Kunci Kejayaan Umat Islam

Kaum muslimin yang dirahmati Allah…

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menyampaikan dalam sebuah ceramahnya yang berjudul ‘Urgensi Tauhid’, suatu ungkapan yang sangat indah dan sekaligus menjadi nasihat bagi para da’i, pejuang dakwah, dan segenap umat Islam.

Beliau berkata :

ولا يمكن أن تجتمع هذه الأمة إلا بالعلم النافع والعمل الصالح الذي أساسه التوحيد وإفراد الله سبحانه وتعالى بالعبادة

“Tidak mungkin akan terwujud persatuan umat ini kecuali dengan ilmu yang bermanfaat dan amal salih yang asasnya adalah tauhid dan mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam beribadah.”

Beliau juga menegaskan :

فالعقيدة هي أساس ديننا وهي قاعدة شريعتنا ولا يصح عمل إلا بتصحيح العقيدة مهما كانت الأعمال

“Akidah adalah asas di dalam agama kita. inilah kaidah/pondasi syari’at kita. Dan tidaklah sah suatu amal apapun kecuali dengan meluruskan akidah; bagaimana pun bentuk amal-amal itu.”

Beliau juga menasihatkan kepada kita :

فلهذا ندعو إلى تصحيح العقيدة والعناية بها وتعلمها وتعليمها وتأليف الكتب والرسائل فيها وطبعها ونشرها وتوزيعها ، ثمّ يتبعها بقية أوامر وشرائع الدين

“Oleh sebab itu, kami mengajak untuk meluruskan akidah, memberikan perhatian serius kepadanya, mempelajari dan mengajarkannya, serta menulis buku-buku dan risalah-risalah tentangnya. Lalu mencetak, menyebarkan, dan membagi-bagikannya. Kemudian setelah itu diikuti dengan perintah-perintah dan syari’at-syari’at agama selainnya.”

Semoga cuplikan sebagian nasihat beliau ini bermanfaat bagi kita semuanya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Sumber : http://www.ahlos-sunnah.com/?p=229

Sumber Artikel : [al-mubarok.com]

Belajarlah Dari Pengalaman Pribadi dan Orang Lain

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Begitu bunyi sebuah pepatah yang kerap kita dengar. Senyatanya, pengalaman mengajarkan kita untuk lebih baik. Pengalaman mengajarkan kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pengalaman juga mendidik kita untuk bersikap hati-hati dan waspada. Allah dan Rasul-Nya pun telah memperingatkan, agar seorang mukmin senantiasa dapat mengambil pelajaran, baik dari pengalaman dan peristiwa yang terjadi pada dirinya sendiri, begitu pun dari yang terjadi kepada orang lain.

Seorang Mukmin Tidak Tersengat Pada Lubang yang Sama Dua Kali

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Seorang mukmin tidak tersengat pada lubang yang sama dua kali.” (HR Bukhari & Muslim)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Si’dy berkata, “Hadis diatas adalah perumpamaan yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan bahwa seorang mukmin adalah orang yang senantiasa bersikap waspada. Dengan imannya, seorang mukmin akan berusaha menjauhi perilaku buruk yang dapat mencelakakannya. Jika pun ia terjerumus padanya, ia akan segera bertobat dan kembali.

Diantara kesempurnaan tobatnya, ia pun kemudian akan sangat berhati-hati dari sebab yang telah menjerumuskannya ke dalam dosa tersebut. Seperti orang yang memasukkan tangannya ke dalam sebuah lubang lalu ia digigit seekor ular yang ada di dalamnya. Tentu setelah itu ia tidak akan berani lagi memasukkan tangannya ke lubang tersebut, karena apa yang telah terjadi kepadanya.

Hadis ini mengajarkan tentang sikap mawas diri dan cerdas, yang termanifestasi dalam bentuk mengenali hal-hal bermanfaat untuk ia kerjakan dan mengenali jalan-jalan keburukan untuk ia jauhi.

Hadis ini juga menjelaskan tentang perlunya menjauhi hal-hal yang samar dan meragukan, yang dikhawatirkan akan membawa pada keburukan.

