Ingatlah Dua Hal Ini Agar Musibah Yang Sangat Berat Terasa Ringan

Ketika mendapat musibah yang dirasa berat, semoga dengan mengingat dua hal ini akan menjadi lapang:

1. husnudzan kepada Allah karena Allah sangat sayang terhadap hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu terhadap anaknya yang lama hilang kemudian ditemukan.
yakin musibah ini adalah pengangkat derajat, menghapuskan dosa, kita pasti bisa menanggungnya karena Allah memberikan beban sesuai kemampaun hamba

dan ulama menjelaskan bahwa yang namanya musibah hanya berat di awal saja, betapa banyak.musibah dahulunya bisa kita lewati

Dari Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu , beliau menuturkan

ﻗﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺒﻲ، ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﻗﺪ ﺗﺤﻠﺐ ﺛﺪﻳﻬﺎ ﺗﺴﻘﻲ، ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺕ ﺻﺒﻴﺎً ﻓﻲ

ﺍﻟﺴﺒﻲ ﺃﺧﺬﺗﻪ، ﻓﺄﻟﺼﻘﺘﻪ ﺑﺒﻄﻨﻬﺎ ﻭﺃﺭﺿﻌﺘﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : (ﺃﺗﺮﻭﻥ ﻫﺬﻩ ﻃﺎﺭﺣﺔ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ). ﻗﻠﻨﺎ: ﻻ، ﻭﻫﻲ ﺗﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻄﺮﺣﻪ، ﻓﻘﺎﻝ: (ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu
yang sedang mencari-cari bayinya.
Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami,

“Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”
Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Orang yang tidak mendapat ujian di akhirat kelak akan iri terhadap mereka yang mendapat ujian di dunia, mereka bahkan berangan-angan kenapa dahulu di dunia mereka tidak banyak mendapat ujian yang berat

Misalnya: kami akan iri terhadap kalian yang terkena kanker ganas stadium akhir kelak

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

ﻳَﻮَﺩُّ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟْﻌَﺎﻓِﻴَﺔِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺃَﻥَّ ﺟُﻠُﻮﺩَﻫُﻢْ ﻗُﺮِﺿَﺖْ ﺑِﺎﻟْﻤَﻘَﺎﺭِﻳﺾِ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﺮَﻭْﻥَ ﻣِﻦْ ﺛَﻮَﺍﺏِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺒَﻼَﺀِ.

”Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia. ”(HR. Baihaqi, lihat ash-Shohihah : 2206.)

Meskipun sakit, pahala tetap mengalir

 Mungkin ada beberapa dari kita yang tatkala tertimpa penyakit bersedih karena tidak bisa malakukan aktivitas, tidak bisa belajar, tidak bisa mencari nafkah dan tidak bisa melakukan ibadah sehari-hari yang biasa kita lakukan. Bergembiralah karena Allah ternyata tetap menuliskan pahala ibadah bagi kita yang biasa kita lakukan sehari-hari. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا

“Apabila seorang hamba sakit atau sedang melakukan safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.” (HR. Bukhari  dalam shahihnya)

Subhanallah, kita sedang berbaring dan beristirahat akan tetapi pahala kita terus mengalir, apalagi yang menghalangi anda untuk tidak bergembira wahai orang yang sakit.

Sesudah kesulitan pasti datang kemudahan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراْْْ, إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً ً

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah: 5-6)

Ini merupakan  janji Allah, tidak pernah kita menemui manusia yang selalu merasa kesulitan dan kesedihan, semua pasti ada akhir dan ujungnya. Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan, susah-senang, lapar-kenyang, kaya-miskin, sakit-sehat. Salah satu hikmah Allah menciptakan sakit agar kita bisa merasakan nikmatnya sehat. sebagaimana orang yang makan, ia tidak bisa menikmati kenyang yang begitu nikmatnya apabila ia tidak merasakan lapar, jika ia merasa agak kenyang atau kenyang maka selezat apapun makanan tidak bisa ia nikmati. Begitu juga dengan nikmat kesehatan, kita baru bisa merasakan nikmatnya sehat setelah merasa sakit sehingga kita senantiasa bersyukur, merasa senang dan tidak pernah melalaikan lagi nikmat kesehatan serta selalu menggunakan nikmat kesehatan dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang sering terlupakan oleh banyak orang: nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari, no: 5933)

Semoga saya dan anda bisa mengamalkan ilmu kita

@RS Mitra Sehat , Wates,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

*****************************************************************************************

Bulan Suro, Bulan Istimewa

Buletin At-Tauhid edisi 41 tahun X

Segala puji hanya milik Allah Ta’ala, satu-satunya Rabb yang berhak untuk diibadahi.Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu‘alaihi wa sallam, beserta keluarganya, para shahabatnya, dan orang-orang yang selalu mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari akhir nanti.

