Landasan Hukum didalam memilih Rizki yang Halal

1. KONSEP HARTA

Landasan hukum

Al-Qur’an

Dalam ayat-ayat Al-Qur’an harta memiliki kedudukan[1], antara lain :

  1. Harta sebagai amanah dari Allah SWT, manusia hanyalah sebagai pemegang amanah untuk mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuanNya.

“Dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu..” (QS:An-Nur:33)

  1. Harta sebagai perhiasan hidup yang memungkinkan manusia menikmatinya dengan baik dan tidak berlebihlebihan.

“harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (QS:Al-Kahfi:46)

  1. Harta sebagai ujian keimanan.

“dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (QS:Ali Imran:14)

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS:At-Tagobun:15)

  1. harta sebagai bekal ibadah.

“Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (QS:At-Taubah:41)

Komentar atas relevansi landasan hukum konsep harta

Harta berdasarkan terminologi fiqh muamalat di kalangan ulama hanafiyah diartikan sebagai : “segala sesuatu yang seluruh manusia cenderung padanya dan dapat disimpan sampai batas waktu yang diperlukan, baik yang berupa harta bergerak ataupun tidak bergerak”.

Dari dalil-dalil Al-Qur’an di atas Allah SWT memberikan kesempatan kepada manusia untuk memiliki harta baik dalam jumlah yang banyak ataupun sedikit. Kebebasan seseorang untuk memiliki harta dan memanfaatkannya adalah sebatas yang dibenarkan oleh syara’. Harta juga digunakan untuk memenuhi kewajiban manusia kepada Allah dan harta juga dimanfaatkan untuk kepentingan sosial. Hal ini dilakukan karena meskipun semua orang dituntut untuk berusaha mencari rezeki namun yang diberikan Allah tidaklah semuanya sama untuk setiap orang. Orang yang mendapatkan kelebihan rezeki dituntut untuk menafkahkan sebagian perolehannya itu.

2. SEBAB-SEBAB KEPEMILIKAN

Landasan hukum

Al-Qur’an

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. Al Maidah : 120)

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.(QS. Al Hadiid : 7)

Al-Hadits

Rasulullah SAW bersabda ; “sesungguhnya dalam setiap harta itu ada hak-hak orang lain selain zakat”. (HR. At Tirmidzi)

Komentar atas relevansi landasan hukum Sebab-sebab Kepemilikan

Segala apa yang ada di alam semesta ini adalah milik Allah SWT. Sedangkan manusia bertugas sebagai yang di amanahi untuk menjaga, memelihara serta menggunakannya sesuai dengan kebutuhan.

Berikut adalah konteks harta dapat dimiliki dalam arti sesuatu yang tadinya milik umum bisa menjadi milik pribadi atau lain sebagainya maka ada beberapa faktor yang menyebabkan harta dapat dimiliki antara lain :

  1. penguasaan terhadap harta bebas
  2. khalafiyah, yaitu berpindahnya sesuatu menjadi milik seseorang karena kedudukannya sebagai penerus pemilik lama atau kedudukannya sebagai pemilik barang tertentu yang telah rusak atau musnah dan digantikan dengan seseuatu yang baru oleh orang yanr merusakannya.
  3. Tawallud Mamluk, segala sesuatu yang lahir atau tumbuh dari objek yang telah dimiliki, menjadi hak bagi yang memiliki objek hak tersebut.
  4. Akad, yaitu pertalian atau keterkatan antara ijab dan qabul sesuai dengan kehendak  syariah yang menimbulkan akibat hukum pada objek akad.

3. RIBA

Landasan Hukum Pelarangan Riba

Al-Qur’an

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (QS:An-Nisaa:29)

Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.(QS. Al Baqarah : 275)

Tahapan Pelarangan Riba :

Tahap Pertama

“Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”. (QS Ar Rum : 39)

Tahap Kedua

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) Dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”. (QS:an-Nisaa:160-161)

Tahap Ketiga

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat gandadan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.(QS. Ali Imran : 130)

Tahap Keempat

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS:Al-Baqarah:278-279)

Al-Hadits

Dalam riwayat Abdullah ibn Mas’ud dikatakan: “Rasulullah SAW melaknat para pemakan riba, yang memberi makan dengan cara riba, para saksi dalam masalah riba, dan para penulisnya”. (HR. Abu Daud, dan hadits yang sama juga diriwayatkan Muslim dan Jabir ibn Abdillah)

Komentar atas relevansi landasan hukum Riba

Riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dengan Islam.[2]

Riba merupakan tambahan terhadap barang atau uang yang timbul dari suatu transaksi utang piutang yang harus diberikan oleh pihak yang berutang kepada pihak berpiutang pada saat jatuh tempo. Jadi, dengan kata lain riba merupakan hal yang memberatkan bagi para pihak yang berutang karena itu keberadaannya di  haramkan.

Dalam Al-Qur’an proses pengharaman riba di lakukan melalui beberapa tahap, yaitu:

Pertama, Allah menunjukkan bahwa riba itu bersifat negatif. Kedua,Allah memberikan isyarat akan keharaman riba melalui kecaman terhadappraktek riba di kalangan masayrakat yahudi. Ketiga, Allah mengharamkan salah satu bentuk riba, yaitu yang bersifat berlipat ganda dengan larangan yang tegas. Dan yang terakhir, Allah mengharamkan riba secara total dengan segala bentuknya.[3]

Jika dilihat dari macamnya maka riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl.

  1. riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan.
  2. riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya Karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. riba yang dimaksud dalam ayat Ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyah.[riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan.

4. AKAD JUAL BELI

Landasan Hukum

Al-Qur’an

…Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. Al Baqarah : 275)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.(QS. An Nisa : 29)

Al-Hadits

Rasulullah SAW. Ditanya salah seorang sahabat mengenai pekerjaan (profesi) apa yang paling baik. Rasulullah ketika itu menjawab: usaha tangan manusia sendiri dan setiap jual beli yang diberkati. (HR. Al Bazaar dan Al Hakim).

Pedagang yang jujur dan terpercaya itu sejajar (tempatnya di surga) dengan para Nabi, para Shiddiqin, dan para Syuhada. (HR. At Tirmidzi)

Komentar atas relevansi landasan hukum Akad Jual-Beli

Jual beli merupakan tukar menukar barang dengan cara tertentu atau tukar menukar sesuatu dengan yang sepadan menurut cara yang dibenarkan. maksud dengan yang sepadan adalah dalam transaksinya barang yang ditukarkan harus sama nilainya dengan barang yang ditukarkan tersebut.

Secara umum praktek jual beli adalah dibolehkan asalkan terbebas dari unsur Riba, gharar, dan hal lain yang menimbulkan kemudharatan.

5. ASURANSI

Landasan Hukum

Al-Qur’an

“…dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”. (QS:Al-Maidah:2)

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.(QS:Al-Baqarah:185)

Al-Hadits

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, bertanya seseorang kepada Rasulullah SAW. Tentang (untanya); “apa (unta) ini saya ikat saja atau langsung saya bertawakal kepada Allah SWT?”, bersabda Rasulullah SAW; “pertama ikatlah unta ini kemudian bertawakallah kepada Allah SWT.” (HR. At Tirmidzi)

Komentar atas Relevansi Landasan Hukum Asuransi

Asuransi merupakan jaminan atas harta dari berbagai ancaman, dengan maksud untuk mendapatkan ganti terhadap hartanya yang hilang. metode transaksinya adalah pihak tertanggung membayar atau menyerahkan sejumlah uang kepada pihak penanggung dengan cara cicilan. system asuransi dewasa ini telah berkembang pesat untuk melayani masyarakat secara luas, khususnya kalangan pebisnis untuk memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan dari berbagai bahaya. Prinsip asuransi secara syariah tidak jauh dengan konsep jual beli yaitu tidak  boleh adanya unsure gharar dan hal – hal yang dilarang secara syar’i

6. Ijarah Muntahiyah Bi At-Tamlik (IMBT)

Landasn hukum[4]

Al-Qur’an

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. Al-Zukhruf : 32)

Komentar atas Relevansi Landasan Hukum IMBT

IMBT merupakan rangkaian dua buah akad, yakni akad al-bai’ dan akad ijarah. Al-bai’ merupakan akad jual beli dan ijarah merupakan akad sewa-menyewa, sedangkan IMBT merupakan kombinasi dari kedua akad tersebut. Dalam IMBT pemindahan barang menjadi hak milik terjadi dengan salah satu dari dua cara berikut ini :

  1. pihak yang menyewkan berjanji akan menjual barang yang disewakan tersebut pada akhir masa sewa ;
  2. pihak yang menyewakan akan menghibahkan barang yang disewakan tersebut pada masa akhir sewa.

Akad IMBT boleh dilakukan dengan ketentuan sebagi berikut[5] :

  1. Semua rukun dan syarat yang berlaku dalam akad ijarah, berlaku pula dalam akad IMBT.
  2. Perjanjian untuk melakukan adak IMBT harus disepakati ketika akad Ijarah ditandatangani.
  3. Hak dan kewajiban setiap pihak harus dijelaskan dalam akad.

7. WAKAF UANG (TUNAI)

Landasan Hukum

Al-Qur’an

“perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui”. (QS:Al-Baqarah:261)

kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS:Ali Imran:92)

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS:Al-Baqarah: 267)

“……dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat”. (QS:Al Maidah: 2)

Al-Hadits

“Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka putuslah amalnya, kecuali tiga perkara: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendakan orang tuanya”. (HR Muslim)

Pendapat Ulama

Selain ulama mazhab Hanafi, sebagian ulama mazhab Syafi’i juga membolehkan Wkaf Tunai :

“Abu Tsaur Meriwayatkan dari Imam Syafi’i tentang dibolehkannya wakaf dinar dan dirham (Uang)”

Komentar atas Relevansi Landasan Hukum Wakaf Uang (Tunai)

Inti dari wakaf adalah hal yang diwakafkan adalah untuk kepentingan umum maka melihat perkembangan dan kebutuhan serta keadaan akan wakaf, dan berdasarkan adanya petunjuk dasar hukum diatas, maka apapun bentuk wakaf, selama pokoknya ditahan dan hasilnya digunakan untuk kepentingan umum, maka boleh di jadikan sumber wakaf.

Adapun beberapa manfaat dari wakaf uang adalah seseorang yang memiliki dana terbatas sudah bisa mulai memberikan dana wakafnya tanpa harus menunggu menjadi tuan tanah terlebih dahlu. kemudian melalui wakaf uang, aset-aset wakaf yang berupa tanah-tanah kosong bisa mulai dimanfaatkan dengan pembangunan gedung atau diolah untuk lahan pertanian.

8. OBLIGASI SYARIAH

Landasn Hukum

Al-Qur’an

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu… “. (QS. Al Maidah : 1)

“…Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Baqarah : 233)

“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.(QS. Al Qashash : 26)

Al-Hadits

“Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya mengering” (HR. Ibnu Majah dari Ibnu Umar)

“Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya, maka, Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak”. (HR. Abu Daud dari Sa’d Ibn Abi Waqqash).

Komentar atas Relevansi Landasan Hukum Obligasi Syariah

Obligasi syariah adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa hasil / margin / fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo.

9. KARTU KREDIT / SYARIAH CHARGE CARD

Landasan hukum

Al-Qur’an

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu[388]. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya”. (QS. Al Ma’idah : 1)

“Penyeru-penyeru itu berkata: “Kami kehilangan piala Raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya”.(QS. Yusuf : 72).

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”.(QS. Al Ma’idah : 2)

“dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”.(QS. Al Furqan : 67)

“dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.(QS. Al Isra’ : 26-27)

Al-Hadits

“Perjanjian boleh dilakukan diantara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram, dan kaum muslimin terikat debgan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram” (HR. Imam At Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘auf Al Muzani)

Komentar atas Relevansi Landasan Hukum Kartu Kredit / Syariah Charge Card

Kartu kredit merupakan alat pembayaran dengan tidak menggunakan dana cash, artinya seseorang dapat berbelanja atau bertransaksi tidak mesti menggunakan dana cash. perjanjian yang digunakan diantaranya Ariyah (perjanjian kredit), Wakalah (perjanjian pemberian kuasa) dan Kafalah (perjanjian penanggungan). Adapun mekanisme dalam kartu kredit ini adalah si penerbit kartu kredit adalah sebagai penjamin atas pihak yang atau si pemegang kartu kredit. Dipandang dari sudut syariah maka dalam penggunaan kartu kredit ini telah terjadi tolong menolong yang diperbolehkan, dimana pemegang kartu tertolong dalam hal kebutuhan pembayaran dengan uang tunai pada satu sisi, di sisi lain pedagan juga tertolong karena barangnya terjual. Pembyarannya dilakukan dilakukan oleh perusahaan penerbit kartu kredit dan sedangkan perusahaan penerbit atau perbankan menerima komisi atau jasa yang dilakukan.

10. PASAR MODAL

Landasn hukum

Al-Qur’an

“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.(QS.Al Jumu’ah : 10)

“…Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”(QS. Al Baqarah : 275)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu, Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (QS. An Nisa’ : 29)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS. Al Baqarah : 278-279)

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu… .” (QS. Al Maidah : 1)

v Al-Hadits

Rasulullah SAW melarang jual beli (yang mengandung) gharar (HR. Al Baihaqi dari Ibnu Umar)

Rasulullah SAW melarang (untuk) melakukan penawaran palsu (Muttafaq ‘alaih)

Komentar atas Relevansi Landasan Hukum Pasar Modal

Pada dasarnya adalah segala jual beli adalah dibolehkan, maka dalam pasar modal juga demikian adanya, namun yang tidak diperbolehkan dalam penerapan pengumpulan modal melalui jual beli saham dalam pasar modal ini, yaitu tidak boleh ada unsure spekulasi dalam jual beli saham, artinya ketika ada pihak yang memebeli dari pihak pertama dengan tujuan untuk dijual lagi ketika harga saham naik pada pihak ketiga dengan tujuan menambah modal, maka terdapat unsur riba’ di dalamnya, karena orang cenderung menjualnya dengan harga tinggi dibanding ketika dia membeli, ini yang tidak di perbolehkan dalam islam karena mengandung unsur spekulasi dan tidak sesuai akad pertama seperti yang diutarakan pada ayat Alquran dan hadits di atas

[1] AH. Azharuddin Latihif, M.Ag, Fiqh Muamalat, Jakarta, UIN Jakarta Press, 2005

[2] Antonio, Muhammad Syafi’I, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, Jakarta, Gema Insani Press, 2001

[3] Ibid. Hal, 48-50

[4] Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor : 27/ DSN-MUI/ III/ 2002 Tentang IMBT

[5] Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor : 27/ DSN-MUI/ III/ 2002 Tentang IMBT

http://asyukri.wordpress.com/landasan-hukum/

http://rezekihalal.com/

—————————————————————-

Konsep Bekerja Menurut Pandangan Islam

Oleh:
Hj. Ahmad bin Hj. Awang
Institut Dakwah Dan Latihan Islam, BAHEIS


 

 

Pendahuluan:

 

Tidak ada siapa yang akan mempertikaikan jika ada yang mengatakan bahawa setiap orang mahu bekerja atau mendapatkan pekerjaan untuk menjamin kehidupannya. Kalau kita ambil contoh dari golongan belia, baik yang berpelajaran menengath atau tinggi sama ada mereka yang gagal dan tidak pernah bersekolah langsung, semuanya bercita-cita untuk mendapat pekerjaan atau boleh bekerja bagi menampung keperluan hidupnya sendiri atau keluarganya.

 

Adakah bekerja itu boleh dipandang sebagai suatu kewajipan atau tanggungjawab yang mempunyai tujuan yang lebih luas? Tetapi apakah yang bekerja itu hanya sekadar untuk menampung dan menjamin kehidupan di dunia ini. Soalan ini perlulah kita jawab dengan memahami konsep kerja menurut pandangan Islam.

 

 

Pengertian Kerja:

 

Kerja atau amal menurut Islam dapat diertikan dengan makna yang umum dan makna yang khusus. Amal dengan makna umum ialah melakukan atau meninggalkan apa jua perbuatan yang disuruh atau dilarang oleh agama yang meliputi perbuatan baik atau jahat. Perbuatan baik dinamakan amal soleh dan perbuatan jahat dinamakan maksiat.

