnya untuk menikahinya, maka hendaklah ia melakukannya.” (HR. Abu Dawud no. 2082 dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 99)
Di samping itu, dilihat dari adat kebiasaan masyarakat, melihat bagian-bagian itu bukanlah sesuatu yang dianggap memberatkan atau aib. Juga dilihat dari pengamalan yang ada pada para sahabat. Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma ketika melamar seorang perempuan, ia pun bersembunyi untuk melihatnya hingga ia dapat melihat apa yang mendorongnya untuk menikahi si gadis, karena mengamalkan hadits tersebut. Demikian juga Muhammad bin Maslamah radhiyallahu ‘anhu sebagaimana telah disinggung di atas. Sehingga cukuplah hadits-hadits ini dan pemahaman sahabat sebagai hujjah untuk membolehkan seorang lelaki untuk melihat lebih dari sekadar wajah dan dua telapak tangan2.
Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullahu berkata, “Sisi kebolehan melihat bagian tubuh si wanita yang biasa tampak adalah ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan melihat wanita yang hendak dipinang dengan tanpa sepengetahuannya. Dengan demikian diketahui bahwa beliau mengizinkan melihat bagian tubuh si wanita yang memang biasa terlihat karena tidak mungkin yang dibolehkan hanya melihat wajah saja padahal ketika itu tampak pula bagian tubuhnya yang lain, tidak hanya wajahnya. Karena bagian tubuh tersebut memang biasa terlihat. Dengan demikian dibolehkan melihatnya sebagaimana dibolehkan melihat wajah. Dan juga karena si wanita boleh dilihat dengan perintah penetap syariat berarti dibolehkan melihat bagian tubuhnya sebagaimana yang dibolehkan kepada mahram-mahram si wanita.” (Al-Mughni, fashl Ibahatun Nazhar Ila Wajhil Makhthubah)
Memang dalam masalah batasan yang boleh dilihat ketika nazhar ini didapatkan adanya perselisihan pendapat di kalangan ulama3.

3. Khithbah (peminangan)
Seorang lelaki yang telah berketetapan hati untuk menikahi seorang wanita, hendaknya meminang wanita tersebut kepada walinya.
Apabila seorang lelaki mengetahui wanita yang hendak dipinangnya telah terlebih dahulu dipinang oleh lelaki lain dan pinangan itu diterima, maka haram baginya meminang wanita tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
لاَ يَخْطُبُ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيْهِ حَتَّى يَنْكِحَ أَوْ يَتْرُكَ
“Tidak boleh seseorang meminang wanita yang telah dipinang oleh saudaranya hingga saudaranya itu menikahi si wanita atau meninggalkannya (membatalkan pinangannya).” (HR. Al-Bukhari no. 5144)
Dalam riwayat Muslim (no. 3449) disebutkan:
الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ، فَلاَ يَحِلُّ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَبْتَاعَ عَلى بَيْعِ أَخِيْهِ وَلاَ يَخْطُبَ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيْهِ حَتَّى يَذَرَ
“Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lain. Maka tidaklah halal baginya menawar barang yang telah dibeli oleh saudaranya dan tidak halal pula baginya meminang wanita yang telah dipinang oleh saudaranya hingga saudaranya meninggalkan pinangannya (membatalkan).”
Perkara ini merugikan peminang yang pertama, di mana bisa jadi pihak wanita meminta pembatalan pinangannya disebabkan si wanita lebih menyukai peminang kedua. Akibatnya, terjadi permusuhan di antara sesama muslim dan pelanggaran hak. Bila peminang pertama ternyata ditolak atau peminang pertama mengizinkan peminang kedua untuk melamar si wanita, atau peminang pertama membatalkan pinangannya maka boleh bagi peminang kedua untuk maju. (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/282)
Setelah pinangan diterima tentunya ada kelanjutan pembicaraan, kapan akad nikad akan dilangsungkan. Namun tidak berarti setelah peminangan tersebut, si lelaki bebas berduaan dan berhubungan dengan si wanita. Karena selama belum akad keduanya tetap ajnabi, sehingga janganlah seorang muslim bermudah-mudahan dalam hal ini. (Fiqhun Nisa fil Khithbah waz Zawaj, hal. 28)
Jangankan duduk bicara berduaan, bahkan ditemani mahram si wanita pun masih dapat mendatangkan fitnah. Karenanya, ketika Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu dimintai fatwa tentang seorang lelaki yang telah meminang seorang wanita, kemudian di hari-hari setelah peminangan, ia biasa bertandang ke rumah si wanita, duduk sebentar bersamanya dengan didampingi mahram si wanita dalam keadaan si wanita memakai hijab yang syar’i. Berbincanglah si lelaki dengan si wanita. Namun pembicaraan mereka tidak keluar dari pembahasan agama ataupun bacaan Al-Qur`an. Lalu apa jawaban Syaikh rahimahullahu? Beliau ternyata berfatwa, “Hal seperti itu tidak sepantasnya dilakukan. Karena, perasaan pria bahwa wanita yang duduk bersamanya telah dipinangnya secara umum akan membangkitkan syahwat. Sementara bangkitnya syahwat kepada selain istri dan budak perempuan yang dimiliki adalah haram. Sesuatu yang mengantarkan kepada keharaman, hukumnya haram pula.” (Fatawa Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, 2/748)

Yang perlu diperhatikan oleh wali
Ketika wali si wanita didatangi oleh lelaki yang hendak meminang si wanita atau ia hendak menikahkan wanita yang di bawah perwaliannya, seharusnya ia memerhatikan perkara berikut ini:
q Memilihkan suami yang shalih dan bertakwa. Bila yang datang kepadanya lelaki yang demikian dan si wanita yang di bawah perwaliannya juga menyetujui maka hendaknya ia menikahkannya karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ
“Apabila datang kepada kalian (para wali) seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022)
q Meminta pendapat putrinya/wanita yang di bawah perwaliannya dan tidak boleh memaksanya.
Persetujuan seorang gadis adalah dengan diamnya karena biasanya ia malu. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata menyampaikan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لاَ تُنْكَحُ الْأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ. قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ إِذْنُهَا؟ قَالَ: أَنْ تَسْكُتَ
“Tidak boleh seorang janda dinikahkan hingga ia diajak musyawarah/dimintai pendapat dan tidak boleh seorang gadis dinikahkan sampai dimintai izinnya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah! Bagaimana izinnya seorang gadis?” “Izinnya dengan ia diam,” jawab beliau. (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 3458)

4. Akad nikah
Akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung antara dua pihak yang melangsungkan pernikahan dalam bentuk ijab dan qabul.
Ijab adalah penyerahan dari pihak pertama, sedangkan qabul adalah penerimaan dari pihak kedua. Ijab dari pihak wali si perempuan dengan ucapannya, misalnya: “Saya nikahkan anak saya yang bernama si A kepadamu dengan mahar sebuah kitab Riyadhus Shalihin.”
Qabul adalah penerimaan dari pihak suami dengan ucapannya, misalnya: “Saya terima nikahnya anak Bapak yang bernama si A dengan mahar sebuah kitab Riyadhus Shalihin.”
Sebelum dilangsungkannya akad nikah, disunnahkan untuk menyampaikan khutbah yang dikenal dengan khutbatun nikah atau khutbatul hajah. Lafadznya sebagai berikut:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. (آل عمران: 102)
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. (النساء: 1)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. (الأحزاب: 70-71)

5. Walimatul ‘urs
Melangsungkan walimah ‘urs hukumnya sunnah menurut sebagian besar ahlul ilmi, menyelisihi pendapat sebagian mereka yang mengatakan wajib, karena adanya perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu ketika mengabarkan kepada beliau bahwa dirinya telah menikah:
أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ
“Selenggarakanlah walimah walaupun dengan hanya menyembelih seekor kambing4.” (HR. Al-Bukhari no. 5167 dan Muslim no. 3475)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyelenggarakan walimah ketika menikahi istri-istrinya seperti dalam hadits Anas radhiyallahu ‘anhu disebutkan:
مَا أَوْلَمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلىَ شَيْءٍ مِنْ نِسَائِهِ مَا أَوْلَمَ عَلىَ زَيْنَبَ، أَوْلَمَ بِشَاةٍ
“Tidaklah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelenggarakan walimah ketika menikahi istri-istrinya dengan sesuatu yang seperti beliau lakukan ketika walimah dengan Zainab. Beliau menyembelih kambing untuk acara walimahnya dengan Zainab.” (HR. Al-Bukhari no. 5168 dan Muslim no. 3489)
Walimah bisa dilakukan kapan saja. Bisa setelah dilangsungkannya akad nikah dan bisa pula ditunda beberapa waktu sampai berakhirnya hari-hari pengantin baru. Namun disenangi tiga hari setelah dukhul, karena demikian yang dinukilkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Shafiyyah radhiyallahu ‘anha dan beliau jadikan kemerdekaan Shafiyyah sebagai maharnya. Beliau mengadakan walimah tiga hari kemudian.” (Al-Imam Al-Albani rahimahullahu berkata dalam Adabuz Zafaf hal. 74: “Diriwayatkan Abu Ya’la dengan sanad yang hasan sebagaimana dalam Fathul Bari (9/199) dan ada dalam Shahih Al-Bukhari secara makna.”)
Hendaklah yang diundang dalam acara walimah tersebut orang-orang yang shalih, tanpa memandang dia orang kaya atau orang miskin. Karena kalau yang dipentingkan hanya orang kaya sementara orang miskinnya tidak diundang, maka makanan walimah tersebut teranggap sejelek-jelek makanan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيْمَةِ، يُدْعَى إِلَيْهَا اْلأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْمَسَاكِيْنُ
“Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana yang diundang dalam walimah tersebut hanya orang-orang kaya sementara orang-orang miskin tidak diundang.” (HR. Al-Bukhari no. 5177 dan Muslim no. 3507)
Pada hari pernikahan ini disunnahkan menabuh duff (sejenis rebana kecil, tanpa keping logam di sekelilingnya -yang menimbulkan suara gemerincing-, ed.) dalam rangka mengumumkan kepada khalayak akan adanya pernikahan tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَصْلُ مَا بَيْنَ الْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ الدُّفُّ وَالصَّوْتُ فِي النِّكَاحِ
“Pemisah antara apa yang halal dan yang haram adalah duff dan shaut (suara) dalam pernikahan.” (HR. An-Nasa`i no. 3369, Ibnu Majah no. 1896. Dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` no. 1994)
Adapun makna shaut di sini adalah pengumuman pernikahan, lantangnya suara dan penyebutan/pembicaraan tentang pernikahan tersebut di tengah manusia. (Syarhus Sunnah 9/47,48)
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu menyebutkan satu bab dalam Shahih-nya, “Menabuh duff dalam acara pernikahan dan walimah” dan membawakan hadits Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha yang mengisahkan kehadiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pernikahannya. Ketika itu anak-anak perempuan memukul duff sembari merangkai kata-kata menyenandungkan pujian untuk bapak-bapak mereka yang terbunuh dalam perang Badr, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkannya. (HR. Al-Bukhari no. 5148)
Dalam acara pernikahan ini tidak boleh memutar nyanyian-nyanyian atau memainkan alat-alat musik, karena semua itu hukumnya haram.
Disunnahkan bagi yang menghadiri sebuah pernikahan untuk mendoakan kedua mempelai dengan dalil hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّّ صلى الله عليه وسلم كاَنَ إِذَا رَفَّأَ اْلإِنْسَاَن، إِذَا تَزَوَّجَ قَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ
“Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mendoakan seseorang yang menikah, beliau mengatakan: ‘Semoga Allah memberkahi untukmu dan memberkahi atasmu serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan’.” (HR. At-Tirmidzi no. 1091, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

