BAB : Tuntunan Manasik Haji Sesuai Sunnah

Manasik-haji-lengkap

Berikut adalah prosesi manasik haji lengkap sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

Ihram

Ibadah Haji dimulai tanggal 8 Dzulhijjah (hari Tarwiah) yaitu diawali dengan memakai pakaian Ihram, dan mengucapkan ihlal (niat) haji:

LABBAIKA HAJJAN

Atau

LABBAIKA ALLAHUMMA HAJJAN

“Ya Allah, kami datang memenuhi panggilan-Mu untuk melaksanakan ibadah Haji.” (HR. Muslim)

Diteruskan dengan talbiyah:

LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIKA LAA SYARIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WALMULK. LAA SYARIKA LAK.

“Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu: aku penuhi panggilan-Mu Tiada sekutu bagi-Mu, aku pnuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan ni’mat adalah kepunyaan-Mu; demikian pula segala kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu.” (HR. Bukhari)

Mabit di Mina

Setelah matahari terbit (masih tgl. 8 Dzulhijjah), berangkat ke Mina. Dan pada malamnya mabit (bermalam/menginap) disana sampai subuh. Di Mina kita melakukan shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh (di qasah tanpa di jamak).

Wukuf di Arafah

Hari berikutnya yaitu tanggal 9 Dzulhijjah dan setelah terbit matahari, tinggalkan Mina menuju ke Arafah. Sebelum masuk areal wukuf di Arafah, mampir dulu di Namirah, menunggu Zawal tergelincir matahari (jika memungkinkan). Ba’da zawal, masuk ke Arafah menuju tenda yang telah ditentukan. Didalam tenda, mendengarkan khutbah Arafah kemudian dilanjutkan dengan shalat Dzuhur dan Ashar Jama’ takdim dan di qasar.

Wukuf. Duduklah menghadap qiblat dan berdo’a dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi, berdo’a sekehendak hati, bisa diselingi istighfar, dzikir, tilawah Al-Qu’an, makan-minum, dan mendengarkan nasehat-nasehat. Waktu wukuf adalah sesudah shalat Dzuhur sampai dengan terbenam matahari. Diantara do’a thawaf:

LA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QADIR.

“Tidak ada Ilah selain Allah yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala puji dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.” (HR. At Tirmidzi)

Mabit di Muzdalifah

Panduan-manasik-haji

Begitu matahari terbenam, tinggalkan Arafah menuju Muzdalifah. Sesampainya di Muzdalifah, shalat Maghrib dan Isya jama’ ta’khir dan di qasar. Kemudian tidur sampai Subuh (mabit).

Kumpulkan batu-batu kecil (sebesar kacang tanah) sebanyak 7 biji untuk melontar jumrah aqobah. Yang sakit dan lemah dapat meneruskan perjalanan ke Mina malam itu juga.

Selesai shalat Subuh berjama’ah, berdo’a di Masy’aril Haram. Seluruh Muzdalifah adalah Masy’aril Haram.

Melontar Jumrah Aqobah tgl. 10 Dzukhijjah

Dari Masy’aril Haram berangkat ke Mina. Istirahat sejenak di tenda Mina, lalu ketempat jamarat, untuk melontar. Bisa juga melakukan Thawaf Ifadah dulu ini tergantung situasi dan kondisi, mana yang lebih memungkinkan.

Cara melontar:

  1. Waktu: setelah matahari terbit (dhuha) atau dikala matahari agak sedikit tinggi.
  2. Cara:
    1. Upayakan mendekati jumrah. Tapi ingat jangan sampai menyakiti sesama.
    2. Ambil posisi dimana qiblat berada disebelah kiri. Sampai disini talbiyah dihentikan.
    3. Lontar jumrah dengan 7 kerikil dan setiap lontaran diiringi takbir (Allahu Akbar)

Tahallul Awwal (ASGHAR)

Tahallul (potong rambut) boleh pilih:

  1. Taqsir: memotong rambut sampai pendek, bagi wanita menggunting beberapa helai rambut.
  2. Tahliq: mencukur rambut sampai gundul, dimulai dari kanan ke kiri (hanya bagi laki-laki). Bagi wanita cukup memotong beberapa helai saja.

Yang terbaik untuk laki-laki tahallul haji adalah tahliq. Setelah itu sudah boleh mengganti pakaian ihramnya dengan pakaian biasa dan semua larangan ihram halal kembali, kecuali jima’.

Hadyu (qurban)

Masih pada tanggal 10 Dzulhijjah, setelah berganti pakaian, menyembelih Hadyu, atau menyerahkan penyembelihan itu kepada yang amanah.

Bila tak sempat menyembelih, boleh dilaksanakan esoknya  yaitu tanggal 11 Dzulhijjah atau sampai dengan 13 Dzulhijjah. (hari-hari Tasyrik)

Thawaf Ifadah

Masih di hari yang sama (10 Dzulhijjah) utamanya berangkat ke Mekkah untuk Thawaf Ifadah dan dilanjutkan dengan Sa’i. Thawaf Ifadah bisa dilakukan pada hari-hari Tasyrik bila berhalangan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Bagi yang udzur, boleh dilaksanakan setelah udzurnya lepas, walau hari-hari Tasyrik telah berlalu.

Tahallul Tsani (akhir/Kubra)

Setelah Thawaf Ifadhah, maka hubungan suami istri enjadi halal kembali. Seusai Thawaf dan Sa’i tersebut, harus kembali lagi ke Mina, sebelum Maghrib. Tidak boleh menginap di Mekkah. Seandainya ada udzur/berhalangan, kemalaman kembali ke Mina tidak mengapa.

Melontar Tiga Jamarat pada tgl. 11, 12 dan 13 Dzulhijjah

Tuntunan-manasik-haji

Tiga jamarat yang dimaksud adalah Jumratul Ula, Jumratul Wustha, Jumratul Aqabah. Melontar jumrah dimulai setelah Dzuhur. Bagi yang udzur bisa sampai tengah malam.

Cara melakukan lontar jamarat sebagai berikut:

Ambil posisi dan melontar seperti yang kita lakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah, selesai melontar Jumrah Ula, kita bergeser kesebelah kiri, menghadap qiblat lalu berdo’a menurut kebutuhan masing-masing dengan mengangkat kedua tangan.

Hal yang sama kita lakukan setelah melontar Jumrah Wustha dan setelah melontar Jumrah Aqabah, seperti pada tanggal 10 Dzulhijjah. Tanpa berdiri lama untuk berdo’a sebagai mana pada dua jamarat terdahulu.

Nafar Awwal dan Nafar Tsani

Setelah selesai melempar jumrah pada tanggal 12 Dzulhijjah, kita sudah menyelesaikan hajinya dan bisa meninggalkan Mina dan pulang ke Mekkah dengan syarat sudah keluar dari Mina sebelum matahari terbenam. dan ini disebut Nafar Awwal. Namun jika matahari sudah terbenam dan masih berada di Mina maka tidak boleh meninggalkan Mina dan harus bermalam lagi di Mina untuk melontar jamarat pada hari berikutnya.

Yang ingin melakukan Nafar Tsani, maka ia harus mabit atau bermalam satu malam lagi di Mina dan melontar jamarat pada tanggal 13 Dzulhijjah ba’da Dzuhur, baru boleh ke Mekkah.

Thawaf Wada’

Thawaf Wada’ adalah ibadah terakhir dari rankaian ibadah haji. Persis seperi Thawaf Ifadah, tetapi tanpa Sa’i. Bagi wanita haidh tidak perlu Thawaf Wada’ dan hajinya tetap sah.

Sampai disini seluruh rangkaian Ibadah Haji Anda Selesai.

*************************************************

Tata Cara Pelaksanaan Haji Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wasalam


Mengingat pentingnya mengetahui manasik haji yang dilaksanakan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, dan sebagai wujud pelaksanaan perintah beliau:

خُذُوْا عَنِّىمَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah dariku manasik haji kalian!”

Maka kami menyajikan terjemahan lengkap hadits Jabir bin ‘Abdillah Radhiallaahu anhu yang menerangkan “Cara Haji Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam “, dan kami sertakan beberapa komentar serta keterangan para ulama berupa catatan kaki, dan hanya kepada Allah kami memohon taufiq dan petunjuk.

Jabir Radhiallaahu anhu berkata: “Bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tinggal di kota Madinah selama sembilan tahun belum pernah melaksanakan haji. Kemudian diumumkan kepada manusia pada tahun kesepuluh Hijriyyah, bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam akan melaksanakan ibadah haji (pada tahun ini).

Maka banyak manusia (para Sahabat) yang berdatangan ke kota Madinah, semua berharap akan mengikuti (tata cara haji) Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan melakukan seperti apa yang dilakukan beliau. Lalu kami keluar bersama beliau hingga tiba di Dzul Hulaifah . (Setiba ditempat ini,-Pent) Asma’ binti Umais melahirkan Mu-hammad bin Abu Bakar (ash-Shiddiq), maka ia mengutus seseorang kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam (untuk bertanya) apa yang harus diperbuat-nya, beliaupun bersabda (kepada Asma,-Pent): “Mandilah dan tutuplah (sumbatlah) tempat keluar darah dengan kain dan berihramlah! Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaksanakan shalat di masjid.

A. Rasulullah Berihram.

Kemudian beliau menaiki Qashwa’ (unta beliau,-Pent) hingga setelah berada diatasnya di-tengah padang pasir terbuka, (beliau berihram dengan mengucapkan “لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بِحَجَّةٍ” “Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah untuk me-laksanakan haji”.

Selanjutnya Jabir berkata: “Maka aku me-lihat sepanjang mata memandang dari depan beliau para jama’ah haji yang menggunakan kendaraan dan yang berjalan kami, demikian pula disisi kiri beliau, disisi kanan beliau dan dibelakang beliau seperti itu (penuh dengan jama’ah haji,-Pent), sementara Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berada di tengah-tengah kami, dan diturunkan al-Quran (wahyu,-Pent) kepada beliau, dan beliau mengetahui penafsirannya. Apa saja yang beliau lakukan kamipun melakukannya. Selanjutnya beliau mengangkat suaranya dengan membaca “talbiyah” yang berisikan tauhid kepada Allah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرَيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَ النِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيَكَ لَكَ

“Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, sesung-guhnya segala pujian dan kenikmatan ada-lah milik-Mu, demikian pula kekuasaan ini (milik-Mu), tiada sekutu bagi-Mu.”

Manusia pun mengangkat suara mereka sambil bertalbiyah dengan talbiyah yang mereka ucapkan, maka Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tidak membantah mereka sedikitpun dari talbiyah mereka itu, sedangkan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam terus menetapi talbiyahnya.

(Selanjutnya) Jabir berkata: “Kami tidak berniat kecuali haji, kami tidak mengetahui umrah.”

B. Memasuki Kota Makkah dan Thawaf

“Hingga tatkala kami telah sampai di Baitullah bersamanya beliau memegang/mengusap Hajar Aswad , lalu thawaf dengan ber-lari-lari kecil pada tiga putaran (pertama) dan berjalan seperti biasa pada empat putaran (berikutnya,-Pent). Lalu beliau menuju ke maqam Ibrahim Alaihissalam dan membaca:
“ Wattakhidzuu mimmaqaami Ibraahiim”

“…Dan jadikanlah sebagian maqam Ibra-him sebagai tempat shalat…”

Beliau jadikan maqam Ibrahim terletak di antara beliau dan Ka’bah, lalu beliau shalat dua rakaat dengan membaca: Qulhuwallaahu ahad dan Qul yaa ayyuhal kaafiruun
(Setelah shalat) beliau menuju ke sumur zam-zam, lalu minum air zam-zam, dan menuangkannya diatas kepala beliau, kemudian beliau kembali ke Hajar Aswad, lalu mengusapnya.

C. Berdiri di Atas Bukit Shafa dan Marwah

Kemudian beliau keluar dari “pintu Shafa” menuju ke bukit Shafa. Setelah mendekati bukit Shafa, beliau membaca:
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah, maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya me-ngerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang-siapa yang mengerjakan suatu kebajiikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Mahamensyukuri kebaikan lagi Maha-mengetahui.”

أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ

“Aku memulai dengan apa yang dimulai oleh Allah.”

Lalu beliau memulai dengan menaiki bukit Shafa hingga beliau melihat Ka’bah, kemudian menghadap ke arah kiblat (Ka’bah,-Pent). Maka beliaupun mentauhidkan Allah dan mengagungkan-Nya, serta mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرٍيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ

“Tiada Ilah yang haq kecuali Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan milik-Nya pula segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada Ilah yang haq, kecuali Dia-Yang Mahaesa, Dia telah memenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan golongan yang bersekutu (pasukan gabungan) dengan sendirian.”

Lalu beliau berdo’a di antara bacaan itu, beliau mengucapkan bacaan ini sebanyak tiga kali.

Kemudian beliau turun (dari bukit Shafa,-Pent) menuju ke bukit Marwah, hingga apabila ke-dua kakinya telah menginjak ditengah lembah itu, beliau berlari , hingga apabila kedua kaki-nya mulai mendaki, beliau berjalan (seperti biasa), hingga tiba di Marwah, lalu menaikinya hingga melihat Baitullah , dan beliau lakukan di Marwah seperti apa yang beliau lakukan di Shafa.”

D. Perintah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam Kepada Para Sahabat Untuk Menjadikan Haji Mereka Sebagai Umrah.

Hingga pada akhir putaran sa’inya ketika berada di bukit Marwah, beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَوْ أَنِّى اسْتَقْبَلْتُ مِنَ أَمْرِىْ مَا اسْتَدْبَرْتُ لَمْ أَسُقِ الْهَدْىَ وَ جَعَلْتُهَا عُمْرَةً فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ لَيْسَ مَعَهُ هَدْيٌ فَلْيَحِلَّ وَلْيَجْعَلْهَا عُمْرَةً

“Hai sekalian manusia, seandainya aku mengetahui (ketika permulaan melaksanakan haji ini) apa-apa yang kuketahui sekarang ini, niscaya akau tidak akan membawa/menggiring binatang hadyu, dan akan kujadikan (pekerjaan hajiku ini) sebagai umrah , maka barangsiapa di antara kalian yang tidak menyertakan binatang hadyu bersamanya (yang tidak membawa binatang hadyu,-Pent) hendaklah ia berta-hallul dan menjadikan (amalannya berupa thawaf dan sa’i yang telah dilakukannya,-Pent) sebagai umrah.”

Dalam riwayat lain beliau bersabda:

أَحِلُّوْا مِنْ إِحْرَامِكُمْ فَطُوْفُوْا بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَقَصِّرُوْا وَأَقِيْمُوْا حَلاَلاً حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ فَأَهِلُّوْا بَالِحِجِّ وَاجْعَلُوْا الَّتِيْ قَدِمْتُمْ بِهَا مُتَعَةً

“Bertahallullah dari ihram kalian, maka thawaflah di Baitullah dan di antara Shafa dan Marwah, serta pendekkanlah (rambut-rambut kepala kalian), dan tinggallah (di Makkah,-Pent) sebagai orang yang halal (yang tidak dalam keadaan berihram,-Pent) hingga datangnya hari Tarwiyah , maka berihram-lah untuk haji dan jadikanlah apa yang telah kalian datang dengannya sebagai haji Tamattu’.”

