BUSINESS

WIRAUSAHA MANDIRI

Minggu, 10 Maret 2012

Peluang Usaha Sampingan sesuai dengan Skill

Memulai usaha sampingan memang bisa dilakukan dengan berbagai cara, namun tidak semua orang bisa sukses menjalankannya. Dibutuhkan kemauan, keberanian, dan skill tertentu untuk bisa memperoleh tambahan pendapatan di luar gaji yang anda terima setiap bulannya.

Salah satu alternatif yang bisa mempermudah anda dalam menjalankan bisnis sampingan, yaitu mencoba peluang bisnis sesuai dengan skill atau hobi yang anda miliki. Dengan begitu Anda tidak akan merasa terbebani untuk menjalankan bisnis sampingan tersebut, karena Anda bisa menjalankan bisnis di bidang yang anda senangi.
Beberapa peluang usaha sampingan sesuai dengan skill atau hobi yang bisa dicoba antara lain, mencoba bisnis kue ataupun membuka warung lesehan bagi Anda yang hobi memasak. Atau bisa juga Anda membuka bisnis jasa seperti jasa reparasi elektronik, jasa jahit pakaian, jasa pembuatan website, jasa penerjemah, dll.
Nah, apa Anda tertarik untuk mencoba peluang bisnis sampingan sesuai dengan skill? Berikut kami informasikan, peluang usaha sampingan jasa reparasi elektronik yang bisa Anda jalankan setelah pulang kerja.
Konsumen
Target konsumen peluang usaha ini adalah semua orang yang memiliki barang-barang elektronik. Bisa jadi dari rekan-rekan anda di kantor, kerabat dekat anda, maupun para tetangga yang ada di sekitar rumah anda.
Info Usaha
Hampir semua alat elektronik memiliki resiko mengalami kerusakan, dari mulai televisi, radio tape, DVD/VCD player, kulkas, kipas angin, AC, magicjar, serta masih banyak lagi lainnya. Tak diragukan lagi, bila peluang bisnis ini memiliki prospek yang cukup menguntungkan.
Karena usaha sampingan ini dijalankan sesuai dengan skill, maka Anda perlu memperhatikan beberapa hal berikut untuk memulai usaha :
• Karena ini bisnis jasa yang membutuhkan modal skill, maka sebisa mungkin sebelum memulai usaha pelajari terlebih dahulu hal-hal yang berhubungan dengan barang elektronik. Seperti cara menganalisa kerusakan barang elektronik, cara membongkar dan memperbaiki elektronik yang rusak, serta mengetahui kisaran harga onderdil elektronik. Modal tersebut bisa diperoleh dengan mengikuti kursus servis elektonik, belajar secara otodidak, serta pengalaman di tempat kerja maupun pengalaman selama menuntut ilmu.
• Selanjutnya siapkan perlengkapan servis yang dibutuhkan, misalnya saja obeng, tang kecil, solder, taspen, adaptor, berbagai jenis kabel, serta beberapa peralatan lain yang mendukung.
• Cari pusat penjualan komponen elektronik yang menawarkan produk-produk berkualitas, dengan harga miring. Sehingga biaya operasional yang Anda keluarkan tidak terlalu besar.
• Untuk awal usaha Anda bisa menjalankan bisnis ini di rumah setelah pulang kerja, jadi bisnis ini tidak mengganggu pekerjaan utama Anda.
Kelebihan usaha
Usaha sampingan servis elektronik ini tidak membutuhkan modal besar, yang terpenting adalah modal skill dan pengetahuan di bidang elektronik. Disamping itu, peluang usaha ini bisa Anda jalankan setelah pulang kerja atau di waktu libur Anda. Sehingga usaha ini tidak mengganggu pekerjaan utama Anda setiap harinya.
Kekurangan usaha
Kendala yang sering menghambat usaha jasa reparasi elektronik yaitu kurangnya kemampuan atau pengetahuan untuk mereparasi barang elektronik. Selain itu kendala yang dihadapi adalah sulitnya mendapatkan beberapa komponen untuk memperbaiki alat elektronik tertentu, bila adapun pasti harganya cenderung lebih mahal.
Pemasaran
Karena bisnis sampingan tersebut dijalankan di rumah, maka strategi pemasaran yang paling efektif adalah promosi dari mulut ke mulut. Dengan menginformasikan usaha Anda kepada rekan kerja, kerabat dekat, maupun tetangga yang ada di sekitar rumah Anda.
Anda juga bisa memasang plakat nama usaha dan jenis barang-barang elektronik yang bisa Anda servis, di depan rumah Anda. Ini menjadi satu daya tarik bagi masyarakat sekitar yang tidak sengaja melewati lokasi tersebut. Cantumkan pula waktu operasional usaha, yang bisa Anda sesuaikan dengan jadwal pekerjaan Anda sehari-hari. Contohnya saja : senin-jumat buka pukul 17.00- 21.00 WIB, sedangkan hari sabtu dan minggu buka pukul 10.00-21.00 WIB. Jadi konsumen yang datang ke rumah Anda, tidak kecewa bila mendapati Anda belum sampai di rumah.
Kunci sukses
Kunci kesuksesan usaha ini terletak pada kualitas hasil reparasi dan harga reparasi yang ditentukan. Maka dari itu, tingkatkan kemampuan Anda dalam mereparasi alat elektronik dan tawarkan biaya reparasi yang terjangkau oleh semua kalangan. Bila perlu berikan garansi jasa reparasi untuk beberapa hari, agar kepuasan pelanggan tetap terjaga.
Analisa Ekonomi
Asumsi :
Usaha dijalankan di rumah, jadi tidak ada biaya sewa tempat.
Rmematok ata-rata dalam satu minggu berhasil mereparasi 3 alat elektronik.
Dengan tarif kurang lebih Rp 50.000,00-Rp 100.000,00 untuk setiap jasa
Modal awal
Peralatan servis (obeng, tang, solder, taspen, dll) Rp 2.000.000,00
Komponen elektronik Rp 1.000.000,00 +
Total Rp 3.000.000,00
Biaya penyusutan alat setelah pemakaian 2 tahun (24 bulan)
= 1/24 x Rp 2.000.000,00 = Rp 83.400,00
Biaya operasional per bulan
Biaya listrik Rp 150.000,00
Bahan pendukung servis (kabel, tenol solder) Rp 100.000,00
Pembelian komponen rata-rata per bulan Rp 1.000.000,00
Biaya penyusutan alat Rp 83.400,00 +
Total Rp 1.333.400,00
Omset per bulan
Jasa servis elektronik (belum termasuk ganti komponen) :
3 order x Rp 50.000,00 x 4 minggu Rp 600.000,00
Jasa penggantian komponen rata-rata per bulan Rp 1.250.000,00 +
Total Rp 1.850.000,00
Laba bersih per bulan
Rp 1.850.000,00 – Rp 1.333.400,00 = Rp 516.600,00
ROI (Return of Investment)
(modal awal : laba bersih per bulan) = ± 6 bulan

