Fiqih

A. Secara Bahasa

الفِقْهُ: العِلْمُ في الدِّين، فَقُهَ الرَّجُلُ يَفْقُهُ فِقْهاً وفَقِهَ يَفْقَهُ فَقَهاً: عَلِمَ.

Al Fiqhu : Ilmu agama, faquha ar Rajulu yafquhu fiqhan (Laki-laki itu memahami ilmu). Faqiha – yafqahu- faqahan: mengetahui / mempelajari. (Al Muhith fil Lughah, Juz. 1, Hal. 278. Al Maktabah Asy Syamilah)

الفِقْهُ: الفهمُ. وأفْقَهْتُكَ الشيء. ثم خُصَّ به عِلْمُ الشريعة، والعالِمُ به فَقيهٌ

Al Fiqhu: pemahaman. Afqahtuka asy Syai’ : Aku ajarkan kamu sesuatu. Kemudian maknanya menyempit menjadi ilmu syariah, dan orang yang memiliki ilmu tersebut disebut faqih(Ash Shihah fil Lughah, Juz. 2, Hal. 49. Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, Juz. 11, Hal. 193. Al Maktabah Asy Syamilah)

الفِقْهُ، بالكسر العِلْمُ بالشيءِ، والفَهْمُ له، والفِطْنَةُ، وغَلَبَ على عِلمِ الدينِ لشَرَفِه

Al Fiqhu: dengan kasrah, maksudnya Ilmu tentang sesuatu, pemahaman dan pelayan baginya. Umumnya bermakna ilmu agama  lantaran kemuliaannya. (Al Qamus Al Muhith, Juz. 3, Hal. 384. Al Maktabah Asy Syamilah)

Makna di atas juga ditegaskan oleh ayat-ayat berikut:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌلا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا

Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).” (QS. AL A’raf (7): 179)

Ayat lain, tentang doanya Nabi Musa ‘Alaihis Salam:

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,supaya mereka mengertiperkataanku. (QS. Thaha (20): 27-28)

Berkata Imam Al Qurthubi Rahimahullah:

(يفقهوا قولي) أي يعملوا ما أقوله لهم ويفهموه

“Artinya ajarkkanlah mereka dan fahamkanlah mereka atas apa-apa yang aku katakan.” (Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, Juz. 11, Hal. 193. Al Maktabah Asy Syamilah)

Jadi makna fiqih pada dasarnya adalah pemahaman, pengetahuan, pelayanan, dan ilmu tentang agama (Islam). Makna ini adalah makna yang umum dan luas meliputi semua item kajian agama, duni dan akhirat. Hal ini dipertegas lagi oleh para mufassir ketika mentafsirkan ayat-ayat berikut:

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ

“Taatlah kalian kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul, dan kepada Ulil Amri di antara kalian…” (QS. An Nisa (4): 59)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengomentari makna ‘Ulil Amri’ sebagai berikut:

وقال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس: { وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ } يعني: أهل الفقه والدين. وكذا قال مجاهد، وعطاء، والحسن البصري، وأبو العالية: { وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ } يعني: العلماء.

“Berkata Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas bahwa “Ulil Amru di antara kalian” maknanya adalah Ahlul fiqh (ahli ilmu)  dan agama. Demikian juga pandangan dari Mujahid, Atha’, Al Hasan al Bashri, dan Abul ‘Aliyah, makna “Ulil Amri di antara kalian adalah ulama.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz.2, Hal. 345. Al Maktabah Asy Syamilah)

Ayat lain:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (43)

“Maka bertanyalah kepada Ahludz Dzikri jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An Nahl (16): 43)

Siapakah Ahludz Dzikri yang dimaksud oleh ayat yang mulia ini?

Berkata Imam al Qurthubi Rahimahullah dalam kitab tafsirnya:

وقال ابن عباس: أهل الذكر أهل القرآن وقيل: أهل العلم، والمعنى متقارب.

Berkata Ibnu ‘Abbas: “Ahludz Dzikri adalah Ahlul Quran (yang faham Al Quran), dan dikatakan: Ahli Ilmu (ulama), makna keduanya berdekatan.” (Imam al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, Juz. 10, Hal. 108, Ihya’ ats Turats al ‘Arabi, 1985M-1405H. Beirut-Libanon. Al Maktabah Asy Syamilah)

Ada penjelasan yang lebih lengkap dari Imam Amir Ash Shan’ani Rahimahullah ketika mengomentarI hadits, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan maka akan difahamkan baginya agama,” sebagai berikut:

( وَعَنْ مُعَاوِيَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ ) الْحَدِيثُ دَلِيلٌ عَلَى عَظَمَةِ شَأْنِ التَّفَقُّهِ فِي الدِّينِ وَأَنَّهُ لَا يُعْطَاهُ إلَّا مَنْ أَرَادَ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا عَظِيمًا كَمَا يُرْشِدُ إلَيْهِ التَّنْكِيرُ وَيَدُلُّ لَهُ الْمَقَامُ .