(Selanjutnya, Jabir Radhiallaahu anhu berkata:-Pent)

Maka bangkitlah Suraqah bin Malik bin Ju’syum (yang pada saat itu dia berada di kaki bukit Marwah), ia berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَرَأَيْتَ عُمْرَتَنَا؟ – وَفِيْ لَفْظٍ: مُتْعَتَنَا؟- أَلِعَامِنَا هَذَا أَمْ لأَبَدٍ؟ فَشَبَّكَ رَسُوْلُ اللهِ  أَصَابِعَهُ وَاحِدَةً فِيْ أُخْرَى وَقَالَ: دَخَلَتِ الْعُمْرَةُ فِيْ الْحَجَّ –مَرَّتَيْنِ- (إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ) “لاَ” بَلْ لأَبَدٍ أَبَدٍ

“Ya Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang umrah kami ini? -Dalam redaksi yang lain: Tamattu’ kami ini?- Apakah hanya untuk tahun kita ini saja ataukah untuk selamanya? Maka Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam; mencengkeramkan (menyatukan) jari-jari tangan (kanannya,-Pent) pada jari-jari tangan (kiri-nya-Pent), dan berkata: ‘Umrah telah masuk dalam haji’ (sampai hari Kiamat), bahkan sampai selama-lamanya.”

E. Khutbah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam Menekankan Para Jama’ah Haji Qiran Yang Tidak Menggiring Binatang Hadyu dan Para Jama’ah Haji Ifrad Untuk Menjadikan Haji Mereka Sebagai Umrah.

Maka bangkitlah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menyampaikan khutbah kepada para jama’ah haji, beliau memuji dan menyanjung Allah Subhannahu wa Ta’ala , lalu berkata:

أَبِاللهِ تَعْلَمُوْنِيْ أَيُّهَا النَّاسُ!؟ قَدْ عَلِمْتُمْ أَنِّيْ أَتْقَاكُمْ لِلَّهِ وَ أَصْدَقُكُمْ وَ أَبَرُّكُمْ، افْعَلُوْا مَا آمُرُكُمْ بِهِ فَإِنِّى لَوْ لاَ هَدْيِىْ لَحَلَلْتُ كَمَا تَحِلُّوْنَ وَلَكِنْ لاَ يَحِلُّ مِنِّى حَرَامٌ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْىُ مَحِلَّهُ ، وَلَوِ اسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِى مَا اسْتَدْبَرْتُ لَمْ أَسُقِ الْهَدْىَ

“Demi Allah, wahai sekalian manusia Apa-kah kalian mengetahui aku!? Sungguh kalian telah mengetahui bahwasanya aku adalah orang yang paling takwa kepada Allah di antara kamu, paling jujur dan paling berbakti, laksanakanlah apa yang kuperintahkan kepada kalian, karena pada hakikatnya kalau bukan karena binatang hadyu, niscaya aku akan bertahallul sebagaimana kalian bertahallul, akan tetapi aku tidak bertahallul dari ihramku ini, sehingga binatang ini tiba di tempat penyembelihannya (hingga disembelih,-Pent). Seandainya dahulu aku mengetahui (berupa kesulitan) dalam urusan ini apa-apa yang kuketahui sekarang ini, niscaya aku tidak akan menggiring binatang hadyu.”

Maka bertahallul-lah semua jama’ah haji yang menyertai Rasulullah dan mereka memendekkan rambut, kecuali Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan mereka yang telah membawa binatang hadyu, dan tidak ada di antara mereka yang meng-giring binatang hadyu, kecuali Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan Thalhah (bin ‘Ubaidillah Radhiallaahu anhu ,-Pent).

F. Kedatangan ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallaahu anhu Dari Negeri Yaman.

‘Ali (bin Abi Thalib Radhiallaahu anhu ,-Peny.) pun tiba dengan membawa sejumlah unta Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , lalu ia mendapati Fathimah Radhiallaahu anha (istrinya,-Pent) ter-masuk di antara mereka yang bertahallul, ia memakai pakaian yang dicelup (dengan wangi-wangian,-Pent) dan memakai celak mata, maka ‘Ali mengingkari (perbuatannya) itu. Fathimah berkata: “Sesungguhnya aku diperintahkan oleh ayahku untuk bertahallul.”

Jabir berkata (melanjutkan ceritanya,-Pent), ketika ‘Ali berada di Irak, dia berkata (men-ceritakan kisahnya ketika melihat Fathimah bertahallul,-Pent).

“Maka aku pergi kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , dan aku menyayangkan apa yang telah dilakukan Fathimah sambil meminta fatwa kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tentang apa yang disebutkan oleh Fathimah dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Lalu kuberitahukan kepada beliau bahwa aku mengingkari perbuatan Fathimah (dalam hal tahallulnya,-Pent), maka beliau berkata: ” Dia (Fathimah) benar, dia benar! (Kata Jabir). Dan beliau berkata ke-pada ‘Ali: ‘Apa yang kamu ucapkan ketika kamu haji?’ ‘Ali berkata: Aku berkata:

اَللَّهُمَّ إِنِّى أُهِلُّ بِمَا أَهَلَّ بِهِ رَسُوْلُكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berihram dengan apa yang Rasul-Mu berihram dengannya.”

Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya bersamaku ada binatang hadyu, maka janganlah kamu bertahallul.”

Jabir berkata (melanjutkan ceritanya,-Pent): “Dengan demikian jumlah binatang hadyu yang dibawa ‘Ali dari Yaman dan yang dibawa oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sebanyak seratus (100) ekor unta.”

Jabir berkata: “Maka bertahallul-lah seluruh jama’ah haji dan memendekkan (rambut-rambut mereka,-Pent), kecuali Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan mereka yang membawa hadyu.”

G. Menuju Mina Pada Hari Tarwiyah.

Pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah,-Pent), para jama’ah haji berangkat menuju Mina. (Ketika akan berangkat dari tempat tinggal mereka,-Pent) mereka berihram untuk haji (dengan mengucapkan: “لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بِحَجَّةٍ”,-pent).

Jabir aberkata: “Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam masuk menemui ‘Aisyah Radhiallaahu anha (sebelum berangkat ke Mina,-Pent). Beliau dapati ‘Aisyah sedang menangis, maka beliau berkata: “Apa-kah gerangan yang menyebabkan engkau menangis?” ‘Aisyah berkata: “Keadaanku, aku sedang haidh sedangkan jama’ah haji telah bertahallul dan aku belum bertahallul, dan belum melaksanakan thawaf (umrah) di Baitul-lah, sementara orang-orang berangkat ke haji sekarang ini.” Maka beliaupun bersabda:

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ فَاَغْتَسِلِى ثُمَّ أَهِلِّى بِالْحَجِّ ثُمَّ حُجِّى وَاصْنَعِى مَا يَصْنَعُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوْفِيْ بِالْبَيْتِ وَلاَ تُصِلِّى – فَفَعَلَتْ

“Sesungguhnya (haidh,-Pent) itu adalah suatu perkara yang telah ditentukan Allah atas para wanita, maka mandilah kemudian ucapkanlah talbiyah untuk haji         لَبَيْكَ اللَّهُمَّ بِحَجَّةٍ –Pent, lalu hajilah dan lakukanlah semua (amalan) yang dilakukan oleh orang yang melaksanakan haji, hanya saja engkau tidak boleh melakukan thawaf di Baitullah dan tidak boleh shalat , maka (‘Aisyah) pun melaksanakannya.”

Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengendarai (untanya untuk berangkat ke Mina,-Pent). Beliau disana melaksanakan shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya’ dan Shubuh , kemudian beliau tetap menunggu disana sejenak hingga matahari terbit , lalu menyuruh untuk mendirikan sebuah Qubbah dari bulu unta yang dipersiapkan untuk beliau (berteduh ketika wuquf) di Namirah.

H. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam Berangkat Menuju ‘Arafah.

Lalu berangkatlah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan orang-orang Quraisy dengan tidak ragu. Namun beliau berhenti pada Masy’aril Haram yang terletak di Muzdalifah, disitulah tempat turun beliau, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Quraisy di zaman Jahiliyyah. Kemudi-an beliau melanjutkan perjalanannya hingga mendatangi (sebuah tempat dekat) padang ‘Arafah, dan beliau jumpai bahwasanya Qubbah (kemah) beliau telah dibangun di Namirah, lalu beliaupun turun ditempat tersebut, hingga ketika matahari telah tergelincir, beliau memerintahkan agar unta beliau ” al-Qashwa’ ” segera dipasang pelananya, lalu beliau melanjutkan perjalanannya dan memasuki tengah lembah.

I. Khutbah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam di Arafah.

(Beliau bersabda:)

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَ أَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا فِيْ بَلَدِكُمْ هَذَا أَلاَ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَىَّ مَوْضُوْعٌ

“Sesungguhnya darah-darah dan harta-harta kalian haram atas kamu sekalian seperti haramnya harimu ini, di bulanmu ini, di negerimu ini. Ketahuilah segala sesuatu dari perkara Jahiliyyah diletakkan dibawah kedua telapak kakiku ini.

وَدِمَاءُ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوْعَةٌ وَإِنَّ أَوَّلَ دَمٍ أَضَعُ مِنْ دِمَاءِنَا دَمُ ابْنِ رَبِيْعَةَ ابْنِ الْحَارِثِ – كَانَ مُسْتَرْضِعًا فِيْ بَنِى سَعْدٍ فَقَتَلَتْهُ هُذَيْلٌ – وَرِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوْعٌ وَ أَوَّلُ رِبًا أَضَعُ رِبَا عَبَّاسٍ ابْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَإِنَّهُ مَوْضُوْعٌ كُلُّهُ

“Darah-darah dizaman Jahiliyyah diletakkan (dibatalkan dari tuntutan,-Pent) dan (tuntutan) darah pertama yang dibatalkan di antara tuntutan darah-darah kami adalah darah Ibnu Rabi’ah bin al-Harits, dia adalah seorang anak yang disusukan dikalangan Bani Sa’ad, lalu ia dibunuh oleh seorang dari suku Hudzail. Riba Jahiliyyah pun dibatalkan dan riba pertama yang aku letakkan (batalkan adalah riba milik ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, semua riba itu dibatalkan.”

فَاتَّقُوْا اللَّهَ فِيْ النِّسَاءِ وَإِنَّكُمْ أَخَذْ تُمُوْهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِـمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوْطِئْنَ فُرُشَـكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُوْنَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ فَاضْرِبُـوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَـيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَ كِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ

“Bertakwalah kamu kepada Allah dalam (memperlakukan) para isteri, karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah, dan menghalalkan kemaluan-kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kewajiban mereka atasmu yaitu mereka tidak boleh mempersilahkan seorang pun yang tidak kamu senangi untuk masuk ke rumahmu. Dan apabila mereka melanggar hal tersebut, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras dan tidak menyakitkan. Dan kewajibanmu atas mereka yaitu memberi rizki (makan) dan pakaian dengan cara yang baik.”

وَإِنِّى قدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا – لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللَّهِ وَ أَنْتُمْ تُسْأَلُوْنَ عَنِّى فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُوْنَ؟ قَالُوْا: نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ. فَقَالَ بِأَصْبُعِهِ السَّبَـابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيُنْكِتُهَا إِلَى النَّاسِ: اللَّهُمَّ اشْهَدْ اللَّهُمَّ اشْهَدْ (ثَلاَثَ مَرَّاتٍ)

“Dan bahwasanya telah kutinggalkan padamu sesuatu yang menyebabkan kamu tidak akan tersesat selama-lamanya jika kamu berpegang teguh padanya, yaitu “Kitabullah”. Dan kamu akan ditanya tentangku, maka apakah jawaban kalian? (Para Sahabat) berkata: ‘Kami bersaksi bahwasanya engkau telah menyampaikan (risalah Rabbmu), menunaikan (amanah) dan menasihati (ummat), lalu beliaupun bersabda sambil mengangkat jari telunjuk-nya ke langit dan menggerakkannya kepada para Sahabat (jama’ah haji): ‘Ya Allah saksikanlah! Ya Allah saksikanlah (beliau mengucapkannya tiga kali.'”)

J. Menjamak Shalat di ‘Arafah.

Kemudian Bilal mengumandangkan adzan satu kali, lalu membaca iqamah, maka Nabi pun melaksanakan shalat Zhuhur, kemudian Bilal membaca iqamah sekali lagi, lalu Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaksanakan shalat ashar. Beliau tidak mengerjakan shalat (sunnah) di antara kedua shalat tersebut. Kemudian beliau menaiki untanya hingga tiba di tempat wuquf, beliau menjadikan perut untanya, al-Qashwa’, rapat ke batu-batu gunung dan menjadikan tempat berkumpulnya para pejalan kaki ber-ada didepannya, beliau mengahadap ke arah kiblat dan tetap wuquf hingga matahari ter-benam dan hilangnya mega kuning, serta bola matahari tenggelam. (Ketika wuquf beliau membonceng Usamah (bin Zaid,-Pent) dibelakangnya).

K. Bertolak Dari ‘Arafah.

(Lalu) Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertolak (dari ‘Arafah) dengan penuh ketenangan, beliau menyempitkan kekang (kendali) unta al-Qashwa’ hingga kepala unta itu menyentuh tempat meletakkan kaki yang ada di kendaraan itu. Dan beliau memberikan isyarat dengan tangan kanannya (kepada para jama’ah haji) seraya bersabda:

أَيُّهَاالنَّاسُ السَّكِيْنَةَ! السَّكِيْنَةَ

“Wahai sekalian manusia tenanglah, tenanglah!”

Setiap kali beliau tiba dibukit pasir, beliau longgarkan kendali untanya sedikit hingga untanya mendaki.

L. Menginap di Muzdalifah.

Sesampainya di Muzdalifah, beliau me-laksanakan shalat Maghrib dan ‘Isya’ dengan satu adzan dua iqamah, beliau tidak shalat sunnah di antara kedua shalat itu. Kemudian beliau berbaring (tidur) hingga terbit fajar Shubuh, lalu beliau mengerjakan shalat Shubuh setelah kelihatan jelas masuknya waktu Shubuh dengan satu kali adzan dan satu kali iqamah.

Wuquf di Masy’aril Haram (Muzdalifah)

Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam naik al-Qashwa’ hingga tiba di “Masy’aril Haram”, beliau langsung menghadap kiblat lalu berdo’a kepada Allah, bertakbir dan bertahlil (mengucapkan kalimat tauhid, Laa Ilaaha Illallaah) serta mentauhidkan-Nya. Beliau terus melaksa-nakan wuquf ini hingga pagi hari telah sangat terang dan beliau berkata:

وَقَفْتُ هَهُنَا وَالْمُزْدَلِفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ

“Aku wukuf disini dan seluruh lokasi Muzdalifah adalah tempat wukuf.”