6. Setelah akad
Ketika mempelai lelaki telah resmi menjadi suami mempelai wanita, lalu ia ingin masuk menemui istrinya maka disenangi baginya untuk melakukan beberapa perkara berikut ini:
Pertama: Bersiwak terlebih dahulu untuk membersihkan mulutnya karena dikhawatirkan tercium aroma yang tidak sedap dari mulutnya. Demikian pula si istri, hendaknya melakukan yang sama. Hal ini lebih mendorong kepada kelanggengan hubungan dan kedekatan di antara keduanya. Didapatkan dari perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersiwak bila hendak masuk rumah menemui istrinya, sebagaimana berita dari Aisyah radhiyallahu ‘anha (HR. Muslim no. 590).
Kedua: Disenangi baginya untuk menyerahkan mahar bagi istrinya sebagaimana akan disebutkan dalam masalah mahar dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
Ketiga: Berlaku lemah lembut kepada istrinya, dengan semisal memberinya segelas minuman ataupun yang semisalnya berdasarkan hadits Asma` bintu Yazid bin As-Sakan radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendandani Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk dipertemukan dengan suaminya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah selesai aku memanggil Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melihat Aisyah. Beliau pun datang dan duduk di samping Aisyah. Lalu didatangkan kepada beliau segelas susu. Beliau minum darinya kemudian memberikannya kepada Aisyah yang menunduk malu.” Asma` pun menegur Aisyah, “Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aisyah pun mengambilnya dan meminum sedikit dari susu tersebut.” (HR. Ahmad, 6/438, 452, 458 secara panjang dan secara ringkas dengan dua sanad yang saling menguatkan, lihat Adabuz Zafaf, hal. 20)
Keempat: Meletakkan tangannya di atas bagian depan kepala istrinya (ubun-ubunnya) sembari mendoakannya, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا فَلْيَأْخُذْ بِنَاصِيَتِهَا وَلْيُسَمِّ اللهَ عز وجل وَلْيَدْعُ بِالْبَرَكَةِ وَلْيَقُلْ: اللّهمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
“Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak maka hendaklah ia memegang ubun-ubunnya, menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendoakan keberkahan dan mengatakan: ‘Ya Allah, aku meminta kepada-Mu dari kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan/tabiatkan dia di atasnya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang Engkau ciptakan/tabiatkan dia di atasnya’.” (HR. Abu Dawud no. 2160, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Kelima: Ahlul ‘ilmi ada yang memandang setelah dia bertemu dan mendoakan istrinya disenangi baginya untuk shalat dua rakaat bersamanya. Hal ini dinukilkan dari atsar Abu Sa’id maula Abu Usaid Malik bin Rabi’ah Al-Anshari. Ia berkata: “Aku menikah dalam keadaan aku berstatus budak. Aku mengundang sejumlah sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antara mereka ada Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhum. Lalu ditegakkan shalat, majulah Abu Dzar untuk mengimami. Namun orang-orang menyuruhku agar aku yang maju. Ketika aku menanyakan mengapa demikian, mereka menjawab memang seharusnya demikian. Aku pun maju mengimami mereka dalam keadaan aku berstatus budak. Mereka mengajariku dan mengatakan, “Bila engkau masuk menemui istrimu, shalatlah dua rakaat. Kemudian mintalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kebaikannya dan berlindunglah dari kejelekannya. Seterusnya, urusanmu dengan istrimu.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, demikian pula Abdurrazzaq. Al-Imam Al-Albani rahimahullahu berkata dalam Adabuz Zafaf hal. 23, “Sanadnya shahih sampai ke Abu Sa’id”).
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Namun bukan berarti janda terlarang baginya, karena dari keterangan di atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperkenankan Jabir radhiyallahu ‘anhu memperistri seorang janda. Juga, semua istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dinikahi dalam keadaan janda, kecuali Aisyah x.
3 Bahkan Al-Imam Ahmad rahimahullahu sampai memiliki beberapa riwayat dalam masalah ini, di antaranya:
Pertama: Yang boleh dilihat hanya wajah si wanita saja.
Kedua: Wajah dan dua telapak tangan. Sebagaimana pendapat ini juga dipegangi oleh Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Syafi’iyyah.
Ketiga: Boleh dilihat bagian tubuhnya yang biasa tampak di depan mahramnya dan bagian ini biasa tampak dari si wanita ketika ia sedang bekerja di rumahnya seperti wajah, dua telapak tangan, leher, kepala, dua betis, dua telapak kaki, dan semisalnya. Tidak boleh dilihat bagian tubuhnya yang biasanya tertutup seperti bagian dada, punggung, dan semisal keduanya.
Keempat: Seluruh tubuhnya boleh dilihat, selain dua kemaluannya. Dinukilkan pendapat ini dari Dawud Azh-Zhahiri.
Kelima: Boleh melihat seluruh tubuhnya tanpa pengecualian. Pendapat ini dipegangi pula oleh Ibnu Hazm dan dicondongi oleh Ibnu Baththal serta dinukilkan juga dari Dawud Azh-Zhahiri.
PERHATIAN: Tentang pendapat Dawud Azh-Zhahiri di atas, Al-Imam An-Nawawi berkata bahwa pendapat tersebut adalah suatu kesalahan yang nyata, yang menyelisihi prinsip Ahlus Sunnah. Ibnul Qaththan menyatakan: “Ada pun sau`atan (yakni qubul dan dubur) tidak perlu dikaji lagi bahwa keduanya tidak boleh dilihat. Apa yang disebutkan bahwa Dawud membolehkan melihat kemaluan, saya sendiri tidak pernah melihat pendapatnya secara langsung dalam buku murid-muridnya. Itu hanya sekedar nukilan dari Abu Hamid Al-Isfirayini. Dan telah saya kemukakan dalil-dalil yang melarang melihat aurat.”
Sulaiman At-Taimi berkata: “Bila engkau mengambil rukhshah (pendapat yang ringan) dari setiap orang alim, akan terkumpul pada dirimu seluruh kejelekan.”
Ibnu Abdilbarr berkata mengomentari ucapan Sulaiman At-Taimi di atas: “Ini adalah ijma’ (kesepakatan ulama), aku tidak mengetahui adanya perbedaan dalam hal ini.” (Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 359)
Selain itu ada pula pendapat berikutnya yang bukan merupakan pendapat Al-Imam Ahmad:
Keenam: Boleh melihat wajah, dua telapak tangan dan dua telapak kaki si wanita, demikian pendapat Abu Hanifah dalam satu riwayat darinya.
Ketujuh: Boleh dilihat dari si wanita sampai ke tempat-tempat daging pada tubuhnya, demikian kata Al-Auza’i. (An-Nazhar fi Ahkamin Nazhar hal. 392,393, Fiqhun Nazhar hal. 77,78)
Al-Imam Al-Albani rahimahullahu menyatakan bahwa riwayat yang ketiga lebih mendekati zahir hadits dan mencocoki apa yang dilakukan oleh para sahabat. (Ash-Shahihah, membahas hadits no. 99)
4 Bagi orang yang punya kelapangan tentunya, sehingga jangan dipahami bahwa walimah harus dengan memotong kambing. Setiap orang punya kemampuan yang berbeda. (Syarhus Sunnah 9/135)
Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam walimah atas pernikahannya dengan Shafiyyah, yang terhidang hanyalah makanan yang terbuat dari tepung dicampur dengan minyak samin dan keju (HR. Al-Bukhari no. 5169).
Sehingga hal ini menunjukkan boleh walimah tanpa memotong sembelihan. Wallahu ‘alam bish-shawab.
(579) views

http://www.darussalaf.or.id/fiqih/proses-syari-sebuah-pernikahan/

——————————-

PERNIKAHAN YANG ISLAMI

 Anjuran untuk menikah bagi yang telah mampu.

Allah Ta’ala berfirman: “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam Alaihis Salam) dan dari padanya Dia menciptakan isterinya (Hawa), agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung . . . . .” (QS. Al-A’raaf: 189).

Allah Ta’ala berfirman: “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian (bujangan laki-laki atau perempuan) diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari budak-budak lelaki dan budak-budak perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur: 32)

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Wahai sekalian pemuda! Siapa yang telah mampu untuk menikah diantara kalian maka hendaklah menikah, karena (pernikahan itu) lebih menjaga pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan. Barang siapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa (shaum), karena hal itu bisa mengurangi sahwat.” (HR. Bukhari dan Muslim dll)

 Tujuan pernikahan dalam Islam.

-Mengikuti sunnah Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam

-Mendapatkan ketentraman, cinta dan kasih sayang.

-Menjaga pandangan mata dan memelihara kehormatan.

-Membentuk generasi muslim yang berkualitas.

-Melestarikan kehidupan manusia agar tidak punah dll.

Alur yang harus dilalui menuju pernikahan Islami.

Islam tidak mengenal istilah berpacaran, penjajakan atau mencoba-coba dahulu. Apabila seseorang hendak menikah maka dianjurkan untuk memilih calon pendampingnya yang shalih atau shalihah agar mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Jadi menikah dahulu kemudian menjalin cinta dan kasih sayang setelah ada ikatan pernikahan yang sah menurut syariat.

Kriteria suami yang shalih, antara lain:

-Bertakwa kepada Allah Ta’ala.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu.(QS. Al-Hujurat: 13).

-Bertanggung jawab dalam segala hal, baik dalam urusan dunia ataupun urusan akhirat.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka …..(QS. At-Tahrim: 6).

-Pengertian.

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Berbuat baiklah kepada wanita (isteri), karena ia diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok). Apabila kamu hendak meluruskanya maka ia akan patah dan apabila kamu biarkan saja maka ia akan terus bengkok, karena itu nasehatilah wanita (isteri) dengan baik.” (HR. Bukhari dan muslim) .

Kriteria isteri yang shalihah, antara lain:

-Taat kepada Allah Ta’ala dan kepada suami.

-Menjaga dirinya dan harta suami apabila suami bepergian

-Menyenangkan apabila dipandang suami

Allah Ta’ala berfirman: “Wanita yang shalihah adalah yang taat kepada Allah dan kepada suaminya lagi memelihara diri ketika suami tidak ada . . . . . “ (QS. An-Nisaa’: 34)

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Isteri terbaik adalah apabila dipandang suami ia menyenangkan, apabila diperintah ia taat dan apabila ditinggal bepergian ia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (HR. Imam Ahmad dll dengan sanad sahih).

Beliau –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda pula: “Dunia adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah isteri yang shalihah.” (HR. Muslim).

Adab meminang dalam Islam:

Apabila telah ada kecocokan antara pihak lelaki dengan pihak perempuan maka disunnahkan untuk nadhar atau saling melihat, namun hendaklah pihak perempuan disertai mahramnya sehingga tidak terjadi khalwat (berduaan).

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: ”Apabila seorang diantara kalian hendak meminang seorang perempuan, jika bisa melihat kepada apa yang menjadi daya tarik untuk menikahinya, maka hendaklah ia lakukan.” (HR. Imam Ahmad dll dengan sanad hasan)

Disunnahkan pula untuk melaksanakan shalat istikharah yaitu meminta petunjuk Allah Ta’ala dengan shalat dua rakaat dan berdoa dengan doa yang telah diajarkan Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam .(HR. Bukhari dll)

Dianjurkan pula untuk bermusyawarah dengan orang-orang yang bisa dipertanggung jawabkan dan telah berpengalaman serta berilmu.

Tahapan Menuju Pernikahan Yang Sesuai Syari’at.

 

1. Melalui perantara.

2. Tukar menukar bio data.

3. Pelajari lebih dalam tentang calon.

4. Shalat istikharah dan bermusyawah.

5. Nadhor atau saling melihat dan bertemu, tapi tidak berdua-duaan dan pihak perempuan disertai mahramnya.

6. Khitbah atau dipinang.

7. Lamaran.

8. Pernikahan.

9. Allah meridhoi dan memberikan barokah.

Khitbah dan lamaran itu mengikuti adat kebiasaan di suatu tempat. Di tempat kami adatnya khitbah dulu kemudian lamaran.

Ta’aruf harus sepengetahuan wali. Karena sering terjadi ta’aruf tanpa sepenge tahuan wali ternyata setelah keduanya sama-sama cocok dan mantap walinya tidak menyetujui. Ini sangat berdampak buruk.

Kemungkaran-kemungkaran yang terjadi pada resepsi pernikahan:

-Ikhtilat atau percampuran para undangan lelaki dengan perempuan yang bukan mahram.

-Kedua mempelai duduk di pelaminan dengan disaksikan oleh para undangan.

-Memakai pakaian yang menampakkan aurat.

-Saling bersalaman antara lelaki dengan perempuan yang bukan mahram.

-Kaum perempuan memakai parfum yang dicium wanginya oleh lelaki yang bukan mahram.

-Diperdengarkan musik.

-Mengambil gambar makhluk bernyawa (berfoto).

-Berlebih-lebihan dalam segala hal termasuk makanan sehingga terjadi kemubadziran.

-Mengadakan acara-acara yang tidak ada tuntunannya, yang mengarah pada kesyirikan dan bid’ah dll.