———————————————————————————

Atöni Daeli, Usaha Las dan Ketekunan

NBC — Usaha apa pun bila dilakukan dengan ketekunan, pasti akan membawa hasil yang baik. Hal itu dibuktikan oleh Atöni Daeli (53), pemiliki Usaha Dagang Real yang bergerak di bidang pengelasan.

Warga Desa Sisobandrao, Simpang Tiga Lahömi, Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias Barat, itu menyatakan, bisa mencapai kondisi sekarang ini berkat dorongan dari anaknya—yang kursus pengelasan selama enam bulan di Medan sehingga ia banting setir, dari petani menjadi tukang las.

Dua mobil pikap L-300 miliknya yang digunakan untuk memperlancar usaha lasnya tidak serta-merta Atöni dapatkan dengan mudah. Juga kesuksesannya menguliahkan dua anaknya serta menikahkan satu anaknya yang lain dan semua materi yang ia peroleh saat ini adalah buah dari kesabaran dan dibarengi usaha keras serta menjalani sikap hati yang selalu bersyukur kepada Tuhan.

“Anak saya, Realisasi Daeli, yang sudah memiliki pengetahuan di bidang las mendorong dan memotivasi saya agar kami membuka usaha di bidang las saja. Sebab, ketika tahun 2001—waktu membuka usaha las—di Kecamatan Sirombu belum ada satu pun usaha las,” ujar pria kelahiran 14 Juni 1958 itu.

Peluang yang ada segera diambil oleh Atöni Daeli. Pada tahun 2011, bermodalkan Rp 3 juta, usaha las pun mulai ia jalankan. “Selain modal yang saya punya, teman saya, Yosua Hia—pemilik Hotel Yosua di Jalan Kelapa Gunungsitoli—juga bersedia menyuntikkan modal. Puji Tuhan, modal dari Yosua bisa saya lunasi setahun kemudian,” ujarnya.