Kaum muslimin yang di muliakan oleh Allah Ta’ala, insya Allah sebentar lagi kita akan memasuki bulan Al Muharram (orang jawa biasa menyebutnya bulan suro), yaitu bulan pertama dalam kalender hijriyah. Bulan Al Muharram atau bulan suro ini termasuk diantara empat bulan haram (suci) yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya (yang artinya),“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus” (QS.At Taubah: 36)
Empat bulan suci tersebut adalah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Al Muharram, dan Rajab. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam, “Satu tahun itu ada 12 bulan. Di antaranya ada 4 bulan haram, yaitu 3 bulan berturut-turut, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Al Muharram, serta Rajab yang berada di antara bulan jumada dan sya’ban.” (HR. Bukhari)
Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena ada dua alasan. Pertama, karena diharamkan pembunuhan pada bulan tersebut sebagaimana hal ini juga diyakini orang jahiliyyah. Kedua, karena larangan untuk melakukan berbagai perbuatan haram pada bulan tersebut lebih keras dari pada bulan-bulan lainnya” (lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi).
Amalan shalih di Bulan Al Muharram
Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, di antara amalan yang dituntunkan oleh agama kita dalam memuliakan bulan Al Muharram adalah dengan banyak-banyak melakukan puasa, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, bulan Al Muharram.”(HR. Muslim), sehingga disunnahkan untuk banyak melakukan puasa di sepanjang bulan Al Muharram.Namun di antara hari-hari di bulan Al Muharram tersebut, adabeberapa jenis puasa yang diutamakan untuk dikerjakan, di antaranya adalah :

[1] Puasa Asyura’, yaitu berpuasa pada tanggal 10 Al Muharram.

Dalil dari puasa asyura’ tanggal 10 Al Muharram ini adalah hadits Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, orang-orang yahudi berpuasa Asyura’. Mereka mengatakan,‘Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun’. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para shahabat, “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang yahudi), karena itu, berpuasalah kalian.” (HR.Bukhari)
Diantara keutamaan berpuasa asyura’ ini adalah diampuni dosanya selama setahun yang lalu.
Dari Abu Qatadah Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Asyura’, kemudian beliau menjawab, “Puasa Asyura’ menjadi penebus dosa setahun yang telah lalu” (HR. Muslim)
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah dosa-dosa kecil. Beliau berkata, “Yang dihapus adalah semua dosa kecil dan tidak termasuk dosa besar”(lihat Al Majmu’, An Nawawi).Namun diharapkan dosa besar pun bisa diringankan dengan amalan tersebut. Ataupun jika tidak, amalan tersebut bisa meninggikan derajat seseorang (lihat Syarh Shahih Muslim). Untuk dosa besar, maka menghapusnya adalah dengan bertaubat, menyesal, dan berusaha sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi.
[2] Puasa Tasu’a, yaitu berpuasa pada tanggal 9 Al Muharram.
Disunnahkan pula bagi kita untuk berpuasa sehari sebelum puasa asyura’, yaitu berpuasa pada tanggal 9 Al Muharram, yang disebut dengan puasa Tasu’a. sebagaimana hadits dari shahabat Abdullah ibnu abbasradhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa, mereka berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani”, Maka Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada tahun mendatang Insya Allah kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan”
Dia (Ibnu ‘Abbas) berkata, “Akan tetapi beliau shallallahu‘alaihi wa sallam telah wafat sebelum tahun depan” (HR. Muslim).
Para ulama menjelaskan bahwa disunnahkan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh, karena Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat berpuasa pada hari kesembilan. Dan insya Allah pada tahun ini tanggal 9 dan 10 Al Muharram bertepatan dengan tanggal 2 dan 3 November 2014, semoga kita dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk mengerjakannya.
Kekeliruan di bulan Al Muharram
Kaum muslimin yang di rahmati oleh Allah Ta’ala. Di tengah kesucian bulan Al Muharram ini, sangat di sayangkan masih banyak saudara-saudara kita yang masih memiliki keyakinan dan amal yang keliru dan tidak sesuai dengan syari’at agama Islamterkait bulan suro atau bulan Al Muharram ini, di antaranya adalah :
[1] Anggapan bahwa bulan suro adalah bulan sial
Sebagian dari masyarakat kita memiliki anggapan dan keyakinan bahwa bulan suro adalah bulan sial, sehingga mereka tidak berani untuk menyelenggarkan suatu acara terutama hajatan dan pernikahan. Anggapan semacam ini tidaklah benar, karena hal tersebut merupakan keyakinan yang bertentangan dengan keimanan dan aqidah yang benar dalam Islam. Keyakinan keliru tersebut dinamakan thathoyyur, yaitu beranggapan sial terhadap sesuatu tanpa adanya dalil maupun bukti ilmiyah.
Di dalam agama kita tidak diperbolehkan mempunyai keyakinan sial terhadap waktu tertentu, baik hari, maupun bulan tertentu, serta tidak diperbolehkan mencela waktu, karena AllahTa’ala berfirman dalam hadits qudsi,”Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim).
Bahkan beranggapan sial terhadap sesuatu tanpa alasan yang benar bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kesyirikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Beranggapan sial termasuk kesyirikan, beranggapan sial termasuk kesyirikan. (Beliau menyebutnya tiga kali, lalu beliau bersabda). “Tidak ada di antara kita yang selamat dari beranggapan sial. Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.” (HR. Abu Dawud).