 

Adapun kerja atau amal dengan maknanya yang khusus iaitu melakukan pekerjaan atau usaha yang menjadi salah satu unsur terpenting dan titik tolak bagi proses kegiatan ekonomi seluruhnya. Kerja dalam makna yang khusus menurut Islam terbahagi kepada:

 

1. Kerja yang bercorak jasmani (fizikal)

 

2. Kerja yang bercorak aqli/fikiran (mental)

 

Dari keterangan hadis-hadis Rasulullah (s.a.w), terdapat kesimpulan bahawa konsep kerja menurut Islam adalah meliputi segala bidang ekonomi yang dibolehkan oleh syarak sebagai balasan kepada upah atau bayaran, sama ada kerja itu bercorak jasmani (flzikal) seperti kerja buruh, pertanian, pertukangan tangan dan sebagainya atau kerja bercorak aqli (mental) seperti jawatan pegawai, baik yang berupa perguruan, iktisas atau jawatan perkeranian dan teknikal dengan kerajaan atau swasta. Antara hadis-hadis tersebut ialah:

 

“Tidaklah ada makanan seseorang itu yang lebih baik daripada apa yang dimakannya dari hasil usaha tangannya sendiri”. (Riwayat al-Bukhari)

 

Selain daripada itu para sahabat menggunakan perkataan pekerja (amil) untuk jawatan orang yang ditugaskan menjadi petugas pemerintahan umpamanva kadi, gabenor dan sebagainya. Oleh yang demikian segala kerja dan usaha yang dibolehkan oleh syarak baik yang bersifat kebendaan atau abstrak atau gabungan dan kedua-duanya adalah dianggap oleh Islam sebaga “kerja”. Segala kerja yang bermanfaat Islam dan yang sekecil-kecilnya seperti menyapu longkang hingga kepada yang sebesar-besarnya seperti menjadi menteri atau kepala negara adalah merupakan kerja atau amal sekalipun ianya berlainan peringkat dan kelayakan yang diperlukan untuknya. Berdasarkan konsep ini maka menurut pandangan Islam, masyarakat seluruhnya dan semua peringkat adalah pekerja.

 

Oleh yang demikian konsep kerja seperti ini membawa implikasi sosial yang penting, antaranya:

 

1. Bahawa asal manusia adalah sama sebagai manusia dan pekerja yang mempunyai kemuliaan dan kehormatan sekalipun perbezaan itu tidaklah merupakan keistimewaan satu pihak terhadap yang lain.

 

2. Para pekerja bukanlah hanya satu kelompok dari masyarakat, bahkan mereka adalah semua anggota masyarakat. Jadi mengikut konsep Islam bahawa masyarakat itu adalah tersusun atau terbentuk dari kerjasama antara sesama para pekerja di dalamnya, bukan terdiri dari kumpulan para pekerja dan para majikan seperti yang difahami menurut sistem ekonomi komunis atau kapitalis.

 

 

Kerja Menurut Tuntutan Islam:

 

Islam menjadikan kerja sebagai tuntutan fardu atas semua umatnya selaras dengan dasar persamaan yang diisytiharkan oleh Islam bagi menghapuskan sistem yang membeza-bezakan manusia mengikut darjat atau kasta dan warna kulit. Firman Allah yang bermaksud:

 

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu daripada lelaki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan berpuak-puak supava kamu berkenal-kenalan. Sesungguhnya orang yang termulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang taqwa.” (al-Hujurat: 13)

 

Dengan menggunakan segala unsur-unsur perbezaan darjat atau warna kulit itu maka jadilah kerja menurut Islam suatu tuntutan kewajipan yang menyeluruh atas setiap orang yang mampu bekerja untuk mencapai kebahagiaan individu dan juga masyarakat. Jadi tidaklah kerja itu hanya khusus untuk golongan hamba abdi seperti sebelumnya.

 

Firman Allah bermaksud:

 

“Dan katakanlah wahai Muhammad, beramallah kamu akan segala apa yang diperintahkan, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat apa yang kamu kerjakan.” (al-Taubah: 105)

 

Islam juga meningkatkan tuntutan kerja itu hingga ke tahap kewajipan agama. Oleh itu tahap iman sentiasa dikaitkan oleh al-Quran dengan amal soleh atau perbuatan baik. Ini bererti Islam itu adalah akidah yang mesti diamalkan dan amalan yang mesti berakidah secara tidak terpisah. Seperti firman Allah bermaksud:

 

“Demi masa, sesungguhnya sekalian manusia dalam kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal soleh”. (al-Asr: 1-3)

 

 

Kerja Sebagai Sumber Nilai:

 

Islam menjadikan kerja sebagai sumber nilai insan dan ukuran yang tanggungjawab berbeza. Firman Allah bermaksud:

 

“Dan bahawa sesungguhnya tidak ada balasan bagi seseorang itu melainkan balasan apa yang diusahakan”. (al-Najm: 39)

 

Firman-Nya lagi bermaksud:

 

“Dan bagi tiap-tiap seseorang beberapa darjat tingkatan balasan disebabkan amal yang mereka kerjakan dan ingatlah Tuhan itu tidak lalai dari apa yang mereka lakukan”. (al-An’am: 132)

 

Kerja sebagai sumber nilai manusia bererti manusia itu sendiri menentukan nilai atau harga ke atas sesuatu perkara itu. Sesuatu perkara itu pada zatnya tidak ada apa-apa nilai kecuali kerana nisbahnya kepada apa yang dikerjakan oleh manusia bagi menghasil, membuat, mengedar atau menggunakannya. Kerja juga merupakan sumber yang objektif bagi penilai prestasi manusia berasaskan segi kelayakan. Oleh yang demikian Islam menentukan ukuran dan syarat-syarat kelayakan dan juga syarat-syarat kegiatan bagi menentukan suatu pekerjaan atau jawatan itu supaya dapat dinilai prestasi kerja seseorang itu. Dengan cara ini, Islam dapat menyingkirkan perasaan pilih kasih dalam menilai prestasi seseorang sama ada segi sosial, ekonomi dan politik.

 

 

Kerja Sebagai Sumber Pencarian:

 

Islam mewajibkan setiap umatnya bekerja untuk mencari rezeki dan pendapatan bagi menyara hidupnya. Islam memberi berbagai-bagai kemudahan hidup dan jalan-jalan mendapatkan rezeki di bumi Allah yang penuh dengan segala nikmat ini. Firman-Nya bermaksud:

 

“Dan sesungguhnya Kami telah menetapkan kamu (dan memberi kuasa) di bumi dan Kami jadikan untuk kamu padanya (berbagai-bagai jalan) penghidupan.” (al-A’raf: 168)

 

Dan firman-Nya lagi bermaksud:

 

“Dialah yang menjadikan bumi bagi kamu mudah digunakan, maka berjalanlah di merata-rata ceruk rantaunnya, serta makanlah dari rezeki yang dikurniakan Allah dan kepada-Nya jualah dibangkitkan hidup semula.” (al-Mulk: 15)

 

Islam memerintahkan umatnya mencari rezeki yang halal kerana pekerjaan itu adalah bagi memelihara maruah dan kehormatan manusia. Firman Allah bermaksud:

 

“Wahai sekalian manusia, makanlah dari apa yang ada di muka bumi yang halal lagi baik”. (al-Baqarah: 168)

 

Sabda Nabi (s.a.w) bermaksud:

 

“Mencari kerja halal itu wajib atas setiap orang Islam.”

 

Oleh yang demikian Islam mencela kerja meminta-minta atau mengharapkan pertolongan orang lain kerana ianya boleh merendahkan harga diri atau maruah. Dalam sebuah hadis Rasulullah (s.a.w) bermaksud:

 

“Bahawa sesungguhnya seseorang kamu pergi mengambil seutas tali kemudian mengikat seberkas kayu api lalu menjualnya hingga dengan sebab itu ia dapat memelihara harga dirinya, adalah lebih baik daripada ia pergi meminta-minta kepada orang sama ada mereka rnemberinya atau menolaknya.”

 

 

Kerja Sebagai Asas Kemajuan Umat:

 

Islam mewajibkan kerja untuk tujuan mendapatkan mata pencarian hidup dan secara langsung mendorongkan kepada kemajuan sosioekonomi. Islam mengambil perhatian yang bersungguh-sungguh terhadap kemajuan umat kerana itu ia sangat menekankan kemajuan di peringkat masyarakat dengan menggalakkan berbagai kegiatan ekonomi sama ada di sekitar pertanian, perusahaan dan perniagaan. Dalam hadis Rasulullah (s.a.w) sangat ketara dorongan ke arah kemajuan ekonomi di sektor tersebut, sebagai contoh:

 

1. Di bidang Pertanian

 

Sabda Rasulullah s.a.w bermaksud:

 

“Tidaklah seseorang mukmin itu menyemai akan semaian atau menanam tanaman lalu dimakan oleh burung atau manusia melainkan ianya adalah menjadi sedekah”.

 

2. Di bidang Perusahaan

 

Sabda Rasulullah s.a.w. bermaksud:

 

“Sebaik usaha ialah usaha seorang pengusaha apabila ia bersifat jujur dan nasihat- menasihati.

 

3. Di bidang Perniagaan

 

Rasulullah (s.a.w) pernah meletakkan para peniaga yang jujur dan amanah kepada kedudukan yang sejajar dengan para wali, orang-orang yang benar, para syuhada’ dan orang-orang soleh dengan sabda bermaksud:

 

“Peniaga yang jujur adalah bersama para wali, orang-orang siddiqin, para syuhada’ dan orang-orang soleh”.

 

Baginda juga menyatakan bahawa sembilan persepuluh daripada rezeki itu adalah pada perniagaan.

 

 

Islam Menolak Pengangguran:

 

Islam menuntut umatnya bekerja secara yang disyariatkan atau dibenarkan menurut syarak bagi menjamin kebaikan bersama dengan mengelakkan dari meminta-minta dan sebaliknya hendaklah berdikari. Islam sentiasa memandang berat dan menyeru umatnya untuk bekerja dan berusaha mencari rezeki melalui dua pendekatan berikut:

 

Islam melarang dan mencegah umatnya meminta-minta dan menganggur. Banyak hadis Nabi (s.a.w) mengenai larangan berusaha cara meminta. Baginda sering benar mengarahkan orang yang datang meminta, supaya mereka bekerja umpamanya, suatu ketika seorang fakir datang meminta-minta kepada baginda lalu baginda bertanya: “Adakah anda memiliki sesuatu?” “Tidak”, kata lelaki itu. Baginda bertanya lagi dengan bersungguh-sungguh, lalu lelaki itu menjawab: “Saya ada sehelai hamparan yang separuhnya kami jadikan alas duduk dan separuhnya lagi kami buat selimut dan ada sebuah mangkuk yang kami gunakan untuk minum”.Maka baginda bersabda kepadanya: “Bawakan kedua-dua benda itu kepada saya”. Lalu dibawanya kedua-dua barang itu, kemudian Nabi tunjukkan barang itu kepada orang yang berada di sisi baginda kalau ada sesiapa yang hendak membelinya. Akhirnya baginda dapat menjualnya dengan harga dua dirham dan diberikan wang tersebut kepada lelaki itu sambil baginda berkata: “Belilah makanan untuk keluargamu dengan satu dirham manakala satu dirham lagi belikanlah sebilah kapak”. Kemudian Rasulullah (s.a.w) meminta lelaki itu datang lagi, lalu lelaki itupun datang dan baginda telah membubuhkan hulu kapak itu dan menyuruh lelaki itu pergi mencari kayu api sambil baginda mengatakan kepada lelaki itu supaya lelaki itu tidak akan berjumpa lagi dalam masa 15 hari. Lelaki itu pergi dan kembali lagi selepas 15 hari sambil membawa datang 10 dirham, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, Allah telah memberkati saya pada kerja yang tuan suruh saya itu.” Maka baginda Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Itu adalah lebih baik daripada anda datang pada hari kiamat kelak sedang pada muka anda bertanda kerana meminta-minta.

 

Berdasarkan kepada banyak hadis mengenai perkara ini, para ulama membuat kesimpulan bahawa larangan meminta-minta itu bukanlah sekadar perintah bersifat akhlak sahaja bahkan orang yang menjadikan kerja meminta-minta itu sebagai “profesion”, hendaklah dikenakan hukuman yang berpatutan.

 

 

Kesimpulan:

 

Berdasarkan kepada keterangan ayat-ayat al-Quran dan hadis Rasulullah (s.a.w) dengan huraian-huraian seperti yang disebutkan dapatlah dibuat kesimpulan bahawa Islam sangat mengambil berat terhadap “kerja” dengan menjelaskan konsep kerja itu dan kedudukannya yang tinggi dalam ajaran Islam. Ringkasnya, kita dapat simpulkan seperti berikut:-

 

  1. Kerja menurut konsep Islam adalah segala yang dilakukan oleh manusia yang meliputi kerja untuk dunia dan kerja untuk akhirat.
  2. Kerja untuk kehidupan dunia sama ada yang bercorak aqli/mental (white collar job) atau bercorak jasmani (blue collar job) adalah dipandang sama penting dan mulia di sisi Islam asal sahaja dibolehkan oleh syarak.
  3. Islam mewajibkan kerja ke atas seluruh umatnya tanpa mengira darjat, keturunan atau warna kulit, kerana seluruh umat manusia adalah sama di sisi Allah, melainkan kerana taqwanya.
  4. Masyarakat Islam adalah sama-sama bertanggungjawab dan bekerjasama melalui kerja masing-masing. Berdasarkan kebolehan dan kelayakan serta kelayakan bidang masing-masing kerana segala kerja mereka adalah bersumberkan iman dan bertujuan melaksanakan amal soleh.
  5. Kerja adalah asas penilaian manusia dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya sebagai khalifah Allah dan hamba-Nya untuk memakmurkan bumi ini dan sekaligus pula beribadat kepada Allah, Tuhan Pencipta alam.
  6. Kerja merupakan cara yang tabi’i untuk manusia mencari nafkah bagi menyara hidup dan keluarga melalui berbagai sektor pekerjaan dan perusahaan yang sedia terbuka peluangnya dengan persediaan dan kemudahan alam yang Allah sediakan di atas muka bumi ini.
  7. Islam melarang/menolak pengangguran kerana ia akan mendedahkan kepada kelemahan dan kefakiran dan jatuhnya maruah diri/ummah, kerana Islam menghendaki setiap umatnya bermaruah dan berdikari, tidak meminta-minta dan berharap kepada bantuan dan belas kasihan orang lain, bahkan sebaliknya hendaklah menjadi umat yang kuat dan mampu membela mereka yang lemah dan tertindas agar seluruh manusia menikmati keadilan dan rahmat yang dibawa oleh Islam sebagai agama atau “ad-Din” yang tertinggi dan mengatasi seluruh kepercayaan dan ideologi manusia. Firman Allah S.W.T bermaksud: “Dialah Allah yang mengutuskan Rasul-Nya (Muhammad) dengan membawa petunjuk dan agama yang benar (Islam) supaya ia meninggikan atas segala agama yang lain, walaupun orang musyrik membencinya”.

 

Sumber: Sinaran Islam, Tahun 8, Bil. 2, Jun 1988, hal. 16-30.