وَالْفِقْهُ فِي الدِّينِ تَعَلُّمُ قَوَاعِدِ الْإِسْلَامِ وَمَعْرِفَةُ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ وَمَفْهُومُ الشَّرْطِ أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّهْ فِي الدِّينِ لَمْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا .

وَقَدْ وَرَدَ هَذَا الْمَفْهُومُ مَنْطُوقًا فِي رِوَايَةِ أَبِي يَعْلَى { وَمَنْ لَمْ يُفَقَّهْ لَمْ يُبَالِ اللَّهُ بِهِ } وَفِي الْحَدِيثِ دَلِيلٌ ظَاهِرٌ عَلَى شَرَفِ الْفِقْهِ فِي الدِّينِ وَالْمُتَفَقِّهِينَ فِيهِ عَلَى سَائِرِ الْعُلُومِ وَالْعُلَمَاءِ وَالْمُرَادُ بِهِ مَعْرِفَةُ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ .

`           “Dari Mu’awiyah dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan maka akan difahamkannya agama.” (HR. Muttafaq ‘alaih). Hadits ini merupakan dalil yang agung atas upaya tafaqquh fid din (mempelajari ilmu agama). Hal itu tidak akan diberikan kecuali untuk orang-orang yang Allah kehendaki kebaikan yang besar, sebagaimana Dia memberikan arahan kepada orang bodoh, dan menunjukinya ke derajat yang mulia. Al Fiqhu fid din adalah mempelajari kaidah-kaidah Islam dan mengetahui halal-haram. Makna tersiratnya adalah bahwa barangsiapa yang tidak diberikan pemahaman agama maka dia tidak dikehendaki kebaikan oleh Allah Ta’ala. Pemahaman tersirat ini telah ditegaskan dalam hadits riwayat  Abu Ya’la: “Barangsiapa yang tidak difahamkan (agama) maka Allah tidak peduli dengannya.” Hadits ini merupakan dalil yang jelas bahwa kemuliaan Al Fiqhu fid din (pemahaman terhadap agama) dan orang-orang yang mempelajarinya, di atas segala jenis ilmu dan  cendekiawan. Dan yang dimaksud dengannya adalah memahami Al Kitab (Al Quran) dan As Sunnah. (Imam Ash Shan’ani, Subulus Salam, Juz. 7, Hal. 221. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Fakhrul Islam al Bazdawi menambahkan lebih tajam lagi:

وَاسْمُ الْفِقْهِ فِي الْعَصْرِ الْأَوَّلِ كَانَ مُنْطَلِقًا عَلَى عِلْمِ الْآخِرَةِ وَمَعْرِفَةِ دَقَائِقِ آفَاتِ النُّفُوسِ وَالِاطِّلَاعِ عَلَى الْآخِرَةِ وَحَقَارَةِ الدُّنْيَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى { لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ }

“Nama Fiqih pada masa awal dahulu bermakna mutlak (umum) untuk ilmu akhirat, pengetahuan kehalusan dan kerusakan jiwa, kemulian akhirat dan kehinaan dunia. Allah Ta’ala berfirman:  “Untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya.” (Imam al Bazdawi,Kasyful Asrar, Juz. 1, Hal. 33. Al Maktabah Asy Syamilah)

Penyempitan Makna Fiqih

Kita telah mengatahui bahwa makna fiqih pada awalnya sangat umum dan luas yakni mencakup segala item kajian Islam; baik ilmu tentang Al Quran, As Sunnah, Halal-Haram, dan lain-lain.  Namun istilah ini mengalimi penyempitan makna pada masa yang belum diketahui pastinya. Kemungkinan adalah pada masaImam Nashirus Sunnah, yakni Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu, ketika dia meletakkan dasar-dasar fiqih Islam (Ushul Fiqih) dalam sebuah bukunya yang terkenal Ar Risalah. Buku ini dan penulisnya, dianggap sebagai  perintis bidang keilmuan ushul fiqih dalam khazanah fiqih Islam.

Saat ini, fiqih mengalami penyempitan makna, demikian menurut para ulama kita di antaranya:

Imam Ali bin Muhammad Al Amidi

الفقه مخصوص بالعلم الحاصل بجملة من الاحكام الشرعية الفروعية، بالنظر والاستدلال.