M. Bertolak dari Muzdalifah untuk Melempar Jumratul ‘Aqabah.

Sebelum matahari terbit, beliau bertolak (dari Muzdalifah ke Mina,-Pent), beliau membonceng Fadhl bin ‘Abbas, ia adalah seorang yang berambut indah, berkulit putih dan ber-paras tampan. Ketika Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berangkat, maka ada beberapa wanita berlari melewati beliau, Fadhl pun melihat kepada mereka (para wanita itu), maka Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menempelkan tangannya diatas wajah Fadhl, lalu Fadhl memutar wajahnya ke arah yang lain (agar dapat) melihat (mereka), maka beliaupun memutar tangannya ke arah yang lain itu sambil memalingkan wajah Fadhl agar melihat ke arah lain, hingga beliau tiba di lembah “Muhassir” dan sedikit mempercepat gerak (jalan) untanya.

N. Melempar Jumratul ‘Aqabah (Jumratul Kubra) [Tanggal 10 Dzulhijjah].

Kemudian beliau menempuh jalan tengah yang tembus keluar menuju Jumratul Kubra hingga tiba di Jamrah yang terletak di dekat pohon kemudian beliau melontarnya dengan tujuh batu kecil sambil bertakbir (membaca:اللَّهُ أَكْبَرْ ,-Pent) pada setiap lontaran yang batunya sebesar batu yang digunakan untuk ketapel, beliau melontarnya dari tengah-tengah lembah sambil berkata:

لِتَأْخُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِي لَعَلِّى لاَ أَحُجُّ  بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ

“Ambillah dariku manasik haji kalian, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui, bisa jadi aku tidak akan melaksanakan ibadah haji lagi setelah hajiku ini.”

O. Menyembelih Binatang Hadyu dan Mencukur Gundul Rambut Kepala.

Lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam berangkat menuju lokasi penyembelihan dan menyembelih 63 (enam puluh tiga) ekor unta dengan tangan beliau, kemudian diserahkan kepada ‘Ali (bin Abi Thalib,-Pent). Lalu binatang kurban yang se-lebihnya disembelih oleh ‘Ali dan digabung-kan dengan binatang hadyunya. Lalu beliau memerintahkan untuk mengambil sepotong daging dari setiap satu ekor unta hadyunya, kemudian dimasukkan kedalam periuk untuk dimasak. Lalu beliau makan dari daging kurban itu dan meminum air kuahnya.

Dalam riwayat lain: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menyembelih (hewan hadyu), lalu mencukur (rambut kepalanya sampai bersih,-Pent), lalu beliau duduk di Mina pada hari Nahar (10 Dzulhijjah,-Pent). Maka tidaklah beliau ditanya tentang suatu (pekerjaan yang dilakukan pada hari itu) yang didahulukan sebelum yang lainnya, melainkan beliau menjawab: “Tidak mengapa, tidak mengapa.”

P. Menuju Makkah untuk Thawaf Ifadhah.

Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengendarai untanya, lalu bertolak ke Baitullah, kemudian melaksanakan thawaf ifadhah, dan beliau shalat Zhuhur di Makkah. Kemudian beliau mendatangi Bani ‘Abdul Muththalib yang sedang memberi minum air zam-zam (kepada para jama’ah haji), lalu berkata:

اِنْزِعُوْا بَنِى عَبْدِالْمُطَّلِبِ فَلَوْ لاَ أَنْ يَـغْلِبَكُمُ النَّاسُ لَنَزَعْتُ مَعَكُمْ فَنَاوَلُوْهُ دَلْوًا فَشَرِبَ مِنْهُ

“Timbalah (air zam-zam itu) wahai Bani ‘Abdul Muththalib, kalau sekiranya (aku tidak merasa khawatir) kamu akan dikalah-kan oleh para jama’ah haji atas pemberian minum ini, tentu aku akan menimba dengan kalian, kemudian mereka meyerahkan setimba air zam-zam kepada beliau, maka beliaupun meminumnya.”

(Terjemahan hadits ini dinukil dan dipadukan dari beberapa sumber, yaitu Shahih Muslim bab “Hajjatun Nabiyyi Shalallaahu alaihi wasalam 8/402-421 hadits No. 2941, Hajjatun Nabi Shalallaahu alaihi wasalam : 45-92 karya Syaikh al-Albani, dan Shifat Hajjatin Nabi Shalallaahu alaihi wasalam karya asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zinu hal: 3-16.)

http://www.alquran-sunnah.com/haji-dan-umrah/manasik-haji/157-tata-cara-pelaksanaan-haji-rasulullah-shalallaahu-alaihi-wasalam-

*******************************************

Ikuti Tatacara Haji dan Umrah Yang Diajarkan Rasulullah, Bukan Manut Saja Dengan Biro Haji Yang Menyelisihi Tatacara Haji Rasulullah

Ringkasan Manasik Haji & Umrah Sesuai Sunnah

jangan sampai ibadah haji anda tidak berpahalaBerikut pembahasan manasik haji dan umrah secara ringkas dan praktis sesuai sunnah untuk memudahkan para calon Jama’ah Haji dan umrohManasik Haji & Umroh
Manasik haji yang afdhol dan utama adalah tamattu’, yaitu seorang melakukan umrah pada bulan-bulan haji (Syawwal, Dzulqo’dah, dan awal bulan Dzulhijjah) yang diakhiri tahallul. Kemudian dilanjutkan kegiatan haji pada tanggal 8 Dzulhijjah dengan memakai ihram menuju Mina.Intinya, dimulai dengan umrah, lalu dilanjutkan dengan haji.A.Tata Cara Umrah (bagi haji tamattu’)
Ihram:
1. Sebelum pakai ihram, maka mandilah, pakailah minyak wangi pada badan , bukan pada pakaian.Lalu pakailah ihram bagi pria. Wanita tetap memakai jilbab panjang/kerudung.
2. Ketika di miqot ,menghadaplah ke kiblat sambil membaca doa masuk ihram: 
لَبََّيْـكَ اللهُمَّ بعُمْرَََةٍ
 “Ya Allah aku penuhi panggilanmu melaksanakan umrah”.

3. Setelah itu, perbanyak membaca talbiyah yang berbunyi:

لـَبَّيْـكَ اللهُمَّ لـَبَّيْكَ, لـَبََّيْكَ لا شَريْكَ لَكَ لَبَّيْكَ, إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَة لَكَ وَالْمُلْكَ لا شَريْكَ لَكَ
Talbiyah ini dibaca hingga tiba di Makkah.
4.  Jika seorang sudah ihram dan baca doa ihram di miqot, maka telah diharamkan baginya melakukan perkara berikut: Jima'(bersetubuh) beserta pengantarnya,melakukan dosa, debat dalam perkara sia-sia,memakai pakaian biasa yang berjahit, tutup kepala bagi pria, pakai parfum, memotong/cabut rambut dan bulu, memotong kuku, berburu, melamar, dan akad nikah.
5. Namun dibolehkan perkara berikut: Mandi, garuk badan, menyisiri kepala, bekam, cium bau harum, menggunting kuku yang hampir patah,melepas gigi palsu, bernaung pada sesuatu yang tak menyentuh kepala-seperti, payung, mobil, pohon, bangunan, dll-, memakai ikat pinggang, memakai sandal, cincing, jam dan kaca mata.Tawaf
a. Putuskan talbiyah, jika tiba di Makkah.

b. Masuk masjidil Haram sambil baca doa masuk masjid:

اللّهُمَّ افـْتَحْ لِيْ أبْوَابَ رَحْمَتِكَ
c. Tawaflah dari Hajar Aswad sambil menampakkan lengan kanan
d. Jika tiba di Hajar Aswad , bacalah doa: “Bismillahi wallahu akbar” sambil cium Hajar Aswad atau jika tak bisa diisyaratkan dengan tangan kanan. Lalu mulailah berputar dengan perbanyak doa dan dzikir.
e. Tiba di Rukun Yamani, maka usap Rukun Yamani. Setelah itu baca doa ini:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَة وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَة وَقِـنَا عَـذَابَ النَّار
 Baca doa ini dari Rukun Yamani Sampai ke Hajar Aswad.
f. Demikianlah seterusnya sampai selesai 7 putaran yang diakhiri di Hajar Aswad atau garis lurus ke Hajar Aswad.
g. Usai tawaf, sholat sunnatlah dua raka’at di belakang maqom Ibrahim menghadap kiblat dengan membaca Al-Fatihah dan Al-Kafirun dalam raka’at pertama.Lalu Al-Fatihah dan Al-Ikhlash dalam raka’at.
h. Belakangilah kiblat untuk menuju ke kran-kran air Zam-Zam. Minum air Zam-Zam sebanyaknya, lalu siram kepala, tapi jangan mandi atau wudhu disitu!!
i. Usai minum, datanglah ke Hajar Aswad/garis lurus HajarAswad untuk mencium atau isyarat kepadanya sambil baca: “Bismillahi wallahu akbar”.
j. Setelah itu, belakangi kiblat. Maka disana anda temukan bukit Shofa untuk melaksanakan sa’i.Sa’i
1. Mendakilah ke shofa sambil berdoa:

إنَّ الصَّفا وَالْمَرْوَة مِنْ شَعَائِر ِاللهَ, أبْدَأ بمَا بَدَأ اللهُ به

2. Jika telah berada di atas Shofa, menghadap ke kiblat , maka bacalah Allahu akbar (3X), dan Laa ilaaha illallah (3X) sambil angkat tangan berdoa:

لا إلهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَريْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحمد وهو على كل شيئ قدير
لا إله إلا الله وحده , أنجز وعده ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده
Ini dilakukan tiga kali. Setiap kali selesai membaca doa ini, maka dianjurkan berdoa banyak dan doanya bebas. Tak ada doa khusus. Silakan pilih doa sendiri.
3. Setelah itu berjalanlah dengan pelan menuju bukit Marwah. Jika tiba dibatas/isyarat lampu hijau, berlarilah semampunya hingga diisyarat berikutnya yang juga warna hijau.
4. Jika telah lewat isyarat tsb, jalanlah pelan hingga tiba di Marwah.

5. Kalau sudah di atas Marwah, baca lagi Allahu akbar (3X), dan Laa ilaaha illallah (3X) sambil angkat tangan berdoa

لا إله إلا الله وحده لا شريك له, له الملك وله الحمد وهو على كل شيئ قدير

لا إله إلا الله وحده , أنجز وعده ونصر عبده  وهزم الأحزاب وحده

Ini dilakukan tiga kali. Setiap kali selesai membaca doa ini, maka dianjurkan berdoa banyak dan doanya bebas. Tak ada doa khusus. Silakan pilih doa sendiri.
6. Dari Shofa ke Marwah, terhitung satu putaran. Lalu dari Marwah ke Shofa, itu sudah dua putaran. Intinya: bilangan genap selalu di Shofa, dan ganjil di Marwah. Jadi, 7 putaran yang akan kita lakukan berakhir di Marwah
7. Jika selesai 7 putaran yang tetap diakhiri doa di atas, maka keluarlah dari Marwah ke tukang cukur dan lakukan tahallul. Bagi pria rambut dicukur rata-tanpa digundul-, dan bagi wanita potong ujung rambut seukuran 1 ruas jari.Wanita usahakan bawa gunting sendiri sehingga bisa potong sendiri.
8. Nah, selesailah umrah kita dengan tahallul tsb. Sekarang boleh pakai baju biasa dan melakukan beberapa hal yang dilarang dalam umrah, selain ma’shiyat. Boleh jimak dengan istri, pakai parfum, potong kuku,dll.B.Tata Cara Haji
Adapun tata haji secara ringkas dan sesuai sunnah, maka silakan ikuti petunjuk dan amalan-amalan berikut ini:
Ihram
1.Usai melaksanakan umrah, kita tunggu tanggal 8 Dzulhijjah yang disebut “Hari Tarwiyah”.Maka mulailah ihram di hotel masing-masing di Makkah yang diawali dengan mandi, dan pakai parfum di badan, bukan di pakaian ihram.

2. Setelah pakai ihram, bacalah doa ihram:

لبيك اللهم حجة

Mabit/Bermalam di Mina

1. Lalu berangkatlah ke Mina pada pagi hari setelah terbit matahari, tanggal 8 Dzulhijjah tsb.
2. Sesampai di Mina, qoshor ,tanpa di jama’ antara sholat Zhuhur dan Ashar. Artinya: Kerjakan sholat Zhuhur 2 raka’at pada waktunya dan Ashar dua raka’at pada waktunya.
3. Demikian pula Sholat Maghrib dan Isya’ diqoshor, tanpa dijama’.
4. Bermalamlah di Mina agar bisa sholat Shubuh disana sebagaimana sunnah Nabi Shollallahu alaihi wasallam.Wuquf/Berdiam Diri di Arafah
1. Usai sholat Shubuh di Mina, berangkatlah ke Arafah setelah terbit matahari.Waktu itu sudah tanggal 9 Dzulhijjah.Sambil bertalbiyah.
2. Tiba di Arafah lakukan sholat Zhuhur dan Ashar dua-dua raka’at, yaitu dijama’taqdim dan qoshor.