MENIKMATI MALAM PERTAMA

Malam pertama adalah malam dimana kedua mempelai melakukan hubungan kelamin pertama kali. Jadi seandainya kedua mempelai baru melaksanakan hubungan kelamin pada malam kedua atau malam ketiga atau malam kesepuluh, maka itulah yang disebut malam pertama. Mengapa demikian? Karena malam pertama selalu dihubungkan dengan peristiwa pemecahan bakarah atau selaput dara.

Menahan nafsu birahi pada malam pertama pernikahan adalah langkah yang bijaksana. Sebaiknya pada malam itu dilakukan perkenalan dan tidur bersama atau melakukan cumbu rayu sebagai pelepas kerinduan. Diperlukan pula kebijaksanaan suami untuk memberikan ketenangan agar isteri tidak merasa takut.

Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam ketika menikah dengan Aisyah –radliallahu anha –satu-satunya isteri Beliau –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam yang gadis- dengan memberikan kepada Aisyah –radliallahu anha segelas susu dan duduk disampingnya untuk menenangkannya. (HR. Imam Ahmad dll dengan sanad hasan)

Amalan-amalan yang dilakukan setelah pernikahan:

-Suami memegang bagian depan kepala isteri lalu membaca do’a sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ. 

(Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepadaMu kebaikannya dan kebaikan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya, dan aku memohon perlindungan kepadaMu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya). (HR. Bukhari, Abu Dawud dll)

-Shalat dua raka’at berjamaah suami-isteri kemudian berdoa memohon keberkahan kepada Allah Ta’ala , sebagaimana dicontohkan sahabat Ibn         Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu dan Salafus Saleh Rahimahumullah. (Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Abdur Razzaq dan Ath-Thabrani dengan sanad sahih)

-Berdoa ketika hendak melakukan jima’:

بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا. 

(Dengan nama Allah, Ya Allah! Jauhkan kami dari syaitan, dan jauhkan syaitan dari mengganggu apa yang Engkau rezekikan kepada kami.)

(HR. Bukhari dan Muslim)

Etika  atau adab dalam berjima’ (bersenggama).

Suami yang bijaksana adalah suami yang tidak hanya mementingkan kepuasan diri sendiri, akan tetapi ia juga berupaya memberikan kepuasan kepada isterinya. Karena itu cumbu rayu sangat diperlukan sebelum dimulainya hubungan badan (jima’).

Para ulama dalam kitab-kitab mereka menerangkan secara mendetail dan terperinci tentang masalah ini dan upaya-upaya apa saja yang harus dilakukan suami untuk memberikan kepuasan kepada isterinya. Seorang isteri akan merasa sangat tersiksa apabila suami meninggalkannya sebelum mencapai puncak kepuasan (orgasme).

Faktor terpenting untuk mencapai kepuasan bersama adalah:

-Cumbu rayu

-Ketenangan pikiran

-Kenyamanan suasana

-Dan aneka variasi dalam melakukannya.

Ditinjau dari segi agama membuat variasi dari aneka posisi dalam bersenggama tidaklah dilarang. Allah Ta’ala berfirman: “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 223).

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam menerangkan ayat tersebut: “Dari depan atau dari belakang (boleh) asalkan tetap di farji (vagina).” (HR. Bukhari dan Muslim dll)

Hal-hal yang diharamkan dalam senggama (jima’):

-Senggama (jima’) melalui anus atau lubang dubur [anal sex].

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Terkutuklah suami yang menggauli isterinya di lubang duburnya (anus).” (HR. Imam Ahmad, Ibn Adiy dll dengan sanad hasan)

-Senggama di farji (vagina) ketika isteri dalam keadaan haid.

Allah Ta’ala berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 222).

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda tentang wanita haid: “Lakukanlah segala sesuatu selain nikah (jima’ di farji). (HR. Muslim dll)

Jadi yang diharamkan hanyalah senggama di lubang dubur / anus [anal sex] dan senggama pada waktu haid di farji saja, selain itu tidaklah diharamkan.

RUMAH TANGGA YANG SAKINAH

Rumah tangga sakinah adalah rumah tangga yang dibangun atas dasar cinta dan takwa kepada Allah Ta’ala, saling menghormati, menghargai dan pengertian dari semua pihak. Apabila ada problem atau masalah maka diselesaikan dengan sabar dan tanpa emosi serta tidak mudah mengeluarkan kata-kata cerai.

Tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa salah satu jalan menuju kebahagiaan adalah paham dalam liku-liku seksuil. Akan tetapi kepahaman itu belumlah sempurna kalau tidak disertai dengan iman dan takwa.

Apalah artinya harta bagi seorang isteri jika ternyata kebutuhan bathiniahnya tidak terpenuhi? Demikian pula apalah artinya kecantikan, keayuan dan kemolekan isteri jika ia dingin saja dalam berhubungan badan (jima’) dengan suaminya? Suami isteri harus menyadari akan hal ini.

Seorang isteri harus selalu siap melayani suaminya untuk mencapai kepuasan, demikian pula seorang suami harus selalu berusaha memberi kepuasan kepada isterinya. Akhirnya berbahagialah keduanya dalam jalinan cinta yang harmonis dan diridlai oleh Allah Ta’ala.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada kita semua rumah tangga sakinah, yang penuh dengan mawaddah dan rahmah, rumah tangga yang “Baitiy jannatiy” Rumahku adalah sorgaku. Amien ya Robbal ‘alamin.

Maraji’:

 

-Al-Qur’an dan Terjemahnya, Hadiah dari Kerajaan Saudi Arabia

-At-Tafsir al-Muyassar, Nukhbatul Ulama

-Riyadlus Shalihin, An-Nawawiy

-Zaadul Ma’aad, Ibnul Qayyim

-Al-Islam wa as-Sa’adah az-Zaujiyah, Abu Hamid Al-Ghazali

-Fathul Mu’in, Al-Milbariy

-Tuhfatul ‘Arus, Mahmud al-Istanbuliy

-Adabuz Zafaf, Al-Albani

-Adabul Khitbah wa az-Zafaf, ‘Amr Abdul Mun’im

-Jami’ Ahkam an-Nisaa’, Musthafa al-‘Adawiy

-Al-liqa’ Baina az-Zaujain, Abdul Qadir ‘Atha

-Fiqh Sunnah, Sayid Sabiq

-Adab al-Mu’asyarah al-Zaujiyah, Zainab Hasan Syarqawi

-Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah li ath-Thifli, Muhammad Nur Suwaid

-Muharramat Istahana Biha an-Nas, Al-Munajjid

-Min Munkaratil Afraah, Syaikh Utsaimin

-Az-Zawaaj, Syaikh Utsaimin

-Seks dari A sampai Z, dr. Nina Surtiretna

-Moral Agama dalam Kehidupan Sexuil Suami Isteri, Mahfudli Sahli

(Disampaikan pada Seminar Regional dengan Tema; Pendidikan Sex Yang Sehat Menuju Pernikahan Yang Islami, diselenggarakan oleh Forum Kajian Islam Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, Sabtu 12 Rabi’ul Awal 1423 H / 25 Mei 2002 M).

Sumber: Facebook Abdullah Sholeh Hadrami
Dipublikasikan oleh http://www.Salafiyunpad.wordpress.com

Download ebook pernikahan : http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_books/chain/Summary_of_the_Islamic_Fiqh_Tuwajre/id_06_summary_of_the_islamic_fiqh_tuwajre.pdf

___________________________________

Kewajiban Mengadakan Walimah

Wajib mengadakan walimah setelah dhukul(bercampur), berdasarkan  perintah Nabi saw. kepada Abdurrahman bin ’Auf r.a. agar menyelenggarakan walimah sebagaimana telah dijelaskan pada hadits berikut. Dari Buraidah bin Hushaib bertutur, ”Tatkala Ali melamar Fathimah r.anha, berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Sesungguhnya pada perkawinan harus diadakan walimah.” (Shahih Jami’us Shaghir no:2419 dan al-Fathur Rabbani XVI:205 no:175).

Beberapa hal yang patut diperhatikan dalam penyelenggaraan walimah.

a.       Hendaknya walimah dilaksanakan dalam tiga hari, setelah dhukhul (bercampur), karena perbuatan inilah yang dinukil dari Nabi saw. dari Anas r.a. bertutur, “Nabi saw. menikahi Syafiyah dan menjadikan pemerdekaannya sebagai maharnya dan mengadakan walimah selama tiga hari.” (Sanadnya Shahih: Adabuz Zifaf hal.74, diriwayatkan Abu Ya’la dengan sanad hasan sebagaimana yang disebutkan dalam Fathul Bari, IX:199 dan yang sema’na diriwayatkan Imam Bukhari sebagaimana yang dijelaskan dalam Fathul Bari IX:224 no:1559. Demikian menurut Syaikh al-Albani.

b.      Mengundang orang-orang yang shalih baik fakir maupun kaya, karena Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan orang mukmin. Dan Jangan (pula) menyantap makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (Hasan: Shahihul Jami’us Shaghir no:7341, ‘Aunul Ma’bud XIII:178 no:4811 dan IV:27 no:2506).

c.       Hendaknya mengadakan walimah, dengan memotong seekor kambing atau lebih, bila mampu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw. yang ditujukan kepada Abdurrahman bin ’Auf r.a., ”Adakanlah walimah meski hanya dengan menyembelih seekor kambing.” (Muttafaqun ’alaih).

Dari Anas r.a. berkata, ”Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. mengadakan walimah untuk pernikahan dengan seorang wanita sebagaimana yang beliau adakan ketika kawin dengan Zainab dimana beliau menyembelih seekor kambing.” (Muttafaqin ’alaih: Muslim II:1049 no:90 dan 1428, dan lafadz ini baginya, Fathul Bari IX:237 no:5171, dan Ibnu Majah I:615 no:1908).

Boleh menyelenggarakan acara walimah dengan hidangan yang mudah didapatkan walaupun tanpa daging berdasarkan hadits Anas.

Dari Anas r.a. berkata, ”Nabi saw. pernah menginap tiga hari di suatu tempat antara Khabir dan Madinah untuk menyelenggarakan perkawinan dengan Shafiyah binti Huyay. Kemudian aku mengundang kaum muslimin untuk menghadiri walimah Beliau. Dan tidak didapatkan dalam walimah tersebut ada roti ada daging, lalu diatasnya diletakkanlah korma kering dan minyak samin. Sehingga hidangan itu menjadi walimah Beliau.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari IX:224 no:1559 dan lafadz ini baginya, Imam Bukhari, Muslim II:1043 no:1365 dan Nasa’i VI:134).

Tidak boleh mengkhususkan undangan hanya untuk orang-orang kaya, tanpa orang-orang miskin, Nabi saw bersabda, ”Seburuk-buruk hidangan ialah hidangan walimah. Dimana orang yang berhak mendatanginya (orang yang berhak mendatanginya: orang miskin) dilarang mengambilnya, sedangkan orang yang enggan mendatanginya (Orang yang enggan mendatanginya: orang kaya (peng..)) diundang (agar memakannya). Dan barangsiapa yang tidak memenuhi undangan, maka sungguh ia bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Muttafaqun ’alaih: Muslim II:1055 no:110/1432, dan diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim juga dari Abu Hurairah secara mauquf padanya bisa dilihat dalam Fathul Bari IX:244 no:5177).

Orang yang diundang ke walimah wajib menghadirinya, berdasar hadits di atas dan sabda Nabi saw., ”Jika salah seorang diantara kalian diundang menghadiri walimah maka hendaklah ia menghadirinya.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari IX:230 no:5173, Mulim II:1052 no:1429 dan ’Aununl Ma’bud X:202 no:3718).

Seyogyanya orang yang berpuasapun menghadiri undangan walimah karena ada sabda Nabi saw., “Apabila seorang diantara kamu diundang menghadiri undangan makan, maka hendaklah hadir. Jika ia sedang tidak berpuasa maka makanlah; jika sedang berpuasa maka berdo’alah.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir: 539, Baihaqi VII:263 dan ini lafadznya, Muslim II:1054 no:1431, ’Aunul Ma’bud X:203 no:3719 dan 18).