Allah telah memperingatkan orang-orang yang beriman untuk tidak kembali kepada tipu daya setan yang telah menjerumuskan mereka kepada perbuatan maksiat. Allah berfirman,

يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.”<Al Qur`an, Allah mengisahkan orang-orang yang ingkar, manusia-manusia yang durhaka dan tokoh-tokoh yang jahat. Semua akhir dari hidup mereka berujung nista. Semua itu agar menjadi pelajaran bagi kita, agar kita tidak melakukan perbuatan yang sama, sehingga mengakibatkan keburukan bagi kita sebagaimana akibat yang datang kepada mereka.

Allah juga menceritakan sebagian kesalahan yang pernah dilakukan oleh para Nabi berikut akibat yang ditimbulkan dari kesalahan tersebut. Nabi Adam dan Hawa diusir dari surga ke dunia akibat mengikuti bujukan setan sehingga melanggar larangan Allah untuk tidak mendekati sebuah pohon di surga. Dari kesalahan itu, Allah pun mengingatkan manusia agar belajar dari pengalaman kedua orang mereka.

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga.” (QS. Al A’raf: 27)

Dengan demikian, pengalaman orang lain juga pelajaran bagi kita. Hendaknya kita selalu jeli dan cerdas melihat dan mengambil ibroh dari kejadian-kejadian yang menimpa orang lain, baik orang-orang terdahulu atau sekarang.

Wallahu a’lam,

Abu Khalid Resa Gunarsa – Subang, 2 Jumadil Awwal 1435 H (04 Maret 2014)

————————————————————————–

Memperbaiki Diri Sendiri Terlebih Dahulu

Termasuk diantara jalan keselamatan adalah sibuk memperbaiki diri dan meninggalkan hal-hal yang tidak penting bagi diri kita.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengenali jati dirinya sendiri maka dia akan menyibukkan diri dengan memperbaikinya daripada sibuk mengurusi aib-aib orang lain. Barangsiapa yang mengenal kedudukan Rabbnya niscaya dia akan sibuk dalam pengabdian kepada-Nya daripada memperturutkan segala keinginan hawa nafsunya.” (lihat al-Fawa’id, hal. 56)

Abdullah ibnu Mubarak rahimahullah berkata, “Jika seorang telah mengenali kadar dirinya sendiri [hawa nafsu] niscaya dia akan memandang dirinya -bisa jadi- jauh lebih hina daripada seekor anjing.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/29])

/i> (QS. An Nuur: 17)

Dengan demikian, orang yang telah bertobat dari suatu kesalahan, ia akan sangat membenci kesalahan itu dan lebih berhati-hati, karena melalui pengalamannya, ia mengetahui dampak-dampak buruk dari kesalahan tersebut.” (Diringkas dari Bahjah Al Quluub Al Baraar: 201 – 202)

Belajar dari Pengalaman Orang Lain

Tidak hanya dari pengalaman pribadi, seorang mukmin hendaknya juga mau belajar dari pengalaman orang lain. Begitu bertebaran kisah yang Allah kisahkan dalam Al Qur`an. Diantara tujuannya, agar kita mendapat pelajaran dari lakon-lakon manusia yang Allah ceritakan kisah hidupnya tersebut. Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111)

Dalam

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu disibukkan dengan memperbaiki dirimu, janganlah kamu sibuk membicarakan orang lain. Barangsiapa yang senantiasa disibukkan dengan membicarakan orang lain maka sungguh dia telah terpedaya.” (lihat ar-Risalah al-Mughniyah, hal. 38)

al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dijadikan dia tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya.” (lihat ar-Risalah al-Mughniyah, hal. 62).

Yunus bin ‘Ubaid rahimahullah berkata, “Sungguh aku pernah menghitung-hitung seratus sifat kebaikan dan aku merasa bahwa pada diriku tidak ada satu pun darinya.” (lihat Muhasabat an-Nafs wa al-Izra’ ‘alaiha, hal. 80)

Syaqiq al-Balkhi rahimahullah berkata, “Bersahabatlah dengan manusia sebagaimana kamu bergaul dengan api. Ambillah manfaat darinya dan berhati-hatilah jangan sampai dia membakar dirimu.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 475)

Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah berkata, “Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu dicari untuk menuju sesuatu yang lain -yaitu amal- sebagaimana halnya sebatang pohon. Adapun amal laksana buahnya. Oleh sebab itu harus mengamalkan agama Islam, karena orang yang memiliki ilmu namun tidak beramal lebih jelek daripada orang yang bodoh.” (lihat Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul, hal. 12)