 

http://ujid.tripod.com/islam/kerja8806.html

 

———————————–

 

Konsep Bekerja Menurut Pandangan Islam

a

A.     Kerja dan Kebutuhan Hidup
Robert Maltus menyatakan bahwa pertambahan penduduk seperti deret ukur, sementara pertambahan makanan (kebutuhan hidup manusia) hanya seperti deret hitung. Teori ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pertumbuhan manusia dengan ketersediaan kebutuhan pokok khususnya makanan.[1]
Persoalan mulai muncul ketika jumlah penduduk bertambah dan alam tidak lagi mempu menyediakan kebutuhan hidup manusia, kalaupun ada, kebutuhan tersebut tidak cukup memedai sehingga manusiapun berupaya untuk memproduksinya sendiri.
Pada zaman dahulu defenisi kerja hanya dipahami sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti pangan, sandang dan papan. Akan tetapi, pada zaman modern defenisi kerja mengalami perubahan sehingga manusia memiliki beberapa tujuan kerja seperti:
1.    Memanuhi kebutuhan primer seperti makan, minum, rumah dan pakaian.
2.    Memenuhi kebutuhan sekunder seperti rekreasi, memiliki barang-barang mewah, kesehatan dan pendidikan.
3.    Memenuhi kebutuhan tertier seperti ingin gengsi, terlihat mewah, aksesoris-aksesoris dan lain-lain.
4.    Meneguhkan jati diri sebagai manusia.[2]
Dari keempat tujuan tersebut, tampaknya tujuan yang terakhir perlu mendapatkan penjelasan sedikit. Pada masa modern, bekerja bukan lagi persoalan hidup atau mati, tetapi sudah menyangkut tentang harga diri. Ukuran martabat manusia akan dilihat dari apakah ia telah memliki pekerjaan atau tidak. Selanjutnya apakah pekerjaan yang digelutinya?.[3]  Bagi orang yang belum memiliki pekerjaan akan merasa dirinya belum lengkap. Ia akan menjadi rendah diri menjadi gelar “Pengangguran”.
Pergeseran makna kerja tersebut, mungkin dipengaruhi oleh konsep kerja pola kapitalisme yang mempunyai akar asumsi, manusia mempunyai kewajiban untuk memanfaatkan alam dengan menguasai alam dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar sumber kekayaan alam menajdi barang komoditi yang secara ekonomis menguntungkan, maka upaya meraih keuntungan ekonomi tidak lagi dilihat sebagai imbalan kerja melainkan menjadi tujuan kerja itu sendiri.
Dengan kata lain, kerja harus mendapatkan keuntungan  terlepas dari bagaimana cara yang dilakukan untuk memperolehnya.[4] Damapak yang paling parah adalah manusia menjadi serakah, kerja tidak lagi hanya sekedar mencari eksistensi diri yang menuntutnya untuk menunjukkan kualitas kerja, tetapi semata-mata dilakukan untuk memburu kauntungan ekonominya saja.
B.      Pengaruh Agama Terhadap Kerja

Islam adalah agama yang lengkap, di dalamnya terdapat tata aturan dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia. Dengan demikian Islam menjadi sentral landasan setiap sikap dan tindakan seorang muslim, seperti yang dikemukakan oleh Yusuf Qardawi sebagai berikut :

Islam harus merupakan pedoman di seluruh lapangan kehidupan material dan spritual. Aqidah masyarakat harus Islami, begitu juga semboyan hidupnya, paham dan pemikirannya, demikian halnya dengan perasaan, akhlaq, pendidikan, tradisi, tata susila, undang-undang dan peraturannya. Seluruhnya harus Islami, berdasarkan ajaran-ajaran Islam.[5]
            Keharusan Islam sebagai landasan berpijak dalam segala segi kehi-dupan merupakan suatu hal yang mutlak bila kita menginginkan ridho Allah, termasuk dalam kehidupan dunia. Isyarat ke arah tersebut banyak dijumpai dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi. Di dalam Al-Qur’an surat Al-Qashos ayat 77:
Artinya :
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.[6]  
            Ayat di atas merupakan anjuran untuk menyeimbangkan antara kebahagiaan akhirat, namun jangan melupakannya dan mau berusaha untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia, sehingga tidak akan mengabaikan diantara salah satunya.
Di dalam sejarah Islam sebenarnya telah banyak terlihat betapa agama menjadi indikasi dalam berusaha. Nabi sendiri telah memperlihatkan kemam-puan yang luar biasa di dalam berdagang terutama setelah kawin dengan Khadijah.[7]
            Hal yang sama juga dilakukan oleh para Khalifah, misalnya Usman bin Affan, selain sebagai Khalifah yang adil dan berhasil dalam berdagang. Demikian juga pada fase-fase selanjutnya khususnya periode Dinasti Abbasi-yah (Khalifah Al-Ma’mun) telah gigih dalam memajukan Islam, salah satunya adalah dengan mengembangkan penterjemahan buku-buku Islami ke dalam bahasa Arab.[8] Gerakan tersebut pada masa-masa selanjutnya memberikan pengaruh yang cukup besar di dalam kebangkitan dan kejayaan Islam.
            Hal di atas menunjukkan bahwa sejak masa Rasul, periode Khulafaur-rasidin dan periode Abbasiyah, bahwa agama benar-benar telah memberikan motivasi yang besar dalam membangkitkan atau meningkatkan semangat kerja umat Islam. Seandainya semangat kerja umat Islam dahulu tidak demikian tinggi-nya, maka kemungkinan umat Islam akan tetap menjadi umat Islam yang  ter-tindas dan terbelakang.
C.      kerja Menurut Tuntutan Islam
Islam menjadikan kerja sebagai tuntutan fardu atas semua umatnya selaras dengan dasar persamaan yang diisytiharkan oleh Islam bagi menghapuskan sistem yang membeza-bezakan manusia mengikut darjat atau kasta dan warna kulit. Firman Allah:È  
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu daripada lelaki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan berpuak-puak supava kamu berkenal-kenalan. Sesungguhnya orang yang termulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang taqwa.” (al-Hujurat: 13)
Dengan menggunakan segala unsur-unsur perbedaan derajat atau warna kulit itu maka jadilah kerja menurut Islam suatu tuntutan kewajiban yang menyeluruh atas setiap orang yang mampu bekerja untuk mencapai kebahagiaan individu dan juga masyarakat. Jadi tidaklah kerja itu hanya khusus untuk golongan hamba abdi seperti sebelumnya.
Firman Allah:“Dan katakanlah wahai Muhammad, beramallah kamu akan segala apa yang diperintahkan, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat apa yang kamu kerjakan.” (al-Taubah: 105)
Islam juga meningkatkan tuntutan kerja itu hingga ke tahap kewajiban agama. Oleh karena itu, tahap iman sentiasa dikaitkan oleh al-Quran dengan amal soleh atau perbuatan baik. Ini berarti Islam itu adalah akidah yang mesti diamalkan dan amalan yang mesti berakidah secara tidak terpisah. Seperti firman Allah:  
“Demi masa, sesungguhnya sekalian manusia dalam kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal soleh”. (al-Asr: 1-3)
D.     Kerja Sebagai Sumber Nilai
Islam menjadikan kerja sebagai sumber nilai insan dan ukuran yang tanggungjawabnya berbeda. Firman Allah:“Dan bahawa sesungguhnya tidak ada balasan bagi seseorang itu melainkan balasan apa yang diusahakan”. (al-Najm: 39)
Firman-Nya lagi:
9e“Dan bagi tiap-tiap seseorang beberapa derajat tingkatan balasan disebabkan amal yang mereka kerjakan dan ingatlah Tuhan itu tidak lalai dari apa yang mereka lakukan”. (al-An’am: 132).
Kerja sebagai sumber nilai manusia bererti manusia itu sendiri menentukan nilai atau harga ke atas sesuatu perkara itu. Sesuatu perkara itu pada zatnya tidak ada apa-apa nilai kecuali kerana nisbahnya kepada apa yang dikerjakan oleh manusia bagi menghasil, membuat, mengedar atau menggunakannya. Kerja juga merupakan sumber yang objektif bagi penilai prestasi manusia berasaskan segi kelayakan. Oleh yang demikian Islam menentukan ukuran dan syarat-syarat kelayakan dan juga syarat-syarat kegiatan bagi menentukan suatu pekerjaan atau jawatan itu supaya dapat dinilai prestasi kerja seseorang itu. Dengan cara ini, Islam dapat menyingkirkan perasaan pilih kasih dalam menilai prestasi seseorang sama ada segi sosial, ekonomi dan politik.
E.      Kerja Sebagai Sumber Pencarian
Islam mewajibkan setiap umatnya bekerja untuk mencari rezeki dan pendapatan bagi menyara hidupnya. Islam memberi berbagai-bagai kemudahan hidup dan jalan-jalan mendapatkan rezeki di bumi Allah yang penuh dengan segala nikmat ini. Firman-Nya:“Dan sesungguhnya Kami telah menetapkan kamu (dan memberi kuasa) di bumi dan Kami jadikan untuk kamu padanya (berbagai-bagai jalan) penghidupan.” (al-A’raf: 168)
Dan firman-Nya lagi:
“Dialah yang menjadikan bumi bagi kamu mudah digunakan, maka berjalanlah di merata-rata ceruk rantaunnya, serta makanlah dari rezeki yang dikurniakan Allah dan kepada-Nya jualah dibangkitkan hidup semula.” (al-Mulk: 15)
Islam memerintahkan umatnya mencari rezeki yang halal kerana pekerjaan itu adalah bagi memelihara marwah dan kehormatan manusia. Firman Allah:
“Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah: 168)
Sabda Nabi (s.a.w) bermaksud:
“Mencari kerja halal itu wajib atas setiap orang Islam.”
Oleh yang demikian Islam mencela kerja meminta-minta atau mengharapkan pertolongan orang lain kerana ianya boleh merendahkan harga diri atau maruah. Dalam sebuah hadis Rasulullah (s.a.w) bermaksud:
“Bahawa sesungguhnya seseorang kamu pergi mengambil seutas tali kemudian mengikat seberkas kayu api lalu menjualnya hingga dengan sebab itu ia dapat memelihara harga dirinya, adalah lebih baik daripada ia pergi meminta-minta kepada orang sama ada mereka rnemberinya atau menolaknya.”
F.       Kerja Sebagai Asas Kemajuan Umat
Islam mewajibkan kerja untuk tujuan mendapatkan mata pencarian hidup dan secara langsung mendorongkan kepada kemajuan sosioekonomi. Islam mengambil perhatian yang bersungguh-sungguh terhadap kemajuan umat, kerana itu ia sangat menekankan kemajuan di peringkat masyarakat dengan menggalakkan berbagai kegiatan ekonomi yang sama di sekitar pertanian, perusahaan dan perniagaan. Dalam hadis Rasulullah (s.a.w) sangat kelihatan dorongan ke arah kemajuan ekonomi di sektor tersebut, sebagai contoh:
1. Di bidang Pertanian
Sabda Rasulullah s.a.w bermaksud:
“Tidaklah seseorang mukmin itu menyemai akan semaian atau menanam tanaman lalu dimakan oleh burung atau manusia melainkan ianya adalah menjadi sedekah”.
2. Di bidang Perusahaan
Sabda Rasulullah s.a.w. bermaksud:
“Sebaik usaha ialah usaha seorang pengusaha apabila ia bersifat jujur dan nasihat- menasihati.
3. Di bidang Perniagaan
Rasulullah (s.a.w) pernah meletakkan para peniaga yang jujur dan amanah kepada kedudukan yang sejajar dengan para wali, orang-orang yang benar, para syuhada’ dan orang-orang soleh dengan sabda bermaksud:
“Peniaga yang jujur adalah bersama para wali, orang-orang siddiqin, para syuhada’ dan orang-orang soleh”.
Baginda juga menyatakan bahawa sembilan persepuluh daripada rezeki itu adalah pada perniagaan.
G.     Islam Menolak Pengangguran
Islam menuntut umatnya bekerja secara yang disyariatkan atau dibenarkan menurut syarak untuk menjamin kebaikan bersama dengan menghindarkan dari meminta-minta dan sebaliknya hendaklah berdikari. Islam sentiasa memandang berat dan menyeru umatnya untuk bekerja dan berusaha mencari rezeki. Rasulullah bersabda:
عَنْأَبِىهُرَيْرَةَقَالَقَالَرَسُولُاللَّهِصلىاللهعليهوسلم– « الْمُؤْمِنُالْقَوِىُّخَيْرٌوَأَحَبُّإِلَىاللَّهِمِنَالْمُؤْمِنِالضَّعِيفِوَفِىكُلٍّخَيْرٌاحْرِصْعَلَىمَايَنْفَعُكَوَاسْتَعِنْبِاللَّهِوَلاَتَعْجِزْوَإِنْأَصَابَكَشَىْءٌفَلاَتَقُلْلَوْأَنِّىفَعَلْتُكَانَكَذَاوَكَذَا. وَلَكِنْقُلْقَدَرُاللَّهِوَمَاشَاءَفَعَلَفَإِنَّلَوْتَفْتَحُعَمَلَالشَّيْطَانِ ». (رواهمسلم)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW., bersabda : “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada  seorang mukmin yang lemah. Dan masing-masing ada kebaikannya. Bersunguh-sungguhlah mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah lemah !. Kalau anda tertimpa sesuatu, janganlah anda mengatakan : “seandainya saya berbuat begini mungkin hasilnya seperti ini atau begitu, tetapi katakanlah : apa yang telah ditentukan Allah dan apa yang dikehendakinya pasti akan terjadi. Karena ucapan seandainya itu akan memberi jalan bagi setan. (H.R. Muslim)
Rasulullah saw memberi pesan kepada kita tentang Konsep bekerja (ber’amal):
1.      Bekerja professional terhadap sesuatu pekerjaan yang bermanfaat. Manfaat yang dimaksud tentunya manfaat dunia dan akhirat, karena sesudah selesainya kehidupan didunia akan ada lagi kehidupan diakhirat, dan baik buruknya kualitas kehidupan di akhirat ditentukan oleh perbuatan manusia itu ketika hidup didunia.
2.      Selalu berdo’a kepada Allah minta pertolongan dan keberhasilan terhadap apa yang sedang di kerjakan, karena akhir daripada semua pekerjaan adalah Allah yang menentukan, manusia hanya berusaha. “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. 76:30)
3.      Jangan lemah. Terus bekerja, semangat Konsep jangan mundur terhadap halangan dan rintangan yang dihadapi.
4.      Jika pekerjaan tersebut telah maksimal dikerjakan sesuai dengan poin pertama, kedua dan ketiga ternyata hasilnya belum seperti apa yang diharapkan, maka Rasulullah saw perpesan agar jangan mengatakan : seandainya dulu saya tidak berbuat begini mungkin hasilnya tidak seperti ini, tapi katakanlah : apa yang telah ditentukan Allah dan apa yang dikehendakinya pasti akan terjadi. Karena ketika mengucapkan seandainya maka pada saat itu kita membuka jalan bagi setan untuk masuk kadalam hati kita, dan setan itu akan mengganggu pikiran. Akhirnya seseorang terkadang tidak mampu menghadapi kenyataan hidup yang ia hadapi.
Dari hadis tersebut Islam melarang dan mencegah umatnya meminta-minta dan menganggur. Baginda sering mengarahkan orang yang datang meminta, supaya mereka bekerja umpamanya, suatu ketika seorang fakir datang meminta-minta kepada baginda lalu baginda bertanya: “Adakah anda memiliki sesuatu?” “Tidak”, kata lelaki itu. Baginda bertanya lagi dengan bersungguh-sungguh, lalu lelaki itu menjawab: “Saya ada sehelai hamparan yang separuhnya kami jadikan alas duduk dan separuhnya lagi kami buat selimut dan ada sebuah mangkuk yang kami gunakan untuk minum”.Maka baginda bersabda kepadanya: “Bawakan kedua-dua benda itu kepada saya”. Lalu dibawanya kedua-dua barang itu, kemudian Nabi tunjukkan barang itu kepada orang yang berada di sisi baginda kalau ada yang hendak membelinya. Akhirnya baginda dapat menjualnya dengan harga dua dirham dan diberikan uang tersebut kepada lelaki itu sambil baginda berkata: “Belilah makanan untuk keluargamu dengan satu dirham manakala satu dirham lagi belikanlah sebilah kapak”. Kemudian Rasulullah (s.a.w) meminta lelaki itu datang lagi, lalu lelaki itupun datang dan baginda telah membubuhkan hulu kapak itu dan menyuruh lelaki itu pergi mencari kayu api sambil baginda mengatakan kepada lelaki itu supaya lelaki itu tidak akan berjumpa lagi dalam masa 15 hari. Lelaki itu pergi dan kembali lagi selepas 15 hari sambil membawa datang 10 dirham, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, Allah telah memberkati saya pada kerja yang tuan suruh saya itu.” Maka baginda Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Itu adalah lebih baik daripada anda datang pada hari kiamat kelak sedang pada muka anda bertanda kerana meminta-minta.
Berdasarkan kepada banyak hadis mengenai perkara ini, para ulama membuat kesimpulan bahawa larangan meminta-minta itu bukanlah sekadar perintah bersifat akhlak saja, bahkan orang yang menjadikan kerja meminta-minta itu sebagai “profesion”, hendaklah dikenakan hukuman.
H.     Kesimpulan
Berdasarkan kepada keterangan ayat-ayat al-Quran dan hadis Rasulullah (s.a.w) dengan uraian-uraian seperti yang disebutkan dapatlah dibuat kesimpulan bahawa Islam sangat menganjurkan terhadap “kerja” dengan menjelaskan konsep kerja itu dan kedudukannya yang tinggi dalam ajaran Islam. Ringkasnya, kita dapat simpulkan seperti berikut:
kerja menurut konsep Islam adalah segala yang dilakukan oleh manusia yang meliputi kerja untuk dunia dan kerja untuk akhirat.
Kerja untuk kehidupan dunia sama ada yang bercorak aqli/mental (white collar job) atau bercorak jasmani (blue collar job) adalah dipandang sama penting dan mulia di sisi Islam asal sahaja dibolehkan oleh syarak.
Islam mewajibkan kerja ke atas seluruh umatnya tanpa mengira darjat, keturunan atau warna kulit, kerana seluruh umat manusia adalah sama di sisi Allah, melainkan kerana taqwanya.
Masyarakat Islam adalah sama-sama bertanggungjawab dan bekerjasama melalui kerja masing-masing. Berdasarkan kebolehan dan kelayakan serta kelayakan bidang masing-masing kerana segala kerja mereka adalah bersumberkan iman dan bertujuan melaksanakan amal soleh.
Kerja adalah asas penilaian manusia dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya sebagai khalifah Allah dan hamba-Nya untuk memakmurkan bumi ini dan sekaligus pula beribadat kepada Allah, Tuhan Pencipta alam.
Kerja merupakan cara yang tabi’i untuk manusia mencari nafkah bagi menyara hidup dan keluarga melalui berbagai sektor pekerjaan dan perusahaan yang sedia terbuka peluangnya dengan persediaan dan kemudahan alam yang Allah sediakan di atas muka bumi ini.
Islam melarang/menolak pengangguran kerana ia akan mendedahkan kepada kelemahan dan kefakiran dan jatuhnya maruah diri/ummah, kerana Islam menghendaki setiap umatnya bermaruah dan berdikari, tidak meminta-minta dan berharap kepada bantuan dan belas kasihan orang lain, bahkan sebaliknya hendaklah menjadi umat yang kuat dan mampu membela mereka yang lemah dan tertindas agar seluruh manusia menikmati keadilan dan rahmat yang dibawa oleh Islam sebagai agama atau “ad-Din” yang tertinggi dan mengatasi seluruh kepercayaan dan ideologi manusia. Firman Allah S.W.T bermaksud: “Dialah Allah yang mengutuskan Rasul-Nya (Muhammad) dengan membawa petunjuk dan agama yang benar (Islam) supaya ia meninggikan atas segala agama yang lain, walaupun orang musyrik membencinya”.