Disunnahkan bagi orang yang sedang berpuasa sunnah hendaknya berbuka, terutama bila orang yang mengundang sangat mengharapkannya. Berdasarkan hadits Nabi saw. bersabda, ”Jika salah seorang diantara kamu diundang makan, maka penuhilah jika ia mau ia makan dan jika tidak ia tinggalkan.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no:1955, Muslim II:1054 no: 1430 dan ’Aunul Ma’bud X:204 no:3722).

Bagi orang yang menghadiri undangan walimah, dianjurkan melaksanakan dua hal berikut ini:

Pertama: setelah acara berakhir, dianjurkan berdo’a untuk tuan rumah dengan redaksi do’a yang bersumber dari Nabi saw. Do’a-do’a untuk ini, banyak diantaranya ialah ”ALLAAHUMMAGHFIR LAHUM WARHAMHUM, WABAARIK LAHUM FIIMAA RAZAKTAHUM (Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa) mereka dan rahmatilah mereka, serta limpahkanlah barakah untuk mereka pada apa yang telah Engkau karuniakan kepada mereka.” (Shahih Mukhtashar Muslim no:1316, Muslim III:1615 no:2042, ’Aunul Ma’bud X:195 no:3711).

“ALLAHUMMA ATH’IMMAN ATH’MAN ATH’AMANII, WASQIMAN SAQAANII (Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberikan makan dan berilah minum bagi orang yang memberiku minum).” (Shahih Musmil III:1630 no:2055)

“AKALA THA’AAMAKUMUL ABRAARU WA SHALLAT’ALAIKUMUL MALAA-IKATU, WA AFTHARA ‘INDAKUMUSH SHAA-IMUUNA (Orang-orang yang berbakti dengan tulus telah menyantap makananmu, para malaikat telah berdo’a untuk kamu, dan mereka yang berpuasa (sunnah) telah berbuka di (rumah)mu.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:1226 dan ‘Aunul Ma’bud X:333 no:3836).

Kedua: Berdo’a, memohon barakah dan kebaikan untuk tuan rumah dan juga isterinya, sebagaimana yang disinggung dalam pembahasan ucapan tahni-ah dalam pernikahan.

Dilarang menghadiri undangan yang terdapat padanya kemaksiatan kecuali bermaksud hendak mengubahnya dan berupaya memberantasnya. Jika tidak, maka haram menghadirinya. Dalam hal ini banyak sekali hadits Nabi saw. diantaranya, dari Ali ra ia berkata, ”Saya pernah memasak makanan lalu mengundang Rasulullah saw., lantas Beliau datang lalu melihat di dalam rumah terdapat lukisan maka beliau pulang lalu Ali bertanya: ”Ya Rasulullah, apa yang menyebabkan engkau pulang?” Maka Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya dalam rumahmu terdapat gorden yang banyak lukisan dan sesungguhnya para malaikat tidak mau masuk ke dalam rumah yang didalamnya banyak gambarnya.” (Shahih: Shahihul Ibnu Majah no:2708, Ibnu Majah II: 1114 no:3359).

Beberapa hal diatas sudah biasa dipraktikkan generasi salafush shalih ra.

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr bahwa ia pernah dibuatkan makanan oleh seseorang, lalu Ia diundang olehnya, maka ia bertanya, ”Apakah di dalam rumahmu ada gambar?” Jawabnya, ”Ya, (ada) Maka ia enggan masuk sebelah sebelum gambar itu dirusak. (Setelah dirusak), kemudian ia masuk,” (Sanadnya Shahih Adabuz Zifaf hal.93. dan Baihaqi VII:268). (Bisa dilihat juga dalam Fathul Bari IX:158 no:5181 (Penterj.)).

Imam Bukhari bertutur : Ibnu Umar pernah mengundang Abu Ayyub, lalu ia melihat gorden (bergambar) di rumah (Ibnu Umar), kemudian Ibnu Umar berkata: ”(Wahai Abu Ayyub) kaum wanita memaksa kami masang gorden ini.” ia berkata,”Adakah orang yang aku takuti, maka aku tidak takut kepadamu. Demi Allah aku tidak akan menikmati, hidanganmu ini.” kemudian ia kembali pulang. (Fathul Bari IX:249).

Sang suami boleh bersikap toleran kepada para wanita dalam proses walimatul ’urusy untuk mengumumkan pesta pernikahan dengan memukul rebana, atau dengan lantunan lagu-lagu yang mubah, dimana di dalamnya tidak terkandung promosi kecantikan dan tidak pula untaian kata-kata yang jorok. Dalam hal ini banyak hadits Nabi saw yang menjelaskannya diantaranya:

Nabi saw bersabda, ”Umumkan pernikahan!” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no:1537 dan Shahih Ibnu Hibban hal.313 no:1285).

Sabda Beliau lagi, ”Perbedaan antara yang halal dan yang haram adalah rebana dan suara dalam pesta pernikahan.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no:1538, Nasa’i VI:127, Ibnu Majah II:611 no:1896, Tirmidzi II:275 no:1094 tanpa kata FIN NIKAH).

Dari Khalid bin Dzakwan, bahwa ar-Rubayyi binti Mu’awidz bin Afra’ bertutur: Nabi saw. datang masuk (ke rumahku) di hari pernikahanku lalu Beliau duduk didepanku seperti cara dudukmu denganku. Kemudian para perempuan kecil yang kami undang mulai memukul rebana dan mereka menyebut-nyebut kebaikan ayah yang gugur pada waktu perang Badar. Seorang di antara mereka berkata, ”Diantara kita ada, seorang nabi yang mengetahui apa yang bakal terjadi esok.’ Kemudian Beliau saw. bersabda, ”Biarkan perempuan ini, Katakanlah apa saja yang hendak kau katakan.” (Shahih: Adabuz Zifaf hal.108, Fathul Bari IX:202 no:5147, ’Aunul Ma’bud XIII:264 no:4901, Tirmidzi II:276 no:1096).

“Dan menurut sunnah (Nabi saw) apabila seseorang menikahi seorang gadis, bukan janda, maka ia menetap di rumahnya selama tujuh hari dan kemudian membagi giliran. Dan jika ia menikahi seorang janda bukan perawan, maka ia menetap di rumahnya tiga hari, kemudian membagi gilirannya.” Demikianlah yang diriwayatkan oleh Abu Qilabah dari Anas r.a. dan Abu Qilabah berkata ”Kalau aku mau, niscaya kukatakan: ’Jika saya lupa niscaya saya marfu’kan kepada Nabi saw.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari IX:314 no:5214, Muslim II:1084 no:1461, ”Aunul Ma’bud VI:160 no:2110, Tirmidzi II:303 no:1148).

Sang suami wajib mempergauli isterinya dengan cara yang baik dan berjalan dengannya sesuai dengan apa yang telah Allah halalkan baginya, terutama bila sang isteri masih muda. Dalam hal ini banyak hadits Nabi saw, diantaranya, “Orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang terbaik di antara kalian kepada keluarga dan saya adalah orang yang terbaik di antara kalian kepada keluargaku.” (Shahih Jami’us Shaghir: no:3266 dan Tirmidzi V:369 no:3985).

Sabda Beliau lagi, “Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:3265 dan Tirmidzi II:315 no:1172).

Dalam kesempatan yang lain, Beliau menegaskan, “Seorang Mukmin tidak boleh membenci seorang isteri perempuan. Kalau toh ia tidak menyukai sebagian akhlaknya, maka ia pasti menyukai sebagian yang lainnya.” (Shahih: Shahihul Jami’us no:7741, Muslim II:1091 no:1469).

Dalam khutbah wada’ Rasulullah saw. Bersabda, ”Ketahuilah, sampaikanlah wasiat kebaikan dengan cara yang baik kepada kaum wanita sesungguhnya mereka (laksana tawanan perempuan) di sisi kalian dan kalian tidak memiliki kekuasaan sedikitpun terhadap mereka selain hal itu, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika mereka (terbukti) melakukannya, maka hendaklah kalian pisah ranjang dengan mereka dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Jika mereka kembali ta’at kepada kalian maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Ketahuilah sesungguhnya kalian mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh isteri kalian dan mereka pun memiliki hak yang wajib kalian tunaikan. Adapun hak kalian yang harus mereka  tunaikan ialah janganlah sekali-kali mereka mengizinkan orang yang kalian tidak sukai menyendiri bersama kalian dan jangan (pula) mereka mempersilakan orang yang kalian benci (masuk) ke rumah kalian. Dan hak mereka yang wajib kalian tunaikan adalah hendaklah kalian bersikap baik (tulus) kepada mereka dalam hal, menyediakan pakaian dan makanan mereka.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no:1501, dan Tirmidzi II:315 no:1173).

Wajib bagi seorang suami untuk bersikap adil dan proporsional terhadap isteri-isterinya dalam hal makanan, tempat tinggal, pakaian dan giliran serta lain-lain yang berhubungan dengan materi. Jika ternyata ia lebih mengutamakan salah satu di antara mereka, maka ia terkena ancaman keras yang termaktub dalam sabda Nabi saw. , ”Barangsiapa yang memiliki dua isteri sedangkan ia condong kepada salah satu dari keduanya, maka ia akan datang pada hari kiamat (kelak) dalam keadaan tergeletak salah satu dari dua bagian tubuhnya.” (Shahih Ibnu Majah no:1603, Ibnu Majah I:633 no:1969 lafadz ini milik Ibnu Majah, ’Aunul Ma’bud VI:171 no:2119 dan Tirmidzi II:304 no:1150, Nasa’i VII no:53).

Namun tidak mengapa manakala kecondongan itu hanya sebatas di dalam kalbu, mail qalbi (kecenderungan hati); karena hal ini diluar batas kemampuannya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ”Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada isteri yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-latung.” (QS. an-Nisaa’:129).

Sungguh Rasulullah saw. bersikap adil dan proporsional kepada para isterinya dalam hal materi. Beliau tidak membeda-bedakan antara mereka Padahal Aisyah ra adalah isteri Beliau yang paling dicintai:

Dari Amr bin ’Ash r.a. bahwa ia pernah diutus oleh Nabi saw. meminjam pasukan dalam perang Dzatus Salasil. Kemudian saya (Amr bin Ash) datang menemuinya lalu bertanya, ”(Ya Rasulullah), siapakah orang yang paling engkau cintai?” Jawab Beliau, ”Aisyah.” Kemudian aku bertanya (lagi), ”Kalau dari kalangan lelaki?” Beliau menjawab ”Bapaknya (Abu Bakar).” Saya bertanya lagi), ”Kemudian siapa?” Sahut Beliau ”Kemudian Umar bin Khattab’ Lalu Rasulullah menyebutkan beberapa sahabat yang lain.” (Shahih: Shahih Tirmidzi no:3046 dan Tirmidzi V:364 no:3972).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 556–567.

——————————————————–

Walimatul Urus: Antara sunnah dan adat

Mewujudkan sebuah perkahwinan merupakan satu langkah yang sangat murni dan sangat-sangat dituntut oleh agama yang fitrah. Perkahwinan atau ikatan pernikahan adalah sebuah sunnah yang mulia yang telah dilakukan oleh para Nabi dan Rasul serta generasi awal dan akhir yang mengikuti petunjuk mereka. Perkahwinan adalah sebuah fitrah yang telah sedia ditanamkan ke dalam jiwa-jiwa manusia seluruhnya. Oleh sebab itu, Islam menggalakkan umatnya untuk berkahwin.

Ini tidaklah sebagaimana yang berlaku kepada sebahagian agama seperti Kristian yang menggalakkan kerahiban dan pertapaan para sami dari agama budha dan seumpamanya yang melarang perkahwinan. Malah sebenarnya sebuah perkahwinan merupakan asas pembentukan sesebuah masyarakat yang harmoni. Dengan perkahwinan, jiwa-jiwa menjadi tenang, hati menjadi tenteram, populasi manusia semakin bertambah disebabkan oleh sebuah ikatan percintaan yang halal lagi sistematik. Sekaligus, ikatan perkahwinan dapat mengawal dari berlakunya pelbagai bentuk gejala yang tidak sihat seperti perzinaan, perbuatan homoseksual dan juga pelacuran sebagaimana yang berlaku di era zaman jahiliyyah sebelum datangnya Islam ke tanah Arab dan kini banyak berlaku di negara-negara barat pula.