Sahl bin Abdullah rahimahullah berkata, “Seorang mukmin adalah orang yang senantiasa merasa diawasi Allah, mengevaluasi dirinya, dan membekali diri untuk menyambut akhiratnya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 711)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak khawatir tertimpa kemunafikan maka dia adalah orang munafik.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1218)

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Wahai orang yang malang. Engkau berbuat buruk sementara engkau memandang dirimu sebagai orang yang berbuat kebaikan. Engkau adalah orang yang bodoh sementara engkau justru menilai dirimu sebagai orang berilmu. Engkau kikir sementara itu engkau mengira dirimu orang yang pemurah. Engkau dungu sementara itu engkau melihat dirimu cerdas. Ajalmu sangatlah pendek, sedangkan angan-anganmu sangatlah panjang.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 15)

Qabishah bin Qais al-Anbari berkata: adh-Dhahhak bin Muzahim apabila menemui waktu sore menangis, maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu, adakah diantara amalku hari ini yang terangkat naik/diterima Allah.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 18)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Sungguh aku tidak senang apabila melihat ada orang yang menganggur; yaitu dia tidak sedang melakukan amal untuk dunianya dan tidak juga beramal untuk akhirat.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 560)

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata: Sungguh membuatku kagum ucapan salah seorang penggerak ishlah/perbaikan pada masa kini. Beliau mengatakan: “Tegakkanlah daulah/pemerintahan Islam di dalam hati kalian, niscaya ia akan tegak di atas bumi kalian.” (lihat Ma’alim al-Manhaj as-Salafi fi at-Taghyir, hal. 24)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Carilah hatimu pada tiga tempat; ketika mendengarkan bacaan al-Qur’an, pada saat berada di majelis-majelis dzikir/ilmu, dan saat-saat bersendirian. Apabila kamu tidak berhasil menemukannya pada tempat-tempat ini, maka mohonlah kepada Allah untuk mengaruniakan hati kepadamu, karena sesungguhnya kamu sudah tidak memiliki hati.” (lihat al-Fawa’id, hal. 143)

Hudzaifah al-Mar’asyi rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang tertimpa musibah yang lebih berat daripada kerasnya hati.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 661)

Hati yang sehat dan sempurna memiliki dua karakter utama. Pertama; kesempurnaan ilmu, pengetahuan, dan keyakinan yang tertancap di dalam hatinya. Kedua; kesempurnaan kehendak hatinya terhadap segala perkara yang dicintai dan diridhai Allah ta’ala. Dengan kata lain, hatinya senantiasa menginginkan kebaikan apapun yang dikehendaki oleh Allah bagi hamba-Nya. Kedua karakter ini akan berpadu dan melahirkan profil hati yang bersih, yaitu hati yang mengenali kebenaran dan mengikutinya, serta mengenali kebatilan dan meninggalkannya. Orang yang ilmunya dipenuhi dengan syubhat/kerancuan dan keragu-raguan, itu artinya dia telah kehilangan karakter yang pertama. Adapun orang yang keinginan dan cita-citanya selalu mengekor kepada hawa nafsu dan syahwat, maka dia telah kehilangan karakter yang kedua. Seseorang bisa tertimpa salah satu perusak hati ini, atau bahkan -yang lebih mengerikan lagi- tatkala keduanya bersama-sama menggerogoti kehidupan hatinya (lihat al-Qawa’id al-Hisan, hal. 86)

Dikisahkan, ada seorang tukang kisah mengadu kepada Muhammad bin Wasi’. Dia berkata, “Mengapa aku tidak melihat hati yang menjadi khusyu’, mata yang mencucurkan air mata, dan kulit yang bergetar?”. Maka Muhammad menjawab, “Wahai fulan, tidaklah aku pandang orang-orang itu seperti itu kecuali diakibatkan apa yang ada pada dirimu. Karena sesungguhnya dzikir/nasehat jika keluar dari hati [yang jernih] niscaya akan meresap ke dalam hati pula.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 12)