3. Jika anda sudah jelas berada dalam batas Arafah, berdolah sambil angkat tangan.Disini tak ada doa yang diwajibkan, bebas berdoa. Namun jika mau berdoa, maka pakailah doa Nabi Shollallahu alaih wasallam dan perbanyak baca:

لا إله إلا الله وحده لا شريك له, له الملك وله الحمد وهو على كل شيئ قدير
4. Tetaplah berdoa sampai tenggelam matahari. Ingat jangan sampai waktu kalian habis bicara dan jalan. Gunakan baik-baik untuk berdoa karena Allah Ta’ala mendekat ke langit dunia di hari Arafah.
5. Ingat jangan sampai tinggalkan Arafah sebelum matahari terbenam !!Mabit/Bermalam di Muzdalifah
1. Tinggalkanlah Arafah setelah matahari terbenam menuju Muzdalifah.
2.Setiba di Muzdalifah, langsung kerjakan sholat Maghrib dan Isya’ dengan jama’ta’khir dan qoshor.Artinya: Maghrib dikerjakan di waktu Isya’ tetap 3 raka’at, dan Isya’ 2 raka’at.
3. Usai sholat, istirahat dan tidurlah, jangan ada kegiatan karena besok ada kegiatan berat. Jika mau, berwitir sebelum tidur seperti kebiasaan anda sehari-hari. Tak usah pungut batu di malam itu seperti sebagian orang karena itu juga tak ada sunnahnya !
4. Bermalamlah di Muzdalifah sampai shubuh agar bisa kerjakan sholat shubuh disana.
5. Usai sholat shubuh, duduklah banyak berdzikir dan berdoa sambil angkat tangan atau bertalbiyah. Hindari dzikir jama’ah karena tak ada tuntunannya dalam agama kita.
6. Jangan tinggalkan Muzdalifah selain orang-orang lemah, seperti orang tua lansia, wanita, anak kecil, dan petugas haji. Orang ini boleh pergi setelah pertengahan malam.Melempar Jumrah Aqobah/Kubro
1. Tinggalkan Muzdalifah sebelum terbit matahari pada tanggal 10 Dzulhijjah hari ied , sambil bertakbir, dan bertalbiyah menuju Mina melempar.
2. Boleh pungut batu yang seukuran antara biji coklat dan biji kacang dimana saja, baik di perjalanan menuju Mina atau di Mina sendiri ataupun dimana saja.
3. Lemparlah Jumrah Aqobah setelah terbitnya matahari sebanyak 7 lemaparan batu kecil yang anda pungut tadi. Ketika melempar menghadap Jumrah, maka jadikan Makkah sebelah kirimu, dan Mina (lokasi perkemahan) sebelah kananmu.
4. Setiap kali melemparkan batu kecil tsb, ucapkanlah “Allahu akbar” dan usahakan masuk ke dalam kolam. Jika meleset dari kolam, ulangi.Dan Seusai melempar, putuskan talbiyah.Mencukur Rambut/Tahallul Pertama
A. Seusai melempar, maka gundullah rambut kalian atau pendekkan/cukur rata. Adapun wanita, maka potong rambut sendiri dengan gunting yang dibawa seukuran 1 ruas jari.
B. Dengan ini berarti anda telah melakukan tahallul awal. Maka anda sekarang boleh pakaian biasa, gunakan parfum, gunting kuku dan bulu, dll. Namun Jimak dengan istri belum boleh !!Menyembelih Kambing
1. Sembelihlah kambing pada tanggal 10 Dzulhijjah atau setelahnya pada hari-hari tasyriq (tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijjah).
2. Dilarang keras menyembelih kambing sebelum tanggal 10 Dzulhijjah. Barangsiapa yang menyembelih sebelum tgl tsb, maka sembelihannya tidak sah, harus diganti, atau puasa 3 hari pada hari-hari tasyriq, dan 7 hari di Indonesia.
3. Bagi petugas pembeli dan penyembelih kambing yang biasanya dijabat oleh ketua kloter atau pembimbing, maka kami nasihatkan agar takut kepada Allah jangan sampai menyembelih hadyu/kambingnya sebelum tgl 10 -nya. Jika kalian lakukan itu, maka kalian telah berdosa karena membuat ibadah orang kurang pahalanya. Jika pengurus ambil keuntungan dari kambing yang disembelih sebelum tgl 10 tersebut, maka ia telah memakan harta orang dengan cara yang haram dan batil. Bertaqwalah kepada Allah dan takut pada hari kalian akan diadili di padang Mahsyar !!
4. Menyembelih hewan korban bagi jama’ah haji tidaklah wajib, yang wajib hari itu adalah menyembelih kambing yang memang wajib dilakukan oleh haji tamattu’ atau qiron. Kambing ini disebut “hadyu”. Jangan sampai tertipu dengan sebagian orang yang tidak takut kepada Allah yang mewajibkan potong hewan korban di waktu itu, padahal tidak wajib karena hanya semata-mata ingin meraih keuntungan yang banyak !!Tawaf Ifadhoh
1. Setelah cukur dan memakai baju biasa, berangkatlah menuju Makkah untuk tawaf ifadhoh.
2. Lakukan tawaf sebagaimana waktu umrah sebanyak 7 putaran, lalu sholat sunnat 2 raka’at di belakang maqom Ibrahim.Kemudian mengarahlah ke kran-kran air Zamzam untuk minum sebanyak-banyak dan siram kepala. Setelah itu kembali ke Hajar Aswad cium atau lambaikan tangan pada garis lurus dengan Hajar Aswad.Sa’i
1. Berikutnya anda menuju ke shofa dan lakukan amalan-amalan sebagaimana telah dijelaskan pada “Tata Cara Umrah”, tadi di atas.
2. Usai 7 Putaran, maka anda dianggap telah bertahallul kedua, namun tanpa bercukur lagi. Maka dengan ini anda dibolehkan melakukan jimak dengan istri.
3. Tawaf Ifadhoh dan sa’I boleh dilakukan hari-hari tasyriq atau sisa hari-hari haji lainnya selama Anda disana. Tapi lebih cepat lebih bagus. Namun ingat, jangan sampai jimak sebelum lakukan 2 hal ini.Mabit/Bermalam di Mina
1. Selesai tawaf Ifadhoh dan sa’I di Makkah,maka kembalilah ke Mina untuk bermalam selama 2 atau 3 hari. Bermalam disana wajib.
2. Selama 3 hari di Mina, sholat Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya’ dikerjakan secara qoshor. Artinya dikerjakan Zhuhur dua raka’at pada waktunya, Ashar 2 raka’at pada waktunya, dan Maghrib tetap pada waktunya, serta Isya’ 2 raka’at pada waktunya.
3. Siang harinya tgl 11 setelah shalat zhuhur, berangkatlah ke 3 jumrah untuk melempar, dan ambil batu dimana saja sebanyak 21 biji.
4. Berikut anda berangkat ke tempat pelemparan, dan lemparlah 3 jumrah tsb, yang dimulai dengan Jumrah Shughra dekat Masjid Khoif sebanyak 7 lemparan.
5. Di Jumrah Shughra ini, lakukan beberapa amalan berikut: 1- Ketika melempar disini menghadaplah ke arah Jumrah dengan menjadikan Makkah sebelah kirimu & Mina (lokasi perkemahan) sebelah kananmu, 2- Lemparlah Jumrah shughra dengan batu kecil sambil ucapkan “Allahu akbar” setiap kali melempar, 3-Carilah tempat sunyi untuk berdo’a disini menghadap kiblat sambil angkat tangan.
6. Lalu anda menuju ke Jumrah Wustho (tengah) dan lakukanlah 3 amalan yang anda lakukan tadi di Jumrah Wustho.
7. Selanjutnya menuju ke Jumrah Kubro yg biasa disebut “Jumrah Aqobah”, dan lakukan juga amalan disini yang anda lakukan di Jumrah Shughro dan Wustho. Cuma disini anda tak dianjurkan berdoa. Tapi lansung pergi !! Inilah yang dilakukan pada tgl 11.
8. Pada tgl 12 & 13 Dzulhijjah, lakukanlah saat itu apa yang anda lakukan pada tgl 11 tadi di atas.
9. Jika anda tergesa-gesa karena ada hajat, anda boleh tinggalkan Mina pada tgl 12 Dzulhijjah. Ingat jangan sampai kedapatan waktu maghrib. Jika kedapatan maghrib sementara masih di Mina, maka anda harus bermalam lagi.
10. Jika anda selesai melempar tgl 13 Dzulhijjah-dan inilah yg afdhol-, maka anda dianggap telah menyelesaikan ibadah haji. Semoga ibadah hajinya ikhlash dan mabrur.Tawaf Wada’/Tawaf Perpisahan
1. Tawaf wada’ hukumnya wajib dilakukan jika seseorang sudah hendak bersafar meninggalkan Makkah. Kota kenangan dalam beribadah dan taat kepada Allah. Semoga Allah masih perkenankan kita kembali lagi ke Makkah.
2. Lakukanlah tawaf wada’ sebagaimana halnya tawaf ifadhoh dan tawaf umrah. Tapi dengan memakai pakaian biasa.
3. Jika anda ingin-sebelum keluar dari Masjidil, berdoalah di Multazam, yaitu suatu tempat antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Berdoa’alah disini banyak-banyak tanpa harus angkat tangan. Doa dengan sungguh-sungguh sambil menempelkan dada, wajah, kedua lengan dan tangan untuk mengingat akan kondisi kita di padang Mahsyar dan menunjukkan di hadapan Allah akan kelemahan kita dan butuhnya kita kepada-Nya. Ini merupakan sunnah. Namun jangan diyakini bahwa kita tempelkan badan kita disitu karena ada berkahnya. Itu hanya sekedar menunjukkan perasaan butuh dan rendah diri kita kepada Allah,serta sekedar ikuti sunnah.

4. Sebelum kembali, berilah kabar gembira keluarga di Indonesia. Lalu sesampai di Indonesia, jangan langsung ke rumah, tapi ke masjid dulu sholat sebagaimana sunnah Nabi Shollallahu alaihi wasallam.Petunjuk Manasik Haji Dan Umroh (dubbing by Rodjatv)

Demikian manasik yang bisa tuliskan disini menurut sunnah. Wallahu a’lam. Semoga ini merupakan amal sholeh kami. Akhir doa kami, alhamdulillah washollallahu alaihi wasallam.

Disusun Oleh:
Ust.Abdul Qodir Abu Fa’izah
post by Abu Muawiah di http://al-atsariyyah.com/download-makalah-ringkas-manasik-haji.html

**************************************

Tuntunan Ibadah Haji (1)

Sungguh Allah Ta’ala tidaklah menciptakan manusia dan jin kecuali hanya untuk menyembah-Nya semata, sebagaimana firman-Nya:

وما خلقت الجن و الإنس إلا ليعبدون

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz dzariyat:56)

kemudian untuk merealisasikan penyembahan tersebut dibutuhkan suatu media yang dapat menjelaskan makna dan hakikat penyembahan yang dikehendaki Allah Ta’ala, maka dengan hikmah-Nya yang agung Dia mengutus para Rasul dalam rangka membawa dan menyampaikan risalah dan syariat-Nya kepada jin dan manusia. Dan risalah tersebut merupakan petunjuk yang jelas dan hujjah atas para hamba-Nya. Dan diantara kesempurnaan Islam Allah yang Maha Bijaksana menetapkan ibadah Haji ke Baitullah Al Haram sebagai salah satu dari syiar-syiar Islam yang agung. Bahkan ibadah haji merupakan rukun yang kelima dari rukun-rukun Islam dan merupakan salah satu sarana dan media bagi kaum muslimin untuk bersatu, meningkatkan ketaqwaan dan meraih surga yang telah dijanjikan untuk orang-orang yang bertaqwa.Oleh karena itu Islam dengan kesempurnaan syari’atnya telah menetapkan suatu tatacara atau metode yang lengkap dan terperinci sehingga tidak perlu adanya penambahan dan pengurangan dalam pelaksanaan ibadah ini. Dan sebagai seorang muslim yang baik tentunya akan berusaha dan bersemangat untuk mempelajarinya kemudian mengamalkannya setelah Allah memberikan pertolongan, kemudahan dan kemampuan baginya untuk menunaikan ibadah yang mulia ini.

Dari sinilah penulis berusaha untuk memberikan apa yang Allah Ta’ala karuniakan dari hal-hal yang berhubungan dengan ibadah yang mulia ini, sebuah ibadah yang selalu diharap-harap dan dicita-citakan kaum muslimin yang berpegang teguh dengan agamanya, mudah-mudahan hal ini bermanfaat bagi semua pihak dan dapat pula memperbaiki kesalahan-kesalahan yang banyak dilakukan sebagian para jama’ah haji serta dapat dijadikan sebagai petunjuk bagi mereka yang akan menunaikannya dan mudah-mudahan Allah Ta’ala menjadikan amalam yang kecil ini sebagai bekal bagi penulis ketika menghadap Rabb-Nya di hari yang tidak ada pertolongan dan belas kasihan kecuali dari-Nya yang Maha Kuasa lagi Maha Adil dan Maha Bijaksana.

1. Definisi Haji

a. Secara Etimologi

Kata haji berasal dari bahasa arab yang bermakna tujuan dan dapat dibaca dengan dua lafazh Al-hajj dan Al-Hijj [1]

b. Secara terminologi syariat

Haji menurut istilah syar’i adalah beribadah kepada Allah dengan melaksanakan manasik yang telah ditetapkan dalam sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam [2] dan ada pula ulama yang berpendapat: “Haji adalah bepergian dengan tujuan ke tempat tertentu pada waktu yang tertentu untuk melaksanakan suatu amalan yang tertentu pula[3]. Akan tetapi definisi ini kurang pas karena haji lebih khusus dari apa yang didefinisikan di sini, karena seharusnya ditambah dengan satu ikatan yaitu ibadah, maka apa yang ada pada definisi pertama lebih sempurna dan menyeluruh.

2. Dalil Pensyari’atannya

Haji merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima dan dia merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan bagi seorang muslim yang mampu, sebagaimana telah digariskan dan ditetapkan dalam Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’.

Adapun dalil dari Al-Qur’an:

ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلاً ومن كفر فإن الله غني عن العـالمين

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS. Ali Imran, 97)

dan firman Allah Ta’ala

وأتموا الحج والعمرة لله فإن أحصرتم فما استيسر من الهدي ولا تحلقوا رؤوسكم حتى يبلغ الهدي محلة فمن كان منكم مريضًا أو به أذًى من رأسه ففدية من صيام أو صدقة أو نسك فإذا أمنتم فمن تمتع بالعمرة إلى الحج فما استيسر من الهدي فمن لم يجد فصيام ثلاثة أيام فى الحج وسبعة إذا رجعتم تلك عشرة كاملة ذلك لمن لم يكن أهله حاضرى المسجد الحرام واتقوا الله واعلموا أن الله شديد العقاب

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum kurban sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa, atau bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan Haji), (wajiblah dia menyembelih) kurban yang mudah didapat. Tetapi jika dia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekkah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketauhilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Baqarah,196)

Dalil dari As-Sunnah:

Hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:

خطبنا رسول الله  فقال يأأيها الناس قد فرض الله عليكم الحج فحجوا

“Telah berkhutbah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kepada kami dan berkata: “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan atas kalian untuk berhaji, maka berhajilah kalian.” (HR. Muslim)

Dan hadits Ibnu Umar Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وحج البيت وصوم رمضان

“Islam itu didrikan atas lima perkara yaitu persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah (dengan benar) kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat,berhaji ke baitullah dan puasa di bulan ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalil ijma’ (konsesus) para Ulama’

Para ulama dan kaum muslimin dari zaman Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sampai sekarang telah bersepakat bahwa ibadah haji itu hukumnya wajib.[4]

3. Syarat-syarat haji

Haji diwajibkan atas manusia dengan lima syarat:

1. Islam

2. Berakal

3. Baligh

4. Memiliki kemampuan perbekalan dan kendaraan

5. Merdeka

4. Miqat-miqat untuk haji

Miqat adalah apa yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh syari’at untuk suatu ibadah baik tempat atau waktu.[5] Dan haji memiliki dua miqat yaitu miqat zamani dan makani. Adapun miqat zamani dimulai dari malam pertama bulan syawal menurut kosensus para ulama, akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang kapan berakhirnya bulan haji. Perbedaan ini terbagi menjadi tiga pendapat yang masyhur yaitu:

1.Syawal, Dzul Qa’dah, dan 10 hari dari Dzul Hijjah dan ini merupakan pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, dan Ibnu Zubair dan ini yang dipilih madzhab hanbali.

2.Syawal, Dzul Qa’dah, dan 9 hari dari Dzul Hijjah dan ini yang dipilih madzhab Syafi’i.