Dengan izin dari Allah s.w.t, tulisan ini cuba mengupas sebahagian daripada juzuk perkahwinan yang dimaksudkan. Tulisan ini bakal difokuskan kepada aspek perlaksanaan majlis perkahwinan atau disebut sebagai walimatul urus. Melihat fenomena yang banyak berlaku pada akhir-akhir ini di mana majlis-majlis perkahwinan rata-ratanya dimeriahkan dengan pelbagai adat-adat dan upacara-upacara tertentu yang meragukan serta mengarahkan kepada timbulnya beberapa persoalan di sudut agama. Ia sekaligus memerlukan serta menuntut sebuah penilaian dan pencerahan ke atasnya dilakukan berpandukan kefahaman agama yang tepat. Lebih menyedihkan, adat-adat dan pelbagai upacara tersebut telah mula sebati dan popular di kalangan masyarakat umat Islam hari ini sedangkan ianya masih sangat memerlukan penilaian ilmiyah dari Al-Quran, As-Sunnah dan manhaj ahlus sunnah wal-jamaah akan keharusannya.

Apa yang dimaksudkan ini termasuklah pelbagai bentuk makanan yang dihias dengan pelbagai rupa seakan-akan patung, upacara persandingan, aneka muzik, acara tari-menari dan nyanyi-nyanyian, upacara potong kek, adat menyarung cincin, upacara bergambar dan menggantung gambar, dan seumpamanya. Bentuk-bentuk upacara seperti ini selain memerlukan belanja yang besar, adakah ia termasuk ke dalam tuntutan agama atau sebaliknya, atau mungkin pula bertentangan dengan agama Islam itu sendiri?

Maka di sini timbullah sebuah persoalan, iaitu sejauh manakah sebenarnya majlis perkahiwinan yang benar-benar dianjurkan oleh syariat sebagaimana yang ditunjukkan oleh Al-Quran dan As-Sunnah yang sahih? Adakah majlis perkahwinan itu perlu diadakan dengan pelbagai aturcara seperti upacara sarung cincin, persandingan, iringan muzik, dan sesi mengambil gambar (fotografi)? Selanjutnya, adakah bentuk-bentuk aturcara walimah seperti ini benar-benar menepati kehendak syariat dan merupakan suatu yang dibenarkan atau sebaliknya? Sekaligus, adakah tanpa semua upacara tersebut, majlis walimah menjadi hambar dan tidak absah?

Atas sebab itulah, maka tulisan ini pun disusun. Dengan izin Allah tulisan ini cuba menyampaikan dan menggariskan bentuk-bentuk majlis perkahwinan (walimatul urus) yang bertepatan dengan agama kita yang suci lagi murni. Sekaligus melihat sejauh manakah kebanyakan majlis perkahwinan yang difahami oleh masyarakat kita hari ini yang sebenarnya telah banyak ditokok tambah dengan pelbagai bentuk amalan yang mungkar lagi bercanggah dengan syariat. Lebih parah, ia turut memberi kesukaran kepada kebanyakan pasangan yang ingin membina mahligai rumahtangga masing-masing kerana diikat dengan adat dan upacara tersebut.

Dengan memahami yang mana satu adalah sunnah dan mana satu merupakan tokok tambah (bukan dari anjuran agama), dengan izin Allah ia bakal membantu kita semua membezakan di antara keduanya berdasarkan ilmu. Seterusnya kita akan berupaya menjadikan sebuah majlis perkahwinan kita, anak-anak kita, dan keluarga baru kita sebagai sebuah majlis yang berhak mendapat keberkahan dan redha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan memisahkannya dari apa yang tidak disyari’atkan (serta yang terlarang).

Definisi Walimatul urus

Kata walimah (الوليمة) diambil dari kata asal walmun (الولم) yang bererti perhimpunan, kerana pasangan suami isteri (pada ketika itu) berkumpul sebagaimana yang dikatakan oleh imam az-Zuhri dan selainnya. Bentuk kata kerjanya adalah awlama (أولم) yang bermakna setiap makanan yang dihidangkan untuk menggambarkan kegembiraan (ketika pernikahan). Dan walimatul urus (ووليمة العرس) adalah sebagai tanda pengumuman (majlis) untuk pernikahan yang menghalalkan hubungan suami isteri dan perpindahan status kepemilikan. (Imam Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani, Subulus Salam Syarah Bulughul Maram, 3/153-154)

Menurut Imam Ibnu Qudamah dan Syaikh Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim, “Al-Walimah merujuk kepada istilah untuk makanan yang biasa disajikan (dihidangkan) pada upacara (majlis) perkahwinan secara khusus.” (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 15/486 – Maktabah Syamilah. Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim, Shahih Fiqhus Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Mazahib al-Arba’ah, 3/182 – Maktabah at-Tauqifiyyah, Cairo)

Manakala sebahagian ulama dari kalangan mazhab Ahmad dan selainnya menyatakan, “Bahawasanya walimah merujuk kepada segala bentuk makanan yang dihidangkan bagi meraikan kegembiraan yang berlangsung.” (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 15/486)

Dari penjelasan definisi ini dapat kita fahami bahawa yang dimaksudkan dengan walimatul urus itu adalah jamuan makan yang diadakan bagi meraikan pernikahan pasangan pengantin.

Ini adalah sebagaimana hadith yang diriwayatkan oleh Anas r.a, di mana beliau berkata, “Ketika tiba waktu pagi hari setelah Nabi s.a.w menjadi seorang pengantin dengannya (Zainab bin Jahsy), beliau mengundang masyarakat, lalu mereka dijamu dengan makanan dan setelah itu mereka pun bersurai.” (Hadith Riwayat al-Bukhari, Kitab an-Nikah, Bab: al-Walimah, 16/152, no. 4768)

Juga perkataan Nabi s.a.w kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf apabila Nabi mengetahui ‘Abdurrahman baru sahaja bernikah, “Laksanakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing.” (Hadith Riwayat al-Bukhari, Kitab an-Nikah, Bab: Adakan Walimah Walau Dengan Seekor Kambing, 16/154, no. 4769)

Perkataan Anas r.a di mana beliau menyatakan, “Ketika Rasulullah s.a.w menikahi seorang perempuan, beliau meminta aku supaya mengundang beberapa orang (lelaki) untuk makan.” (Hadith Riwayat al-Bukhari, Kitab an-Nikah, 16/157, no. 4772)

Hukum Mengadakan Walimatul Urus

Imam ash-Shan’ani rahimahullah menjelaskan: “Imam Ahmad berkata, “Walimah itu hukumnya sunnah”. Menurut jumhur, walimah itu disunnahkan. Ibnu Baththal berpendapat, “Aku tidak tahu apabila ada ulama yang mewajibkan, mungkin dia tidak tahu perbezaan ulama tentang hukum tersebut”. Jumhur mengatakan hukumnya sunnah berdasarkan pendapat asy-Syafi’i rahimahullah. (Imam Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani, Subulus Salam, jil. 2, Bab Nikah, m/s. 726, Darus Sunnah)

Manakala sebahagian pendapat mengatakannya sebagai wajib seperti pendapat mazhab Zahiri sebagaimana yang dijelaskan di dalam Subulus Salam, asy-Syafi’i di dalam al-Umm, dan juga pendapat Syaikh al-Albani di dalam Adabuz Zifaf.

Ada pun pendapat yang terpilih adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah: “Tiada perbezaan pendapat di antara ahli ilmu, bahawasanya hukum walimah di dalam majlis perkahwinan adalah sunnah dan disyari’atkan (sangat dituntut), bukan wajib.” (Ibnu Qudamah, al-Mughni, jil 7, m/s. 2)

Siapa Yang Mengadakan Walimah

Walimah dilaksanakan dan diselenggarakan oleh suami. Ini adalah sebagaimana perbuatan Nabi s.a.w sendiri dan turut dicontohi oleh para sahabat-sahabatnya yang lain.

Dari Anas r.a, beliau berkata: “Ketika Rasulullah s.a.w menikahi seorang perempuan, beliau mengutuskan aku untuk mengundang beberapa orang untuk makan.” (Hadith Riwayat al-Bukhari, at-Tirmidzi, no. 3219)

Juga dari Anas r.a, beliau menjelaskan: ‘Abdurrahaman berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku baru sahaja bernikah dengan seorang wanita dengan mahar satu nawat emas (emas sebesar biji kurma)”. Rasulullah s.a.w bersabda: “Semoga Allah memberkahimu, adakanlah walimah walau pun hanya dengan menyembelih seekor kambing”.” (Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 5169)

Berdasarkan hadith ini, Rasulullah telah memerintahkan ‘Abdurrahman bin ‘Auf supaya mengadakan walimah. Walaupun begitu, walimah tidaklah semestinya dilakukan dengan seekor kambing tetapi ia dilakukan bersesuaian dengan kemampuan suami. Ini adalah kerana Nabi s.a.w sendiri pernah melaksanakan walimah untuk Shafiyah dengan menyediakan campuran kurma tanpa biji yang dicampur dengan keju dan tepung di atas sumbangan para sahabat yang hadir. (Rujuk Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 2048)

Waktu Walimah

Imam al-Mawardi dari mazhab asy-Syafi’i menjelaskan bahawa waktunya adalah setelah selesai akad pernikahan dan setelah kedua pasangan bersama.

Ibnu as-Subki berkata: “Yang diriwayatkan dari perbuatan Nabi s.a.w bahawa walimah itu diselenggarakan setelah berhubungan (pasangan bersama), berdasarkan hadith pernikahan di antara Nabi dengan Zainab binti Jahsy iaitu berpandukan perkataan Anas “di pagi harinya” (rujuk hadith di atas), iaitu ketika Nabi menjadi pengantin dengan Zainab, beliau mengundang kaum muslimin, perbuatan Nabi ini dijadikan bab oleh al-Baihaqi sebagai “Bab Waktu Walimah”. (Imam Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani, Subulus Salam, jil. 2, Bab Nikah, m/s. 727, Darus Sunnah)

Menurut Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim, walimah tidak diadakan ketika perjalanan akad nikah berlangsung atau sebaik akad nikah, tetapi adalah setelah pasangan bersama (bersetubuh). (Rujuk: Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim, Ensiklopedi Fiqh Wanita, jil. 2, Bab Nikah, m/s. 311, Pustaka Ibnu Katsir)

Begitu juga sebagaimana yang dijelaskan oleh Amru Abdul Mun’im Salim: “Seseorang hendaklah menyelenggarakan walimah setelah ia berkumpul dengan isterinya.” (Amru Abdul Mun’im Salim, Panduan Lengkap Nikah Menuju Keluarga Sakinah, m/s. 177, Dar an-Naba’)

Hukum Menghadiri Undangan Walimah

Hukum menghadiri undangan walimah adalah wajib. Ini adalah sebagaimana hadith yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar r.a, beliau berkata, Rasulullah s.a.w bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu diundang ke majlis walimah, hendaklah dia menghadirinya.” (Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 5173)

Pendapat yang menjelaskan wajibnya menghadiri undangan walimah juga turut dijelaskan oleh Ibnu ‘Abdil Barr, imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Ibnu Hazm, Imam an-Nawawi, dan pendapat inilah yang telah menjadi kesepakatan para ulama.

Daripada Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: “Dan barangsiapa yang meninggalkan undangan, maka dia telah melakukan maksiat kepada Allah dan RasulNya.” (Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 5177)

Walau pun begitu, undangan ke majlis walimah boleh ditinggalkan sekiranya memiliki uzur. Ini adalah sebagaimana penjelasan berikut:

1. Apabila di dalam walimah tersebut mengandungi perkara-perkara maksiat seperti jamuan khamar (arak), gambar-gambar makhluk bernyawa, dan permainan alat-alat muzik dan nyanyian. Sekiranya ini berlaku, maka seseorang tidak perlu menghadirinya melainkan dengan tujuan untuk mencegah kemungkaran tersebut. Sekiranya dia berjaya mencegahnya, maka itu adalah satu kebajikan, dan sekiranya tidak berjaya, hendaklah dia segera beredar.

Ini adalah sebagaimana hadith ‘Ali r.a, beliau berkata: “Aku membuat makanan, lalu aku mengundang Rasulullah s.a.w, kemudian beliau tiba, lalu beliau pun segera pulang. Aku pun segera bertanya, “Wahai Rasulullah, ibu dan bapaku sebagai tebusan, apakah yang membuatkan engkau pulang?”