[1]Dr. Nur Ahmad Fadhil Lubis & Azhari Akmal Tarigan, Etika Bisnis Dalam Islam, (Jakarta: Hijri Pustaka Utama, 2002), h. 105.
[2]Redi Panuju, Etika Bisnis: Tujuan Empiris dan Kiat Mengembangkan Bisnis Sehat, (Jakarta: Grasindo, 1990), h. 81-82.
[3]Ibid.,
[4]Ibid, h. 88.
[5]Yusuf Qardawi, Pedoman Idiologi Islam, Terj., (Bandung; Gema Risalah Press, 1995), h. 55.
[6]Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta; PT. Bumi Restu, 1982), h. 623.
[7]Philip K. Hitti, History of The Arabs, (London; The Macmilan Press, Ltd, 1974), h. 112.

[8]Effat Al Sarkawi, Filsafat Kebudayaan Islam, judul asli: Falsafah Al Hadarah  Al Islamiyah, Terj. Ahmad Rofilsamami, (Bandung; Pustaka ITB, 1993), h. 84.

http://rahmatdaimharahap.blogspot.com/2011/01/konsep-bekerja-menurut-pandangan-islam.html

——————————————————–

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0
false

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Konsep Bekerja Menurut Kajian Islam

“Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan.” (At Taubah : 105).  Dalam menafsirkan At Taubah ayat 105 ini, Quraish Shihab menjelaskan dalam kitabnya Tafsir Al-Misbah sbb : “Bekerjalah Kamu, demi karena Allah semata dengan aneka amal yang saleh dan bermanfaat, baik untuk diri kamu maupun untuk masyarakat umum, maka Allah akan melihat yakni menilai dan memberi ganjaran amal kamu itu”,  Tafsir dari melihat dalam keterangan diatas adalah menilai dan memberi ganjaran terhadap amal-amal itu.  Sebutan lain daripada ganjaran adalah imbalan atau upah atau compensation.

 

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl : 97).

 

Dalam menafsirkan At Nahl ayat 97 ini, Quraish Shihab menjelaskan dalam kitabnya Tafsir Al-Misbah sbb :

 

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, apapun jenis kelaminnya, baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia adalah mukmin yakni amal yang dilakukannya lahir atas dorongan keimanan yang shahih, maka sesungguhnya pasti akan kami berikan kepadanya masing-masing kehidupan yang baik di dunia ini dan sesungguhnya akan kami berikan balasan kepada mereka semua di dunia  dan di akherat dengan pahala yang lebih    baik dan   berlipat  ganda dari  apa   yang telah mereka kerjakan“.

 

Tafsir dari balasan dalam keterangan d iatas adalah balasan di dunia dan di akherat.  Ayat ini menegaskan bahwa balasan atau imbalan bagi mereka yang beramal saleh adalah imbalan dunia dan imbalan akherat.  Amal Saleh sendiri oleh Syeikh Muhammad Abduh didefenisikan sebagai segala perbuatan yang berguna bagi pribadi, keluarga, kelompok dan manusia secara keseluruhan.6 Sementara menurut Syeikh Az-Zamakhsari, Amal Saleh adalah segala perbuatan yang sesuai dengan dalil akal, al-Qur’an dan atau Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.7 Menurut Defenisi Muhammad Abduh dan Zamakhsari diatas, maka seorang yang bekerja pada suatu badan usaha (perusahaan) dapat dikategorikan sebagai amal saleh, dengan syarat perusahaannya tidak memproduksi/menjual atau mengusahakan barang-barang yang haram.  Dengan demikian, maka seorang karyawan yang bekerja dengan benar, akan menerima dua imbalan, yaitu imbalan di dunia dan imbalan di akherat.

 

“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik.” (Al Kahfi : 30).

 

Berdasarkan tiga ayat diatas, yaitu  At-Taubah 105, An-Nahl 97 dan  Al-Kahfi 30, maka Imbalan dalam konsep Islam menekankan pada dua aspek, yaitu dunia dan akherat.  Tetapi hal yang paling penting, adalah bahwa penekanan kepada akherat  itu lebih penting daripada penekanan  terhadap    dunia    (dalam   hal   ini     materi) sebagaimana semangat dan jiwa Al-Qur’an surat Al-Qhashsash ayat 77.

 

Surat At Taubah 105 menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kita untuk bekerja, dan Allah pasti membalas semua apa yang telah kita kerjakan. Yang paling unik dalam ayat ini adalah penegasan Allah bahwa motivasi atau niat bekerja itu mestilah benar.  Sebab kalau motivasi bekerja tidak benar, Allah akan membalas dengan cara memberi azab. Sebaliknya, kalau motivasi itu benar, maka Allah akan membalas pekerjaan itu dengan balasan yang lebih baik dari apa yang kita kerjakan (An-Nahl : 97).

 

Lebih jauh Surat An-Nahl : 97 menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan gender dalam menerima upah / balasan dari Allah.  Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada diskriminasi upah dalam Islam, jika mereka mengerjakan pekerjaan yang sama.  Hal yang menarik dari ayat ini, adalah balasan Allah langsung di dunia (kehidupan yang baik/rezeki yang halal) dan balasan di akherat (dalam bentuk pahala).

 

Sementara itu, Surat Al-Kahfi : 30 menegaskan bahwa balasan terhadap pekerjaan yang telah dilakukan manusia, pasti Allah balas dengan adil.  Allah tidak akan berlaku zalim dengan cara menyia-nyiakan amal hamba-Nya.  Konsep keadilan dalam upah inilah yang sangat mendominasi dalam setiap praktek yang pernah terjadi di negeri Islam.

 

Lebih lanjut kalau kita lihat hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang upah yang diriwayatkan oleh Abu Dzar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

 

“ Mereka (para budak dan pelayanmu) adalah saudaramu, Allah menempatkan mereka di bawah asuhanmu; sehingga barang siapa mempunyai saudara di bawah asuhannya maka harus diberinya makan seperti apa yang dimakannya (sendiri) dan memberi pakaian seperti apa yang dipakainya (sendiri); dan tidak membebankan pada mereka dengan tugas yang sangat berat, dan jika kamu membebankannya dengan tugas seperti itu, maka hendaklah membantu mereka (mengerjakannya).” (HR. Muslim).

 

“Dari Miqdan r.a. dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda: Tidaklah makan seseorang lebih baik dari hasil usahanya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud a.s., makan dari hasil usahanya sendiri.” (H.R. Bukhari) “Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Sesungguhnya Nabi Daud a.s., tidak makan kecuali dari hasil usahanya sendiri.” (HR. Bukhari)

 

“Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka itu lebih baik, daripada ia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya ataupun tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

“Dari Abu Abdullah Az-Zubair bin Al-‘Awwam r.a., ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Sungguh seandainya salah seorang di antara kalian mengambil beberapa utas tali, kemudian pergi ke gunung dan kembali dengan memikul seikat kayu bakar dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberi ataupun tidak.” (HR. Bukhari)

 

“Dalam sebuah hadits Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah” (Hadits Riwayat Ahmad & Ibnu Asakir )

 

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya, Pekerjaan apakah yang paling baik? Beliau menjaawab, Pekerjaan terbaik adalah usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan semua perjualbelian yang dianggap baik,” (HR Ahmad dan Baihaqi).

 

Dalam hadits-hadits yang disebutkan di atas, menunjukkan bahwa bekerja merupakan perbuatan yang sangat mulia dalam ajaran Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan pelajaran menarik tentang pentingnya bekerja. Dalam Islam bekerja bukan sekadar memenuhi kebutuhan perut, tapi juga untuk memelihara harga diri dan martabat kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Karenanya, bekerja dalam Islam menempati posisi yang teramat mulia. Islam sangat menghargai orang yang bekerja dengan tangannya sendiri.

 

Ketika seseorang merasa kelelahan atau capai setelah pulang bekerja, maka Allah Subhanhu Wa Ta’ala mengampuni dosa-dosanya saat itu juga. Selain itu, orang yang bekerja, berusaha untuk mendapatkan penghasilan dengan tangannya sendiri baik untuk membiayai kebutuhannya sendiri ataupun kebutuhan anak dan isteri (jika sudah berkeluarga), dalam Islam orang seperti ini dikategorikan jihad fi sabilillah. Dengan demikian Islam memberikan apresiasi yang sangat tinggi bagi mereka yang mau berusaha dengan sekuat tenaga dalam mencari nafkah (penghasilan).

 

Kerja juga berkait dengan martabat manusia. Seorang yang telah bekerja dan bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya akan bertambah martabat dan kemuliannya. Sebaliknya, orang yang tidak bekerja alias menganggur, selain kehilangan martabat dan harga diri di hadapan dirinya sendiri, juga di hadapan orang lain. Jatuhnya harkat dan harga diri akan menjerumuskan manusia pada perbuatan hina. Tindakan mengemis, merupakan kehinaan, baik di sisi manusia maupun di sisi Allah Subhanhu Wa Ta’ala.

 

Seperti hadits di atas Rasulullah menutarakan bahwa orang yang pergi ke gunung dengan membawa seutas tali untuk mencari kayu bakar yang kemudian ia jual, maka apa yang dihasilkan dari menjual kayu bakar itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada sesama manusia.

 

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta para sahabat pekerja keras. Bahkan beberapa sahabat merupakan saudagar kaya yang kerap kali memberikan hartanya untuk membiayai pasukan Islam tatkala harus bertempur dengan musuh-musuh Islam.  Bekerja dalam Islam akan mendapatkan pahala, kenapa? Jawabannya sederhana, karena bekerja dalam konsep Islam merupakan kewajiban atau fardhu. Dalam kaidah fiqh, orang yang menjalankan kewajiban akan mendapatkan pahala, sedangkan mereka yang meninggalkannya akan terkena sanksi dosa. Tentang kewajiban bekerja, Rasulullah bersabda, Mencari rezeki yang halal itu wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa dan sebagainya), (HR ath-Thabrani dan al-Baihaqi)

 

Karena bekerja merupakan kewajiban, maka tak heran jika Umar bin Khaththab pernah menghalau orang yang berada di masjid agar keluar untuk mencari nafkah. Umar tak suka melihat orang yang pada siang hari tetap asyik duduk di masjid, sementara sang mentari sudah terpancar bersinar.

 

Akan tetapi perlu diingat bahwa yang dimaksud dalam hadits-hadits di atas adalah orang yang bekerja sesuai dengan ajaran Islam. Bekerja pada jalur halal dan bukan bekerja dengan pekerjaan yang diharamkan oleh Allah. Allah Subhanhu Wa Ta’ala. telah membentangkan bumi dan langit ini adalah sebagai karunia yang teramat besar untuk seluruh umat manusia. Yuk kita makmurkan bumi ini melalui kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas, agar pintu keberkahan mengalir ke segala penjuru bumi ini, amin. (Ibn S/Red/12/09). 

 

http://www.babinrohis-nakertrans.org/

Dikutip dan Ringkas Judul oleh situs Dakwah Syariah

 


Sumber: http://dakwahsyariah.blogspot.com/2012/02/konsep-bekerja-menurut-kajian-islam.html#ixzz2qvvC5bUn

————————————

Konsep Kerja Menurut Pandangan Islam

Majoriti manusia menghabiskan masa dewasanyatiga puluh tahun atau lebih untuk bekerja selama lapan jam sehari dalam dunia pekerjaan. Dan adalah salah sekiranya berpegang kepada hakikat bahawa pekerjaan merupakan beban yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Terdapat bukti yang jelas bahawa manusia memerlukan pekerjaan malah pekerjaan merupakan salah satu aktiviti yang tidak dapat dipisahkan daripada kehidupan manusia. Sejak dari nabi Adam as hingga ke zaman kini, manusia menjadikan pekerjaan sebagai sebahagian besar daripada pusingan hidup mereka. Sememangnya pekerjaan menjadi gelanggang tempat manusia berjuang dan bresaing sebagai salah satu proses memajukan diri dan menyambung usia hidup.

Dalam Islam, pekerjaan mempunyai taraf kemuliaan yang tinggi yang tidak ada tolok bandingnya dengan agama dan juga kebudayaan lain. Islam memandang tinggi setiap pekerjaan yang diakui sah dari segi hukum sebagaimana penghormatan yang diberikan oleh Rasulullah terhadap pengikutnya yang pernah mengajukan soalan kepada baginda yang bermaksud : “Hai Rasulullah, apakah pendapat tuan mengenai kerja saya? Baginda bertanya : Apakah pekerjaan kamu? Jawab orang itu : Pembuat pukat. Lalu baginda bersabda : Pekerjaan kamu adalah pekerjaan bapa kita nabi Adam as. Ia adalah orang yang pertama menjalin pukat yang diajar oleh Jibril.”

Penegasan Islam tentangnya pentingnya pekerjaan dapat dilihat dalam al-Quran dan Hadith-hadith Rasulullah saw yang akan dijadikan landasan perbincangan dalam bab ini. Allah swt berfirman yang bermaksud : :” Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasulnya serta orang orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu lerjakan”. (Surah at-Taubah ayat 105). Menurut penjelasan Sunnah Rasulullah saw bahawa kesemua para Nabi as biarpun tinggi darjat mereka, mereka telah menjadikan pekerjaan sebagai landasan hidup masing-masing. Adam telah mengambil bahagian dalam pertanian, Nuh dalam perniagaan, Daud dalam pertukangan besi, Musa dalam penulisan, Zakaria sebagai seorang tukang kayu dan begitulah juga para nabi selain mereka.

Konsep Kerja Sebagai Ibadah

Pertama : Pekerjaan hendaklah yang dihalalkan syarak. Pekerjaan hendaklah bukan yang haram seperti menjual arak, membawa lori arak, jual dadah, pusat hiburan sebab bergelut dengan maksiat. Pekerjaan yang baik ialah pekerjaan seperti tukang sapu, doktor, guru dan sebagainya.