Syahr bin Hausyab rahimahullah berkata, “Jika seorang menuturkan pembicaraan kepada suatu kaum niscaya pembicaraannya akan meresap ke dalam hati mereka sebagaimana sejauh mana pembicaraan [nasihat] itu bisa teresap ke dalam hatinya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 660)

al-Hasan bin Shalih rahimahullah berkata, “Sesungguhnya setan benar-benar akan membukakan sembilan puluh sembilan pintu kebaikan dalam rangka menyeret seorang hamba menuju sebuah pintu keburukan.” (lihat al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hal. 63)

Ibrahim at-Taimi rahimahullah berkata, “Tidaklah aku menghadapkan/menguji ucapanku kepada amal yang aku lakukan, melainkan aku takut kalau aku menjadi orang yang didustakan.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1167)

al-Hasan rahimahullah berkata, “Melakukan kebaikan/ketaatan memunculkan cahaya bagi hati dan kekuatan bagi badan. Adapun melakukan kejelekan/dosa melahirkan kegelapan di dalam hati dan kelemahan badan.” (lihat Tafsir Ibnu Rajab, Jilid 2 hal. 135)

Bisyr bin al-Harits rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak orang yang sudah meninggal akan tetapi hati menjadi hidup dengan mengingat mereka. Dan betapa banyak orang yang masih hidup namun membuat hati menjadi mati dengan melihat mereka.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 468)

Ibrahim bin Syaiban rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menjaga untuk dirinya waktu-waktu yang dia jalani sehingga tidak tersia-siakan dalam hal yang tidak mendatangkan keridhaan Allah padanya niscaya Allah akan menjaga agama dan dunianya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/29])

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku terhalang dari melakukan sholat malam selama lima bulan gara-gara sebuah dosa yang pernah aku lakukan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 361)

Bilal bin Sa’id rahimahullah berkata, “Janganlah kamu melihat kecilnya kesalahan, akan tetapi lihatlah kepada siapa kamu berbuat durhaka.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 362)

Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku mencintai orang-orang salih sementara aku bukanlah termasuk diantara mereka. Dan aku membenci orang-orang jahat sementara aku lebih jelek daripada mereka.” (lihat Shalahul Ummah fi ‘Uluwwil Himmah [1/133])

Kaum muslimin yang dirahmati Allah…

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menyampaikan dalam sebuah ceramahnya yang berjudul ‘Urgensi Tauhid’, suatu ungkapan yang sangat indah dan sekaligus menjadi nasihat bagi para da’i, pejuang dakwah, dan segenap umat Islam.

Beliau berkata :

ولا يمكن أن تجتمع هذه الأمة إلا بالعلم النافع والعمل الصالح الذي أساسه التوحيد وإفراد الله سبحانه وتعالى بالعبادة

“Tidak mungkin akan terwujud persatuan umat ini kecuali dengan ilmu yang bermanfaat dan amal salih yang asasnya adalah tauhid dan mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam beribadah.”

Beliau juga menegaskan :

فالعقيدة هي أساس ديننا وهي قاعدة شريعتنا ولا يصح عمل إلا بتصحيح العقيدة مهما كانت الأعمال

“Akidah adalah asas di dalam agama kita. inilah kaidah/pondasi syari’at kita. Dan tidaklah sah suatu amal apapun kecuali dengan meluruskan akidah; bagaimana pun bentuk amal-amal itu.”

Beliau juga menasihatkan kepada kita :

فلهذا ندعو إلى تصحيح العقيدة والعناية بها وتعلمها وتعليمها وتأليف الكتب والرسائل فيها وطبعها ونشرها وتوزيعها ، ثمّ يتبعها بقية أوامر وشرائع الدين

“Oleh sebab itu, kami mengajak untuk meluruskan akidah, memberikan perhatian serius kepadanya, mempelajari dan mengajarkannya, serta menulis buku-buku dan risalah-risalah tentangnya. Lalu mencetak, menyebarkan, dan membagi-bagikannya. Kemudian setelah itu diikuti dengan perintah-perintah dan syari’at-syari’at agama selainnya.”