Baginda menjawab: “Sesungguhnya di dalam rumah ada kain penutup yang bergambar, dan sesungguhnya para malaikat tidak akan memasuki ke dalam sesebuah rumah yang di dalamnya mengandungi gambar-gambar.” (Hadith Riwayat Ibnu Majah, no. 3359. Dinyatakan sahih oleh al-Albani di dalam Shahih Sunan Ibnu Majah dan Adabuz Zifaf)

Juga hadith dari ‘Umar al-Khaththab r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka janganlah duduk di meja makan yang di sana dihidangkan minuman keras (khamar).” (Hadith Riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi. Rujuk: al-Albani, Adabuz Zifaf, m/s. 152, Media Hidayah)

2. Apabila terdapat pengkhususan undangan di mana orang yang mengundang membeza-bezakan di antara yang kaya dengan yang miskin atau fakir, makanan yang dihidangkan mengandungi syubhat, dan seumpamanya. Ini adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam ash-Shan’ani di mana diizinkan untuk tidak memenuhi undangan walimah “apabila adanya uzur di antaranya, apabila makanan yang dihidangkan mengandungi syubhat (tidak jelas kehalalannya), atau diperuntukkan kepada orang-orang kaya sahaja, atau ada orang yang tidak senang dengannya…” (Imam Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani, Subulus Salam, jil. 2, Bab Nikah, m/s. 729, Darus Sunnah)

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: “Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, yang mana di dalam walimah tersebut tidak mengundang orang yang memerlukan (fakir), dan hanya mengundang orang yang tidak memerlukan (orang kaya).” (Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 5177)

Di antara uzur lain yang dibenarkan untuk tidak hadir ke undangan walimah adalah seperti uzur yang dengannya seseorang boleh meninggalkan solat Juma’at, seperti terjadinya hujan yang sangat lebat, jalan yang bermasalah, kerana takutkan musuh, takut hilangnya harta, dan yang lain yang seumpama. (Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim, Ensiklopedi Fiqh Wanita, jil. 2, Bab Nikah, m/s. 314, Pustaka Ibnu Katsir)

Digalakkan Mengundang Orang Bertaqwa (Soleh)

Ini adalah sebagaimana hadith berikut: “Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan orang yang beriman, dan janganlah makanan kamu dimakan melainkan oleh orang-orang yang bertaqwa.” (Hadith Riwayat Abu Daud, no. 4811. Hadith ini hasan menurut penilaian al-Albani)

Daripada Anas r.a, Rasulullah s.a.w berdoa kepada Sa’ad bin ‘Ubaidah yang menghidangkan kismis untuknya: “Semoga orang-orang yang baik memakan makananmu, para malaikat mendoakanmu, dan orang-orang yang puasa berbuka di tempatmu.” (Hadith Riwayat Ahmad. Lihat: al-Albani, Adabuz Zifaf, m/s. 157, Media Hidayah)

Dan jangan sekali-kali hanya mengundang orang-orang yang kaya lalu melupakan orang-orang yang memerlukan.

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: “Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, yang mana di dalam walimah tersebut tidak mengundang orang yang memerlukan (fakir), dan hanya mengundang orang yang tidak memerlukan (orang kaya)…” (Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 5177)

Bolehkah Orang Yang Berpuasa Menghadiri Walimah?

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu diundang, hendaklah dia memenuhi undangan tersebut, jika dia sedang berpuasa hendaklah dia mendoakan, dan jika dia tidak berpuasa, hendaklah dia makan.” (Hadith Riwayat Muslim, no. 1431)

Menurut Imam ash-Shan’ani, hadith ini menunjukkan wajibnya memenuhi undangan walaupun dia sedang berpuasa. (Imam Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani, Subulus Salam, jil. 2, Bab Nikah, m/s. 732, Darus Sunnah)

Dan sebenarnya tidak ada perbezaan akan kewajiban untuk memenuhi undangan walimah sama ada dia sedang berpuasa atau pun tidak. Akan tetapi dibolehkan bagi mereka yang berpuasa untuk menghadirinya sahaja tanpa menyantap hidangan dan dianjurkan mendoakan orang yang mengundangnya. Namun, jika dia mahu, dia boleh untuk memakannya, atau tidak memakannya. Dan jika dia membatalkan puasanya, puasa sunat yang ditinggalkannya tidak wajib diganti.

Dari Jabir r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: “Jika salah seorang dari kamu diundang makan, maka hendaklah dia menghadirinya. Jika mahu, dia dibolehkan makan, jika tidak mahu dia boleh untuk meninggalkannya.” (Hadith Riwayat Muslim, no. 1430)

Anjuran Supaya Mendoakan Pasangan Pengantin

Di antara keindahan di dalam Sunnah adalah mendoakan kebaikan, keberkahan, dan memohonkan keampunan buat pasangan pengantin serta mendoakan untuk orang yang mengundang ke majlis makan (walimah). Di antara doa-doa yang disunnahkan kepada kita untuk berdoa dengannya adalah sebagaimana berikut:

Doa untuk pasangan pengantin:

Dari Abu Hurairah r.a, bahawasanya Rasulullah s.a.w jika memberikan ucapan doa kepada seseorang yang berkahwin, beliau akan berkata:

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

“Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu, memberikan keberkahan atasmu, dan menyatukan kamu berdua di dalam kebaikan.” (Hadith Riwayat Abu Daud, no. 2130. Hadith ini dinilai sahih oleh at-Tirmidzi dan ath-Thusi sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Albani di dalam Adabuz Zifaz)

Rasulullah s.a.w berkata kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf:

بَارَكَ اللهُ لَكَ

“Semoga Allah memberkahimu…” (Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 5169)

Doa ketika Rasulullah menikahkan ‘Ali dengan Fatimah:

اَلَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِمَا، وَبَارَكَ لَهُمَا فِيْهِمَا فِيْ بِنَائِهِمَا

“Ya Allah, berkahilah mereka berdua dan berkahilah perkahwinan mereka berdua.” (Diriwayatkan oleh ath-Thabrani di dalam al-Kabir. Rujuk: al-Albani, Adabuz Zifaf, m/s. 160, Media Hidayah)

Doa untuk orang yang mengundang makan:

Rasulullah s.a.w mendoakan untuk Abdullah bin Busr r.a dan keluarganya (ayahnya) di ketika dia selesai dijamu makanan:

اَلَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي مَا رَزَقْتَهُمْ، وَاغْفِر لَهُمْ، وَارْحَمْهُمْ

“Ya Allah, berkahilah mereka pada rezeki yang telah Engkau berikan kepada mereka dan ampunilah mereka serta rahmatilah mereka.” (Hadith Riwayat Muslim, no. 1615)

Dan dianjurkan bagi mereka yang diundang untuk mengucapkan terima kasih di atas undangan yang diberikan. Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: “Tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” (Hadith Riwayat Abu Daud, no. 4811)

Mengucapkan Ucapan Yang Tidak Disyari’atkan

Adalah tidak dibenarkan meninggalkan ucapan-ucapan (doa) yang telah sedia dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w seperti yang disebutkan di atas, lalu diganti dengan ucapan-ucapan yang tidak sewajarnya. Sebagai contoh, pada masa ini begitu ramai yang mempopularkan bentuk-bentuk ucapan seperti:

“Selamat pengantin baru.”

“Semoga bahagia dan mendapat ramai anak.”

Ada pun sebenarnya, ucapan-ucapan seperti ini telah pun disentuh oleh para ulama sejak awal lagi. Di antaranya al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah menjelaskan: “Perkataan ini biasa diucapkan oleh orang-orang jahiliyyah sehingga ucapan ini dilarang.” (Fathul Bari, jil. 9, m/s. 222. Rujuk: Abu Hafsh Usamah, Panduan Lengkap Nikah, m/s. 232, Pustaka Ibnu Katsir)

Ini adalah kerana, Rasulullah s.a.w sendiri telah melarang perbuatan seperti itu sebagaimana yang dijelaskan oleh ‘Uqail bin Abu Thalib. Ini berlaku di ketika ‘Uqail berkahwin dengan seorang wanita dari suku Jasyam. Lalu orang-orang yang mengunjunginya mengucapkan: “Semoga bahagia dan mendapat ramai anak.”

‘Uqail pun berkata, “Janganlah kamu mengucapkan seperti itu (kerana Rasulullah telah melarangnya).” Mereka pun bertanya, “Jadi, apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid?” ‘Uqail berkata, “Ucapkanlah: Semoga Allah memberkahimu di dalam kesenangan atau pun kesusahan”. Begitulah kita diperintahkan. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, ‘Abdurrazzaq, Ahmad. Rujuk: al-Albani, Adabuz Zifaf, m/s. 162, Media Hidayah)

Disunnahkan Memberi Hadiah dan Membantu Melaksanakan Walimah

Dari Anas r.a, beliau berkata: Setelah Nabi s.a.w menikahi Shafiyah, pada pagi harinya Nabi pun berkata: “Sesiapa yang memiliki sesuatu untuk disumbangkan, hendaklah disumbangkan”. Beliau pun menghamparkan lembaran kulit yang disamak (sebagai bekas). Ada orang yang menyumbang keju, ada yang menyumbang kurma, dan ada yang memberikan minyak samin. Mereka pun membuat hais (campuran kurma tanpa biji, keju, tepung dan minyak). (Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 2048)

Berdasarkan hadith ini, Syaikh al-Albani rahimahullah menyatakan: “Orang-orang kaya dan yang memiliki kelebihan (bekalan) dianjurkan untuk memberikan sumbangan di dalam majlis walimah saudaranya.” (al-Albani, Adabuz Zifaf, m/s. 139, Media Hidayah)

Demikianlah sesebuah majlis walimah (walimatul urus) yang ditunjukkan oleh sunnah Rasulullah s.a.w dan diamalkan oleh para sahabat dan generasi awal umat Islam lainnya. Ianya begitu mudah dan ringkas.

———-

Sekarang kita akan difokuskan kepada beberapa contoh amalan di dalam masyarakat Melayu ketika majlis-majlis walimah mereka pasa masa kini. Sekaligus kita akan melihat sama ada ianya harus, sunnah, atau sebaliknya yang membawa kepada larangan syari’at mahu pun bid’ah.

Kemungkaran dan Tokok Tambah (Bid’ah) Di Dalam Majlis Walimah

Yang dimaksudkan sebagai kemungkaran di sini adalah apa jua perkara yang dilarang dan diharamkan di dalam agama.

Allah s.w.t berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah kerana kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surah an-Nuur, 24: 21)

“Wahai anakku, dirikanlah solat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang diwajibkan (oleh Allah).” (Surah Luqman, 31: 17)

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (Surah al-Hasyr, 59: 7)

Manakala tokok tambah (bid’ah) yang dimaksudkan di sini adalah apa jua tokok tambah yang dikhususkan di dalam majlis walimah yang pada asalnya menurut timbangan agama tidak disyari’atkan. Aturcara walimah (majlis perkahwinan) adalah sebuah ibadah yang disyari’atkan oleh agama melalui Nabi kita Muhammad s.a.w. Di mana di dalam sebuah hadith disebutkan:

“Sebenar-benar perkataan, adalah Kitabullah (al-Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad s.a.w, seburuk-buruk perkara adalah apa yang diada-adakan di dalam agama, setiap perkara baru yang diada-adakan di dalam agama adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat.” (Hadith Riwayat Abu Daud, no. 1097)

Begitu juga di dalam beberapa hadith yang lain, kita turut diperingatkan. Dari Irbadh bin Sariyah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: “Berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang baru di dalam agama. Setiap perkara yang baru (di dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Hadith Riwayat Abu Daud, no. 4607)

Dengan lebih tepat, “Bid’ah adalah sebuah cara baru di dalam agama yang dibuat menyerupai seakan-akan syariat dengan tujuan untuk berlebih-lebihan di dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Imam asy-Syatibi, di dalam al-I’tisyam. Rujuk: Yazid Abdul Qadir Jawas, Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, m/s. 78-79, Pustaka Imam asy-Syafi’i. Juga Alawy Abdul Qadir as-Saqqaf, Mukhtashar al-I’tisham, m/s. 32, Media Hidayah)

Maka dengan ini, sesuatu yang asalnya tidak dikhususkan atau tidak disyariatkan oleh agama melalui dalil-dalil yang benar di dalam walimatul urus, maka sekiranya ia berlaku dan dilakukan ini adalah termasuk ke dalam bentuk-bentuk tokok tambah terhadap agama yang jelas bertentangan dan mengajak kepada perbuatan bid’ah. Sekiranya kita menganggap dan berkeyakinan bahawa sesebuah ritual atau sesuuatu amalan yang pada asalnya tidak disyariatkan ke dalam sesebuah majlis walimah, dan sekiranya amalan tersebut tidak diadakan di dalam majlis walimah tersebut, kita mengatakan bahawa walimah tersebut tidak lagi lengkap, tidak lagi sempurna, kelihatan janggal, atau tidak berseri atau seumpamanya, maka sebenarnya kita telah menuju kepada perbuatan bid’ah. Iaitu menuju kepada perbuatan yang sebenarnya tidak pernah ditetapkan oleh syari’at, tetapi kita telah memandai-mandai sendiri menetapkannya. Ini adalah kerana, walimah adalah sebuah ibadah yang disyari’atkan oleh Allah melalui NabiNya s.a.w. Apatah lagi sekiranya, perkara yang ditambah itu adalah merupakan perbuatan-perbuatan yang mungkar dan membawa kepada larangan yang berat di sisi Allah.