3.Syawal, Dzul Qa’dah, dan Dzul Hijjah ini yang dipilih madzhab malikiyah

Dan yang rajih –wallahu’alam– bahwa bulan Dzul Hijjah seluruhnya termasuk bulan haji dengan dalil firman Allah Ta’ala:

الحج أشهر معلومات فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوق ولا جدال فى الحج

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat kefasikan, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS Al-Baqarah, 197)

dan firman Allah Ta’ala :

وأذان من الله ورسوله إلى الناس يوم الحج الأكبر أن الله بريء من المشركين

“Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyirikin.” (QS At-Taubah 9:3)

Dalam surat Al-Baqarah ini Allah Ta’ala berfirman (أشهر) dan bukan dua bulan sepuluh hari atau dua bulan sembilan hari. padahal (أشهر) jamak dari (شهر) dan hal itu menunjukkan paling sedikit tiga bulan dan pada asalnya kata (شهر) masuk padanya satu bulan penuh dan tidak dirubah asal ini kecuali dengan dalil syar’i [6] maka tidak boleh berhaji sebelum bulan syawal dan tidak boleh mengakhirkan suatu amalan haji setelah bulan Dzulhijjah.

Sebagai contoh seorang yang berhaji pada bulan Ramadhan maka ihramnya tersebut tidak dianggap sah untuk haji akan tetapi berubah menjadi ihram untuk Umrah.

Adapun miqat makani, maka berbeda-beda tempatnya disesuaikan dengan negeri dan kota yang akan menjadi tempat awal para haji untuk melakukan ibadah hajinya. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasullulah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu:

وقت رسول الله  لأهل المدينة ذا الحليفة ولأهل الشام الجحفة ولأهل النجد قرن ولأهل اليمن يلملم قال هن لهن لمن أتى عليهن من غير أهلهن ممن كان يريد الحج و العمرة فمن كان دونهن مهله من أهله وكذلك أهل مكة يهلون منها

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah menentukan miqat bagi ahli Madinah Dzul Hulaifah * dan bagi ahli Syam Al-Juhfah dan bagi ahli Najd Qarn dan bagi ahli Yamam Yalamlam lalu bersabda: “mereka (miqat-miqat) tersebut adalah untuk mereka dan untuk orang-orang yang mendatangi mereka selain penduduknya bagi orang yang ingin haji dan umrah. Dan orang yang bertempat tinggal sebelum miqat-miqat tersebut, maka tempat mereka dari ahlinya, dan demikian pula dari penduduk Makkah berhaji (ihlal) dari tempatnya Makkah.” (H.R Bukhari 2/165, 166; dan 3/21, Muslim 2/838-839, Abu Dawud 1/403, Nasa’i 5/94,95,96)

Dari hadits diatas Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah menerangkan bahwa miqat ahli Madinah adalah Dzul Hulaifah yang dikenal sekarang dengan nama Abyar Ali yaitu sebuah tempat di Wadi Aqiq yang berjarak enam mil atau 52/3 mil kurang seratus hasta[7] yang setara kurang lebih 11 km. dari Madinah. Dan dari makkah sejauh sepuluh marhalah atau kurang lebih 430 Km dan sebagian ulama mengatakan 435 Km. Dan miqat penduduk Syam adalah al-Juhfah yaitu suatu tempat yang sejajar dengan Raabigh dan dia berada dekat laut, jarak antara Raabigh (tempat yang sejajar dengannya) dengan makkah adalah lima marhalah atau sekitar 201 Km, dan berkata sebagian ulama sekitar 180 km. Akan tetapi karena banyaknya wabah di al-Juhfah, maka para jamaah haji dari Syam mengambil Raabigh sebagai ganti al-Juhfah. Miqat ini juga sebagai miqat penduduk Mesir, Maghrib, dan Afrika Selatan seperti Somalia jika datang melalui jalur laut atau darat dan berlabuh di Raabigh, akan tetapi kalau mereka datang melalui Yalamlam maka miqat mereka adalah miqat ahli Yaman yaitu Yalamlam. Yalamlam yang dikenal sekarang dengan daerah As Sa’diyah adalah bukit yang memisahkan Tuhamah dengan As-Saahil, berjarak dua marhalah atau sekitar 80 km dari Makkah, dan berkata sebagian ulama sekitar 92 km.

Demikian pula miqat penduduk Najd adalah Qarnul Manazil atau Qarnul Tsa’alib, yaitu sebuah bukit yang ada di antara Najd dan Hijaz. Jaraknya dari makkah dua marhalah atau sekitar 80 Km. dan berkata sebagian ulama sekitar 75 Km* demikian juga ahli Thaif dan Tuhamah Najd serta sekitarnya.[8] Kemudian ada satu miqat lagi yaitu Dzatu ‘Irq yaitu tempat yang sejajar denagn Qarnul Manazil yang terletak antara desa al-Mudhiq dan Aqiq Ath-Thaif, jaraknya dari Makkah dua marhalah atau sekitar 80 km. Dan miqat ini juga untuk penduduk Iraq. Akan tetapi terjadi perselisihan dari para ulama tetang penetapan Dzatul ‘Irq sebagai miqat, apakah didasarkan dari perintah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam atau dari perintah Umar bin Khaththab Radhiallahu’anhu?

a. Pendapat pertama menyatakan bahwa Nabilah yang menetapkannya sebagaimana dalan hadits Abu Dawud dan An-Nasa’i dari ‘Aisyah beliau berkata:

أن رسول الله وقت لأهل العراق ذات العرق

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah menentukan miqat ahli ‘Iraq adalah Dzatul ‘irq” (H.R Abu Dawud no. 1739 dan an-Nasa’i 2/6)[9]

b. Pendapat kedua mengatakan bahwa Umar bin Khaththab Radhiallahu’anhu yang menetapkannya. Sebagaimana dalam Shahih Bukhari ketika penduduk Bashrah dan Kufah mengadu kepada Umar tentang jauhnya mereka dari Qarnul Manazil, bekata Umar Radhiallahu’anhu:

فانظروا حذوها من طريقكم

“Lihatlah tempat yang sejajar dengannya (Qarnul Mnazil) dari jalan kalian.” Lalu Umar menetapkan Dzatul ‘Irq (H.R Bukhary 1/388) dan ini adalah pendapat Imam Syafi’i.

Yang rajih –wallahu’alam– bahwa miqat tersebut telah ditetapkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan penetapan Umar tersebut bersesuian dengan apa yang telah ditetapkan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, dan ini adalah pendapatnya Ibnu Qudamah.

Miqat-miqat diatas diperuntukkan bagi ahli tempat-tempat tersebut dan orang-orang yang lewat melaluinya dari selain ahlinya, sehingga setiap orang yang melewati miqat yang bukan miqatnya maka wajib baginya untuk berihram darinya. Misalnya: orang Indonesia yang melewati Madinah dan tinggal disana satu atau dua hari kemudian berangkat umrah atau haji maka wajib baginya untuk berihram dari Dzul Hulaifah atau ahli Najd atau ahli Yaman yang melewati Madinah tidak perlu pergi ke Qarnul Manazil atau Yalamlam akan tetapi diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala untuk berihram dari Dzul Hulaifah.kecuali ahli Syam yang melewati madinah dan Al-Juhfah, maka ada perselisihan para ulama tentang kebolehan mereka menunda ihramnya sampai ke Al-Juhfah,

a. pendapat pertama membolehkan bagi mereka untuk mengakhirkan ihram mereka sampai Al-Juhfah, dan ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan Imam Malik. Mereka berdalil bahwa seorang yang melewati dua miqat wajib baginya berihram dari salah satu dari keduanya. Satu dari keduanya adalah cabang, yaitu Dzul Hulaifah, dan yang kedua adalah asal, yaitu Al-Juhfah ,maka boleh mendahulukan asal dari cabangnya. dan pendapat ini yang dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagaimana dinukilkan Al-Ba’ly dalam Ikhtiyarat al-Fiqhiyah halaman 117.

b. Pendapat yang kedua mengatakan bahwa mereka wajib berihram dari Dzul Hulaifah karena zhahir hadits dari Ibnu Abbas diatas, dan ini adalah pendapat Jumhur Ulama. Dan ini adalah pendapat yang lebih hati-hati kerena keumuman sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

ولمن أتى عليهن من غير أهلهن

“Dan bagi yang datang melaluinya dari selain ahlinya” (Hadits Ibnu Abbas).

Adapun mereka yang berada di antara miqat dengan makkah maka wajib berihram dari tempat dia tetapkan niatnya untuk berhaji atau berumrah. Maka hal ini menguatkan penduduk yang berada di antara Dzul Hulaifah dan Al-Juhfah seperti penduduk ar-Rauha’, penduduk Badr dan Abyar al-Maasy untuk berihram dari tempat mereka. Demikian juga kalau ada seorang penduduk madinah kemudian bepergian ke Jeddah dan tinggal di sana satu atau dua hari kemudian ingin berumrah atau berhaji maka miqatnya adalah Jeddah kecuali kalau asal tujuan bepergiannya adalah umrah atau haji maka hajatnya tersebut ikut asal tujuannya sehingga dia ihram dari miqatnya yaitu Dzul Hulaifah. contohnya: Seorang mengatakan saya ingin pergi umrah dan saya akan turun dulu di Jeddah sebelum umrah untuk membeli barang-barang yang saya butuhkan, maka disini kepergiannya ke Jeddah adalah ikut kepada asal tujuannya yaitu umrah. Akan tetapi kalau asal tujuannya adalah pergi ke Jeddah dikarenakan ada kebutuhan yang sangat penting kemudian berkata: “Kalau dikendaki Alah dan saya mempunyai kesempatan, saya akan berumrah, maka disini umrah ikut kepada asal tujuan yaitu ke Jeddah. Maka dia berihram di Jeddah dan jika dia memilliki dua tujuan yang sama kuat maka diambil tujuan melaksanakan umrah sebagai asal. Demikian juga bagi ahli Makkah, mereka berihram dari Makkah untuk berhaji. Sedangkan untuk umrah, maka mereka harus keluar tanah haram Makkah yang paling dekat. Dengan dalil hadits Ibnu Abbas yang terdahulu dan hadits Aisyah ketika beliau berumrah setelah haji maka Rasululllah Shallallahu’alaihi Wasallam menyuruh Abdurrahman bin Abi Bakar untuk mengantarnya ke Tan’im, sebagaimana dalam hadits Abdurrahman, beliau berkata:

أمرني رسول الله  أن أردف عائشة وأعمرها من التنعم (متفق عليه)

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah memerintahkanku untuk menemani Aisyah dan (Aisyah) berihram untuk umrah dari Tan’im “(H.R Mutafaq ‘alaih)

Demikianlah miqatnya ahli Makkah baik dia penduduk asli maupun pendatang berihram dari rumah-rumah mereka jika akan berhaji dan keluar ke tempat yang halal (di luar tanah haram Makkah) yang terdekat jika akan berumroh. Kemudan bagi mereka yang tidak melewati miqat-miqat tersebut, maka wajib bagi mereka untuk berihram dari tempat yang sejajar dengan miqat yang terdekat dari jalan yang dilewati tersebut.

Kesimpulan dari pembahasan ini bahwa mansia itu tidak lepas dari 3 keadaan:

1. Dia berada di dalam batas haram Makkah, ini dinamakan al-Harami atau al-Makki maka dia berikhram untuk haji dari tempat tinggalnya, dan kalau berumrah maka harus keluar dari haram dan berihram darinya.

2. Berada di luar haram Makkah dan berada sebelum Miqat maka mereka berihram dari tempatnya untuk berhaji dan berumrah.

3. Berada di luar Miqat maka mereka memiliki dua keadaan:

a. Melewati Miqat, maka wajib berihram dari miqat

b. Tidak melewati miqat kalau ke Makkah, maka mereka berihram dari tempat yang sejajar atau memilih miqat yang terdekat dengannya.

Adapun seorang yang pergi ke Makkah tidak lepas dari dua keadaan:

1. Pergi ke Makkah dengan niat haji atau umrah atau keduanya bersama-sama maka tidak boleh dia masuk makkah kecuali dalam keadaan berihram.

2. Pergi ke Makkah dengan niat tidak berhaji dan umrah, maka dalam hal ini para ulama terbagi menjadi dua:

a. Orang yang melewati miqat dan ingin masuk makkah wajib berihram baik ingin haji dan umrah ataupun yang lainnya, ini merupaka madzhab Hanafiyah dan Malikiyah.

Berdalil dengan atsar Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu:

إنه لا يدخل إلا من كان محرمًا

“Sesungguhnya tidaklah masuk (ke haram makkah) kecuali dalam keadaan berihram”.

Mereka berkata: “Ini menunjukkan bahwa seorang mukalaf kalau melewati miqat dengan niat masuk makkah maka tidak boleh memasukinya kecuali dalam berihram. Demikian juga Allah telah mengharamkan makkah dan keharaman tersebut mengharuskan masuknya dengan cara yang khusus dan kalau tidak maka sama saja dengan yang lainnya.”

b. Boleh bagi yang melewati miqat dan tidak berniat haji atau umrah untuk tidak berihram dan ini adalah madzhab Syafi’i.

Mereka berdalil sebagai berikut:

Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

لمن أراد الحج و العمرة (متفق عليه)

“Bagi siapa saja yang ingin melaksanakan haji dan umrah” (Mutafaqun ‘Alaih)

Di sini Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membatasi perintah berihram kepada orang yang berniat melaksanakan haji dan umrah, hal ini menunjukkan bahwa selainnya dibolehkan tidak berihram jika ingin masuk makkah

Berhujjah dengan masuknya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ke Makkah pada fathul Makkah dalam keadaan memakai topi baja pelindung kepala (al-Mighfar)

Dan yang rajih –wallahu’alam– adalah pendapat kedua yang membolehkan karena asalnya adalah tidak diwajibkan untuk berihram sampai ada dalil yang menunjukkannya. Dan ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu Qudamah dan Bahaudin al-Maqdisy serta Muhammad bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syanqithy.

Dari pembahasan yang lalu menunjukkan wajibnya berihram dari miqat-miqat yang telah ditentukan oleh syar’i, lalu bagi mereka yang melewat miqat dan dia berniat haji atau umrah dan belum berihram maka dia tidak lepas dari tiga keadaan:

1. Melewati miqat dan belum berihram, lantas dia melampaui miqat beberapa jauh, kemudian kembali ke miqat untuk berihram darinya, maka hukumnya adalah boleh dan tidak terkena apa-apa, karena dia telah berihram dari tempat yang Allah perintahkan untuk berhram.

2. Melewati miqat, walaupun hanya satu kilometer, lalu berihram dan dia tidak kembali ke miqat, masalah ini ada dua gambaran:

a.Dia memiliki udzur syar’i sehingga tidak mampu untuk kembali, seperti takut kehilangan haji kalau kembali dan lain sebagainya.

b.Tidak memiliki udzur syar’i.

maka hukum kedua-duanya adalah sama, yaitu wajib menyembelih sembelihan, karena dia telah kehilangan kewajiban haji, yaitu berihram dari miqat.