Pasang surut dalam usaha bukan tidak pernah dialami oleh Atöni. Karena tidak ada konsumen, bahkan, usahanya pernah berhenti, dari 2009 hingga pertengahan 2010. Berkurangnya konsumen ini juga, diakui Atöni, karena kurangnya promosi.

“Selama vakum itu, saya mencoba beternak sambil terus bertani,” kata Atöni. Namun, seiring dengan pembentukan Kabupaten Nias Barat—yang sebelumnya bergabung dengan Kabupaten Nias—banyak pembangunan gedung dan rumah, usaha lasnya pun kembali bangkit.

Tambah Karyawan

Usaha las yang digeluti pria bersahaja ini kini kebanjiran order, terutama pemesanan antimaling di jendela. Adapun untuk membuat satu buah antimaling ukuran 113 cm x 60 cm, misalnya, dibutuhkan waktu selama 3 jam. Diperlukan modal sebesar Rp 120.000, sudah termasuk upah pekerja, biaya cat, dan biaya besi. Dengan demikian, Atöni bisa meraup keuntungan bersih setiap satu antimaling sebesar Rp 30.000, karena ia menjualnya kepada konsumen sebesar Rp 150.000.

Hampir setahun ini, kata Atöni, pemesanan antimaling semakin meningkat dan dia mengaku kewalahan memenuhi pesanan konsumen. Karyawannnya hanya dua orang, dan sudah mulai kewalahan. Atöni pun sedang menunggu tambahan tenaga kerja. “Saya paling tidak membutuhkan dua orang lagi karyawan yang bisa mengelas. Sekarang ini ada 100 buah anti maling yang sedang dikerjakan,” ujar suami Natia Daeli ini.

Atöni untuk sementara memberikan gaji karyawannya per hari sebesar Rp 50.000. Namun, untuk makan siang ia sediakan. “Karyawan yang bekerja di bengkel, saya sediakan makan siang di rumah. Jadi, cukup lumayanlah dengan gaji sebesar itu,” katanya.

Adapun semua bahan baku usahanya dipasok dari Gunungsitoli. Atöni mengaku tidak kesulitan soal transportasi. Dua mobil L-300 miliknya memperlancar dan memudahkan pengangkutan bahan baku serta pendistribusian hasil usahanya kepada pelanggannya.

Namun, masalah yang dihadapi ketika listrik yang dipasok oleh Perusahan Listrik Negara (PLN) sering padam. Kegiatan usahanya terpaksa berhenti saat listrik mati. “Kalau memakai generator set (genset) rugi juga. Solarnya boros dan lebih mahal,” kata Atöni.

Apa yang diperolehnya hingga kini, diakui Atöni Daeli—yang saat masih lajang merantau di Medan, juga tak lepas dari berkat dari pencipta-Nya. “Bila dekat dengan Tuhan, akan ada terus pintu rezeki terbuka buat semua umat-Nya,” ujarnya kepada NBC. [ONLYHU NDRAHA]

BIODATA SINGKAT

  • Nama lengkap: Atöni Daeli
  • Pekerjaan: Wirausaha dan Pemilik UD Real
  • Tanggal lahir: 14 Juni 1958
  • Istri: Natia Daeli
  • Anak : 3 (1 menikah, 2 sedang kuliah)
  • Alamat: Desa Sisobandrao, Simpang Tiga Lahömi, Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias Barat.

—————————————————————————————-

Sukses Menjalankan Bisnis Dalam Bidang IT

bisnis komputer

Kemauan untuk belajar dan mencoba menjadi dasar bagi Alfian Kusuma Adi membangun perusahaan yang bergerak dalam bidang IT (Information Technology). Kendati pada awal mula membangun usaha tidak memiliki modal, namun berbekal tekad dan kemauan yang tinggi, pemuda yang saat ini genap berusia 30 tahun tersebut mampu mewujudkan mimpinya untuk memiliki sebuah bisnis yang dibangunnya pada tahun 2009. Bersama tiga orang rekannya, Alfian hanya bermodalkan kartu nama dan proposal saat pertama kali memutuskan untuk membangun bisnis yang kemudian dinamai DinarTech.

