Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى

Tiga huruf diatas memenuhi inbox saya pagi ini.
Entah kenapa tiga huruf itu selalu identik dengan hari kelahiran seseorang, padahal islam tidak pernah mengajarkannya. Bahkan mengucapkannya pada orang lain merupakan bentuk tasyabbuh yang dilarang.

Orang-orang saleh terdahulu tidak suka dengan ucapan “semoga anda panjang umur” bila ucapan yang mengandung do’a tersebut tidak diiringi kalimat “dalam ketaatan pada Allah”. Bagi mereka, apa gunanya umur yang panjang bila dihabiskan dalam kelalaian dan dosa.? Kalau bekal perjalanan cukup, mati muda bukan masaalah.

Bagaimana mungkin kita mengucapkan selamat pada seseorang dihari kelahirannya, padahal bertambahnya usia pertanda ajal semakin dekat.

Pantaskah kita mengucapkan selamat pada orang yang jatah hidupnya berkurang, sementara bekalnya sedikit dan perjalanannya masih jauh ?

Bertambahnya umur bukan pertanda bahwa Allah mencintai kita, namun Dia memberi kita waktu untuk memperbaiki lembaran-lembaran kertas kehidupan yang kian hari kian berserakan. Allah memberi kita waktu untuk menghapus noktah-noktah hitam yang mengotori lukisan diri dalam kanvas hidup kita. Agar kita menemui-Nya seperti apa yang diinginkan-Nya

Bertambahnya umur semestinya membuat kita semakin waspada, jangan sampai dengan karunia tersebut Allah sedang mengistidraj kita disebabkan maksiat dan dosa kita selama ini -wal iyaadzubillah-

Allah berfirman:

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. Al Hijr : 3)

“Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras”. (QS. Luqman : 24)

Ingat.. Umur adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ”

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ, وَعَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ بِهِ, وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ, وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلاَهُ.

Artinya: ”Tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia ditanya tentang empat perkara (yaitu):

1.Tentang umurnya untuk apa ia habiskan?
2 Tentang ilmunya, apa yang ia amalkan?
3. Tentang hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan? 4. Tentang badannya untuk apa ia gunakan?. (HR.At-Tirmidz).

Garis bawahi pertanyaan pertama,

“Untuk apa umurmu dihabiskan?

Setiap jiwa akan ditanyai dengan pertanyaan yang sama.
Jadi, sudah semestinya kita menggunakan umur yang kita miliki untuk mempersiapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas. Disisa waktu yang ada perbanyaklah bermuhasabah, merenung, mengoreksi diri dan menghisab diri tentang seberapa tinggi ketaatan kita kepada Allah Ta’ala.

Allah azza wa jalla berfirman:

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيْرُ, فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ نَصِيْرٍ.

Artinya: “…Dan apakah tidak cukup Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?, maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun”. (Q.S. Fâthir: 37).

Baarakallahu fiikum.

Catt:
Maaf bila saya tidak merespon inbox teman-teman fillah, karena ini soal prinsip.