Semoga cuplikan sebagian nasihat beliau ini bermanfaat bagi kita semuanya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Sumber : http://www.ahlos-sunnah.com/?p=229

Sumber Artikel : [al-mubarok.com]

Belajarlah Dari Pengalaman Pribadi dan Orang Lain

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Begitu bunyi sebuah pepatah yang kerap kita dengar. Senyatanya, pengalaman mengajarkan kita untuk lebih baik. Pengalaman mengajarkan kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pengalaman juga mendidik kita untuk bersikap hati-hati dan waspada. Allah dan Rasul-Nya pun telah memperingatkan, agar seorang mukmin senantiasa dapat mengambil pelajaran, baik dari pengalaman dan peristiwa yang terjadi pada dirinya sendiri, begitu pun dari yang terjadi kepada orang lain.

Seorang Mukmin Tidak Tersengat Pada Lubang yang Sama Dua Kali

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Seorang mukmin tidak tersengat pada lubang yang sama dua kali.” (HR Bukhari & Muslim)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Si’dy berkata, “Hadis diatas adalah perumpamaan yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan bahwa seorang mukmin adalah orang yang senantiasa bersikap waspada. Dengan imannya, seorang mukmin akan berusaha menjauhi perilaku buruk yang dapat mencelakakannya. Jika pun ia terjerumus padanya, ia akan segera bertobat dan kembali.

Diantara kesempurnaan tobatnya, ia pun kemudian akan sangat berhati-hati dari sebab yang telah menjerumuskannya ke dalam dosa tersebut. Seperti orang yang memasukkan tangannya ke dalam sebuah lubang lalu ia digigit seekor ular yang ada di dalamnya. Tentu setelah itu ia tidak akan berani lagi memasukkan tangannya ke lubang tersebut, karena apa yang telah terjadi kepadanya.

Hadis ini mengajarkan tentang sikap mawas diri dan cerdas, yang termanifestasi dalam bentuk mengenali hal-hal bermanfaat untuk ia kerjakan dan mengenali jalan-jalan keburukan untuk ia jauhi.

Hadis ini juga menjelaskan tentang perlunya menjauhi hal-hal yang samar dan meragukan, yang dikhawatirkan akan membawa pada keburukan.

Allah telah memperingatkan orang-orang yang beriman untuk tidak kembali kepada tipu daya setan yang telah menjerumuskan mereka kepada perbuatan maksiat. Allah berfirman,

يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.”<Al Qur`an, Allah mengisahkan orang-orang yang ingkar, manusia-manusia yang durhaka dan tokoh-tokoh yang jahat. Semua akhir dari hidup mereka berujung nista. Semua itu agar menjadi pelajaran bagi kita, agar kita tidak melakukan perbuatan yang sama, sehingga mengakibatkan keburukan bagi kita sebagaimana akibat yang datang kepada mereka.

Allah juga menceritakan sebagian kesalahan yang pernah dilakukan oleh para Nabi berikut akibat yang ditimbulkan dari kesalahan tersebut. Nabi Adam dan Hawa diusir dari surga ke dunia akibat mengikuti bujukan setan sehingga melanggar larangan Allah untuk tidak mendekati sebuah pohon di surga. Dari kesalahan itu, Allah pun mengingatkan manusia agar belajar dari pengalaman kedua orang mereka.

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga.” (QS. Al A’raf: 27)

Dengan demikian, pengalaman orang lain juga pelajaran bagi kita. Hendaknya kita selalu jeli dan cerdas melihat dan mengambil ibroh dari kejadian-kejadian yang menimpa orang lain, baik orang-orang terdahulu atau sekarang.

Wallahu a’lam,

Abu Khalid Resa Gunarsa – Subang, 2 Jumadil Awwal 1435 H (04 Maret 2014)

————————————————————————–

Memperbaiki Diri Sendiri Terlebih Dahulu

Termasuk diantara jalan keselamatan adalah sibuk memperbaiki diri dan meninggalkan hal-hal yang tidak penting bagi diri kita.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengenali jati dirinya sendiri maka dia akan menyibukkan diri dengan memperbaikinya daripada sibuk mengurusi aib-aib orang lain. Barangsiapa yang mengenal kedudukan Rabbnya niscaya dia akan sibuk dalam pengabdian kepada-Nya daripada memperturutkan segala keinginan hawa nafsunya.” (lihat al-Fawa’id, hal. 56)

Abdullah ibnu Mubarak rahimahullah berkata, “Jika seorang telah mengenali kadar dirinya sendiri [hawa nafsu] niscaya dia akan memandang dirinya -bisa jadi- jauh lebih hina daripada seekor anjing.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/29])