3. Melewati miqat dan melampauinya, kemudian berihram setelah melampaui miqat, lalu kembali dan berihram lagi untuk kedua kali dari miqat maka dalam hal ini ada lima pendapat ulama:

a. Wajib atasnya dam (sembelihan) baik kembali atau tidak kembali, ini pendapat malikiyah dan hanabillah.

b. Tidak ada dam selama belum melaksanakan satu amalan-amalan haji atau umrah, ini madzhab Syafi’iyah

c. Kalau kembali ke miqat dalam keadaan bertalbiyah maka tidak ada dam (sembelihan) dan kalau kembali tidak bertalbiyah maka wajib atasnya dam.

d. Rusak hajinya atau umrahnya dan wajib mengulangi ihramdari miqat, ini pendapat Sa’id bin Jubair.

e. Tidak apa-apa, ini pendapat al-Hasan al-Bashry, al-Auza’i, dan ats-Tsaury.

Pendapat pertama adalah pendapat yang dirajihkan oleh Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syanqithy dalam Mudzakirat Syarh ‘Umdah hal. 23.

5. Jenis-jenis Manasik Haji

Jenis-jenis manasik haji yang telah ditetapkan syariat ada tiga,yaitu:

1. Ifrad

Ifrad merupakan salah satu dari jenis manasik haji yang hanya berihram untuk haji tanpa dibarengi dengan umroh,maka seorang yang memilih jenis manasik ini harus berniat untuk haji saja, kemudian pergi ke Makkah dan ber-thawaf qudum, apabila telah ber-thawaf maka dia tetap berpakaian ihram dan dalam keadaan muhrim sampai hari nahar (tanggal 10 Dzul hijah dan tidak dibebani hadyu (sembelihan),serta tidak ber-Sa’i kecuali sekali dan umrohnya dapat dilakukan pada perjalanan yang lainnya.

Diantara bentuk-bentuk Ifrad adalah:

a. Berumroh sebelum bulan-bulan haji dan tinggal menetap di Makkah sampai haji.

b. Berumroh sebelum bulan-bulan haji, kemudian pulang ketempat tinggalnya dan setelah itu kembali ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.

2. Tamattu’

Tamatu’ adalah berihram untuk umrah di bulan-bulan haji setelah itu berihram untuk haji pada tahun itu juga. Dalam hal ini diwajibkan baginya untuk menyembelih hadyu (sembelihan). Oleh karena itu setelah thawaf dan sa’i dia mencukur rambut dan pada tanggal 8 Dzul Hijjah berihram untuk haji.

3. Qiran

Qiran adalah berihram untuk umrah dan haji sekaligus, dan membawa hadyu (sembelhan) sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dan qiran ini memiliki tiga bentuk:

a. Berihram untuk haji dan umrah bersamaan, dengan menyatakan “لبيك عمرةً وحجًا ” dengan dalil bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam didatangi Jibril u dan berkata:

صل في هذا الوادى المبارك و قل عمرة فى حجة

“Shalatlah di wadi yang diberkahi ini dan katakan “‘Umrah fi hajjatin” (H.R Bukhari)

b. Berihram untuk umrah saja pertama kali kemudian memasukkan haji atasnya sebelum memulai thawaf. Dengan dalil hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah ketika beliau berihram untuk umrah kemudian haidh di Saraf. Lalu Rasulullah memerintahkan beliau untuk berihlal (ihram) untuk haji dan perintah tersebut bukan merupakan pembatalan umrah dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadits tersebut:

سعيك طوافك لحجك وعمرتك

“Cukuplah bagi kamu thawafmu untuk haji dan umrahmu” (H.R Muslim no. 2925/132)

c. Berihram untuk haji kemudan memasukkan umrah atasnya. Tentang kebolehan hal ini para ulama ada dua pendapat:

Boleh dengan dalil hadits ‘Aisyah:

أهل رسول الله  بالحج

Rasululloh berihlal (ihrom) dengan haji”.

dan hadits Ibnu Umar Radhiallahu’anhu:

صل في هذا الوادى المبارك و قل عمرة فى حجة

“Shalatlah di wadi yang diberkahi ini dan katakan “‘Umrah fi hajjatin” (H.R Bukhari)

دخل العمرة فى الحج إلى يوم القيامة

“telah masuk umroh kedalam haji sampa hari kiamat”.

Dalil-dalil ini menunjukkan kebolehan memasukkan umrah kedalam haji.

Tidak boleh dan ini adalah pendapat yang masyhur dalam madzhab hanbali. Berkata Syaikhul Islam: “Dan seandainya dia berihram dengan haji kemudian memasukkan umrah ke dalamnya, maka tidak boleh menurut pendapat yang rajih dan sebaliknya dengan kesepakatan para ulama” [10]

Kemudian berselisih para ulama dari ketiga macam/jenis manasik ini dan dapat kita simpulkan menjadi tiga pendapat:

1. Tamattu’ lebih utama dan ini merupakan pendapat Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, ‘Aisyah, Alhasan, ‘Atha’, Thawus, Mujahid, Jabir bin Zaid, Al-Qarim, Saalim, Ikrimah, Ahmad bin Hanbal, dan madzhab ahli zhahir serta merupakan pendapat yang masyhur dari madzhab hanbali dan satu daru dua pendapat Imam Syafi’i.

2. Qiran lebih utama dan ini merupakan pendapat madzhab Hanafi dan Tsaury berhujjah dengan:

Hadits Anas, beliau berkata:

سمعت رسول الله  أهل بها جميعًا: لبيك عمرة و حجًا، لبيك عمرة و حجًا (متفق عليه)

“Aku mendengar Rasulullah berihlal dengan keduanya: ‘Labbaik Umrotan wa hajjan (Mutafaqun Alaih)

Hadits Adh-Dhabi bin Ma’bad ketika talbiyah dengan keduanya, kemudian datang umar lalu dia menanyakannya,maka beliau berkata: “Kamu telah mendapatkan sunah Nabimu” (HR Abu Dawud no. 1798; Ibnu Majah no. 2970 ddengan sanad shahih)

Perbuatan Ali dan perkataannya kepada Utsman ketika menegurnya:

سمعت النبي يلبي بها جميعا فلم أكن أدع قول رسول الله لقولك (رواه البيهقي)

“Aku mendengar Rasulullah bertalbiyyah dengan keduanya sekalgus, maka aku tidak akan meninggallkan ucapan Rasulullah karena pendapatmu “(H.R Baihaqi)

Karena pada Qiran ada pembawaan hadyu, maka lebih utama dari yang tidak membawa.

3. Ifrad lebih utama dan ini merupakan pendapat Imam Malik dan yang terkenal dari Madzhab Syafi’i serta pendapat Umar, Utsman, Ibnu Umar, Jabir dan ‘Aisyah; dengan hujjah:

  • Hadits Aisyah dan Jabir yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melakukan haji ifrad
  • Karena haji tersebut sempurna tanpa membutuhkan penguat, maka yang tidak membutuhkan lebih utama dari yang membutuhkan.
  • Amalan Khulafaur Rasyidin

Sedangkan yang rajih –wallahu’alam– adalah pendapat pertama dengan dalil:

a. Hadits Ibnu Abbas, beliau berkata: ketika Rasulullah sampai di Dzi Thuwa dan menginap disana , lalu setelah shalat subuh beliau berkata:

من شاء أن يجعلهاعمرة فلييجعلها عمرة

“Barang siapa yang ingin menjadikannya umrah maka jadikanlah dia sebagai umrah” (Mutafaqun Alaihi)

b. Hadits Aisyah:

خرجنل مع رسول الله  ولا أريد إلا أنه الحج، فلما قدما مكة تطوفنا بالبيت فأمر رسول الله  ما لم يكن ساق الهديي أن يحل، قالت فحل من لم يكن ساق الهدي و ناؤه لم يسقن اللهدي فاحللنا

“Kami telah berangkat bersama Rasulullah dan tidaklah kami melihat kecuali itu adalah haji, ketika kami tiba di makkah kami thawaf di ka’bah, lalu Rasulullah memerintahkan orang yang tidak membawa hadyu (senmbelihan) untuk bertahalul, berkata Aisyah: maka bertahalullah orang yang tidak membawa hadyu dan istri-istri beliatidak membawa hadyu maka mereka bertahalul ” (Mutafaqun ‘Alaih)

c. Juga terdapat riwayat Jabir dan Abu Musa bahwa Rasulullah memerintahkan sahabat-sahabatnya ketika selesai thawaf di ka’bah untuk tahalul dan menjadikannya sebagai umrah.

Maka perintah pindah dari Ifrad dan Qiran kepada tamatu’ menujukkan bahwa tamattu’ lebih utama. Karena, tidaklah beliau memindahkan satu hal kecuali kepada yang lebih utama.

d. Sabda Raslullah Shallallahu’alaihi Wasallam

لو استقبلت من أمري ما استدبرت ما سقت الهدي و لجملتها عمرة

“Seandainya saya dapat mengulangi apa yang telah lalu dari amalan saya maka saya tidak akan membawa sembelihan dan menjadikannya Umrah”. (H.R Muslim Ahmad no. 6/175)

e. Kemarahan dan kekesalan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kepada para sahabatnya yang masih bimbang dengan anjuran beliau agar mereka menjadikan haji mereka umrah sebagaimana hadits Aisyah:

فدخل علي و هو غضبان فقلت: من اغضبا يا رسول الله اخله الله النار؟ قال أوما شعرت أني أمرت الناس بأمر فإذا هم يترددون

“Maka masuklah Ali dan beliau dalam keadaan marah, lalu aku berkata: “Siapa yang membuatmu marah wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Apakah kamu tidak tahu, aku memerintahkan orang-orang dengan suatu perintah , lalu mereka bimbang. (ragu dalam melaksanakannya) “(H.R Muslim)

Maka jelaslah kemarahan beliau ini menunjukan satu keutamaan yang lebih dari yang lainnya, Wallahu’alam.

Sedangkan Syaikul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa hukumnya disesuaikan dengan keadaan, kalau dia membawa hadyu (sembelihan) maka qiran lebih utama, dan apabila dia telah berumrah sebelum bulan-bulan haji maka ifrad lebih utama dan selainnya tama Radhiallahu’anhutu’ lebih utama. Beliau berkata: “Dan yang rajih dalam hal ini adalah hukumnya berbeda-beda sesuai dengan perbedaan orang yang berhaji, kalau dia bepergian dengan satu perjalanan umrah dan satu perjalanan untuk haji atau bepergian ke Makkah sebelum bulan-bulan haji dan berumrah kemudian tinggal menetap disana sampai haji, maka dalam keadaan ini ifrad lebih utama baginya, dengan kesepakatan imam yang empat. Dan apabila dia mengerjakan apa yang telah dilakukan kebanyakan orang, yaitu mengabungkan antara umrah dan haji dalam satu kali perjalanan dan masuk Makkah dalam bulan-bulan haji, maka dalam keadaan ini qiran lebih utama baginya kalau dia membawa hadyu, dan kalau dia tidak membawa hadyu maka, ber-tahallul dari ihram untuk umrah lebih utama”[11]

[Bersambung insya Allah]

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc
Artikel www.muslim.or.id


[1] Al-Mughni, 5/5[2] Syarhul Mumti’, 7/7

[3] Muzakirat Syarhul ‘Umdatil Fiqh, Kitab Haji wal Umrah hal.1

[4] Lihat Al-Ijma, oleh Ibnul Mundzir hal 54 dan Al-Mughny 5/6

[5] Lihat Syarhl Umdah oleh Ibnu Taimiyah 2/302

[6] Lihat Syarhul Mumti’, 7/62-64 dan Syarah Umdatul Fiqh hal 14

* dikenal sekarang dengan As-Sa’diyah

[7] Syarah ‘Umdah oleh Ibnu Taimiyah 2/316

* Dikenal sekarang dengan nama As-Sail al-Kabir.

[8] Syarah Umdah Ibnu Taimiyah 2/316

[9] Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam Al Irwa’ 6/176

[10] Al-Ikhtiyarat Fiqhiyyah, hal 117

[11] Kitab Manasik hal. 14

Print Friendly
 http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tuntunan-ibadah-haji-1.html
************************************************

Kamis, 24 Oktober 2013

FATWA HAJI DAN UMROH (Tentang Shalat Dua Rakaat Ihram)

SHALAT DUA RAKAAT IHRAM BUKAN SYARAT SAHNYA IHRAM

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apakah sah ihram haji atau ihram umrah dengan tanpa melaksanakan shalat dua rakaat ihram ? Dan apakah mengucapkan niat ihram juga sebagai syarat sahnya ihram ?

Jawaban
Shalat sebelum ihram bukan sebagai syarat sahnya ihram, tapi hukumnya sunnah menurut mayoritas ulama. Adapun caranya adalah dengan wudhu dan shalat dua rakaat kemudian niat dalam hati apa yang ingin dilakukan dari haji atau umrah dan melafazkan hal tersebut dengan mengucapkan, “Labbaik Allahuma umratan ” jika untuk umrah saja, atau “Labbaik Allahumma hajjatan ” jika ingin haji saja, atau “Labbaykallumma hajjan wa ‘umratan ” jika ingin melaksanakan haji dan umrah sekaligus (haji qiran) seperti dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dana para sahabatnya, semoga Allah meridhai mereka. Namun niat seperti tersebut tidak harus dilafazkan dalam bentuk ucapan, bahkan cukup dalam hati, kemudian membaca talbiyah.

“Artinya : Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, dengan tanpa menyekutukan apa pun kepada-Mu. Sungguh puji, nikmat, dan kekuasaan hanya bagi-Mu tanpa sekutu apapun bagi-Mu”.

Talbiyah ini adalah talbiyah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti disebutkan dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim serta kitab-kitab hadits lain.

Sebagai dalil jumhur ulama bahwa shalat dua raka’at hukumnya sunnah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ihram setelah shalat, maksudnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Dzhuhur kemudian ihram dalam haji wada’ dan beliau berkata : “Datang kepadaku seseorang (malaikat) dari Rabbku dan berkata, “Shalatlah kamu di lembah yang diberkati ini dan katakan : ‘Umrah dalam haji'”. Jumhur ulama mengakatan bahwa hadits ini menunjukkan disyari’atkannya shalat dua rakaat dalam ihram.

Tapi sebagian ulama mengatakan, bahwa dalam hadits tidak terdapat nash (teks) yang menunjukkan diperintahkannya shalat dua rakaat ihram. Sebab redaksi : “Datang kepadaku seseorang (malaikat) dari Rabbku dan berkata, “Shalatlah kamu di lembah yang diberkati ini” boleh jadi bahwa yang dimaksud adalah shalat wajib lima waktu dan bukan nash tentang shalat dua rakaat ihram. Sedangkan keberadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ihram setelah shalat wajib adalah tidak menunjukkan bahwa jika seseorang ihram umrah atau ihram haji setelah shalat adalah lebih utama jika dia dapat melakukan hal tersebut.