“Fiqih secara spesifik adalah ilmu yang menelorkan secara global hukum-hukum syar’i yang cabang, baik dengan akal atau dengan dalil.” (Imam Ali bin Muhammad al Amidi, Al Ihkam fi Ushulil Ahkam, Juz.1, Hal. 6. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Abu Muhammad bin Hazm Azh Zhahiri Al Andalusi

فحد الفقه هو المعرفة بأحكام الشريعة من القرآن، ومن كلام المرسل بها، الذي لا تؤخذ إلا عنه، وتفسير هذا الحد – كما ذكرنا – المعرفة بأحكام القرآن وناسخها ومنسوخها، والمعرفة بأحكام كلام رسول الله (ص) ناسخه ومنسوخه،

“Batasan Fiqih adalah pengetahuan tentang hukum syariah dari Al Quran, dan perkataan Rasul tentang hukum, dan tidak boleh mengambil masalah ini kecuali darinya, dan tafsir batasan ini –sebagaimana yan telah kami sebutkan-  adalah pengetahuan tentang hukum-hukum Al Quran beserta nasikh dan mansukhnya, dan pengetahuan tentang perkataan Rasulullah beserta nasikh dan mansukhnya.” (Imam Abu Muhammad bin Hazm, Al Ihkam fi Ushulil Ahkam, Juz. 5, Hal. 694. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Fakhruddin Muhammad bin Umar bin Al Husain ar Razi

وفي اصطلاح العلماء عبارة عن العلم بالأحكام الشرعية العملية والمستدل على أعيانها بحيث لا يعلم كونها من الدين ضرورة

“Secara terminologis para ulama, arti dari fiqih adalah ilmu tentang hukum-hukum syariat  yang terkait dengan amal perbuatan dan penggalian dalil khusus yang tidak diketahui tentang diktum-diktum agama yang penting.” (Imam Fakhruddin ar Razi, Al Mahshul fi ‘Ilmi Ushul Al Fiqh, Juz. 1, Hal. 78. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Fakhruddin al Bazdawi

وَهُوَ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ : عِلْمُ الْمَشْرُوعِ بِنَفْسِهِ وَالْقِسْمُ الثَّانِي إتْقَانُ الْمَعْرِفَةِ بِهِ وَهُوَ مَعْرِفَةُ النُّصُوصِ بِمَعَانِيهَا وَضَبْطُ الْأُصُولِ بِفُرُوعِهَا وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ هُوَ الْعَمَلُ بِهِ

“(Fiqih) ada tiga bagian; pertama, ilmu tentang hal-hal yang disyariatkan. Kedua, penelitan dan pendalaman pengetahuan tentangnya yakni pengetahuan nash-nash dan maknanya, serta kaidah-kaidahnya yang cabang. Ketiga, pengamalannya.” (Imam Al Bazdawi, Kasyful Asrar, Juz.1, Hal. 28. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Zakaria bin Muhammad bin Ahmad bin Zakaria al Anshary

واصطلاحا: العلم بالاحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية، وموضوعه: أفعال المكلفين من حيث عروض الاحكام لها، واستمداده: من الكتاب والسنة والاجماع والقياس وسائر الادلة المعروفة، وفائدته: امتثال أوامر الله تعالى واجتناب نواهيه المحصلان للفوائد الدنيوية والآخروية.

“Secara terminologis, (fiqih) adalah ilmu tentang hukum-hukum syariat seputar amal perbuatan yang dilakukan, berupa dalil-dalilnya dan perinciannya. Temanya: perilaku mukallaf (orang yang kena beban syariat) dilihat dari sisi hukumnya. Penopangnya: Al Quran, As Sunnah, Ijma’, Qiyas dan semua dalik-dalil yang telah diketahui. Faedahnya: melakukan perintahNya Ta’ala dan menjauhi laranganNya, dan mendapatkan dua manfaat, dunia dan akhirat.” (Imam Zakaria al Anshary, Fathul Wahhab, Juz. 1, Hal. 8. Al Maktabah Asy Syamilah)

Demikianlah secara ringkas makna fiqih, menurut Al Quran, As Sunnah dan penjelasan para Imam Ahlus Sunnah. Semoga bermanfaat. Wa akhiru da’wana an alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wallahu A’lam

Maraji’:

  1. Al Quran Al Karim
  2. Al Jami Li Ahkamil Quran, karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi
  3. Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, karya Imam Abul FIda Ismail bin Umar bin Katsir Ad Dimasyqi
  4. Subulus Salam, karya Imam Muhammad bin Ismail Al Amir Ash Shan’ani
  5. Kasyful Asrar, karya Imam Fakhrul Islam Al Bazdawi
  6. Al Ihkam Fi Ushulil Ahkam, kaya Imam Abu Muhammad bin Ali bin Hazm Azh Zhahiri Al Andalusi
  7. Al Ihkam Fi Ushulil Ahkam, karya Imam Ali bin Muhammad Al Amidi
  8. Fathul Wahhab, karya Imam Zakaria bin Muhammad bin Ahmad bin Zakaria Al Anshary
  9. Al Mahshul Fi ‘ilmi Ushul Al Fiqh, karya Imam Fakhruddin Muhammad bin Umar bin Al Husain Al Razi
  10. Al Muhith Fil Lughah, karya Ash Shahib bin ‘Ibad
  11. Al Qamus Al Muhith, karya Fairuz Abadi
  12. Ash Shihah Fil Lughah, karya Al Jauhari

http://moslemmuda.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s