Ditemui di kantornya Rabu (1/6), pemuda murah senyum tersebut menuturkan alasan mendirikan perusahaan yang bergerak dalam bidang IT. “Perkembangan IT dewasa ini memperlihatkan kemajuan yang luar biasa dan berperan besar untuk memicu kemajuan di bidang lain seperti ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, sosial budaya, dan pertahanan keamanan,” ujarnya kepada tim liputan bisnisUKM. Atas dasar itulah, Alfian dan rekan-rekannya mendirikan perusahaan IT untuk bisa memenuhi kebutuhan mitra di bidang tersebut.

toko komputerKerja keras yang ditunjukkan Alfian dan rekan-rekannya saat ini bisa terlihat dengan kesuksesannya membangun DinarTech Corporation yang terdiri dari 3 divisi, yaitu Dinar Computer yang bergerak di bidang sales, service & maintenance hardware; Dinar Soft yang bergerak di bidang software development; dan Dinar Link yang bergerak di bidang networking solution. Bahkan setelah dua tahun berjalan, sekarang DinarTech sudah memiliki 15 orang karyawan yang sama-sama berjuang mewujudkan visi besar perusahaan.

Untuk strategi yang digunakan dalam memasarkan produknya, Alfian membaginya menjadi dua lini. “Pemasarankami bagi menjadi dua langkah, yaitu retail berupa toko, aktif dalam pameran computer, memasang spanduk, dan menyebar brosur; sementara langkah kedua adalah korporat dengan target perusahan, kami memiliki tim khusus marketing yang tugasnya memasukkan dan mempresentasikan proposal ke perusahaan,” jelas Alfian di kantornya Jalan Arteri Soekarno-Hatta No. 11 Semarang.

pengusaha suksesDengan langkah pemasarannya itu, DinarTech semakin mapan sebagai sebuah perusahaan IT. Alfian berujar dalam waktu 5 tahun DinarTech akan membuka cabang di luar semarang, targetnya Kalimantan dan Jakarta. “Saat ini masih dalam penyelesaian konsep, dan kami secepatnya akan merealisasikan rencana tersebut,” imbuh Alfian. Mereka sadar betul jika persaingan dalam bisnis IT sangatlah ketat. Banyak kompetitor yang bermunculan dengan kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki. Namun lanjut Alfian, kejelian dalam melihat prospek pasar menjadi faktor penentu ketika menjalankan bisnis tersebut, dan hal itu tidak dimiliki oleh semua kompetitornya.

Setelah DinarTech berjalan sesuai dengan alurnya, Alfian juga membangun dan mengembangkan bisnis warung internet (warnet). Di Semarang, beliau memiliki lebih dari 2 buah warnet yang semakin mengukuhkannya sebagai seorang penusaha sukses dalam bidang IT. Saat ditanya apa yang menjadi faktor kuncinya dalam memulai bisnis, tanpa ragu-ragu Alfian menuturkan dua hal kunci pokoknya. “Kunci yang pertama adalah kemauan, yaitu kemauan belajar dan kemauan untuk mencoba; dan kunci yang kedua adalah dukungan keluarga, terutama ridho orang tua,” tambah Alfian.

Di akhir wawancaranya, Alfian berkeinginan agar generasi muda Indonesia banyak yang menjadi pengusaha. Menurutnya, sebuah negara akan maju ketika di dalamnya banyak pengusaha, contohnya Singapura. Beliau juga yakin jika para generasi muda di negera ini akan mampu untuk bisa mewujudkannya.

——————————————————————–

Menjahit, Profesi Terhormat dan Menjanjikan

NBC – Mencari penghidupan yang layak tidak hanya bisa diperoleh dengan menjadi pegawai negeri sipil (PNS) atau bekerja di lembaga swadaya masyarakat (LSM), misalnya. Ada banyak profesi yang menjanjikan untuk digeluti dan dari profesi itu cita-cita bisa diraih. Kuncinya adalah niat, kegigihan, dan kreativitas.

Kali ini NBC mengunjungi sentra menjahit di daerah Kampung Baru di Jalan Diponegoro―yakni daerah dari ujung Jembatan Nou hingga Simpang Meriam―Kota Gunungsitoli. Sudah puluhan tahun daerah itu menjadi gudangnya para penjahit. Kiri-kanan jalan sepanjang Kampung Baru (orang setempat akrab menyebutnya Kafu Baru) dipenuhi dengan kios para penjahit. Para penjahit di tempat itu rata-rata sudah turun-temurun. Hal itu menunjukkan bahwa menjahit adalah profesi yang menjanjikan.

Eddy Tamrin,  yang disambangi NBC pada Senin (23/5/2011), bersedia bercerita seputar dirinya dan profesinya sebagai salah seorang penjahit di Kafu Baru, Gunungsitoli.