Kedua : Diiringi dengan niat yang baik dan ikhlas kerana Allah. Niat yang baik bermaksud niat untuk menyara diri, keluarga, memberi manfaat kepada ummah serta membangunkan bumi (negara) menerusi cara-cara yang diizinkan oleh syarak. Lantaran itu pekerjaan yang dilakukan hendaklah bersih daripada segala campuran dengan sifat-sifat ingin menonjol, ingin disanjung, dipuja dan lain-lain sifat riak dan sombong. Penegasan Islam ialah kepada kesempurnaan tugas, kejujuran dan keikhlasan niat mereka dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Rasulullah saw pernah bersabda ang bermaksud : “Sesungguhnya suatu pekerjaan itu bergantung atau dikira pada niatnya.”

Ketiga : Melakukan pekerjaan dengan bersungguh-sungguh, tekun dan sebaik-baik mungkin. Kesungguhan bekerja dan menyempurnakan amanah dalam lingkungan kepakaran dan kecekapan ini dituntut oleh Islam dan hal ini dinyatakan dalam sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Sesungguhnya Allah itu suka jika seseorang daripada kamu membuat sesuatu pekerjaan dengan tekun dan sebaik-baiknya.” Manusia dijadikan oleh Allah swt untuk bekerja dan bekerja kerana Allah itu adalah suatu perhambaan kepadaNya. Orang Islam mesti berusaha bersungguh-sungguh dan melipat gandakan usaha mereka untuk meningkatkan produktiviti dan keimanan mereka. Allah akan memberikan balasan yang berlipat ganda kepada mereka yang melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya, sebagaimana firmanNya yang bermaksud : “Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik lelaki atau perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan yang baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Keempat : Menjaga batas-batas Allah swt dan menghormati dasar-dasar akhlak dengan tidak melakukan kezaliman, pengkhianatan, penipuan, melampaui hak orang lain termasuk penyalahgunaan kemudahan, peluang, harta dan kuasa. Syariat Islam diturunkan untuk menjaga agama, nyawa, akal, keturunan dan harta. Jika kelima-lima faktor ini dijaga maka kepincangan tidak akan berlaku sama ada di dunia Barat mahupun Timur.

Batas-batas Allah swt dan dasar-dasar akhlak ini diturunkan agar sesuatu pekerjaan itu dilakukan atas prinsip-prinsip kemanusiaan dan peradaban semoga yang dilakukan dapat menyumbangkan kebajikan dan perkhidmatan yang maksima di samping dapat meningkatkan produktiviti organisasi.

Sebaliknya jika kerja-kerja yang dilakukan dan diusahakan atas dasar penipuan, kezaliman, penyelewengan, pemerasan dan sebagainya maka sudah pastilah tidak dapat mencapai kepada matlamat untuk meningkatkan martabat pekerjaan itu daripada adat kebiasaan bekerja seharian kepada martabat ibadah yang disediakan oleh Allah ganjarannya di akhirat nanti.

Kelima : Pekerjaan yang dilakukan itu tidak menghalang pekerjanya daripada menunaikan kewajipan kepada Allah swt. Ini termasuklah mengabaikan kewajipan terhadap ibadat khusus seperti sembahyang, zakat, puasa dan haji. Penyusunan giliran dan masa bekerja yang boleh mencuaikan kewajipan pokok kepada Allah swt adalah suatu perkara yang bertentangan dengan syariat Allah swt. Antara sifat mereka yang beriman adalah seperti yang digambarkan oleh Allah swt ialah seperti yang difirmankan.


Matlamat Kerja Dalam Islam

Dalam Islam, kerja membawa pengertian yang lebih luas daripada bukan setakat aspek ekonomi semata-mata. Matlamat sesuatu pekerjaan mengikut falsafah Islam tidak mengutamakan keseronokan, kesenangan dan keselesaanyang dapat memenuhi segala keinginan hawa nafsu yang tidak terbatas, tetapi yang ditekankan ialah sesuatu pekerjaan yang dapat membawa manusia memenuhi tuntutan Allah ke atas dirinya sebagai hamba. Firman Allah swt yang bermaksud : “Dia yang menjadikan bumi untukmu dengan mudah kamu jalani, maka berjalanlah kamu beberapa penjurunya dan makanlah rezeki Allah, dan kepadaNya (kamu) berbangkit.” Dan firmanNya : “Di antara rahmatNya, ialah mengadakan untukmu malam dan siang supaya bersenag-senang pada waktu malam hari dan mencari kurniaNya (penghidupan siang hari), mudah-mudahan kamu bersyukur kepadaNya.”

Islam melarang pekerjaan yang dilakukan semata-mata untuk pekerjaan itu atau mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya tanpa mengambil kira tuntutan agama ke atas harta yang dikumpulkan. Dalam hubungan ini, di antara matlamat pekerjaan ialah agar tertunai tuntutan zakat yang menjadi nadi kepada pembangunan ekonomi Islam dan sebagai amalan mujahid atau berkorban. Jelas kepada kita bahawa Islam mahu supaya wujud kesepaduan atau integrasi di antara kerja dan ibadat, dunia dan akhirat, jasmani dan rohani. Firman Allah swt ang bermaksud : “Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerosakan (di muka bum). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerosakan.”

Bertolak dari konsep kesepaduan ini, Islam menekankan bahawa pengendalian sesuatu kerja sama ada kecil atau besar, berat atau ringan mestilah meletakkan Allah Rabbul Alamiin sebagai asas kesempurnaan. Ini berasaskan kepada kehendak semulajadi insan itu sendiri seperti yang dinyatakan dalam al-Quran yang bermaksud : “Tidak aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk (menyembah) beribadah kepadaku.” Umat Islam juga melafazkan : “Kepadamu kami menyembah dan kepadamu kami meminta pertolongan.”

Umat Islam juga bersumpah “bahawa sesungguhnya hidupku dan matiku adalah kerana Allah Tuhan semesta alam.” Iaitu ulangan yang kita sebut sekurang-kurangnya lima kali sehari semasa mendirikan sembahyang. Oleh itu, tepat sekali bahawa setiap pengendalian hidup ini berkait terus dengan Allah swt dan kepadanya diserahkan segala keputusan sama ada berjaya atau gagal. Walau apapun keputusanNya nanti,manusia perlu bersyukur dan seterusnya menerima tanpa putus asa.

Islam meletakkan matlamat bekerja untuk mencari rezeki bagi menampung keperluan diri dan keluarga dalam kategori amal jihad sebagaimana jihad memperjangkan dan mempertahankan agama Islam. Oleh itu Islam meletakkan amalan pekerjaan (untuk menampung keperluan diri dan keluarga) sejajar dengan amalan tersebut sepertimana firmanNya yang bermaksud : “Dan yang lain akan berpergian di muka bumi mencari sebahagian kurniaan Allah manakala yang lain pula berjihad (berjuang) di jalan Allah.”

Islam mewajibkan setiap muslim bekerja untuk menghasilkan manfaat pada dirinya sendiri dan masyarakat. Ia bebas memilih pekerjaan yang disukainya mengikut persediaan dan keperluannya berdasarkan kecenderungan, kebolehan, kepakaran dan bakat dalam menghasilkan kekuatan ekonomi bagi kehidupannya dan masyarakat sekaligus untuk menjamin kelangsungan generasi manusia di alam ini. Oleh sebab itu Islam memberi peluang pekerjaan kepada semua individu dengan menjamin kebebasan untuk memilih pekerjaan.

Pekerjaan dalam Islam merupakan kewajipan masyarakat yang dihubungkan dengan prinsip-prinsip akhlak yang mulia, bertaut dengan ibadah dan untuk mencari keredhaan Allah. Pekerjaan menghubungkan individu dengan kehidupan bermasyarakat sehingga dapat dirasakan peranan mereka, dapat mempertingkatkan ketinggian akhlak individu dalam menghasilkan hubungan yang erat sesama mereka, menyuburkan perasaan kasih sayang, hormat menghormati hingga sanggup berkongsi suka duka, kesusahan dan kesenangan.

Etika Kerja Islam

Etika merupakan ilmu berkenaan prinsip moral atau nilai akhlak atau tingkah laku yang menjadi pegangan seseorang individu atau sesuatu kumpulan. Setiap organisasi mempunyai etikanya tersendiri yang tidak sama dengan organisasi lain. Prinsip moral dan kesedaran akhlak ini tidak boleh dicapa i oleh seseorang tanpa menjalin perhubungan sosial dengan orang lain. Budaya kerja dalam Islam merujuk kepada satu set nilai atau sistem kepercayaan yang dititip daripada al-Quran dan as-Sunnah mengenai kerja. Sememangna etika kerja ISlam menuntut hubungan secara cemerlang dengan pelabagai aspek kehidupan termasuk aspek sosial, politik dan ekonomi.

Antara etika tersebut meliputi Etika Pakaian (meliputi pakaian yang sesuai, selesa dan tidak mencanggahi syarak), Etika Kelakuan dan Sikap (amanah, bertanggungjawab, bersungguh-sungguh dan meninggalkan sifat mazmumah), Etika Bentuk Pekerjaan (halal dan bersesuaian) dan Etika Pengurusan Masa dan Harta antaranya mengeluarkan zakat pada harta yang lebih, bersedekah dan tidak membazir masa dan harta.

Islam adalah satu cara hidup yang bersifat menyeluruh, bersifat fitrah dan sederhana. Islam juga adalah suatu agama yang menggalakkan manusia bekerja malah al-Quran dan as-Sunnah itu sendiri telah mencirikan budaya atau etika kerja Islam yang berbeza dengan etika kerja lain secara ketara. Oleh keran al-Quran bukan suatu penulisan falsafah, tidak juga kitab yang membicarakan tentang epistemologi, maka ia tidak menyebut tentang pendefinisian etika kerja. Walau bagaimanapun penegasan tentang etika kerja ini boleh diketahui dengan jelas menerusi konsep-konsep utama dalam ayat-ayat al-Quran itu sendiri. Beberapa konsep yang sering ditemui dalam al-Quran mempunyai hubungan rapat dengan etika antarana konsep Amal Soleh, Birr, Taqwa, al-Qist, al-Ma’ruf dan Ihsan (atau Hassan).

Ciri-ciri Etika Kerja Islam

  • Bekerja dengan azam mengabdikan diri kepada Allah swt

Dengan menyedari dan menghayati bahawa manusia adalah  hamba Allah, maka sewajarnyalah setiap manusia mengabdikan dirinya kepada Allah swt dengan mengikuti segala suruhanNya dan menjauhi segala laranganNya selaras dengan firman Allah swt yang bermaksud : “Wahai sekalian manusia, sembahlah Tuhan kamu yang menciptakan kamu dan orang-orang yang terdahulu daripada kamu supaya kamu bertaqwa.” Berikutnya dikemukakan satu lagi firman Allah yang bermaksud : “Wahai orang-orang yang berilmu, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan kepada orang-orang yang berkuasa dari kalangan kamu.”

Ayat ini pula menyuruh kita taat bukan sahaja kepada Allah tetapi juga kepada Rasulullah saw dan kerajaan kerana kerajaan itulah yang dimaksudkan dengan ‘orang kuasa dari kalangan kamu’. Bagi mentaati Allah dan Rasulullah maka setiap manusia mestilah mempunyai kerja yang halal. Bagi mentaati kerajaan pula setiap pekerja awam mestilah menjalankan tugasnya dengan sepenuh kesedaran bahawa jawatannya itu adalah amanah Allah kepadanya. Sekiranya ia tidak menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya, maka bererti pekerja tersebut telah melanggar amanah Allah. Dengan memahami keterangan tadi maka sewajarnyalah bagi setiap pekerja berusaha menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat kelak.

  • Bekerja dengan ikhlas dan amanah

Bekerja dengan aikhlas bererti bekerja dengan penuh kerelaan dan dengan suci hati untuk mencari keredhaan Allah. Setiap pekerja harus menyedari bahawa jawatan yang dipegangnya adalah hasil permohonannya sendiri dan bukannya ia dipaksa memenuhi jawatan tersebut. Islam juga memberi penekanan yang berat terhadap konsep amanah dalam kerja iaitu tanggungjawab. Firman Allah swt yang bermaksud : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan, meskipun seberat zarah, akan dilihatNya (balasan) kejahatan itu.” Jika manusia tidak mempunyai sikap amanah dalam perkerjaan, maka ia sebenarnya telah melakukan kerosakan atau penyelewengan (fasad) dan dengan itu ia telah mengkhianati amanah yang telah diterimanya sejak alam roh lagi. Konsep amanah yang dipegang oleh pekerja sama ada sebagai pengarah atau seorang pelayan pejabat tidak terbatas kepada skop pemerhatian manusia sahaja tetapi lebih daripada itu tanggungjawab amanah kepada Allah swt.

Melalui konsep ini Islam mengajar manusia supaya sentiasa berwaspada dan menilai dengan segala amal perbuatan menurut ukuran syarak iaitu kepercayaan kepada adanya hari akhirat dan perhitungan yang akan menentukan balasan baik atau sebaliknya. Bukan hanya berdasarkan melaksanakan tugas dan tanggungjawab melalui sistem rekod, kad perakam waktu, laporan penilaian prestasi dan sebagainya.

Pengurusan organisasi kerja menurut falsafah Islam bertujuan melahirkan manusia yang produktif dari segi amal solehnya, bukan dari segi perbuatan fasadnya. Hari ini kebanyakan organisasi kerja mengakui mereka produktif kerana mempunyai aset yang banyak, tenaga kerja yang mahir, peralatan dan sistem yang canggih. Tetapi di sebalik kehebatan lahiriah itu, berlakulah keruntuhan dari aspek kemanusiaan dengan segala bentuk penyelewengan dan pengkhianatan sehingga menimbulkan keadaan kucar-kacir dalam organisasi kerja.

Islam memberi penekanan konsep amanah keada Allah swt dan juga kepada majikan dalam melaksanakan sesuatu pekerjaan. Demikian juga kalau seseorang pekerja harus menunaikan kewajipan kepada majikan, maka majikan juga harus memberikan perkara yang sama kepada pekerjanya. Majikan harus memberi ihsan, belas kasihan, bertimbangrasa, bertolak ansur dan berperikemanusiaan terhadap pekerjanya. Perbuatan eksploitasi dan mengkhianati pekerja dengan membebaninya lebih daripada apa yang diganjarkan kepadanya adalah bercanggah dengan prinsip dan etika Islam.

Sesungguhnya menunaikan hak Allah ke atas pekerja-pekerja bawahannya adalah seiring dengan menunaikan hak ke atas Allah swt. Mengikut sebuah hadith Rasulullah saw bersabda yang bermaksud : “Majikan seharusnya membayar upah pekerjanya sebelum peluh di dahinya kering.” Ini bermakna ganjaran yang dijanjikan tidak seharusnya dilewatkan atau diambil sambil lewa sahaja. Jelas kepada kita teras perhubungan di antara majikan dengan pekerja ialah keadilan dan jalinan silaturrahim yang kukuh dan mesra di antara pihak majikan dengan pekerja. Suasana harmoni yang penuh peradaban akan terserlah dalam organisasi kerja.

  • Bekerja dengan tekun dan cekap

Ketekunan adalah satu sifat yang diperlukan oleh seseorang pekerja. Setiap pekerja akan dapat meningkatkan kecekapan masing-masing menjalankan tugas sekiranya mereka tekun. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Sesungguhnya Allah suka apabila seseorang itu melakukan pekerjaan dengan tekun.” Pepatah Melayu pula ada mengatakan “Belakang parang pun kalau diasah nescaya akan menjadi tajam.” Pepatah ini menunjukkan bahawa dengan ketekunan, sesuatu kerja yang susah itu akan dapat diatasi dan dengan sendirinya dapat meningkatkan kecekapan seseorang pekerja itu.

Apabila kita hendak menilai seseorang pekerja, ciri yang terpenting ialah kecekapannya. Mutu kecekapan seseorang itu akan terus meningkat jika pekerja itusanggup belajar atau menambah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan tugasnya terus menerus. Ajaran Islam ada menegaskan “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad”. Dalam bidang sains dan teknologi khususnya, menuntut ilmu sepanjang hayat menjadi suatu perkara yang penting sekiranya kita tidak mahu ketinggalan zaman kerana terlalu pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dalam kedua-dua bidang itu.