Perbahasan di dalam bahagian ini akan dibawakan dengan seringkas mungkin dan padat.

1. Membuka Aurat

Perbuatan mendedahkan aurat di khalayak ramai (para hadirin) oleh wanita pada masa ini semakin banyak dilakukan di dalam majlis-majlis walimah. Malah ianya sudah menjadi satu trend (gaya) dalam kalangan umat Islam setiap kali pasangan pengantin melangsungkan majlis perkahwinan mereka. Terdapat sebagahagian wanita yang asalnya bertudung, tetapi apabila tiba hari perkahwinannya, dia dengan relanya membuka tudung dan menededahkan bahagian-bahagian aurat tertentu. Termasuk perbuatan mendedahkan aurat adalah dengan memakai pakaian yang ketat sehingga menggambarkan bentuk tubuh badan, mengenakan pakaian dengan kain yang jarang, dan mengenakan kain yang tipis.

Sedangkan Allah s.w.t berfirman: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangan dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (aurat) kecuali kepada (mahram mereka).” (Surah an-Nuur, 24: 31)

2. Bersolek dan memakai wangi-wangian bagi wanita

Dari Abu Musa al-Asy’ary r.a, dia berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: “Wanita yang memakai wangi-wangian, dan kemudian dia melintasi suatu kaum supaya mereka mencium bau wanginya, maka wanita tersebut adalah wanita penzina.” (Hadith Riwayat Abu Daud, no. 4172, at-Tirmidzi, no. 2786)

Alasan dari larangan tersebut dapat dilihat dengan jelas iaitu menggerakkan panggilan syahwat (kaum lelaki). Sebahagian ulama telah mengaitkan perkara lain dengannya, seperti memakai pakaian yang cantik (melawa), perhiasan yang ditampakkan, dan bercampur baur dengan kaum lelaki. (Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fathul Bari, 2/279. Rujuk: Abu Malik Kamal, Ensiklopedi Fiqh Wanita, jil. 2, m/s. 151, Pustaka Ibnu Katsir)

Allah s.w.t berfirman: “…Dan janganlah kamu berhias (tabarruj) dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu.” (Surah al-Ahzab, 33: 33)

3. Mencukur Kening dan Memakai Rambut Palsu

Sabda Rasulullah s.a.w: “Allah melaknat orang yang membuat tatu dan wanita yang minta ditatu, wanita yang menyambung rambutnya (dengan rambut palsu), yang mencukur alis (bulu kening), dan yang minta dicukur, dan wanita yang merenggangkan giginya untuk kecantikan sehingga mengubah ciptaan Allah.” (Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 4886)

4. Memanjangkan Kuku dan Mewarnakannya Dengan Pewarna

Rasulullah s.a.w bersabda: “Termasuk fitrah bagi manusia itu ada lima: Khitan, mencukur bulu kemaluan, merapikan misai, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 5889)

Berkenaan permasalahan trend mewarnakan kuku ini, Syaikh al-Albani rahimahullah berkata: “Ini adalah merupakan kebiasaan buruk yang dilakukan oleh wanita-wanita Eropah kepada wanita-wanita Islam, iaitu memanjangkan kuku dan mewarnakannya dengan warna merah atau selainnya dengan kuteks (pewarna/pengecat kuku). Kebiasaan ini juga turut dilakukan oleh sebahagian pemuda. Perbuatan ini selain mengubah ciptaan Allah, ia juga menjadikan pelakunya terlaknat dan perbuatan ini termasuk meniru-niru (tasyabbuh) perbuatan wanita-wanita kafir.

Daripada Ibnu ‘Umar, Nabi s.a.w bersabda: “Sesiapa yang meniru-niru perbuatan suatu kaum (kebiasaan orang kafir), maka dia termasuk di dalam golongan mereka.” (Hadith Riwayat Abu Daud. Sahih menurut Syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’, no. 6149, juga dijelaskan di dalam Jilbab al-Mar’atil Muslimah)

5. Mencukur Janggut

Sebahagian kaum lelaki muslim pada masa ini tidak lagi berminat memelihara janggut dan membenci memelihara janggut. Malah, ada pula di antara mereka yang mencukur janggutnya semata-mata untuk nampak bergaya di majlis perkahwinannya. Sedangkan, perbuatan memelihara janggut adalah sebuah sunnah yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w, dan di dalam banyak hadith-hadithnya berkenaan janggut ia menunjukkan sebuah perintah yang perlu diikuti.

Daripada Ibnu ‘Umar r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: “Selisihilah kaum majusi, rapikanlah misai, dan peliharalah janggut.” (Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 5893)

6 Adat Bersanding dan Pelamin

Perbuatan mengadakan pelamin dan adat bersanding bukanlah sebuah amalan yang berasal dari ajaran Islam. Malah, ia mungkin ditiru dan berasal dari ajaran Hindu atau pun Kristian. Ini adalah kerana amalan tersebut sangat mirip dengan adat upacara perkahwinan mereka.

Menurut Syaikh Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin hafizahullah: “Perbuatan ini (bersanding) adalah tidak dibenarkan. Sebab ini adalah bukti atas tercabutnya rasa malu dan taqlid (mengikuti) kepada kaum yang suka kepada keburukan. Perkaranya adalah jelas. Pengantin wanita sepatutnya merasa malu menampakkan diri di hadapan manusia, lalu bagaimana dengan perbuatan tersebut yang sengaja dilakukan di hadapan orang-orang yang sengaja menyaksikannya?” (Muhammad al-Musnid, Fatawa Islamiyah, 3/188. Rujuk: Panduan Lengkap Nikah, Abu Hafsh Usamah, m/s. 230, Pustaka Ibnu Katsir)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Di antara perkara mungkar, bahawa rasa malu sebahagian manusia telah tercabut dari mereka. (Adalah) seorang suami datang di tengah kaum wanita dan naik pelamin bersama isterinya di hadapan kaum wanita, iaitu pada awal pertemuannya dengan isterinya untuk bersanding dengannya, bersalaman tangan dengannya, mungkin menciumnya, dan mungkin memberikan hadiah kepadanya berserta coklat dan selainnya yang dapat menggerakkan syahwat dan mengakibatkan fitnah.” (Min Munkaratil Afraah, m/s. 7, 10. Rujuk: Panduan Lengkap Nikah, Abu Hafsh Usamah, m/s. 231, Pustaka Ibnu Katsir)

7. Menabur Gula-gula, Coklat, dan Bunga

Perbuatan ini tidak terdapat di dalam syariat atau pun majlis walimah sebagaimana yang disunnahkan oleh Rasulullah s.a.w. Ada pun sebenarnya, perbuatan ini termasuk meniru-niru perbuatan kaum kafir yang diambil dari perbuatan kaum kristian yang menabur bunga di acara-acara perkahwinan mereka.

Daripada Ibnu ‘Umar, Nabi s.a.w bersabda: “Sesiapa yang meniru-niru perbuatan suatu kaum (kebiasaan orang kafir), maka dia termasuk di dalam golongan mereka.” (Hadith Riwayat Abu Daud. Sahih menurut Syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’, no. 6149, juga di dalam Jilbab al-Mar’atil Muslimah)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan di bawah penafsiran Surah al-Baqarah, [2:104]: “Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman menyerupai (syi’ar) orang-orang kafir, sama ada dalam ucapan mahu pun perbuatan mereka.” (Ibnu Katsir, Shahih Tafsir Ibnu Katsir (Judul asal: al-Mishbaahul Muniir fii Tahdziibi Tafsiiri Ibni Katsir, Selenggaraan Syaikh Syafiurrahman al-Mubarakfuri), jil. 1, m/s. 364, Pustaka Ibnu Katsir)

Sekiranya amalan tersebut disandarkan kepada agama, maka perbuatan tersebut termasuk meletakkan perbuatan yang tiada asalnya di dalam agama, maka ia adalah bid’ah lagi sesat. Ini adalah kerana walimatul urus adalah sebuah aturcara agama sebagaimana yang diperintahkan (ditekankan) berdasarkan sunnah yang jelas.

Dari ‘Aisyah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam agama kami ini, maka ianya tertolak.” (Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 2697)

Dari Irbadh bin Sariyah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: “Berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang baru di dalam agama. Setiap perkara yang baru (di dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Hadith Riwayat Abu Daud, no. 4607)

8. Adat Merenjis Air Mawar

Adat ini juga bukan berasal dari Islam. Mungkin ia diambil dari amalan masyarakat Hindu. Selain merupakan perbuatan yang ditokok tambah (bid’ah) di dalam walimatul urus, malah ianya juga boleh menjurus kepada perbuatan syirik sekiranya dengan perbuatan merenjis tersebut disertakan dengan i’tiqad (keyakinan-keyakinan) tertentu seperti mempercayai pasangan pengantin yang direnjis akan mendapat kebahagiaan dan seumpamanya.

9. Mewajibkan Adanya Duit dan Barang Hantaran

Adat ini ditetapkan oleh kebanyakan masyarakat Melayu secara umumnya iaitu dengan mewajibkan pihak lelaki (atau bakal/calon suami) supaya membayar sejumlah wang yang dinamakan sebagai wang hantaran kepada keluarga pihak perempuan. Kebiasaannya (pada masa ini) sehingga RM10,000 atau lebih dari itu bergantung kepada status pendidikan atau pun permintaan wanita yang hendak dinikahi. Nilai wang hantaran ini akan ditetapkan oleh sama ada bakal isteri atau pihak keluarga bakal isteri. Sekali imbas, perbuatan ini adalah seakan-akan sebuah perbuatan jual beli wanita. Dan wang ini akan diserahkan kepada keluarga si isteri.

Dan kemudiannya, kedua-dua pihak akan saling bertukar barang hantaran tertentu sesama mereka. Di mana mereka mengkhususkan dengan jumlah bilangan tertentu, seperti 5 dulang dari lelaki berbalas 7 dulang barangan tertentu dari pihak perempuan, atau 7 dulang dari pihak lelaki berbalas 9 dulang dari pihak perempuan, atau 9 dulang dari pihak lelaki berbalas 11 dulang dari pihak perempuan, dan seterusnya.

Ada pun sebenarnya perbuatan ini langsung tidak pernah ditetapkan oleh Islam, dan perbuatan ini merupakan perbuatan bid’ah iaitu amalan yang ditokok tambah ke dalam majlis walimah umat Islam. Adalah menjadi suatu yang sunnah di dalam agama supaya memudahkan urusan pernikahan (juga urusan yang lain), tetapi, dengan ditambahnya amalan-amalan seperti ini, ia hanya akan menyusahkan (memberatkan) pasangan yang hendak berkahwin dan ia sekaligus menggalakkan maksiat sekiranya perkahwinan ditangguhkan hanya semata-mata disebabkan perkara yang karut ini.

Dari Irbadh bin Sariyah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: “Berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang baru di dalam agama. Setiap perkara yang baru (di dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Hadith Riwayat Abu Daud, no. 4607)

Namun, apa yang diwajibkan atau pun disunnahkan di dalam syariat hanyalah memberikan mahar (mas kahwin) oleh lelaki kepada wanita yang dinikahi, sama ada berdasarkan apa yang diminta oleh wanita tersebut atau pun tanpa diminta. Dan mas kahwin ini tidaklah semestinya di dalam bentuk wang ringgit atau barang-barang tertentu. Ianya sama ada tertakluk berdasarkan apa yang diminta oleh wanita, atau pun bebas dengan apa yang hendak diberikan oleh si lelaki jika si wanita tidak menetapkannya. Dan mahar adalah merupakan salah satu rukun dan syarat sahnya nikah.