Di ruangan seluas sekitar 6 meter x 5 meter usaha menjahit dilakoni oleh Eddy Tamrin. Di ruangan itu jugalah NBC dengan ramah diterima pemilik toko Gelora Tailor itu. Ada 4 mesin jahit di ruangan itu. Bahan-bahan kain ditata rapi di sisi belakang, yang dibatasi oleh sebuah meja kerja dan sebagian juga digantung di langit-langit. Siang itu hanya dua karyawannya yang masuk.

“Daerah Kafu Baru ini tempat bagi para penjahit menjalankan usahanya. Ada sekitar 10 keluarga bahkan sudah menggeluti profesi ini selama puluhan tahun,” ujar Eddy Tamrin membuka pembicaraan.

Usaha menjahit yang dikelola Eddy adalah warisan dari orangtuannya. Ayahnya yang berasal dari Padang datang ke Nias sekitar tahun 1970 dan saat itu memulai usaha menjahit. Hal ini menandakan, usaha menjahit keluarga Eddy sudah dimulai sejak 40 tahun silam. Setelah orang tuanya meninggal pada 1992, ia kemudian melanjutkan usaha itu.

Sebenarnya, menjadi seorang penjahit bukanlah cita-cita Eddy, “Saya tamatan sekolah menengah kejuruan (SMK) dan mengambil jurusan mesin. Sangat bertolak belakang dengan pekerjaan saya sekarang ini,” ujar Eddy.

Ia pernah mencoba bekerja di perbengkelan setelah tamat sekolah, tetapi tidak berlangsung lama. “Bekerja sebagai montir memerlukan tenaga, itu membuat saya beralih profesi,” ujarnya.

Pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” ternyata berlaku bagi Eddy. Merasa tidak cocok bekerja sebagai montir, ia pun akhirnya belajar selama setahun dari sang ayah bagaimana cara menjahit. Mulai dari mengukur, memotong kain, hingga menjahit. Berkat ketekunannya, Eddy dengan mudah dapat menguasai cara menjahit.

Kini, buah dari usahanya ini ia dapat menghidupi keluarganya serta menyekolahkan keempat anak-anaknya, untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik, serta dapat menabung sebagian upah kerjanya.

Pascagempa 6 tahun silam, usaha Eddy semakin berkembang meski ia sempat mengalami kerugian akibat gempa. “Rumah saya hancur ditimpa rumah tetangga saat gempa, tetapi itu tidak membuat usaha saya berhenti. Saya kembali membangun rumah tempat tinggal sekaligus tempat usaha saya meski hanya berdinding papan,” ujar pria kelahiran 1971 itu.

Eddy mengaku berkah gempa, ia mendapatkan banyak pesanan dari orang yang bekerja di LSM dalam dan luar negeri serta Badan Rekonstruksi dan Rehabilitas (BRR) Nias. Saat itu banyak orderan sehingga penghasilannya pun semakin bertambah.

Berakhirnya aktivitas BRR tahun 2009, tidak membuat penghasilan Eddy menurun. Dengan bertambahnya penduduk membuat usahanya tetap berkembang dan maju. Ia menceritakan bahwa sebelum gempa, ia hanya mendapatkan penghasilan bersih berkisar Rp 2 juta per bulan di luar gaji para karyawan. Kini penghasilannya meningkat menjadi 3,5 juta tiap bulannya.

Karyawan dan Konsumen

Usaha Gelora Tailor yang dikelola Eddy tentu tidak serta-merta maju tanpa dukungan para karyawan. Ketiga karyawan tetapnya saat ini ia beri upah Rp 500.000 per minggu. “Ya, uang sebanyak itu pasti lumayan buat mereka asal bisa ditabung,” kata Eddy.

Karyawan di usaha menjahit Eddy bisa datang dan pergi. Tidak ada keharusan bagi karyawan untuk terus bekerja di tempat usahanya. Sebab, menurut dia, untuk merekrut karyawan tidak susah. Sebab, orang yang memiliki keahlian menjahit dan belum memiliki usaha sendiri akan datang untuk menawarkan diri sebagai karyawan di tempatnya.

“Kebanyakan orang yang memiliki keahlian menjahit dan belum memiliki usaha langsung mendatangi saya untuk mencari kerja,” ujar Eddy. Seseorang penjahit bisa bekerja di Gelora Tailor setelah melalui tes terlebih dahulu. “Saya tes kemampuannya, apakah sesuai dengan kriteria yang saya butuhkan. Kalau lulus, ya lanjut kerja,” tambah Eddy.