[Disalin dari Buku Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad, terbitan Pustakan Imam Asy-Syafi’i hal 80 – 83. Penerjemah H.Asmuni Solihan Zamakhsyari Lc]

Fatwa Haji dan Umrah ( Tempat Niat dalam Hati )

Fatwa Haji dan Umrah

TEMPAT NIAT DALAM HATI DAN SUNNAH MENGUCAPKAN KETIKA DALAM HAJI

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apakah niat ihram harus diucapkan dengan lidah ? Dan bagaimana cara niat haji karena mewakili orang lain ?Jawaban
Tempat niat di dalam hati, bukan di lisan. Caranya adalah agar sesorang niat dalam hatinya bahwa dia akan haji atas nama fulan bin fulan. Demikian itulah niat. Namun untuk itu dia disunnahkan melafazkan seperti dengan mengatakan : “Labbaik Allahumma Hajjan an Fullan ” (Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu untuk haji atas nama fulan), atau “Labbaik Allahumma ‘Umratan ‘an Fulan ” (Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu untuk umrah atas nama Fulan) hingga apa yang ada dalam hati dikuatkan dengan kata-kata. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melafazkan haji dan juga melafazkan umrah. Maka demikian ini sebagai dalil disyari’atkannya melafalkan niat karena mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana para sahabat juga melafazkan demikian itu seperti diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka mengeraskan suara mereka. Ini adalah sunnah. Tapijika seseorang tidak melafazkan dan cukup niat dalam hati dan melaksanakan semua rukun haji seperti apa yang dilakukan untuk dirinya sendiri dengan talbiyah secara mutlak dan mengulang-ngulang talbiyah secara mutlak tanpa menyebutkan fulan dan fulan sebagaimana dia talbiyah untuk dirinya sendiri, maka seakan dia haji untuk dirinya sendiri. Tapi jika menentukan nama orang dalam talbiyahnya, maka demikian itu talbiyah yang utama, kemudian dia melanjutkan talbiyah sebagaimana dilakukan orang-orang yang haji dan umrah, yaitu :”Artinya : Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah dan tiada sekutu apapun bagi-Mu. Sesungguhnya puji, nikmat dan kekuasaan hanya bagi-Mu tanpa sekutu apapun bagi-Mu. Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, Rabb kebenaran”

Maksudnya, dia membaca talbiyah sebagaimana dia membaca talbiyah untuk dirinya sendiri dengan tanpa menyebutkan seseorang yang diwakili kecuali dalam awal ibadah dengan mengatakan : “Labbaik Allahumma Hajjan an Fulan ” (Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu untuk haji atas nama Fulan), atau : “Labbaik Allahumma ‘Umratan ‘an Fulan ” ( Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu untuk umrah si Fulan), atau : “Labbaikallahumma hajjan wa ‘umratan ‘an Fulan ” (Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu untuk haji dan umrah atas nama Fulan). Niat-niat seperti ini yang utama dilakukan pada awal niatnya ketika ihram.

[Disalin dari Buku Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad, terbitan Pustakan Imam Asy-Syafi’i hal 80 – 83. Penerjemah H.Asmuni Solihan Zamakhsyari Lc]

Amalan-amalan pada Tanggal 13 Dzulhijjah.

Makah

Makkah

Adapaun amalan-amalan yang dilakukan pada tanggal 13 Dzulhijjah adalah :

  • Memperbanyak berdzikir dan amal-amal shalih.
  • Melempar jumrah yang tiga (sughra, wustha dan kubra) setelah masuknya waktu Zhuhur.

Dalam melempar jumrah-jumrah itu, lakukan seperti apa yang dilakukan pada dua hari yang sebelumnya.

  • Setelah melempar jumrah pada hari ini (tanggal 13 Dzulhijjah), bertolak meninggalkan Mina, dan ini dinamakan “Nafar Tsani”.
  • Jika hendak kembali ke negeri asal, maka lakukanlah thawaf wada’ untuk meninggalkan Baitullah, kecuali wanita yang sedang haidh atau nifas, maka mereka diberi keringanan untuk tidak mengerjakan thawaf wada’, Wallaahu Ta’ala a’lam.

Amalan-amalan pada Tanggal 12 Dzulhijjah.

arafah

Arafah

Berikut amalan-amalan pada Tanggal 12 Dzulhijjah:

  • Setelah mabit, hendaklah jama’ah haji memanfaatkan waktunya untuk ber-dzikir mengingat Allah dan mengerja-kan amal-amal kebaikan lainnya.
  • Melempar jumrah yang tiga (sughra, wustha dan kubra) setelah zawal (setelah masuknya waktu Zhuhur) dan lakukan seperti apa yang dilakukan pada tanggal 11 Dzulhijjah.

Berdo’a setelah melempar jumrah sugh-ra dengan do’a yang panjang, demikian pula setelah melempar jumrah wustha.

  • Jika selesai melempar ketiga jumrah tersebut dan hendak kembali ke negeri-nya, maka hal itu dibolehkan dan keluarlah dari Mina sebelum matahari terbenam, lalu thawaf wada’, kemudian berangkatlah meninggalkan kota Makkah. Keluar dari Mina pada hari ini (tanggal 12 Dzulhijjah) dinamakan “Nafar Awwal”.
  • Namun, melanjutkan mabit (menginap) di Mina pada malam 13 Dzulhijjah adalah lebih afdhal, karena Nabi Shalallaahu alaihi wasalam melakukan hal itu.

Amalan-amalan pada Tanggal 11 Dzulhijjah.

Jamarat

Jamarat
Beberapa amalan pada Tanggal 11 Dzulhijjah yaitu :
  • Mabit (menginap) di Mina pada tanggal 10 malam.
  • Berupaya untuk senantiasa shalat berjama’ah.
  • Memperbanyak takbir pada setiap kondisi dan waktu baik di kemah, di pasar atau di jalan-jalan.
  • Melempar jumrah yang tiga (sughra, wustha dan kubra) setelah matahari tergelincir (setelah masuknya waktu Zhuhur).

Mengawali melempar “jumrah sughra”, kemudian “jumrah wustha”, kemudian “jumrah kubra/jumrah ‘Aqabah”.

  • Setiap jumrah dilempari dengan tujuh buah batu kecil secara berurutan, dan setiap lemparan disertai dengan meng-ucap “Allaahu Akbar”.
  • Merupakan Sunnah, tatkala melempar ketiga jumrah tersebut dengan menjadikan posisi kota Makkah berada di sebelah kiri pelempar, dan Mina disebelah kanannya.
  • Setelah melempar jumrah sughra dan jumrah wustha disunnahkan untuk berdo’a sambil menghadap ke arah kiblat dengan do’a yang panjang pada masing-masing jumrah tersebut. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .
  • Kemudian melempar jumrah ‘Aqabah sebagaimana pada dua jumrah sebelumnya. Akan tetapi, setelah melempar jumrah ‘Aqabah tidak berdo’a sebagaimana pada dua jumrah seb

Amalan-amalan pada Tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Nahar/’Idul Adhha)

Muzdalifah

Muzdalifah
Amalan-amalan pada Tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Nahar/’Idul Adhha) yaitu :
  • Para jama’ah haji harus shalat Shubuh di Muzdalifah, terkecuali kaum lemah dan para wanita.
  • Usai shalat Shubuh menghadap ke arah kiblat untuk memuji Allah, bertakbir, bertahlil, (mentauhidkan Allah) dan berdo’a kepada-Nya hingga terang benderang.

Berangkat menuju ke Mina sebelum matahari terbit dengan penuh ketenangan sambil bertalbiyah.

  • Jika tiba di wadi (lembah) “Muhassir” , langkah dipercepat jika memung-kinkan.
  • Menyiapkan batu untuk melempar jumrah yang diambil dari Muzdalifah atau dari Mina.
  • Melempar jumratul ‘Aqabah dengan tujuh batu kecil secara berturut-turut sambil membaca “Allaahu Akbar” pada setiap lemparan.
  • Setelah melempar jumratul ‘Aqabah berhenti dari talbiyah.
  • Menyembelih binatang hadyu dan memakan sebagian dari dagingnya dan sebagian lainnya dibagi-bagikan kepada para fuqara’. Penyembelihan hadyu ini hanya diwajibkan kepada jama’ah haji yang mengerjakan haji Tamattu dan haji Qiran.
  • Bagi yang tidak menyembelih “hadyu” diwajibkan berpuasa sepuluh hari, 3 hari pada masa haji dan 7 hari setelah kembali ke kampung halaman.
  • Puasa tiga hari tersebut boleh dikerja-kan pada hari-hari Tasyriq (11,12 dan 13 Dzulhijjah)
  • Mencukur rambut atau memendekkannya, dan bagi yang memendekkannya, harus mencakup seluruh kepala, namun lebih afdhal ketika mencukur/menggunting pendek hendaknya memulai dari bagian kepala sebelah kanan.

Bagi wanita, menggunting pendek rambutnya sepanjang satu ruas jari. Jika telah mencukur atau menggunting pendek rambut kepala, berarti telah bertahallul dengan tahallul yang per-tama dan dengan demikian anda telah dibolehkan untuk mengerjakan lara-ngan-larangan ihram kecuali mengum-puli isteri.

  • Tahallul pertama dapat terlaksana dengan mengerjakan dua dari tiga hal dibawah ini:
  1. Melempar jumratul ‘Aqabah.
  2. Mencukur/memendekkan rambut kepala.
  3. Melaksanakan thawaf Ifadhah.
  • Menuju Makkah untuk melaksanakan thawaf Ifadhah tanpa berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama, kemudian shalat dua rakaat sunnah thawaf.
  • Melaksanakan sa’i haji diantara Shafa dan Marwah bagi yang mengerjakan haji Tamattu’. Demikian pula bagi mereka yang melaksanakan haji Qiran atau haji Ifrad, apabila belum melaksa-nakan sa’i setelah thawaf Qudum, maka mereka wajib melakukan sa’i setelah thawaf Ifadhah. Adapun jika telah melaksanakan sa’i setelah thawaf Qudum, maka mereka tidak mengerjakan sa’i lagi setelah thawaf Ifadhah.
  • Dengan selesainya melaksanakan thawaf Ifadhah dan sa’i haji, berarti telah bertahallul secara sempurna dan seluruh larangan ihram telah dibolehkan.
  • Minum air zam-zam dan shalat Zhuhur di Makkah jika memungkinkan.
  • Menginap di Mina pada malam hari-hari Tasyriq.

Amalan-amalan pada Tanggal 9 Dzulhijjah.

Amalan-amalan pada Tanggal 9 Dzulhijjah.

  • Sesudah shalat Shubuh di Mina dan setelah matahari terbit, berangkat menuju ‘Arafah sambil bertalbiyah atau bertakbir.
  • Dimakruhkan berpuasa pada hari ini karena Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ketika wuquf di ‘Arafah, beliau tidak berpuasa dan telah diberikan kepada beliau satu bejana susu segar, lalu beliau meminumnya.
  • Jika memungkinkan, -sebelum wuquf di ‘Arafah- turun sebentar di Namirah hingga masuk waktu Zhuhur.
  • Mendengarkan khutbah Imam di Na-mirah, lalu mengerjakan shalat Zhuhur dan ‘Ashar, di jamak taqdim dan di qashar dengan satu adzan dan dua iqa-mah.
  • Setelah shalat, memasuki padang ‘Ara-fah untuk melaksanakan wuquf, dan setiap jama’ah haji harus benar-benar memperhatikan apakah dia telah berada di lokasi ‘Arafah atau masih di luar padang ‘Arafah.
  • Ketika wuquf, berupaya semaksimal mungkin untuk benar-benar konsen-trasi dalam berdzikir, berdo’a dan merendahkan diri dihadapan Allah dengan penuh kekhusyu’an.
  • Seluruh padang ‘Arafah adalah tempat wuquf, namun jika seseorang menjadikan “Jabal Rahmah” berada di antaranya dan di antara kiblat, maka hal itu lebih afdhal.
  • Mendaki ke puncak “Jabal Rahmah” bukan merupakan sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ketika wuquf di ‘Arafah.
  • Menghadap ke arah kiblat ketika ber-do’a sambil mengangkat kedua tangan dengan penuh kekhusyu’an, hingga matahari terbenam.
  • Memperbanyak membaca:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُوَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Tiada Ilah yang sebenarnya melainkan hanya Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kekuasaan dan pujian, dan Dia berkuasa atassegala sesuatu.”

  • Memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .
  • Tidak keluar dari ‘Arafah kecuali setelah matahari terbenam.
  • Setelah matahari terbenam, bertolak ke Muzdalifah dengan penuh ketenangan, dan apabila terdapat keluasan, agar mempercepat langkahnya/kendaraan-nya.
  • Shalat Maghrib dan ‘Isya’ di Muzdalifah dengan di jamak dan di qashar (shalat Maghrib 3 rakaat dan shalat ‘Isya’ 2 rakaat) dengan satu adzan dan dua iqamah.
  • Mabit (menginap) di Muzdalifah hingga terbit fajar, adapun bagi kaum lemah dan para wanita dibolehkan untuk bertolak ke Mina setelah pertengahan malam.

**************************************************

Oleh : Tim Pembimbing Ibadah Haji Thayiba Tora

“Sempurnakanlah haji dan umrah untuk Allah…” (Q.S Al Baqarah : 196).

Penyempurnaan amal haji dan umrah merupakan tuntutan dari Allah SWT sebagaimana perintah dalam firman-Nya di atas. Pelaksanaan ibadah haji atau umrah yang sempurna adalah pelaksanaan amal haji atau umrah yang mengikuti tata cara Nabi SAW. Adapun tata cara haji yang telah diteladankan oleh Nabi SAW tersebut terbagi dalam 3 bentuk amal yaitu amal rukun, amal wajib dan amal sunnah.

Amal rukun haji adalah beberapa amalan haji yang menjadi syarat sah atau tidaknya haji yang dilakukan. Apabila salah satu dari amalan rukun ini ditinggalkan maka haji yang dilakukan adalah tidaklah sah dan tidak dapat diganti dengan denda, kecuali mengulang pelaksanaan haji kembali. Amal rukun haji tersebut ada 6 (enam) yaitu :

  1. Niat ihram
  2. Wukuf di Arafah
  3. Thawaf Ifadhah
  4. Sa’i haji
  5. Tahallul
  6. Tertib

Sedangkan amal wajib haji adalah amalan yang harus dilakukan pada saat melaksanakan ibadah haji. Bila tertinggal maka diharuskan menggantinya dengan membayar dam, dan hajinya menjadi sempurna setelah dam tersebut terbayar.