/i> (QS. An Nuur: 17)

Dengan demikian, orang yang telah bertobat dari suatu kesalahan, ia akan sangat membenci kesalahan itu dan lebih berhati-hati, karena melalui pengalamannya, ia mengetahui dampak-dampak buruk dari kesalahan tersebut.” (Diringkas dari Bahjah Al Quluub Al Baraar: 201 – 202)

Belajar dari Pengalaman Orang Lain

Tidak hanya dari pengalaman pribadi, seorang mukmin hendaknya juga mau belajar dari pengalaman orang lain. Begitu bertebaran kisah yang Allah kisahkan dalam Al Qur`an. Diantara tujuannya, agar kita mendapat pelajaran dari lakon-lakon manusia yang Allah ceritakan kisah hidupnya tersebut. Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111)

Dalam

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu disibukkan dengan memperbaiki dirimu, janganlah kamu sibuk membicarakan orang lain. Barangsiapa yang senantiasa disibukkan dengan membicarakan orang lain maka sungguh dia telah terpedaya.” (lihat ar-Risalah al-Mughniyah, hal. 38)

al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dijadikan dia tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya.” (lihat ar-Risalah al-Mughniyah, hal. 62).

Yunus bin ‘Ubaid rahimahullah berkata, “Sungguh aku pernah menghitung-hitung seratus sifat kebaikan dan aku merasa bahwa pada diriku tidak ada satu pun darinya.” (lihat Muhasabat an-Nafs wa al-Izra’ ‘alaiha, hal. 80)

Syaqiq al-Balkhi rahimahullah berkata, “Bersahabatlah dengan manusia sebagaimana kamu bergaul dengan api. Ambillah manfaat darinya dan berhati-hatilah jangan sampai dia membakar dirimu.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 475)

Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah berkata, “Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu dicari untuk menuju sesuatu yang lain -yaitu amal- sebagaimana halnya sebatang pohon. Adapun amal laksana buahnya. Oleh sebab itu harus mengamalkan agama Islam, karena orang yang memiliki ilmu namun tidak beramal lebih jelek daripada orang yang bodoh.” (lihat Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul, hal. 12)

Sahl bin Abdullah rahimahullah berkata, “Seorang mukmin adalah orang yang senantiasa merasa diawasi Allah, mengevaluasi dirinya, dan membekali diri untuk menyambut akhiratnya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 711)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak khawatir tertimpa kemunafikan maka dia adalah orang munafik.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1218)

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Wahai orang yang malang. Engkau berbuat buruk sementara engkau memandang dirimu sebagai orang yang berbuat kebaikan. Engkau adalah orang yang bodoh sementara engkau justru menilai dirimu sebagai orang berilmu. Engkau kikir sementara itu engkau mengira dirimu orang yang pemurah. Engkau dungu sementara itu engkau melihat dirimu cerdas. Ajalmu sangatlah pendek, sedangkan angan-anganmu sangatlah panjang.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 15)

Qabishah bin Qais al-Anbari berkata: adh-Dhahhak bin Muzahim apabila menemui waktu sore menangis, maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu, adakah diantara amalku hari ini yang terangkat naik/diterima Allah.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 18)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Sungguh aku tidak senang apabila melihat ada orang yang menganggur; yaitu dia tidak sedang melakukan amal untuk dunianya dan tidak juga beramal untuk akhirat.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 560)

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata: Sungguh membuatku kagum ucapan salah seorang penggerak ishlah/perbaikan pada masa kini. Beliau mengatakan: “Tegakkanlah daulah/pemerintahan Islam di dalam hati kalian, niscaya ia akan tegak di atas bumi kalian.” (lihat Ma’alim al-Manhaj as-Salafi fi at-Taghyir, hal. 24)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Carilah hatimu pada tiga tempat; ketika mendengarkan bacaan al-Qur’an, pada saat berada di majelis-majelis dzikir/ilmu, dan saat-saat bersendirian. Apabila kamu tidak berhasil menemukannya pada tempat-tempat ini, maka mohonlah kepada Allah untuk mengaruniakan hati kepadamu, karena sesungguhnya kamu sudah tidak memiliki hati.” (lihat al-Fawa’id, hal. 143)