Menurut Eddy, karyawannya sudah dibagi tugas. Ada yang menjahit baju batik, celana, dan menyetrika pakaian yang sudah jadi. “Namun, pembagian tugas itu tidak kaku, tergantung keperluan saja, semua bisa melakukan pekerjaan mana dulu yang diutamakan,” ujar Eddy.

Selain modal karyawan, kemajuan usaha menjahit juga sangat ditentukan oleh banyaknya konsumen. Bercerita tentang konsumen, ia menjelaskan bahwa biasanya ia menjahit pakaian para pegawai negeri sipil (PNS), anak sekolah, masyarakat, dan yang bekerja di NGO.

“Saya mempunyai banyak pelanggan tetap. Mungkin mereka cocok dan senang dengan kualitas jahitan saya sehingga mereka bertahan dan memilih saya sebagai tukang jahit pakaian mereka,” ujarnya. Eddy menambahkan, untuk para pelanggan tetapnya memang dia selalu memupuk hubungan baik. “Namun, bukan berarti saya hanya baik sama pelanggan tetap. Kepada semua konsumen saya selalu melakukan yang terbaik. Sebab, konsumen pemula sekalipun, mereka adalah calon pelanggan tetap saya.”

Pada musim-musim tertentu, seperti hari Natal, Hari Raya Islam, tahun ajaran baru di sekolah, penerimaan CPNS, order di Gelora Tailor membanjir. Keuntungan pun semakin bertambah ia dapat saat musiman itu. “Paling ramai kalau Hari Raya Muslim,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan para pelanggannya, Eddy mendatangkan bahan baku dari Padang, Sumatera Barat, melalui kapal laut karena di sana ia mempunyai langganan penjual bahan baku. Hal ini juga ia lakukan mengingat harga yang jauh berbeda bila membeli bahan baku di Gunungsitoli. “Saya bisa mendapatkan keuntungan dari pembelian harga baku tersebut,” ujarnya.

Dukungan Keluarga

Sang istri, Salfesira Zubir, yang selalu setia mendampinginya, membuat dirinya semakin bersemangat menekuni pekerjaannya. “Istri saya selalu memberi dukungan menjalankan usaha,” ujar Eddy.

Sekarang, Eddy Tamrin lewat usahanya, ia dapat memberi nafkah ke empat anaknya dan menyekolahkan mereka untuk mendapatkan pendidikan yang lebih layak. Dhina prajiwi, anak tertuanya sekarang sekolah di Sanawiyah, Raudatul Jannah, anak kedua sekarang sekolah di SD Muhammadiyah, Anisa Fitria, anak ketiga, di SD Muhammadiyah, dan bungsu, Zikra Fitria Amanda belum sekolah.

Eddy mengharapkan agar anak-anaknya kelak mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi. “Saya mengharapkan agar dari mereka ada juga yang dapat melanjutkan pekerjaan saya,” katanya.

Di mata Eddy, pekerjaan menjahit, bukanlah pekerjaan rendahan. Hal itu karena membutuhkan keahlian dalam mengerjakannya dan sangat menjanjikan bila dapat menekuninya dengan benar.

Bicara soal mode, untuk mengikuti perkembangan zaman, ia menyiasatinya dengan cara mengerjakan orderan yang mengikuti permintaan konsumen. Ia juga belajar dari membaca perkembangan mode terakhir dengan membaca majalah. “Saya banyak membeli buku-buku motif pakaian,” ujarnya.

Melalui buku-buku itu, Eddy banyak belajar agar mampu mengikuti model jahitan. “Membeli peralatan canggih tidak selalu menjamin kepuasan konsumen juga, tetapi yang paling penting adalah bakat penjahit itu sendiri,” tutur Eddy.

Meskipun dalam menjalankan usahanya Eddy mengaku tidak menemui kendala yang berarti. Namun, “Kadang saya harus melayani para konsumen atau pelanggan yang mempunyai sifat kikir dalam membayar orderan yang ia patok dalam menjahit.”

Kampung Baru menggeliat sebagai sentra usaha menjahit. Para pengusaha menjahit tentu bahu-membahu untuk menarik pelanggan. Hanya saja, meskipun rata-rata bertetangga, para pengusaha jahit di tempat itu belum memiliki paguyuban.