“Barang siapa meninggalkan suatu ibadah wajib dalam haji atau lupa, maka dia wajib menyembelih kurban”. (H.R Malik)

Adapun amalan yang tergolong wajib haji adalah :

  1. Niat ihram dari miqot
  2. Memakai pakaian ihram
  3. Mematuhi semua larangan ihram
  4. Bermalam (mabit) di Muzdalifah
  5. Bermalam (mabit) di Mina
  6. Melontar Jumrah
  7. Menyembelih hewan qurban bagi yang berhaji Tamattu’ atau Qiran
  8. Thawaf Wada’

Adapun amal sunnah haji adalah amalan haji yang terpuji bila dilaksanakan. Amalan ini merupakan pelengkap dan penyempurna bagi pelaksanaan haji, diberi pahala bagi mereka yang mengerjakanannya, akan tetapi bila tertinggal atau ditinggalkan pelaksanaannya, tidak membatalkan ibadah hajinya dan tidak diwajibkan membayar dam (denda). Yang termasuk amalan sunnah bagi haji adalah :

  1. Mandi besar sebelum ihram
  2. Memakai wangi-wangian sebelum ihrom bagi laki-laki
  3. Melafadzkan niat ihram di miqat sesudah sholat
  4. Mengulang bacaan Talbiyah
  5. Berdoa saat memasuki kota Mekkah
  6. Berdoa saat memasuki Masjidil Haram
  7. Berdoa saat melihat Ka’bah
  8. Thawaf Qudum
  9. Tarwiyah di Mina
  10. Mencium Hajar Aswad
  11. Sholat di Hijr Ismail
  12. Minum air Zam-zam
  13. Banyak melaksanakan thawaf sunnah selama di Mekkah.

A. Rukun Haji

  1. Niat Ihram.

Niat ihram adalah niat untuk haji dan umrah. Dengan niat ihram ini berarti seseorang telah mengikrarkan diri untuk memenuhi panggilan Allah SWT untuk berhaji dan umrah dengan cara memenuhi tata cara yang telah disyariatkan-Nya dan tidak melanggar larangan-Nya selama berada dalam ihramnya hingga ia selesai tahallul.

Niat ihram merupakan amal hati yang disunnahkan untuk dilafadzkan. Adapun niat ihram terdiri dari tiga macam sesuai dengan macam cara haji yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW, yaitu haji Tamattu’, haji Qiran dan haji Ifrad.

“Dari Aisyah ra., ia berkata : Pada peristiwa haji wada’ saya ikut keluar bersama Rasulullah SAW. Waktu itu diantara kami ada yang berihram untuk umrah, ada yang berihram untuk haji dan umrah, dan ada pula yang berihram untuk haji saja. Sedangkan Rasulullah SAW sendiri berihram haji. Adapun orang yang telah berihram umrah, ia melakukan tahallul begitu sampai (di Mekkah setelah melakukan thawaf dan sai’), sedang orang yang berihram haji, atau berihram haji dan umrah sekaligus, ia baru bertahallul pada hari nahar (10 Dzulhijjah). (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Ucapan niat ihram untuk masing-masing cara haji tersebut adalah :

Untuk haji Ifrad :

Labbaikallahumma Hajjan (“Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu untuk haji”).

Untuk haji Qiran :

Labbaikallahumma Hajjan wa Umratan (“Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu untuk haji dan umrah”).

Untuk haji Tamattu’ :

Labbaikallahumma Umratan (“Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu untuk umrah”).

  1. Wukuf di Arafah.

Wukuf di Arafah adalah berada di wilayah Arafah pada waktu wukuf yang ditetapkan. Adapun waktu wukuf adalah sejak matahari condong ke barat (waktu Dzuhur) pada tanggal 9 Dzulhijjah hingga sesaat sebelum terbit fajar (sebelum Subuh) pada malam Idul Adha.

“Haji adalah wukuf di Arafah. Maka siapa yang mendapati Arafah pada malam hari sebelum terbit fajar, sesungguhnya dia telah mendapatkan haji.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Tarmidzi dan Ibnu Majah).

Waktu wukuf yang utama adalah sejak waktu Dzuhur hingga matahari terbenam (waktu Maghrib). Amalan yang disunnahkan saat wukuf di Arafah adalah :

Thawaf Ifadah.

Thawaf Ifadah atau thawaf haji adalah memutari Ka’bah tujuh kali  putaran dengan niat thawaf haji.

Thawaf adalah suatu bentuk ibadah berjalan memutari Ka’bah tujuh kali putaran dan selama perjalanan mengitari Ka’bah tersebut diikuti dengan berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT.

Ibadah thawaf ada beberapa macamnya yaitu :

  1. Thawaf haji atau Ifadhah.
  2. Thawaf Qudum (selamat datang).
  3. Thawaf Umrah.
  4. Thawaf Wada’ (perpisahan).
  5. Thawaf Sunnah.

Secara keseluruhan, cara melaksanakan berbagai macam thawaf tersebut adalah sama, hanya dibedakan oleh niatnya. Adapun tata cara pelaksanaan thawaf tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Niat thawaf  Ifadah.
  2. Memulai thawaf (putaran) dari garis coklat (sudut Hajar Aswad) dengan mengangkat tangan kanan menghadap sudut Hajar Aswad sambil mengucapkan :

Bismillahi Wallahu akbar, kemudian mengecup tangan.

  1. Memutari Ka’bah tujuh kali putaran dengan senantiasa berzikir dan berdoa, dan setiap melewati sudut Rukun Yamani dan sudut Hajar Aswad mengangkat tangan sambil berucap Bismillahi Wallahu akbar. Saat di sudut Rukun Yamani tangan tidak dikecup, sedangkan saat disudut Hajar Aswad sambil mengecup tangan.
  2. Saat melewati sisi antara sudut  Rukun Yamani dengan sudut Hajar Aswad dianjurkan membaca doa :

Robbana atiina fid-dunya khasanah wa fil-akhiroti khasanah waqiina adzabannar, wa ad-hilnal jannata maal abror, yaa aziz yzz ghoffar yaa robbal ‘alamin.

  1. Akhir setiap putaran merupakan awal putaran berikutnya yaitu sudut Hajar Aswad (ditandai dengan sepanjang garis coklat), dan akhir putaran yang ketujuh adalah dengan melewati garis coklat tersebut.
  2. Mengerjakan sholat sunnah sesudah thawaf di belakang maqam Ibrahim 2 rakaat dengan membaca surat Al Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al Ikhlas pada rakaat kedua.
  3. Berdoa di Multazam.

Sai’ haji

Sai’ merupakan  bentuk ibadah perjalanan dari bukit Shofa ke bukit Marwah, pulang balik tujuh kali. Ibadah Sai’ seperti thawaf, ada dua macam, yaitu Sai’ haji dan Sai’ umrah.

Tata cara pelaksanaan kedua macam Sai’ tersebut adalah sama, hanya dibedakan oleh niatnya saja. Adapun cara melaksanakan Sai’ haji adalah sebagai berikut :

  1. Niat Sai’ haji.
  2. Memulai dengan mendaki bukit Shofa dan selanjutnya berjalan menuju bukit Marwah, dan seterusnya pulang balik tujuh kali dengan senantiasa berdoa dan berdzikir.
  3. Dianjurkan bagi laki-laki untuk berlari-lari kecil saat melewati batas hijau baik pada jalur Shofa – Marwah maupun jalur Marwah – Shofa, sambil berdoa

“Robbighfir warham wa’fu watakarrom watajawaz amma ta’lam, annaka ta’lam mala na’lam. Innaka antallah a’azzul akram.”

Tahallul.

Tahallul adalah mencukur atau menggunting rambut kepala sebagai tanda selesainya pelaksanaan ibadah haji dan lepasnya ihram.

Dalam ibadah haji tahallul ada dua macam, yaitu :

  1. Tahallul awal yaitu tahallul yang membebaskan diri dari larangan ihram kecuali hubungan suami-istri. Tahallul ini dilaksanakan sesudah melakukan lemparan jumrah pada tanggal 10 Dzulhijjah .
  2. Tahallul akhir yaitu tahallul yang dilaksanakan sesudah menyelesaikan amalan Sai’ haji. Dengan dilaksanakannya tahallul akhir ini maka selesai dan sempurnalah pelaksanaan ibadah haji.

Tertib.

Tertib merupakan rukun bahwa sahnya pelaksnaan rukun-rukun haji yang telah dikemukakan di atas dilaksanakan  secara beruntun, yaitu dari niat ihrom, wukuf, tawaf haji (Ifadhah), Sa’i dan Tahallul.

B. Wajib Haji.

1. Niat Ihram dari Miqat.

Miqat dapat diartikan batas waktu (miqat zamani) atau batas tempat (miqat makani). Dalam hal ini yang dimaksud dengan niat ihram dari miqat adalah niat ihram harus dilakukan pada masa dan di tempat miqat yang telah ditentukan oleh Rasullah SAW.

Bagi jamaah haji dari luar kota Mekkah diwajibkan melaksanakan niat ihramnya ditempat miqat atau pada saat melewati miqat tersebut. Bila hal ini tidak dilakukan , maka wajib baginya membayar Dam, baik disengaja  maupun tidak disengaja . dalam hal ini Dam-nya adalah menyembelih kambing di tanah  suci (Mekkah) dan dibagikan untuk orang-orang miskin di kota tersebut.

Tempat-tempat miqat tersebut adalah :

  1. Al-Juhfah
  2. Dzatu Irqin
  3. Dzul Hulaifah atau Bir Ali
  4. Yalamlam
  5. Qarnul Manazil.

Untuk jamaah haji yang datang dari Indonesia dengan pesawat langsung menuju Mekkah, maka miqatnya adalah Dzatul Irqin atau garis sejajar diatas tempat tersebut. Bagi jamaah yang menuju ke Madinah, maka wajib miqatnya dari Dzul Hulaifah (Bir Ali’).

2. Berpakaian Ihram

Bagi jamaah haji yang akan berihram diwajibkan mengenakan pakaian ihram. Bagi laki-  laki pakaian ihromnya adalah dua lembar kain yang tidak berjahit, satu lembar untuk menutup bagian bawah dan satu untuk menutup bagian atas tubuhnya. Tidak diperkenankan mengenakan pakaian selain 2 lembar kain tersebut termasuk pakaian dalam. Tidak diperkenanan pula bagi laki-laki mengenakan sepatu atau sandal yang menutupi mata kaki.

Sedangkan pakaian ihrom bagi kaum wanita adalah busana muslimah yang menutupi aurat kecuali muka dan pergelangan tangan.

3. Bermalam (Mabit) di Muzdalifah.

Pada saat jamaah meninggalkan Arafah menuju Mina, maka wajib terlebih dahulu bermalam di Muzdalifah. Waktu bermalam di Muzdalifah ini adalah malam hingga sesaat sesudah sholat shubuh sebelum matahari terbit. Bagi wanita dan orang-orang tua yang lemah diperbolehkan meninggalkan Muzdalifah sesudah tengah malam.

Amalan sunnah yang menyertai mabit di Muzdalifah ini adalah :

  1. Menjama’ takhir dan qashar sholat Maghrib dan Isya’ setelah sampai di Muzdalifah sebelum tengah malam.
  2. Banyak berdzikir dan berdoa.
  3. Mengumpulkan batu kerikil untuk jumrah bila berkesempatan.
  4. Sholat subuh di sana sebelum berangkat melanjutkan perjalanan ke Mina.

4. Bermalam (Mabit) di Mina.

Pada saat sampai di Mina pada hari Nahar dan Tasyriq, maka diwajibkan bagi jamaah untuk bermalam di Mina pada malam ke-11 dan 12 untuk yang menginginkan 2 malam (Nafar Awwal), atau malam ke-11, 12 dan 13 untuk yang menginginkan 3 hari (Nafar Tsani), yang merupakan keutamaan.

5. Melontar Jumroh.

Bagi jamaah haji diwajibkan melempar batu-batu kecil terhadap 3 tugu, yang disebut :

  1. Jumrotul Ula.
  2. Jumrotul Wustho’.
  3. Jumrotul Aqobah.

Melontar Jumroh ini ada 3 tahap untuk Nafar Awwal dan 4 tahap untuk Nafar Tsani.

Tahap 1 :

Melempar Jumrotul Aqobah saja pada hari Nahar (tanggal 10) dengan 7 buah  batu satu persatu. Waktu yang paling baik adalah waktu Dhuha. Tidak mengapa bila terpaksa hingga sore hari.

Tahap 2 :

Melempar Jumrotul Ula, dilanjutkan melempar Jumrotul Wustho, dan dilanjutkan melempar Jumrotul Aqobah, secara beruntun, masing-masing 7 kali lemparan pada hari Tasyriq (11 Dzulhijjah). Waktunya sesudah Dzuhur.

Tahap 3 :

Melempar seperti tahap 2  untuk hari Tasyriq (12 Dzulhijjah).

Tahap 4 :

Melempar seperti tahap 2 untuk hari Tasyriq (13 Dzulhijjah).

6. Menyembelih qurban bagi yang berhaji Tamattu’ dan haji Qiran.

7. Thawaf Wada’.
Thawaf Wada adalah thawaf yang dilakukan ketika jamaah haji atau umrah akan meninggalkan kota Mekkah sesudah selesai melaksanakan ibadah haji dan umrahnya. Thawaf ini tanpa disetai Sa’i.

“Janganlah seseorang diantara kamu pulang melainkan akhir yang dilakukannya adalah thawaf di Baitullah. “ (H.R. Muslim).

Bagi wanita nifas dan haid tidak diwajibkan melakukan thawaf Wada’ ini.

8. Tidak melanggar larangan ihrom.

Adapun larangan ihrom yang wajib diikuti adalah :

  1. Tidak berkata cabul, kefasikan atau berdebat.
  2. Tidak mencabut atau menggunting/mencukur bulu atau rambut di badan.
  3. Tidak  memotong kuku, tidak  memakai wangi-wangian  (termasuk sabun atau bedak yang mengandung parfum).
  4. Tidak memakai sepatu dan menutup kepala bagi laki-laki.
  5. Tidak memakai kaos tangan untuk wanita.
  6. Tidak boleh  bermesraan suami-istri, tidak  boleh meminang, dipinang, menikah atau dinikahkan.
  7. Tidak boleh berburu.
  8. Tidak mencabut/memotong tanaman.

C. Sunnah Haji

1. Amal Sunnah persiapan ihram.

– Memotong kuku

– Mandi

– Memakai wangi-wangian di badan

– Melafadzkan niat ihram di miqot sesudah sholat

2. Membaca Talbiyah.

Mengulang-ulang bacaan talbiyah sepanjang pelaksanaan ibadah haji sejak setelah ihrom. Adapun bacaannya :

“Labbaik Allahumma labbaik, Labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syariika laka”.

3. Berdoa saat memasuki kota Mekkah.

4. Berdoa saat memasuki Masjidil Haram.

5. Berdoa saat melihat Ka’bah.

6. Thawaf Qudum.

Thawaf selamat datang. Adapun amalan Thawaf Qudum adalah seperti thawaf haji hanya berbeda niatnya.

7. Minum air zamzam.

8. Tarwiyah di Mina.

Tarwiyah adalah suatu amal sunnah haji untuk tinggal di  Mina (dalam tenda) pada tanggal 8 Dzulhijjah dari waktu dhuhur sampai waktu subuh. Selama waktu tersebut disunnahkan mengerjakan sholat wajibnya dengan diqashar, tanpa dijama’, yakni sholat Dzuhur 2 rakaat, Maghrib 3 rakaat, Isya’ 2 rakaat dan Subuh 2 rakaat.

9. Mencium Hajar Aswad.

10. Sholat di Hijr Ismail.

11. Memperbanyak melaksanakan thawaf sunnah selama di Mekkah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s