Selain dari itu, Rasulullah saw menyatakan berkaitan dengan pekerja dengan maksud : “Apabila sesuatu urusan (pekerjaan) itu diberikan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya.” Hadith ini jelas menunjukkan akan peri pentingnya keahlian atau kecekapan seseorang pekerja menurut pandangan Islam. Sekiranya kecekapan seseorang pekerja itu meningkat maka dengan sendiri hasil kerjanya juga turut meningkat.

  • Bekerja dengan semangat gotong-royong dan berpadu fikiran

Dalam perkhidmatan awam bahkan dalam sebarang perkhidmatan, seseorang pekerja itu bertugas dengan suatu kumpulan pekerja yang tertentu. Dengan sendirinya untuk menghasilkan pekerjaan yang cemerlang, sesuatu kumpulan pekerja mestilah bekerjasama bergotong-royong melaksanakan tugas masing-masing. Sikap bantu membantu antara satu sama lain di antara pekerja, akan menimbulkan suasana kerja yang aman dan gembira. Suasana yang demikian pula akan meningkatkan hasil dan mutu perkhidmatan setiap pekerja. Firman Allah swt juga menegaskan dengan maksud : “Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan…”

Semangat bergotong royong adalah suatu ciri kebudayaan negara ini yang semestinya dipupuk terus dan disuburkan semula bagai kata pepatah : “Bukit sama didaki, lurah sama dituruni.” Di samping kita bergotong-royong menjalankan tugas, kita juga hendaklah menggalakkan perbincangan sesama sendiri, bertukar fikiran untuk mengkaji masalah yanga da dan juga untuk menghadapi masalah yang mungkin timbul. Perbincangan seperti ini akan meningkatkan rasa kekitaan di antara pekerja dan dengan sendirinya pula meningkatkan rasa tanggungjawab bersama terhadap sebarang kegiatan kumpulan pekerja yang berkenaan.

Rasa keenakan berpadu tenaga dan berpadu fikiran ini telah dinikmati oleh datuk nenek kita dahulu dan rasa indah itu telah diabadikan oleh mereka dengan pepatah “Bulat air kerana pembentung, bulat manusia kerana muafakat.”

  • Bekerja dengan matlamat kebahagiaan manusia sejagat

Islam adalah agama untuk manusia sejagat, dengan itu ajaran Islam juga adalah untuk manusia seluruhnya. Maka etika kerja kelima ini adalah wajar, kerana maju mundurnya  pembangunan negara Malaysia ini akan memberi kesan jua kepada negara lain di dunia. Namun demikian patut dikemukakan di sini firman Allah swt yang bermaksud : “Wahai orang yang beriman, hendaklah kamu sentiasa menjadi orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi menerangkan kebenaran, dan jangan ssekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan.” 

Ayat tersebut melarang kita daripada berlaku tidak adil terhadap sesuatu kaum walaupun kita benci terhadap kaum tersebut. Setiap pekerja hendaklah memberi layanan dan khidmat yang sama kepada semua orang tanpa mengira kaum ataupun agama orang yang berkaitan menurut ajaran Islam. Di samping itu sewajarnya kita berusaha menurut ajaran hadith yang bermaksud : “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang tidak menyukar-nyukarkan pekerjaan dan yang jernih mukanya dalam menghadapi manusia.”

Kesimpulan : sewajarya setiap pekerja diberi bimbingan khusus dari semasa ke semasa untuk melengkapkan mereka sebagai pekerja yang akan melaksanakan tugasnya selaras dengan ajaran Islam. Dari pihak pekerja sendiri, mereka hendaklah sentiasa sedar dan berusaha untuk menunaikan tugas mereka menurut ajaran Islam, ajaran yang mementingkan kebahagiaan umat manusia sejagat. Wajarlah bagi setiap pekerja menghayati firman Allah swt yang bermaksud : “Dan bahawa sesungguhnya inilah jalanKu (agama Islam) yang lurus, maka hendaklah kamu menurutnya, dan janganlah kamu menurut jalan-jalan yang lain (daripada Islam) kerana jalan-jalan (yang lain itu) mencerai-beraikan kamu daripada Allah.”

Hubungan Pekerja dan Majikan

Islam telah menggariskan beberapa peraturan yang boleh dijadikan sebagai panduan untuk menjalin hubungan mesra dan produktif antara majikan dan pekerja. Kedua-dua pihak, sama ada majikan atau pekerjaperlu sentiasa mementingkan kualiti kerja dan terdapat sebuah hadith menyebut yang bermaksud : “Allah swt suka sekali jika seseorang mengerjakan sesuatu pekerjaan, lalu kian lama kian diperbaiki mutunya.” Di samping kualiti, Islam juga menjaga kepentingan pekerja.

Dalam sebuah hadith qudsi terdapat sebuah nukilan yang menarik tentang hal ini. Hadith qudsi tersebut menegaskan : “Ada tiga orang yang menjadi musuhKu di hari akhirat : Orang yang berjanji dengan Daku, lalu mungkir akan janjinya. Orang yangmemperjual belikan manusia merdeka dan dmakannya harga manusia merdeka yang dijualnya. Orang yang mengupah pekerja, dan pekerja itu telah membereskan pekerjaannya tetapi gajinya tidak dibayar.” Kemudian Islam mewajibkan supaya upah pekerja dibayar dengan cepat dan sempurna. Ini diingatkan oleh Rasulullah saw dengan sabda baginda yang bermaksud : “Berikan upah buruhmu sebelum kering keringatnya.”

Kesimpulan

Pekerjaan yang diterima sebagai suatu ibadah bukanlah pekerjaan yang dikerjakan dalam keadaan sambil lewa dan untuk mendapat keuntungan di dunia semata-mata tetapi sebaliknya melaksanakan kerja dengan bersungguh-sungguh, berjuang membangun dan mengusahakan kemakmuran dan kemajuan dengan matlamat untuk kepentingan dunia dan juga untuk keselamatan di akhirat. Setiap pekerjaan yang baik yang disertai dengan niat yang ikhlas kerana Allah serta dilakukan dengan bersih daripada sebarang kemungkaran dan tidak bercanggah dengan batas-batas hukum syarak adalah dikira ibadah yang akan mendapat ganjaran di sisi Allah. Setiap pekerjaan itu hendaklah dilihat dari sudut amanah yang pasti akan dipertanggungjawabkan oleh Allah swt di akhirat kelak, di mana kelalaian melaksanakan kerja yang baik akan mendatangkan penyesalan yang tidak berguna. Pekerja yang diterima pekerjaan mereka sebagai ibadah setelah memenuhi syarat-syaratnya dapat mempergunakan dunia ini sebagai sawah ladang untuk keselamatan di akhirat. Sebahagian daripada hasil pekerjaan yang telah dilakukan akan diterima di duna ini dan hasil sepenuhnya akan diterima di akhirat. Kekayaan sesuatu pekerjaan tidak hanya pada usaha seseorang tetapi juga pada keberkatan yang disertai dengan keredhaan Allah swt terhadap jenis pekerjaan dan cara ia dilaksanakan. Islam meletakkan taraf yang tinggi kepada pekerjaan. Melalui pekerjaan manusia dapat mengangkat darjat dirinya malah namanya turut dikenang ketika ketiadaannya nanti. Ini adalah kerana manusia lain dapat merasai nikmat dan kemudahan hidup hasil daripada pekerjaan orang yang telah tiada tadi.

Hak Pekerja dan Majikan

1. Persaudaraan dan kesamaan peluang :Individu itu dilayang dengan hormat dan maruahnya dijaga, tiada diskriminasi terhadap warna kulit atau jantina, keselesaan dari aspek pergaulan dan penerimaan sebagai ahli kumpulan. Kebolehan berhubung dan bekerjasama.

2. Kepercayaan dan pertanggungjawaban : Pekerjaan adalah amanah atau kepercayaan yang diberikan. Individu yang amanah dan dipercayai memikul tanggungjawab untuk melaksanakan tugas yang diamanahkan dengan cekap serta mempunyai kesetiaan terhadap organisasi.

3. Tawaran kerja : Tawaran kerja yang diberikan kepada orang yang paling layak mengikut kemahiran atau kelayakan asas bukannya kepada pemohon yang menagih simpati. Individu itu dilantik kerana ia memenuhi syarat-syarat keperluan kerja itu bukan kerana dia itu kawan, kerabat atau lain-lain unsur pilih kasih.

4. Peluang meningkat dalam kerjaya (menuju kecemerlangan) : Mencapai tahap kerja yang terbaik. Pekerja terdorong untuk melakukan yang terbaik kerana Allah menyukai seseorang yang melakukan sesuatu dengan cara yang terbaik.

5. Upah, gaji atau ganjaran : Gaji, upah atau ganjaran mestilah setimpal dengan pekerjaan yang dilakukan dan boleh memberikan rasa selamat dan kepuasan kepada individu.

6. Keupayaan individu : Kesesuaian tugas atau kerja dengan aspirasi kehidupan. Majikan tidak boleh menyuruh pekerjanya untuk melakukan apa juga pekerjaan di luar keupayaan pekerja itu.

7. Motivasi : Individu lebih terdorong untuk melakukan sesuatu jika mendapat kepuasan dan ransangan dalaman (motivasi spiritual).

8. Permesyuaratan dan nasihat : Pekerja hendaklah berunding dengan majikannya jika terdapat sesuatu masalah tentang pekerjaan kerana kecemerlangan dapat dicapai dengan cara berunding dan nasihat menasihati.

9. Pencarian ilmu pengetahuan : Individu yang berilmu pengetahuan akan berkeupayaan untuk mencapai kecemerlangan dan berjaya dalam segenap pekerjaan yang dilakukannya serta berjaya mengharungi segala cabaran dalam perlaksanaan tugas.

Tanggungjawab Pekerja

a. Mengikut arah majikan dan bekerja dengan tekun dan cekap.

b. Selesaikan kerja pada waktunya.

c. Berkhidmat kepada majikan dengan amanah serta selesaikan kerja pada waktunya.

d. Jujur dan ikhlas kepada majikan.

e. Menjaga kepentingan organisasi serta melindungi kepentingan majikan hingga ke saat terakhir perkhidmatan.

Tanggungjawab Majikan

a. Kewajipan menyediakan kerja yang tidak salah di sisi agama.

b. Membayar upah atau ganjaran sewajarnya.

c. Melindungi hak dan kebajikan pekerja.

d. Menetapkan tempoh kerja yang maksimum bagi pekerja (cuti).

6. Etika kerja dalam Islam 

6.1 Konsep kerja sebagai ibadah

Kerja merupakan usaha (kegiatan, urusan) yang bertujuan untuk menghasilkan (menyelesaikan, menyediakan dan sebagainya) sesuatu. Pekerjaan pula sesuatu yang di usahakan (dilakukan berterusan) kerana mencari nafkah1[i]. Mencari nafkah adalah merupakan perkara  yang wajib ke atas setiap orang yang mempunyai tanggungjawab dalam keluarga atau untuk dirinya sendiri. Kerja atau pekerjaan termasuk dalam ibadah umum yang mesti melengkapi beberapa kriteria agar diterima sebagai ibadah.

Kita diarahkan agar bekerja untuk melengkapi proses hidup di dunia tetapi pada waktu yang sama kita tidak boleh meninggalkan akhirat atau melebihkan dunia daripada akhirat atau menyamakan kedua-duanya. Sebetulnya akhirat adalah lebih baik sebagaimana firman Allah s.w.t. :

“Dan tuntutlah dengan harta kekayaan yang telah dikurniakan Allah kepadamu akan pahala dan kebahagiaan hari akhirat dan janganlah engkau melupakan bahagianmu (keperluan dan bekalanmu) dari dunia; dan berbuat baiklah (kepada hamba-hamba Allah) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu (dengan pemberian nikmatNya yang melimpah-limpah); dan janganlah engkau melakukan kerosakan di muka bumi; sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerosakan “. 28/77

 

Dan tiadalah Kami mengutus Rasul – sebelummu (wahai Muhammad) melainkan orang-orang lelaki dari penduduk bandar, yang kami wahyukan kepada mereka. Maka mengapa orang-orang (yang tidak mahu beriman) itu tidak mengembara di muka bumi, supaya memerhatikan bagaimana akibat orang-orang kafir yang terdahulu dari mereka? Dan (ingatlah) sesungguhnya negeri akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Oleh itu, mengapa kamu (wahai manusia) tidak mahu memikirkannya?                       (Yusuf)

 

Ia merupakan perkara yang digalakkan oleh syara’ sebagaimana firman Allah s.w.t.:

“Kemudian setelah selesai sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk menjalankan urusan masing-masing), dan carilah apa yang kamu hajati dari limpah kurnia Allah, serta ingatlah akan Allah banyak-banyak (dalam segala keadaan), supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat).  Al-Juma’ah.”

6.2 Etika kerja Islam

Etika merupakan ilmu berkenaan prinsip-prinsip akhlak atau moral, atau prinsip moral (atau akhlak) atau nilai-nilai akhlak yang menjadi pegangan seseorang individu atau sesuatu kumpulan (persatuan, pekerjaan dan lain-lain)2[ii]. Berdasarkan takrif tersebut dapatlah difahami bahawa etika adalah lebih khusus daripada akhlak dan moral. Setiap organisasi mempunyai etikanya tersendiri yang tidak sama dengan organisasi yang lain. Etika tersebut terbahagi kepada beberapa bahagian antaranya:

a) Etika pemakaian

– semua pakaian yang sesuai, selesa dan tidak mencanggahi syara’.

b) Etika kelakuan dan sikap

– amanah

– bertanggungjawab

– buat dengan bersungguh-sungguh dan yang terbaik

– tinggalkan segala sifat mazmumah seperti khianat, rasuah, penipuan, malas dan sebagainya.

c) Etika bentuk pekerjaan

– halal

– bersesuaian

d) Etika pengurusan masa dan harta

– harta yang lebih diwajibkan membayar zakat

– digalakkan bersedeqah

– tidak membazir masa dan harta

 

6.3 Ciri-ciri etika kerja Islam

 

Terdapat dua perkara yang menyebabkan seseorang itu gagal di dunia dan di akhirat iaitu: kejahilan dan kelalaian. Oleh itu seorang pekerja Islam mestilah mengenal pasti pekerjaannya, adakah pekerjaannya menepati ciri-ciri etika kerja dalam Islam atau tidak. Kelalaian berbuat demikian dan lalai dengan pekerjaan masing-masing akan menyebabkan mereka gagal di dunia dan akhirat.

i) Bekerja dengan azam mengabdikan diri kepada Allah s.w.t

ii) Bekerja dengan ikhlas dan amanah

iii) Bekerja dengan tekun dan cekap

iv) Pekerjaan yang dilakukan mestilah tidak bercanggah dengan syara’.

v) Tiada unsur-unsur penipuan, khianat, kelalaian, malas, perjudian dan rasuah.

vi) Tiada sebarang penindasan, semua pihak mendapat hak yang adil dan keuntungan bersama.

vii) Bersifat kemanusiaan, bertolak ansur dan syura.

viii) Tegas dalam perkara maksiat.

ix) Melaksanakan yang terbaik

x) Sentiasa memperbaikan diri dan orang lain.

6.4 Matlamat kerja dalam Islam

– tujuan asal manusia berada di bumi ialah untuk beribadah kepada Allah s.w.t.

– untuk beribadah manusia mestilah meneruskan hidupnya dengan kehidupan yang selesa

– untuk hidup dengan selesa manusia mestilah mempunyai makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kenderaan dan sebagainya.

– semua itu manusia dapat memperolehinya dengan cara bekerja

– pekerjaan dapat menyempurnaankan lagi pengibadatan manusia kepada Allah s.w.t.

– dapat bayar zakat, bersedeqah, beri hadiah, derma, wakaf, beri pinjam, pergi Mekah dan sebagainya.

 – Islam melarang pekerjaan yang dilakukan semata-mata untuk pekerjaan itu atau mengumpulkan kekayaan semata-mata.