Mengakhiri pertemuan dengan NBC, sebuah pesan dilontarkan Eddy, “Agar bisa meraih sukses pada bisnis, berusahalah sesuai bidang Anda. Artinya, tekunilah satu pekerjaan agar hasilnya maksimal.” [IMAN JAYA LASE]

Biodata Singkat

  • Nama:  Eddy Tamrin
  • Lahir:  Gunungsitoli,  8 Mei 1971
  • Istri:  Salfestra Zubir
  • Anak: Dhina prajiwi, Raudatul Jannah, Anisa Fitria, Zikra Fitria Amanda
  • Alamat: Jl. Diponegoro No. 52, Kampung Baru, Kota Gunungsitoli.

—————————————————————————————————

Sentra Pembuatan Batu Bata di Desa Iraonolase Butuh Modernisasi


Perajin batu bata sedang memasukkan tanah ke cetakan.

NBC – Pembuatan batu bata merupakan salah satu mata pencarian yang banyak digeluti masyarakat Nias. Misalnya saja, penduduk Desa Iraonolase. Mereka sudah sejak puluhan tahun berkecimpung dalam usaha pembuatan batu bata. Meskipun berbagai hambatan, antara lain jalan rusak dan kebutuhan akan mesin modern, tungku pembakaran batu bata di Iraonolase terus mengepulkan asap.

Tingginya permintaan akan batu bata didorong oleh pesatnya pembangunan rumah (properti) di kepulauan Nias membuat warga di Desa Iraonolase menggeluti industri kecil ini sebagai penopang ekonomi keluarga mereka. Selain karena proses pembuatannya yang relatif mudah dengan biaya investasi yang terjangkau, bahan baku industri pembuatan batu bata juga tersedia melimpah.

NBC yang berkunjung ke Desa Iraonolase, Kecamatan Alo’oa, Kota Gunungsitoli, itu Rabu (27/4/2011), menyaksikan derap warga Desa Iraonolase menggeluti pembuatan batu batu ini dengan serius. Hampir separuh warga di desa ini, yang berjumlah 400 kepala keluarga, berprofesi sebagai perajin batu bata. Tak salah bila sebutan sebagai sentra batu bata melekap pada desa ini.

Di sepanjang jalan memasuki desa ini, NBC menyaksikan pondok-pondok batu bata yang bejejer sepanjang jalan. Hampir setiap rumah memiliki pondok tempat pembuatan batu bata. Sebagian berada di samping dan sebagian di belakang rumah.

Siang itu Faigizaro Lase (51), salah seorang perajin yang memiliki pondok pembuatan batu bata terbesar di desa itu, berkenan bercerita seputar industri rumahan yang ia geluti bersama keluarganya.

Di pondoknya terlihat 4 orang sedang bekerja. Ada yang menggemburkan, mencetak, menyusun batu bata yang sudah dicetak, mengeringkan, menyusun ke tungku tempat membakar batu bata.

Proses Pembuatan Bata

Salah satu prose pembuatan batu bata.

Kepada NBC, Faigizaro secara rinci bercerita bagaimana proses membuat batu bata. Pertama-tama semua bahan-bahan, seperti tanah, dicampur dengan air, menggunakan cangkul hingga menjadi adukan. Sebenarnya, kalau di Jawa menurut penelusuran NBC, tanah harusnya dicampur dengan abu bekas pabrik gula. Kedua, adukan itu dipadatkan  ke dalam mesin penggiling. Lalu bahan yang sudah dipadatkan itu dicetak menggunakan cetakan berukuran 6 cm x 10 cm x 20 cm. Ketiga, batu bata yang masih basah disusun memanjang dan melebar sesuai kapasitas tempat. Keempat, setelah disusun, batu bata siap dijemur hingga kering. Proses mengeringkan ini membutuhkan waktu 1 hari bila keadaan cuaca panas, tetapi jika hujan atau mendung bisa memakan waktu hingga 5 hari atau lebih. Pengeringan ini bertujuan agar daya ikatan bahan tanah kuat dan tidak mudah patah.

Kelima, setelah kering, batu bata itu sudah bisa dibakar selama dua hari dua malam di sebuah ruangan yang sering disebut dengan oven batu bata. Ruang pembakaran ini biasanya menampung hingga 10.000 batu bata. Bahan bakar bisa menggunakan kayu bakar juga bisa menggunakan batu bara. Bila di Jawa, pembakaran biasanya dilukakan sebulan sekali menunggu berkumpulnya batu bata kering. Diperlukan sekitar tiga pekerja untuk mengawasi pembakaran. Keenam, warna menjadi kemerah-merahan, batu bata didinginkan dan siap dipasarkan.