Allah s.w.t berfirman:

“Berikanlah maskahwin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan…” (Surah an-Nisaa’, 4: 4)

“… Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban…” (Surah an-Nisaa’, 4: 24)

Dan mahar yang paling baik adalah mahar yang paling mudah, ringan atau tidak mahal (tidak menyusahkan dan memberatkan si suami). Daripada ‘Uqbah bin ‘Amir r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: “Pernikahan yang paling besar keberkahannya adalah yang paling mudah maharnya.” (Hadith Riwayat Ahmad, no. 24595)

Perbuatan meninggikan atau memahalkan penetapan nilai mahar adalah satu perbuatan yang dibenci oleh agama sebagaimana disebutkan di dalam beberapa hadith. Umar al-Khaththab r.a berkata: “Ingatlah, janganlah meninggikan nilai mahar wanita. Jika itu merupakan kemuliaan di dunia atau taqwa di sisi Allah, sudah tentu yang paling utama melakukannya adalah Rasulullah s.a.w.” (Hadith Riwayat Abu Daud, no. 2106) (Rujuk: Amru Abdul Mun’im Salim, Panduan Lengkap Nikah, m/s. 76, Dar an-Naba’)

Sahih di dalam beberapa riwayat bahawa Rasulullah dan beberapa sahabat berkahwin dengan mengeluarkan mahar yang sangat kecil. Malah di sebahagian keadaan, ada yang memberikan mahar dalam bentuk cincin besi, baju besi, memerdekakan hamba, dengan hafazan Al-Qur’an, dengan mengajarkan surah-surah tertentu dari Al-Qur’an, dengan segenggam kurma, dengan mengislamkan seseorang, dengan sebiji emas sebesar biji kurma, dan selainnya.

10. Bersalaman Dengan Bukan Mahram

Di dalam sebuah hadith dijelaskan bahawa: “Seseorang yang ditusuk kepalanya dengan jarum besi adalah lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (al-Albani, Silsilah Hadith ash-Shahihah, no: 225)

Dan para ulama juga menetapkan serta menjelaskan bahawa Rasulullah s.a.w sendiri tidak pernah menyentuh wanita yang tidak halal baginya walau pun di dalam peristiwa bai’ah. Berkenaan perkara ini juga, telah jelas di dalam Al-Qur’an bahawa Allah s.w.t memerintahkan supaya kaum lelaki dan wanita yang beriman supaya tunduk dari memandang kaum berlainan jantina mereka, maka apatah lagi jika perbuatan bersalaman atau bersentuhan, sedangkan perbuatan pandang memandang sahaja pun sudah ditegah.

11. Sesi Nanyian-nyanyian, Muzik dan Kugiran

Nabi s.a.w bersabda: “Akan muncul dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar (minuman keras), dan alat-alat muzik…” (Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 5590)

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Mas’oud r.a menjelaskan dengan tegas bahawa muzik dan nyanyian adalah termasuk perkara yang tidak berguna. Untuk perbahasan lebih lanjut berkenaan persoalan muzik dan nyanyi-nyanyian ini, dipersilakan merujuk kitab karya Imam Ibnul Qayyim, bertajuk Ighaatsatul Lahfan atau Syaikh al-Albani, bertajuk Tahriim Alath ath-Tharb, dan kitab syaikh al-Albani ini telah ada terjemahannya.

12. Bomoh Tolak Hujan

Terdapat beberapa kelompok dari kalangan masyarakat Melayu yang begitu gemar mengambil atau mengupah bomoh-bomoh tertentu supaya menjampi bagi tujuan menahan hujan dari turun. Selain itu, khidmat bomoh juga turut digunakan bagi mengesan (meramal dengan ilmu ghaib) sama ada pada tarikh atau hari-hari tertentu yang tidak akan turun hujan. Ini dilakukan dengan harapan supaya tempat diadakan majlis walimah sentiasa cerah (tidak hujan), sekaligus menjadikan majlis berjalan lancar.

Sedangkan Allah s.w.t berfirman: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri…” (Surah al-An’am, 6: 59)

Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesiapa yang mendatangi seorang peramal atau dukun lalu membenarkan apa yang ia katakan, maka orang tersebut telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.” (Hadith Riwayat al-Hakim 1/8. Dipersetujui oleh adz-Dzahabi)

Imam ath-Thahawi rahimahullah berkata di dalam Kitab aqidahnya: “Kita tidak mempercayai (ucapan) dukun mahu pun tukang ramal (bomoh), demikian juga setiap mereka yang mengakui sesuatu yang menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah serta ijma’ kaum muslimin.” (Imam ath-Thahawi, Aqidah ath-Thahawiyah. Rujuk: Abdul Akhir Hammad al-Ghunaimi, Tahzib Syarah ath-Thahawiyah, m/s. 90, Pustaka at-Tibyan)

Berkenaan turunnya hujan, banyak hadith-hadith Rasulullah s.a.w menyarankan kita supaya bersyukur di atas sebab turunnya hujan. Ini adalah sebagaimana di dalam doa yang dicontohkan oleh Nabi s.a.w: “Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat (untuk manusia, tanaman, dan binatang).” (Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 1032)

Dan penjelasan Rasulullah sendiri sebagaimana berikut: “Kita diberi hujan adalah kerana kurnia dan rahmat Allah.” (Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 1038)

Dan sekiranya kita memiliki rasa bimbang dan takut hujan tersebut memberikan gangguan atau sebarang kerosakan kepada kita, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga telah mengajarkan kepada kita bagaimanakah doa yang harus kita praktikkan.

Dari Anas r.a, beliau menjelaskan doa tersebut sebagaimana berikut:

اَللَّهُمّ حَوَاليَنْاَ وَلاَعَليَنْاَ، اَللَّهُمَّ عَلىَ اْلآكاَمِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami (di luar kawasan kami), bukan untuk merosakkan kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.” (Hadith Riwayat al-Bukhari, no. 1013)

Allah s.w.t berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Surah al-Baqarah, 2: 186)

Malah, berkenaan dengan hukum berjumpa dengan bomoh, pawang, atau pun dukun yang dikatakan mampu menolak hujan dan memiliki kelebihan ilmu ghaib tertentu ini, Rasulullah s.a.w telah menjelaskan kepada kita melalui sabdanya: “Sesiapa yang mendatangi seorang peramal atau dukun lalu membenarkan apa yang ia katakan, maka orang tersebut telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.” (Hadith Riwayat al-Hakim 1/8. Dipersetujui oleh adz-Dzahabi)

13. Mengambil, Melukis, dan Menggantung Gambar

Daripada Said bin Abu al-Hasan, “Ketika aku bersama Ibnu ‘Abbas, seorang lelaki datang dan berkata, “Wahai Ibnu Abbas, pendapatan (periuk nasi) aku adalah dari hasil kerja tanganku dan kerjaku adalah membuat gambar-gambar ini”. Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku sekadar memberi tahu apa yang aku dengar dari Rasulullah. Aku mendengar beliau bersabda, “Sesiapa membuat gambar dia akan di-azab oleh Allah sehingga dia mampu menghidupkannya dan sesungguhnya dia tidak akan berupaya untuk menghidupkannya”. Mendengarkan hal ini, lelaki itu menarik nafas panjang (mengeluh) dan mukanya menjadi pucat. Ibnu ‘Abbas berkata padanya, “Jika kamu masih tetap mahu untuk membuat gambar-gambar, aku nasihatkan agar kamu membuat gambar-gambar pokok (tumbuh-tumbuhan) dan sebarang gambar yang bukan berupa dari makhluk bernyawa”.” (Hadith Riwayat Muslim, no. 2110)

Daripada Ibnu ‘Abbas, “Abu Talha, seorang sahabat Rasulullah dan seorang sahabat yang pernah bersama dalam peperangan badar memberitahu kepadaku bahawa Rasulullah berkata, “Malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar.” Yang dia maksudkan adalah gambar yang menyerupai makhluk bernyawa.” (Hadith Riwayat al-Bukhari)

Secara ringkasnya:

  • Dilarang melukis, menggantung, dan membuat gambar berupa makhluk bernyawa seperti manusia atau haiwan, atau apa sahaja yang menunjukkan ia sebagai makhluk bernyawa.
  • Dibolehkan melukis atau membuat gambar selain makhluk bernyawa seperti tumbuh-tumbuhan, air terjun, bangunan dan kenderaan.
  • Pengambilan gambar hanya diizinkan untuk perkara yang benar-benar mendesak lagi memerlukan seperti untuk tujuan passport.
  • Tidak dibenarkan untuk mengambil gambar bagi tujuan kenang-kenangan sebagaimana yang difatwakan oleh Syaikh Ibnu Bazz.

14. Berbelanja Besar Untuk Set Pakaian

Di dalam Islam, kita dituntut untuk bersederhana di dalam segala perkara yang kita laksanakan. Kita juga tidak digalakkan untuk membazir dan berlebih-lebihan.

Suatu yang kini semakin menjadi trend di dalam masyarakat Melayu saat ini adalah menetapkan bahawa pasangan pengantin di ketika majlis perkahwinan mereka mestilah memakai pakaian yang sedondon seperti memakai pakaian yang sama warnanya dengan pasangan, memakai pakaian yang mesti dilengkapi dengan tanjak, keris, dan bunga-bungaan. Jika keadaan tersebut berlaku sebaliknya, di mana pasangan pengantin tidak mengenakan set pakaian seperti itu, maka mereka pun akan dilihat sebagai janggal dan diejek sebagai tidak mengenal atau tidak menghormati adat.

Ada pun sebenarnya penetapan seperti ini adalah termasuk ke dalam perbuatan berlebih-lebihan dan boleh menjurus kepada larangan agama. Cukuplah sekadar berpakaian dengan pakaian yang melambangkan akhlak, imej, dan nilai-nilai Islam yang murni. Dan Islam itu bukanlah suatu agama yang memberat-beratkan umatnya.

Allah s.w.t berfirman:

“Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Surah al-A’raaf, 7: 26)

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Surah al-A’raaf, 7: 31)

Demikianlah beberapa contoh perkara-perkara mungkar dan tokok tambah yang pada masa ini begitu popular dilakukan (dipraktikkan) di dalam masyarakat umat Islam Melayu di kebanyakkan majlis-majlis perkahwinan mereka. Ada beberapa lagi amalan/perkara yang sebenarnya dapat kita kategorikan sebagai perbuatan yang mungkar, bid’ah dan melanggar syari’at Islam yang kebiasaannya berlaku (dilakukan) ke dalam walimatul urus cuma tidak disentuh di sini seperti adat menepung tawar, dan perlakuan ikhtilat (percampuran lelaki dan wanita yang bukan mahram). Dengan itu, hendaklah kita berhati-hati dengan perkara-perkara seperti ini dan sentiasa berusaha dengan sedaya upaya menjauhinya. Walau bagaimana pun perkara-perkara mungkar seperti disebutkan berlaku dan dipopularkan sekali pun, ia tetap tidak dibenarkan menandingi apa yang telah disyariatkan dan dicontohkan oleh Nabi kita, Muhammad s.a.w. Dan sesungguhnya agama ini telah pun sempurna tanpa perlu ditokok tambah dengan pelbagai bentuk kehendak citarasa serta nafsu manusia.

Allah s.w.t berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku redhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (Surah al-Ma’idah, 5: 3)

Dan suatu yang paling penting di dalam beragama ini, bukanlah kata-kata dan perbuatan manusia yang menjadi ukuran, tetapi yang perlu kita tekankan adalah sejauh mana kita teguh di dalam sebuah pendirian di atas sebuah kebenaran yang ditegakkan di atas dalil-dalil dari perkataan Allah s.w.t dan petunjuk Rasulullah s.a.w.

Allah s.w.t berfirman:

“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Surah al-An’am, 6: 115-116)

“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah Ali Imran, 3: 31)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu contoh tauladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah.” (Surah al-Ahzaab, 33: 21)

Bersama-samalah kita mencari redha dari Allah sebagaimana cara yang telah Dia tunjukkan melalui KitabNya dan RasulNya. Mulakanlah alam rumahtangga kita di atas keredhaanNya dan hindarilah dari kemurkaan-Nya. Wallahu a’lam…

http://syahirul.com/walimatul-urus-antara-sunnah-dan-adat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s