6.5 Pembentukan nilai-nilai etika kerja Islam

– etika kerja mempunyai hubungan yang erat dengan keimanan

– bekerja adalah satu bukti keimanan tetapi tidak semestinya

– iman menjadi pendorong untuk bekerja dengan tekun dan cekap

– iman sebagai pengawas dan perisai agar sikap mazmumah dijauhi

 

6.6 Hubungan pekerja dan majikan

6.6.1 Hak pekerja dan majikan

Hak pekerja

– Persaudaraan dan kesamaan peluang

– Kepercayaan dan pertanggungjawaban

– Peluang meningkat dalam kerjaya

– Keupayaan individu

– Motivasi

– Pemesyuaratan dan nasihat

-Pencarian Ilmu pengetahuan

– cuti rehat

– bidang kerja

– masa kerja

– gaji, bonus dan kenaikannya

Hak majikan

– beri arahan

– melantik, mengambil dan memberhentikan pekerja

6.6.2 Tanggungjawab pekerja dan majikan

Pekerja

– ikut arahan

– selesaikan kerja pada waktu

– menjaga kepentingan organisasi

– Jujur dan ikhlas dgn majikan.

Majikan

– menjaga kebajikan pekerja

– memberikan ganjaran sewajarnya

 -Menyediakan kerja yang tak salah disisi undang-undang.

– Melindung hak dan kebajikan pekerja.

– Menetapkan tempoh kerja yang maksimum bagi pekerja.

https://sites.google.com/site/khazalii/6udi3052etikakerjadalamislam%28bab6%29

https://sites.google.com/site/khazalii/etikakerjadalamislam

http://www.islam.gov.my/e-hadith/galakkan-mencari-rezeki-yang-halal

——————————————————————

Doa Untuk mendapat Rezeki yang halal

Maksudnya  “Ya Allah, wahai Zat Yang Maha Kaya, wahai Zat Yang Maha Terpuji, wahai Zat Yang Memulai, wahai  Zat Yang Mengembalikan, wahai Zat Yang Maha Penyayang, wahai Zat Yang Maha Pengasih. Cukupilah kami dengan kehalalan-Mu dari keharaman-Mu. Cukupilah kami dengan anugerah-Mu dari selain-Mu Semoga Allah sentiasa melimpahkan rahmat dan kesejahteraan atas junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W, keluarga dan para sahabat beliau.”

 

Penjelasan :
Telah diceritakan bahawa sebahagian Ulama berkata: ” Sesiapa yang membiasakan membaca doa tersebut sesudah solat fardu minimum satu kali, maka Allah menjadikan kaya kepadanya.  Atau barangsiapa yang membaca doa tersebut sesudah solat Jumaat maka hutangnya akan lekas berbayar dan dirinya akan merasa kaya dari orang yang kaya lainnya. Sehingga dengan demikian hidupnya akan menjadi tenteram, mensyukuri apa yg diberikan Allah kepadanya.

 

Doa memohon  ilmu yang baik, rezeki dan kesihatan

“Ya Allah, aku memohon kepada Engkau ilmu yang berguna, rezeki yang luas dan kesembuhan dari segala rupa penyakit.”

 

http://www.oocities.org/idealprolink/senarai_doa.html

——————————————–

Tenaga Kerja dan Upah dalam Perspektif Islam

Tenaga Kerja dan Upah dalam Perspektif Islam
Iklan

Oleh: Prof Muhammad (Ketua Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Yogyakarta)

Islam member perspektif mengenai ketenagakerjaan, setidaknya ada empat prinsip untuk memuliakan hak-hak pekerja, termasuk sistem pengupahannya.

Tenaga kerja dan upahnya tidak dapat dipisahkan. Keduanya selalu menjadi tema menarik untuk dikaji. Bahkan demonstrasi buruh pun juga lebih banyak menyangkut tuntutan kenaikan upah. Kajian saya kali ini mengenai dua perkara yang penting ini. Penting karena kebijakan di bidang upah minimum menjadi bagian agenda reformasi ketenagakerjaan yang lebih luas. Kebijakan ini muncul setelah krisis ekonomi pada 1997/1998. Termasuk di Indonesia, melalui komitmen pemerintah terhadap masalah upah minimum tenaga kerja.

Menurut Chris Manning dari Australian National University, ada dua pendekatan yang dapat dijadikan pilihan bagi Indonesia dalam menentukan upah minimum. Yakni model kebijakan Amerika Latin dan model kebijakan Asia Timur. Nampaknya saat ini pemerintah menggunakan model Amerika Latin. Yakni dengan melindungi buruh di sektor modern, dengan perlindungan yang yang ekstensif atau luas.

Perlindungan yang “berlebih” dari model Asia Timur sebenarnya dapat menimbulkan masalah besar. Begitu juga model Amerika Latin yang merupakan kebalikan model Asia Timur yang kurang melindungi tenaga kerja. Dalam perjalanannya, penerapan model Asia Timur juga menghadapi masalah, karena setiap model pasti tidak luput dari kekurangan. Maka kini orang menengok Ekonomi Islam sebagai pembanding dan pengkoreksi kedua model tersebut.

Perbudakan vs Ketenagakerjaan

Dalam sejarahnya, penghapusan sistem perbudakan merupakan salah satu tujuan kehadiran Islam. Sejarah membuktikan, perbudakan langgeng dalam tata kehidupan masyarakat dunia jauh sebelum masa kenabian. Sistem perbudakan memperbolehkan keluarga atau seseorang memiliki budak sahaya yang bebas diperlakukan sesuai kemauan pemilik atau majikannya. Bahkan para majikan juga bebas memperjual-belikan budaknya kepada orang lain di pasar-pasar budak. Dalam sistem ini, hak-hak budak sebagai manusia mutlak di tangan majikan. Derajat kemanusiaan budak dipandang rendah dan hak-hak asasinya terabaikan. Jika ada yang ingin memerdekakan seorang budak, tidak ada cara lain kecuali dengan membelinya. Hal ini sebagaimana pernah dilakukan sahabat Abu Bakar As-Siddiq ketika membebaskan Bilal bin Rabah dari tuannya.

Mengingat mapannya sistem perbudakan dalam tata kehidupan masyarakat waktu itu, Islam di awal kehadirannya tidak secara frontal melarang sistem tersebut. Islam berupaya menghapus sistem perbudakan yang telah mendarah daging dalam kebudayaan masyarakat melalui strategi gradasi pengikisan budaya. Contohnya adalah anjuran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar para pemilik budak memperhatikan kesejahteraan para budaknya dengan menyalurkan zakat kepada mereka. Artinya, pada periode awal Islam masih mentolerir perbudakaan namun mengkritik keras kekikiran konglomerat kaya yang tidak memperhatikan budak-budaknya. Baru ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah dan membangun peradaban maju di sana, upaya-upaya pembebasan dan penghapusan perbudakan secara masif dilakukan. Hasilnya, berkat perjuangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang terus dilanjutkan oleh umat Islam, sedikit demi sedikit tradisi perbudakan pun terhapuskan.

Meskipun pada hakikatnya Islam telah menghapus praktik perbudakan, namun dalam kenyataannya di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam sendiri masih terjadi praktik perbudakan secara terang-terangan. Hal ini mengisyaratkan bahwa umat Muslim harus terus berupaya menghapus perbudakan manusia. Perbudakan saat ini mungkin tidak sekejam perbudakan di masa lalu yang benar-benar tidak memanusiakan manusia. Perbudakan masa kini sebagian besar terjadi dalam bentuk sistem kerja yang tidak berkeadilan yang dialami pekerja rumah tangga migran Indonesia di luar negeri. Umat Muslim sebagai agen utama perbaikan peradaban manusia, sekali lagi, hendaknya terus berjuang agar sistem kerja yang tidak berkeadilan terhapus dari muka bumi, sehingga kaum pekerja mendapat jaminan kemerdekaan, derajat kemanusiaan, kesetaraan dan pengupahan yang layak. Jika saja keempat prinsip atau nilai pemuliaan pekerja tersebut terterapkan dalam dunia ketenagakerjaan secara global, kasus perdagangan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang menjadi preseden buruk bagi pekerja migran Indonesia tidak akan terulang.

Empat Prinsip Ketenagakerjaan

Dari penghapusan perbudakan yang dikombinasikan dengan perpspektif Islam tentang ketenagakerjaan, maka dapat disebutkan setidaknya ada empat prinsip untuk memuliakan hak-hak pekerja.

Pertama, kemerdekaan manusia.

Ajaran Islam yang direpresentasikan dengan aktivitas kesalehan sosial Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dengan tegas mendeklarasikan sikap antiperbudakan untuk membangun tata kehidupan masyarakat yang toleran dan berkeadilan. Islam tidak mentolerir sistem perbudakan dengan alasan apa pun. Terlebih lagi adanya praktik jual-beli pekerja dan pengabaian hak-haknya yang sangat tidak menghargai nilai kemanusiaan.

Penghapusan perbudakan menyiratkan pesan bahwa pada hakikatnya manusia ialah makhluk merdeka dan berhak menentukan kehidupannya sendiri tanpa kendali orang lain. Penghormatan atas independensi manusia, baik sebagai pekerja maupun berpredikat apa pun, menunjukkan bahwa ajaran Islam mengutuk keras praktik jual-beli tenaga kerja.

kedua, prinsip kemuliaan derajat manusia.

Islam menempatkan setiap manusia, apa pun jenis profesinya, dalam posisi yang mulia dan terhormat. Hal itu disebabkan Islam sangat mencintai umat Muslim yang gigih bekerja untuk kehidupannya. Allah menegaskan dalam QS. Al-Jumu’ah: 10, yang artinya, “Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung.” Ayat ini diperkuat hadis yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi: “Tidaklah seorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari hasil keringatnya sendiri.

Kemuliaan orang yang bekerja terletak pada kontribusinya bagi kemudahan orang lain yang mendapat jasa atau tenaganya. Salah satu hadis yang populer untuk menegaskan hal ini adalah “Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari beberapa dalil tersebut, dapat dipahami bahwa Islam sangat memuliakan nilai kemanusiaan setiap insan. Selain itu, tersirat dalam dalil-dalil tersebut bahwa Islam menganjurkan umat manusia agar menanggalkan segala bentuk stereotype atas berbagai profesi atau pekerjaan manusia. Kecenderungan manusia menghormati orang yang memiliki pekerjaan, yang menghasilkan banyak uang, serta meremehkan orang yang berprofesi rendahan. Padahal nasib setiap insan berbeda sesuai skenario dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Sikap merendahkan orang lain karena memandang pekerjaannya sangat ditentang dalam Islam.

Ketiga, keadilan dan anti-diskriminasi.

Islam tidak mengenal sistem kelas atau kasta di masyarakat, begitu juga berlaku dalam memandang dunia ketenagakerjaan. Dalam sistem perbudakan, seorang pekerja  atau budak dipandang sebagai kelas kedua di bawah majikannya. Hal ini dilawan oleh Islam karena ajaran Islam menjamin setiap orang yang bekerja memiliki hak yang setara dengan orang lain, termasuk atasan atau pimpinannya. Bahkan hingga hal-hal kecil dan sepele, Islam mengajarkan umatnya agar selalu menghargai orang yang bekerja.

Misalnya dalam hal pemanggilan atau penyebutan, Islam melarang manusia memanggil pekerjanya dengan panggilan yang tidak baik atau merendahkan. Sebaliknya, Islam menganjurkan pemanggilan kepada orang yang bekerja dengan kata-kata yang baik seperti “Wahai pemudaku” untuk laki-laki atau “Wahai pemudiku” untuk perempuan.

Dalam sejarahnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memiliki budak dan pembantu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlakukan para budak dan pembantunya dengan adil dan penuh penghormatan. Beliau pernah mempunyai pembantu seorang Yahudi yang melayani keperluan beliau, namun beliau tidak pernah memaksakan agama kepadanya. Isteri beliau, Aisyah Radhiyallahu anha, juga memiliki pembantu yang bernama Barirah yang diperlakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan isterinya dengan lemah lembut dan tanpa kekerasan.

Keempat, kelayakan upah pekerja.

Upah atau gaji adalah hak pemenuhan ekonomi bagi pekerja yang menjadi kewajiban dan tidak boleh diabaikan oleh para majikan atau pihak yang mempekerjakan. Sebegitu pentingnya masalah upah pekerja ini, Islam memberi pedoman kepada para pihak yang mempekerjakan orang lain bahwa prinsip pemberian upah harus mencakup dua hal, yaitu adil dan mencukupi.

Prinsip tersebut terangkum dalam sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi, “Berikanlah gaji kepada pekerja sebelum kering keringatnya, dan beritahukan ketentuan gajinya, terhadap apa yang dikerjakan.”

Seorang pekerja berhak menerima upahnya ketika sudah mengerjakan tugas-tugasnya, maka jika terjadi penunggakan gaji pekerja, hal tersebut selain melanggar kontrak kerja juga bertentangan dengan prinsip keadilan dalam Islam. Selain ketepatan pengupahan, keadilan juga dilihat dari proporsionalnya tingkat pekerjaan dengan jumlah upah yang diterimanya.

Di masa sekarang, proporsioanlitas tersebut terbahasakan dengan sistem UMR (Upah Minimum Regional). Lebih dari itu, Islam juga mengajarkan agar pihak yang mempekerjakan orang lain mengindahkan akad atau kesepakatan mengenai sistem kerja dan sistem pengupahan, antara majikan dengan pekerja. Jika adil dimaknai sebagai kejelasan serta proporsionalitas, maka kelayakan berbicara besaran upah yang diterima haruslah cukup dari segi kebutuhan pokok manusia, yaitu pangan, sandang serta papan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempertegas pentingnya kelayakan upah dalam sebuah hadis: “Mereka (para budak dan pelayanmu) adalah saudaramu, Allah menempatkan mereka di bawah asuhanmu, sehingga barangsiapa mempunyai saudara di bawah asuhannya maka harus diberinya makan seperti apa yang dimakannya (sendiri) dan memberi pakaian seperti apa yang dipakainya (sendiri), dan tidak membebankan pada mereka tugas yang sangat berat, dan jika kamu membebankannya dengan tugas seperti itu, maka hendaklah membantu mereka (mengerjakannya).” (HR. Muslim).

Sistem Pengupahan

Upah disebut juga ujrah dalam Islam. Upah adalah bentuk kompensasi atas jasa yang telah diberikan tenaga kerja. Untuk mengetahui definisi upah versi Islam secara menyeluruh, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu Surat At-Taubah: 105, yang artinya: “Dan katakanlah:  Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” dan Surat An-Nahl: 97, yang artinya, “Barangsiapa yang mengerjakan amal soaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Quraish Shihab dalam bukunya, Tafsir Al Misbah menjelaskan, QS. At Taubah:105  sebagai berikut: “Bekerjalah kamu demi karena Allah semata dengan aneka amal yang sholeh dan bermanfaat, baik untuk diri kamu maupun untuk masyarakat umum, Allah akan melihat yakni menilai dan memberi ganjaran amal kamu itu.” Ganjaran yang dimaksud adalah upah atau kompensasi.

Demikian juga dengan QS. An-Nahl: 97, maksud dari kata “balasan” dalam ayat tersebut adalah upah atau kompensasi. Jadi dalam Islam, jika seseorang mengerjakan pekerjaan dengan niat karena Allah (amal sholeh), maka ia akan mendapatkan balasan, baik didunia (berupa upah) maupun di akhirat (berupa pahala), yang berlipat ganda. Dari dua ayat terebut dapat kita simpulkan, upah dalam konsep Islam memiliki dua aspek, yaitu dunia dan akhirat.

Proses penentuan upah yang islami berasal dari dua faktor: objektif dan subjektif. Objektif adalah upah ditentukan melalui pertimbangan tingkat upah di pasar tenaga kerja. Sedangkan subjektif, upah ditentukan melalui pertimbangan-pertimbangan sosial. Maksud pertimbangan-pertimbangan sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan tenaga kerja. Selama ini ekonomi konvensional berpendapat, upah ditentukan melalui pertimbangan tingkat upah di pasar tenaga kerja. Namun ada sisi kemanusiaan yang harus diperhatikan pula. Misal, tata cara pembayaran upah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: ‘Berikanlah upah orang upahan sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah dan Imam Thabrani)

Dari  hadis tersebut dapat disimpulkan, Islam sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Berbeda dengan konvensional yang hanya memandang manusia sebagai barang modal. Manusia tidak boleh diperlakukan seperti halnya  barang modal, misalnya mesin.