Kami terpukau melihat seorang anak yang masih berusia 14 tahun dengan cekatan mencetak batu bata di atas mal pencetak yang beralaskan papan yang panjangnya sekitar 2 meter dengan lebar sekitar 30 sentimeter. “Sepulang sekolah, setiap hari saya membantu orang tua bekerja,” ujarnya ceria. Orangtua anak itu juga merupakan seorang pekerja di lokasi itu.

Faigizaro memulai usahanya pada 2003 dengan produksi awal sekitar 200 batu bata sehari. Saat itu dia sebagai mandor pada suatu proyek, persisnya di Dusun II, Desa Iraonolase. Dia acap kali melihat adanya kekurangan batu bata di suatu proyek. “Adanya kekurangan kebutuhan proyek itulah yang mendorong saya membuka usaha pembuatan batu bata,” ujarnya.

Persaingan ketat

Ketika baru-baru memulai usaha ini, Faigizaro mengaku tidak terlalu sulit untuk memasarkan batu bata hasil produksinya karena tidak terlalu banyak pesaing. Namun saat ini, dengan adanya begitu banyak pesaing dan menjual produk yang sama, pemasaran menjadi begitu susah.

Penampung hasil produksi batu bata dari Desa Iraonolase terdiri atas para pengembang, toko-toko material bangunan, dan juga konsumen langsung.

Saat ini harga batu bata sudah mencapai Rp 500 per buahnya, bila para pembeli langsung datang ke tempatnya. Bila diantar ke lokasi, harga akan ditambah dengan ongkos mobil pengangkut batu bata.

Kadangkala hasil produksi batu batanya berkurang bila musim hujan datang, ini disebabkan akibat sulitnya melakukan pencetakan dan pengeringan proses pengerasan batu bata merah dengan cara membakar  juga sering terlambat dan tidak dapat dilakukan karena batu bata yang akan dibakar belum siap.

Selain banyaknya pesaing, hambatan lain dari industri kerajinan batu bata ini, antara lain cuaca. Bila musim hujan, proses mengeringkan bata pasti terganggu dan tentu memengaruhi pada jumlah produksi.

Dikatakan Faigizaro, rata-rata industri batu bata di desanya belum menggunakan mesin modern, sementara di tempat lain ada yang menggunakan mesin. Hal ini juga menjadi penghambat pemasaran produk mereka. “Para konsumen lebih menyukai batu bata yang dibuat menggunakan mesin. Selain murah, juga bentuknya lebih rapi,” ujar Faigizaro.

Sekarang ini,  para perajin batu bata harus pintar-pintar melobi para konsumen agar batu bata milik mereka bisa laku terjual.

Hal lain yang sangat vital yang sangat memengaruhi produksi batu bata di Iraonolase adalah rusaknya jalan menuju desa itu. Pengamatan NBC, jalan sejauh 8 kilometer itu berlubang-lubang dan sangat menghambat pergerakan kendaraan pengangkut batu bata. Dan, hal ini menjadi alasan para pembeli untuk enggan datang ke sentra batu bata di Desa Iraono Lase ini.

Batu bata milik Faigizaro Lase yang siap dipasarkan.

Faigizaro Lase dan sejumlah perajin batu bata lainnya di Iraonolase berharap kepada Pemerintah Kota Gunungsitoli untuk memerhatikan jalan di desa mereka. “Bagaimana kami bisa berkembang bila jalan menuju desa ini tidak diperbaiki. Minta tolong kepada Bapak Martinus Lase dan wakilnya untuk bisa segera mengambil kebijakan untuk segera membenahi infrastruktur jalan ini. Kami tunggu bukti dari janji beliau saat kampanye bahwa ia berpihak dan siap memajukan industri kecil  di Kota Gunungsitoli,” pesan Faigizaro.

Permodalan

Untuk memajukan usaha, Faigizaro mengaku menggunakan modal sendiri. Diakuinya, tidak pernah menggunakan modal dari pinjaman perbankan. Berkat usahanya ini, dia dapat menghidupi keluarganya dan menyekolahkan ketiga anak-anaknya di sekolah yang lebih baik.

Namun, ia memiliki obsesi untuk memiliki mesin modern agar usahanya bisa lebih berkembang lagi. “Saya berharap bisa memiliki mesin press batu bata,” ujarnya. Dengan menggunakan mesin, kata Faigizaro, waktu dan tenaga lebih dihemat serta harga bisa bersaing. Dengan demikian, kesejahteraan mereka juga bisa lebih meningkat. [IMAN JAYA LASE]

Tim liputan bisnis UKM

supported by wolusongo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s