Hudzaifah al-Mar’asyi rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang tertimpa musibah yang lebih berat daripada kerasnya hati.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 661)

Hati yang sehat dan sempurna memiliki dua karakter utama. Pertama; kesempurnaan ilmu, pengetahuan, dan keyakinan yang tertancap di dalam hatinya. Kedua; kesempurnaan kehendak hatinya terhadap segala perkara yang dicintai dan diridhai Allah ta’ala. Dengan kata lain, hatinya senantiasa menginginkan kebaikan apapun yang dikehendaki oleh Allah bagi hamba-Nya. Kedua karakter ini akan berpadu dan melahirkan profil hati yang bersih, yaitu hati yang mengenali kebenaran dan mengikutinya, serta mengenali kebatilan dan meninggalkannya. Orang yang ilmunya dipenuhi dengan syubhat/kerancuan dan keragu-raguan, itu artinya dia telah kehilangan karakter yang pertama. Adapun orang yang keinginan dan cita-citanya selalu mengekor kepada hawa nafsu dan syahwat, maka dia telah kehilangan karakter yang kedua. Seseorang bisa tertimpa salah satu perusak hati ini, atau bahkan -yang lebih mengerikan lagi- tatkala keduanya bersama-sama menggerogoti kehidupan hatinya (lihat al-Qawa’id al-Hisan, hal. 86)

Dikisahkan, ada seorang tukang kisah mengadu kepada Muhammad bin Wasi’. Dia berkata, “Mengapa aku tidak melihat hati yang menjadi khusyu’, mata yang mencucurkan air mata, dan kulit yang bergetar?”. Maka Muhammad menjawab, “Wahai fulan, tidaklah aku pandang orang-orang itu seperti itu kecuali diakibatkan apa yang ada pada dirimu. Karena sesungguhnya dzikir/nasehat jika keluar dari hati [yang jernih] niscaya akan meresap ke dalam hati pula.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 12)

Syahr bin Hausyab rahimahullah berkata, “Jika seorang menuturkan pembicaraan kepada suatu kaum niscaya pembicaraannya akan meresap ke dalam hati mereka sebagaimana sejauh mana pembicaraan [nasihat] itu bisa teresap ke dalam hatinya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 660)

al-Hasan bin Shalih rahimahullah berkata, “Sesungguhnya setan benar-benar akan membukakan sembilan puluh sembilan pintu kebaikan dalam rangka menyeret seorang hamba menuju sebuah pintu keburukan.” (lihat al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hal. 63)

Ibrahim at-Taimi rahimahullah berkata, “Tidaklah aku menghadapkan/menguji ucapanku kepada amal yang aku lakukan, melainkan aku takut kalau aku menjadi orang yang didustakan.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1167)

al-Hasan rahimahullah berkata, “Melakukan kebaikan/ketaatan memunculkan cahaya bagi hati dan kekuatan bagi badan. Adapun melakukan kejelekan/dosa melahirkan kegelapan di dalam hati dan kelemahan badan.” (lihat Tafsir Ibnu Rajab, Jilid 2 hal. 135)

Bisyr bin al-Harits rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak orang yang sudah meninggal akan tetapi hati menjadi hidup dengan mengingat mereka. Dan betapa banyak orang yang masih hidup namun membuat hati menjadi mati dengan melihat mereka.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 468)

Ibrahim bin Syaiban rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menjaga untuk dirinya waktu-waktu yang dia jalani sehingga tidak tersia-siakan dalam hal yang tidak mendatangkan keridhaan Allah padanya niscaya Allah akan menjaga agama dan dunianya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/29])

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku terhalang dari melakukan sholat malam selama lima bulan gara-gara sebuah dosa yang pernah aku lakukan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 361)

Bilal bin Sa’id rahimahullah berkata, “Janganlah kamu melihat kecilnya kesalahan, akan tetapi lihatlah kepada siapa kamu berbuat durhaka.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 362)

Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku mencintai orang-orang salih sementara aku bukanlah termasuk diantara mereka. Dan aku membenci orang-orang jahat sementara aku lebih jelek daripada mereka.” (lihat Shalahul Ummah fi ‘Uluwwil Himmah [1/133])

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s