Sebelum Islam datang, orang musyrikin Arab jahiliyyah memiliki keyakinan yang serupa dengan keyakinan tathoyyur di atas. Di antaranya adalah masyarakat jahiliyyah meyakini bahwa bulan Shafar (bulan setelah Muharam) sebagai bulan sial. Mereka takut dan tidak mau mengadakan kegiatan apapun di bulan Shafar. Mereka juga berkeyakinan sial dengan hadirnya burung hantu, karena mereka menganggap burung hantu adalah lambang kematian. Jika hinggap di atas rumah lalu mematuk-matuk rumah tersebut, itu artinya sebentar lagi akan ada anggota keluarga rumah tersebut yang akan meninggal.
Ketika Islam datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghapus keyakinan ini, beliau bersabda, “Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada keyakinan sial karena sebab tertentu, tidak ada keyakinan tentang burung hantu, dan tidak ada kesialan bulan shafar” (HR. Bukhari dan Muslim).

[2] Melakukan ritual ritual yang tidak dituntunkan oleh agama Islam.
Sebagian kaum muslimin masih banyak yang melakukan amalan-amalan maupun ritual ritual yang jauh dari ajaran agama Islam ketika memasuki bulan suro, khususnya ketika memasuki tanggal satu suro. Diantaranya ada yang melakukan suatu amalan berupa tidak mau berbicara ketika mengitari tempat tertentu, kungkum (berendam), dan lain sebagainya, dengan keyakinan hal tersebut mendatangkan barokah. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa, “Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada perintah dan tuntunannya dari kami, maka ia tertolak” (HR. Muslim)
Bahkan yang sangat mengherankan,ada di antara masyarakat kita yang ngalap berkah melalui kotoran hewan tertentu yang diperebutkan, dan juga ada yang memberikan sesaji arung labuh kepada selain Allah Ta’ala. Sungguh ini sangat jauh dari ajaran agama kita.Allah Ta’alatelah berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah” (QS.Al An’am: 162).

Kesimpulannya, bahwa bulan Al Muharramatau dikenal dengan bulan Suro merupakan bulan yang mulia. Maka tidak selayaknya bagi kita kaum muslimin mempunyai anggapan yang tidak baik terhadapnya, dengan menjadikan sebagai bulan sial atau bulan keramat. Sehingga bisa menyebabkan secara tidak sadar kita terjerumus kepada kesyirikan dengan melakukan amalan dan ritual keliru yang merupakan cerminan dari keyakinan yang tidak benar.
Demikianlah penjelasan tentang keistimewaan bulan Al Muharram serta beberapa kekeliruan dalam mensikapinya, mudah-mudahan kita di jauhkan oleh Allah Ta’ala dari keyakinan serta amalan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan diberi kemudahan untuk melaksanakan amalan-amalan mulia yang di tuntunkan oleh syari’at. Wallahu a’lam.

Penulis : Nizamul Adli Wibisono, A.Md (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)
Muroja’ah : Ustadz Abu Salman, B.I.S

Permalink | Sumber tulisan: Buletin At-Tauhid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s