Sadeeq (1992) menyebutkan beberapa ketentuan yang akan menjamin diperlakukannya tenaga kerja secara manusiawi. Ketentuan-ketentuan tersebut adalah: (1) Hubungan antara majikan (musta’jir) dan buruh (ajir) adalah man to man brotherly relationship, yaitu hubungan persaudaraan. (2) Beban kerja dan lingkungan yang melingkupinya harus memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan. Seperti yang telah diutarakan, manusia tidak sama dengan barang modal. Manusia membutuhkan waktu untuk istirahat, sosialisasi, dan yang terpenting adalah waktu untuk ibadah. (3) Tingkat upah minimum harus mencukupi bagi pemenuhan kebutuhan dasar dari para tenaga kerja.

Implementasi nilai-nilai kemanusiaan dalam penentuan upah yang islami dapat berasal dari dua sumber. Yakni (1) Musta’jir, dan (2) Pemerintah. Musta’jir yang beriman akan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan dalam penentuan upah bagi ajirnya. Termasuk dalam nilai kemanusiaan adalah unsur adil.

Maksud adil dapat kita lihat dari pandangan Yusuf Qardhawi dalam bukunya, Pesan Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam. Ia menjelaskan, “Sesungguhnya seorang pekerja hanya berhak atas upahnya jika ia telah menunaikan pekerjaannya dengan semestinya dan sesuai dengan kesepakatan, karena umat Islam terikat dengan syarat-syarat antar-mereka, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Namun jika ia membolos bekerja tanpa alasan yang benar atau sengaja menunaikannya dengan tidak semestinya, sepatutnya hal itu diperhitungkan atasnya (dipotong upahnya), karena setiap hak diiringi kewajiban. Selama ia mendapatkan upah secara penuh, kewajibannya juga harus dipenuhi. Sepatutnya hal ini dijelaskan secara detail dalam ‘peraturan kerja’ yang menjelaskan masing-masing hak dan kewajiban kedua belah pihak.”

Jadi, maksud adil adalah harus ada kejelasan atau aqad (perjanjian) antara musta’jir dan ajir. Seorang musta’jir harus adil dan tegas dalam proses penentuan upah. Hak (upah) seorang ajir akan diberikan jika ia telah mengerjakan kewajibannya (pekerjaannya) terlebih dahulu. Dalam implementasi nilai-nilai keadilan, pemerintah bertugas melakukan intervensi dalam penentuan upah. Intervensi pemerintah dilandasi oleh dua hal. Yakni (1) Adanya kewajiban untuk mengawasi, menjaga, dan mengoreksi implementasi nilai-nilai keIslaman kehidupan rakyatnya, termasuk didalamnya kebijakan mengenai upah; (2) Adanya kewajiban pemerintah untuk menjaga keadilan dan kesejahteraan rakyatnya, dalam hal ini baik musta’jir maupun ajir.

Dalam Islam, intervensi pasar sebenarnya sifatnya hanya temporer. Pemerintah akan melakukan intervensi jika  pasar terdistorsi sehingga akhirnya upah yang dihasilkan bukanlah upah yang adil.

Jadi dapat disimpulkan dari keseluruhan penjelasan diatas mengenai upah menurut prinsip Islam adalah, dalam penentuan upah, Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dari tenaga kerja. Selama ini hak-hak tenaga kerja selalu dipinggirkan. Model Asia Timur misalnya, tenaga kerja tidak dilindungi hak-haknya. Upah yang mereka terima rendah, tidak cukup untuk menghidupi mereka dan keluarganya. Hal ini sangat bertentangan dengan pandangan Islam, karena syarat upah dalam Islam adalah adil. Adil itu tidak hanya dilihat dari sisi tenaga kerja (ajir), tetapi juga dari sisi majikan (musta’jir). Oleh sebab itu Islam tidak membenarkan penetapan upah yang hanya memperhatikan tenaga kerja, yaitu bertujuan hanya untuk mensejahterakan tenaga kerja semata. Di sisi lain pihak produsen atau majikan juga diperhatikan kesejahteraannya.

Ada alternatif yang ditawarkan oleh Islam, jika penentuan upah melalui mekanisme pasar dan kebijakan upah minimum pemerintah tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ada dua alternatif yang ditawarkan. Yakni: (1) Memberikan subsidi kepada pihak produsen. Subsidi tersebut diberikan agar produsen tetap dapat memberikan upah yang layak kepada tenaga kerja. (2) Memberikan subsidi kepada pihak tenaga kerja. Subsidi ini lebih tepatnya disebut dengan jaminan sosial. Jadi tenaga kerja tetap mendapat tingkat upah pasar, namun mereka juga mendapat jaminan sosial sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan mereka.

Dalam langkahnya pemerintah dapat menggunakan dana baitul maal (keuangan negara). Contoh dari subsidi dapat dari, misalnya, masa  pemerintahan Umar, subsidi itu diberikan dalam bentuk: (1) Ransum atau jatah tetap setiap orang; dan (2) Subsidi tahunan tunai yang bersifat tetap bagi mereka yang ikut berjihad.

Upah atau Gaji Minimum

Karena fluktuasi harga kebutuhan pokok (inflasi dan deflasi), batas upah minimum pun hendaknya disesuaikan dengan laju inflasi riil. Sistem upah minimum terkait tingkat inflasi saat ini telah dilakukan di negara kita. Untuk konteks Indonesia saat ini, dalam menentukan upah minimum provinsi, terdapat beberapa unsur yang dipertimbangkan. Unsur-unsur tersebut mencakup pangan, sandang, dan papan dll (ada 43 butir seperti tertera dalam surat edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 889 HK. 01.32.2002 tertanggal 10 September 2002). Kebutuhan yang dihitung dalam surat edaran ini adalah kebutuhan seorang pekerja (lajang).

Jika kebutuhannya sewa rumah, pekerja tidak akan pernah memiliki rumah sampai kapan pun. Hal ini tentu melanggar aturan hadis yang diriwayatkan oleh Mustawrid bin Syadad: “Aku mendengar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapayang menjadi pekerja bagi kita, hendaklah ia mencarikan isteri (untuknya); seorang pembantu bila tidak memilikinya, hendaklah ia mencarikannya untuk pembantunya. Bila ia tidak mempunyai tempat tinggal, hendaklah ia mencarikan tempat tinggal.”Abu Bakar mengatakan, “Diberitakan kepadaku bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda, ‘Siapa yang mengambil sikap selain itu, maka ia adalah seorang yang keterlaluan atau pencuri.(HR. Abu Daud).

Memang arti “mencarikan” bisa bermacam-macam. Bisa menyewakan rumah untuk pekerja agar bisa tinggal di dalamnya. Bisa juga membelikan rumah untuk ditempati pekerja. Atau bisa juga menyediakan rumah gratis (semacam rumah dinas) bagi pekerja. Dalam praktiknya di Indonesia, bagi karyawan rendahan disediakan tempat tinggal gratis. Bentuknya bisa rumah sederhana bagi pegawai perkebunan, bisa asrama bagi anggota TNI dan polisi. Untuk karyawan yang sudah tinggi, disediakan rumah dinas bagi pejabat di departemen dengan pangkat eselon 2 ke atas, dan sebagainya.

Menurut saya, arti “mencarikan” adalah memberikan rumah kepada pekerja agar dapat ditempati selama-lamanya. Jika tidak, selamanya pekerja akan menyewa rumah dan tidak akan pernah memiliki rumah. Untuk kondisi saat ini, cara yang paling murah melalui cicilan rumah. Tentunya hal ini tidak dapat diberikan pada semua karyawan, tetapi paling tidak bagi pegawai yang sudah bekerja sekurang-kurangnya lima tahun, dengan alasan bahwa mereka telah setia kepada perusahaan.

Oleh karena itu, harus ada instrumen yang mengatur tentang pengupahan dalam bentuk Buku Pedoman Pengupahan Pegawai Perusahaan. Dalam aturan itu dicantumkan bagi karyawan yang telah bekerja selama lima tahun disediakan bantuan rumah dalam bentuk cicilan. Berkaitan dengan itu, juga diusulkan agar butir kebutuhan “sewa rumah” pada poin 12, digantikan dengan “cicilan rumah”, khusus bagi karyawan yang telah bekerja > lima tahun. Besarnya selisih antara sewa rumah dengan cicilan rumah juga tidak terlalu besar. Diharapkan dengan konsep ini, para pekerja akan lebih bergiat lagi dan dapat meningkatkan produktivitas.

Kesehatan karyawan juga merupakan hal yang sangat penting, sebagai kesehatan karyawan adalah modal usahanya. Setiap pekerjaan (usaha) membutuhkan persiapan badan dan jiwa yang baik.Berusaha adalah sebuah keharusan bahkan keharusan bagi kehidupan. Oleh karena itu, kesehatan menjadi wajib. Memenuhi kebutuhan primer (dhoruri) bagi manusia yaitu makan dan minumnya (pangan) adalah wajib juga maka karyawan tidak akan bisa bekerja dan bisa memenuhi kebutuhannya kecuali kalau dia mempunyai kekuatan badan untuk menghasilkan semua. Kekuatan badan di sini berarti kesehatan. Oleh karena itu, memperhatikan karyawan dari segi kesehatan wajib hukumnya dalam Islam.

Gaji Minimum ≥ Nishob Zakat

Dalam praktiknya, meski upah minimum telah dihitung teliti dengan melibatkan pangan, sandang, dan papan seperti surat edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 889 HK. 01.32.2002, masih saja gaji minimum itu tidak mencukupi kebutuhan dasar karyawan, khususnya di negara-negara berkembang. Upah Minimum Provinsi (UMP) OKI Jakarta 2000 sebesar Rp 972.604,00 per bulan (atau setara 71 euro), naik 8% dari UMP 2007 sebesar Rp 900.560,00. Bandingkan dengan gaji di Eropa 2004: Belgia 1.210 euro, Perancis 1.280 euro, dan Belanda 1.264 euro. Upah minimum di tiga negara ini pada 2004 sebesar 17 kali lebih dari upah minimum di Jakarta pada 2008.

Sadeq (1989) merekomendasikan, jika upah minimum tidak cukup, para karyawan harus diberi zakat. Kami setuju dengan pendapat ini dan memang demikianlah adanya. Jika gaji karyawan tidak mencukupi kebutuhannya, karyawan dikategorikan sebagai orang miskin dan berhak atas dana zakat. Namun harus ada mekanisme yang mengarah pada pemenuhan kebutuhan karyawan. Secara garis besar, harus ada ukuran berapa gaji minimum yang diberikan kepada karyawan.

Menurut hemat kami, konsep upah minimum harus diperbaiki dengan cara mengenalkan konsep nishob zakat sebagai upah minimum. Artinya, jika nishob zakat disesualkan dengan harga 85 gram emas dalam setahun, dalam sebulan, batas gaji minimum sebesar 85/12 = 7,083 gram emas. Jika harga rata-rata satu gram emas selama 2007 sebesar Rp 198.800, maka upah atau gaji minimum 2008 sebesar 7,083 x Rp 198.800,00 = Rp 1.408.100,00. Dengan asumsi kondisi harga emas stabil.

Dalam hal kondisi harga emas sangat berfluktuasi, penyesuaian upah minimum dapat dilakukan dua kali dalam setahun seperti yang sekarang diberlakukan di negara dan Spanyol. Di dua Negara ini,  penyesuaian upah minimum dilakukan satu kali atau dua kali setahun, tergantung situasi ekonomi negara tersebut. Bahkan Yunani memberlakukan penyesuaian upah minimum dua kali dalam setahun secara reguler.

Pertanyaannya, dari mana uang untuk membayar upah minimum yang disesuaikan dengan nishob zakat? Bukankah pengusaha akan menolak kalau aturan ini diberlakukan?

Sebenarnya, upah minimum dengan acuan nishob zakat ini bisa saja diterapkan, asalkan biaya produksi dapat ditekan. Menurut penelitian, rata-rata 40% dari rata-rata harga pokok penjualan produk adalah, bunga bank dan pungutan liar. Seperti yang dilaporkan Agnes Swetta Pandia (Kompas, 22 Oktober 2004), “Dunia usaha tetap akan berdalih ekonomi sulit yang disebabkan oleh tingginya ongkos ekonomi karena banyak pungutan baik legal maupun liar.” Jika pungutan liar dapat ditekan sehingga bunga bank mengambil 30% dari harga pokok penjualan, yang 10% lagi (penghematan akibat dihapuskannya pungutan liar) dapat diberikan kepada karyawan.

Proporsi biaya tenagakerja adalah rata-rata 8% dari biaya produksi. Jika tidak ada pungutan liar, total biaya karyawan sebesar 18% dari biaya produksi (10% penghematan + 8% biaya tenaga kerja saat ini). Biaya tenaga kerja di luar negeri berkisar 12-15% dari biaya produksi. Jika penghematan ini terjadi karena dihapuskannya pungutan liar, tidak ada kesulitan untuk menerapkan nishob zakat sebagai upah atau gaji minimum. Angka 18% adalah lebih dua kali lipat dari angka 8%. Artinya, jika pungutan liar dihapuskan, dua kali lipat pun dari upah atau gaji sekarang, perusahaan mampu membayarnya.

Jika dilihat secara kasat mata, tenaga kerja di negara-negara berkembang, sangat memerlukan kepastian akan perlindungan hak-haknya. Indonesia misalnya, mengadopsi dua model kebijakan mengenai tenaga kerja. Yakni model Amerika Latin dan Asia Timur. Dan penerapan kedua model ini dilakukan Indonesia pada dua periode berbeda. Yakni pada masa Orde Baru dan setelah itu Orde Reformasi. Pada saat sebelum terjadi krisis ekonomi atau dikenal juga dengan masa Orde Baru, Indonesia lebih condong ke model Asia Timur, dengan mengabaikan undang-undang perlindungan tenaga kerja, “pengkerdilan” peran serikat pekerja oleh pemerintah, dll. Sedangkan saat ini pemerintah menggunakan model Amerika Latin, dengan melindungi buruh di sektor modern secara ekstensif , luas, atau agresif.

Namun sebenarnya kebijakan upah minimum dan perlindungan tenaga kerja yang agresif bisa saja merugikan kepentingan sebagian besar pekerja. Bahaya yang dapat ditimbulkan dari kebijakan yang agresif adalah bahwa kesenjangan antara pekerja disektor modern dan tradisional akan makin melebar, dan pertumbuhan kesempatan kerja dalam pekerjaan lebih baik (better jobs) akan melambat. Begitu juga surplus tenaga kerja dari sektor tradisional ke sektor modern juga akan ikut melambat. Hal yang sangat dibutuhkan adalah kebijakan upah minimum dan kebijakan perlindungan buruh yang paling efektif bagi semua pekerja, baik yang berada di sektor modern dan tradisional.

Dalam perjalanannya penerapan konsep-konsep konvensional ini menemukan kebuntuan, karena konsep-konsep konvensional ini juga memiliki kekurangan. Oleh karena itu Islam bisa dijadikan alternatif sebagai solusi memecah kebuntuan tersebut. Misal, masih banyak hak-hak tenaga kerja yang belum terpenuhi. Standar kesejahteraan tenaga kerja yang masih rendah. Islam sangat menentang hal-hal tersebut. Dalam Islam, hak-hak manusia telah dijamin oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah telah memberikan semua apa yang kita butuhkan untuk hidup di dunia ini, udara untuk bernafas, air untuk minum, dll. Jika Allah berbuat demikian, mengapa masih ada manusia yang mengekang hak-hak manusia yang lain, mengapa masih ada majikan yang tidak memenuhi hak-hak pekerjanya.

Dari sini dapat kita lihat perbedaan yang mendasar antara pandangan Islam dan konvensional. Perbedaan tersebut ada dua. Yakni (1) Islam melihat upah sangat besar kaitannya dengan konsep moral atau kemanusiaan sedangkan konvensional tidak. (2) Upah dalam Islam tidak hanya sebatas materi. Tetapi juga menembus batas kehidupan, yaitu dimensi akhirat yang disebut juga dengan pahala sedangkan konvensional tidak.

Islam adalah solusi dari berbagai macam problema yang ada didunia ini, tak terkecuali problema dalam bidang ekonomi. Oleh sebab itu marilah kita sama-sama sadari bahwa sudah saatnya kita untuk kembali ke jalan agama, mencari solusi melalui agama, mempelajari agama secara kaffah atau menyeluruh. Dengan demikian kita lebih siap untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan permasalahan yang rumit ini. (PM)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s